PDA

View Full Version : Malam Minggu Romantis


knock
10-10-2015, 05:59 AM
aya adalah seorang
mahasiswi berumur 20 tahun
bernama Tisya, dan sedang
kuliah di salah satu
universitas di Jakarta. karena
universitas saya agak jauh
dari kampung halaman yaitu
di Yogyakarta, maka
orangtua saya mengijinkan
saya untuk tinggal di rumah
kakak saya yang setahun lalu
baru menikah. Sekitar
beberapa bulan yang lalu
disaat pernikahan kakak saya
masih hangat- hangatnya,
mereka sering kali keluar
malam atau bahkan pergi
menginap di luar kota di hotel
tentunya. Oleh karena itulah
saya berwajib untuk menjaga
rumah mereka sendirian.
Malam itu saya dan teman-
teman kampus saya bermain
ke rumah untuk sekedar
main-main dan nonton TV
bersama. Setelah sekitar jam
10 malam, kebanyakan dari
teman saya pulang dan
tinggallah 2 teman laki- laki
saya, Izal dan Nando. Mereka
berpikir untuk menemani
saya, karena tidak baik pikir
mereka meninggalkan seorang
gadis di rumah sendirian di
waktu kakak saya "berbulan
madu" dengan suaminya. Kami
berlima akhirnya nonton video
yang kami sewa sampai
akhirnya kami merasa
mengantuk. Jam sudah
menunjukkan pukul 01 :00 dini
hari dan kebetulan besok
adalah hari Minggu, jadi kami
tidak perlu khawatir untuk
pergi kuliah. Rumah kakak
saya mempunyai 3 kamar,
satu untuk kakak saya dan
suaminya, satu untuk saya
dan satu lagi adalah kamar
tamu (pembantu pada sore
hari sekitar pukul 19 :00
pulang kembali ke rumahnya
yang terletak di kampung
yang dekat dengan
perumahan kakak saya).
Akhirnya kami bertiga
memutuskan untuk tidur.
Saya tidur di kamar saya
sendiri, Nando tidur di sofa di
depan TV dan Izal tidur di
kamar untuk tamu. Saya
tutup pintu kamar saya
setelah pergi ke kamar mandi
untuk sikat gigi, buang air
kecil dan mencuci kaki dan
muka (kebiasaan saya
sebelum tidur). Kemudian
kebiasaan saya yang lain
dalam hal tidur ini adalah
saya menanggalkan semua
pakaian saya kecuali celana
dalam saya, lalu saya
menutupi tubuh saya hanya
dengan selimut tebal. Saya
nyalakan lampu kecil di sudut
ruangan kamar saya dan
mematikan lampu kamar saya.
Saya tertidur seketika itu
juga karena rasa lelah saya.
Tidak lama kemudian saya
merasa ada seseorang yang
masuk kamar saya dan
menyalakan lampu dengan
tiba-tiba. Saya melihat Izal di
pintu dengan mata yang
terbelalak. Saya yang sempat
belum sadar atas keadaan
tubuh saya yang telanjang,
tiba-tiba langsung terpekik
dan spontan menutupi
ketelanjangan dada saya.
"Aakkhh! aduhh.. aduhh.. kok
nggak ketok- ketok dulu sih!
gila loe Zal.. aduh.." kata saya
dengan keadaan yang
bingung dan sangat malu.
"Hah! astaga! sorry banget
ya! aduh sorry banget! gue
cuman mao nanya dimana
kamar mandi.. gue kebelet
banget nih!" Izal dengan
sedikit gagap menutup pintu
kamar saya. Tapi sebelum
pintu benar- benar tertutup
tiba-tiba Nando datang ke
kamar mencegah Izal untuk
menutup pintu kamar dengan
alasan ingin melihat apa yang
terjadi. "Gila.. seksi banget
loe, ya," tiba-tiba Nando
menyeletuk dan berjalan
cepat menuju saya. Saya bisa
melihat di sorot matanya
nafsu yang entah datang
darimana, "Zal! buruan ke sini!
cepet!" teriak Nando lagi
kepada Izal. Otomatis Izal
datang ke arah saya dengan
sorot mata yang kesetanan
juga. "Oi.. apa-apaan ini!
lepasin gue! lepasiinn!" teriak
saya sekuat tenaga, dan
tiba-tiba Nando berteriak
kepada saya sambil
membungkam mulut saya,
"Diem loe Sya! gila.. siapa
suruh loe nunjukin tubuh loe
ke kita-kita! seksi banget loe
Sya! Sorry nih gue mau
nyoba dikit badan loe..
bolehkan Sya?" Mereka
bertiga tertawa kecil seraya
membuka selimut saya.
Dengan cepat Nando
menggenggam kedua
pergelangan tangan saya
dengan erat lalu melumat
bibir saya habis-habisan. Saya
sempat tidak bisa bernafas
karenanya dan terus
berusaha memberontak. Entah
darimana datangnya tiba-tiba
saya merasakan sesuatu
yang lain ketika Izal membuka
kedua kaki saya dan
menggesek- gesekkan jarinya
di luar celana dalam saya
yang berwarna merah muda.
Saya kemudian mulai
menikmati keadaan saat itu
dan mulai berhenti meronta.
Setelah Izal puas mencium
bibir saya, dia bangun dan
langsung menanggalkan semua
pakaiannya. Begitu juga
dengan Nando, mereka
berdua dalam keadaan
telanjang bulat dalam
beberapa menit. Saya sangat
terangsang melihat tubuh
mereka yang sangat bagus,
tidak atletis tapi melihat
tubuh mereka yang cukup
tinggi dan berisi membuat
saya kagum. Di bagian tengah
tubuh mereka saya melihat
penis mereka yang sudah
sangat menegang dan ini
membuat jantung saya
berdetak dengan kencang
karena ini pertama kali saya
melihat penis laki-laki dan
sangat besar untuk saya.
Ukurannya sekitar 18 cm
(rata-rata) dan penis Izal lah
yang paling besar, karena
badannya yang sangat tegap
dan agak sedikit berbidang.
Terus terang saya menaruh
perasaan suka padanya sejak
melihatnya pertama kali di
kampus. Izal mendekati saya
dan langsung memeluk tubuh
saya dengan mesra. Kami
berpagutan lagi sampai saya
merasakan kenikmatan yang
luar biasa saat Izal
menyentuhkan jarinya dengan
klitoris vagina saya yang
masih terbungkus celana
dalam. "Aahh.. Zal.. gue sayang
sama loe.. sayang banget.."
tanpa tersadar saya berkata
itu. Saya tidak tahu lagi
bagaimana cara
menyampaikan perasaan saya
padanya. "Gue juga sayang
sama loe dari dulu.. make love
sama gue yah Sya.." kata Izal
yang membuat saya terkejut.
Izal kemudian mulai menuruni
tubuh saya dan beralih ke
payudara saya yang
berukuran 34A. "Aahh.. Zall..
aahh.. enak banget.. aahh..
aa.. aduhh.. pelan Zal.." kataku
saat merasakan kenikmatan
atas kuluman Izal di puting
dan sekitar payudaraku.
Sesaat itu juga Nando
kemudian berlutut di atas
muka saya dan mengarahkan
penisnya ke mulut saya.
Perlahan-lahan dia
memasukkan penisnya ke
mulut saya dan dengan
segera saya mengulum
penisnya. Nando segera
mendesis keenakan, "Aahh..
aakkhh.. anjir enak banget
Sya.. isepin dong Sya..
aakkhh.. hh.." sambil menarik
keluar masuk penisnya di
mulut saya. Saya merasakan
cairan asin keluar sedikit demi
sedikit dari ujung penisnya
dan ini membuat saya
merasakan sedikit aneh
sekaligus nikmat. Izal sendiri
menambah kenikmatan saat
itu dengan menjilati bibir
vagina dan klitoris saya
dengan sangat lahap. Izal
kelihatan sangat seksi dengan
posisi dan wajah itu.
"Aaakkhh! Zall.. loe apain
memek gue.. aahh terusin Zal..
aahh.. aahh!" saya merasakan
tubuh saya menegang dan
kaki saya kaku, vagina saya
terasa hangat yang
menandakan saya sudah
mencapai orgasme untuk
yang pertama kali. Izal segera
menjilati dan menelan habis
cairan yang keluar dari
vagina saya.Sementara itu
Nando meneruskan
memasukkan batang
kemaluannya ke dalam mulut
saya sampai akhirnya saya
merasakan penisnya panas
dan mengeluarkan semburan
sperma yang cukup banyak,
sekitar tiga semburan sperma
ke mulut saya dan mau tidak
mau saya menelan spermanya
habis. "Aaakkhh! Hhh.. hh..
enak banget Sya.. thnaks! loe
lanjutin aja sama Izal,"
terlihat Nando mengedipkan
mata yang nakal kepada Izal.
Izal hanya tersenyum lalu
melanjutkan permainan kami
berdua. Izal kemudian
memasukkan jari tengahnya
ke dalam lubang vagina saya
secara perlahan-lahan lalu
keluar masuk ke lubang saya
berulang sampai tubuh saya
menggelinjang. "Zal.. pelan-
pelan yah Zal.. ini pertama
kali, gue masih perawan,"
kataku kepada Izal untuk
berhati-hati. "Iya, Sya.. trust
me," katanya seraya
memasukkan jarinya ke dalam
lubang vagina saya. Ia
kemudian mengeluarkan
kembali jarinya dan
memegang penisnya yang
sudah mengeras sejak tadi. Ia
lalu menggesek-gesekkan
ujung penisnya ke permukaan
vaginaku dan ini membuatku
semakin penasaran terhadap
"barang"-nya itu. "Ah Zal..
dimasukkin enak yah Zal..
cobain donk Zal.. ahh.. hh.."
kataku sambil memejamkan
mata dan berpegangan pada
kedua lengannya karena
mencoba menahan rasa birahi
dan penasaran yang bertubi-
tubi. "OK.. tahan sakitnya yah
Sayang," katanya sambil
mengecup bibirku, lalu
mengambil posisi untuk
memasukkan penisnya ke
dalam vaginaku.Izal dengan
tangannya yang kuat
mengangkat kedua kakiku ke
atas dan membukanya
sehingga lubang vaginaku
membuka dengan sempurna.
"Punya kamu kecil.. jadi
bakalan agak sakit.. tahan
ya!" katanya lagi sambil
menusuk pelan-pelan penisnya
ke dalam lubang vaginaku.
"Aakkhh! aauucch! aakkhh..
sakiitt.. sakit Zall! jangan
dimasukin! aakkhh.." aku
berteriak kesakitan karena
memang penisnya yang
sangat besar itu sangat
mustahil untuk masuk ke liang
senggamaku yang masih
sangat sempit. Tapi tanpa
memperdulikan teriakanku, dia
malah makin mengganas
bahkan mungkin teriakanku
itu membuatnya makin
terangsang dan menjadi
kesetanan. Ditusuknya
berkali-kali sampai akhirnya
hanya ujung penisnya yang
masuk setelah 5 menit
berlalu. Tubuh kami
berkeringat, terutama saya
yang menahan sakit dan
berpegangan kuat kepada
ujung bantal. Saya sudah
mulai menangis kesakitan dan
Izal memeluk saya sambil
menciumi saya untuk
menenangkan diri saya.
Sewaktu rasa sakit sudah
berkurang karena ciuman
bibir kami berdua, dia mulai
mendorong pelan-pelan
supaya penisnya dapat masuk
ke dalam vagina saya."Aakkhh
aahh.. sempit banget Sya..
ahh.. aahh," Bless! akhirnya
dengan beberapa kali
sentakan yang sangat kuat
dan penuh rasa sakit,
penisnya mampu masuk
semuanya ke dalam vagina
saya. Setelah kami berdua
mampu mengatasi keadaan,
Izal mulai memeluk tubuh saya
dan menggenjot penisnya
keluar-masuk vagina saya.
Kenikmatan yang begitu luar
biasa yang belum pernah
saya rasakan selama
masturbasi membuat saya
mendesah keenakan. "Aahh..
hh.. aahh.. ahh.. uummhh..
eenaakk.. Zall.. gue sayang..
loe.. bangett.. hh.. hh.."
"Memek Tisya enak banget!
aakkhh! aakkhh.." Saya
sempat orgasme beberapa
kali yang menghasilkan
banyak kontraksi di lubang
senggama saya (yang
memancing kenikmatan bagi
Izal) sebelum akhirnya Izal
mencapai puncaknya. "Gue
nyampe Sya.. aahh.. hh..
aakkhh!" "Crott.. croott.."
Entah berapa kali Izal
menyemburkan air maninya
dan jatuh lemas di atas
tubuh saya. Kami berpelukan
sangat erat dan berciuman
sampai akhirnya kami tertidur
berdua dalam keadaan sangat
basah karena keringat.
Keesokan paginya kami madi
berdua dan bermain lagi
sampai puas sampai akhirnya
saatnya Izal untuk pulang ke
rumahnya. Sampai sekarang
Izal dan saya berpacaran dan
masih melakukan hubungan
seksual. Kadang kami
berempat (saya, Izal, Nando
dan pacarnya) bermain
bersama.
TAMAT