PDA

View Full Version : Mojang Bandung


knock
10-10-2015, 05:58 AM
eberapa tahun lalu ketika
perusahaan tempatku bekerja
mendapatkan kontrak suatu
proyek pada sebuah BUMN
besar di Bandung, selama
setahun aku ngantor di
gedung megah kantor pusat
BUMN itu. Fasilitas di gedung
kantor ini lengkap. Ada
beberapa bank, kantor pos
dan kantin. Kantorku di lantai
3, di lantai 1 gedung ini
terdapat sebuah toko milik
koperasi pegawai BUMN ini
yang menyediakan kebutuhan
sehari-hari, mirip swalayan
kecil. Ada 3 orang pegawai
koperasi yang melayani toko
ini, 2 diantaranya cewek.
Seorang sudah berkeluarga,
satu lagi single, 22 tahun,
lumayan cantik, putih dan
mulus, mungil, sebut saja Sari
namanya.
Awalnya, aku tak ada niat
aEsmenggangguaEt Sari, aku ke
toko ini karena memang
butuh makanan kecil dan
rokok. Sari menarik
perhatianku karena paha
mulusnya aEsdiobralaEt. Roknya
selalu model mini dan cara
duduknya sembarangan. CD-
nya sempat terlihat ketika ia
jongkok mengambil dagangan
yang terletak di bagian
bawah rak kaca etalase. Aku
jadi punya niat
mengganggunya (dan tentu
saja ingin menyetubuhinya)
setelah tahu bahwa Sari
ternyata genit dan
omongannya aEsnyrempet-
nyrempetaEt. Niatku makin
menggebu setelah Sari tak
menunjukkan kemarahan
ketika beberapa kali aku
menjamah paha mulusnya dan
bahkan sekali aku pernah
meremas buah dadanya.
Paling-paling ia hanya menepis
tanganku sambil matanya
jelalatan khawatir ada orang
yang melihatnya. Tentu ini
ada aEsongkosnyaaEt, yaitu aku
tak pernah minta uang
kembalian.
Agar bisa bebas menjamah,
aku pilih waktu yang tepat
jika ingin membeli sesuatu.
Ternyata pada pagi hari
ketika toko baru buka atau
sore hari menjelang tutup
adalah waktu-waktu aEsamanaEt
untuk mengganggunya.
Kenakalanku makin meningkat.
Mulanya hanya mengelus-elus
paha, kemudian meremas
buah dada (masih dari luar),
terus menyusupkan tangan
ke BH (kenyal, tak begitu
besar sesuai dengan
tubuhnya yang sedang), lalu
menekan-nekan penisku yang
sudah tegang ke sepasang
bulatan pantatnya yang
padat. Bahkan Sari sudah
aEsberaniaEt meremas penisku
walau dari luar. Entah kenapa
Sari mau saja kuganggu.
Mungkin karena aku memakai
dasi sehingga aku dikiranya
manager di BUMN ini, padahal
aku hanya staf biasa di
perusahaanku. Aturan
perusahaan memang
mengharuskan aku pakai dasi
jika kerja di kantor klien.
Aku makin penasaran. Aku
harus bisa membawanya,
menggeluti tubuhnya yang
padat mulus, lalu merasakan
vaginanya. Mulailah aku
menyusun rencana.
Singkatnya, Sari bersedia
kuajak aEsjalan-jalanaEt setelah
jam kerjanya, pukul 5 sore.
Tentang waktu ini menjadi
masalah. Walaupun jam kerja
resmiku sampai pukul 17, tapi
aku jarang bisa pulang tepat
waktu. Seringnya sampai jam
19 atau 20. Aku coba
menawar jamnya agak malam
saja. Tak bisa, terlalu malam
kena marah mamanya,
katanya. Okelah, nanti cari
akal mencuri waktu. Pada hari
yang telah disepakati, Sari
akan menunggu di jalan aEsDaEt
pukul 17.10. Dari kantor ke
jalan aEsDaEt memang makan
waktu 10 menit jalan kaki.
Pukul lima seperempat aku
sudah sampai di jalan D.
Kulihat Sari berdiri di tepi
jalan, tapi tak sendirian. Bu
Maya (sebut saja begitu)
kawan sekerjanya yang telah
berkeluarga ada di
sampingnya. Celaka. Tadi Sari
bilang sendirian. Kalau bawa
orang lain bisa terbongkar
belangku oleh kawan kantor.
Hal ini sangat kuhindari.
aEsBu Maya cuma mau nebeng
sampai halteaEt, kata Sari
seolah mengetahui
kekhawatiranku. Syukurlah.
Tapi, peristiwa ini harusnya
tak seorangpun boleh tahu.
aEsTenang aja Mas.., rahasia
dijamin, ya SariaEt, kata Bu
Maya sambil mengedip penuh
arti.
Setelah menurunkan Bu Maya
di halte, aku langsung
mengarah ke Setia Budi. Kalau
sudah ada cewek duduk di
sampingku, seperti biasa
mobilku langsung cari hotel,
wisma, guest-house, atau
apapun namanya yang
bertebaran di daerah Setia
Budi. Daerah yang sudah
beken di antara para
peselingkuh, sebab sebagian
besar tempat-tempat tadi
menyediakan tarif khusus,
tarif aEsistirahataEt antar 3-6
jam, 75 % dari room-rate.
Sari membiarkan tanganku
mengelus-elus pahanya yang
makin terbuka ketika duduk
di mobil. Penisku mulai bangun
membayangkan sebentar lagi
aku bakal menggeluti tubuh
mulus padat ini.
aEsKe mana Mas..aEt, tanya Sari
ketika aku menghidupkan
lampu sein ke kanan mau
masuk ke Hotel GE.aEtKita cari
tempat santai..aEt,
jawabku.aEtJangan ah. Lurus
ajaaEt.
aEsKe mana..aEt, aku balik
bertanya.
aEsKata Mas tadi mau jalan-
jalan ke Lembang..aEt.
Aku jadi ragu. Selama ini Sari
memberi sinyal aEsbisa dibawaaEt,
tapi sekarang ia menolak
masuk hotel. Tanganku
kembali ke pahanya, bahkan
terus ke atas meraba CD-
nya. aEsIh, Mas.., dilihat orangaEt,
sergahnya menepis tanganku.
Memang pada waktu yang
bersamaan aku menyalip
motor dan si pembonceng
sempat melihat kelakuan
tanganku.
Kami sampai di Lembang. Aku
bingung. Tadi sewaktu aku
mau belok kiri ke Hotel aEsKhaEt
lagi-lagi Sari menolak. Mau
ngapain di Lembang? Ke
Maribaya? Ah, itu tempat
wisata, susah untuk
aEsbegituanaEt. Lebih baik mampir
dulu buat minum sambil
mengatur taktik.
aEsKita minum dulu ke sini,
ya..?aEt, ajakku untuk mampir
di tempat minum susu segar
yang biasa ditongkrongi
anak-anak muda.
aEsMau minum susu? Engga.., ah.
Mendingan minum susu Sari
aja..aEt. Aku tak heran,
bicaranya memang suka
aEsnyrempetaEt.
aEsBoleh..aEt, kataku sambil
memindahkan tanganku dari
paha ke belahan kemejanya,
menyusup ke balik BH-nya,
meremas. Tak ada penolakan.
Daging bulat yang aE~mengkalaE?.
Tak begitu besar tapi padat.
Puting yang hampir tak
terasa, karena kecil. Celanaku
terasa sesak. Sampai di
perempatan aku harus ambil
keputusan mau ke mana?
Lurus ke Maribaya. Kanan
kembali ke Setia Budi. Kiri ke
arah Tangkuban Perahu.
Kulepas tanganku dari aEssusu
segaraEt Sari, aku belok kiri.
Tangan Sari kuraih
kuletakkan di
selangkanganku, lalu
tanganku kembali ke susu
segarnya. Tangannya memijit-
mijit penisku (dari luar).
Berbahaya sebenarnya.
Kondisi jalan yang penuh
tikungan dan tanjakan
sementara konsentrasi tak
penuh.
Hari mulai gelap, aku belum
menemukan solusi masalahku,
di mana aku akan menggumuli
Sari? Di tepi kanan jalan ke
arah Tangkuban Perahu itu
banyak terdapat kedai-kedai
jagung bakar. Kubelokkan
mobilku ke situ, mencari
tempat parkir yang mojok
dan gelap.
aEsMau makan jagung?aEt,
tanyanya.
aEsIyaaEt, jawabku. Makan
aEsjagungaEt-mu.
Kuperiksa keadaan sekeliling
mobil. Gelap dan sepi. Segera
kurebahkan jok Sari sampai
rata, kuserbu bibirnya. Sari
menyambut dengan permainan
lidahnya. Tanganku kembali
meremasi bukit kecil kenyal
itu sambil secara bertahap
mencopoti kancing kemejanya.
Sari melepaskan ciuman,
bangkit, memeriksa sekeliling.
aEsJangan khawatir.., amanaEt,
kataku.
aEsMau minum susu..?aEt,
tawarnya. Tawaran yang naif,
sebab jawabannya begitu
jelas. Sari menarik sendiri
sepasang aE~cupaE?-nya ke atas
sehingga sepasang bukit putih
itu samar-samar tampak.
Dengan gemas kulumat habis-
habisan buah dadanya.
Sekarang tonjolan putingnya
lebih jelas, karena mengeras.
Tanganku menyusup ke balik
CD-nya. Rambut kelaminnya
yang tak begitu lebat itu
kuusap-usap. Sementara
ujung telunjukku memencet
clitorisnya.
aEsaahhaEt, desahnya.
Tangannya kutuntun ke
selangkanganku. Ia meremas.
aEsBuka kancingnya Sar..aEt Sari
menurut, dengan agak susah
ia membuka kancing, menarik
ritsluiting celanaku dan
aEsmengambilaEt penisku yang
telah keras tegang.
Beberapa menit kami
bergumul dengan cara begini.
Sampai ketika ujung jariku
mulai masuk ke aEspintuaEt
vaginanya, Sari berontak,
bangkit, lagi-lagi men-cek
keadaan. Di depan terlihat 2
orang pejalan kaki menuju ke
arah kami. Sari cepat-cepat
mengancingkan kemejanya,
kutangnya belum sempat
dibereskan. Sementara aku
kembali ke tempatku. Penisku
masih kubiarkan terbuka
berdiri tegak. Toh tidak akan
kelihatan. Kami berlagak
aEsalimaEt sampai kedua orang itu
lewat. Kembali kami bergumul.
Keteganganku yang tadi
sempat turun oleh
aEsgangguanaEt orang lewat, kini
naik lagi. Pintu vagina Saripun
sudah basah. Saatnya untuk
mulai. Kupelorotkan CD Sari.
Tapi, masa kutembak di
mobil? Rupanya Sari
berpikiran sama.
aEsJangan.., Mas.., banyak
orang..aEt
aEsMakanya.., kita cari tempat,
ya..aEt
Sari berberes sementara aku
menstart mobil. Aku menyetir
dengan posisi penisku tetap
terbuka tegang.
aEsSi joni udah engga tahan
ya..aEt, goda Sari.
aEsIyyaa.., sini..aEt, kuraih
tangannya menuju ke penisku.
Dielus-elus.
Tempat terdekat yang sudah
kukenal adalah Hotel aEsKhaEt,
sedikit di bawah Lembang.
Dari jalan raya kubelokkan
mobilku masuk ke lorong jalan
khusus ke hotel Kh.
aEsHee.., stop.., stop Mas..aEt,
serunya.
aEsLho.., kita aE~kan cari
tempat..aEt, aku menginjak rem
berhenti. Sari diam saja.
aEsDi sini aman, deh Sar..aEt.
aEsUdah malem.., Mas.., Lain kali
aja ya?aEt, Aku mulai jengkel. Si
aEsJoniaEt mana mau mengerti
lain kali.
aEsAyolah.., Sar, sebentar aja,
sekali aja..aEt.
aEsMaaf Mas, lain kali saya mau
deh.., bener. Sekarang udah
kemaleman. Saya takut
dimarahin MamaaEt, Aku diam
saja, jengkel.
aEsBener.., Mas. lain kali saya
mau..aEt, katanya lagi
meyakinkanku.
Aku mengalah, toh masih
banyak kesempatan. Aku
kembali menuju Bandung.
Kira-kira 100 m sebelum hotel
GE, kembali aku membujuk
Sari untuk mampir. Lagi-lagi
Sari menolak sambil sedikit
ngambek. Aku terus tak jadi
mampir.
Sampai di jalan lurus
menjelang terminal Ledeng,
macet sekitar seratusan
meter. Tempat ini memang
biasa macet. Selain keluar/
masuknya angkot, juga ada
pertigaan jalan Sersan Bajuri.
Iseng mengantre, kuambil
tangan Sari ke penisku yang
masih belum aEskusimpanaEt, Sari
menggosoknya. Lepas dari
kemacetan tiba-tiba Sari
memberi tawaran yang
nikmat.
aEsMau dicium..?aEt.
aEsDengan senang hatiaEt.
Segera saja Sari membungkuk
melahap penisku yang sudah
tegang lagi. Kepalanya naik
turun di pangkuanku.
Nikmatnya.., Baru kali ini aku
menyetir sambil dikulum. Aku
memperlambat jalan mobilku,
menikmati kulumannya sambil
mata tetap mengawasi
kendaraan lain. Sementara
rasa nikmat menyelimuti
bawah badanku, deg-degan
juga dengan kondisi yang
aEsanehaEt ini. Sampai di
pertigaan jalan Panorama
macet lagi. Situasi ramai.
Kuminta Sari melepas
kulumannya, banyak orang
lalu-lalang. Lepas dari
kemacetan kembali Sari
memainkan lidahnya di leher
penisku. Ada untungnya juga
jalanan macet. Aku punya
waktu untuk menurunkan
tensi sehingga bisa bertahan
lama. Oohh.., sedapnya lidah
itu mengkilik-kilik leher dan
kepala kelaminku. Nikmatnya
bibir itu turun naik menelusuri
seluruh batang penisku.
Sayangnya, aku harus
membagi konsentrasiku ke
jalan.
Menjelang pertigaan
Cihampelas Sari melepas
jilatannya, bangkit melihat
sekeliling.
aEsSampai di mana nih?aEt,
tanyanya terengah.
aEsHampir CihampelasaEt, jawabku.
aEsMampir ke Sultan Plaza.., ya
Mas..aEt.
aEsMau ngapain?aEt.
aEsMama tadi pesanaEt.
Okey, mendadak aku ada ide
untuk melepaskan
ketegangan selepas-lepasnya
tanpa terpecah konsentrasi.
Aku masuk ke Plaza, cari
tempat parkir yang aman, di
belakang bangunan. Sengaja
kupilih tempat yang gelap.
Kucegah Sari membuka pintu
hendak turun.
aEsOh ya.., sini Sari rapiinaEt.
Kutarik kepala Sari begitu ia
membungkuk akan merapikan
celanaku.
aEsTerusin.., Sar..aEt, perintahku.
Sari bangkit lagi. Kukira ia
mau menolak, tahunya hanya
melihat sekeliling. Aman.
Kembali kepala Sari turun-
naik mengulum penisku. Kini
aku bisa konsentrasi ke rasa
nikmat di ujung penis. Sari
memang pintar berimprovisasi.
Kelihatannya ia sudah biasa
ber-oral-seks. Lidahnya tak
melewatkan seincipun batang
kemaluanku. Kadang ditelusuri
dari ujung ke pangkal,
kadang berhenti agak lama di
aEsleheraEt. Kadang bibirnya
berperan sebagai aEsbibiraEt
bawahnya, menjepit sambil
naik-turun. Terkadang nakal
dengan sedikit menggigit. Aku
bebas saja mendesah,
melenguh, atau bahkan
menjerit kecil, tempat parkir
yang luas itu memang sepi.
Ketika mulutnya mulai
melakukan gerakan
aEshubungan kelaminaEt, perlahan
aku mulai aEsnaikaEt, rasa geli-
geli di ujung sana semakin
memuncak. Saatnya segera
tiba.
aEsDicepetin.., Sar..aEt. Sari
bukannya mempercepat,
malah melepas.
aEsUh, pegel mulut saya..aEt.
aEsSebentar lagi.., Sar..aEt.
Kembali ia melahap. Kali ini
gerakan kepalanya memang
cepat. Aku menuju puncak.
Sari makin cepat. Sebentar
lagi.., hampir..! Sari
mempercepat lagi, sampai
bunyi. Hampir.., hampir.., dan
aEsCreettaEt, Kusemprotkan
maniku ke dalam mulut Sari.
Aku melayang.
aEsUuhhaEt Sari melepaskan
kulumannya, aEsCrot..aEt, kedua
dan seterusnya ke celana
dan perutku.
aEsIihh.., engga bilang mau
keluar.., jijik..aEt, katanya sambil
mencari-cari tissu.Aku rebah
terkulai. Sementara Sari
membersihkan mulutnya
dengan tissu.
Beberapa saat kemudian.
aEsYuk.., Mas.., turunaEt.
aEsEntar dong..aEt, Aku bersih-
bersih diri. Celaka, noda yang
di celana tak bisa hilang.
aEsKamu sendiri dehaEt.
aEsSama Mas dong..aEt.
aEsIni.., engga bisa ilangaEt,
kataku sambil menunjuk noda
itu.
aEsBajunya engga usah
dimasukinaEt, sarannya. Betul
juga.
Akhirnya aku membayar
belanjaan Sari. Aku diminta
ikut belanja karena
maksudnya memang itu. Aku
juga memberinya uang
dengan harapan agar lain kali
bisa kusetubuhi.
Esoknya ketika aku membeli
rokok, Sari kelihatan biasa
saja tak berubah. Masih genit
dan sedikit manja. Peristiwa
semalam tak mengubah
prilakunya. Aku yang makin
penasaran ingin menidurinya.
Pernah suatu pagi sekali
tokonya belum buka tapi Sari
sudah datang sendirian
sedang merapikan barang-
barang, kukeluarkan penisku
yang sudah tegang karena
sebelumnya meremas
dadanya. Kuminta Sari
mengulumnya di situ.
aEsGila..! entar ada orangaEt.
aEsBelum ada.., ayo sebentar
ajaaEt.
Diapun mengulum sambil was-
was. Matakupun jelalatan
memperhatikan sekeliling.
Kuluman sebentar, tapi
membuatku exciting.
Setiap ada kesempatan untuk
pulang jam 5, aku selalu
mengajak Sari. Beberapa kali
ia menolak. Macam-macam
alasannya. Sedang mens, mau
ngantar adik, ditunggu
mamanya. Sayang sekali,
sampai Sari pindah kerja aku
tak berhasil menidurinya.
Tapi kemarin, setelah hampir
2 tahun, aku ketemu Sari di
BIP berdua dengan teman
cewek. Dia rupanya sudah
tidak bekerja di toko
koperasi itu lagi, sekarang
kerja di Bagian Administrasi di
sebuah Guest House. Jelas
aku mencatat nomor
teleponnya. Letak tempat
kerjanya tak jauh dari
kantor itu. Hanya,
kemungkinan ketemu kecil,
sebab proyekku di kantor itu
telah selesai. Aku penasaran!
Tamat