PDA

View Full Version : Kenikmatan Di Kampus


knock
10-10-2015, 05:54 AM
Sore itu aku baru pulang dari
rumah temanku. Karena
perjalanan pulang melewati
kampusku, maka sekalian aku
menyempatkan diri untuk
mampir ke sana dengan tujuan
melihat nilai UTS-ku dan
mencatat jadwal SP (Semester
Pendek). Kumasuki halaman
kampus dan kuparkirkan
sepeda motor Tornado GX-ku.
Saat itu waktu telah
menunjukkan jam 17.35, di
tempat parkir pun hanya
terlihat 3-4 kendaraan. Aku
segera memasuki gedung
fakultasku, di sana lorong-
lorong sudah gelap hanya
diterangi beberapa lampu
downlight, sehingga suasananya
remang-remang, terkadang
timbul perasaan ngeri di gedung
tua itu sepertinya hanya aku
sendirian, bahkan suara,
langkah kakiku menaiki tangga
pun menggema. Akhirnya sampai
juga aku di tingkat 4 dimana
pengumuman hasil ujian dan
jadwal SP dipasang.
Ketika aku sedang melihat hasil
UTS-ku dari lantai bawah
sekonyong-konyomg terdengar
langkah pelan yang menuju ke
sini. Sadar atau tidak
kurasakan bulu kudukku berdiri
dan membayangkan makhluk
apa yang nantinya akan muncul.
Ah konyol, kubuang pikiran itu
jauh-jauh, hantu mana mungkin
terdengar bunyi langkahnya.
Suara langkah itu makin
mendekat dan akhirnya kulihat
sosoknya, oohh, ternyata lain
dari yang kubayangkan, yang
muncul ternyata seorang gadis
cantik. Aku pun mengenalnya
walaupun tidak kenal dekat, dia
adalah mahasiswi yang pernah
sekelas denganku dalam salah
satu mata kuliah, namanya Yuli,
orangnya tinggi langsing,
pahanya jenjang dan mulus,
buah dadanya pun membusung
indah, kuperkirakan ukurannya
34B, dipercantik dengan rambut
panjang kemerahan yang
dikuncir ke belakang dan wajah
oval yang putih mulus. Dia juga
termasuk salah satu bunga
kampus.
"Hai.. sore, mau lihat nilai ya?"
tanyaku berbasa-basi.
"Iya, kamu juga ya?" jawabnya
dengan tersenyum manis.
Aku lalu meneruskan mencatat
jadwal SP, sementara dia
sedang mencari-cari NRP dan
melihat hasil ujiannya.
"Sori, boleh pinjam bolpoin dan
kertas? gua mau catat jadwal
nih," tanyanya.
"Ooo, boleh, boleh gua juga
udah selesai kok," aku lalu
memberikannya secarik kertas
dan bolpoinku.
"Eh, omong-omong kamu kok
baru datang sekarang malam-
malam gini, nggak takut
gedungnya udah gelap gini?"
tanyaku.
"Iya, sekalian lewat aja kok, jadi
mampir ke sini, kamu sendiri
juga kok datang jam segini?"
"Sama nih, gua juga baru pulang
dari teman dan lewat sini, jadi
biar sekali jalanlah."
Kami pun mulai mengobrol, dan
obrolan kami makin melebar dan
semakin akrab. Hingga kini
belum ada seorang pun yang
terlihat di tempat kami
sehingga mulai timbul pikiran
kotorku terlebih lagi hanya ada
sepasang pria dan wanita dalam
tempat remang-remang. Aku
mulai merasakan senjataku
menggeliat dan mengeras.
Kupandangi wajah cantiknya,
wajah kami saling menatap dan
tanpa sadar wajahku makin
mendekati wajahnya. Ketika
semakin dekat tiba-tiba
wajahnya maju menyambutku
sehingga bibir kami sekarang
saling berpagutan. Tanganku
pun mulai melingkari
pinggangnya yang ramping.
Sekarang mulutnya mulai
membuka dan lidah kami saling
beradu, rupanya dia cukup ahli
juga dalam berciuman,
nampaknya ini bukan pertama
kalinya dia melakukannya. Wangi
parfum dan desah nafasnya
yang sudah tidak beraturan
meningkatkan gairahku untuk
berbuat lebih jauh, tanganku
kini mulai turun meremas-remas
pantatnya yang montok dan
berisi, dia juga membalasnya
dengan melepas kancing
kemejaku satu persatu. Tiba-
tiba aku sadar sedang di
tempat yang salah, segera
kulepas ciumanku.
"Jangan di sini, gua tau tempat
aman, ayo ikut gua!"
Kuajak dia ke lantai 3, kami
menelusuri koridor yang
remang-remang itu menuju ke
sebuah ruangan kosong bekas
ruangan mahasiswa pecinta
alam, sejak team pecinta alam
pindah ke ruang lain yang lebih
besar ruangan ini dikosongkan
hanya untuk menyimpan
peralatan bekas dan sering
tidak dikunci. Kubuka pintu dan
kutekan saklar di tembok,
ruangan itu hampir tidak ada
apa-apa, hanya sebuah meja
dan kursi kayu jati yang
sandarannya sudah bengkok,
beberapa perkakas usang, dan
sebuah matras bekas yang
berlubang.
Segera setelah tombol kunci
kutekan, kudekap tubuhnya
yang sedang bersandar di tepi
meja. Sambil berciuman tangan
kami saling melucuti pakaian
masing-masing. Setelah kulepas
tank top dan branya, kulihat
tubuh putih mulus dengan
payudara kencang dan
putingnya yang kemerahan.
Saat itu aku dan dia sudah
topless tinggal memakai celana
panjang saja. Kuarahkan
mulutku ke dada kanannya
sementara tanganku melepas
kancing celananya lalu mulai
menyusup ke balik celana itu.
Kurasakan kemaluannya yang
ditumbuhi bulu-bulu halus dan
sudah becek oleh cairan
kenikmatan. Puting yang sudah
menegang itu kusapu dengan
permukaan kasar lidahku hingga
dia menggelinjang-gelinjang
disertai desahan. Dengan jari
telunjuk dan jari manis
kurenggangkan bibir
kemaluannya dan jari tengahku
kumainkan di bibir dan dalam
lubang itu membuat desahannya
bertambah hebat sambil
menarik-narik rambutku.
Akhirnya dengan perlahan-lahan
kuturunkan celana beserta
celana dalamnya hingga lepas.
Kubuka resleting celanaku lalu
kuturunkan CD-ku sehingga
menyembullah senjata yang dari
tadi sudah mengeras itu.
Tangannya turut membimbing
senjataku memasuki liang
vaginanya, setelah masuk
sebagian kusentakkan badanku
ke depan sehingga dia menjerit
kecil. Aku mulai menggerakkan
badanku maju mundur, semakin
lama frekuensinya semakin
cepat sehingga dia mengerang-
erang keenakan, tanganku
sibuk meremas-remas payudara
montoknya, dan lidahku
menjilati leher dan telinganya.
Aku terus mendesaknya dengan
dorongan-dorongan badanku,
hingga akhirnya aku merasakan
tangannya yang melingkari
leherku makin erat serta
jepitan kedua pahanya
mengencang. Saat itu
gerakanku makin kupercepat,
erangannya pun bertambah
dahsyat sampai diakhiri dengan
jeritan kecil, bersamaan dengan
itu kurasakan pula cairan
hangat menyelubungi senjataku
dan spermaku mulai mengalir di
dalam rahimnya. Kami menikmati
klimaks pertama ini dengan
saling berpelukan dan bercumbu
mesra.
Tiba-tihba terdengar suara
kunci dibuka dan gagang pintu
diputar, pintu pun terbuka,
ternyata yang masuk adalah
Pak Ayip, kepala karyawan
gedung ini yang juga memegang
kunci ruangan, orangnya
berumur 50-an keatas,
rambutnya sudah agak
beruban, namun badannya
masih gagah. Kami kaget karena
kehadirannya, aku segera
menaikkan celanaku yang sudah
merosot, Yuli berlindung di
belakang badanku untuk
menutupi tubuh telanjangnya.
"Wah, wah, wah saya pikir ada
maling di sini, eh.. ternyata ada
sepasang kekasih lagi berasik
ria!" katanya sambil berkacak
pinggang.
"Maaf Pak, kita memang salah,
tolong Pak jangan bilang sama
siapa-siapa tentang hal ini,"
kataku terbata-bata.
"Hmmm... baik saya pasti akan
jaga rahasia ini kok, asal..."
"Asal apa Pak?" tanyaku.
Orang tua itu menutup pintu
dan berjalan mendekati kami.
"sal saya boleh ikut merasakan
si Mak ini, he.. he... he...!"
katanya sambil terus mendekati
kami dengan senyum
mengerikan.
"Jangan, Pak, jangan!"
Dengan wajah pucat Yuli
berjalan mundur sambil
menutupi dada dan
kemaluannya untuk menghindar,
namun dia terdesak di sudut
ruangan. Kesempatan itu
segera dipakai Pak Ayip untuk
mendekap tubuh Yuli. Dia
langsung memegangi kedua
pergelangan tangan Yuli dan
mengangkatnya ke atas. "Ahh..
jangan gitu Pak, lepasin saya
atau... eeemmmhhh...!" belum
sempat Yuli melanjutkan
perkataannya, Pak Ayip sudah
melumat bibirnya dengan ganas.
Sekarang Yuli sudah mulai
berhenti meronta sehingga
tangan Pak Ayip sudah mulai
melepaskan pegangannya dan
perlahan-lahan mulai turun ke
payudara kanan Yuli lalu
meremas-remasnya dengan
gemas. Entah mengapa daritadi
aku hanya diam saja tanpa
berbuat apa-apa selain
bengong menonton adegan
panas itu, sangat kontas
nampaknya Yuli yang berparas
cantik itu sedang digerayangi
oleh Pak Ayip yang tua dan
bopengan itu, seperti beauty
and the beast saja, dalam hati
berkata, "Dasar bandot tua,
sudah ganggu acara orang
masih minta bagian pula."
Ciuman Pak Ayip pada bibir Yuli
kini mulai merambat turun ke
lehernya, dijilatinya leher
jenjang Yuli kemudian dia mulai
menciumi payudara Yuli sambil
tangannya mengobok-obok
liang vagina Yuli. Diperlakukan
seperti itu Yuli sudah tidak bisa
apa-apa lagi, hanya pasrah
sambil mendesah-desah, "Pak...
aaakhh.. jangan.. eeemmhh...
sudah Pak!" Setelah puas
"menyusu" Pak Ayip mulai
menjelajahi tubuh bagian bawah
Yuli dengan jilatan dan
ciumannya. Setelah mengambil
posisi berjongkok Pak Ayip
mengaitkan kaki kanan Yuli di
bahunya dan mengarahkan
mulutnya untuk mencium
kemaluan yang sudah basah itu
sambil sesekali menusukan
jarinya. Sementara Pak Ayip
mengerjai bagian bawah, aku
melumat bibirnya dan meremas
buah dadanya yang montok itu,
putingnya yang sudah tegang
itu kupencet dan kupuntir.
Masih tampak jelas warna
kemerahan bekas gigitan dan
sisa-sisa ludah pada payudara
kirinya yang tadi menjadi bulan-
bulanan Pak Ayip. Tak lama
kemudian kurasakan dia
mencengkram lenganku dengan
keras dan nafasnya makin
memburu, ciumannya pun makin
dalam. Rupanya dia mencapai
orgasme karena oral seks-nya
Pak Ayip dan kulihat Pak Ayip
juga sedang asyik menghisap
cairan yang keluar dari liang
senggamanya sehingga
membuat tubuh Yuli menegang
beberapa saat dan dari
mulutnya terdengar erangan-
erangan yang terhambat oleh
ciumanku. Sekarang aku
membuat posisi Yuli menungging
di matras yang kugelar di lantai.
Kesetubuhi dia dari belakang,
sambil meremas-remas pantat
dan payudaranya. Pak Ayip
melepaskan pakaiannya hingga
bugil, kemudian dia berlutut di
depan wajah Yuli. Tanpa
diperintah Yuli segera meraih
penis yang besar dan hitam itu,
mula-mula dijilatinya benda itu,
dikulumnya buah pelir itu
sejenak lalu dimasukkannya
benda itu ke mulutnya. Pak Ayip
mendengus dan merem melek
kenikmatan oleh kuluman Yuli,
dia menjejali penis itu hingga
masuk seluruhnya ke mulut Yuli.
Yuli pun agak kewalahan
diserang dari 2 arah seperti ini.
Beberapa saat kemudian Pak
Ayip mengeluarkan geraman
panjang, dia menahan kepala
Yuli yang ingin mengeluarkan
penisnya dari mulutnya,
sementara aku makin
mempercepat goyanganku dari
belakang. Tubuh Yuli mulai
bergetar hebat karena
sodokan-sodokanku dan juga
karena Pak Ayip yang sudah
klimaks menahan kepalanya dan
menyeburkan spermanya di
dalam mulut Yuli, sangat banyak
sperma Pak Ayip yang tercurah
sampai cairan putih itu meluap
keluar membasahi bibirnya,
jeritan klimaks Yuli tersumbat
oleh penis Pak Ayip yang cukup
besar sehingga dari mulutnya
hanya terdengar, "Emmpphh..
mmm.. hmmpphh..." tangannya
menggapai-gapai, dan matanya
terbeliak-beliak nikmat.
Kemudian Pak Ayip melepas
penisnya dari mulut Yuli, lalu dia
berbaring telentang dan
menyuruh Yuli memasukkan
penis yang berdiri kokoh itu ke
dalam vaginanya. Sesuai
perintah Pak Ayip, dia
menduduki dan memasukkan
penis Pak Ayip, ekspresi
kesakitan nampak pada
wajahnya karena penis Pak Ayip
yang besar tidak mudah
memasuki liang vaginanya yang
masih sempit, Pak Ayip
meremas-remas susu Yuli yang
sedang bergoyang di atas
penisnya itu. Aku lalu
memintanya untuk
membersihkan barangku yang
sudah belepotan sperma dan
cairan kemaluannya, ketika
penisku sedang dijilati dan
dikulum olehnya, kutarik ikat
rambutnya hingga rambutnya
tergerai bebas. "Wah cantik
banget si Mbak ini, mana
memeknya masih sempit lagi,
benar-benar beruntung saya
malam ini," kata Pak Ayip memuji
Yuli. "Dasar muka nanas, kalo
dia pacar gua udah gua hajar lo
dari tadi!" gerutuku dalam hati.
Setelah penisku dibersihkan Yuli,
kuatur posisinya tengkurap di
atas Pak Ayip, dan kumasukkan
penisku ke duburnya, sungguh
sempit liang anusnya itu hingga
dia menjerit histeris ketika aku
berhasil menancapkan penisku
di sana. Kami bertiga lalu
mengatur gerakan agar dapat
serasi antara penis Pak Ayip di
vaginanya dan penisku di
anusnya. Aku menghujam-
hujamkan penisku dengan ganas
sambil meremas-remas
payudara dan pantatnya juga
sesekali kujilati lehernya.
Sementara Pak Ayip juga aktif
memainkan payudara yang
hanya beberapa sentimeter
dari wajahnya itu. Tak lama
kemudian Yuli menjerit keras,
"Akkhh...!" tubuhnya menegang
dan tersentak-sentak lalu
terkulai lemah menelungkup,
begitu tubuhnya rebah
langsung disambut Pak Ayip
dengan kuluman di bibirnya. Aku
dan Pak Ayip melepas penis
kami dan berdiri di depan Yuli
secara bergantian dia mengulum
dan mengocok penis kami
hingga sperma kami muncrat
membasahi wajahnya.
Tubuh kami bertiga sudah
bersimbah keringat dan benar-
benar lelah, terutama Yuli, dia
nampak sangat kelelahan
setelah melayani 2 lelaki
sekaligus. Sesudah beristirahat
sejenak, kami berpakaian
kembali. Kami membuat
kesepakatan dengan Pak Ayip
untuk saling menjaga rahasia
ini, Pak Ayip pun menyetujuinya
dengan syarat Yuli mau
melayaninya sekali lagi
kapanpun bila dipanggil,
meskipun mulanya dia agak
ragu-ragu akhirnya disetujuinya
juga. Kami yakin dia tidak berani
kelewatan karena dia juga
tidak ingin hal ini diketahui
keluarganya. Sejak itu kami
semakin akrab dan sering
melakukakan perbuatan itu lagi
meskipun tidak sampai pacaran,
karena kami sudah punya pacar
masing-masing.