PDA

View Full Version : Nafsu Bukanlah Cinta


knock
10-10-2015, 05:59 AM
Pembaca yang budiman, kisah
ini adalah setengah nyata,
jika ada kesamaan nama
maupun tempat pasti hanya
kebetulan saja. Tanggung
jawabku sebagai seorang
Shipping Manajer
menyebabkan aku punya
banyak relasi bisnis dari
perusahaan perusahaan
pelayaran maupun
perusahaan angkutan lainnya.
Namun ada satu rekanan
bisnisku yang akan
kuceritakan dalam kisah ini.
Sebut saja Susi, begitu nama
sales executive dari sebuah
pelayaran di kota S, bertinggi
badan kurang lebih 165 cm,
dengan postur tubuh
proporsional dan busung dada
36. Hidungnya mancung dan
rambut hitam ikal sebahu.
Perusahaannya memang
bonafide, sehingga beberapa
pekerjaan skala besar dapat
terkirimkan dengan baik.
Jujur saja dalam hati kecil ini
juga kagum pada kecantikan
Susi dan sebagai lelaki normal
yach secara tak sengaja
melihat sisi dalam pahanya
saat disilangkan yang
membuat seonggok daging
kenyal disela- sela pahaku,
"unjuk diri". Sebagai relasi
yang baik Susi terkadang
mengajak lunch di luar
ataupun hanya memberiku
cindera mata atau selepas
kerja kami nongkrong di kafe
musik. Pada saat itulah Susi
bertanya banyak tentang
diriku dan kujawab semua
dengan benar, aku memang
suka berterus terang
termasuk keadaan diriku
yang sudah berkeluarga yang
mempunyai seorang putra
2 ,5 tahun dan istriku sedang
mengandung 8 bulan. Akhirnya
aku pun tahu bahwa Susi
adalah menjadi simpanan
boss- nya bule asal Amerika
yang bernama Richard, namun
kini telah meninggalkan
Indonesia karena sudah
diganti oleh GM baru asal
Indonesia. Mata Susi tampak
menerawang jauh dan
angannya terbang ke Amerika
sana namun dia tersadar itu
tak mungkin lagi menikmati
kebersamaan mereka lagi.
Tepat liburan umum di bulan
Januari lalu Susi meneleponku
dan mengajak ke Batu,
katanya sich dalam rangka
merayakan ulang tahunnya
yang ke-29 dan untuk
menemaninya (biasanya Susi
menghabiskan weekend di
sana bersama Richard). "Mas
Sony mau nggak temenin aku
ke Batu nanti di acara ultah-
ku?" tanya Susi di telepon.
"Emang acaranya apaan?"
selidikku. "Ah.. udah dech
pokoknya temenin aku yach,
please.." rengeknya setegah
memohon. "Ini khan ultah-ku
yang ke-29, please Mas Bram
please.. kali ini saja!" pintanya.
Lelaki mana yang sanggup
menolak kamu Sus, wajahmu
yang cantik, bodi kamu
punya, bibir tipis nan sensual
waah segalanya deh, bathinku
dalam hati. Aku tersadar saat
Susi menyambung
pembicaraannya lagi. "Atau
aku mesti bilang ke Mbak
Santi istri Mas.." imbuhnya.
"Ngg.. nggak usah dech, oke..
oke.." Buru-buru aku
menyergahnya. Sabtu malam
ini kami ngobrol berdua
dengan istriku dan aku
bohong padanya kalau aku
besok malam harus menemani
tamu Technical Advisor-ku
dari Jepang termasuk
mencarikan hiburan buat
tamuku juga. Sabtu pagi aku
berpamitan pada istriku dan
memacu Capella kesayanganku
ke arah Malang, aku sendiri
sekarang tinggal di Gresik.
Namun sebelum itu aku
menjemput Susi di rumah
kontrakannya di kawasan
Surabaya Barat. Selang lima
menit aku pencet bel
keluarlah Susi mengenakan
stelan span deep marine dan
atas you can see biru muda,
sebuah pemandangan yang
amat serasi dan indah.
Sepanjang perjalanan kami
hanya ngobrol ringan soal
pekerjaan dan kami bersenda
gurau di antaranya. Aku tahu
Susi adalah wanita yang amat
kesepian, aku juga terkadang
kasihan melihatnya. Meski dia
sukses di kariernya tapi di
lain pihak di juga butuh
pendamping yang mengisi
kekosongan jiwanya. "Mas
Sony, sebelumnya aku minta
maaf kalo permintaanku kali
ini menyita waktu untuk
keluarga Mas," Susi mulai
membuka pembicaraan. "Aku
sukses dalam berkarierku dan
hidup mewah karena support
besar company Mas Sony,
khususnya Mas Pribadi dari
Mas," kata Susi, (ini karena
perusahaanku merupakan big
customer bagi dia)."It's OK,"
jawabku. "Mas Sony kali ini
aku meminta kepada Mas,
buatlah dua hari ini berarti
buat kekosongan hidupku,"
pinta Susi. "Hiburlah aku yang
kesepian Mas," pinta Susi lagi.
Cihuy.. sorak aku dalam hati.
Setelah check in kami lantas
menuju ke paviliun paling
ujung yang mempunyai view
sangat indah berpagar bukit
dan taman anggrek nan
segar dipandang mata. Hawa
dingin ini membuatku sedikit
malas untuk melakukan
aktivitas dan kami
menghabiskan kurang lebih
satu setengah jam untuk
ngobrol. Yach hitung-hitung
sekaligus pendekatan kepada
Susi karena selama ini hanya
sebatas hubungan kerja atau
formal bukan suasana privacy
seperti saat ini. Jam tiga sore
badanku mulai gerah dan
rasanya ingin mengajak Susi
berenang di kolam air hangat
di Hotel tersebut. Kami pun
berenang bersama dan
rasanya sungguh nikmat,
hangat dan segar. "Mas Sony
masih kelihatan gagah yach,"
puji Susi saat aku istirahat
sebentar dan duduk di tepian
kolam. "Ah Masak sich?"
sahutku. Sepintas aku
menangkap gerakan bahwa
matanya tertuju pada
selangkanganku yang memang
sudah hampir 1 ,5 bulan tidak
pernah lagi bersarang. Meski
lagi mengkerut akan tetapi
dengan celana renang ketat
ini pastilah menonjol testisku.
Kulihat Susi sedikit menahan
nafas karenanya. Kami lantas
berenang dan berenang lagi
sampai badanku terasa
sedikit capai. Aku lantas
berhenti dan melilitkan
handukku menuju ke kursi di
pinggiran kolam, lalu kuteguk
air mineral ukuran setengah
liter itu sampai habis. Susi
sendiri masih asyik berenang
dan tak kusangka tubuhnya
yang biasa dibalut jas
kerjanya itu kelihatan
ramping dan mulus sekali. Aku
berdiri melakukan gerakan
pelemasan kecilku sambil
menikmati tubuh mulus Susi
dan Susi semakin merasa aku
perhatikan semakin terkesan
dibuat- buat gerakannya
memancing birahiku. Aku
kemudian rebahan kembali di
kursi dam melemaskan
ototku, Susi sebentar
kemudian naik menyusulku
mengambil tempat di
sampingku. "Sus.." panggilku
yang aku buat-buat semesra
mungkin. "Hem.." sahut Susi
yang ternyata masih
menyedot orange juice dan
bibirnya itu wah tidak
dibayangkan dech kalau lagi
menghisap punyaku ini. Dan
perlahan namun pasti penisku
mengeras menyembul di
bawah belitan handukku, lalu
aku sedikit naikkan pinggulku
agar Susi juga dapat
menikmati apa yang ia
inginkan sesaat lagi. "Ada apa
Mas..?" tanya Susi sedikit
serius namun matanya melirik
ke arah penisku yang sudah
setengah mengeras. "Enggak,
cuman aku melihat hari ini
kamu lebih seksi," rayuku.
"Emm.. gimana yach kalo si
kekar dan si seksi bersatu
yach.." tanya Susi
mengerlingkan mata kirinya.
"Pengin tau jawabnya? Hayo
kita ke markas," ajakku
seraya membimbingnya berdiri.
Kami lantas berjalan
bergandengan menuju paviliun
kami menginap. "Emh belum-
belum khok udah loyo,"
ejekku kepada Susi dan
berlari kecil meninggalkannya.
"Eh sialaan.." teriak Susi lalu
mengejarku yang berlari ke
arah Paviliun itu. "Mas Sony,
gandeng doong.." rengek Susi
manja disela-sela nafasnya
yang terengah-engah. Kami
pun bergandengan mesra bak
orang pacaran dan semua
terjadi spontan. Aku tak
ingat lagi istri dan anakku di
rumah saat ini, yang
kuinginkan hanyalah
kenikmatan dan kehangatan
tubuh Susi untuk
melampiaskan libidoku. Kami
memasuki paviliun itu dan
duduk di sofa besar
menghadap ke arah bukit
indah. Matahari serasa
mengintip kami dari balik
bukit itu dan enggan
menutup tirai hari ini dan
dilain pihak kami sudah ingin
segera menikmati malam indah
nanti. Kami duduk
berdampingan menikmati
alunan musik lembut dan
pemandangan yang
mempesona di bukit sana. "Lis,
aku sebenarnya.. sedikit..
emmhh.." kataku ragu. "Mas
Sony, aku adalah wanita
normal dan punya hasrat
seks akan tetapi Mas Sony
jangan khawatir padaku, aku
nggak bakal minta macam-
macam dari Mas Sony dan
kita hanya bersenang-senang
saja, just fun," kata Susi
semakin memantapkan rasa
hatiku. "Lagian nggak mungkin
karena aku tahu Mas Sony
punya keluarga yang
bahagia," imbuh Susi.
"Bukankah istri Mas juga
tidak boleh melayani lagi
karena bahaya bagi usia
kandungannya," bela Susi
seraya melingkarkan kedua
lengan rampingnya ke
leherku. Aku kemudian
mendekap Susi, terasa
hangat dan lembut tubuh
indah ini lalu kudekatkan
wajahku ke arah wajahnya.
Kami bertatapan cukup lama
dan penuh arti, kulihat dari
tatapan matanya Susi sudah
betul-betul horny demikian
pula aku yang sudah 2 bulan
lalu tidak mengasah batang
pejal kebangganku. Sekejap
bibir kami mulai menyatu
dalam alunan kemesraan
berselimut hasrat bergelora.
Ujung lidah kami bergantian
menggelitik rongga mulut kami
masing-masing. "Mass.. oohh
puaskan aku yach sayang,"
rengek Susi di sela-sela
desah nafasnya yang
memburu deras. "Segera
sayang, saatnya sebentar lagi
tiba. Aku akan membawamu
ke langit tujuh," bisikku sambil
melepas satu persatu kain di
tubuhnya. Udara dingin yang
bersentuhan langsung dengan
pori-pori Susi menambah
sensasi dan rindu akan
sentuhan dan juga rabaan-
rabaan maupun jilatan
sekujur tubuhnya. Kali ini aku
akan memperlakukannya bak
seorang putri maka akan
berbahagialah Susi dalam dua
hari ini. Setelah memakaikan
dia sleeping jas, aku kemudian
mengajaknya berdiri di dekat
jendela menikmati senja nan
indah dan syahdu ini, aku
mendekapnya dari belakang
dan belakang telinganya mulai
kusentuh dengan ujung
lidahku. "Mass.. oogghh.." Susi
hanya bisa mendesah dan
mengesek kedua pahanya.
"Sudah Berapa lama Say.."
bisikku di sela-sela
permainanku di belakang
telinga dan tengkuknya. "Tiga
bull.. aa.. aahh.. gellii," pekik
Susi sambil membalikkan
tubuhnya menghadapku.
Wajah penuh gairah itu
mendongak ke arahku dan
kulumat bibirnya sementara
tanganku mulai menanggalkan
semua yaang tersisa di
tubuhnya. "Masshh.. oogghh..
mmpphh," Susi menceracau
sambil melucuti pakaianku.
Kami sudah telanjang bulat
bersama sambil berdansa
seirama alunan musik hotel,
tubuh kami menyatu dan
saling dekap dalam
kelembutan dan kehangatan
birahi dan tetap berdansa
dalam irama kelembutan.
Tangan Susi melingkar di
tengkukku dan kulingkarkan
tanganku di pinggangnya,
namun kemudian kuturunkan
ke arah bongkahan
pantatnya dan meraba serta
meremas lembut. Pada saat
itulah Susi melepaskan
bibirnya untuk melenguh
sejenak menikmati rabaan
serta sentuhanku. Penisku
sedari tadi mengeras tegak
itu menempel di perut Susi
membuat sensasi kehangatan
di antara kehangatan tubuh
kami.
Cukup lama kami berdansa
dan entah sudah berapa lagu
kami lewati bersama namun
aku tidak ingin segera
mengakhiri foreplay ini karena
aku ingin Susi lebih dapat
menikmati keromantisan ini
lebih lama lagi. Aku
membimbingnya ke arah Sofa
dan kududukkan Susi di
pangkuanku, kami pun
semakin tenggelam dalam
suasana, namun aku tetap
berusaha menguasai diri.
Pangkal penisku tepat
bersentuhan dengan
vaginanya yang terasa sudah
amat merekah karena
rangsangan hebat dan lelehan
mani Susi semakin deras
terasa menetes ke "telor"-ku.
Cumbuan demi cumbuan dan
rabaan serta sentuhan sudah
kulakukan terhadap Susi.
Bibirku sudah pindah ke arah
dada Susi kukulum payudara
yang kiri dan tangan kananku
memilin puting yang kanan,
punggungnya aku beri
sentuhan dengan tangan
kiriku. Susi semakin tak
mampu menguasai birahinya
yang sudah di ubun- ubun
tubuhnya menggelinjang
hebat. "Ooogghh.. aahhkkhh..
please.. masukin.. mass.. sshh,"
desis Susi sambil menjambak
rambutnya sendiri. Bibirnya
mendesis tubuhnya ia
jatuhkan ke belakang dan
bertumpu pada lenganku.
Kesempatan itu kugunakan
untuk melirik ke arah
vaginanya yang merekah
menebar bau semerbak, aku
tertegun sejenak karena
sebelumnya aku belum pernah
melakukan ini terhadap istriku
atau wanita lainnya. Namun
aku yakin (seperti di cerita-
cerita situs ini) jika kujilat
vagina Susi hal ini akan
mampu membuat Susi
menggapai orgasmenya lewat
hisapanku nanti. "Soonnhh..
cepp.. peethh.. issepphh.."
rengek Susi terengah- engah
saat aku mulai mencumbui
bagian bawah perutnya yang
indah. Aku tak menjawab
namun segera kududukkan
Susi di sofa, kedua pahanya
kuletakkan di pundak dan
mulailah aku dengan jilatanku
di vagina Susi. Vaginanya
harum bentuknya pun begitu
indah dan masih sempit
rambutnya tercukur bersih.
"Ssshh.. oouuwww.. aagghh..
pleasee.." pinta Susi diikuti
penekanan kepalaku ke arah
selangkangannya. Sekejap
kemudian aku memainkan
kasarnya permukaan lidahku
untuk menjilat bibir minoranya
yang merekah dan Susi hanya
bisa menjerit lirih menahan
orgasmenya yang begitu
cepat datang. Sudah tiga
bulan, pantas saja sekejap
sudah mencair birahi wanita
ini, bathinku dalam hati. Aku
menyambutnya dengan
patukan dan juluran lidahku
di dinding rahimnya lalu
kukeluar- masukkan lidahku
bak penis selagi memompa
vagina secara teratur dan
lembut. "Aaawwuughh.. aaghh..
aaghh.. sshh.. Maasshh.." Susi
mengawali orgasmenya
dengan jeritan panjang. Aku
menyambutnya lagi dengan
menghisap vaginanya dalam-
dalam, aku sundut-sundut
dengan interval yang lembut
teratur. Dan benar dugaanku
kali ini, orgasmenya yang
kedua segera menyambung
membuatnya semakin ngilu
dan geli yang amat sangat.
"Aaagghh.. kuu.. llaaghh.. gii..
aakkhh.." Susi mendongak,
kedua tangannya
mencengkeram erat sofa.
"Ogghh.. Masshh.. aaghhghh..
aakkhh.. aahhghh.." Susi
mendesah mengakhiri
orgasmenya. Aku berhenti
untuk membersihkan mukaku
dan menjilat sisa-sisa mani
Susi yang terlihat meleleh
menetes hingga anusnya.
"Mass.. aakhh.. please," pinta
Susi kegelian saat aku
membersihkan sisa maninya di
sela-sela labia minora-nya.
Aku kembali duduk di sofa
dan mendudukkan Susi di
pangkuanku, dan sebelum
duduk Susi ambil ancang-
ancang untuk menancapkan
penisku. "Slerrphh.. aakgghh..
hangatthh.." suara penis
membongkar vagina dan
desahan Susi bersamaan 3 /4
penisku dengan mudah
tenggelam menjejali vagina
Susi. Susi duduk tegak, kedua
tangannya membelai
rambutnya, matanya
terpejam menggigit bibir
bawahnya, kemudian ia buka
mulutnya saat mendesah
bergantian, pinggulnya
digoyangkan perlahan sesekali
dan pada saat yang tepat ia
hentakkan ke pangkal
penisku. 16 ,5 cm penisku
telah masuk mengisi rongga
rahimnya membuat sensasi
kehangatan dan nikmat
bercampur jadi satu.
"Oookkhh.. hangatthh..
aakkhh.. Masshh.. puassinnhh..
aku.." pinta Susi diiringi
dengan gerakan naik-turun
pinggulnya seperti seorang
joki. 15 menit berlalu,
tampaknya Susi masih
tenggelam dalam alunan
sorgawinya dan kuperhatikan
dari tadi matanya tampak
terpejam menikmati sensasi
ini. Aku sendiri mengimbangi
goyangan Susi dan menunda
ejakulasiku, karena aku amat
kasihan melihat Susi yang
haus akan kenikmatan
birahi.Aku berusaha
menambah rangsangan
dengan menggesekkan
telunjukku ke anus Susi yang
sebelumya kubasahi dengan
ludahku. Tepat saat ujung
telunjukku memasuki anus
Susi, Susi tampak sedikit
terkejut dengan membuka
matanya lebar-lebar dan
sekejap kemudian terpejam
dan tubuhnya menegang.
Wajahnya menyeringai, kedua
tangannya mencengkeram
punggungku erat-erat dan
menarik tubuhnya menjauh
dariku, tampaknya moment
inilah yang Susi tunggu sejak
tadi. "Ngghh.. aagghh.. aakhh..
aakkh aahhgghh.." Susi mulai
mendapatkan orgasmenya
yang nyata yang ia pendam
selama tiga bulan. Pinggulnya
ia goyangkan keras tak
beraturan demikian pula
hentakan pinggulnya dan
beruntung rambut
kemaluanku sudah aku cukur
bersih sehingga terbebas dari
rasa sakit akibat himpitan
saat vagina menghujamnya.
Lelehan maninya sampai ke
pangkal telunjukku yang diam
di anusnya kemudian
telunjukku yang sudah licin
tadi kutusuk-tusukkan lebih
keras dan dalam di rongga
anusnya. Susi semakin
menghentak dan bergelinjang
tak karuan menyambut
orgasmenya yang keempat.
"Aaargghh.. aagghh..
oohhgghh.. aakk.. akkhh.. kell..
luaarr aaghh.." Susi menjerit
keras menggapai orgasmenya
kali ini. Vaginanya terasa
hangat dan terasa lebih
menggelembung dari pada
tadi. "Ooghh.. oommpphh..
aagghh.." desah Susi tampak
lega mengakhiri orgasmenya.
Aku sengaja menunda
orgasmeku agar weekend kali
ini betul- betul lain dari yang
lain bagi Susi. Lalu kurengkuh
kepalanya, kemudian kukecup
mesra bibirnya, kulepas, lalu
kutatap lembut wajahnya,
ekspresi kepuasan terpencar
dari sudut matanya yang
bening. Masih tetap menancap
penisku di rahimnya, kemudian
kami berdekapan mesra lama
sekali. "Sus.." tanyaku. "Hem
eemhh.. makasih Mas Sony,"
jawab Susi puas. Karena
capek Susi melepas gigitan
vaginanya dan
menghempaskan dirinya di
sofa. "Aahgghh.." lega dan tiga
menit Susi pun tertidur di
sofa lalu aku mengambil
selimut hangat untuk Susi.
Setelah mengambil handuk
dan mencuci penisku dengan
shower hangat di kamar
mandi, aku mengambil sleeping
jas-ku, kemudian menghampiri
Susi di sofa. Kubelai lembut
Susi dan kuletakkan
kepalanya di pahaku. Aku
terdiam menikmati senja yang
mulai gelap, tak kulihat lagi
indahnya bukit di seberang
hotel yang tampak hanya
lampu kerlap kerlip di
kejauhan. Karena udara
semakin dingin menusuk ke
tulang rasanya maka aku
menggotong Susi ke tempat
tidur dan kudekap hangat ia
di dadaku di balik kehangatan
selimut kami. Tiga puluh menit
Susi terlelap, belum ada
tanda-tanda ia terjaga
membuatku sedikit gelisah
karena penisku kembali tegak
berdiri. "Mmmpphh.. ooaakhh
ampph.. hahh.." Susi
tampaknya terjaga dan ia
kaget mendapati penisku
mengeras. "Sebentar Yach
Mas, aku ke kamar mandi
dulu, entar gantian Mas aku
puasin," kata Susi datar
seraya berlari kecil ke kamar
mandi. Aku kemudian melepas
sleeping jas-ku dan
mengelus-elus penis
kebanggaanku yang kokoh
berdiri tegak. Dari kamar
mandi Susi menghampiriku dan
menepis tanganku dari
penisku dan kini mulut mungil
Susi mulai mengulum kepala
penisku. Batang penisku ia
kocok-kocok lembut
terkadang ia remas hingga ke
kedua biji kemaluanku.
"Oookhh Suss.. sshh.." aku
hanya dapat mendesis
menikmati kocokan tangan
lembut ini. "Oookkhh.. lebih
kerass.. ssaayy.." ceracauku
tak karuan karena
ejakulasiku tertunda. Susi
lebih keras lagi mengocok dan
diselingi kuluman-kuluman di
sepanjang batang penisku.
Kulihat Susi menggengam
batangku dan terlihat kepala
penisku menyembul di antara
genggaman tangannya. Ujung
lidah Susi beradu dengan
ujung kemaluanku tepat di
lubang sperma penisku dan
Susi mematuk-matukkan
lidahnya tepat di situ,
rasanya badan ini bergetar
hebat dan ngilu yang amat
sangat. Kedua pahaku
otomatis terbuka lebar dan
Susi menempatkan tubuh
rampingnya di antara kedua
pahaku. Aku semakin tak
tahan dengan permainan Susi,
kucengkeram erat rambutnya
menahan rasa geli. "Suusshh..
ooghh.. Suss.." aku mendesis
berusaha menahan laju
spermaku. "Bocorin saja Mas..
ayo sayang..!" kata Susi sambil
melihat ke wajahku yang
sedang kelojotan kemudian
meneruskan patukan lidahnya
yang semakin nakal dipadu
dengan kocokannya yang
lembut. Aku melirik ke arah
Susi, tampak wajahnya puas
mengerjaiku kali ini. "Aaakhh..
Susshh.. mmpphh.." desahku
menikmati permainan oral
Susi. Aku semakin tak tahan
dengan sensasi yang dibuat
Susi apalagi ia melakukannya
juga dipadu dengan pilinan
lembut jemari kirinya di
puting susuku. Aku berusaha
mati-matian menahan laju
spermaku, namun usahaku itu
sia- sia, tiga detik kemudian
aku melenguh panjang
menyambut sensasi yang
segera datang. "Suuss..
hisapphh.. Sayy.. aku mauu..
kell.." pintaku tak sabar. Susi
tanggap, kemudian menghisap
dalam-dalam kepala penisku,
sedetik kemudian.. "Arr..
aakhh.. aakkhh.. aakhh.." aku
terpekik melepas semburan
maniku di mulut mungil Susi.
Ditelannya semua spermaku
hingga ke tetes terakhir dan
penisku semakin terasa kasat
dibuatnya. Masih tetap ia
kocok penisku sehingga tetap
pada kondisi tegang terus
meski sudah menyemburkan
mani kental. Apalagi sudah
dua bulan tidak bersarang,
pastilah burungku akan
menegang sampai menemukan
sarangnya. Aku kemudian
mengulum bibir Susi
sementara Susi masih
mengelus penisku dengan
lembut. Susi rupanya ingin
menikmati seks ini dengan
alami karena ia merebahkan
dirinya di sampingku, lalu aku
melingkarkan pahaku di atas
kedua pahanya. Bibirku kini
sudah berada di puting kiri
Susi untuk mengerjakan
tugas berikutnya, yaitu
menggigit-gigit kecil disertai
remasan- remasan. "Mpphh..
oowwghh.. mm.. Maashh.."
tampaknya birahi Susi mulai
bangkit dari tidurnya. Tangan
Kiriku juga tak tinggal diam
untuk memilin puting
kanannya. "Aaaww mmpphh..
sshh.. Mass.. kamu hangat
sayang.." puji Susi ketika aku
mulai menindih tubuhnya dan
mencumbui kedua ketiaknya
secara bergantian. "Oooghh..
aahhgghh.. kamu jantan
Sayangg.. aku mencintaiimu,"
Susi terus memujiku,
tampaknya permainan
lembutku membuatnya lupa
diri. Dari rabaan telunjukku
tampaknya Susi sudah siap
jika penisku membongkar
rahimnya lagi karena sudah
lembab. "Aku masukin yach
Say.." tanyaku. Susi lalu
mencumbui aku dengan
lembut namun telapak tangan
kanannya meremas pantatku
lalu menekannya. "Blesshh.."
dengan mudah masuk seluruh
batang penisku karena vagina
Susi sudah lembab dan licin
akan sisa-sisa spermaku sore
tadi. "Maasshh.. aakk," Susi
mendesah panjang
menyambut kehangatan yang
mulai menjalar ke semua
rongga rahimnya. Kami
bercumbu bersama tanpa
melakukan goyangan, namun
sesekali aku memainkan otot
penisku di liang vagina Susi
membuat Susi kelojotan
menahan geli bercampur
nikmat. "Aaahh mmphh.. aah
sshh.. aaghh.. ooghh..
nikmath.." desah Susi. Kami
masih bergumul dalam irama
syahdu diiringi desah
kelembutan nafas, entah
nafsu atau cinta aku pun
tidak peduli. Badan Susi
semakin menghangat tanda-
tanda ia menjelang puncak
nafsunya. Aku mulai memompa
penisku lembut dalam irama
teratur semetara kedua
tanganku memilin dan
meremas kedua bukit
indahnya. Tubuh Susi semakin
terhentak kala tempo
permainan hentakanku
semakin kutambah, hal ini
karena sensasi yang aku
rasakan juga semakin nikmat.
Penisku terasa tergigit oleh
labia minora-nya kala aku
menusukkan penisku dalam-
dalam dan terasa terhisap
kala aku menarik penisku.
Pompaan penisku semakin
kencang sampai badan Susi
terhentak, namun Susi hanya
merengek manja, melenguh,
mendesah dan menjerit lirih
kala sedikit gesekan penisku
membuat vaginanya ngilu. 15
menit berlalu, kepalanya
kulihat mulai menoleh ke kiri
dan ke kanan tak beraturan,
wajahnya memerah oleh
birahi, tubuhnya terasa lebih
hangat dan vaginanya
mengempot teratur.
Tubuhnya lalu menegang,
kedua tangannya lantas
dibuka lebar-lebar ke atas,
berpegangan pada sisi tempat
tidur untuk bersiap-siap
melepas orgasmenya yang
akan dahsyat. Aku membantu
menstimulasi gesekan penisku
dengan klitorisnya yang
kenyal di bagian tubuh lain,
aku mencumbui kedua ketiak
Susi bergantian. Susi
merasakan terbang di langit
yang tinggi beralaskan
putihnya mega yang
menyelimutinya dan shatin
tempat tidur ini memberi
inspirasi seolah kami
bercumbu di awan yang
lembut. "Sus.. I love you.."
bisikku spontan kala
mendapati wajahnya yang
cantik rupawan, memang dia
adalah tipeku, tipe-tipe
wanita langsing seperti dia.
"Ahhghhku.. juhhggaa..
Masshh," Susi membalas
cumbuanku dengan buas. Kali
ini Susi diam membisu dan
tubuhnya mulai menegang,
diam dan matanya terpejam
memancarkan ekspresi
mendalam. Aku lalu
melesakkan dalam-dalam
penisku terasa mentok
sampai ke dasar dan aku
diamkan di sana sambil aku
mainkan otot-otot penisku.
Sedetik kemudian datanglah
apa yang Susi rindukan,
"Maasshh.. aagghh aaghh
aakkhh.. aahkkuu.. ssaamm.."
Susi mengawali orgasmenya
dengan lengkingan panjang.
Putingnya kini aku gigit-gigit
kecil dan lereng bukit
payudaranya aku remas
lembut dan tampak Susi masih
mendesah meregang
orgasmenya yang pertama.
Stimulasi di putingnya
membuatnya menggapai
orgasmenya yang kedua dan
ketiga secara bersamaan.
"Ooouugghh.. aakku.. lahhggi..
aagghh.." Susi menggelinjang
tak karuan. Tangannya
mencakar punggungku
menahan geli bercampur yang
amat sangat kala aku
semakin cepat memompa lagi
penisku. Cairan mani Susi
yang banyak menyebabkan
bunyi- bunyi saat penisku
menghujam vagina Susi dan
semakin melicinkan tusukanku
saja, dan yang kutunggu
segera tiba. "Susshh.. aahku..
mmpphh.." gumamku sambil
menggenjot penis dan
meremas puting Susi.
"Masshh.. aagghku.. jugaa.."
balas Susi. "Oouumpphh.. aa..
aa.. aaghh," teriak kami
bersamaan, persetan dengan
orang lain yang
mendengarnya. Maniku
mengalir deras bersamaan
dengan Susi yang kurasakan
hangat di sepanjang batang
penisku. Kami pun terbawa
arus orgasme bersama yang
sensasional bergumul,
mencumbui, menggigit kecil
bergantian dan nikmat "langit
tujuh" bagi Susi sudah ia
dapatkan dan juga aku. Susi
masih tetap dalam dekapanku
dan tak ingin kulepaskan
untuk selamanya saat penisku
terlepas dari gigitan
vaginannya. Aku melirik ke
arah jam dinding yang
menunjukkan pukul 09 :00
malam dan itu berarti kami
sudah bercinta lebih kurang 5
jam sejak sore tadi. Kami lalu
berendam di bath tub hangat
dan tidak melewatkan satu
ronde di sana sebelum kami
keluar bersama mencari
makan dan minuman energy
serta gingseng. Setelah itu
kami kembali ke hotel lagi dan
menghabiskan malam dengan
berbagai gaya bercinta
seperti yang kami lihat di
channel video kamar kami
sampai jam 03 :00 pagi,
setelah itu kami tertidur
karena lelah. Dua hari kami
habiskan menguras mani kami
masing-masing sebelum
akhirnya kami berpisah di
Surabaya. Para pembaca,
nafsu memang bukanlah cinta
karena seseorang bisa bilang
cinta saat diselimuti nafsu,
demikian pula sebaliknya.
Salam bagi semua dan semat
beraktivitas apa saja, mau
diteruskan beronani atau
bermasturbasi ria silakan.
TAMAT