PDA

View Full Version : Tawaran Pornoku


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Nama saya adalah Anis. Aku
tinggal bersama seorang istri
dengan 3 orang anak di salah
satu ibu kota Kabupaten
Sulsel, yang masih bestatus
kontrakan. Aku menikah
dengan seorang gadis dari
suku lain di sulsel th. 1990
atas dasar kemauan
orangtua kami. Meskipun
pernikahanku tidak didasari
rasa cinta yang mendalam,
namun sebagai pria normal
yang bernafsu tinggi,
penyaluran sexku adalah
utama, yang terbukti dengan
lahirnya 3 orang anak dari
rahim istriku itu.
Ceritanya berawal ketika aku
mengirim cerita porn yang
tidak sepenuhnya benar ke
salah satu situs cerita porn
sekitar Bulan Juni tahun lalu.
Dalam cerita itu, aku sengaja
memaparkan kondisi
kehidupan rumah tanggaku
yang kurang stabil, terutama
dari segi keuangan. Aku
paparkan bahwa kami tidak
mempunyai apa-apa kecuali
hanya istri dan 3 orang anak
serta modal ketahanan dalam
melakukan hubungan sex.
Malah aku tawarkan diri
kepada wanita siapa saja
yang berminat untuk
menyewa modalku itu dengan
rupiah untuk mencukupi
kebutuhan hidupku bersama
keluargaku, apalagi waktu itu
aku memang sedikit terlilit
hutang pada orang lain.
Dalam iklan porn yang kukirim
tersebut, aku muat juga
syarat-syaratnya antara lain
bebas usia dan status (boleh
yang bersuami asal dijamin
aman), siap menyewa tempat/
penginapan khusus, siap
disetubuhi dengan gaya dan
posisi apa saja, siap
membayar sejumlah uang jika
ia betul- betul mengalami
kepuasan batin, siap
mencukur rambut khasnya
jika memang agak lebat.
Sebaliknya aku berjanji untuk
menjilati seluruh tubuhnya
dan menggauli sesuai
kebutuhannya. Boleh saja
menawar sebelum hari H-nya.
Pada mulanya aku tidak yakin
iklanku itu akan mendapat
tanggapan, apalagi biasanya
si wanitalah yang seharusnya
disewa untuk itu. Namun
rejekipun datang. Hanya
berselang 4 hari setelah iklan
porn itu saya umumkan
melalui salah satu situs cerita
porn,eh ternyata ada
responnya, malah 2 wanita
lagi. Aku betul-betul gembira
dan bahagia sekaligus jadi
tantangan buatku karena
aku tidak terlalu yakin
sebelumnya dan belum punya
persiapan untuk itu. Tapi aku
berfikir bahwa sudah
terlanjur basah, apa boleh
buat harus saya sambut
dengan senan hati, apalagi
modal sex yang kumiliki tidak
kurang sedikitpun. Hanya saja
tidak berlebihan sesuai yang
mungkin dibayangkan oleh
para pembacanya.
Respon email yang pertama
kali kuterima berinisial
Tia_....@yahoo.com dan saat
itu pula saya baca dan
membalasnya. Isi emailnya
singkat sekali. Ia hanya
menulis kalau dirinya tertarik
dengan tawaranku dan ingin
menyewa dan membelinya
sekaligus serta ia minta aku
menjawab dan menerangkan
ciri-ciri kepribadianku jika aku
betul-betul serius. Sedang ia
sendiri tidak menyebutkan
apa-apa soal dirinya kecuali
alamat email. Besok malamnya
saya buka kembali emailku,
ternyata berisi dengan nama
Tia lagi. Kali ini, sudah agak
panjang. Setelah saya baca,
aku tahu kalau dia tinggal
dalam kotaku, meskipun ia
menolak untuk memberitahu
alamat rumah dan nomor
telponnya. Tapi ia menulis
kalau dia adalah Kepala
bidang tata usaha di salah
satu instansi swasta. Usianya
sudah kepala 5 tapi gairah
sexnya masih agak tinggi.
Suaminya agak lebih tua
sedikit dari dirinya tapi super
sibuk dengan pekerjaannya di
luar rumah selaku
wiraswastawan, sehingga
hubungannya di atas ranjang
tidak rutin dan tidak teratur
sesuai yang ia inginkan.
Setelah yakain kalau ia betul-
betul serius, akupun lalu
membalas saat itu pula dan
mengutarakan kembali
keadaan ekonomi rumah
tanggaku yang sebenarnya
dan juga sedikit hubunganku
dengan istri di atas ranjang.
Malah aku minta agar
mengirim poto dan no.HV-nya
serta menyebutkan tempat
pertemuannya nanti. Sayapun
minta agar ia bersumpah dan
berjanji untuk menerima
akibatnya jika ia hanya
mempermainkanku,
sebagaimana pula saya siap
lakukan (menulis sumpah).
Besok malamnya saya kembali
buka emailku dan ternyata
nama Tia kembali muncul.
Setelah saya buka isinya,
ternyata tia sudah melakukan
persiapan akhir. Ia
menyebutkan penginapan
tempat kami ketemu nanti,
warna pakaian yang
dikenakannya serta hari H-
nya. Tinggal menunggu
persetujuanku lewat email
saja.
Entah pengaruh dari mana
sehingga aku mulai sedikit
gemetar bercampur bahagia,
ragu, takut, bimbang dan
bersemangat silih berganti
sejak saya menerima putusan
terakhirnya itu. Bahkan
mataku yang tadinya mudah
sekali tertidur, tiba-tiba rasa
ngantukku sulit sekali dan
gairahku untuk cepat-cepat
bobo bersama istri semakin
menurun. Mungkin karena
peristiwa yang kami hadapi
betul-betul istimewa dan luar
biasa bersejarah atau karena
takut dan malu kalau-kalau
kami kepergok nanti oleh
teman atau kenalan lainnya,
apalagi suami Tia atau
keluarganya ataupun karena
takut dipermainkan. Yang
jelas kenyataan itulah yang
saya rasakan saat itu.
Sedang mengenai gairah
sexku terhadap istri memang
sengaja kukurangi sebagai
persiapan untuk bertarung
dengan wanita yang belum
kukenal nama, wajah dan
gambarannya sama sekali.
Bahkan kemampuannya di
atas ranjang bisa-bisa saya
KO jika kurang persiapan,
sehingga dapat
mengecewakan kami berdua
seumur hidup.
Hari itu hari Sabtu sesuai
jadwal yang ia tetapkan,
saya bangun cepat sekali
yakni sekitar jam 5.00 subuh
padahal mataku larut malam
baru tertidur. Paling lambat
Jam 7.30 pagi, saya sudah
harus menunggu di
penginapan yang dimaksud
karena jadwalnya jam 8.00
pagi, tapi saya tidak mau ia
perhatikan lebih dahulu.
Karena itu, istriku masih
dalam keadaan tidur nyenyak,
aku sudah selesai mandi lalu
berpakaian yang sedikit rapi
dan menyemprotkan farfum.
Waktu itu saya mengenakan
baju kaos warna ungu
dengan celana panjang warna
hitam lalu memasukkan ke
dalam tas pakaianku 1
pasang pakaian lagi sebagai
persiapan bermalam. Belum
saya selesai menutup tasku,
istriku tiba-tiba menegur.
"Kok cepat sekali persiapan
berangkatnya pa', tidak
seperti biasanya?" katanya
terheran, sebab malamnya
aku memang sudah buat
alasan kalau aku mau ketemu
orang tua yang tinggal di
suatu desa yang agak jauh
dari kotaku. Biasanya jam
8.00 pagi baru ada mobil
berangkat ke sana.
"Kebetulan ma' saya mau
singgah dulu di rumah teman
karena katanya ia juga mau
ikut jalan-jalan ke kampung,
siapa tahu terlambat ke
sana, khan bisa ketinggalan
mobil" alasanku berbohong
tapi masuk akal.
Jam 7.00 pagi itu, saya naik
becak berangkat ke
penginapan tersebut dengan
jantung berdebar bercampur
takut dan gembira. jam 7.25
saya sudah masuk ke
penginapan itu. Sebelum
masuk, saya lihat-lihat dulu
kiri kanan kalau-kalau ada
wanita agak gemuk
mengenakan baju warna abu-
abu dengan celana warna
biru sesuai informasinya lewat
email. Saya sendiri sengaja
tidak menyampaikan ciri-ciri
pakaian yang kukenakan biar
sama-sama sibuk dan bingung
mencarinya. Beberapa wanita
yang lalu lalang keluar masuk
penginapan itu, bahkan
banyak yang berdiri di depan
costumer servicenya, tapi
belum satupun wanita yang
kulihat sesuai ciri -ciri yang
telah disampaikannya. Aku
mau tanya petugas
penginapan, tapi aku tidak
tahu nama yang akan
kutanyakan dan saya juga
semakin ragu jangan-jangan
ia permainkan aku. Akhirnya
saya beranikan diri saja
bertanya ke salah satu
petugasnya kalau-kalau ada
tadi wanita yang agak gemuk
dengan warna pakaian
tersebut telah terdaftar
sebagai tamu, namun
jawabnya belum ada.
Saya mencoba mengamati
semua wanita yang ada dalam
ruang tamu, ternyata ada
satu orang yang seolah
memperhatikanku dari tadi
sambil sedikit tersenyum. Tapi
aku tidak yakin kalau wanita
itu yang kucari, karena
bentuk tubuh, rambut, warna
baju dan celananya serta
kulitnya tidak ada yang
sesuai informasinya. Aku
semakin meragukan
keseriusannya, apalagi jam
dinding yang ada di ruang
penginapan itu sudah
menunjukkan pukul 8.5 m.
Dalam hatiku kalau sampai
lewat 30 m lagi ia belum juga
muncul, aku akan pergi saja
meninggalkan penginapan itu
dan langsung pulang kampung
sesuai janjiku pada istri di
rumah.
"De' cari siapa? sejak tadi
saya perhatikan, nampaknya
ada yang dicari dan ditunggu
yach?" kata seorang wanita
yang sejak tadi
memperhatikanku
"..oh, iya bu', ada keluarga
yang saya cari, katanya ia
mau nginap di sini dan jam
8.00 ia sudah tiba di tempat
ini, tapi kok sudah lewat
jadwal, ia belum juga muncul"
alasanku mengaku sebagai
keluarga.
"Mungkin ada halangannya de'
diperjalanan" ucapannya
singkat.
"yah mungkin juga atau ia
sengaja membohongiku untuk
menguji sejauhmana
perhatianku padanya" kataku
membenarkan.
"Tapi, kok ade' ini nampaknya
serius dan penting sekali
seolah lama sekali tidak
jumpa, emangnya ia dari
mana de'?" tanya wanita itu
seolah ingin tahu lebih banyak
dan nampak penuh perhatian
padaku.
"Iya betul, ia baru pulang dari
luar sulawesi dan belum
kukenal betul wajahnya, tapi
informasinya melalui telpon
katanya ia datang sekitar
jam 8.00 pagi di penginapan
ini dengan perawakan agak
gemuk, pakaian berwarna
abu-abu -hitam serta rambut
panjang" jelasku menyinggung
tanda-tanda yang diberikan
oleh wanita yang kutunggu
itu.
"Oh yah, ibu ini petugas atau
tamu penginapan ini?" tanya
aku serius.
"Sama dengan ade', aku juga
menunggu seseorang yang
sama sekali belum kukenal
nama, alamat, bodi dan
wajahnya"jawabnya sedikit
tertawa.
"Jangan-jangan ibu'..."tanyaku
namun mendadak putus,sebab
ia juga tiba- tiba
melontarkan kata-kata persis
yang kuucapkan (serentak).
"ha..ha..ha.., hi..hi..hi" kami
ketawa bersama-sama sambil
saling menunjuk karena kami
saling yakin kalau apa yang
kami cari ternyata sudah dari
tadi ketemu, namun berbeda
dengan tanda-tandanya.
Setelah kami puas tertawa,
bahkan saling menunjuk,
akhirnya kami sama-sama
terdiam sejenak lalu
tersenyum sambil saling
menatap dengan tatapan
yang tajam sekali dan agak
lama. Dalam hatiku ternyata
wanita ini kelihatannya masih
muda, cantik dan jauh beda
apa yang kubayangkan.
Setelah puas saling tatap,
saya tawarkan untuk
memesan kamar secepatnya
biar nanti dalam kamar baru
cerita dan saling tatap
sepuasnya.
"Ayo, iku aku ke sini" katanya
tiba-tiba sambil menarik
tanganku dan membawaku
naik ke atas terus masuk ke
salah satu kamar yang
terletak di sudut penginapan
itu. Aku ikut saja tanpa
kata-kata dan tanpa pikir
panjang. Setelah kami berada
dalam kamar, ia terus
menutup pintunya lalu duduk
di tepi sebuah rosban yang
agak kecil dan sederhana,
bahkan kasurnya biasa-biasa
saja, lagi pula cuma satu
tempat tidur. Dalam hati
kecilku mungkin dari tadi ia
sudah pesan khusus ruangan
ini dan ia nampaknya sudah
tahu keadaan penginapan ini.
"Ayo,,dekat sini donk, jangan
malu-malu, kita khan sudah
sepakat dan sama-sama tahu
apa tujuan kita ke sini, lagi
pula tidak ada orang lain
yang memperhatikan dan
melarang kita berbuat apa
saja dalam kamar ini, karena
kita sudah carter,sudah halal..
ha..ha..ha" katanya sambil
ketawa, karena aku masih
berdiri mengamati gambar-
gambar yang tertempel dalam
kamar itu. Tanpa sepata
katapun, aku ikut bagaikan
kerbau yang dicocok
hidungnya. Terus duduk persis
di sampingnya lalu saling
menatap lagi sambil
tersenyum, tapi tiba-tiba
tangannya merangkul di
leherku dan memelukku erat
sekali dan mencium pipiku
sejenak, lalu ia mundur ke
tembok bersandar dengan
kaki melonjong persis
menyentuh pantatku.
"Bu',..betul...." belum saya
selesai bicara, ia langsung
memotong:
"Aduuuh,,mulai saat ini saya
mohon jangan lagi dipanggil
ibu, panggil saja nama emailku
"Tia" oke,,?" katanya tegas.
"Okelah, bila itu
permintaannya, tapi saya tadi
mau bilang bahwa impian kita
ini betul-betul bisa jadi
kenyataan, padahal
sebelumnya saya tak pernah
yakin ada wanita yang mau
mengubris iklanku..hi..hi"
kataku sambil ketawa dan
gelengkan kepala.
"Kita liat aja nantilah, apa
betul bisa kita buktikan
sesuai komitmen kita semula
atau hanya sekedar impian
belaka, tapi yang penting kita
ketemu dan saya cukup
senang dan bahagia, sekalipun
kau tidak mampu mewujudkan
janjimu semula, aku tetap
siap membayar sewanya
sesuai tawaranmu di internet.
Oh yah,,saya panggil apa
anda sekarang?" katanya
serius dan seolah ingin
membesarkan semangatku.
"Terima kasih atas
pengertiannya bu' eh..Tia.
Panggil saja aku Anis".
"Oh yah,,perlu nga kita masuk
kamar mandi lebih dahulu
atau langsung aja ke inti
permasalahannya" tanya tia
sambil turun dari rosban.
"Saya rasa tidak perlu, kita
khan baru saja mandi di
rumah, lagi pula farfum yang
telah kita semprotkan ke
tubuh kita dan diniatkan,
nanti menghilang
ha..ha"jawabku sambil ketawa.
"Okelah kalau begitu, tapi
bagaimana cara masuk ke inti
permainan? apa saya yang
aktif atau anda atau sama-
sama aja?" tanya Tia serius.
"Gantian atau bersamaan
tidak ada masalah, yang
penting kita coba saja, dan
nanti dengan sendirinya akan
dapat disesuaikan" kata saya
sambil turun dari tempat
tidur dan berdiri berhadap-
hadapan. Mula-mula Tia
melanghkah 1 langkah ke
depan sehingga bersentuhan
antara ujung kakinya dengan
ujung kakiku, lalu
merangkulkan kedua
tangannya ke leherku, lalu
merapatkan badannya ke
badanku, lalu mencium pipi,
bibir dan leherku, sementara
aku terdiam sejenak lalu
memeluk pinggulnya dan
menyambut bibirnya dengan
bibirku, sehingga kami saling
berpagutan dan saling
merangkul erat hingga puas.
Setelah kami saling merangkul
dan menjilati apa yang nikmat
dijilat pada tubuh kami
masing-masing, Tia lalu
mengangkat baju kaos yang
kupakai dan melepaskannya
lewat kepalaku, lalu menjilati
seluruh bagian tubuhku yang
terbuka, mulai dari dahi
sampai ke pusar. Bahkan ia
terus melepaskan ikat
pinggangku dan menurunkan
restelinku, lalu melorotkan
celana panjangku hingga
hanya celana color yang
melekat di tubuhku. Saya
masih terus diam menikmati
apa yang diperbuat Tia
padaku, meskipun tanganku
tetap bergerak mengelus
rambut dan telinga Tia. Tia
nampaknya sangat
pengalaman dalam hal
merangsang laki-laki, sehingga
nampak tidak kebingungan
menghadapiku.
"Nis, maaf yah,, untuk yang
satu ini saya tidak berani
tanpa isin. Boleh nga saya
lepasin juga biar aku lebih
leluasa menjamah seluruhnya"
katanya sambil menengadah
ke atas melihat wajahku
karena ia dalam keadaan
jongkok. Saya hanya
mengangguk tanpa bersuara.
Lalu ia tarik ke bawah pelan-
pelan dengan giginya sehingga
nafas bahkan bibirnya terasa
menyapu kontolku yang sejak
tadi menegang hingga ke
ujung kakiku bahkan seolah ia
sengaja menjilatinya. Saat
celana dalamku terlepas, ia
terus menarikku duduk ke
pinggir tempat tidur,lalu
menarik kedua kakiku sambil
membungkuk lalu menjilati
jari-jarinya hingga terasa
sedikit basah, geli bercampur
nikmat. Aku betul-betul
seolah seperti patung dan
dipermainkan seenaknya, tapi
dalam hatiku biarlah ia aktif
duluan nanti sebentar
giliranku setelah ia kecapean.
"Ahh...uhhh...hhmmm...ssssttt..."
lenguhku kegelian dan
keenakan ketika lidahnya
menyapu pokok pahaku.
Pipinya terasa lengket ke
tongkatku yang mulai
berdenyut. Hangat sekali
rasanya, apalagi nampaknya
Tia sengaja menggerak-
gerakkan pipinya agar aku
bisa menikmatinya.
"ANis,,enak nga dijilatin buah
pelernya?.Tunggu saya jilatin
batangnya, tenang saja, aku
pasti memuaskanmu sebelum
kamu berperan aktif"
katanya sambil melihat
wajahku.
"Iyah..yah Tia, eeenak sekali
sayang,,tapi jangan lama-lama
di situ yach, aku sedikit geli,
pindah-pindah donk, biar
kunikmati semua permainan
lidahmu" kataku merayu agar
ia tidak berhenti.
Aku tak berdaya menolak
perlakuan Tia, ia tiba-tiba
berdiri dan mendorongku ke
belakang sehingga aku
terbaring di atas tempat
tidur dengan kaki tergantung
ke bawah. Tia lalu memegang
tongkatku dan menggocok-
gocoknya sehingga terasa
tambah besar dan keras
serta berdenyut-denyut. Tia
tak menggerakkan tangannya
sejenak mungkin karena ia
ingin menikmati denyutan
batangku. Setelah itu, Tia
membungkuk lalu perlahan ia
arahkan tongkatku ke dalam
mulutnya lalu dimaju
mundurkan mulutnya sehingga
pinggulku bergerak ke kiri
dan ke kanan sebagai tanda
nikmatnya gerakan mulut dan
lidah Tia yang berputar-purat
di antara selangkanganku.
Aku hampir-hampir tidak
mampu lagi menahan gejolak
cairan yang terasa mulai
memaksa mengalir melalui
batang kemaluanku. Demikian
hebatnya cara memainkan
lidah dan mulut Tia terhadap
kontolku, sehingga saya
sering tidak bisa membedakan
lubang memek yang pernah
dimasuki penisku yang
ukurannya normal itu.
"Ti..Tia,,gantian yach, rasanya
jika aku diam terus bisa-bisa
aku kalah KO ini. Aku yang
harus bereaksi lagi dan Tia
harus menerima serangan
pajarku, masa saya terus
yang diserang" pintaku pada
Tia setelah aku mulai merasa
mau KO ia perlakukan seperti
itu. Dalam hatiku, jika aku
melayani terus permainan Tia,
aku bisa malu dan ia merasa
dikecewakan dari
perkataanku dalam email
kalau aku bermodalkan
ketahanan sex. Karena itu
aku harus pakai akal dan
tidak boleh terlalu serius
menuruti aliran nafsuku.
Setelah aku berdiri dalam
keadaan telanjang bulat,
sementara Tia berdiri di
depanku masih berpakaian
lengkap, aku lalu membuka
kancing baju Tia satu persatu
hingga nampak BHnya yang
berwarna putih dan tidak
kutahu ukurannya tapi
tampaknya sedang-sedang
saja. Aku tidak bermain-main
lagi dengan BHnya, melainkan
aku langsung saja membuka
kaitnya dari belakang
sehingga aku sempat memeluk
dan mencium bibirnya sejenak.
Setelah lepas, aku langsung
memainkan mulut dan lidahku
pada puting susunya yang
sedikit padat dan empuk
serta terasa agak hangat.
Mungkin karena sejak tadi Tia
juga teramgsang, sehingga
belum lama aku pegang dan
isap putingnya, ada terasa
manis keluar dari dalamnya.
Putingnya indah sekali, warna
agak merah kecoklatan
tertancap di kedua buah
kembar yang putih bersih.
Ingin rasanya kutelan
semuanya seperti kue Fawa
dan seperti bola karet yang
digigit sedikit melenting.
"Nis,,silahkan aja beraksi
sesuai keinginanmu,aku siap
terima semuanya" katanya
terus terang. Setelah puas
memainkan mulutku di bukit
kembarnya itu, lalu kujilati
seluruh tubuhnya hingga ke
pusar, lalu kubuka kait dan
restelin celananya hingga
terlepas dari tubuhnya.
Tinggallah saat ini celana
dalam tipisnya yang berwarna
kuning dengan pinggiran yang
berbunga-bunga. Aku berlutut
mencium dan menjilat sejenak
kedua bibir vaginanya dalam
keadaan terbungkus. Tapi
rasanya sudah basah dan
terasa bau khasnya. Mungkin
air mazi alias pelicinnya yang
keluar sejak tadi. Aku
langsung buka saja hingga ia
betul-betul telanjang bulat.
Setelah kelihatan
semua,nampak bulu-bulunya
yang baru dicukur sesuai
saranku lewat email. Tapi
justru duri-durinya yang
agak kasar itu membuatku
semakin terangsang. Tanpa
persetujuannya, aku langsung
dorong tubuhnya ke belakang
hingga ia duduk di tepi
rosban. Ia mengerti
keinginanku.
Tanpa aba-aba, kedua
pahanya sedikit terbuka
sehingga kelentitnya yang
sedikit hitam tapi masih indah
dan keras serta sedikit
mengkilap karena basah itu
jelas kelihatan. Bersamaan itu
pula ia rebahkan tubuhnya ke
kasur dengan kaki terjulang
ke bawah. Aku semakin
leluasa menjamahnya. Aku
menindih tubuhnya yang
telanjang,mencium bibir, mulut
dan kedua bibir vagina serta
kelentitnya, sehingga ia
berdesis-desis.
"Nis,,aku udah nga tahan
nih,,percepat dikit
mainnya,biar cepat selesai
ronde pertama, khan masih
ada ronde berikutnya,jika
perlu kita bermalam di sini
aja" Bisiknya ketika dengan
lincah memainkan lidahku ke
dalam lubang vaginanya.
Ketika kugigit sedikit
kelentitnya, ia bergoyang
seperti goyangan dangdutnya
Inul Daratista sewaktu di
panggung.
"Tenang aja sayang,,,aku
pasti memuaskanmu sesuai
janjiku. Jika tidak, kamu pasti
tidak mau lagi berhubungan
sex denganku yah khan?"
kataku sambil diam sejenak
dan tetap menindih tubuhnya.
"Ayo Nis,,masukin cepat
penismu itu,aku dari tadi
merindukan gerakannya dalam
memeku..hhmm..auhh..ssttt"pintanya
sambil melenguh dan
mengangkat pinggulnya
sampai menyentuh ujung
penisku. Tanpa kuarahkan
dan kubuka kedua bibir
paginanya, ujung penisku
sudah menancap ke lubang
memeknya yang basah,
sehingga desahan nafasnya
sulit ia sembunyikan. Penisku
masuk ke lubangnya secara
perlahan tanpa aku
menekannya. Sedikit demi
sedikit bergerak masuk
hingga hampir amblas
semuanya.Itu terjadi karena
Tia mengangkat tinggi-tinggi
sambil menggoyang pantatnya
ke kiri dan ke kanan, apalagi
ia melingkarkan kedua
kakinya ke pinggangku.
Karena aku sendiri sudah
tidak tahan berlama-lama,
maka secara otomatis pula
aku menekan agak keras
sehingga batangku amblas
seluruhnya dan terdengar
suara aneh "decik...
decakk...decukk.."silih berganti
dengan suara nafas kami
yang terputus putus.
"Uhhh..aahhh...hhmmm...auhhh..aihh..ssstt...eee..n
aaakkk sekali sayang, gocok
terusss..."suara Tia terdengar
ketika kpercepat gerakan
maju mundurku. Rasanya mulai
ada kembali desakan cairan
hangat dari dalam, namun
saya tidak tahu apa hal
seperti itu juga dirasakan
oleh Tia. Tapi yang jelas
tangan Tia selalu bergerak
menarik rambut dan
pinggangku seolah ia tidak
mampu lagi menunggu puncak
permainan kami. Untung saja
cairanku tertahan karena Tia
tiba-tiba menarik tubuhku
naik ke ranjang lalu memutar
badannya sehingga aku
terpaksa tinggal di bawahnya.
Dengan gesitnya berputar
tanpa melepas ujung penisku
dari memeknya,ia lalu jongkok
dan menghentak pantatnya
naik turun. Penisku sedikit
perih dijepitnya namun
nikmatnya lebih besar. Ketika
ia memutar pinggulnya seperti
joget ngebornya Inul, aku
semakin sulit pertahankan lagi
modal sex yang kujanjikan.
Kami sama-sama basah kuyub
akibat keringat.
Bukit kembar Tia bergerak
indah sekali ketika ia
terengah-engah bagai orang
naik kuda lumping.
Gerakannya cepat sekali, lalu
tiba-tiba ia balikkan tubuhnya
sampai aku kembali di atas
mengangkanginya tanpa
melepaskan sedikitpun penisku
dari memeknya. Aku berusaha
menyelesaikan permainan
dalam posisi ini. Kupercepat
gerakanku dan kuangkat
kedua kakinya bersandar ke
bahuku lalu kugocok terus
memeknya hingga ia berteriak
sedikit histeris. Bersamaan
dengan itu pula aku
merasakan cairan hangat
yang sejak tadi mau keluar
sudah berada dekat ujung
penisku. Tiapun terasa agak
gemetaran dan merangkulku
dengan keras dan sempat
menggigit leherku. Aku tahu
kalau ia sudah dipuncak
orgasme. Aku berusaha
menumpahkan spermaku
secara bersamaan dalam
rahimnya, sebab kutahu
persis wanita yang mau
mencapai orgasme. Ternyata
betul, aku berhasil dan aku
tidak takut akan akibatnya
karena Tia punya suami dan
tidak bakal timbul kecurigaan
jika ia hamil lagi setelah
beberapa kali melahirkan.
Tanpa sepata katapun, kami
saling menatap dan
tersenyum,lalu tergeletak di
kasur dengan telanjang bulat.
Kami tidur pulas
sekali.Mungkin karena capek
dan puas, apalagi beberapa
malam sebelumnya aku
kurang tidur. Kami terbangun
ketika jam 5.00 tanpa ada
rasa lapar padahal kami main
sejak jam 9.00 sampai jam
12.00 tadi. Kami hanya pesan
makanan melalui petugas
penginapan sebab kami takut
keluar kamar nantiaada yang
kenal kami. Kami sepakat
bermalam saja, lagi pula suami
Tia lagi keluar kota mengurus
bisnisnya dan anak-anaknya
tinggal bersama pembantu di
rumah dengan alasan ia mau
tugas keluar kota bersama
dengan pimpinan kantor. Usai
mandi, kami lalu menyantap
makanan yang telah kami
pesan sebelum mandi. Usai
makan, kami kembali
bertarung dengan posisi dan
model sex macam-macam
sesuai pengalaman kami
masing-masing hingga larut
malam lalu kami tertidur dan
bangun lagi melanjutkan
dengan sisa-sisa modal
kekuatan yang masih kami
miliki masing-masing.
Pembaca yang budiman, tidak
sempat kuceritakan secara
rinci posisi dan model sex
yang kami terapkan
sepanjang malam itu,malah
sewaktu di kamar mandi,
karena rasanya cerita ini
sudah terlalu panjang. Aku
berusaha lanjutkan lain
waktu, termasuk wanita
kedua yang juga berminat
menyewa modalku. Bahkan
ceritanya lebih seruh lagi,
karena usianya di atas 60
tahun dan memeknya tidak
berbulu sama sekali. Aku tidak
perlu cerita berapa sewa
yang kuterima,tapi yang jelas
lebih dari yang kuperkirakan,
bahkan aku justru ketagihan,
sehingga tanpa dibayarpun
rasanya aku rela dan
memang beberapa kali kami
lakukan tanpa minta sewa
modal.