PDA

View Full Version : Dunia Breaker


knock
10-10-2015, 05:59 AM
Aku tinggal di sebuah kota A
untuk melanjutkan studi ke
jenjang yang lebih tinggi. Di
kota ini aku diperkenalkan
dengan suatu alat komunikasi
yang sebenarnya sering
dipergunakan namun hanya
sebatas keperluan saja. HT
nama alat itu atau disebut
juga Handy Talky dan
temanku menyarankan untuk
ikut di sebuah frekuensi yang
frekuensinya adalah **.***
(edited) MHz. Aku dipinjamkan
alat tersebut selama 1 bulan
lebih dan kerjaanku dari hari
ke hari adalah ngebrik dan
ngebrik terus karena alat ini
lumayan juga jangkauannya
bisa mencakup hampir seluruh
kota A. Memang dengan
bantuan sebuah antena yang
kuletakkan di atas genting
kost- kostan, pesawat ini
mampu menjangkau seluruh
breaker-breaker yang ada di
kota tersebut. Pada suatu
malam di saat frekuensi
sedang sepi dan aku pun
sedang tiduran di ranjang
dengan pesawat tetap
kunyalakan, terdengar suara
seorang wanita memanggil-
manggil "Konteek.. breeaker.."
begitulah wanita itu
memanggil. Dan dengan sigap
aku terima panggilan wanita
itu dan yang aku tanyakan
dia sedang mencari siapa,
ternyata dia hanya mencari
rekan buat ngobrol, akhirnya
kami sepakat pindah channel
lain yang kira-kira orang lain
tidak banyak yang
mendengar alias mojok. Dari
hari ke hari kami mojok,
sampai pada suatu malam
sekitar jam satu kami
melakukan bercinta di udara
dimulai dengan aku
memberikan sebuah kecupan
dan dia membalas kecupan ke
seluruh tubuhku sampai.. "Ini
buat di bawah pusarmu,
muaach," aku kaget tak
kusangka dia berkata itu,
dan mulailah burungku
menegang dan seolah-olah
menyuruhku untuk
melanjutkan sampai mencapai
klimaks. "Oooh lagi dong,
sekalian aja dikulum," dan dia
pun memberikan suara setuju
dan memerintahkanku
membuka celana dan mulailah
dia mengeluarkan suara
seolah-olah sedang mengulum
burungku. "Mmmh.. muach..
mmh.. muaach.." sampai
burungku tak kuat lagi, dan
secara otomatis pula
tanganku sudah mengelus-
ngelus burungku sampai
akhirnya.. "Sayaang.. aku
pengen keluar.." "Keluarkan
aja.. biar aku telan.." ujarnya.
Dan.. "Crot.. cret.. croot.."
Keluarlah maniku membasahi
karpetku sebagian persis di
depan pesawat ngebrik.
Begitulah kegiatan bercinta
lewat udara yang sampai
sekitar 1 minggu. Hampir tiap
hari aku lakukan, sampai
pada suatu hari di siang hari
ketika itu aku sedang asyik-
asyiknya bercengkrama di
pesawat dengan teman-
temanku dan dia memanggilku
untuk segera bergeser ke
frekuensi yang sudah kami
sepakati. Ternyata dia
mengajak aku untuk "kopdar"
alias ketemu di darat di
suatu tempat yang kami
sepakati. Tempat tersebut
bertempat di suatu mall yang
dijamin ramai oleh para
pengunjung dan dia
memberikan ciri- cirinya
untuk disesuaikan dengannya
pada saat ketemu. 1 jam
kemudian aku telah sampai di
mall tersebut dan langsung
menuju ke McD dan mulai
mencari-cari ciri-ciri yang dia
sebutkan tadi. Ternyata di
sebuah bangku ada seorang
wanita muda seumuran
denganku yang sedang duduk
sendirian dengan minuman
Fanta di meja, yang aku
perkirakan sesuai dengan
cirri-ciri yang dia sebutkan
tadi. "Vinna yah..?" aku coba
menyapa dengan keragua-
raguan dan dia pun menoleh.
"Irfan..?" dengan muka yang
gembira dia menyapaku.
Mmmh manis juga nih cewek,
tinggi 160 cm, rambut
sebahu, kulit kuning terawat,
dadanya aku taksir 34 B,
beratnya sekitar 45 kg, aku
pun merenung sambil
memperhatikan cewek di
hadapanku ini. "Duduk Fan..!!"
sambil memberikan tangannya
untuk bersalaman. Aku pun
balas memberi tangan kepada
dia, namun sengaja aku
berjabat tangan dengan dia
cukup lama, sambil mengelus-
ngelus punggung tangannya
dengan jempol kananku
merasakan kehalusan
tangannya sambil melihat
bulu-bulu halus yang tumbuh
di pergelangan tangannya.
"Mau pesan apa?" setelah
melepaskan tangannya dia
basa-basi bertanya, sambil
agak berbisik. "Belum saatnya
dan nggak di sini.." Aku pun
balas berbisik, "Jadi enaknya
dimana?" Dia pun tersenyum
dan akhirnya kami pesan
makanan, dan kembali lagi
kami menuju meja tadi. Sambil
memakan makanan yang
sudah kami pesan, kakiku
sudah mulai menunjukkan
kenakalannya mengelus-
ngelus betis Vinna yang
kebetulan menggunakan rok
panjang sampai mata kaki
sehingga kalau Vinna berdiri,
terlihat sangatlah anggun.
Vinna terlihat diam saja
seolah- olah tidak
memperdulikan apa yang
dirasakan, hanya sesekali dia
melirik padaku sambil
tersenyum genit dan makin
membuatku melakukan gerilya
kaki menuju betisnya. Setelah
selesai makan kami pun
sepakat pergi jalan-jalan ke
suatu tempat, kebetulan
Vinna membawa kendaraan
roda empat. Setelah di dalam
mobil kami pun ngobrol
kesana-kemari sampai Vinna
menanyakan sesuatu
kepadaku sambil memegang
tanganku. "Fan.. kaki kamu
nggak pernah sekolah yah
Fan..?" "Hehehe.. abis kakiku
udah nggak kuat ngeliat kaki
kamu yang indah.." "Kita cari
tempat yuk..!" sambil
mendekatkan mukanya ke
arahku. "Oke.. muaacch,"
langsung aku sambar bibirnya
yang merangsang itu.
Mendapat ciuman tersebut
Vinna hanya tersenyum, dan
aku pun makin berani di kala
traffic light merah, aku
melumat bibirnya sambil
meraba pahanya dengan
tangan kiriku, sementara
tangan kananku memegang
setir mobil. Kadang-kadang
aku pun meraba dadanya
sehingga Vinna merem melek
keenakan. Akhirnya kami pun
sampai di tepi pantai, lalu aku
parkirkan mobil menghadap
pantai yang kira-kira cukup
sepi untuk bercinta. "Gimana
kalo di sini?" Vinna mendekat
padaku dan melumat bibirku
sehingga aku langsung
memeluk dia dan membalas
ciumannya. "Oooh Fan.. tiap
malam aku horny berat niih,
kamu pinter membuat aku
merasa puas ketika kita lagi
mojok, Faan," aku tak sempat
merespon kalimat itu, aku
sudah sibuk melumat, menjilat
lehernya, kupingnya dan mulai
menciumi dadanya sambil
tanganku tak henti-hentinya
meremas payudaranya yang
masih tertutup bajunya.
Akhirnya kami pun berpindah
ke posisi jok mobil belakang,
dan mulailah aku membuka
kemeja yang digunakan Vinna,
satu per satu kancingnya aku
buka, dan respon Vinna pun
membuka kaosku sambil
sesekali mengelus dadaku
yang sedikit berbulu. "Faan..
buat aku puas Faan.. mmh,"
sambil memeluk eratke
tubuhku. Kubalas pelukan itu
dengan tanganku membuka
kancing pengait BH-nya dan
terbukalah dua buah gunung
yang indah, halus, dengan
puting yang memerah dan
"Oooh.. Vinn, muaach.. muaach..
mmh," aku pun dengan penuh
gairah merasakan kehalusan
gunung itu sambil sesekali
menjilati puncak gunung itu
dan reaksi Vinna begitu
terangsang oleh perlakuanku
itu, matanyamerem-melek,
dan dari mulutnya terdengar
desahan yang sangat
menggairahkan. Aku tekan-
tekan mukaku ke kedua
gunung itu, merasakan,
menikmati, melumat kehalusan
gunung nan indah itu, makin
lama gunung itu makin
mengeras, mengeras dan
mengeras, dan secara
bergantian Vinna menciumi
dadaku dengan lembutnya,
bibirnya yang mungil dan
pipinya yang halus merambah
dadaku dan sesekali melumat
puting susuku sehingga
membuatku kegelian dan
semakin bergairah.Dan Vinna
kembali menciumi tubuhku
yang atas, bibir, leher, pipi,
dan sebagainya yang
membuat aku semakin
bergelora. Tanganku pun tak
tinggal diam mencopoti rok
yang dipakai Vinna, dan tak
lama kemudian terlihatlah
paha mulus, putih, dan sedikit
ditumbuhi bulu-bulu rambut
kecil yang indah, dan
langsung tanganku mengelus-
ngelus paha Vinna nan indah
tersebut. Vinna semakin
bernafsu dan tanganku mulai
mengelus-ngelus celana
dalamnya Vinna yang agak
basah karena terangsang
berat. Lalu Vinna menyuruh
aku melucuti semua
pakaianku, akhirnya aku pun
telanjang bulat dan Vinna pun
melepas celana dalamnya dan
mulai lagi kami saling memeluk,
mencium, merasakan
kehalusan tubuh masing-
masing pasangannya, dengan
sesekali burungku aku
gesekkan ke rambut
kemaluannya sehingga
membuat Vinna menggelinjang
keenakan, "Ohh, mmh," sampai
akhirnya dia kejang
mengalami orgasme yang
sangat didambakannya. Dia
pun tergeletak lemas dengan
tubuh yang masih membujur
telanjang dan aku
bertanya,"Vinn, kamu masih
perawan?" Dia pun
menganggukkan kepalanya
dan berkata bahwa dia masih
ingin menjaga
keperawanannya dan aku pun
menyanggupinya dan memang
aku masih perjaka juga,
dalam arti belum pernah alat
kelaminku masuk ke alat
kelamin wanita. Aku pun
kembali mencium bibir
mungilnya dan kembali
berpagutan saling mencium,
meraba, memeluk dan
menggesek-gesekkan alat
kelaminku ke bibir
kemaluannya sambil
merasakan hangatnya bibir
kemaluan yang ditumbuhi
bulu-bulu halus terasa geli,
hangat, halus pahanya, dan
oohh.. dengan variasi-variasi
yang aku miliki Vinna pun
kembali mengejang dengan
matanya tetap terpejam dan
rangkulan pahanya
kepinggangku semakin erat,
Vinna mengalami orgasme lagi,
"Mmmh Fann.. ooh aku keluar
lagi.. mmhh," dan Vinna pun
kembali lunglai mengatur
nafas dengan mata yang
tetap terpejam, sementara
aku tetap menikmati halusnya
tubuh Vinna yang dimilikinya
mengelus pahanya yang
mulus, mencium dadanya yang
membusung, melumat bibirnya
dan seterusnya. Dengan
variasi-variasi yang aku miliki
yang tidak akan kusebutkan
di sini. Mungkin Vinna merasa
bahwa aku belum mendapat
kepuasan maksimal dan dia
mencoba meraih alat vitalku
dan mulai mengocoknya dan
selanjutnya mengulumnya.
"Oooh nikmat banget Vinn.."
sementara posisi sekarang
sudah 69, aku tetap
mengusap-ngusap paha Vinna
yang mulus. Dan tak lama
kemudian aku merasakan
akan ada yang keluar dari
alat vitalku, seolah-olah mau
meledak dan.. "Oooh Viinn,
sayaang aku keluaarr.." tepat
mengenai mukanya dan
sebagian lagi masuk ke
mulutnya, dan aku lemas,
alatku mengecil setelah
tangan Vinna lepas. "Ma, kasih
yah Vinn.." "Mmh, lain kali
nggak usah di pesawat break
lagi yah." Aku pun tersenyum
dan mencium Vinna dengan
lembut. "Gimana Vinn.. suka?"
"Thanks yah.. kamu tetap
menjaga keperawananku.. dan
aku tetap puas." Akhirnya
kami pun berpakaian dan
tetap sepakat untuk
melakukannya lagi nanti dan
tetap menjaga keperawanan
dan keperjakaan masing-
masing dengan saling
mengingatkan pada saatnya
kami akan melakukannya lagi.
Tak terasa keringat kami
sudah membasahi jok mobil
belakang, namun Vinna bilang
tidak apa- apa, setelah
selesai berpakaian, mobil
langsung aku luncurkan ke
jalan besar dan kami makan
dulu di sebuah kafe dekat-
dekat pantai sambil
mengobrol tentang dunia
breaker dan kami sepakat
untuk berhenti dari dunia
"ngebreak" dan akan
dilanjutkan ke dunia
petualangan yang lebih real
namun tetap menjaga status
kami sebagai perawan dan
perjaka. Sampai di tempat
yang dituju akhirnya aku
pamit pulang dan tak lupa
kutinggalkan nomor HP-
kukalau-kalau butuh bercinta
denganku lagi walaupun
hanya lewat pesawat telepon,
dan Vinna pun memberikan
kecupan mesra kepadaku dan
berjanji besok malam akan
meneleponku untuk bercinta
lagi, yang jelas melalui
pengalamanku di pesawat
"ngebreak" sangatlah tidak
masalah melalui pesawat
telepon.
TAMAT