PDA

View Full Version : Bule Dan Suamiku Sama-Sama Enak


knock
10-10-2015, 05:56 AM
Namaku Evita dan Suamiku Edo.
Kami baru satu tahun
melangsungkan perkawinan,
tapi belum ada pertanda aku
hamil. Sudah kucoba berdua
periksa siapa yang mandul, tapi
kata dokter semuanya subur
dan baik-baik saja. Mungkin
karena selama pacaran dulu
kami sering ke Discotik,
merokok dan sedikit mabuk. Itu
kita lakukan setiap malam
minggu selama tiga tahun,
selama masa pacaran
berlangsung.
Suamiku seorang sales yang
hampir dua hari sekali pasti ke
luar kota, bahkan kadang satu
minggu di luar kota, karena
rasa kasihannya terhadapku,
maka dia berniat untuk
menyekat rumahku untuk
membuka tempat kost agar
aku tidak merasa sendirian di
rumah.
Mula-mula empat kamar
tersebut kami kost-kan untuk
cewek-cewek, ada yang
mahasiswa ada pula yang
karyawati. Aku sangat senang
ada teman untuk ngobrol-
ngobrol. Setiap suamiku pulang
dari luar kota, pasti dibawakan
oleh-oleh agar mereka tetap
senang tinggal di rumah kami.
Tetapi lama-kelamaan aku
merasa makin tambah bising,
setiap hari ada yang apel
sampai larut malam, apalagi
malam minggu, aduh bising
sekali bahkan aku semakin iri
pada mereka untuk kumpul
bersama-sama satu keluarga.
Begitu suamiku datang dari
luar kota, aku menceritakan
hal-hal yang tiap hari kualami,
akhirnya kita putuskan untuk
membubarkan tempat kost
tersebut dengan alasan rumah
mau kita jual. Akhirnya mereka
pun pada pamitan pindah kost.
Bulan berikutnya kita sepakat
untuk ganti warna dengan
cara kontrak satu kamar
langsung satu tahun khusus
karyawan-karyawan dengan
syarat satu kamar untuk satu
orang jadi tidak terlalu pusing
untuk memikirkan ramai atau
pun pulang malam. Apalagi
lokasi rumah kami di pinggir
jalan jadi tetangga-tetangga
pada cuek. Satu kamar diisi
seorang bule berbadan gede,
putih dan cakep. Untuk ukuran
harga kamar kami langsung
dikontan dua tahun dan
ditambah biaya perawatan
karena dia juga sering pulang
malam.
Suatu hari suamiku datang dari
luar kota, dia pulang membawa
sebotol minuman impor dan
obat penambah rangsangan
untuk suami istri.
Suamiku bertanya, "Lho kok
sepi-sepi aja, pada ke mana."
"Semua pada pulang karena
liburan nasional, tapi yang bule
nggak, karena perusahaannya
ada sedikit lembur untuk
mengejar target", balasku
mesra.
Kemudian suamiku mengambil
minumannya dan cerita-cerita
santai di ruang tamu, "Nich
sekali-kali kita reuni seperti di
diskotik", kata suamiku, "Aku
juga membawa obat kuat dan
perangsang untuk pasangan
suami istri, ntar kita coba ya.."
Sambil sedikit senyum, kujawab,
"Kangen ya.. emang cuman
kamu yang kangen.."
Lalu kamipun bercanda sambil
nonton film porno.
"Nich minum dulu obatnya biar
nanti seru.." kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir,
suamiku minum empat butir.
"Lho kok empat sih.. nanti over
lho", kataku manja.
"Ach.. biar cepat reaksinya",
balas suamiku sambil tertawa
kecil.
Satu jam berlangsung ngobrol-
ngobrol santai di ruang tamu
sambil nonton film porno,
kurasakan obat tadi langsung
bereaksi. Aku cuma
mengenakan baju putih tanpa
BH dan CD. Kita berdua duduk
di sofa sambil kaki kita
diletakkan di atas meja. Kulihat
suamiku mulai terangsang, dia
mulai memegang lututku lalu
meraba naik ke pahaku yang
mulus, putih dan seksi. Buah
dadaku yang masih montok
dengan putingnya yang masih
kecil dan merah diraihnya dan
diremasnya dengan mesra,
sambil menciumiku dengan
lembut, perlahan-lahan suamiku
membuka kancing bajuku satu
persatu dan beberapa detik
kemudian terbukalah semua
pelapis tubuhku.
"Auh.." erangku, kuraba batang
kemaluan suamiku lalu
kumainkan dengan lidah,
kukulum semuanya, semakin
tegang dan besar. Dia pun lalu
menjilat klitorisku dengan
gemas, menggigit-gigit kecil
hingga aku tambah terangsang
dan penuh gairah, mungkin
reaksi obat yang kuminum tadi.
Liang kewanitaanku mulai
basah, dan sudah tidak kuat
aku menahannya. "Ach.. Mas
masukin yuk.. cepat Mas.. udah
pingin nich.." sambil mencari
posisi yang tepat aku
memasukkan batang
kemaluannya pelan-pelan dan,
"Bless..", batang kemaluan
suamiku masuk seakan
membongkar liang surgaku.
"Ach.. terus Mas.. aku kangen
sekali..", dengan penuh gairah
entah kenapa tiba-tiba aku
seperti orang kesurupan,
seperti kuda liar, mutar sana
mutar sini. Begitu pula suamiku
semakin cepat gesekannya.
Kakiku diangkatnya ke atas
dan dikangkangkan lebar-lebar.
Perasaanku aneh sekali, aku
seakan-akan ingin sekali
diperkosa beberapa orang,
seakan-akan semua lubang
yang aku punya ingin sekali
dimasuki batang kemaluan
orang lain. Seperti orang gila,
goyang sana, goyang sini
sambil membayangkan macam-
macam. Ini berlangsung lama
sekali dan kita bertahan
seakan-akan tidak bisa keluar
air mani. Sampai perih tapi asik
sekali. Sampai akhirnya aku
keluar terlebih dahulu, "Ach..
Mas aku keluar ya.. udah
nggak tahan nich.. aduh.. aduh..
adu..h.. keluar tiga kali Mas",
desahku mesra. "Aku juga ya..
ntar kamu agak pelan
goyangnya.. ach.. aduh.. keluar
nich.." Mani kental yang hangat
banyak sekali masuk ke dalam
liang kenikmatanku. Dan kini
kita berada dalam posisi
terbalik, aku yang di atas tapi
masih bersatu dalam dekapan.
Kucabut liang kewanitaanku
dari batang kemaluan suamiku
terus kuoles-oleskan di mulut
suamiku, dan suamiku
menyedot semua mani yang
ada di liang kewanitaanku
sampai tetes terakhir.
Kemudian kita saling
berpelukan dan lemas, tanpa
disadari suamiku tidur
tengkurap di karpet ruang
tamu tanpa busana apapun,
aku pun juga terlelap di atas
sofa panjang dengan kaki
telentang, bahkan film porno
pun lupa dimatikan tapi
semuanya terkunci sepertinya
aman.
Ketika subuh aku terbangun
dan kaget, posisiku bugil tanpa
sehelai benang pun tetapi aku
telah pindah di kamar dalam,
tetapi suamiku masih di ruang
tamu. Akhirnya perlahan-lahan
kupakai celana pendek dan
kubangunkan suamiku. Akhirnya
kami mandi berdua di kamar
mandi dalam. Jam delapan pagi
saya buatkan sarapan dan
makan pagi bersama, ngobrol
sebentar tentang permainan
seks yang telah kami lakukan
tadi malam. Tapi aku tidak
bertanya tentang kepindahan
posisi tidurku di dalam kamar,
tapi aku masih bertanya-tanya
kenapa kok aku bisa pindah ke
dalam sendirian.
Sesudah itu suamiku
mengajakku mengulangi
permaina seks seperti semalam,
mungkin pengaruh obatnya
belum juga hilang. Aku pun
disuruhnya minum lagi tapi aku
cuma mau minum satu kapsul
saja. Belum juga terasa obat
yang kuminum, tiba-tiba teman
suamiku datang menghampiri
karena ada tugas mendadak
ke luar kota yang tidak bisa
ditunda. Yah.. dengan terpaksa
suamiku pergi lagi dengan
sebuah pesan kalau obatnya
sudah bereaksi kamu harus
tidur, dan aku pun
menjawabnya dengan ramah
dan dengan perasaan sayang.
Maka pergilah suamiku dengan
perasaan puas setelah bercinta
semalaman.
Dengan daster putih aku
kembali membenahi ruang
makan, dapur dan kamar-
kamar kost aku bersihkan. Tapi
kaget sekali waktu
membersihkan kamar terakhir
kost-ku yang bersebelahan
dengan kamar tidurku,
ternyata si bule itu tidur pulas
tanpa busana sedikit pun
sehingga kelihatan sekali
batang kemaluan si bule yang
sebesar tanganku. Tapi aku
harus mengambil sprei dan
sarung bantal yang tergeletak
kotor yang akan kucuci.
Dengan sangat perlahan aku
mengambil cucian di dekat si
bule sambil melihat batang
kemaluan yang belum pernah
kulihat secara dekat. Ternyata
benar seperti di film-film porno
bahwa batang kemaluan bule
memang besar dan panjang.
Sambil menelan ludah karena
sangatlah keheranan, aku
mengambil cucian itu.
Tiba-tiba si bule itu bangun
dan terkejut seketika ketika
melihat aku ada di kamarnya.
Langsung aku seakan-akan
tidak tahu harus berkata apa.
"Maaf tuan saya mau
mengambil cucian yang kotor",
kataku dengan sedikit gugup.
"Suamimu sudah berangkat
lagi?" jawabnya dengan pelan
dan pasti. Dengan pertanyaan
seperti itu aku sangat kaget.
Dan kujawab, "Kenapa?".
Sambil mengambil bantal yang
ditutupkan di bagian vitalnya,
si bule itu berkata,
"Sebelumnya aku minta maaf
karena tadi malam aku sangat
lancang. Aku datang jam dua
malam, aku lihat suamimu tidur
telanjang di karpet ruang
tamu, dan kamu pun tidur
telanjang di sofa ruang tamu,
dengan sangat penuh nafsu
aku telah melihat liang
kewanitaanmu yang kecil dan
merah muda, maka aku
langsung memindahkan kamu
ke kamar, tapi tiba-tiba timbul
gairahku untuk mencoba kamu.
Mula-mula aku hanya menjilati
liang kewanitaanmu yang
penuh sperma kering dengan
bau khas sperma lelaki.
Akhirnya batang kemaluanku
terasa tegang sekali dan
nafsuku memuncak, maka
dengan beraninya aku meniduri
kamu."
Dengan rasa kaget aku mau
marah tapi memang posisi yang
salah memang diriku sendiri,
dan kini terjawablah sudah
pertanyaan dalam benakku
kenapa aku bisa pindah ke
ruang kamar tidurku dan
kenapa liang kewanitaanku
terasa agak sakit
"Trus saya.. kamu apain",
tanyaku dengan sedikit
penasaran
"Kutidurin kamu dengan penuh
nafsu, sampai mani yang keluar
pertama kutumpahkan di perut
kamu, dan kutancapkan lagi
batanganku ke liang
kewanitaanmu sampai kira-kira
setengah jam keluar lagi dan
kukeluarkan di dalam liang
kewanitaanmu", jawab si bule.
"Oic.. bahaya nich, ntar kalo
hamil gimana nich", tanyaku
cemas.
"Ya.. nggak pa-pa dong",
jawab si bule sambil
menggandengku, mendekapku
dan menciumku.
Kemudian dipeluknya tubuhku
dalam pangkuannya sehingga
sangat terasa batang
kemaluannya yang besar
menempel di liang
kewanitaanku. "Ach.. jangan
dong.. aku masih capek
semalaman", kataku tapi tetap
saja dia meneruskan niatnya,
aku ditidurkan di pinggir
kasurnya dan diangkat kakiku
hingga terlihat liang
kewanitaanku yang mungil, dan
dia pun mulai manjilati liang
kewanitaanku dengan penuh
gairah. Aku pun sudah mulai
bernafsu karena pengaruh
obat yang telah aku minum
sewaktu ada suamiku.
"Auh.. Jhon.. good.. teruskan
Jhon.. auh". Satu buah jari
terasa dimasukkan dan
diputar-putar, keluar masuk,
goyang kanan goyang kiri,
terus jadi dua jari yang masuk,
ditarik, didorong di liang
kewanitaanku. Akhirnya basah
juga aku, karena masih
penasaran Jhon memasukkan
tiga jari ke liang kewanitaanku
sedangkan jari-jari tangan
kirinya membantu membuka
bibir surgaku. Dengan nafsunya
jari ke empatnya dimasukkan
pula, aku mengeliat enak.
Diputar-putar hingga bibir
kewanitaanku menjadi lebar
dan licin. Nafsuku memuncak
sewaktu jari terakhir
dimasukkan pula.
"Aduh.. sakit Jhon.. jangan
Jhon.. ntar sobek.. Jhon..
jangan Jhon", desahku sambil
mengeliat dan menolak
perbuatannya, aku berusaha
berdiri tapi tidak bisa karena
tangan kirinya memegangi kaki
kiriku. Dan akhirnya, "Bless.."
masuk semua satu telapak
tangan kanan Jhon ke dalam
liang kewanitaanku, aku
menjerit keras tapi Jhon tidak
memperdulikan jeritanku,
tangan kirinya meremas
payudaraku yang montok
hingga rasa sakitnya hilang.
Akhirnya si bule itu tambah
menggila, didorong, tarik,
digoyang kanan kiri dengan
jari-jarinya menggelitik daging-
daging di dalamnya, dia
memutar posisi jadi enam
sembilan, dia menyumbat
mulutku dengan batang
kemaluannya hingga aku
mendapatkan kenikmatan yang
selama ini sangat kuharapkan.
"Auch.. Jhon punyamu terlalu
panjang hingga masuk di
tenggorokanku.. pelan-pelan
aja", ucapku tapi dia masih
bernafsu. Tangannya masih
memainkan liang kewanitaanku,
jari-jarinya mengelitik di
dalamnya hingga rasanya geli,
enak dan agak sakit karena
bulu-bulu tangannya
menggesek-gesek bibir
kewanitaanku yang lembut. Ini
berlangsung lama sampai
akhirnya aku keluar.
"Jhon.. aku nggak tahan.. auch..
aouh.. aku keluar Jhon auch,
aug.. keluar lagi Jhon.."
desahku nikmat menahan
orgasme yang kurasakan.
"Aku juga mau keluar.. auh.."
balasnya sambil mendesah.
Kemudian tangannya ditarik
dari dalam liang kewanitaanku
dan dia memutar berdiri di tepi
kasur dan menarik kepalaku
untuk mengulum kemaluannya
yang besar. Dengan sangat
kaget dan merasa takut,
kulihat di depan pintu kamar
ternyata suamiku datang lagi,
sepertinya suamiku tidak jadi
pergi dan melihat peristiwa itu.
Aku tidak bisa berbuat apa-
apa, kupikir sudah ketahuan,
telanjur basah, aku takut
kalau aku berhenti lalu si bule
tahu dan akhirnya bertengkar,
tapi aku pura-pura tidak ada
sesuatu hal pun, si bule tetap
kukulum sambil melirik suamiku,
takut kalau dia marah.
Tapi ternyata malah suamiku
melepas celana dan mendekati
kami berdua yang sudah
tengang sekali, mungkin sudah
menyaksikan kejadian ini sejak
tadi. Dan akhirnya si bule
kaget sekali, wajahnya pucat
dan kelihatan grogi, lalu
melepas alat vitalnya dari
mulutku dan agak mudur
sedikit. Tapi suamiku berkata,
"Terusin aja nggak pa-pa kok,
aku sayang sama istriku.. kalau
istriku suka begini.. ya
terpaksa aku juga suka.. ayo
kita main bareng". Akhirnya
semua pada tersenyum
merdeka, dan tanpa rasa
takut sedikit pun akhirnya si
bule disuruh tidur telentang,
aku tidur di atas tubuh si bule,
dan suamiku memasukkan alat
vitalnya di anusku, yang sama
sekali belum pernah kulakukan.
Dengan penuh nafsu suamiku
langsung memasukkan batang
kemaluannya ke dalam anusku.
Karena kesulitan akhirnya dia
menarik sedikit tubuhku hingga
batang kemaluan si bule yang
sudah masuk ke liang
kewanitaanku terlepas,
suamiku buru-buru
memasukkan batang
kemaluannya ke liang
kewanitaanku yang sudah
basah, di goyang beberapa kali
akhirnya ikut basah, dan
dicopot lagi dan dimasukkan ke
anusku dan.. "Bless..", batang
kemaluan suamiku menembus
mulus anusku. "Aduh.. pelan-
palan Mas..", seruku.
Kira-kira hampir setengah jam
posisi seperti ini berlangsung
dan akhirnya suamiku keluar
duluan, duburku terasa hangat
kena cairan mani suamiku, dia
menggerang keenakan sambil
tergeletak melihatku masih
menempel ketat di atas tubuh
si bule. Akhirnya si bule pun
pindah atas dan memompaku
lebih cepat dan aku pun
mengerang keenakan dan
sedikit sakit karena mentok,
kupegang batang kemaluan si
bule yang keluar masuk liang
kewanitaanku, ternyata masih
ada sisa sedikit yang tidak
dapat masuk ke liang
senggamaku. Suamiku pun ikut
tercengang melihat batang
kemaluan si bule yang besar,
merah dan panjang. Aku pun
terus mengerang keasyikan,
"Auh.. auh.. terus Jhon.. auh,
keluarin ya Jhon.."
Akhirnya si bule pun keluar,
"Auch.. keluar nich.." ucapnya
sambil menarik batang
kemaluannya dari liang
kewanitaanku dan dimasukkan
ke mulutku dan menyembur
juga lahar kental yang panas,
kutelan sedikit demi sedikit
mani asin orang bule. Suamiku
pun ikut menciumku dengan
sedikit menjilat mani orang
asing itu. Kedua lelaki itu
akhirnya tersenyum kecil lalu
pergi mandi dan tidur siang
dengan puas. Sesudah itu aku
menceritakan peristiwa
awalnya dan minta maaf,
sekaligus minta ijin bila suatu
saat aku ingin sekali
bersetubuh dengan si bule
boleh atau tidak. "Kalau kamu
mau dan senang, ya nggak
apa-apa asal kamu jangan
sampai disakiti olehnya". Sejak
saat itupun bila aku ditinggal
suamiku, aku tidak pernah
merasa kesepian. Dan selalu
dikerjain oleh si bule.