PDA

View Full Version : Main Berempat


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Cerita ini berawal dari
perkenalanku dengan seorang
wanita karir, yang entah
bagaimana ceritanya wanita
karir tersebut mengetahui
nomor kantorku.
Siang itu disaat aku hendak
makan siang tiba-tiba telepon
lineku berbunyi dan ternyata
operator memberitau saya
kalau ada telepon dari seorag
wanita yang engak mau
menyebutkan namanya dan
setelah kau angkat.
"Hallo, selamat siang joko,"
suara wanita yang sangat
manja terdengar. "Helo juga,
siapa ya ini?" tanyaku serius.
"Namaku Karina," kata wanita
tersebut mengenalkan diri.
"Maaf, Mbak Karina tahu
nomor telepon kantor saya
dari mana?" tanyaku
menyelidiki. "Oya, aku
temannya Yanti dan dari dia
aku dapat nomor kamu,"
jelasnya. "Ooo... Yanti," kataku
datar.
Aku mengingat kisahku,
sebelumnya yang berjudul
empat lawan satu. Yanti
adalah seorang wanita karir
yang juga 'mewarnai'
kehidupan sex aku.
"Gimana kabarnya Yanti dan
dimana sekarang dia tinggal?"
tanyaku. "Baik, sekarang dia
tinggal di Surabaya, dia titip
salam kangen sama kamu,"
jelas Karina.
Sekitar 10 menit, kami
berdua mengobrol layaknya
orang sudah kenal lama.
Suara Karina yang lembut
dan manja, membuat aku
menerka-nerka bagaimana
bentuk fisiknya dari wanita
tersebut. Saat aku
membayangkan bentuk
fisiknya, Karina membuyarkan
lamunanku.
"Hallo... Joko, kamu masih
disitu?" tanya Karina. "Iya...
Iya Mbak... " kataku gugup.
"Hayo mikirin siapa, lagi mikirin
Yanti yaa?" tanyanya
menggodaku. "Nggak kok,
malahan mikirin Mbak Karina
tuh," celetukku. "Masa sih...
Aku jadi GR deh" dengan nada
yang sangat menggoda.
"Joko, boleh nggak aku
bertemu dengan kamu?"
tanya Karina. "Boleh aja
Mbak... Bahkan aku senang
bisa bertemu dengan kamu,"
jawabanku semangat "Oke
deh, kita ketemuan dimana
nih?" tanyanya semangat.
"Terserah Mbak deh, Joko sih
ngikut aja?" jawabku pasrah.
"Oke deh, nanti sore aku
tunggu kamu di Mc. Donald
plasa senayan," katanya.
"Oke, sampai nanti joko... Aku
tunggu kamu jam 18.30,"
sambil berkata demikian, aku
pun langsung menutup
teleponku.
Aku segera meluncur ke
kantin untuk makan siang
yang sempat tertunda itu.
Sambil membayangkan kembali
gimana wajah wanita yang
barusan saja menelpon aku.
Setelah aku selesai makan
aku pun langsung segera
balik ke kantor untuk
melakukan aktivitas
selanjutnya.
Tanpa terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 17.00, tiba
saatnya aku pulang kantor
dan aku segera meluncur ke
plasa senayan. Sebelumnya
prepare dikantor, aku mandi
dan membersihkan diri setelah
seharian aku bekerja. Untuk
perlengkapan mandi, aku
sengaja membelinya dikantin
karena aku nggak mau
ketemu wanita dengan
tanpak kotor dan bau badan,
kan aku menjadi nggak pede
dengan hal seperti itu.
Tiba di Plasa Senayan, aku
segera memarkirkan mobil
kijangku dilantai dasar. Jam
menunjukkan pukul 18.15. Aku
segera menuju ke MC. Donald
seperti yang dikatakan
Karina. Aku segera mengambil
tempat duduk disisi pagar
jalan, sehingga aku bisa
melihat orang lalu lalang
diarea pertokaan tersebut.
Saat mataku melihat situasi
sekelilingku, bola mataku
berhenti pada seorang wanita
setengan baya yang duduk
sendirian. Menurut
perkiraanku, wanita ini
berumur sekitar 32 tahun.
Wajahnya yang lumayan putih
dan juga cantik, membuat
aku tertegun, nataku yang
nakal, berusaha menjelajahi
pemadangan yang indah
dipandang yang sangat
menggiurkan apa lagi abgian
depan yang sangat menonjol
itu. Kakinya yang jenjang,
ditambah dengan belahan
pahanya yang putih dan juga
montok dibalik rok mininya,
membuat aku semakin gemas.
Dalam hatiku, wah betapa
bahagianya diriku bila yang
aku lihat itu adalah orang
yang menghubungiku tadi
siang dan aku lebih bahagia
lagi bila dapat merasakan
tubuhnya yang indah itu.
Tiba-tiba wanita itu berdiri
dan menghampiri tempat
dudukku. Dadaku berdetuk
kencang ketika dia benar-
benar mengambil tempat
duduk semeja dengan aku.
"Maaf apakah kamu Joko?"
tanyanya sambil menatapku.
"Iy... Iyaa... Kamu pasti Karina,"
tanyaku balik sambil berdiri
dan mengulurkan tanganku.
Jarinya yang lentik menyetuh
tanganku untuk bersalaman
dan darahku terasa mendesr
ketika tangannya yang
lembut dan juga halus
meremas tangaku dengan
penuh perasaan.
"Silahkan duduk Karina,"
kataku sambil menarik satu
kursi di depanku. "Terima
kasih," kata Karina sambil
tersenyum. "Dari tadi kamu
duduk disitu kok nggak
langsung kesini aja sih?"
tanyaku. "Aku tadi sempat
ragu-ragu, apakah kamu
memang Joko," jelasnya. "Aku
juga tadi berpikir, apakah
wanita yang cantik itu adalah
kamu?" kataku sambil
tersenyum.
Kami bercerita panjang lebar
tentang apapun yang bisa
diceritakan, kadang-kadang
kami berdua saling bercanda,
saling menggoda dan sesekali
bicara yang 'menyerempet' ke
arah sex. Lesung pipinya yang
dalam, menambah cantik saja
wajahnya yang semakin
matang.
Dari pembicaraan tersebut,
terungkaplah kalau Karina
adalah seorang wanita yang
sedang bertugas di Jakarta.
Karina adalah seorang
pengusaha dan kebetulan
selama 4 hari dinas di
Jakarta.
"Karin, kamu kenal Yanti
dimana?" tanyaku.
Yanti adalah teman
chattingku di YM, aku dan
Yanti sering online bersama.
Dan kami terbuka satu sama
lain dalam hal apapun. Begitu
juga kisah rumah tangga,
bahkan masalah sex sekalipun.
Mulutnya yang mungil
menjelaskan dengan penuh
semangat.
"Emangnya Yanti menikah
kapan? Aku kok nggak
pernah diberitahu sih,"
tanyaku penuh penasaran.
"Dia menikah dua minggu yang
lalu dan aku nggak tahu
kenapa dia nggak mau
memberi tahu kamu
sebelumnya," Jawabnya penuh
pengertian. "Ooo, begitu... "
kataku sambil manggut-
manggut. "Ini adalah hari
pertamaku di Jakarta dan
aku berencana menginap 4
hari, sampai urusan kantorku
selesai," jelasnya tanpa aku
tanya. "Sebenarnya tadi Yanti
juga mau dateng tapi
berhubung ada acara
keluarga jadi kemungkinan dia
akan datang besok harinya
dia bisa dateng," jelasnya
kembali. "Memangnya Mbak
Karina menginap dimana nih?"
tanyaku penasaran.
"Kebetulan sama kantor
sudah dipesankan kamar buat
aku di hotel H... "jelasnya.
"Mmm, emangnya Mbak sama
siapa sih?" tanyaku
menyelidik. "Ya sendirilah,
Joko... Makanya saat itu aku
tanya Yanti," katanya "Tanya
apa?" tanyaku mengejar.
"Apakah punya teman yang
bisa menemaniku selama aku
di Jakarta," katanya. "Dan
dari situlah aku tahu nomor
telepon kamu," lanjutnya.
Tanpa terasa waktu sudah
menunjukan pukul 10.25 wib,
dan aku lihat sekelilingku
pertokoan mulai sepi karena
memang sudah mulai larut
malam. Dan toko pun sudah
mulai tutup.
"Jok... Kamu mau anter aku
balik ke hotel nggak?"
tanyanya. "Boleh, masa iya sih
aku tega sih biarin kamu balik
ke hotel sendirian," kataku.
Setelah obrolan singkat, kami
segera menuju parkiran mobil
dan segera meluncur ke hotel
H... Yang tidak jauh dari pusat
pertokoan Plasa Senayan. Aku
dan Karina bergegas menuju
lift untuk naik ke lantai 5,
dan sesampainya di depan
kamarnya, Karina
menawarkan aku untuk
masuk sejenak. Bau parfum
yang mengundang syaraf
kelaki-lakianku serasa
berontak ketika berjalan
dibelakangnya.
Dan ketika aku hendak masuk
ternyata ada dua orang
wanita yang sedang asyik
ngegosip dan mereka pun
tersenyum setelah aku masuk
kekamarnya. Dalam batinku,
aku tenyata dibohongi
ternyata dia nggak sendiri.
Karina pun memperkenalkan
teman-temannya yang cantik
dan juga sex yang berbadan
tinggi dan juga mempunyai
payudara yang besar dia
adalah Miranda(36b)
sedangkan yang mempunyai
badan yang teramat sexy ini
dan juga berpayudara yang
sama besarnya bernama
Dahlia(36b). Dan mereka pun
mempersilahkan aku duduk.
Tanpa dikomando lagi mereka
pun perlahan-lahan memulai
membuka pakaian mereka
satu persatu, aku hanya bisa
melotot saja tak berkedip
sekali pun, tak terasa adik
kecilku pun segera bangun
dari tidurnya dan segera
bangun dan langsung
mengeras seketika itu juga.
Setelah mereka telanjang
bulat terlihatlah pemandangan
yang sangat indah sekali
dengan payudara yang besar,
Karina pun langsung
menciumku dengan ganasnya
aku sampai nggak bisa
bernafas karena serangan
yang sangat mendadak itu
dan aku mencoba
menghentikannya.
Setelah itu dia pun memohon
kepadaku agar aku
memberikan kenikmatan yang
pernah aku berikan sama
Yanti dan kawan-kawan.
Setelah itu Karina pun
langsung menciumku dengan
garangnya dan aku pun
nggak mau tinggal diam aku
pun langsung membalas
ciumannya dengan garang
pula, lidah kamipun beraduan,
aku mulai menghisap lidahnya
biar dalam dan juga
sebaliknya. Sedangkan
Miranda mengulum penisku ke
dalam mulutnya, mengocok
dimulutnya yang membuat
sensasi yang tidak bisa aku
ungkapkan tanpa sadar aku
pun mendesah.
"Aaahh enak Mir, terus Mir
hisap terus, aahh... "
Sedangkan Dahlia menghisap
buah zakarku dengan
lembutnya membuat aku
semakin nggak tertahankan
untuk mengakhiri saja
permaianan itu. Aku pun mulai
menjilati vagina Karina dengan
lembut dan perlahan-lahan
biar dia bisa merasakan
permaianan yang aku buat.
Karina pun menjerit keras
sambil berdesis bertanda dia
menikmati permainanku itu.
Mirandapun nggak mau kalah
dia menghisap payudaranya
Karina sedangkan Dahlia
mencium bibir Karina agar
tidak berteriak ataupun
mendesis. Setelah beberapa
lama aku menjilati vaginanya
terasa badannya mulai
menegang dan dia pun
mendesah. "Jok... Akuu mauu
keeluuarr."
Nggak beberapa lama
keluarlah cairan yang sangat
banyak itu akupun langsung
menghisapnya sampai bersih
tanpa tersisa. Setelah itu aku
pun langsung memasukkan
penisku ke dalam vagina
Karina, perlahan-lahan aku
masukkan penisku dan sekali
hentakan langsung masuk
semua ke dalam vaginanya
yang sudah basah itu. Aku
pun langsung menggenjotnya
dengan sangat perlahan-
lahan sambil menikamati
sodokan demi sodokan yang
aku lakukan dan Karina pun
mulai mendesah nggak
karuan.
"Aaahh enak Jok, terus Jok,
enak Jok, lebih dalam Jok
aahh, sstt... "
Membuat aku bertambah
nafsu, goyanganku pun
semakin aku percepat dan dia
mulai berkicau lagi.
"Aaahh enak Jok, penis kamu
enak banget Jok, aahh... "
Setelah beberapa lama aku
mengocok, diapun mulai
mengejang yang kedua
kalinya akupun semakin
mempercepat kocokanku dan
tak beberapa lama aku
mengocoknya keluarlah cairan
dengan sangat derasnya dan
terasa sekali mengalir
disekitar penisku. Akupun
segera mencabut penisku
yang masih tegang itu.
Miranda segera mengulum
penisku yang masih banyak
mengalir cairan Karina yang
menempel pada penisku,
sedangkan Dahlia menghisap
vaginanya Karina yang masih
keluar dalam vaginanya
dengan penuh nafsunya.
Miranda pun mulai mengambil
posisi, dia diatas sedangkan
aku dibawah. Dituntunnya
penisku untuk memasuki
vaginanya Miranda dan
serentak langsung masuk.
Bless... Terasa sekali
kehangatan didalam
vaginanya Miranda. Dia pun
mulai menaik turunkan
pantatnya dan disaat seperti
itulah dia mulai mempercepat
goyangannya yang membuat
aku semakin nggak karuan
menahan sensasi yang
diberikan oleh Miranda.
Dahlia pun mulai menghisap
payudara Miranda penuh
gairah, sedangkan Karina
mencium bibir Miranda dengan
garangnya, Miranda
mempercepat goyangannya
yang membuat aku mendesah.
"Aaahh enak Mir... Terus Mir...
Goyang terus Mir... Lebih
dalam lagi Mir... Aaahh sstt"
Dan selang beberapa menit
aku merasakan penisku mulai
berdenyut,
"Mir... Aku... ingiin keeluuaarr"
Seketika itu juga muncratlah
air maniku didalam vaginanya,
entah berapa kali
munceratnya aku nggak tahu
karena terlalu nikmatnya dan
diapun masih mengoyang
semakin cepat. Seketika itu
juga tubuhnya mulai
menegang dan terasa sekali
vaginanya berdenyut dan
selang beberapa lama
keluarlah cairan yang sangat
banyak sekali, aku pun
langsung mengeluarkan
penisku yang sudah basah
kuyup ditimpa cairan cinta.
Mereka pun berebutan
menjilati sisa-sia cairan yang
masih ada dipenisku, Dahlia
pun langsung menjilati
vaginanya Miranda yang
masih mengalir cairan yang
masih menetes di vaginanya.
Akupun melihat mereka
seperti kelaparan yang
sedang berebutan makanan,
setelah selang beberapa lama
aku mulai memeluk Dahlia dan
aku pun mulai mencium
bibirnya dan mulai turun ke
lehernya yang jenjang
menjadi sasaranku yang mulai
menari-nari diatasnya.
"Ooohh... Joko... Geelli... " desah
Dahlia.
Serangan bibirku semakin
menjadi-jadi dilehernya,
sehingga dia hanya bisa
merem melek mengikuti jilatan
lidahku.
Miranda dan Karina mereka
asyik berciuman dan saling
menjilat payudara mereka.
Setelah aku puas dilehernya,
aku mulai menurunkan
tubuhnya sehingga bibirku
sekarang berhadapan dengan
2 buah bukit kembarnya yang
masih ketat dan kencang. Aku
pun mulai menjilati dan sekali-
kali aku gigit puntingnya
dengan gigitan kecil yang
membuat dia tambah
terangsang lagi dan dia
medesah.
"Aaahh enak sekali Jok...
Terus Jok hisap terus Jok
enak Jok aahh sstt... "
Dahlia pun membalasnya
dengan mencium bibirku
dengan nafsunya dan setelah
itu turun ke pusar dan
setelah itu dia mulai
mengulum, mengocok, menjilat
penisku didalam mulutnya.
Setelah dia puas aku kembali
menyerangnya langsung ke
arah lubang vaginanya yang
memerah dan disekelilingi
rambut-rambut yang begitu
lebat. Aroma wangi dari
lubang kewanitaannya,
membuat tubuhku berdesis
hebat. Tanpa menunggu lama
lagi, lidahku langsung aku
julurkan kepermukaan bibir
vagina.
Tanganku bereaksi untuk
menyibak rambut yang
tumbuh disekitar
selangkangannya untuk
memudahkan aksiku menjilati
vaginanya.
"Ssstt... Jok... Nikmat sekali...
Ughh," rintihnya.
Tubuhnya menggelinjang,
sesekali diangkat menghindari
jilatan lidahku diujung
clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia
yang terkadang berputar-
putar dan naik turun,
membuat lidahku semakin
menghujam lebih dalam ke
lubang vaginanya.
"Joko... Gila banget lidah
kamu... " rintihnya "Terus...
Sayang... Jangan lepaskan... "
pintanya.
Paha Dahlia dibuka lebar
sekali sehingga memudahkan
lidahku untuk menjilatnya.
Dahlia menggigit bibir
bawahnya seakan menahan
rasa nikmat yang bergejola
dihatinya.
"Oohh... Joko, aku nggak
tahan... Ugh... " rintihnya.
"Joko cepet masukan penis
kamu aku sudah nggak tahan
nih," pintanya.
Perlahan aku angkat kaki
kanannya dan aku baringkan
ranjang yang empuk itu.
Batang kemaluanku sudah
mulai mencari lubang
kewanitaannya dan sekali
hentak.
"Bleest... " kepala penisku
menggoyang vaginanya Dahlia.
"Aowww... Gila besar sekali
Jok... Punya kamu," Dahlia
merintih.
Gerakan maju mundur
pinggulku membuat tubuh
Dahlia mengelinjang hebat
danm sesekali memutar
pinggulnya sehingga
menimbulkan kenikmatan yang
luar biasa dibatang
kemaluanku.
"Joko... Jangan berhenti
sayang... Oogghh," pinta Dahlia.
Dahlia terus menggoyangkan
kepalanya kekanan dan kekiri
seirama dengan penisku yang
menghujam dalam pada lubang
kewanitaannya. Sesekali Dahlia
membantu pinggulnya untuk
berputar-putar.
"Joko... Kamu... Memang...
Jagoo... Ooohh," kepalannya
bergerak ke kiri dan ke
kanan seperti orang triping.
Beberapa saat kemudian
Dahlia seperti orang
kesurupan dan ingin memacu
birahinya sekencang mungkin.
Aku berusaha mempermainkan
birahinya, disaat Dahlia
semakin liar. Tempo yang
semula tinggi dengan spontan
aku kurangi sampai seperti
gerakan lambat, sehingga
centi demi centi batang
kemaluanku terasa sekali
mengoyang dinding vagina
Dahlia.
"Joko... Terus... Sayang...
Jangan berhenti... " Dahlia
meminta.
Permainanku benar-benar
memancing birahi Dahlia untuk
mencapai kepuasan birahinya.
Sesaat kemudian, Dahlia
benar-benar tidak bisa
mengontrol birahinya.
Tubuhnya bergerak hebat.
"Joko... Aakuu... Kelluuaarr...
Aaakkhh... Goyang sayang,"
rintih Dahlia.
Gerakan penisku kubuat
patah-patah, sehingga
membuat birahi Dahlia semakin
tak terkendali.
"Jok... Ooo... Aaammpuunn,"
rintihnya panjang.
Bersamaan dengan rintihan
tersebut, aku menekan
penisku dengan dalam hingga
mentok dilangit-langit vagina
Dahlia. Aku merasakan
semburan cairan membasahi
seluruh penisku.
Dahlia yang sudah mendapat
kedua orgasmenya,
sedangkan aku masih
berusaha untuk mencari
kepuasan birahiku. Posisi
Dahlia, sekarang menungging.
Penisku yang masih tertancap
pada lubang vaginanya
langsung aku hujamkan
kembali ke lubang vaginanya
Dahlia.
"Ooohh... Joko... Kamu...
Memang... Ahli... " katanya
sambil merintih.
Kedua tanganku
mencengkeram pinggul Dahlia
dan menekan tubuhnya
supaya penisku bisa lebih
menusuk ke dalam lubang
vaginanya.
"Dahlia... Vagina kamu memang
enak banget," pujiku. "Kamu
suka minum jamu yaa kok
seret?" tanyaku.
Dahlia hanya tersenyum dan
kembali memejamkan matanya
menikmati tusukan penisku
yang tiada hentinya. Batang
kemaluanku terasa dipijiti oleh
vagina Dahlia dan hal
tersebut menimbulkan
kenikmatan yang luar biasa.
Permainan sexku diterima
Dahlia karena ternyata
wanita tersebut bisa
mengimbangi permainan aku.
Sampai akhirnya aku tidak
bisa menahan kenikmatan
yang mulai tadi sudah
mengoyak birahiku.
"Dahlia... Aku mau... Keluar...
"kataku mendesah. "Aku juga
sayang... Ooohh... Nikmat
terus... Terus... " Dahlia
merintih. "Joko... Keluarin
didalam... Aku ingin rasakan
semprotan... Kamu... "
pintanya. "Iya sudah... Ooogh...
Aaakhh... " rintihku.
Gerekan maju mundur
dibelakang tubuh Dahlia
semakin kencang, semakin
cepat dan semakin liar. Kami
berdua berusaha mencapai
puncak bersama-sama.
"Joko... Aku... Aku... Ngaak
kkuuaatt... Aaakhh" rintih
Dahlia. "Aku juga sudah...
Ooogh... Dahh," aku merintih.
"Crut... Crut... Crut... "
spermaku muncrat membanjiri
vaginanya Dahlia.
Karena begitu banyak
spermaku yang keluar,
beberapa tetes sampai keluar
dicelah vagina Dahlia. Setelah
beberapa saat kemudian
Dahlia membalikkan tubuhnya
dan berhadapan dengan
tubuhku.
"Joko, ternyata Yanti benar,
kamu jago banget dalam
urusan sex. Kamu memang
luar biasa" kata Dahlia
merintih. "Biasa aja kok Mbak,
aku hanya melakukan
sepenuh hatiku saja," kataku
merendah. "Kamu luar biasa...
" Dahlia tidak meneruskan
kata-katanya karena bibirnya
yang mungil kembali
menyerang bibirku yang masih
termangu.
Segera aku palingkan
wajahku ke arah Karina dan
Miranda, ternyata mereka
sudah tertidur pulas mungkin
karena sudah terlalu lelah,
dan akupun tak kuasa
menahan lelah dan akhirnya
akupun tertidur pulas. Dan
setelah 4 jam aku tertidur
aku pun terbangun karena
ada sesuatu yang sedang
mengulum batang kemaluanku
dan ternyata Miranda sudah
bangun dan aku pun
menikmatinya sambil menggigit
bibir bawahku. Dan kuraih
tubuhnya dan kucium bibirnya
penuh dengan gairah dan
akhirnya kami pun mengulang
kembali sampai besok harinya.
Dengan terpaksa aku
menginap karena
pertarunganku dengan
mereka semakin seru aja.
Ketika pagi telah tiba akupun
langsung ke kamar mandi di
ikuti oleh mereka dan akupun
mandi bareng dan permainan
dimulai kembali didetik-detik
ronde terakhir. Tanpa terasa
kami berempat sudah naik
didalam bathup, kami mandi
bersama. Guyuran air
dipancurkan shower membuat
tubuh mereka yang molek
bersinar diterpa cahaya
lampu yang dipancarkan ke
seluruh ruangan tersebut.
Dengan halus, mereka
menuangkan sabun cair dari
perlengkapan bag shop punya
mereka. Aku mengosok
keseluruh tubuh mereka satu
persatu, sesekali jariku yang
nakal memilih punting mereka.
"Ughh... Joko... " mereka
merintih dan bergerak saat
aku permainkan puntignya
yang memerah.
Sebelum aku meinggalkan
mereka, kami berempat
berburu kenikmatan. Dan
entah sudah berapa kali
mereka yang sedang
membutuhkan kehangatan
mendapatkan orgasme. Kami
memburu kenikmatan berkali-
kali, kami berempat memburu
birahinya yang tidak kenyang.
Sampai akhirnya waktu
menunjukkan pukul 08.00 wib,
dimana aku harus berangkat
kerja dan pada jam seperti
ini jalanan macet akupun
mempercepat jalannya agar
tidak terkena macet yang
berkepanjangan. Aku
meninggalkan Hotel H... Sambil
menikmati sisa-sisa
kenikmatan yang sudah
ditinggalkan oleh permainan
tadi.