PDA

View Full Version : Yang Penting Rasanya Bung!


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Sinopsis: Setiap Wanita
Pemijat mempunyai
keistimewaan masing-masing.
Bila yang cantik sudah
banyak menerima tamu,
cobalah yang belum laris.
Anda juga akan dikenalkan
dengan istilah Toge Pasar.
Apa tuh? Silahkan baca cerita
di bawah ini. Dijamin asyik dan
lucu!
Musim hujan telah mulai dan
Jakartapun mulai dengan
banjirnya. Macet ada di
mana-mana. Tanpa sadar aku
terjebak kemacetan di jalan
Radio Dalam. Wah, kalau
nggak sabar bisa emosi nih,
apalagi bila pedal koplingku
cukup keras. Seharusnya aku
belok kiri arah LB. Segera
aku belokkan ke arah kanan
menuju KL. Biasa, ke tempat
menghilangkan "tekanan"
yang ada di tubuhku, selagi
kemacetan di mana-mana.
Segera ku parkirkan gerobak
tuaku. Tampak cukup banyak
mobil yang di tempat parkir.
Melihat kondisi seperti ini,
kemungkinan besar sekitar
jam 1200-1400 (SAL/sex after
lunch) dan 1600-1800
(nunggu sepinya jalan pulang)
merupakan jam kencan,
sedangkan untuk tangggalnya
berkisar 27-10 (tanggal
gajian???). Segera aku ke
ruang resepsionis.
"Selamat malam pak," sapa
mbak Yxxx, dengan
senyumnya yang khas.
"Malam juga," jawabku.
"Dengan siapa pak? Ini yang
baru namanya Nxxx," katanya
dengan membuka album yang
ada di meja dan membalikkan
halaman terakhir. Karena
setiap aku ke sini selalu aku
berikan tip, jadi tanpa tanya
aku sudah diberikan semacam
"special offer".
Kuperhatikan wajahnya.
Memang cukup cantik, tapi
melihat jam segini, biasanya
yang cantik sudah cukup lelah
kerja. Saking banyaknya
pesanan, paling tidak sudah
dua atau tiga tamu. Kalau
satu tamu minta nambah
rata-rata sekali, artinya
minimal satu tamu dua kali
main. Kan tinggal hitung,
sudah berapa operation-
hour-nya? (padahal kalau
sama pasangannya, untuk
nambah aja alasan capek,
tapi kalau sama WP bisa lebih
dari satu kali.) Kalau tamu
lain kemungkinan akan
disodorkan WP yang belum
dapat tamu dari tadi siang,
tapi karena aku mendapatkan
"special offer", jadi punya
"right" untuk memilih,
walaupun WP yang aku pilih
sudah dapat tamu banyak.
"Mbak, ada nggak yang belum
mendapatkan tamu seharian?"
tanyaku, untuk mencoba
'menu' lainnya, yakni memilih
WP yang masih bertenaga
dan penuh harap untuk
mendapatkan tamu dari tadi
siang.
"Ada. Mbak Axx dan mbak
Rxxx," jawabnya.
"Ciri-cirinya gimana?" tanyaku
lagi.
"Kalau mbak Axx memang bisa
pijat beneran dan sedikit
berumur. Kalau mbak Axx
orangnya kecil, masih muda,
Sunda, baik orangnya,"
jawabnya lagi.
"Ya iya lah mbak. Kalau nggak
baik ya ke Cipinang nemenin
temannya Ricardo Gelael,"
jawab ku.
Dianya senyum aja
menanggapi candaku.
"Ya sudah, saya pilih mbak
Rxxx. Saya langsung ke
kamar yah," jawabku. Dia
nggak menanyakan kamar vip
atau regular, sebab dia sudah
tahu "kebiasaanku".
Dengan diantar roomboy saya
langsung menuju kamar.
Waduh, my favourite room
sudah terisi. Yah, terpaksa
dapat sisa yang ada di bagian
pojok belakang. Dengan masih
mengenakan pakaian lengkap
saya duduk di kursi plastik
biru yang ada. Roomboy
menutup tirai kamar.
"Selamat malam pak," sapa
mbak Rxxx.
"Malam mbak," jawabku. Dia
meletakkan peralatan
standard-nya (sprei baru,
handuk, sabun, kimono) ke
tempat tidur, kemudian
mengambil sepatuku untuk
diletakkan di bawah tirai
penutup kamar (sebagai
tanda bahwa kamar ini ada
isinya/agar jangan salah
kamar, karena sepatu
merupakan id-room, kalau
nanti ke kamar mandi).
Karena meletakkannya sambil
nungging, jadi rok span
ketatnya ketarik. Nampak
celana dalam warna hijau
muda. Kemudian meletakkan
pantatnya di atas kasur.
Beberapa saat setelah duduk
tampak cd warna hijau muda
bordiran tepat di bagian garis
"penalty" banyak lubang
seperti kain kasa, dan...
"Ke sini sama temannya,
pak?" tanya nya, sebab aku
masuk ke kamar bersamaan
dengan orang lain sehingga
saat memanggil WP di kamar
kerja terdengar dua nama
WP. Ini merupakan
"her_std_qst".
"Nggak. Sendirian," jawabku,
sambil memandangnya.
"Sudah pernah ke sini?"
tanyanya lagi, sambil
membuang muka, melihat ubin,
yang bentuk dan jumlahnya
selalu sama.
"Belum," jawabku. Sekali-kali
boleh dong bohong. Sambil
tetap memandangnya,
ternyata ada juga toh Sunda
yang nggak putih, dalam
hatiku (bukan hitam, tolong
dibedakan). Tampak wajahnya
masih meninggalkan "sisa-sisa"
kecantikannya.
"Gimana pak, mau dipijat
apa ... ?" tanyanya tidak
diteruskan, tapi malah
tersenyum. Mengingat di
sebelah kamar terdengar
suara mendesis dan suara
seperti tepukan tangan (lebih
tepatnya beradunya empat
pangkal paha/ kan satu
orang punya dua).
"Aku mau seperti yang di
sebelah," jawabku.
"Ya siapa takut," jawabnya
segera, dan turun dari
tempat tidur menghampiriku
untuk mencoba
merangsangku. Wah, nggak
sabaran nih!!.
"Tolong kamu duduk aja dulu
di tempat tidur."
Sambil kuperhatikan
wajahnya, kali ini dia
memandang ke atas, yang
jelas tidak menghitung jumlah
kotak yang ada di plafon.
Karena urat leher ketarik,
nampak bahwa dia tidak
menggunakan bra, sebab
terlihat putingnya. Mungkin ini
strateginya untuk memancing
hasrat tanpa menyentuhku.
Kalau pemula mungkin dari
tadi nih WP sudah ditabrak.
Tapi dia bukan tipe
togepasar; TOket GEde
PAntat beSAR; aku sedikit
bingung dengan tubuh wanita;
kalau pantatnya besar
kadang perutnya ikut-ikutan
besar alias jibrut,.
"Kamu udah berkeluarga?"
tanyaku, keluar juga deh
'my_std_qst'
"sudah, tapi cerai"
tatapannya ke arahku, tapi
tidak lama, ke bawah lagi.
"punya anak" tanyaku lagi
"sudah satu" jawabnya,
dengan tatapan tetap ke
bawah
"umur berapa?" tanyaku
"empat tahun" jawabnya
"umurmu berapa" tanyaku
"dua puluh lima" jawabnya,
sambil memandangku lagi
dengan sorot mata yang
tenang tanpa 'kedip', nampak
wajahnya lebih tua dari
usianya, atau mungkin ingin
memudakan usia, tapi kalau
melihat sorot matanya dan
ketenangannya tak nampak
bahwa dia membohongiku.
"aslinya mana?" tanyaku
"sukabumi" jawabnya
"gimana ramai tamunya, kan
tanggal muda" tanyaku lagi
"yah ramai sih mas, tapi buat
yang dapat tamu" jawabnya
"kalau kamu sendiri gimana"
tanyaku
"saya baru dapat ya mas ini"
jawabnya, wah untuk
membuktikan kita perlu cek
fisik, tapi nanti!!, wah
panggilan sudah berubah dari
'pak' ke 'mas', membuat aku
jadi lebih muda aja, atau
membuat suasana menjadi
lebih akrab.
"coba kamu ke sini" panggilku,
dia menghampiriku dan
berusaha mendekatkan bd ke
wajahku sambil tangannya
menggapai saklar lampu,
mungkin kurang pd.
"tolong, jangan di matikan
lampunya" ucapku, dia
menarik kembali tangannya
setelah dia mundur beberpa
centi, aku perhatikan di
kantong blazer, sebelah kiri
ada body-lotion dan dua
karet pelampung, habis
bentuknya di gulung dan
berbentuk seperti pelampung,
sutra dengan warna millenium,
sebelah kanan kotak kecil
kosmetik dan selembar uang
$20.
"kenapa karetnya koq bawa
dua?" tanyaku
"iya kalau nanti tamunya
minta nambah kan nggak
bolak balik ke belakang"
jawabnya
"kalau itu yang di botol buat
apa" tanyaku, seperti pemula.
"buat tamu yang nggak
pengen main, Cuma dikocokin
aja" jawabnya
"kamu bawa uang, apa nggak
takut kalau kamu lagi
kebelakang, terus diambil
sama tamunya yang iseng"
"ya pasrah aja, mas"
"buat apa sih bawa uang,
buat kembalian" candaku
"bisa aja mas, nggak buat
pegangannya aja" jawabnya,
seperti menyembunyikan
sesuatu
"ada yang pernah bilang sama
saya kalau belum dapat tamu,
maka diletakkan uang sebagai
pancingan agar mendapatkan
tamu, bener nggak sih?"
tanyaku
"nah, tuh udah tahu nanya !!"
jawabnya sambil tersenyum
malu, wah kalau gitu nggak
perlu cek fisik, ini sudah
terbukti, kadang dengan
guyon, kejujuran akan
tampak.
"mbak pernah ke pasar
tradisional nggak?" tanyaku,
buat ngeledek dia
"pernah lah, masak ibu rumah
tangga nggak pernah"
jawabnya, bener juga walau
profesi wp, tetap dia sebagai
ibu rt sekaligus komandan rt
(kan janda)
"pernah nggak lihat pedagang
yang sedang jualan kalau
belum laku, terus kalau
dagangannya laku pertama
kali, apa yang dia kerjakan?"
tanyaku lagi
"apa yah, yah senenglah"
jawabnya
"ya itu kan perasaannya, tapi
yang dikerjakan apa" cecarku
"nggak tahu" jawabnya
singkat
"dia akan memukulkan uang
yang didapat ke semua
barang dagangannya"
jawabku
"terus" tanyanya bingung
"nah kalau kamu apa yang
kamu lakukan, apa seperti
pedagang tadi, memukulkan
uang ke sini, ke sini, dan ke
sini" tanyaku sambil menunjuk
vag, bd, dan mulutnya
Tahu kalau aku jebak dia
tersenyum lebar dengan
menampakkan gigi indahnya
dan tampak lesung pipitnya.
"mas ini humoris" celetuknya
"habisan kamu meletakkan
uang di saku sebagai
pancingan seperti pedagang
aja" ledekku
"habis kata teman-teman
gitu, yah apa salahnya aku
ikutin aja" jawabnya
"tapi nggak apa-apa sih
mbak, saya pernah lihat
pramuniaga yang jualan
parfum dan baju di sarinah
blok M juga begitu, tahu
kalau aku perhatikan, si mbak
pramuniaga Cuma senyum,
dan bilang - penglaris pak"
"mas, aku mau kencing dulu
yah?" ijinnya
"boleh, tapi saya ikut yah?"
tanyaku
"boleh, ayo" jawabnya
Sambil membawa handuk dan
sabun, kita keluar kamar.
Saat menuju ke kamar mandi,
tampak ada beberapa wp dan
tamu, mungkin akan masuk
atau keluar, ada beberapa
wp yang menyapaku (wah
terbongkar deh bohongku
tadi)
Setelah masuk ke kamar
mandi dan menutup tirai
plastik
"katanya belum pernah, koq
mbak Mxxx, mbak Ixxxx dan
mbak Exxx, kenal si mas"
ucapnya dengan tenang dan
pelan, serta melorotkan cd-
nya, bagus juga dia negor
nggak di depan tamu atau
wp, biarpun wp masih punya
etika, nggak kayak big boss,
yang suka negor kadang ada
teman atau client. Coba bos
gue negor-nya di kamar
mandi sambil melorotin cd-
nya, kan enak (he he he).
Untuk menutupi suara desis
melengking air kencing yang
keluar (seperti turbocharger-
nya ferrari/mc larren;
akhirnya schumi menang
sebelum selesai, gimana tahun
2001, pegang siapa Wir?,
saya tetap pegang schumi,
taruhan vcd yuk? (how your
promise ?) dia menyiram
shower ke arah vag-nya.
Yang membuat saya bertanya
dalam hati, mengapa posisi
kencing dan melorotkan cd-
nya koq tidak berhadapan
atau membelakangiku? Malu
atau ada yang ditutupi?
Setelah selesai kencing, cd-
nya tidak dipakai tetapi
dijepit di ketiaknya ? (wah
kalau gitu aku harus
menghentikan kebiasaanku
mencium ketiak, kalau
ternyata sering dibuat njepit
cd!!)
"mas, aku kan malu kencing
koq di lihatin" katanya
"yah sudah selesai, baru
complain!" jawabku
"habis kebelet, mas nggak
kencing" ucapnya
"iya deh sekalian diberisihin"
jawabku, sambil melepas cp
+cd dan kugantungkan di
tembok, setelah itu akupun
kencing, dia ngelihatin
punyaku, yah karena lagi
kencing yah lagi mengecil
(padahal sudah lihat vag-
nya), setelah selesai kencing,
dia menyiram dengan air
shower sambil mengatur ke
dua kran agar mendapatkan
air hangat, setelah itu diberi
sabun rudal dan sekitarnya
tampak rudalku mengalami
perubahan volume akibat
sentuhannya, busa telah
menutupi rudal beserta bulu
lebatnya, kemudian diambil
shower untuk menyirami
rudalku dan ,
"aduh" teriakku pelan
"maaf mas" jawabnya sambil
segera mengarahkan
pancuran air shower ke
tembok dan memutar kran
air panas
"mbak kalau niatnya
membersihkan kuman jangan
merontokkan buluku dong,
emang punyaku seperti ayam
potong, mau dibubutin
bulunya !!!" tegurku
"iya deh, air showenyakan
panas sendiri" jawabnya
"tapi dicoba dulu dong
ditangan jangan langsung
tembak ke perangkat
lunakku" jawabku nggak mau
kalah
"iya deh, yuk ke kamar"
rayunya.
Nah bingung deh lupa bawa
kimono, masak pakai celana
lagi, yah sudah aku pakai
handuk+baju, dan celana dia
yang bawa, sementara cd-
nya tetap di ketiak????
Setelah masuk kamar, aku
segera melepas baju dan
tidur, koq dia belum datang,
padahal dia kan dibelakangku
tadi, nggak lama dia datang
dan melepas kaosnya, tampak
bd tanpa bra sekitar 34
tanpa bra (betulkan my
preview), kemudian melepas
rok-nya, oh iya lupa kan
belum ada kesepakatan,
sebelum lebih jauh lebih baik
kita membuat LOI dulu sambil
bobo berdua.
"kalau seperti disebelah
berapa tarifnya?" tanyaku
"biasanya $150 ada juga yang
ngasih $200" keluar deh
harga penawaran tanpa
discount dan ppn+pbm+pph
"kalau pakai mulut berapa?"
"$100" jawabnya singkat
"kalau pakai cream" tanyaku
lagi
"$50, mas wartawan yah,
nanya mulu kapan mulainya"
jawabnya
"nggak gitu dari pada nanti
kamu protes, kalau gitu $150
itu dua kali dong, kan
karetnya ada dua" ledekku
"enak aja, yah enggak lah,
kalau nambah yah jadi $200"
jawabnya
"kalau gitu aku tambahnya
aja deh, kan Cuma $50
selisihnya" ledekku lagi
"dasar, maunya yang murah"
jawabnya
"ya kan pembeli cari yang
enak dan murah, itu lumrah
mbak" jawabku
"emangya saya apaan"
jawabnya ketus, wah bisa
emosi nih dia, harus segera
dinetralisir
"sorry, saya bercanda, ya
sudah saya ambil yang $150
nggak main tapi nambah"
"koq begitu" jawabnya, sambil
bibirnya agak monyong, aku
tersenyum
"kenapa ketawa" tanyanya
"nggak kamu spt leysus"
nanyanya
"sial" setelah LOI disepakati
mulailah aku tidur miring, dan
terdengar lagu india yang lagi
populer, wah jarang lho ppt
pakai lagu india, jangan-
jangan special-order dari
pengunjung.
"mbak tahu nggak judul lagu
ini?" tanyaku
"kuch kuch hota hai"
jawabnya
"salah, yang benar kucek
kucek kutange (k3)" jawabku
sambil ngucek bdnya, sekilas
kebayang wajah penyanyinya
1D dan 1hraff, kalau
ngebayangin 1D kan bibirnya
ada kumis tipisnya tuh, tapi
nggak menjamin kalau
showroom-nya berkumis
lantas bengkelnya lebat,
kemungkinannya yang besar
adalah bayangin bentuk/
diameter mulut/bibirnya nah
kira-kira, tahu kan yang aku
maksud.
"mas ini humoris, kalem,
bisanyanya suka main 'keras'
yah?"
"nggak juga, jangan lihat
penampilan, dong"
Setelah bosan k3,
"mas hisap dong, aku cepat
terangsang kalau dihisap"
perintahnya untuk menghisap
bd-nya
"nggak ah" jawabku
"kenapa, jelek yah?"
tanyanya, wah gimana cara
jawabnya agar dia nggak
tersinggung
"nggak aku masih kecilnya
udah bosen, selama tiga
tahun, pagi-siangsore-malam,
jadi yang lain aja" jawabku
asal, buat yang sering hisap
bd, mungkin kecilnya minum
susu formula, makanya ingin
cari tahu gimana sih rasanya
hisap susu asi.
Kemudian, aku turun kulihat
bulu bawahnya seperti
dicukur, disisakan bagian atas
garis penalty dan panjang
serta kasar, bentuknya
seperti rambut-atasnya david
tua atau don king,
"kenapa koq, dicukur?"
tanyaku
"habis lebat banget, kadang
kalau lagi main suka ikut
masuk khan jadi agak sakit"
jawabnya, tampak agak hitam
disekitar bagian luar,
sepertinya tinggi freq ml-nya
(ml bukan minta lagu, emang
prambors), dari bentuk
lipsnya tampak kalau hari ini
belum kemasukkan rudal
(artinya benar dia tidak
bohong dong) aku mencoba
menguakkan ke dua pahanya
untuk melihat bentuk vag-
nya lebih dalam, ternyata
benar dia sudah pernah
melahirkan, ada bekas jahitan
halus antara vag dan anus,
dan tampak didalam
lubangnya banyak benjolan
daging kecil-kecil, aku coba
memasukkan jari ku, ternyata
masih kering, berarti dia
belum on.
"eh eh" erangnya
"jangan akting, aku senang
yang alami" tegurku, dia diam,
dan mulai me-massage bd-
nya sendiri (sepertinya dia
tipe DIAN; DIapain Aja eNak),
sambil lidahnya melet keluar
masuk, aku coba me-massage
clitnya, dia mulai goyang
perlahan, dan makin lama
makin cepat, tetapi "wet-
sensor" ku mengatakan masih
"low", aku coba meraba
pantat bagian belakang,
terasa ada permukaan yang
tidak rata (semacam kerak;
pantes tadi kencingnya nggak
berani memunggungiku, takut
tampak kekurangannya),
makin lama "wet-sensor"
mulai ke posisi "med" tapi
vag-temp koq over-heat,
wah nggak bener nih mesin,
apa radiatornya bocor?, apa
oli nggak naik?, wah
sebaiknya ku hentikan (kalau
nggak yakin atau nggak sreg
- mendingan jangan terusin),
sebab antara suhu dan lendir
nggak sesuai jangan-jangan
ada stoned-angelina, wah aku
mau scan, nggak bawa mc
afee, terpaksa ctrl+alt+del.
"mbak aku udah nggak tahan
nih, di oral aja, mau nggak"
terpaksa pakai jalan pintas,
padahal voltage rudalku
belum siap luncur, tapi dari
pada 'contaminated"
'mendingan dari pada'.
Dia mencoba menghisap,
waow, hisapanya sampai
kempot, kuangkat rambutnya
agar aku dapat melihat
kerjanya, matanya
memandang ke atas (ke
arahku) sambil terus
menghisap dan lidahnya
bermain di dalam mulutnya,
karena bantal kutekuk
menjadi dua agar kepalaku
lebih tinggi, sehingga
tanganku mulai melakukan
kuch kuch hota hai lagi.
"mas kalau mau keluar bilang
yah!!!" katanya, maksudnya
jangan sampai dikeluarin di
mulut.
"emang kenapa sih. Khan
banyak proteinnya kata
dokter" kataku
"iya tapi kalau sampai
ketelan, nanti mas nggak bisa
ngelupain aku lho" katanya,
bisa aja dia menghindar,
pantes banyak suami
selingkuh (bahasa halusnya
nyeleweng, penghalusan orba)
soalnya si istri nggak mau
nelan sperma.
"ya sudah kalau mau keluar
nanti ku beri tahu" jawabku
lama-kelamaan dia capek
juga, gimana nggak capek,
nungging, ngisap sampai
kempot, terus kepala naik
turun, dan yang terpenting,
dia tahan nafas (asal jangan
lupa nggak nafas aja)
"konsentrasi dong mas"
keluhnya, wah aku jadi ingat
taman lawang aja, terpaksa
aku konsentrasi, kasihan juga
dia, keningnya sudah mulai
berkeringat.
Dan tak lama terdengar
suara paha beradu di sebelah
kamar disertai desahan, yang
membuatku terheran-heran
adalah kecepatannya, pak -
pak - pak, tempo-nya tidak
sampai satu detik, hebat juga
nih laki-laki, dan lenguhan si
wanita yang akan mencapai
O, kalau nggak salah tadi
sudah keluar, berarti ini
ronde ke duanya, tapi
dengan kecepatan seperti itu,
cukup tangguh juga latexnya.
Cukup lama juga irama pak -
pak - pak, membuatku lebih
terangsang, dan
"pak, dilepas aja karetnya"
pinta si wp (akhirnya aku
tahu kalau dia si mbak Mxxx,
karena lenguhannya yang
khas, telingaku sensitif juga
yah bisa mengetahui wp
hanya dengan lenguhannya,
harusnya aku kerja di kapal
selam, biar bisa mengetahui
jenis kapal lainnya).
Nggak berapa lama,
terdengar suara lenguhan
hilang dan suara 'pak' juga
hilang, dan akupun tersadar
kalau aku juga mau keluar,
"mbak aku mau keluar"
ujarku, dia segera
melepaskan dari mulutnya dan
mengocoknya
"udah mbak biar aku saja,
mbak tidur terlentang aja"
jawabku, dia mengikuti apa
yang aku suruh, aku buka
lebar-lebar pahanya, dan
tampak vag-nya membentuk
huruf "O" dan merah seperti
lampu lalu-lintas.
"mas masukin dong, aku
pingin banget nih" katanya
aku seolah-olah ingin
memasukkan rudalku, sambil
terus aku stimulasi, pas
sudah dekat ke lubangnya
(belum masuk), aku
tembakkan cairanku tepat
masuk ke dalam vag-nya,
karena dia melakukan
gerakan kejut di dalam vag-
nya nggak lama keluarlah
cairanku (kalau mas wiro
nggak keberatan mencantum
alamat web site ini, untuk
menggambarkan kurang lebih
seperti inilah keluarnya cairan
(ingat bukan bentuk vag-nya
lho, tapi cairannya) lihat di
http://www.creampie.com ,
kalau diijinkan tampil, terima
kasih mas wiro!!)
Saat dia akan bangun,
"mbak jangan bangun dulu!!"
kataku, biar leleran cairanku
menetes habis. Nggak lama
dia membersihkan dengan
sprei dan segera memakai
rok dan kaos terus ke kamar
mandi, akupun segera
mengenakan kimono dan
mengikutinya dari belakang,
setelah membersihkan kita
kembali ke kamar.
"katanya mau nambah" tanya
si mbak, melihat aku
menggunakan baju dan
memakai cd+cp, aku segera
memakainya karena nggak
kuat dinginnya
"lho siapa takut, kataku"
jawabku, sambil membuka
restlentingku, dan
mengeluarkan rudal kecilku,
sementara dia duduk di kasur
dengan rok mini-nya tanpa
cd, karena duduk sehingga
roknya ketarik maka
tampaklah rambutnya david
tua / don king, pemandangan
yang cukup indah nampaknya,
terdengar lagi suara erangan
dari kamar lain, wah
terangsang lagi aku, dia
segera menghisap rudalku
semakin kuat mungkin 3 psi,
akhirnya tumbang juga, dia
yang hisap tetangga yang
mengerang (coba banyangin
sensasinya), sebelum keluar
segera aku dorong dia untuk
terlentang di kasur dan
kubuka dengan cepat ke dua
pahanya dan kusiram cairanu
ke dalam vag-nya yang
sudah membentuk huruf "O"
besar
"yah, si mas, udah dibersihin,
dikotorin lagi" protesnya
"ya sudah, tinggal cuci lagi"
rayuku
"sebentar ya mas, aku kamar
mandi lagi" ijinnya
kumasukkan rudalku yang
mengkerut, tanpa kucuci
(jorok yah, kan ada ludahnya
wp, dan sedikit cairanku),
kulihat di meja kecil ada
rokok jarum super (pantes
ngisapnya pinter/ master
sucker, kalau master anal,
yah mbak Sxxxx, khan tiap
orang punya spesialisasi;
kalau wanita-perokok belum
tentu wp (wanita-penghisap),
tapi rata-rata semua wp
adalah perokok yang mahir).
Gila biasanya wp rokok putih,
segera kumasukkan $150 ke
dalam rokoknya, dan
"lho, koq nggak dicuci dulu?"
tanyanya
"udah buat kenang-kenangan,
koq kamu rokoknya gituan
sih, biasanya wanitakan rokok
putih" kataku
"mau tahu, kenapa ?"
tanyanya
"he eh!" sahutku
"Yang Penting Rasanya Bung"
ledeknya, dengan senyum
manisnya.
Oh pantes, dia latihan dari
rokok yang berat (aku
langsung geleng-geleng),
bukannya apa-apa, aku
bukan perokok tapi kalau
suruh ngisap clit/lidah sih
nggak perlu jadi perokok !!!.
"Mbak makasih yah" segera
aku keluar kamar
"mas, tips nya belum"
rayunya sambil meletakkan
telapak tangan di bagian
belakang kepalaku.
"tuh didalam rokokmu"
jawabku sambil menghindari
ciuman (kamu boleh sama wp
gini, tapi kalau sama
pasangan jangan seklai-kali,
bisa kacau, apapun
alasannya)
Aku segera ke resepsionis
dan ketemu sama mbak Mxxx
(dia memberikan senyum dan
tanya: kapan sama saya?)
yang tadi "kerja" di kamar
sebelahku dengan tamunya,
gila, mau tahu ujud tamunya
yang mengeluarkan bunyi
"pak" berkali, pakai kaca
mata plus tebal, dengan
rambut putih semua agak
sedikit botak (AGUS/Agak
GUndul Sedikit tapi juga Anak
Gajah Umur Setahun alias
besar bukan gendut, tolong
dibedakan), kalau mau iseng
sih aku mau nanya jamu-nya
apa mbah ?, Kita sama-sama
bayar dan keluar tanpa
bicara, aku ke old-beatles,
dia ke old-tiger (pas deh
sama orangnya) tapi aku
salut.