PDA

View Full Version : Bram, Teman Suamiku


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Sebut saja nama ku Sinta,
wanita umur 28 thn dan
orang-orang bilang bentuk
tubuhku amatlah proposional,
tinggi 170 cm berat 55kg dan
ukuran buah dada 34B,
ditunjang wajah cantik (itu
juga orang-orang yang
bilang) dan kulit putih cerah.
Sebelumnya aku memang
sering bekerja menjadi SPG
pada pameran mobil dan
banyak orang mengelilingi
mobil yang aku pamerkan
bukan utk melihat mobil
tetapi untuk melihatku.
Menikah dengan Roni, 30 thn,
seorang pekerja sukses. Kami
memang sepakat utk tidak
punya anak terlebih dahulu
dan kehidupan seks kami
baik-baik saja, Roni dapat
memenuhi kebutuhan seks ku
yang boleh dibilang agak
hyper..sehari bisa minta 2 sesi
pagi sebelum Roni berangkat
kerja dan malam sebelum
tidur.
Dan cerita ini berawal dari
kesuksesan Roni bekerja di
kantornya dan mendapat
kepercayaan dari sang
atasan yang sangat baik.
Kepercayaan ini membuat dia
sering harus bekerja
overtime, pada awalnya aku
bisa menerima semua itu
tetapi kelamaan kebutuhan ini
harus dipenuhi juga dan itulah
yang membuat kami sering
bertengkar karena kadang
Roni harus berangkat lebih
pagi dan lewat tengah malam
baru pulang.
Dan mulailah cerita ini ketika
Roni mendapat tanggung
jawab untuk menangani suatu
proyek dan dia dibantu oleh
rekan kerjanya Bram dari
luar kota. Pertama
diperkenalkan Bram langsung
seperti terkesima dan sering
menatapku, hal itu
membuatku risih. Bram cukup
tampan gagah dan kekar.
Karena tuntutan pekerjaan
dan efisiensi, kantor Roni
memutuskan agar Bram
tinggal di rumah kami utk
sementara. Dan memang
mereka berdua sering
bekerja hingga larut malam di
rumah kami. Bram tidur di
kamar persis di seberang
kamar kami.
Sering di malam hari aku
berpamitan tidur matanya
yang nakal suka mencuri
pandang diantara sela-sela
baju tidur yang aku kenakan.
Aku memang senang tidur
bertelanjang agar jika Roni
datang bisa langsung
bercinta.
Pernah suatu saat ketika
pagi hari kami aku dan Roni
bercinta di dapur waktu
masih pagi sekali dengan
posisiku duduk di meja dan
Roni dari depan, tiba-tiba
Bram muncul dan melihat
kami, dia menempelkan
telunjuk dimulutnya agar aku
tidak menghentikan kegiatan
kami, karena kami sedang
dalam puncaknya dan Roni
yang membelakangi Bram dan
aku juga tidak tega
menghentikan Roni, akhirnya
ku biarkan Bram melihat kami
bercinta tanpa Roni sadari
hingga kami berdua orgasme.
Dan aku tahu Bram melihat
tubuh telanjangku ketika Roni
melepaskan penisnya dan
terjongkok di bawah meja.
Setelah kejadian itu Bram
lebih sering memperhatikan
tiap lekuk tubuhku.
Sampai suatu waktu ketika
pekerjaan Roni benar2 sibuk
sehingga hampir seminggu
tidak menyentuhku. Di hari
JumaE?at kantor tempat Roni
bekerja mengadakan pesta
dinner bersama di rumah
atasan Roni . Rumahnya
terdiri dari dua lantai yang
sangat mewah di lantai 2 ada
semacam galeri barang2 antik.
Kami datang bertiga dan
malam itu aku mengenakan
pakaian yang sangat seksi,
gaun malam warna merah
yang terbuka di bagian
belakang dan hanya dikaitkan
di belakang leher oleh kaitan
kecil sehingga tidak
memungkinkan memakai BH,
bagian bawahpun terdapat
sobekan panjang hingga
sejengkal di atas lutut, malam
itu saya merasa sangat seksi
dan Bram pun sempat
terpana melihatku keluar dari
kamar. Sebelum berangkat
aku dan Roni sempat bercinta
di kamar dan tanpa
sepengetahuan kami ternya
Bram mengintip lewat pintu
yang memang kami ceroboh
tidak tertutup sehingga
menyisakan celah yang cukup
untu melihat kami dari
pantulan cermin, sayangnya
karena letih atau terburu-
buru mau pergi Roni orgasme
terlebih dahulu dan aku
dibiarkannya tertahan. Dan
Bram mengetahui hal itu.
Malam itu ketika acara
sangat ramai tiba-tiba Roni
dipanggil oleh atasannya
untuk diperkenalkan oleh
customer. Roni berkata
padaku untuk menunggu
sebentar, sambil menunggu
aku ke lantai 2 untuk melihat
barang2 antik, di lantai 2
ternyata keadaan cukup sepi
hanya 2-3 orang yang
melihat-lihat di ruangan yang
besar itu. Aku sangat
tertarik oleh sebuah cermin
besar di pojokan ruangan,
tanpa takut aku melihat ke
sana dan mengaguminya juga
sekaligus mengagumi
keseksian tubuhku di depan
cermin, tanpa ku sadari di
sampingku sudah berada
Bram .
aEsUdah nanti kacanya pecah
lho..cakep deh..!aEt, canda Bram
aEsAh bisa aja kamu
BramaEt,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan
cermin cukup lama Bram
meminta tolong dipegangkan
gelasnya sehingga kedua
tanganku memegang gelasnya
dan gelasku.
aEsAku bisa membuat kamu
tampak lebih seksiaEt,katanya
sambil langsung memegang
rambutku yang tergerai
dengan sangat lembut. Tanpa
bisa mengelak dia telah
menggulung rambutku
sehingga menampak leherku
yang jenjang dan mulus dan
terus terang aku seperti
terpesona oleh keadaan
diriku yang seperti itu. dan
memang benar aku terlihat
lebih seksi. Dan saat
terpesona itu tiba-tiba
tangan Bram meraba leherku
dan membuatku geli dan detik
berikutnya Bram telah
menempelkan bibirnya di leher
belakangku, daerah yang
paling sensitif buatku
sehingga aku lemas dan masih
dengan memegang gelas Bram
yang telah menyudutkanku di
dinding dan menciumi leherku
dari depan. aEsBram apa yang
kamu lakukan..lepaskan aku
Bram..lepas..!aEt,rontaku tapi
Bram tahu aku tidak akan
berteriak di suasana ini
karena akan mempermalukan
semua orang.
Bram terus menyerangku
dengan kedua tanganku
memegang gelas dia bebas
meraba buah dadaku dari
luar dan terus menciumi
leherku, sambil meronta-
ronta aku merasakan
gairahku meningkat, apalagi
saat tiba-tiba tangan Bram
mulai meraba belahan bawah
gaunku hingga ke
selangkanganku.
aEsBram..hentikan Bram aku
mohon..tolong Bram..jangan
lakukan itu..aEt,rintihku, tapi
Bram terus menyerang dan
jari tengah tangannya sampai
di bibir vaginaku yang
ternyata telah basah karena
serangan itu. Dia menyadari
kalau aku hanya mengenakan
G-string hitam dengan kaitan
di pinggirnya, lalu dengan
sekali sentakan dia
menariknya dan terlepaslah
G-stringku. Aku terpekik
pelan apalagi merasakan ada
benda keras mengganjal
pahaku. Ketika Bram sudah
semakin liar dan akupun tidak
dapat melepaskan, tiba-tiba
terdengar suara Roni
memanggil dari pinggir tangga
yang membuat pegangan
himpitan Bram terlepas, lalu
aku langsung lari sambil
merapikan pakaian ku menuju
Roni yang tidak melihat kami
dan meninggalkan Bram
dengan G-string hitamku. Aku
sungguh terkejut dengan
kejadian itu tapi tanpa
disadari aku merasakan
gairah yang cukup tinggi
merasakan tantangan
melakukan di tempat umum
walau dalam kategori
diperkosa.
Ternyata pesta malam itu
berlangsung hingga larut
malam dan Roni mengatakan
dia harus melakukan meeting
dengan customer dan
atasannya dan dia
memutuskan aku untuk
pulang bersama Bram. Tanpa
bisa menolak akhirnya malam
itu aku diantar Bram,
diperjalanan dia hanya
mengakatakan aEsMaaf
Sinta..kamu sungguh cantik
malam ini.aEt Sepanjang jalan
kami tidak berbicara apapun.
Hingga sampai dirumah aku
langsung masuk ke dalam
kamar dan menelungkupkan
diri di kasur, aku merasakan
hal yang aneh antara malu
aku baru saja mengalami
perkosaan kecil dan perasaan
malu mengakui bahwa aku
terangsang hebat oleh
serangan itu dan masih
menyisakan gairah. Tanpa
sadar ternyata Bram telah
mengunci semua pintu dan
masuk ke dalam kamarku,
aku terkejut ketika
mendengar suaranyaaE?, aEsSinta
aku ingin mengembalikan iniaEtaE~
katanya sambil menyerahkan
G-stringku berdiri dengan
celana pendek saja, dengan
berdiri aku ambil G-stringku
dengan cepat, tapi saat itu
juga Bram telah menyergapku
lagi dan langsung menciumiku
sambil langsung menarik
kaitan gaun malamku, maka
bugilah aku diahadapannya.
Tanpa menunggu banyak
waktu aku langsung
dijatuhkan di tempat tidur
dan dia langsung menindihku.
Aku meronta-ronta sambil
menendang-
nendang?aEtBram..lepaskan aku
Bram..ingat kau teman
suamiku Bram..jangan..ahh..aku
mohonaEt, erangku ditengah
rasa bingung antara nafsu
dan malu, tapi Bram terus
menekan hingga aku
berteriak saat penisnya
menyeruak masuk ke dalam
vaginaku, ternyata dia sudah
siap dengan hanya memakai
celana pendek saja tanpa
celana dalam.
aEsAhhhh?Braam..kau..:aE? Lalu
mulailah dia memompaku dan
lepaslah perlawananku,
akhirnya aku hanya menutup
mata dan menangis
pelan..clok..clok..clok..aku
mendengar suara penisnya
yang besar keluar masuk di
dalam vaginaku yang sudah
sangat basah hingga
memudahkan penisnya
bergerak. Lama sekali dia
memompaku dan aku hanya
terbaring mendengar desah
nafasnya di telingaku, tak
berdaya walau dalam hati
menikmatinya. Sampai kurang
lebih satu jam aku akhirnya
melenguh panjang aEsAhhh?..aEt
ternyata aku orgasme
terlebih dahulu, sungguh aku
sangat malu mengalami
perkosaan yang aku nikmati.
Sepuluh menit kemudian Bram
mempercepat pompaannya
lalu terdengar suara Bram di
telingaku aEsAhhh..hmmfff?aEt aku
merasakan vaginaku penuh
dengan cairan kental dan
hangat sekitar tiga puluh deti
kemudian Bram terkulai di
atasku.
aEsMaaf Sinta aku tak kuasa
menahan nafsuku..aEtbisiknya
pelan lalu berdiri dan
meninggalkanku terbaring dan
menerawang. hinga tertidur
Aku tak tahu jam berapa
Roni pulang hingga pagi
harinya.
Esok paginya di hari sabtu
seperti biasa aku berenang di
kolam renang belakang,, Roni
dan Bram berpamitan untuk
nerangkat ke kantor. Karena
tak ada seorang pun aku
memberanikan diri untuk
berenang tanpa pakaian. Saat
asiknya berenang tanpa
disadari, Bram ternyata
beralasan tidak enak badan
dan kembali pulang, karena
Roni sangat mempercayainya
maka dia izinkan Bram pulang
sendiri. Bram masuk dengan
kunci milik Roni dan melihat
aku sedang berenang tanpa
pakaian. Lalu dia bergerak ke
kolam renag dan melepaskan
seluruh pakaiannya, saat
itulah aku sadari
kedatangannya,
aEsBram..kenapa kau ada di
sini?aEt tanyaku, aEsTenang Sinta
suaimu ada di kantor sedang
sibuk dengan pekerjaannyaaEt,
aku melihat tubuhnya yang
kekar dan penisnya yang
besar mengangguk angguk
saat dia berjalan telanjang
masuk ke dalam kolam
aEsPantas sajaku semalam
vaginaku terasa penuh
sekaliaEtaE~pikirku. Aku buru-buru
berenang menjauh tetai tidak
berani keluar dr dalam kolam
karena tidak mengenakan
pakaian apapun juga. Saat
aku bersandar di pingiran sisi
lain kolam, aku tidak melihat
ada tanda2 Bram di dalam
kolam. Aku mencari ke
sekeliling kolam dan tiba-tiba
aku merasakan vaginaku
hangat sekali, ternyata Bram
ada di bawah air dan sedang
menjilati vaginaku sambil
memegang kedua kakiku
tanpa bisa meronta.
Akhirnya aku hanya bisa
merasakan lidahnya
merayapai seluruh sisi
vaginaku dan memasuki liang
senggamaku..aku hanya
menggigit bibir menahan
gairah yang masih bergelora
dari semalam. Cukup lama dia
mengerjai vaginaku, nafasnya
kuat sekali pikirku. Detik
berikutnya yang aku tahu dia
telah berada di depanku dan
penisnya yang besar telah
meneyruak menggantian
lidahnya? aEsArrgghh..aEt erangku
menahan nikmat yang sudah
seminggu ini tidak tersentuh
oleh Roni. Akhirnya aku
membiarkan dia
memperkosaku kembali
dengan berdiri di dalam kolam
renang. Sekarang aku hanya
memeluknya saja dan
membiarkan dia menjilati buah
dadaku sambil terus
memasukan penisnya keluar
masuk. Bahkan saat dia tarik
aku ke luar kolam aku hanya
menurutinya saja, gila aku
mulai menikamti perkosaan ini,
pikirku, tapi ternyata
gairahku telah menutupi
kenyataan bahwa aku sedang
diperkosa oleh teman
suamiku. Dan di pinggir kolam
dia membaringkanku lalu mulai
menyetubuhi kembai tubuh
mulusku..aEtKau sangat cantik
dan seksi Sinta..ahhaEt bisiknya
ditelingaku.
Aku hanya memejamkan mata
berpura-pura tidak
menikmatinya, padahal kalau
aku jujur aku sangat ingin
memeluk dan menggoyangkan
pantatku mengimbangi
goyangan liarnya. Hanya
suara eranggannya dan suara
penisnya maju mundur di
dalam vaginaku,
clok..clok..clep..dia tahu bahwa
aku sudah berada dalam
kekuasaannya. Beberapa saat
kemudian kembali aku yang
mengalami orgasme diawali
eranganku aEsAhhh..aEt aku
menggigit keras bibirku sambil
memegang keras pinggiran
kolam, aEsNikmati
sayang?aEtdemikian bisiknya
menyadari aku mengalami
orgasme. Sebentar kemudian
Bram lah yang berteriak
panjang, aEsKau hebat
Sinta..aku cinta
kau..AAHHH..HHHaEt dan aku
merasakan semburan kuat di
dalam vaginaku. Gila hebat
sekali dia bisa membuatku
menikmatinya pikirku. Setelah
dia mencabut penisnya yang
masih terasa besar dan
keras, aku reflek
menamparnya dan
memalingkan wajahku darinya.
Aku tak tahu apakah
tamparan itu berarti
kekesalanku padanya atau
karena dia mencabut
penisnya dari vaginaku yang
masih lapar.
Setelah Roni pulang herannya
aku tidak menceritakan
kejadian malam lalu dan pagi
tadi, aku berharap Roni
dapat memberikan kepuasan
padaku. Dengan hanya
menggenakan kimono dengan
tali depan aku dekati Roni
yang masih asik di depan
komputernya di dalam kamar,
lalu aku buka tali kimonoku
dan kugesekan buah dadaku
yang besar itu ke kepalanya
dari belakang, berharap da
berbalik dan menyerangku.
Ternyta yang kudapatkan
adalah bentakannya
aEsSinta..apakah kamu tak bisa
melihat kalau aku sedang
sibuk? Jangan kau ganggu
aku dulu..ini untuk masa
depan kitaaEt teriaknya keras.
Aku yakin Bram juga
mendengar teriakannya. Aku
terkejut dan menangis, lalu
aku keluar kamar dengan
membanting pintu, lalu aku
pergi ke pinggir kolam dan
duduk di sana merenung dan
menahan nafsu. Dari kolam
aku bisa melihat bayangan di
Roni di depan komputer dan
lampu di kamar Bram. Tampak
samar-samar Bram keluar
dari kamar mandi tanpa
sehelai benangpun menutupi
tubuhnya. Karena di luar
gelap tak mungkin dia
melihatku.
Tanpa sadar aku mendekat
ke jendelanya dan
memperhatikan Bram
mengeringkan tubuh. Gila
kekar sekali tubuhnya dan
yang menarik perhatianku
adalah penisnya yang besar
dan tegang mengangguk-
angguk bergoyang sekanan
memanggilku. Aku malu sekali
mengagumi dan
mengaharapkan kembali penis
itu masuk ke dalam vaginaku
yang memang masih haus.
Perlahan aku membelai-belai
vaginaku hingga terasa
basah, akhirnya aku
memutuskan untuk
memintanya pada Bram,
dengan hati yang berdebar
kencang dan nafsu yang
sudah menutupi kesadaran,
aku nekat masuk ke dalam
kamar Bram dan langsung
mengunci pintu dari dalam.
Bram sangat terkejut
aEsSinta..apa yang kamu
lakukan?aEt, aku hanya
menempelkan telunjuk di
bibirku dan memberi isyarat
agar tidak bersuara karena
Roni ada di kamar seberang.
Langsung aku membuka
pakaian tidurku dan
terpampanglah tubuh putih
mulusku tanpa sehelai
benagpun di hadapannya,
Bram hanya terperangah dan
menatap kagum pada
tubuhku. Bram tersenyum
sambil memperlihatkan
penisnya yang semakin
membesar dan tampak
berotot. Dengan segera aku
langsung berlutut di
hadapannya dan mengulum
penisnya, Bram yang masih
terkejut dengan kejadian ini
hanya mendesah perlahan
merasakan penisnya aku
kulum dan hisap dengan
nafsuku yang sudah
memuncak.
Sambil mulutku tetap di dalam
penisnya aku perlahan naik
ke atas tempat tidur dan
menempatkan vaginaku di
mulut Bram yang sudah
terbaring, dia mengerti
maksudku dan langsung saja
lidahnya melahap vaginaku
yang sudah sangat basah,
cukup lama kami dalam posisi
itu, terinat akan Roni yang
bisa saja tiba-tiba datang
aku langsung mengambil
inisiatif untuk merubah posisi
dan perlahan duduk di atas
penisnya yang sudah
mengacung tegang dan besar
panjang. Perlahan aku
arahkan dan masukan ke
dalam lubang vaginaku,
rasanya berbeda dengan saat
aku diperkosanya, perlahan
tapi pasti aku merasaskan
suatu sensasi yang amat
besar sampai akhirnya
keseluruhan batang penis
Bram masuk ke dalam
vaginaku aEsAhh..sssfff..Braaam!aEt
erangku perlahan menahan
suara gairahku agar tidak
terdengar, aku merasakan
seluruh penisnya memenuhi
vaginaku dan menyentuh
rahimku. Sungguh suatu
sensasi yang tak
terbayangkan, dan sensasi itu
semakin bertambah saat aku
mulai menggoyangkan
pantatku naik turun
sementara tangan Bram
dengan puasnya terus
memainkan kedua buah
dadaku memuntir-muntir
putingku hingga berwarna
kemerahan dan keras
aEsahh..ahh..aEt demikian erangan
kami perlahan mengiringi
suara penisnya yan keluar
masuk vaginaku
clok..clok..clok? Tak tahan
dengan nafsunya mendadak
Bram duduk dan mengulum
buah dadaku dengan
rakusnya bergantian kiri
kanan bergerak ke leher dan
terus lagi. Aku sungguh tak
dapat menahan gairah yang
selama ini terpendam.
Mungkin karena nafsu yang
sudah sangat tertahan atau
takut Roni mendengar tak
kuasa aku melepaskan puncak
gairahku yang pertama sambil
mendekap erat Bram dan
menggigit pundaknya agar
tidak bersuara, kudekap erta
Bram seakan tak dapat
dilepaskan mengiringi puncak
orgasmeku. Bram merasakan
penisnya disiram cairan
hangat dan tahu bahwa aku
mengalami orgasme dan
membiarkanku mendekapnya
sangat erat sambil memelukku
dengan belaian hangatnya.
Selesai aku orgasme sekiat
30 detik, Bram membalikan
aku dengan penisnya masih
tertancap di dalam vaginaku.
Bram mulai mencumbuku
dengan menjilati leher dan
putingku perlahan, entah
mengapa aku kembali
bernafsu dan membalas
ciumannya denga mesra, lidah
kami saling berpagutan dan
Bram merasakan penisnya
kembali dapat keluar masuk
dengan mudah karena
vaginaku sudah kembali basah
dan siap menerima serangan
berikutnya. Dan Bram
langsung memompa penisnya
dengan semangat dan cepat
membuat tubuhku bergoyang
dan buah dadaku bergerak
naik turun dan sungguh
suara yang timbul antara
erangan kami berdua yang
tertahan derit tempat tidur
dan suara penisnya keluar
masuk di vaginaku kembali
membakar gairahku dan aku
bergerak menaik turunkan
pantatku untuk mengimbangi
Bram.
Dan benar saja 10 menit
kemudian aku sampai pada
puncak orgasme yang kedua,
dengan meletakan kedua
kakiku dan menekan keras
pantatnya hingga penisnya
menyentuh rahimku. Kupeluk
Bram dengan erat yang
membiarkan aku menikmati
deburan ombak kenikmatan
yang menyerangku berkali-
kali bersamaan keluarnya
cairanku. Kugigit bibirku agar
tidak mengeluarkan suara,
cukup lama aku dalam
keadaan ini dan anehnya
setelah selesai aku berada
dalam puncak ternyata aku
sudah kembali mengimbangi
gerakan Bram dengan menaik
turunkan pantatku. Saat
itulah kudengar pintu
kamarku terbuka dan detik
berikutnya pintu kamar Bram
diketuk Roni, aEsBram..kau
sudah tidur?aEt, demikian ketuk
Roni. Langsung saja Bram
melepaskan pelukannya dan
menyuruhku bersembunyi di
kamar mandi. Sempat
menyambar pakaian tidurku
yang tergeletak di lantai aku
langsung lari ke kamar mandi
dan mengunci dari luar.
Sungguh hatiku berdebar
dengan kerasnya
membayangkan apa jadinya
jika aku ketahuan suamiku.
Bram dengan santai dan
masih bertelanjang membuka
pintu dan mengajak Roni
masuk, Roni sempat terkejut
melihat Bram
telanjang,aEtSedang apa kamu
BramaEt tanpa curiga dengan
tempat tidur yang
berantakan yang kalau
diperhatikan dari dekat ada
cairan kenikmatanku. Bram
hanya tersenyum dan
mengatakan,aEtMau tau aja..aEt
Dasar Roni dia langsung
membicarakan suatu hal
pekerjaan dan mereka
terlibat pembicaraan itu.
Kurang lebih sepuluh menit
mereka berbicara dan sepuluh
menit juga hatiku sungguh
berdebar-debar tapi anehnya
dengan keadaan ini nafsuku
sungguh semakin menjadi-jadi.
Setelah Roni keluar, Bram
kembali mengunci pintu kamar
dan mengetuk kamar mandi
perlahan,aEtSinta buka
pintunya..sudah amanaEt. Begitu
aku buka pintunya Bram
langsung menarik aku dan
mendudukanku di meja dekat
kamar mandi, langsung saja
dibukanya kedua kakiku dan
bless penisnya kembali
memenuhi vaginaku
aEsAhhh..ahh..aEt erangan kami
berdua kembali terdengar
perlahan sambil terus
menggoyangkan pantatnya
maju mundur Bram melahap
buah dadaku dan putingku.
Sepuluh menit berlalu dan
goyang Bram semakin cepat
sehingga aku tahu dia akan
mencapai puncaknya, dan
akupun merasakan hal yang
sama aEsBraaam lebih cepat
sayang aku sudah hampir
keluar..aEt desahku aEsTahan
sayang kita bersamaan
keluarnyaaEt, dan benar saja
saat kurasakan maninya
menyembur deras dalam
vaginaku aku mengalami
orgasme yang ketiga dan
lebih hebat dari yang
pertama dan kedua, kami
saling berpelukan erat dan
menikmati puncak gairah itu
bersamaan. aEsBraaammm..,aEt
desahku tertahan. aEsAhhh
Sinta..kau hebat..aEt demikian
katanya. Akhirnya kami saling
berpelukan lemas berdua,
sungguh suatu pertempuran
yang sangat melelahkan. Saat
kulirik jam ternyata sudah
dua jam kami bergumul.
aEsTerima kasih Bram..kau
hebat..aEt kataku dengan
kecupan mesra dan langsung
memakai pakaian tidurku
kembali dan kembali ke
kamarku. Roni tidak curiga
sama sekali dan tetap
berkutat dengan
komputernya dan tidak
menghiraukanku yang
langsung berbaring tanpa
melepas pakaianku seperti
biasanya karena aku tahu
ada bekas ciuman Bram di
sekujur buah dadaku. Malam
itu aku merasa sangat
bersalah pada Roni tapi di lain
sisi aku merasa sangat puas
dan tidur dengan
nyenyaknya.
Esoknya seperti biasa di hari
Minggu aku dan Roni
berenang di pagi hari tetapi
mengingat adanya Bram, kami
yang biasanya berenang
bertelanjang akhirnya
memutuskan memakai pakaian
renag, aku syukuri karena
hal ini dapat menutupi buah
dadaku yang masih memar
karena gigitan Bram. Saat
kami berenang aku menyadari
bahwa Bram sedang menatap
kami dari kamarnya. Dan saat
Roni sedang asyik berenang
kulihat Bram memanggilku
dengan tangannya dan yang
membuat aku terkejut dia
menunjukan penisnya yang
sudah mengacung besar dan
tegang. Seperti di hipnotis
aku nekat berjalan ke
dalam.aEtRon aku mau ke dalam
ambil makanan ya..!aEt kataku
pada Roni, dia hanya
mengiyakan sambil terus
berenang, Roni memang
sangat hobi berenang bisa 2
jam nonstop tanpa berhenti.
Aku dengan tergesa masuk
ke dalam dan menuju kamar
Bram. Di sana Bram sudah
menunggu dan tak sabar dia
melucuti pakain renangku
yang memang hanya
menggunakan tali sebagai
pengikatnya. aEsGila kamu
Bram..bisa ketahuan Roni lho,aEt
protesku tanpa perlawanan
karena aku sendiri sangat
bergairah oleh tantangan ini.
dan dengan kasar dia
menciumi punggungku sambil
meremas buah dadaku aEsTapi
kamu menikmatinya khan?!,aEt
goda Bram sambil mencium
leher belakangku. Dan aku
hanya mendesah menahan
nikmat dan tantangan ini.
Yang lebih gila Bram
menarikku ke jendela dan
masih dari belakang dia
meremas-remas buah dadaku
dan meciumi punggung hingga
pantatku, aEsGila kau Bram,
Roni bisa melihat kita,aEt tapi
anehnya aku tidak berontak
sama sekali dan
memperhatikan Roni yang
benar-benar sangat
menikamti renangnya. Di
kamar Bram pun aku sangat
menikmati sentuhan Bram.
aEsSinta kamu suka ini khan?aEt
tanyanya sambil dengan
keras menusukan penisnya ke
dalam vaginaku dari belakang.
aEsAHH..Bram..aEt teriakku kaget
dan nikmat, sekarang aku
berani bersuara lebih kencang
karena tahu Roni tidak akan
mendengarnya. Langsung saja
Bram memaju mundurkan
penisnya di vaginaku..aEtAhh..
Bram lebih kencang..fuck me
Bram..puaskan aku
Bram..penismu sungguh luar
biasa..Bram aku sayang
kamu..aEt teriakku tak keruan
dengan masih memperhatikan
Roni.
Bram mengimbangi dengan
gerakan yang liar hingga
vaginaku terasa lebih dalam
lagi tersentuh penisnya
dengan posisi
ini,aEtSinta..khhaau hhebat..aEt
desahnya sambil terus
menekanku, kalau saja Roni
melihat sejenak ke kamar
Bram maka dia akn sangat
terkejut meilhat
pemandangan ini, istrinya
sedang bercinta dengan
rekan kerjanya. Ternyata
kami memang bisa saling
mengimbangi, kali ini dalam
waktu 20 menit kami sudah
mencapai puncak secara
bersamaan aEsTeruuus Bram
lebih khheeenncang..ahhhh
aku keluar BraaaaamaEt,
teriaku. aEsAaakuu juga
Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali
mmmeemeekmu..aahhhhh.aEt
teriaknya bersamaan dengan
puncak kenikmatan yang
datang bersamaan. Setelah
itu aku langsung mencium
bibirnya dan kembali
mengenakan pakaian
renangku dan kembali
berenang bersama Roni yang
tidak menyadari kejadian itu.
Setelah itu hari-hari
berikutnya sungguh
mendatangkan gairah baru
dalam hidupku dengan
tantangan bercinta bersama
Bram. Pernah suatu saat
ketika akhirnya Roni mau
bercinta denganku di suatu
malam hingga akhirnya dia
tertidur kelelahan, aku
hendak mengambil susu di
dapur dan karena sudah
larut malam aku nekat tidak
mengenakan pakaian apapun.
Saat aku membungkuk di
depan lemari es sekelebat ku
lihat bayangan di belakangku
sebelum aku menyadari Bram
sudah di belakangku dan
langsung menubruku dari
belakang. Penisnya langsung
menusuk vaginaku yang
membuatku hanya tersedak
dan menahan nikmat tiba-tiba
ini. Kami bergumul di lantai
dapur lalu dia mengambil kursi
dan duduk di atasnya sambil
memangku aku, aEsBram kamu
nakalaEt desahku yang juga
menikmatinya dan kami
bercinta hingga hampir pagi di
dapur. Sungguh bersama
Bram kudapatkan gairah
terpendamku selama ini.
Akhirnya ketika proyek
kantor Roni selesai Bram
harus pergi dari rumah kami
dan malam sebelum pergi aku
dan Bram menyempatkan
bercinta kembali.