PDA

View Full Version : Mantera Pengasihan


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Tok tok tok tok tok..
terdengar suara kentongan
bakso yang dipukul dengan
nada khas. Panjang sekali,
pendek tiga kali dan diakhiri
ketukan panjang satu kali.
Semua orang di desa itu
sudah hafal bunyi kentongan
bakso seperti itu.
Fit.. itu.. Bang Pajang sudah
datang, katanya mau beli
bakso..aEt kata seorang wanita
muda pada temannya yang
juga masih muda. Gadis yang
disapa Fit? tadi melongokkan
kepalanya , nama lengkapnya
Nurfitriana. Sering disapa
dengan sebutan Fitri. Usianya
baru menginjak 20 tahun.
Wajahnya cantik sekali
dengan kulit putih bersih,
wajahnya bulat dengan
hidung mancung bermata
hitam bening berkilat-kilat.
Orang akan menyangka Fitri
adalah seorang bintang
sinetron kalau belum tahu.
Rambutnya hitam legam
sepunggung, dibiarkannya
selalu tergerai, senantiasa
melompat ke kiri dan ke
kanan jika Fitri berjalan. Tidak
heran kalau Fitri berada di
dekat temannya, dia akan
menjadi sangat menonjol,
apalagi dengan temannya
yang sekarang bersamanya,
sangat jauh bedanya. Yang
satu putih, yang satu agak
hitam, yang satu cantik, yang
satu tidak menarik.
Untungnya Fitri bukan tipe
gadis yang sombong dan pilih-
pilih teman, mungkin itu yang
membuatnya disukai di antara
teman-temannya.
Mana sih? Fitri melongok ke
arah suara kentongan. Dia
berlari kecil ke luar pagar
Asramanya. Fitri memang
tinggal di Asrama. Sekolahnya
mengharuskan itu. Kebetulan
Fitri sekolah di Sekolah
Perawat Kesehatan di
Tasikmalaya. Orang paling
senang melihat Fitri memakai
seragam perawatnya yang
serba putih, itu membuat
tubuhnya jadi terlihat makin
putih.
Itu, di ujung jalan,
temannya yang menyusul di
belakang menjawab sambil
menunjuk. Sebuah gerobak
bakso kecil berwarna biru
kusam berjalan mendekat dari
arah ujung jalan dan makin-
lama makin mendekat. Tukang
baksonya bernama Pajang,
orangnya sudah berumur
sekitar 40 sampai 50 an,
rambutnya sudah memutih
sebagian, sementara kumis
dan janggutnya yang juga
memutih terlihat tidak
terawat, kalau saja dia tidak
berdagang bakso, orang
mungkin akan mengira dia
orang gila kerena suka
tersenyum-senyum sendiri.
Eh, Non Fitri, Pajang
mengembangkan senyumnya
saat bertemu dengan Fitri,
sebaris gigi kuning kehitaman
terlihat berbaris di balik
bibirnya yang tebal, wajahnya
yang kotor tidak terawat
berusaha tersenyum, tapi
yang ada justru sebuah
seringai mengerikan.
Eh.. iya Bang.. Fitri berusaha
ramah dan membalas senyum
Pajang.
Yang biasa Non? tanya
Pajang dengan nada aneh,
seperti ramah yang
dipaksakan. Dengan gerakan
terburu-buru Pajang
menyiapkan Bakso yang
dipesan.
Kok nggak kuliah Non?
tanya Pajang di tengah
kesibukannya. Memang lagi
libur ya?
Eh.. Fitri terkaget sesaat.
Dalam pikirannya dari mana
Pajang tahu kesibukannya.
Iya Bang, lagi libur. Besok
baru masuk lagi.
Biasanya Non kalau libur kan
jalan-jalan, sama siapa.. yang
sering ke sini pakai motor RX
King itu..? Pajang bertanya
lagi. Fitri teringat ke Ivan,
pemuda yang sering
mengunjunginya, meskipun
bukan pacarnya, tapi Fitri
memang suka pada Ivan.
Memangnya Abang kenal
dia? tanya Fitri sambil
tersenyum.
Ya.. dia kan juga sering beli
bakso saya Non.. Pajang
menjawab canggung. Kemudian
menyerahkan semanguk
bakso yang mengepulkan uap
panas ke tangan Fitri, tanpa
sengaja, tangannya
menyentuh tangan Fitri yang
halus. Sesaat entah kenapa
badan Pajang meremang, dia
belum pernah merasakan
kelembutan tangan gadis
secantik Fitri. Kaget kerana
ada yang meraba tangannya,
secara refleks Fitri menarik
tangannya membuat
pegangannya pada mangkuk
bakso goyah, sebagian kuah
bakso yang panas tumpah
menyiram tangan Pajang,
membuatnya meringis
kesakitan sambil mengibas-
ngibaskan tangannya.
aEsAduh, maaf Bang, sa.. saya
tidak sengaja..aEt Fitri gugup
setengah mati, kekagetannya
saat tangannya diraba oleh
Pajang sekarang berubah
menjadi kepanikan kecil.
Dengan spontan karena naluri
sebagai perawat, Fitri
langsung menyerahkan
mangkuk baksonya pada
temannya, dia lalu
mengeluarkan sapu tangan
dari saku bajunya, dengan
cekatan Fitri mengelap
tangan Pajang yang tersiram
kuah panas.
aEsNggak apa-apa..aEt kata Fitri,
rasa paniknya berkurang
dengan sendirinya melihat
tangan Pajang tidak terluka
atau melepuh. Semula Fitri
takut Pajang akan marah,
tapi ternyata tidak, Pajang
hanya diam saja, bahkan
tidak berkata apa-apa
sampai Fitri selesai makan
bakso.
Bagi Fitri, kejadian itu dengan
mudah bisa dilupakannya, tapi
tidak bagi Pajang. Kejadian itu
sangat membekas di hatinya.
Selama berhari-hari wajah
Fitri selalu berada di dalam
pikiran Pajang, seolah menari-
nari di depan matanya. Dan
perlahan-lahan segala pikiran
itu berkembang menjadi
sebuah perasaan aneh dalam
diri Pajang. Perasaan yang
menyimpang yang
membuatnya ingin memiliki
Fitri. Dan perasaan itu
berkembang bagaikan
makhluk buas yang mencabik-
cabik dirinya dari dalam,
membuatnya lupa pada
keadaan dirinya, membuatnya
lupa pada istri dan empat
anaknya yang ditinggal di
kota asalnya. Dan bila sudah
tidak bisa lagi menahan
hasratnya pada Fitri, dia
melampiaskannya dengan
beronani sambil
membayangkan dirinya sedang
menyetubuhi Fitri. Tapi Pajang
selalu bersikap biasa jika
bertemu dengan Fitri, dan
Fitripun selalu bersikap ramah
padanya. Hal ini yang
membuat keinginan Pajang
untuk memiliki Fitri makin
kuat. Pajang sudah salah
mengartikan keramahan dan
kebaikan Fitri.
Keinginan menyimpang dari
dalam diri Pajang itu
membuatnya malu setiap kali
bertemu Fitri, bagaimanapun
dia sadar dirinya terlalu jauh
jika dibandingkan dengan Fitri.
Fitri seorang gadis yang
sangat cantik dan masih
sangat belia, sementara
dirinya sudah tua dan
berwajah jelek. Tapi keinginan
itu sangat kuat menyerang
dirinya, cukup kuat untuk
mendesaknya melakukan
perbuatan terkutuk, dia
berusaha mengguna-gunai
Fitri. Dan didorong oleh
keinginan yang menggebu-
gebu itulah maka Pajang
memberanikan diri pergi
menemui dukun yang selama
ini dia percayai. Pajang
memang sering berkunjung ke
dukun itu, terutama jika
berhubungan dengan
penglarisan dagangan
baksonya.
Rumah dukun itu terpencil di
pinggiran kota, dikelilingi oleh
hutan yang cukup lebat.
Butuh waktu satu jam jalan
kaki jika ingin bertemu dukun
itu karena rumahnya tidak
bisa dijangkau oleh
kendaraan. Rumah itu sendiri
tidak seberapa besar, bahkan
bisa dibilang kecil. Sebuah
rumah kayu berkesan kumuh
dan hampir rusak. Kayu-
kayunya sudah usang dan
dimakan rayap, semantara
sebagian gentingnya juga
sudah pecah, ditambal oleh
potongan asbes gelombang.
Begitu masuk ke rumah itu,
perasaan yang muncul adalah
keseraman yang luar biasa.
Dinding rumah yang tidak
seberapa itu dipenuhi oleh
tengkorak-tengkorak
binatang, bahkan Pajang
melihat ada beberapa
tengkorak manusia terselip di
sela-selanya. Keseraman
makin terasa saat masuk ke
ruangan dukun yang
didominasi warna hitam.
Ruangan tanpa jendela itu
dipenuhi asap kemenyan yang
membuat siapapun yang masih
waras akan mabuk mencium
baunya. Pajang melihat dukun
itu duduk menghadapi sebuah
meja pendek yang dipenuhi
oleh sesaji, dupa dan benda-
benda logam yang
kemungkinan adalah jimat
sementara di dinding sebelah
kanan dan kirinya terdapat
rak-rak kayu berisi puluhan
kuali dan botol botol porselen
yang ditutup kain berwarna
merah.
aEsKembali lagi rupanya,aEt dukun
itu berujar dengan suara
berat. Dia memakai semacam
jubah berwarna hitam yang
terkesan kedodoran.
Rambutnya gondrong
menjela-jela di antara
bahunya. Kumis dan
jenggotnya yang sebagian
sudah memutih dibiarkan
memanjang dan tidak
terawat. Matanya nanar
menatap Pajang yang
berlutut ketakutan, bagian
bawah matanya yang
mengantung dan keriput
berkedut-kedut saat
menatap Pajang. Wajahnya
yang tua terkesan seram
ditimpa nyala lampu minyak di
dekatnya, satu-satunya
penerangan yang ada di situ.
aEsI.. iya.. Mbah..aEt Pajang
menjawab gemetar, badannya
seolah menciut seukuran
botol saat mata si dukun
menatapnya dengan tajam.
aEsIni bukan urusan jualanmu
kan?aEt si dukun menebak jitu,
membuat Pajang mengangguk
penuh takzim,mengagumi
kehebatannya.
aEsUrusan apa? Apa kamu tidak
malu datang ke sini lagi?
Yang dulu saja kamu belum
bisa membayar, kan?aEt si
dukun bertanya ketus. Pajang
merasa mengerut lagi. Urusan
penglarisannya yang dulu
memang belum dia bayar
karena tidak mampu, tapi kali
ini Pajang sudah
merencanakan sesuatu.
aEsSaya pasti akan bayar
Mbah..aEt Pajang terbata-bata.
aEsTapi saya tidak membayar
dengan uang.aEt
aEsLalu dengan apa?aEt suara si
dukun menggedor jantung
Pajang, membuatnya pucat
ketakutan. Pajang merogoh
saku bajunya dengan
gemetar dan menyerahkan
sesuatu pada si dukun. Si
dukun menerima pemberian
Pajang lalu diamatinya
sebentar.
aEsKamu mau membayarku
dengan dia?aEt tanya si dukun,
tapi kali ini suaranya melunak.
Dikembalikannya pemberian
Pajang, Pajang mengamatinya
sejenak. Ternyata itu adalah
foto Fitri yang sedang
tersenyum manis sekali. Foto
itu dicurinya dari dompet Fitri
saat tertinggal di
gerobaknya.
aEsJadi kamu mau mengguna-
gunai dia ..?aEt si dukun
menebak lagi. Pajang
mengangguk, sekali lagi
dengan penuh ketakziman. Si
dukun kemudian menanyakan
tanggal dan hari kelahiran
Fitri, Pajang langsung
menyebutnya dengan lancar
karena Pajang juga pernah
melihat KTP Fitri. Si dukun
mengangguk-angguk sesaat,
lalu dia mulai merapal
mantra-mantra sambil
menghitung-hitung sesuatu
dengan jari-jari tangannya.
aEsSulit Pajang..aEt si dukun
berujar setelah diam
beberapa lama. Ajang terlihat
kecewa.
aEsTapi jika kamu berhasil,
maka dia akan menjadi
milikmu selamanya.aEt Si dukun
melanjutkan, membuat Pajang
kembali lega. aEsTapi syaratnya
sangat sulit.aEt
aEsSaya akan kerjakan Mbah,
sesulit apapun akan saya
kerjakan.aEt Pajang berujar
mantap.
aEsSyaratnya, pertama kamu
harus puasa mutih tujuh hari
tujuh malam tanpa putus
dimulai pada hari dan weton
kelahirannya, lalu kamu
berikan ini padanya.aEt Si dukun
cabul itu memberi Pajang
semacam cairan yang dikemas
dalam botol kecil berwarna
hijau.
aEsU.. untuk apa Mbah..?aEt
Pajang merasa bingung.
aEsItu ramuan pemikat, tolol,aEt si
dukun membentak. aEsKamu
pikir cukup hanya mantra dan
jampi-jampi saja? Pastikan dia
meminum cairan itu dan
bukan orang lain, kalau tidak,
risikonya kamu tanggung
sendiri.aEt
Pajang mengangguk mengerti.
Hatinya terasa lebih riang
sehingga seolah dia bisa
mengambang satu setengah
meter di udara saat berjalan
pulang. Otaknya segera penuh
dengan rencana. Dan pada
satu kesempatan, ketika Fitri
membeli bakso darinya Pajang
dengan gesit memasukkan
cairan ramuan pemikat dari
dukun ke dalam mangkuk
bakso Fitri, dan dengan
harap-harap cemas Pajang
melihat bagaimana Fitri
dengan lahap menghabiskan
baksonya.
Pajangpun melakukan ritual
yang diperintahkan si dukun.
Dan tepat pada malam yang
ditentukan, Pajang mulai
melancarkan mantra
pengasihan yang didapatnya.
Sambil membakar kemenyan,
Pajang mulai membayangkan
wajah Fitri. Dengan mulut
berkomat-kamit dia
memanggil nama Fiti sambil
terus melancarkan mantra
pengasihannya. Di tempat lain,
Fitri yang sedang tidur
mendadak menjadi gelisah,
hawa di sekitarnya seolah
bertambah panas mambuat
sekujur badannya
berkeringat. Nafasnya
perlahan-lahan memburu dan
terengah-engah. Di dalam
tubuhnya seolah meledak
sebuah dorongan aneh yang
membuat nafsu birahinya
meledak, seperti ada binatang
buas yang mencabik-cabik
tubuhnya dari dalam. Dalam
tidurnya, Fitri bermimpi seolah
dirinya sedang bercumbu
dengan Pajang. Fitri tidak
tahan melawan dorongan
birahi gaib itu, dia akhirnya
melepas semua pakaiannya
sehingga dia terbaring
telanjang bulat di ranjang.
Fitri lalu mulai meremas-remas
payudaranya sedniri dengan
ganas sambil merintih-rintih
penuh kenikmatan sambil
sesekali memencet puting
susunya sendiri, tangannya
kemudian beralih ke
selangkangannya dan
mengelus-elus gundukan
vaginanya sambil sesekali jari-
jarinya mengaduk-aduk liang
vaginanya. Persetubuhan gaib
antara Fitri dan Pajang
berakhir setelah Fitri
mengalami orgasme, Fitri
mengejang sambil merintih
penuh kenikmatan, dari
vaginanya mengucur cairan
kewanitaan sampai akhirnya
tubuhnya kembali melemas
dan terbaring terengah-
engah di ranjang bersimbah
keringat. Di tempat lain
Pajangpun merasakan
kenikmatan yang sama dan
akhirnya berejakulasi dengan
menyemprotkan spermanya.
Sejak malam itu, perhatian
Fitri terhadap Pajang berubah
sama sekali. Fitri mulai
terang-terangan
memperlihatkan kesukaannya
pada Pajang, Fitri bahkan
berani menanyakan rumah
Pajang dan berjanji akan
mengunjunginya. Beberapa
malam terakhir Fitri selalu
memimpikan hal yang sama
yaitu melakukan
persetubuhan dengan Pajang.
Hal itu yang kemudian
membuat Fitri terus-menerus
terbayang-bayangi oleh
Pajang. Di mata Fitri sekarang
Pajang bukan lagi pria tua
buruk rupa tapi sudah
menjelma bak pangeran dalam
dongeng. Di mata Fitri
sekarang Pajang adalah
seorang pemuda gagah dan
tampan yang senantiasa
menggoda matanya, pengaruh
mantra pengasihan yang
diberikan si dukun benar-
benar merasuki jiwa Fitri.
Sementara Pajang sendiri tiap
malam selalu melancarkan
mantra pengasihannya pada
Fitri untuk melakukan
persetubuhan gaibnya dengan
Fitri, Pajangpun selalu
menunggu kapan dirinya bisa
benar-benar menikmati tubuh
Fitri. Dan akhirnya saat
itupun datang juga.
Sore itu, malam Minggu tiba-
tiba terdengar suara ketukan
di pintu kontrakan Pajang.
Dengan tergesa-gesa Pajang
membuka pintunya. Betapa
kaget dan gembiranya dia
ketika melihat bidadari yang
selama ini diimpikannya
sekarang berdiri di depan
pintu rumahnya.
aEsEh.. Dik Fitri..aEt Pajang
tersenyum antara gembira
dan bingung. Dengan
canggung Pajang
mempersilakan Fitri masuk.
Fitri dengan gerakan
canggung mengikuti saja
ajakan Pajang. Pajang merasa
mendapat kesempatan dan
hal ini tidak disia-siakannya.
Setelah ganti baju, Pajang
mengajaknya ngobrol tentang
segala hal yang isa
diobrolkan.
aEsDik Fitri cantik banget ya
hari iniaEt kata Pajang memuji.
aEsAh, Bang Pajang bisa aja,aEt
kata Fitri sambil tersipu malu.
aEsEh beneran lho... kamu cantik
banget.. kamu mau nggak jadi
pacar Abang,aEt ujar Pajang
dengan lugu dan spontan.
Semula Fitri hanya diam
mendengar pertanyaan itu,
saat itu Pajang mulai
melancarkan mantra
pengasihannya pada Fitri, dan
Fitri akhirnya mengangguk.
Melihat hal itu, Pajang bagai
mendapat durian runtuh,
seketika dia langsung
memegang tangan Fitri, Fitri
tidak menunjukkan
perlawanan apa-apa karena
sudah terpengaruh oleh
mantra pengasihan Pajang.
Lalu karena mendapat angin,
Pajang mulai berani mencium
bibir Fitri yang merah
merekah itu. Dengan gerakna
kasar dan rakus, Pajang
melumat bibir Fitri penuh
nafsu. Perlahan lidah Pajang
mulai bergeliat di dalam mulut
Fitri. Awalnya Fitri tidak
merespon, tapi akhirnya
lidahnya pun akhirnya
membalas serangan-serangan
lidah Pajang di dalam
mulutnya secara serasi.
Pajang melumat bibir Fitri
yang tipis dan merah itu
kira-kira hampir 5 menit
dengan penuh gairah. Baru
pertama kali inilah Pajang
merasakan kenikmatan ciuman
wanita yang menggairahkan
yang tidak pernah didapatnya
dari istrinya.
aEsDik..., kita pindah aja yuk!
jangan disini, nggak leluasa,aEt
kata Pajang seakan-akan dia
ingin mengajak Fitri
melakukan hal lain selain
berciuman.
aEsPindah kemana?aEt kata Fitri.
Kita ke dalam aja,aEt jawab
Pajang sambil menggandeng
tangan Fitri. Dia kemudian
mengunci pintu kontrakannya
dan menggandeng Fitri masuk
ke sebelah dalam. Di situ
terdapat ranjang rendah
berlapis kasur busa usang
dengan kain seprai yang
sama usangnya. Pikiran
Pajang mulai tidak karuan
bercampur nafsu ketika
melihat Fitri tidak bereaksi
apa-apa saat diajak ke dalam
kamarnya.
Sesampainya kami di kamar,
adegan kami berciuman
kembali terulang, tak hanya
itu, sewaktu mereka
berciuman kedua tangan
Pajangpun beraksi terhadap
tubuh Fitri, awalnya Pajang
hanya meraba tubuhnya, tapi
akhirnya Pajang mulai
meremas-remas payudara
Fitri yang masih terbalut
pakaian.
"..Ohh.. Fitri sudah lama aku
tidak bergaul dengan wanita
secantik dirimu..aEt Pajang mulai
meracau di tengah gejolak
seksualnya yang kian
menggebu. aEsseandainya kau
bersedia, ingin rasanya aku
menyetubuhimu... akan
kuberikan kepuasan yang kau
dambakan.."
Fitri yang sudah dirasuki
matra pengasihan hanya bisa
mengangguk pasrah, apalagi
Pajang juga dengan buas
terus-menerus menciumi dan
mencumbui Fitri membuat
dorongan birahi dalam diri
Fitri ikut meledak, nafsu
birahinya semakin menjadi
jadi. Vaginanya berdenyut-
denyut menahan dorongan
seksualnya yang menggebu.
Satu-satunya keinginannya
sekarang adalah bagaimana
bisa memuaskan hasrat
seksualnya. Tanpa sadar Fitri
mulai melepaskan bajunya
satu-persatu bahkan
sekaligus melepaskan BH dan
celana dalamnya tanpa
diminta.
Dengan tubuh bugil putih
mulus sungguh sangat sexy
Fitri menaiki tempat tidur
sambil mengangkat pantatnya
yang sexy buah dadanya
yang membusung ikut
bergoyang, lalu dengan
perlahan ia membuka kedua
pahanya sehingga kelihatan
vaginanya yang juga
membusung, bibirnya terbelah
merekah kemerah-merahan
diantara bulu bulu
kemaluannya yang halus dan
sudah kelihatan basah berair.
Pajang meneguk ludah
mengagumi keindahan dan
kemulusan tubuh Fitri yang
begitu putih bak pualam.
Tanpa pikir panjang lagi
Pajang juga membuka
pakaiannya sampai bugil.
Perlahan Pajang mulai
meremas kedua belah
payudara Fitri yang terasa
begitu lembut di tangannya.
Fitri mengejang pelan saat
payudaranya disentuh pria
untuk pertama kali. Nafsu
seksualnya langsung meledak
dahsyat. Pajang memicingkan
sebelah matanya benar benar
tak percaya apa yang
dilihatnya, lekuk lekuk tubuh
Fitri yang begitu sempurna
telanjang bulat bulat
terpampang dihadapannya lalu
dengan kata kata bergetar
ia meneruskan celotehannya
"..Ohh akhirnya kau datang
Sayangku.. pahamu sungguh
mulus.." Pajang menaruh
kedua tangannya di paha Fitri
sambil mengelusnya. Fitri
bergetar hebat, sentuhan
tangannya kembali
menggetarkan birahinya. Fitri
terangsang begitu hebat oleh
sentuhan tangan Pajang yang
mengelus ngelus pangkal
pahanya menyentuh pinggiran
vaginanya,
".. sshh.. mmhh.. oogghhss..!!
Bagaikan diguyur air hangat
Fitri mendesah panjang,
tubuhnya terasa dialiri jutaan
volt, kenikmatan napsu
birahinya makin terangsang
hebat. Lalu perlahan Pajang
mulai menelentangkan tubuh
mulus Fitri di atas rangang
dan mengatur posisi kaki Fitri
mengangkang begitu rupa
sehingga vaginanya terkuak.
Pajang lalu mendekatkan
penisnya ke bibir vagina Fitri
lalu mulai menekan kepala
penis yang sudah pas berada
di posisi mulut lubang vagina
itu. Tampak kepala penis
Pajang masih agak sulit
masuk kedalam lubang vagina
Fitri yang walaupun sudah
basah dan berair itu karena
belum pernah kemasukan
penis sekalipun.
Perlahan-lahan Pajang mulai
menekan batang penisnya
sehingga sedikit demi sedikit
berhasil menyusup ke dalam
vagina Fitri yang terasa
sekali masih sempit walaupun
sudah begitu basah.
".. Aaakkhh.. sshh..! sempit
sekalii..!!" Pajang menggumam
sendiri sambil menggelengkan
kepalanya. "..Oohh Fitri sempit
sekali vaginamu..aEt
Pajang sudah tidak sanggup
lagi untuk bertahan, kepala
penisnya yang sudah terjepit
diantara bibir vaginanya
ditambah tubuh Fitri yang
begitu menggiurkan mana
mungkin ia bisa
mempertahankannya. Lalu
Pajang membuka matanya
sambil memandang mata Fitri
dengan penuh pengharapan.
Fitri kaget bukan kepalang
tubuhnya terasa lemas, rasa
malu menyelubungi seluruh
pikirannya tidak satupun kata
yang bisa meluncur dari
mulutnya. Melihat keadaan
tidak begitu menunjang
Pajang langsung mengambil
inisiatif. Pajang langsung
mencium bibir Fitri dengan
mesra dan tanpa menunggu
perintah lagi Pajang mulai
menggerakkan pinggulnya
meneruskan aktivitasnya
yang tadi sempat berhenti.
Pajang tersenyum puas lalu
dengan sekali sentakan
mendorong pantatnya keatas,
tampak Fitri agak tersentak
dan mengerang ketika batang
penisnya menyeruak masuk
lebih dalam vaginanya.
Mata Fitri terbeliak dengan
mulut terbuka sambil kedua
tangannya mencengkeram
sprei dengan kuat-kuat. Tak
menyangka sedikitpun begitu
besar batang kemaluan
Pajang menerobos liang
vaginanya yang belum siap
menerima ukuran sedemikian
besar. Tampak bibir vaginanya
sampai terkuak lebar seperti
terkelupas seakan-akan tidak
muat untuk menelan
besarnya kemaluannya.
".. Ooukkhhss.. sshh.. sakiit
Bang ..! Pelaann.. pelaann..
Bang..!" Fitri menangis antara
nikmat dan perih di
vaginanya.
".. hhmm.. tempikmu.. niikmaat..
sekalii.. ukkhh.. uukkhh.."
Pajang mulai mengeluarkan
kata kata vulgar dan terlihat
Fitri agak canggung
mendengarnya.
Gejolak birahi Pajang begitu
menguasai tubuhnya tanpa
canggung lagi mulailah ia
menaik turunkan pantatnya
mencari dan menggali
kenikmatan yang ia ingin
berikan kepada Fitri untuk
pemuasan birahinya, batang
penis Pajang masuk menyusup
lubang vaginanya tahap demi
tahap hingga akhirnya amblas
semuanya.
"..aarrgghh..!!" Fitri melenguh
panjang, wajahnya merah
merona matanya memandang
Pajang dengan pandangan
sayu penuh arti seperti
menahan sesuatu, mungkin
menahan rasa sakit atau juga
mungkin menahan rasa nikmat
yang luar biasa.
Pajang betul betul terpana
melihat wajah Fitri yang
semakin cantik diliputi
ekspresi sensasional itu.
Perlahan lahan Pajang mulai
aktif bergoyang menarik ulur
batang kemaluannya yang
besar itu, dinding vagina Fitri
yang sudah dilumuri cairan
vaginanya mulai terasa
licin.Wajah Fitri semakin lepas
mengekspresikan rasa
sensasinya yang luar biasa
yang ia tidak pernah
perkirakan sebegitu
nikmatnya bercinta dengan
Pajang, Tanpa Fitri sadari ia
mulai berceloteh diluar
kontrol.
"..Ohhss.. sshh.. enaak..
seekalii....!! oougghh..Teruss .. ..
teerruuss..!!! Fitri mendesah,
merintih dan mengerang
sepuas puasnya. Fitri sudah
lupa diri bahwa yang
menyetubuhi dirinya adalah
orang yang tidak
sepantasnya menggaulinya,
yang ada dibenak Fitri
hanyalah letupan birahi yang
harus dituntaskan.
Mereka dengan antusiasnya
saling berpelukan sambil
berciuman. Terdengar suara
nafas mereka saling memburu
kencang, lidah mereka saling
mengait dan saling menyedot,
saling bergulingan. Pajang
mengambil inisiatif dengan
menggenjot pantatnya yang
tampak naik turun semakin
cepat diantara selangkangan
Fitri yang semakin terbuka
lebar, Fitripun mengangkat
kedua kakinya tinggi tinggi
sambil ditekuknya sampai ke
kepalanya, pantatnya ikut
diangkat memudahkan batang
kemaluan Pajang seluruhnya
masuk dan menggesek
seluruh syaraf syaraf
kenikmatan dirongga
vaginanya, bagi Pajangpun
semakin mudah menyodokkan
penisnya yang panjang besar
itu keluar masuk sampai
kepangkal penisnya sampai
menghasilkan suara bedecak-
decak seperti suara
membecek seiring dengan naik
turunnya pantatnya.
Pajang memperhatikan kearah
selangkangan Fitri vaginanya
mencengkeram penisnya erat
sekali, ia tersenyum puas bisa
menaklukkan vagina Fitri,
yang sudah basah membanjir
penuh dengan cairan putih
kental sehingga membasahi
bulu-bulu kemaluannya itu
dan juga batang
kemaluannya.
Pajang mendengus-dengus
bagai banteng terluka
genjotannya makin ganas
saja. Mata Pajang terlihat
lapar menatap payudara Fitri
yang putih montok dikelilingi
bulatan pink ditengahnya
terlihat putingnya yang sudah
begitu mengeras, tanpa
menyia nyiakan kesempatan
Pajang langsung menyedot
puting susu Fitri yang begitu
menantang, Tubuh Fitri yang
menyender dinding setengah
duduk setengah terlentang
menggelinjang hebat.
payudaranya makin
dibusungkan bahkan tubuhnya
digerakkan kekiri dan
kekanan supaya kedua puting
buah dadanya yang sudah
gatal itu mendapatkan giliran
dari serbuan mulutnya.
Desahan penuh birahi
langsung terlontar tak
tertahankan begitu lidah
Pajang yang basah dan kasar
menggesek putingnya yang
terasa sangat peka itu.
Pajang begitu bergairah
menjilati dan menghisap buah
dada dan putingnya di sela-
sela desah dan rintihan Fitri
yang sangat menikmati
gelombang rangsangan demi
rangsangan yang semakin
lama semakin menggelora ini,
"..oouugghhss ..oouugghhss..
sshh..aEt Fitri makin meracau
tidak karuan, pikiran Fitri
sudah tidak jernih lagi,
terombang ambing didalam
pusaran kenikmatan, terseret
didalam pergumulan sex
dengan Pajang, jiwanya
serasa seenteng kapas
melambung tinggi sekali. Fitri
merasakan kenikmatan bagai
air bah mengalir ke seluruh
tubuhnya mulai dari ujung
kakinya sampai keubun
ubunnya. Tubuh Fitri akhirnya
mengejang sambil memeluk
tubuh Pajang erat sekali.
Jiwanya terasa berputar
putar merasakan semburan
kenikmatan yang dahsyat
diterjang gelombang orgasme.
Pajang terus menggenjot
tubuh Fitri yang hanya
pasrah dipelukannya
mengharapkan gelombang
kenikmatan selanjutnya. Lebih
dari sejam Pajang
menyetubuhi Fitri tanpa henti,
Fitri makin lama makin
terseret didalam kenikmatan
pergumulan seks yang ia
belum pernah rasakan. Tubuh
Fitri akhirnya melemas lagi
dan Pajang yang sudah tidak
tahan akhirnya
menyemburkan spermanya di
dalam rahim Fitri.
Untuk beberapa saat Pajang
membiarkan penisnya masih
menancap di dalam vagina
Fitri mencoba meresapi setiap
kenikmatan tubuh putih mulus
itu. Ditatapnya wajah Fitri
yang sekarang terlihat sendu,
ada sebutir air mata mengalir
di pipinya. Pajang membiarkan
tubuh Fitri yang berada
dalam pelukannya untuk
beristirahat sejenak.
Dilihatnya ada bercak darah
bercampur lendir putih di
seprainya, Fitri memang
benar-benar masih perawan.
Hal itu membuat Pajang makn
merasa senang karena
berhasil memerawani seorang
gadis secantik Fitri.
Setelah beristirahat sejenak,
Pajang meminta Fitri berbalik
sambil menungging, lalu
dengan posisi doggy style
Pajang kembali membenamkan
penisnya ke dalam kemaluan
Fitri, kali ini kemaluan Fitri
bisa menerima setiap sodokan
penis Pajang yang berukuran
besar itu. Fitri merasakan
liang vaginanya menyempit
karena tertekuk oleh
perutnya sehingga ia
merasakan setiap detail
denyutan kenikmatan yang
dihasilkan oleh batang penis
Pajang yang merasuk ke liang
kenikmatannya, secara
refleks Fitri meningkatkan
sensasi sensual ini dengan
memutar mutar pantatnya
yang putih sexy itu bahkan
ketika Pajang menyodok
penisnya yang besar itu, Fitri
menyambutnya dengan
mendorong keras pantatnya
kebelakang sehingga penis
Pajang yang besar dan
panjang itu masuk ke dalam
vaginanya dalam sekali
mengaduk-aduk seluruh
rongga kenikmatannya
Apa yang terlihat sungguh
merupakan pemandangan
yang sangat erotis. Seorang
wanita yang sangat cantik
dan bertubuh mulus dan
begitu sexy disetubuhi oleh
seorang pria setengahj baya
yang berkulit hitam dan
buruk rupa. tubuh Fitri yang
mulus ramping menungging
meliuk liuk, bongkahan
pantatnya yang sekal dan
mulus bergerak gerak dengan
liarnya, kepalanya bergeleng
kekiri dan kekanan,
sementara buah dadanya
yang montok bergoyang
erotis sekali ditambah dengan
erangan dan desahannya
mendayu dayu memenuhi
ruangan kamar, Fitri sudah
berubah menjadi kuda betina
liar dimana Pajang memegang
kendali permainan sex ini
sepenuhnya.
'Pertempuran' seks berlanjut
terus, Pajang menahan erat
pinggang Fitri yang ramping
supaya tubuh Fitri tidak
terjerembab ke depan karena
vaginanya digenjot cepat
sekali sampai batang penisnya
yang besar keluar masuk
liang vagina begitu dahsyat
tanpa ampun, semakin deras
liang vaginanya digenjot
keperkasaan penisnya
semakin keras erangan Fitri
mengumandang dikamar yang
dipenuhi hawa napsu birahi
kedua insan ini. Tubuh Fitri
sampai bergetar hebat,
terlihat ia mengejang kuat-
kuat pertanda ia sedang
mengalami kenikmatan yang
maha dahsyat. Fitri benar
benar melayang kelangit yang
ketujuh didalam pergumulan
sexnya dengan pedagang
bakso ini.
Pajang sangat puas melihat
kepasrahan Fitri, lalu ia
merunduk memeluk tubuh Fitri
dari belakang tangannya
merogoh keselangkangan Fitri,
jari jari Pajang memainkan
klitoris Fitri dengan memutar
mutarnya, sambil menggenjot
dengan penisnya yang besar
itu. Fitri mengerang dengan
liar, tubuhnya yang dalam
posisi menungging meliuk
meliuk tanpa terkendali,
rupanya klitorisnya
merupakan alat kelamin yang
paling sensitif buat Fitri,
lubang vaginanya yang sudah
dihajar begitu rupa oleh penis
yang berukuran luar biasa itu
ditambah clitorisnya ditekan
sambil diputar-putar oleh jari
Pajang, maka sempurnalah
puncak kenikmatan yang ia
rasakan, tangan Fitri
mencengkeram sprei erat
sekali, dahinya berkerut,
mulutnya seperti ingin teriak
dan mendesah desah tak
henti hentinya. Rupanya Fitri
sedang dilanda kenikmatan
yang amat sangat luar
biasaa. posisi tubuhnya yang
sedang menungging makin
ditunggingkan pantatnya
keatas memasrahkan
vaginanya dihujam oleh
keperkasaannya dengan
mengharapkan kedatangan
gelombang kenikmatan
berikutnya yang merupakan
pengalaman pertama buat
Fitri untuk mendapatkan
multiple orgasme.
AAAAAAHHHHKKKHHHH ....!!" Fitri
mengerang histeris diterjang
klimaks keduanya yang lebih
panjang dan lebih dahsyat
dari yang pertama, mukanya
merah merona terbakar oleh
puncak birahinya wajahnya
semakin cantik diliputi
ekspresi kenikmatannya
tubuhnya mengejang cukup
lama selama orgasmenya
berlangsung. Fitri benar benar
takluk mendapatkan
kepuasan yang luar biasa,
rasa ketagihan merasuk
jiwanya, ingin rasanya
melanjutkan persetubuhannya
selama-lamanya dengan
Pajang karena ia bisa
memberikan multiple orgasme
yang ia tidak pernah dia
rasakan sebelumnya.
Tubuh Fitri sudah tidak
bertenaga lagi akhirnya
ambruk ditempat tidur
berbaring napasnya tersengal
sengal, Pajang ikut
membaringkan dirinya
disamping Fitri. Seharian
Pajang mengajari Fitri
bagaimana caranya bercinta
untuk menggapai kenikmatan.
Satu hari penuh Fitri
mendapatkan pengalaman luar
biasa. Pajang merangsang
nafsu birahinya dengan
menyetubuhi dirinya berbagai
macam posisi, posisi 69 pun
tak lupa dipraktekkan dan
Fitri menjadi murid yang
cepat tanggap. Tidak bisa
dihitung berapa kali Fitri
mengalami orgasme, yang
jelas Fitri begitu menikmati
bahkan mungkin begitu
ketagihan disetubuhi batang
kemaluan yang begitu besar
dan perkasa. Dan Pajangpun
begitu puas bisa
merealisasikan keinginannya
menggauli Fitri yang sangat
menggairahkannya. Pajang
mengalami ejakulasi dengan
penuh kenikmatan.
Setelah kejadian hari itu,
Pajang selalu berusaha untuk
bisa bertindak wajar seolah
olah tidak terjadi sesuatu
diantara mereka bahkan
Pajang tidak terlalu
memaksakan keinginannya
untuk berhubungan seks
kalau situasi tidak
memungkinkan. Tetapi lain
halnya dengan Fitri, terlihat
ia begitu grogi setiap
bertemu dengan Pajang
terutama jika teman-
temannya berada
disampingnya, sulit sekali ia
menutupi kegelisahannya.
Sebagai seorang wanita
perasaannya lebih banyak
dikendalikan oleh emosinya.
Setiapkali menatap Pajang
walaupun Pajang berpakaian
lengkap tetapi yang
terbayang adalah tubuh
kekarnya yang bertelanjang
bulat dengan batang
kemaluannya yang
menantang.
Sejak hari itu Fitri tidak bisa
lagi menahan keinginannya
untuk tidak memadu kasih
dengan Pajang. Da ketika
libur, ia mencuri-curi waktu
dan kesempatan untuk pergi
ke tempat Pajang tanpa
diketahui oleh teman-
temannya. Pajang yang
memang sengaja memanggil
Fitri dengan mantra
pengasihannya langsung
menyambut memenuhi
keinginan Fitri untuk bercinta.
Saling lumat dan saling cumbu.
Tangan Pajang meraba dan
mengelus daerah sensitif Fitri,
hingga pada puncaknya
mereka saling jilat dengan
posisi 69. Kepala Pajang
membenam di selangkangan
Fitri, menjilati dan menciumi
vagina dan klitoris Fitri.
Semantara Fitri juga sibuk
mengocok batang kemaluan
Pajang sambil mulutnya
mengulum kepala batang
kemaluannya, awalnya Fitri
agak canggung dengan gaya
permainan itu tapi Pajang
yang berpengalaman
membimbing Fitri untuk
melakukannya. Fitri mulai
terbiasa menerima penis
Pajang di mulutnya, perlahan
dia mulai meraih penis itu dan
mengocoknya pelan. Lalu Fitri
memajukan wajahnya, sambil
melanjutkan kocokannya dia
menyapukan lidahnya pada
kepala penis itu.
Pajang mendesah merasakan
belaian lidah Fitri pada
penisnya serta kehangatan
yang diberikan oleh ludah dan
mulutnya. Fitri sendiri
walaupun merasa tanpa
disadari mulai terangsang dan
mulai mengulum benda itu
dalam mulutnya.
Fitri merasakan wajahnya
makin tertekan ke
selangkangan dan buah pelir
Pajang yang berbulu lebat
itu, penis di dalam mulutnya
semakin berdenyut-denyut
dan sesekali menyentuh
kerongkongannya. Sekitar
sepuluh menit lamanya dia
harus melakukan hal itu,
sampai Pajang menekan
kepalanya sambil melenguh
panjang.
Cairan putih kental itu
menyembur deras di dalam
mulutnya dan mau tidak mau,
Fitri harus menelannya,
rasanya yang asin dan kental
itu membuatnya hampir
muntah sehingga tersedak.
Beberapa saat kemudian
barulah semprotannya
melemah dan berhenti. Fitri
langsung terbatuk-batuk
begitu Pajang mencabut penis
itu dari mulutnya.
Memang Pajang adalah guru
yang baik, akhirnya Fitripun
terbiasa dan boleh dibilang
piawai dalam melakukan oral
seks sampai Pajang orgasme,
dan spermanya menyembur
keluar di wajah Fitri yang
cantik. Fitri lalu merebahkan
badannya dan terlentang.
Pajang sambil mendekati Fitri,
dia lalu berbaring di dekat
Fitri. Pajang mulai membelai
wajahnya dan menciumi
pipinya, kumisnya yang kasar
seperti duri menusuk-nusuk
pipi Fitri yang halus. Pajang
lalu menciumi bibir Fitri
dengan gerakan lembut
berulang-ulang sambil tidak
lupa tangannya bergerak ke
payudara Fitri yang kenyal
dan lembut, payudara yang
putih mulus itu dibelai-belai
dan diremas dengan lembut,
sesekali Pajang
mempermainkan puting
payudara Fitri yang berwarna
pink segar dengan jari-
jarinya. Fitri langsung
terhanyut oleh perlakuan itu,
gerakan-gerakan Pajang
yang sangat berpengalaman
membuat pertahanannya
sedikit demi sedikit bobol.
Perlahan Fitri mulai
memberikan respon pada
ciuman Pajang, tanpa disadari,
Fitri mulai membuka mulutnya
dan membiarkan lidah Pajang
bermain-main dengan
lidahnya, bahkan Fitri mulai
ikut memainkan lidahnya
sendiri dan membiarkan
bibirnya berpagutan dengan
bibir Pajang. Sambil terus
berciuman, Pajang terus
membelai dan meremas-remas
payudara Fitri dengan lembut.
Lalu Pajang mengarahkan
ciumannya ke bagian leher
Fitri. Fitri menerima perlakuan
itu sambil mendesah pelan.
Pajang terus menciumi
sekujur leher Fitri, lalu
ciumannya bergerak
menelusuri bagian payudara
Fitri. Dengan lidahnya, Pajang
menjilat-jilat payudara mulus
itu dengan lembut, ujung
lidahnya sesekali menyapu
puting payudara Fitri
membuat Fitri makin
terangsang. Desahan
nafasnya mulai memburu,
wajah Fitripun mulai memerah.
Fitri seperti berada di lautan
kenikmatan yang maha luas
dan akhirnya seperti biasanya
pula batang kemaluan Pajang
yang besar mengaduk liang
kenikmatannya. Dan seperti
yang didambakan Fitri, Pajang
melambungkannya terbang
melayang layang diawang
awang menggapai puncak
kenikmatan yang tertinggi.
Gesekan penis di dalam
vaginanya memberikan sensasi
luar biasa pada sekujur tubuh
Fitri membuatnya mengejang
dan bergerak liar. Fitri
benar-benar menikmati
persetubuhan dengan Pajang.
Dia membiarkan saja saat
Pajang kembali menciumi
bibirnya ditengah-tengah
persetubuhan. Bahkan ketika
Pajang menghentikan
genjotannya, secara tidak
sadar Fitri gantian
menggerak-gerakkan
pantatnya, dan Fitri pun
menurut saja ketika Pajang
menyuruhnya berganti posisi.
Entah sudah berapa posisi
yang dipraktekkan mereka.
Fitri sendiri sudah mengalami
berkali-kali orgasme, dia
mendesah-desah menyebut
nama Pajang, Sementara
penis Pajang terasa semakin
berdenyut dan ukurannya
pun makin membengkak, dan
akhirnya dengan geraman
panjang dia menumpahkan
spermanya ke dalam rahim
Fitri.
Dan hari-hari berikutnya Fitri
makin sering berkunjung ke
tempat Pajang, kesempatan
itupun kembali digunakan
Pajang untuk bisa menikmati
kenikmatan tubuh Fitri yang
memang sangat
didambakannya. Fitri sendiri
sudah begitu terlena oleh
Pajang, selain oleh mantra
pengasihan yang dimiliki
Pajang juga merasakan
kenikmatan yang luar biasa
saat Pajang menyetubuhinya.
Kini setelah kejadian itu,
mereka selalu terlihat sering
berdua. Fitri selalu datang ke
kontrakan pajang sekedar
untuk melepaskan unek-
uneknya tentang masalah
kampus namun bagi Pajang
itulah saat baginya untuk
menikmati kehangatan dan
kemulusan tubuh Fitri. Pajang
pun akhirnya menikmati tubuh
Fitri yang merupakan calon
perawat itu dengan
sembunyi-sembunyi, Fitripun
kini telah memutuskan
hubungan dengan pacarnya
dan ia menerima pajang
sebagai calon suaminya.