PDA

View Full Version : Budak Pemuasku


knock
10-10-2015, 05:55 AM
Sebelumnya saya ingin
berterima kasih atas segala
masukan dan komentar dari
para pembaca sekalian atas
cerita "Pemijat Submissive".
Pada kesempatan kali ini saya
ingin kembali menceritakan
pengalaman saya yang
berlanjut dari cerita yang lalu.
*****
Background
Seperti yang mungkin pembaca
pernah baca sebelumnya,
bahwa saya adalah seorang
wanita yang menyukai
permainan BDSM dan berperan
sebagai Domina, seperti yang
saya ungkapkan sebelumnya
bahwa peristiwa peristiwa yang
saya ceritakan telah membuka
wawasan baru dalam kehidupan
saya, bukan hanya melulu
kehidupan sex, tetapi secara
general saya merasa telah
berubah.
Saya juga mempelajari sebab
sebab dari kesukaan saya
akan fantasi permainan sex
yang mungkin untuk sebagian
orang di sebut penyimpangan
sexual namun juga untuk
sebagian orang permainan ini
adalah suatu variasi atau
permainan yang mendebarkan
dan mengasyikkan untuk
dinikmati.
Saya adalah seorang wanita,
single dan telah 8 tahun
bekerja di sebuah perusahaan
multi national yang terkenal,
mungkin para pembaca
mengetahui sebagai pekerja
apalagi di sebuah perusahaan
yang besar, karir kita tidak
akan pernah mencapai posisi
puncak, tentunya posisi ini
biasanya diisi oleh seorang
Expat yang ditunjuk langsung
oleh headquarters yang
bertempat di luar negeri.
Selama 8 tahun saya terus
berambisi dan bekerja keras
untuk mendapatkan jabatan
yang lebih tinggi lagi, dimana
bukan hanya imbalan materi
dan fasilitas yang lebih baik,
tetapi juga untuk
mendapatkan kekuasan yang
lebih, hal kedua ini sifatnya
lebih condong untuk kepuasan
batin.
Saya rasakan juga bahwa hal
ini lumrah bagi manusia untuk
mendapatkan hal yang lebih
dan kelebihan itu selalu
berkisar di antara hal hal
tersebut, hanya setiap orang
mempunyai hasrat dan ambisi
yang berbeda beda dan di
tambah dengan faktor talenta,
kemauan untuk kerja keras
dan faktor keuntungan
tentunya tidak semua orang
akan mendapatkan level yang
sama.
Di perusahaan di tempat saya
bekerja, saya terkadang
merasa tertekan di mana
atasan saya selalu menganggap
saya sebagai budaknya dan
segala hasil kerja keras saya
selalu di ambil creditnya untuk
atasannya lagi. Terkadang
sebagai wanita kita juga sering
di lecehkan (tidak secara
sexual dalam case saya) tetapi
dalam arti batas kemampuan
kita, kelemahan dan lain
sebagainya. Saya mengerti di
dunia ini dan sudah menjadi
kenyataan ada kecenderungan
pria dianggap sebagai manusia
yang lebih dalam segala hal
sehingga segala sesuatunya
akan lebih baik bila pria yang
mengerjakannya sehingga
mendapatkan kedudukan yang
lebih tinggi.
Oleh karena hal tersebut di
atas saya berkesimpulan
bahwa sebab sebab dari
kesukaan saya untuk menjadi
seorang Domina dalam fantasi
permainan sex ini mungkin
berawal dari ketidak puasan
saya dengan kejadian kejadian
dan situasi di tempat kerja
saya tersebut. Permainan
fantasi sex ini seakan
membalaskan dendam saya
terhadap ketidak puasan dan
keadaan di tempat saya
bekerja sehingga secara
kejiwaan saya bisa menjadi
sangat menikmati dan puas bila
dapat melihat seorang pria
tidak berdaya dan menurut
atas kemauan saya apalagi
ketidak berdayaannya itu
dilakukannya sendiri dengan
sukarela dan senang hati.
Pertanyaan pertanyaan dari
para pembaca yang
menanyakan akan sebab dari
kesukaan saya ini semoga bisa
dengan jelas terjawab dalam
penjelasannya yang saya
ungkapkan dengan sejujur
jujurnya diatas.
Mungkin cukup penjelasan saya
mengenai back ground dari
kesukaan saya ini, kali ini saya
ingin menceritakan pengalaman
saya dengan seorang pria
yang kebetulan juga cocok
dengan fantasi saya dan juga
cocok selera dengan saya dari
segi fisik maupun sifatnya.
Seleksi dan
Recruitment
Pertemuan saya dengan budak
cowok saya yang baru ini
berawal dari email. Setelah
pemuatan cerita saya yang
berjudul "Pemijat Submissive",
banyak sekali cowok yang
berkirim surat kepada saya
untuk meminta dijadikan
budaknya. Namun dari sekian
banyak email saya memilih
beberapa saja yang saya
balas, tentunya dari balasan
yang ada saya juga menyeleksi
ulang lagi cowok-cowok yang
mendaftar untuk menjadi
budak saya.
Kriteria pemilihan saya
terutama adalah orang yang
intelegent, open minded dan
tentunya benar benar
menghayati perannya sebagai
seorang budak. Kemudian saya
juga memeriksa background
orang tersebut dari segi
materi, kebersihan dan status
perkawinan. Saya sengaja
mencari orang yang status
sosialnya cukup tinggi, sudah
kawin dan cukup mapan,
pertimbangan ini saya pilih
untuk menghindari masalah
privacy saya di dunia luar,
karena saya juga yakin
seorang dengan kriteria yang
tadi juga ingin rahasia jati
dirinya di jaga sehingga kami
bisa saling menjaga privacy.
Dari proses penyaringan
tersebut akhirnya saya memilih
satu kandidat yang saya pikir
cukup memadai, namanya
Anwar. Dia adalah seorang
Chinese yang cukup mapan,
berasal dari keluarga yang
terhormat, sudah kawin dan
berusia 32 tahun. Setelah
kurang lebih 1 bulan kami
saling mengenal diri melalui
telepon dan email akhirnya
saya merasa sudah cukup
comfortable untuk bertemu
langsung dengan dia.
Pertemuan kami atur di sebuah
Mall besar di Jakarta Barat
yang sangat terkenal dan
ramai, pertemuan ini di
sepakati pada hari dan jam
kerja, di sebuah coffe shop.
Saya sengaja datang 60 menit
lebih awal untuk mempelajari
situasi dan menyiapkan jalan
untuk back out dari
pertemuan ini bila ternyata si
Anwar itu tidak cocok dengan
deskripsi yang telah dia
berikan, terus terang pembaca
saya sangat nervous sekali
waktu itu.
Sambil duduk dan minum cafe
late yang sudah dihidangkan
saya berharap harap cemas
menunggu pertemuan dengan
Anwar, jantung saya berdebar
debar keras, dan efek dari
coffe yang saya minum
sepertinya membuatnya
menjadi tambah parah. Tiba
tiba telepon HP saya
berdering, sepertinya jantung
saya hampir copot
mendengarnya, memang kami
sudah berjanji untuk saling
menelpon bila sudah dekat di
lokasi.
"Hello Mbak, saya Anwar.."
"Oh iya.. Sudah dimana kamu?"
desahku sambil gemetar.
Sambil menjawab saya melihat
ke sekeliling coffe shop, ketika
itu saya melihat seseorang
cowok yang sedang berdiri dan
celingukan sambil menelpon.
Mata kami beradu dan dia
tersenyum sambil mengangukan
kepalanya, seketika itu saya
langsung tahu kalau cowok itu
adalah Anwar yang sepertinya
sudah saya kenal walau hanya
melalui telepon dan email. Dia
berjalan menghampiri saya
sambil tersenyum dan
menyodorkan tangannya untuk
berjabatan tangan.
Para pembaca, pertemuan
yang mendebarkan ini ternyata
cukup menyenangkan, saya
seketika merasa nyaman sekali
berada di dekat si Anwar
setelah bertemu dan
mengobrol ngalor ngidul
tentang kehidupan kami.
Orangnya menurut saya sangat
open minded, pintar dan sedikit
pemalu, secara fisik cukup
menarik, tingginya sekitar 180
cm, kulitnya putih bersih
kecoklatan, rambut pendek,
badan cukup berisi hanya
sedikit gemuk di sekitar
pinggang.
Tanpa terasa kami sudah
ngobrol selama 1 jam, selama
ngobrol mata kami saling
bertatapan, dan saya melihat
ketulusan dan kejujuran di
sorot matanya, sesekali dia
menundukan mata bila saya
bertanya yang sifatnya sangat
pribadi, saya merasa berada
diatas angin dan mendominasi
pembicaraan. Bahan
pembicaraan kami sama sekali
tidak menyinggung mengenai
permainan sex yang kita
gemari tetapi lebih banyak ke
keluarga, kerja dan lain lain.
Sepertinya kita bisa saling
terbuka dengan kehidupan
kami. Saya juga merasakan
adanya peningkatan atas
kepercayaan dan merasa
comfortable dengan dia.
Setelah pertemuan itu, kita
berjanji untuk saling kontak
untuk pertemuan berikutnya
melalui email dan telepon,
mungkin kita malu untuk
memulai pembicaraan tentang
fantasi permainan yang
memang kami sukai itu secara
langsung, mungkin karena ini
pun pertemuan pertama kita.
Setibanya saya di rumah saya
langsung menyalakan note
book dan mulai menulis email
untuk Anwar untuk pertemuan
kita yang lebih lanjut. Di dalam
email intinya saya menyatakan
kepada dia bahwa saya ingin
menjadikan dia seorang budak
sex pemuas nafsu yang
mengabdikan badan dan
jiwanya kepada saya sebagai
Mistressnya, tentunya dengan
batas batas tertentu yang dia
punyai, untuk itu saya
menanyakan komitmen dia dan
batas batas yang di sanggupi
oleh dia.
Di dalam email saya juga
menulis semacam pernyataan
atau perjanjian mengenai
kerahasian dan kebersihan
yang harus di lengkapi dengan
hasil pemeriksaan lab atas
bebasnya dia dari penyakit
penyakit kelamin sebagai
syarat saya untuk menyewa
dia sebagai budak sex saya.
Setelah kurang lebih 1 minggu
(yang serasa lama sekali) saya
mendapatkan email balasan
dari si Anwar. Dengan berdebar
debar saya mulai membuka dan
membaca email balasan darinya.
Di dalam emailnya dia
menyanggupi segala syarat dan
keinginan saya, dia juga
bahkan melampirkan hasil scan
dari hasil pemeriksaan lab yang
meluluskan dia dari penyakit
penyakit. Dia sangat ingin
segera mengabdikan dirinya
untuk saya dan juga
menuliskan batasan batasan
yang dia inginkan.
Pembaca, menurut saya
batasan batasan yang di
berikan oleh dia cukup bisa
dimengerti. Batasan utama
yang diinginkan adalah
mengenai kerahasiaan sehingga
permainan hanya berlaku di
dalam tempat yang aman dan
discreet dan di luar dari itu
hubungan kita tetap hanya
sebagai teman biasa, sehingga
"public humiliation/punishment"
tidak bisa di terapkan di dalam
permainan kami. Batasan
lainnya juga mengenai
penyiksaan yang sampai
menimbulkan luka permanen
atau mengeluarkan darah juga
tidak dapat di tolerir karena
dapat menimbulkan bekas dan
berbahaya. Kemudian ada juga
batasan untuk permainan
"force feminization" atau
dimana saya melecehkan dia
dengan mendandani dia dengan
pakaian perempuan. Sebagai
tambahan safety kami juga
mempunyai semacam kata
kode, dimana bila dia atau
saya mengatakan kode itu
semua permainan akan
berakhir.
Persiapan
Setelah semua formalitas
tersebut dibicarakan dan di
sepakati, akhirnya tibalah
saatnya untuk saya menikmati
budak sex baru yang saya
recruit. Kami berjanji untuk
bertemu di sebuah hotel di
Jakarta di waktu jam kerja,
setelah makan siang sampai
sore hari. Saya menuliskan
instruksi instruksi untuk
persiapan apa saja yang harus
disediakan pada saat
pertemuan tersebut melalui
SMS dan email.
Saya menginstruksikan dia
untuk menyediakan sebuah
rantai anjing yang mengunakan
kulit pada pegangan
penuntunya, jepitan baju, lilin
putih yang besar, sebatang
pengaris kayu, dasi dasi tua
yang banyak, borgol besi 1
pasang, sarung tangan latex
dan KY Jelly. Pada saat saya
menulis itu, jantung saya
berdebar debar dan muka
saya terasa panas karena
sudah membayangkan hal apa
saja yang akan saya lakukan
ke dia. Imajinasi saya berlari ke
mana mana dan gambaran
gambaran akan siksaan siksaan
yang akan saya lakukan
membuat saya menjadi sangat
horny.
Pada hari yang sudah di
sepakati, pagi pagi hari sekali
saya menelpon kantor untuk
meminta ijin untuk tidak masuk
hari itu, dan saya sudah
sengaja untuk mengalihkan
semua appointment yang ada
di hari itu untuk direschedule
ke esokan harinya. Asisten
pribadi saya juga sudah saya
beritahu bahwa hari ini saya
ada keperluan mendesak yang
harus diselesaikan di luar
kantor, sehingga semua urusan
yang ada saya delegasikan ke
asisten saya.
4 jam sebelum waktu yang di
sepakati saya menulis SMS ke
Anwar untuk detail persiapan
yang harus dia lakukan,
sehingga pada waktu saya
datang di kamar hotel yang
sudah di siapkan olehnya dia
sudah siap untuk melayani
saya. Saya meminta dia untuk
mandi yang bersih (kalau perlu
luluran), dan berdiri menunggu
saya di depan pintu dalam
kamar hotel dalam keadaan
telanjang bulat dan
mengenakan rantai anjing di
lehernya dengan mata yang di
tutup erat oleh sebuah dasi
berwarna hitam. Saya juga
meminta rantai anjing tersebut
dililitkan di sekeliling lehernya
dan dengan kulit penuntunnya
digigit di mulutnya.
Kurang lebih jam 12 siang saya
mendapat SMS dari Anwar
yang berbunyi, "Saya sudah
siap dan sedang menunggu di
kamar 1811 untuk digunakan
oleh kamu" melihat kata kata
di SMS itu darah saya
terkesiap dan bulu di tengkuk
saya merinding membayangkan
kenikmatan yang akan saya
peroleh.
Saya bergegas mengenakan
sepasang pakaian dalam lace
saya yang berwarna hitam dan
di baluti oleh sebuah blouse
putih yang tipis serta satu stel
blaser dan rok berwarna abu
abu tua, saya juga sengaja
menyemprotkan winyak wangi
sekujur tubuh saya sehingga
menjadi sangat semerbak
wangi menggoda bila saya
berjalan. Setelah berdandan
saya dengan tergesa gesa
mengambil kunci mobil saya dan
mulai menyetir ke arah hotel
tempat kita berjanji yang di
tempuh kurang lebih hanya 15
menit.
The Game is
Beginning
Tibalah saya di depan pintu
kamar hotel, saya memencet
bel yang berada di depan pintu
kamar. Seketika pintu di buka,
ini menandakan budak saya
sudah dengan tepat mengikuti
instruksi dari saya. Segera
saya masuk dan menutup pintu
dan mengunci rantai pintu
dalam. Saya melihat di depan
saya seorang pria budak
pemuas saya sedang berdiri
tegap dengan posisi tangan
silang ke belakang punggung
dan kaki sedikit terbuka lebar,
kelihatannya dia sangat
menghayati perannya sebagai
budak saya, terlihat penisnya
sudah setengah ereksi mungkin
karena sangat berantisipasi
menunggu kedatangan saya,
saya tersenyum melihat
pemandangan di depan saya,
selama kurang lebih 2 menit
saya mempelajari badan yang
akan diberikan kepada saya
dalam 4-5 jam ke depan.
Para pembaca, saya sengaja
menginstruksikan Anwar untuk
mengenakan penutup mata,
sehingga dia tidak dapat
melihat ekspresi muka saya
yang mungkin sedikit grogi
atau tersenyum geli melihat dia
yang sedang menggunakan
rantai anjing dan mengigit kulit
penuntun rantai anjing yang
berwarna merah itu. Saya
tidak mau wibawa saya hilang
karenanya, jadi lebih baik
matanya tertutup, dan saya
pikir harusnya untuk dia
sensasinya lebih besar juga bila
dia pasrah dan tidak bisa
melihat siapa yang datang dan
mengunakan badannya.
Pelan Pelan saya ambil kulit
penuntun rantai anjing yang di
gigit di mulutnya dan
melepaskan beberapa lilitan
rantai besi yang berada di
lehernya, kemudian saya
menuntun dia ke tengah
ruangan kamar di depan
tempat tidur. Dengan posisinya
berdiri yang sama dan dengan
kepalanya menunduk. Saya
berjalan perlahan mengelilingi
dia sambil memeriksa dan
menginspeksi badannya yang
putih kecoklatan dan bersih
itu.
Sekali kali saya membelai belai
badannya untuk merasakan
apakah dia sudah luluran dan
mandi dengan bersih. Dengan
lembut dan perlahan saya juga
meremas remas penis dan
kantung dimana dua buah
bolanya berada untuk
merasakan kejantanannya, dan
menciumi dadanya dengan
lembut untuk merasakan bau
aroma badannya yang
sebentar lagi akan saya pakai
dengan seenak enaknya.
Anwar budak saya itu pasrah
dan diam saja, saya bisa
merasakan bahwa dia sangat
excited sekali dengan
perlakuan saya itu, sekali kali
dia melenguh keenakan pada
saat saya menyentuh bagian
bagian sensitif di badannya.
Setelah kurang lebih 10 menit
saya melakukan inspeksi
badannya dan puas dengan
hasil inspeksi saya duduk di
depannya di pinggiran ranjang.
Saya berkata, "Sekarang kamu
berlutut..!". Dengan patuh dia
menjatuhkan lututnya untuk
berlutut di atas karpet,
dengan mata masih tertutup
dan kepala yang menunduk.
Kemudian dengan lembut dan
tegas saya berkata di depan
mukanya..
"Mulai detik ini, kamu adalah
budak saya, badan dan jiwa
kamu menjadi milik saya sampai
sesi ini selesai, kamu enggak
berhak lagi atas badan kamu,
penis kamu, lidah kamu, muka
kamu, tangan kamu, kaki kamu
semuanya gunanya untuk
memuaskan saya, kamu
ngerti..?"
"Saya mengerti, silakan Ibu
memakai badan saya untuk
kesenangan dan kepuasan Ibu
dengan seenak enaknya dan
seegois egoisnya tanpa
memikirkan saya sama sekali,
semoga saya dapat
memberikan kenikmatan buat
Ibu, bila tidak silakan saya di
hukum dan di siksa..", jawabnya
dengan gemetar.
"Oke.. Bagus.." jawab saya.
"Mulut kamu juga tidak boleh
bicara tanpa ijin, kecuali bila
saya beri pertanyaan, kalau
enggak badan kamu nanti saya
siksa", lanjutku. Dia
menganggukkan kepalanya
dengan pasrah.
Saya beranjak berdiri sambil
melepas blazer untuk menjadi
lebih nyaman. Saya
mengacuhkan keadaan slave
saya yang masih berlutut
telanjang di kamar hotel,
seakan akan dia hanyalah
sebuah benda yang bernafas
dan berfungsi untuk saya
nikmati bila saya inginkan. Saya
berjalan jalan di kamar, melihat
lihat pemandangan di jendela
kamar hotel, menyalakan TV
dan memilih milih channel yang
bagus sambil tidur-tiduran.
Kemudian perhatian saya
tertumpu kepada sebuah tas
gym yang berwarna hitam
yang terongok di sudut kamar.
Satu persatu saya keluarkan
barang barang yang ada di
dalam tas itu dan saya susun
di atas ranjang. Salah satu
benda yang ada adalah sebuah
borgol besi, saya ambil dan
saya kenakan borgol itu ke
dua tangannya dibelakang
punggung budakku yang
sedang berlutut. Sambil
mengenakan borgol, saya
berkata,
"Saya suka melihat melihat
budak kesayangan saya
menderita kesakitan dan
enggak berdaya, jadi sekarang
kamu akan saya siksa
walaupun kamu enggak
ngelakuin kesalahan apa apa,
tapi penderitaan kamu bikin
saya jadi terangsang, kamu
senang kan di gituiin..?".
"Silakan Bu, saya senang
sekali"
Saya ambil beberapa penjepit
pakaian, kemudian saya cubit
puting dadanya dan saya jepit
masing masing satu penjepit di
setiap puting. Belum puas
melihat ringgisan di mukanya
saya ambil lagi beberapa
jepitan dan saya jepitkan di
kantung dimana tempat dua
biji penisnya berada, reaksinya
sungguh luar biasa, setiap saya
menjepitkan satu jepitan, dia
melenguh kesakitan dan
bergerak gerak kakinya,
sehingga ada beberapa jepitan
yang jatuh dan berbunyi,
"Snnapp..".
Saya jambak rambut dia dan
saya bilang, "Jangan gerak
gerak! Atau nanti penis kamu
saya jepit juga..".
Dengan patuh dia berusaha
untuk diam dan menahan sakit.
Terlihat dia mulai mengigit bibir
bawahnya dan badannya
gemetar menahan sakit, peluh
mulai membasahi badannya
yang sexy.
Saya duduk di depannya
tersenyum menikmati hasil
kreasi yang saya ciptakan,
terlihat jepitan baju yang
berwarna warni memenuhi
areal sekitar penisnya dan
sepasang jepitan di nipplenya.
Kemudian saya memerintahkan
dia untuk melakukan jongkok
berdiri selama 20 kali dengan
badan yang tegap lurus, dan
saya suruh dia menghitung
jumlah jongkok berdiri itu
dengan keras.
"Satu.. Dua.. Tiga.." dan
seterusnya.
Nafasnya mulai terengah engah
dan keringat mulai membanjiri
badannya sehingga
menimbulkan efek mengkilat
pada otot otot dibadannya
yang sexy itu. Sesekali karena
gerakan jongkok berdiri itu
beberapa jepitan lepas, dan
setiap jepitan lepas budak
saya menggumam menahan
rasa sakit. Oh rasanya nikmat
sekali melihatnya seperti itu,
dan saya mulai horny dan
basah karenanya. Setelah
selesai saya suruh dia berdiri,
dan saya berjalan mengitarinya
sambil membelai belai badannya
yang basah oleh keringat,
sesekali saya menyuruh dia
untuk menjilati jari jari saya
yang basah karena memegang
megang keringat di badannya.
Saya mengambil handuk kecil di
kamar mandi, dan melepaskan
borgol dan ikatan matanya,
kemudian saya memberikan
handuk itu sambil berkata,
"Bersihin keringet di badan
kamu.. Sekarang kamu harus
puasin saya yah.. Ayo kalo
udah selesai keringin keringet
kamu, buka baju saya satu
persatu dan gantung baju
saya yang rapi jangan sampai
ada yang lecek."
Dengan patuh dia mulai melap
badannya yang berkeringat,
kemudian dengan kepala
menunduk dia menghampiri
saya.
"Ayo sekarang buka bajuku.."
"Baik Bu.., maaf, permisi Bu.."
Tangannya satu persatu
dengan lembut membuka
kancing blouse saya.
Kelihatannya dia sangat
menyukai badan saya yang
mulus dan wangi, terlihat
penisnya mulai berdiri dan
menganguk angguk
kesenangan. Setelah saya
telanjang bulat dan semua
pakaian saya tergantung
dengan rapi di lemari, saya
menyuruh dia untuk nungging
di atas ranjang dengan kaki
terbuka dan tangan ke
belakang. Kemudian saya
kenakan lagi borgol besi ke
tangannya di belakang
punggungnya, lalu saya sendiri
tiduran setengah duduk di
sampingnya sambil memegang
megang badannya yang dalam
posisi pasrah itu. Penisnya saya
tarik tarik, betot betot dan
kocok kocok, seakan seperti
memerah sapi.
"Eh budak, saya mau lidah
kamu jilatin seluruh badan
saya, mulai dari pundak sampai
ke ujung kaki saya. Jangan
sampai ada se centi pun yang
ketinggalan pokoknya
semuanya saya minta di jilat
sampai kering, oh yah ampir
lupa nih saya pakeiin rantai
kamu dulu". Saya pasang rantai
anjing di lehernya.
"Ayo mulai jilat jilat kaya
anjing, kalo rantai ini saya
tarik sekali berarti kamu
pindah jilatin ke tempat lain,
tapi kalo saya diem aja berarti
kamu terus jilatin tempat yang
lagi kamu jilatin..,.. Ngerti..?".
"Ngerti Bu.." jawabnya.
Nikmat sekali rasanya dijilati
oleh budak saya yang satu ini,
sekujur badan saya dijilati
dengan telaten, kalo saya
udah bosen di jilatin di satu
tempat saya hentakan
rantainya, baru dia pindah ke
tempat lain. Yang membuat
saya horny juga meliha dia
kesusahan waktu menjilati saya
karena tangannya terikat ke
belakang, jadi terkadang
kepalanya nempel di badan
saya karena pegal di otot
perutnya menahan bebannya
sendiri, biasanya kalo dia
kecapeaan saya pukul
pantatnya pake penggaris
kayu yang ada di samping
saya.
Dengan senak enaknya saya
mengulet ngulet di atas
tempat tidur sementara budak
saya terus berusaha menjilati
badan saya, sekali kali saya
menaikan kaki saya ke atas
badannya dan membuat dia
semakin menderita karena
berat yang di timbulkan.
Pada saat dia menjilati telapak
kaki, jari jari di telapak kaki
saya yang satunya aktif
membelai belai mukanya dan
juga menjambak jambak
rambutnya. Sensasi di jari kaki
saya waktu di jilati dan di
hisap satu persatu sungguh
luar biasa dengan rajin budak
saya mengulum dan menjilati
jari kaki saya sampai saya
hentakan rantai baru dia
pindah ke jari yang berikutnya.
Saya menikmati service budak
saya ini sambil menikmati rokok
dan menonton TV, kalau saya
haus saya suruh dia berhenti
dan mengambil minuman kaleng
di mini bar (tentunya dengan
tangan masih terikat) sehingga
dia kesusahan mengambil
minuman untuk saya, dengan
geli saya tersenyum melihat
kesulitan yang dia hadapi.
Rasanya enak sekali selama
hampir 2 jam saya seperti ratu
di manja dan di buat geli oleh
lidahnya yang nikmat.
Setelah puas di manja oleh
lidahnya, sekujur badan saya
menjadi sangat sensitif dan
ditambah oleh rasa puas saya,
saya ingin sekali climax. Lalu
saya bentangkan kaki saya
dan membuka lebar anus saya
dengan mengunakan kedua
tangan saya, kemudian saya
menyuruh budak saya untuk
menjilati dan memasukan
lidahnya ke dalam anus saya,
ohh rasanya nikmat luar biasa,
lidahnya berputar putar di
dalam anus saya dan
sekelilingnya.
Setelah itu saya menghentakan
rantai anjingnya, bertanda
saya ingin dia pindah tempat,
sepertinya dia sudah mengerti
kalau clitoris saya sudah
mengeras dan ingin dijilati.
Saya buka bibir vagina saya
dan saya benamkan kepala
budak saya ke situ dengan
posisi lidahnya tepat di clitoris
saya.
Tidak lama kemudian saya
mencapai climax, rambutnya
saya jambak dengan keras
selama beberapa menit
sementara saya masih
menikmati kegelian yang masih
ada, lalu saya tendang dia ke
lantai dan saya suruh dia
menghisap hisap jempol kaki
saya sementara saya
mengatur napas dan menikmati
sisa sisa climax saya itu.
Tanpa terasa selama kurang
lebih 20 menit saya terlelap
tidur nikmat, dan terbangun
oleh rasa ingin kencing dan
kuluman lidah budak saya yang
masih dengan setia menghisapi
jempol kaki saya. Lalu saya
duduk dan membuka ikatan
borgol di tangan budak saya
itu.
"Kamu pintar sekali muasin
saya.. Pasti kamu sekarang
haus yah..?"
"Terima kasih Bu..,. Iya Bu..
Saya haus"
"OK.. Kalo gitu ayo ikut saya,
kamu saya kasih hadiah.."
Saya tuntun dia ke kamar
mandi dan menyuruh dia
rebahan telentang di dalam
bath tub.
"Buka mulut kamu yang lebar,
yah.. Sayang!"
Kemudian saya jongkok di atas
mukanya dan mulai mengencingi
mukanya sambil mengarahkan
arus air kencing saya ke
mulutnya.
"Ayo.. Di minum semuanya.. Buka
mulutnya yang lebih lebar lagi
yahh.. Ayoh dongakin kepalanya
biar enggak tumpah tumpah..
Sayang.."
Dengan patuh budakku
meminum air kencing saya
dengan lahap, terlihat
jankunnya bergerak naik turun
meneguk air kencingku yang
masuk ke mulutnya yang
terbuka dengan lebar.
Setelah selesai saya menyuruh
dia untuk membersihkan vagina
saya dengan mulutnya, karena
air kencingku tercecer ke
mana mana saya berdiri dan
menyalakan pancuran shower
sementara budak saya masih
tiduran di dalam bath tub,
saya membersihkan badan saya
di pancuran shower yang
terletak di atas bathtub sambil
satu kaki saya, saya letakan di
atas muka slaveku yang masih
tiduran di bawah. Setelah
selesai saya keluar dari bath
tub dan mengeringkan badan
dan kaki saya dengan handuk
kemudian saya taruh handuk
itu di lantai dan saya
menyuruh budak saya untuk
bersih bersih dan
mengeringkan badannya
dengan handuk tersebut.
"Ayo bersih bersih.. Jangan lupa
pakai sabun yah, biar enggak
bau.. Saya tunggu kamu di
kamar.. Kalau lama dan enggak
bersih nanti kamu saya hukum
loh.." ujarku dengan manja.
Selang beberapa menit budak
saya selesai bersih bersih,
sementara saya duduk di atas
kursi di belakang sebuah meja
belajar.
Diatas meja saya persiapkan
sebuah lilin yang sudah saya
nyalakan, gelas kosong,
sepasang sarung tangan karet
dan KY Jelly.
"Ayo merangkak ke sini
sayang.. Saya belum selesai
sama kamu.."
Dengan patuh dia merangkak
menuju ke arah saya.
Sesampainya dia di samping
saya, rambut kepalanya saya
elus elus, dan sesekali jari
tangan saya memainkan
bibirnya yang kemudian dia
jilati seperti seekor anjing
yang patuh.
Saya menyuruh dia untuk naik
ke atas meja belajar di depan
saya dengan posisi nungging
dan kaki terbuka sehingga
lubang anus dan penisnya
terlihat jelas.
Sambil duduk di belakang meja
saya memakai sarung tangan
karet dan melumasi KY Jelly
dipermukaan sarung tangan.
Saya juga memberikan Jelly itu
ke sekitar selangkangan, penis
dan terutama didalam lubang
anusnya. Dengan perlahan saya
memasukan jari tengah saya
ke dalam anusnya dia yang
sudah terlumuri dengan banyak
KY jelly, sementara tangan
saya yang satu lagi meremas
remas dan mengurut urut
dengan lembut alat kelaminnya
yang sudah licin oleh KY jelly.
Remasan dan urutan saya itu
membuat penisnya menjadi
sangat keras dan tegang, bila
ini terjadi saya menyodok
nyodok lubang anusnya dengan
kasar sehingga dia menjadi
kesakitan dan lemas lagi.
Setelah lemas saya urut urut
lagi dengan lembut sampai
tegang kembali dan seterusnya
sampai berulang ulang kali.
Dia sangat menyukai perlakuan
ini, hanya mungkin sedikit
frustasi karena saya terus
goda goda hingga tidak
mencapai climax. Penisnya dan
area antara lubang anus dan
kantung biji saya urut urut
dan penisnya saya kocok
kocok lembut dengan irama
yang perlahan dan menggoda.
Sampai suatu saat hampir dia
ejakulasi namun saya tekan
pangkal penisnya dan saya
tetesi dengan lilin panas di
sekujur punggung dan lubang
pantatnya yang sensitif.
Dia menjerit kesakitan dan
minta ampun pada saat saya
tetesi lilin, setelah itu
mengerang ngerang keenakan
bila saya stimulasi alat
kelaminnya. Setelah saya pikir
dia sudah cukup menderita
akhirnya saya urut penisnya
dengan tempo yang lambat
dan mantap dan makin lama
makin cepat, sambil berkata..
"Kamu enggak boleh keluar
dulu yah.. Awas loh.. Kalo kamu
mau keluar kamu harus minta
ijin dulu sama ibu."
"Ibuu saya minta ijin mau
keluar.. Ampunn udah enggak
tahan lagi..", rintihnya tak lama
kemudian.
"Ok.. Ayo keluarin budakku
sayang" jawab saya seraya
mengambil gelas kosong yang
ada di atas meja.
Saya mengarahkan muka gelas
itu ke lubang penis di tempat
spermanya akan keluar. Selang
beberapa detik penisnya
menggelembung dan
memuntahkan cairan sperma
yang sangat banyak. Saya
terus mengenggam dan
mengurut ngurut penisnya
sampai tetes sperma terakhir
tertampung di dalam gelas.
Terlihat kepuasan di muka
slave saya dan sekujur
badannya gemetar keenakan,
kepalanya lunglai dengan dahi
bersender di atas meja.
Lalu saya mengambil sebuah
sendok kecil yang biasanya di
sediakan di tempat pembuatan
kopi/teh di dalam kamar. Lalu
saya mengaduk ngaduk gelas
yang berisi spermanya itu dan
menyuapinya sendok demi
sendok sampai habis bersih.
"Enak sayang..?" tanyaku.
"Iya Bu.. Enak sekalii.. Terima
kasih Ibu.."
"Pinterr deh slave saya.. Ayo
dijilatin sendoknya sampai
bersih..!"
*****
Demikianlah para pembaca,
sebagian dari cerita permainan
saya dengan slave saya Anwar.
Permainan ini selalu kami
lakukan kira kira 1 minggu
sekali tentunya dengan variasi
yang berbeda beda. Setelah
permainan selesai kami kembali
ke dunia nyata kami masing
masing.
Biasanya setelah permainan
usai sekitar jam 7 malam kami
ngobrol ngobrol sambil makan
dari orderan room service,
kami tidak ada kesulitan dalam
berkomunikasi dan bahan
pembicaraan kami bisa
membahas apa saja seperti
teman lama karib yang sudah
lama tidak bertemu.
Kami mempunyai komitmen
perjanjian untuk tidak saling
jatuh cinta karena dia sudah
mempunyai keluarga dan saya
juga tidak mau mencari
masalah, yang penting fantasi
saya ini dapat tersalurkan
tanpa komplikasi komplikasi
yang mungkin dapat terjadi.
Bahkan sebagai bukti
penyerahan dirinya kepada
saya dan juga sebagai bukti
dari kami bahwa kami tidak
akan saling jatuh cinta, kami
merencanakan untuk
meminjamkan badan budak
saya kepada wanita lain yang
mungkin berminat untuk
memakai dia sebagai budaknya
untuk sementara.
Apakah di antara pembaca ada
yang berminat?