PDA

View Full Version : Mertuaku Luar Biasa


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Kisah nyata ini baru saja aku
alami! Tepatnya bulan pada Mei
2003 yang lalu. Waktu itu
bertepatan dengan banyaknya
libur tanggal merah, yang
harinya sangat berdekatan.
Aku dan istriku sengaja
mengambil cuti sebanyak dua
belas hari kerja, ditambah
dengan libur tanggal merah.
Yah! lumayan untuk istirahat
dari rutinitas pekerjaan dan
sumpeknya kota Jakarta.
*****
Aku berusia 30 tahun, sebut
saja namaku Pento, Indri
istriku Berusia 29 Tahun. Kami
baru dikaruniai seorang anak
lelaki yang lucu yang ku beri
nama Piko, berusia 2,5 tahun.
Pada hari yang sudah kami
tentukan aku sekeluarga
berangkat ke Kota S.
Penumpang kereta Argo Lawu
tidak terlalu penuh! Mungkin,
dikarenakan hari libur masih
beberapa hari lagi, jadi aku
istri dan anakku lebih leluasa
beristirahat selama dalam
perjalanan.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di
stasiun kota S, Kami di jemput
Ibu mertuaku dan pakde Man
sopir keluarga Mertuaku. Ibu
mertuaku begitu bahagianya
dengan kedatangan kami, anak
kami Piko pun langsung dipeluk
dan diciumi, maklum anak kami
Piko cucu lelaki pertama bagi
keluarga bapak dan Ibu
mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di
desa GL tempat tinggal
mertuaku, suasana desa yang
cukup tenang langsung terasa,
ditambah lagi rumah mertuaku
yang begitu besar, hanya
dihuni oleh Bapak dan Ibu
mertuaku saja. kelima anak
bapak dan Ibu mertuaku
semuanya perempuan, dan
sudah pada menikah semua!
kecuali Adik iparku yang paling
bungsu saja yang belum
menikah! dan saat ini sedang
menuntut ilmu di salah satu
perguruan tinggi negri di kota
Y.
"Bapak mana Bu? Tanya Indri
istriku".
"Bapakmu lagi kerumah Bupati,
Biasalah paling-paling
ngomongin proyek!", Jawab Ibu
mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita
yang berumur kurang lebih 48
tahun, kulitnya putih bersih.
Bapak dan Ibu mertuaku
menikah disaat usia mereka
masih remaja, namun begitu,
Ibu mertuaku masih tetap
terlihat cantik walaupun
usianya hampir memasuki
kepala lima. Istriku sendiri anak
kedua dari 5 bersaudara.
Setelah mandi dan beristirahat
kamipun makan pagi bersama.
Kami bercerita kesana kemari
sambil melepas lelah dan rasa
rindu kami, tanpa terasa
haripun sudah menjelang sore .
Selepas mahgrib bapak
mertuaku kembali dari rumah
bupati, kami pun kembali
bertukar cerita, semakin malam
semakin sepi padahal baru jam
8 malam. Maklumlah didesa!
"Ini minum wedang buatan Ibu!
Biar kalian segar saat bangun
pagi harinya".
Aku, istriku dan bapak
mertuaku pun langsung
memimum wedang buatan Ibu
mertuaku.
"Enak sekali Bu! apa ini Tanya
Indri istriku ".
"Itu wedang ramuan Ibu sendiri!
Gimana, seger kan?".
Kamipun melanjutkan obrolan
kami kembali, kurang lebih
setengah jam kami ngobrol,
rasanya mata ini kok berat
sekali. Istiku pamit menyusul
anak kami yang sudah duluan
tertidur. Aku mencoba
bertahan dari rasa ngatuk!
dan melanjutkan cerita kami,
namun apa daya! rasa ngantuk
ini sudah terlalu berat. Akupun
pamit tidur pada bapak dan
Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan
menuju kamar tidur kami yang
cukup besar, kulihat istri dan
anakku sudah tertidur dengan
nyenyaknya. Tumben dia nggak
nungguin aku? Akupun
langsung merebahkan diri
karena rasa ngantuk yang
begitu berat. Tak lama aku
pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku
tertidur, aku merasakan
seperti ada yang menciumku,
membelaiku, aku mencoba
untuk membuka mataku,
namun aku tetap tidak
sanggup untuk membuka
mataku ini. Rasanya seperti
ada yang mengganjal dimataku,
yang membuat aku terus
tertidur.
Aku juga merasakan nikmat
saat berejakulasi. Dan Aku
berangapan bahwa semua ini
hanya mimpi basah saja. Ketika
pagi harinya aku terbangun,
kulihat istri dan anakku masih
lelap tertidur, aku ke kamar
mandi untuk kencing! begitu
aku melihat kemaluanku, ada
bekas sperma kering?
Kupegang kemaluanku dan
jembutku kok lengket? ketika
kucium, aku mengenal betul
bau yang begitu kas, bau dari
lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah
ada bau lendir perempuannya?,
apa semalam aku diperkosa
setan? Saat kami semua
sarapan pagi, aku hendak
menceritakan peristiwa yang
kualami semalam, tapi aku
malu, takut ditertawakan, jadi
aku diamkan saja peristiwa
semalam.
Hari kedua disana, aku, istri
dan anakku tamasya ke
daerah wisata, kami pulang
sudah malam. Seperti hari
kemarin, setelah ngobrol-
ngobrol dan istirahat Ibu
mertuaku memberi kami
wedang buatannya, aku dan
istrikupun langsung
meminumnya. Herannya kurang
lebih 30 menit setelah aku
menghabiskan wedang buatan
Ibu mertuaku, rasa ngantuk
kembali menyerang aku dan
istriku.
Karena sudah tidak sanggup
lagi menahan rasa ngantuk
yang begitu sangat, kami
berdua pamit hendak tidur,
untungnya anak kami sudah
tertidur dalam perjalanan
pulang.
"Mas aku ngantuk! selamat
tidur ya Mas!".
Langsung istriku merebahkan
badan dan tertidur dengan
pulasnya. Akupun ikut tertidur.
Apa yang kemarin malam
terjadi, malam ini terulang
kembali. Pagi harinya setelah
aku melihat bekas sperma dan
bekas lendir perempuan yang
sudah mengering dan membuat
kusut jembutku, aku bertanya
tanya dalam hatiku?, apa yang
sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut
pergi jalan jalan!, hanya istri
anak serta Ibu mertuaku saja
yang pelesir ke tempat sanak
pamily keluarga istriku. Aku
hanya rebahan ditempat tidur
sambil melamun dan mengingat
kejadian yang kualami selama 2
malam ini. Apa ada mahluk
halus yang memperkosaku
disaat aku tidur? Kenapa
setiap habis meminum wedang,
aku jadi ngantuk? apa karena
suasana desa yang sepi?
Padahal aku biasanya kuat
begadang, atau karena
wedang?
Nanti malam aku coba untuk
tidak meminum wedang buatan
Ibu, batinku. Berbagai
pertanyaan muncul dalam
benakku, karena lelah akhirnya
akupun tertidur. Saat malam
menjelang, kami sekeluarga
berkumpul dan berbincang
bincang. Seperti hari kemarin-
kemarin pula, Ibu mertuaku
memberi kami wedang
buatannya. Istri dan bapak
mertuakupun sudah
menghabiskan minumannya,
sementara aku belum
meminumnya.
"Kok nggak diminum Mas
wedangnya", tanya Ibu
mertuaku?
Aku memang mencoba untuk
tidak meminum wedang
tersebut, walaupun badan
segar saat bangun tidur!
namun aku berniat untuk
tetap tidak memimumnya.
Karena aku penasaran dengan
apa sudah aku alami beberapa
hari ini. Saat aku hendak
meminumnya aku berpura pura
sakit perut, sambil membawa
wedang yang seolah olah
sedang kuminum aku berjalan
kearah dapaur menuju toilet.
Padahal sesampainya dikamar
mandi, aku langsung membuang
wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke
ruang keluarga, kurang lebih
tiga puluh menit! kulihat istiku
dan bapak mertuaku sudah
mengantuk dan berniat untuk
tidur. Namun hal itu tidak
terjadi denganku, apa karena
aku tidak meminum wedang
tersebut? Aku masih segar dan
belum mengantuk. Aku pun
berpura-pura seperti orang
mengantuk, kami berdua pamit
dan masuk kekamar, istrikupun
mematikan lampu kamar dan
menyalakan lampu tidur yang
cukup nyaman dimata.
"Mas aku ngantuk sekali! Kamu
nggak kepengen kan? Besok
aja ya Mas! aku ngantuk sekali
Mas"
Kukecup kening istriku dan dia
pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa
hari ini aku tidak mengantuk
seperti biasanya? Apa karena
aku tidak meminum wedang
buatan Ibu? Hampir setengah
jam setelah istriku terlelap,
tiba-tiba aku mendengar suara
langkah kaki menghampiri
kearah kamarku! Langsung aku
pura-pura tertidur. Kulihat ada
yang membuka pintu kamarku,
saat kubuka sedikit kelopak
mataku ternyata Ibu mertuaku!
Mau apa beliau? Aku terus
pura-pura tertidur. Untung
lampu tidur dikamar kami
remang-remang jadi ketika aku
sedikit membuka kelopak
mataku tidak terlihat oleh Ibu
mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat
Ibu mertuaku menghampiriku,
langsung mengelus elus
burungku yang masih
terbungkus celana pendek. Aku
hendak menegurnya, namun
rasa penasaran dengan apa
yang terjadi 2 hari ini dan apa
yang akan dilakukan Ibu
mertuaku membuat aku terus
berpura-pura tertidur. Ibu
mertuaku pun langsung
menurunkan celana pendek
serta celana dalamku tanpa
rasa canggung atau takut
kalau aku dan istri ku
terbangun, atau mungkin juga
mertuaku sudah yakin kalau
kami sudah sangat nyenyak
sekali.
Blass lepas sudah celanaku! Aku
telanjang, jantungkupun makin
berdebar, aku terus berpura-
pura terdidur dengan rasa
penasaran atas perbuatan Ibu
mertuaku. Aku menahan napas
saat Ibu mertuaku mulai
menjilati dan mengulum
kemaluanku, hampir aku
mendesih, aku mencoba terus
bertahan agar tidak mendesis
dan membiarkan Ibu mertuaku
terus melanjutkan aksinya.
Kemaluanku sudah berdiri
dengan tegaknya, Ibu
mertuaku dengan asiknya
terus mengulum kemaluanku
tanpa tahu bahwa aku tidak
tertidur. Jujur aku akui, bahwa
aku juga sebenarnya sudah
sangat terangsang sekali. Ingin
rasanya saat itu juga, aku
bangun, langsung menerkam,
mencumbu dan menyetubuhi Ibu
mertuaku.
Kutahan semua gejolak
birahiku, dan ku biarkan Ibu
mertuaku terus melanjutkan
aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku
melepas kulumannya dan
bangkit berdiri, aku terus
memperhatikannya, dan bless..
mertuaku melepas dasternya,
ternyata dibalik daster
tersebut mertuaku sudah tidak
memakai BH dan celana dalam
lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig..
dug suara jantungku saat
menyaksikan tubuh telanjang
Ibu mertuaku, apalagi ketika
Ibu mertuaku mulai naik
ketempat tidur, langsung
mengangkangiku tepat diatas
burungku, makin tak karuan
detak jantungku.
Digemgamnya kemaluanku,
diremas halus sambil dikocok-
kocok perlahan, kemudian di
gesek-gesekan ke memek Ibu
mertuaku.
Aku sudah tidak tahan lagi!
Ingin rasanya langsung
kumasukan kontolku! Sambil
berjongkok, burungkupun
diarahkannya kelubang surga
Ibu mertuaku! perlahan-lahan
sekali beliau menurunkan
pantatnya memasukan
burungku ke memeknya! sambil
memejamkan mata menikmati
mili demi mili masuknya
burungku ke sarangnya.
"Ahh.. ahh nikmat", jerit
mertuaku, saat semua
burungku telah amblas masuk
tertelan memek Ibu mertuaku.
Sambil terus berpura-pura
tertidur aku menahan gejolak
birahiku yang sudah memuncak.
"Ahh.. Ibu mertuaku menjerit
tertahan saat beliau mulai naik
turun bergoyang menikmati
rasa nikmat yang beliau
rasakan.
Ibu mertuaku terus menjerit,
mendesah, tanpa takut aku,
istri dan anakku atau bapak
mertuaku terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang
naik turun. Belum beberapa
lama menaik turunkan
pantatnya, tubuh Ibu mertuaku
mengejang.
"Ahh nikkmatt", jerit panjang
Ibu mertuaku.
Rupanya Ibu mertuaku baru
saja mendapatkan orgasmenya.
Ibu mertuaku langung rebah
menindih tubuhku mencium
bibirku membelai kepalaku
seperti, seorang istri yang
baru saja selesai bersetubuh
dengan suaminya, aku langsung
membuka mataku.
"Jadi selama ini aku tidak
bermimpi! dan tidak pula tidur
dengan mahluk halus!".
Ibu mertuaku bangkit karena
kaget
"Mass ka.. mu ndak ti.. dur?
kamu nggak meminum wedang
yang Ibu bikin?".
"Tidak Bu! aku tidak
meminumnya", Ibu mertuaku
salah tingkah dan serba salah!
mukanya memerah tanda beliau
mengalami malu yang sangat
luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi
ranjang,
"Mass..", Ibu mertuaku menangis
sambil duduk dan memeluk
kakiku.
"Ammpuni Ibu, Mass".
Aku merasa kasihan melihat Ibu
mertuaku seperti itu, karena
aku sendiripun sudah sangat
terangsang akibat permainan
Ibu mertuaku tadi.
"Bu aku belum tuntas!", aku
angkat mertuaku, aku peluk,
kucium bibirnya.
"Sudah Bu, jangan menangis!,
aku juga menikmatinya kok
Bu!".
Kulepas bajuku, kami berdua
sudah telanjang bulat, kupeluk
Ibu mertuaku dan kamipun
berciuman dengan buasnya.
"Ahh Mas.. nikmat.. Mas..", saat
kuhisap dan kuremas tetek
mertuaku yang sudah kendur..
"Ah.. Mas nikmat..", kutelusuri
seluruh tubuhnya, dari
teteknya, terus kuciumi
perutnya yang agak gendut.
"Ahh Mass", jeritnya, saat
kuhisap kemaluannya, kujilati
itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jarikupun terbenam di
dalam memek ibu mertuaku,
jeritan mertuaku makin tak
terkendali, apalagi disaat dua
jariku mengocok dan menari-
nari dilubang memeknya dan
lidahku menari nari di itilnya.
"Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi..
ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh",
jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku
menjepit kepalaku! Sampai
sampai aku tidak bisa
bernapas.
"Enak Bu?"
"Enak sekali Mas". Kucium
kembali mertuaku.
"Bu.. apa Indri nanti nggak
bangun?"
"Tenang Mas! Wedang itu
merupakan obat tidur buatan
Ibu yang paling ampuh!"
"Tidak berbahaya Bu?"
"Tidak Mas"
Kugeluti kembali mertuaku..
kucium.. kuhisap teteknya.
Kucolok-colok memeknya
dengan dua jari saktiku.
"Oohh Mass masukin Mass Ibu
sudah nggak tahan lagi.. Mas".
Dengan gaya konvensional
langsung kuarahkan kontolku
ke lubang surga Ibu mertuaku,
dan akhirnya masuk sudah.
"Oh.. Mas nikmat sekali..".
"Iya Bu.. aku juga nikmat..
memek Ibu nikmat sekali..,
goyang terus Bu..".
Kamipun terus berpacu dalam
nikmatnya lautan birahi. Aku
mendayung naik turun dan Ibu
mertuaku bergoyang seirama
dengan bunyi kecipak-kecipak
dari pertemuan dua alat
kelamin kami.
"Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi..".
Rupanya Ibu mertuaku orang
yang gampang meraih orgasme
dan gampang kembali pulihnya,
aku pun tak mau kehilangan
moment.
"Tahan Buu!, sedikit lagi akuu
juga keluarr..", sambil
kupercepat goyangan keluar
masuk kontolku.
"Akk Mass, Ibu sudah nggak
kuatt".
Dan serr serr aku merasakan
kemaluanku seperti di siram air
yang hangat rasanya. Akupun
sudah tak kuat lagi menahan
ejakulasiku!
"Ibuu aacchh, cret.. cret..
cret..", akupun rubuh memeluk
Ibu mertuaku.
"Bu!, jadi yang yang kemarin-
kemarin itu Ibu yang
melakukannya?"
"Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh
cinta sama Mas pento sejak
pertama kali Ibu melihat Mas.
Apalagi Bapak sudah lama
terserang impotensi".
"Kenapa harus seperti pencuri
Bu?".
"Ibu takut ditolak Mas! lagi pula
Ibu malu, sudah tua kok gatel".
"Apa semua mantu Ibu, Ibu
perlakukan seperti ini?".
Sambil melotot Ibu mertuaku
berkata, "Tidak Mas! Mas
pento adalah lelaki kedua
setelah bapak, Mas lah yang
Ibu sayangi". Kucium kembali
mertuaku, kupeluk.
"Mulai besok Ibu jangan pakai
wedang lagi, untuk Ibu, aku
siap melayani, kapanpun Ibu
mau".
Kamipun bersetubuh kembali,
tanpa mempedulikan bahwa di
sampingku, istri dan anakku
tertidur dengan pulasnya.
Tanpa istriku tahu! didekatnya
aku dan ibunya sedang
menjerit jerit mereguk
nikmatnya persetubuhan kami.
Saat ayam berkokok dan jam
menunjukan pukul 3:30 kami
menyudahi pertarungan yang
begitu nikmat, lalu Ibu
mertuaku dengan santai
berjalan keluar dari kamar
kami sambil berkata, "Mas
Pento terima kasih!".
*****
Yah.. itulah awal hubungan
sexku dengan Ibu mertuaku,
walaupun ada rasa sesal,
namun rasa sesal itu lenyap
tertelan nikmat yang kudapat,
dan akupun jadi tahu bahwa
wanita seusia Ibu mertuaku
sangat nikmat untuk di
setubuhi. Nanti akan aku
ceritakan kembali kisah
persetubuhanku dengan
mertuaku selama aku liburan di
desa GL.
Pagi Harinya, saat aku
terbangun waktu sudah
menunjukan pukul 10:15,
kulihat disampingku, istri dan
anakku sudah tidak ada lagi.
Ahh.., akupun termenung
mengingat kejadian semalam,
aku masih tidak menyangka.
Ibu mertuaku, orang yang
sangat aku hormati, dan
sangat aku kagumi
kecantikannya, dengan suka
rela menyerahkan tubuhnya
kepadaku. Malah ibu mertuaku
juga yang memulai awal
perselingkuhan kami.
"Selamat pagi Ma", sapaku saat
kulihat di dapur istriku sedang
membuatkan kopi untukku,
"Kok sepi pada kemana mah?"
"Kamu sih bangunnya
kesiangan, Bapak pergi ke
Wonogiri, Ibu pergi ke pasar
sama Piko".
Kupandangi wajah istriku, tiba-
tiba saja terlintas bayangan
wajah Ibu mertuaku, akupun
jadi terangsang, karena
peristiwa semalam masih
membekas dalam ingatanku.
"Ihh.. apa-apaan sih Mas..
jangan disini dong Mas..",
protes istriku saat kutarik
lengannya, langsung kupeluk
dan kulumat bibirnya..
"Mas.. malu.. ahh, nanti kalau
Ibu datang bagaimana?"
Aku yang sudah benar benar
terbakar birahi, sudah tidak
perduli lagi akan protes istriku,
kuremas teteknya, ku lumat
bibirnya, yang aku bayangkan
saat itu adalah Ibu mertuaku.
Kubalik tubuh istriku, dalam
posisi agak membungkuk,
kusingkap ke atas dasternya
kuturunkan celana dalamnya
dan,
"Uhh Mas pelan pelan dong."
Aku tak perduli, kuturunkan
celanaku sebatas lutut,
langsung kuarahkan burungku
yang sudah tegak berdiri
kelobang memek istriku.
"Mass.. pelan pelan.. dong..
sakit.. Mas."
Semakin istriku berteriak,
gairahkupun semakin meninggi,
aku terus memaksa
memasukan kontolku ke lubang
memek istriku, yang belum
basah benar.
"Ahh..", jeritku, saat burungku
amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku
merasakan gairahku begitu
tinggi, langsung ku kugoyang
maju mundur pantatku.
"Ahh nikmat Ndri..", kugoyang
dengan keras keluar masuk
kontolku.
"Mas.. enak mass."
Terus kugoyang maju mundur,
mungkin karena terlalu
bernafsu, baru beberapa menit
saja, rasanya ejakulasiku sudah
semakin dekat, denyutan di
kontolku semakin membuat aku
mempercepat kocokan kontolku
di lubang memek istriku.
"Ndri .. aku mau keluarr nihh."
"Tahann mass, jangan dulu..,
tahan sayang", pinta istriku.
Namun, semua permintaan
istriku itu sia-sia, aku sudah
tidak sanggup lagi menahan
bobolnya benteng
pertahananku, sedetik
kemudian aahh, seluruh syaraf
tubuhku menegang dan cret..
cret.. crett.. uhh.. aku menjerit
tertahan sambil dengan erat
kupeluk tubuh istriku dari
belakang.
Kulihat, raut wajah
kekecewaan diwajah Indri
istriku,
"Maaf.. ya.. sayang. aku sudah
ngak tahan, aku terlalu
bernafsu, habis kamu sexy
sekali hari ini", rayuku.
"Ndak apa-apa Mass..", kukecup
keningnya.
"Kamu aneh deh Mas?, ngak
biasanya kamu kasar kayak
tadi?", tanya istriku sambil
berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat
bersetubuh dengannya, aku
membayangkan, yang sedang
kusetubuhi adalah ibu
mertuaku.
Saat siang menjelang, setalah
makan siang, istriku dijemput
oleh teman-teman genknya
waktu di SMA dulu, rupanya
istriku sudah janjian untuk
bertemu dengan teman-teman
sekolahnya dulu, kebetulan
salah satu sahabat karib
istriku yang sekarang ini
tinggal dilampung, saat ini
sedang pulang kampung juga.
"Pada mau kemana nih?"
Tanyaku
"Mumpung kita lapi pada
kumpul nih Mas, kita mau
jalan- jalan aja Mas. Ya..
Paling-paling ke kota S makan
Soto gading", Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka
pamit padaku dan ibu
mertuaku.
"Da.. da piko jagain mamah
ya..", kukecup anakku.
"Bu aku pergi dulu ya", pamit
istriku.
"Mas aku jalan jalan dulu yahh,
bye Mas"
Saat aku masuk kedalam
rumah aku lihat Ibu mertuaku
sedang mengunci pintu
gerbang.
"Kok digembok bu?
"Biar aman", katanya, sambil
berjalan dan masuk ledalam
rumah, dan klik.. Pintu rumah
pun di kunci oleh Ibu mertuaku.
Aku dan Ibu Mertuaku saling
berpandangan, seperti
sepasang kekasih yang lama
sekali tidak berjumpa dan
saling merindukan, entah siapa
yang memulai aku dan Ibu
mertuaku sudah saling
berpelukan dengan mesranya,
Kukecup keningnya, dan
kuremas remas bongkahan
pantatnya.
"Mas Pento, Saat-saat seperti
inilah yang paling ibu tunggu-
tunggu"
kupandangi wajah ibu
mertuaku, sunguh cantik sekali,
kucecup kening mertuaku,
kulumat bibirnya, kami
berciuman dengan buasnya,
saling sedot, saling hisap,
kuangkat dan kulepas daster
yang dipakai ibu mertuaku.
Terbuka sudah, ternyata ibu
mertuaku sudah tidak memakai
Bh dan celana dalam lagi,
kuhisap teteknya, kujilati inhci
demi inchi seluruh tubuh Ibu
mertuaku.
"Ahh Mass, terus Mas.. sshh
enak sayang.."
Kuajak Ibu mertuaku pindah ke
sofa.
"Kamu duduk Mas..", dilepasnya
kaos dan celanaku, aku dan
ibu mertuaku sudah polos
tanpa sehelai benangpun yang
menempel ditubuh kami berdua.
"Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap
terus bu, hisap kontolku bu..
ahh"
Nikmat sekali kuluman ibu
mertuaku, kami berdua sudah
lupa diri, saling merangsang
saling meremas.
"Ohh.. bu.., akupun bangkit
untuk merubah posisi,
kurebahkan ibu mertuaku
dilantai, kakinya mengangkang,
kupandangi memeknya, yang
telah melahirkan istriku,
kuhisap, kukecup dengan
lembut memek ibu mertuaku,
kujilati dengan penuh
perasaan, kuhisap semua
cairan yang keluar dari lubang
sorga Ibu mertuaku
"Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu
sayang.., Mass, Pentoo..,
masukin sekarang Mas.., Ibu
sudah mau keluar sayang"
Langsung kuarahkan batang
kontolku kelubang surga ibu
mertuaku. yang sudah pasrah
dan siap untuk di sodok-sodok
kontolku. Kugesek-gesek
perlahan kontolku di itil Ibu
mertuaku yang sudah
mengeras dan.. belss.. uhh,
rintih Ibu mertuaku saat
kepala kontolku menerobos
memasuki lubang nikmatnya.
"Ohh.., Mas masukin semuanya
sayang.. jangan siksa ibu..
sayang.."
Lalu kuhentak dengan kasar..
ahh.. jerit mertuaku saat
seluruh batang kontolku
amblas meluncur dengan
indahnya terbenam dijepit
memek Ibu mertuaku, yang
rasanya membuat aku jadi
ketagihan mengentoti ibu
mertuaku. Kupeluk ibu
mertuaku, kamipun saling
melumat, kuangkat perlahan-
lahan kontolku kuhujam kembali
dengan keras.
"Aahh..", jerit ibu mertuaku.
"Mas.. Pento.. entotin Ibu Mass..
entotin Ibu.. Mas .. ohh mass.
puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh."
Akupun semakin terangang dan
bersemangat mendengar
rintihan dan jeritan-jeritan
jorok yang keluar dari mulut
Ibu mertuaku.
Kunaik turunkan pantatku
dengan tempo yang cepat dan
kasar.
"Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku
mau keluar.. buu."
"Iyaa.. sayang ibu juga mau
keluarr."
Kupercepat kocokan keluar
masuk kontol ku, plak.. plak..
plak..
"Mass.. ayo Mass.. keluar..
bareng.. sayang. Ahh.."
Tubuh ibu mertuaku pun
mengejang, kakinya menjepit
pinggangku.
"Mass ahh ahh"
"Ibuu, arrgg", jerit kami
bersamaan saat nikmat itu
datang seperti ombak yang
bergulung gulung.
"Cret.. crett.. crett..", kusirami
rahim ibu mertuaku dengan
spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus
berpelukan menikmati sisa-sisa
kenikmatan orgasme yang
begitu dahsyat yang kami raih
secara bersamaan,
"Bu.." kulihat ibu mertuaku
masih memejamkan matanya,
dengan nafas terengah-engah.
"Iya Mas.."
"Rasanya aku jatuh cinta sama
ibu..", kulihat ibu mertuaku
tersenyum. manis sekali..
"Ibu maukan jadi kekasihku bu".
Ibu mertuakupun hanya
tersenyum dan mengecup
keningku dengan mesranya,
sambil berkata, "Mas ini nikmat
sekali..", dikecup kembali
keningku.
Hari itu sampai magrib
menjelang kami berdua terus
berbugil ria, aku dan ibu
mertuaku seperti layaknya
pengantin baru, yang terus
menerus melakukan
persetubuhan tanpa merasa
bosan, tanpa lelah kami terus
menumpahkan cairan nikmat
kami, di dapur, dikamar tidur
ibu mertuaku dan di kamar
mandi. Yang paling dasyat,
setelah aku dan ibu mertuaku,
meminum jamu buatan ibu
mertuaku. Badanku segar
sekali, dan kontolku begitu
keras dan kokoh.., kukocok
kontolku dilubang surga Ibu
mertuaku, sampai banjir memek
Ibu mertuaku danIibu mertuaku
memohon kepadaku agar aku
memasukan kontolku di lubang
anusnya.
Nikamat sekali .. saat
kutembakan spermaku didalam
liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas
isya, kusambut istriku dan
teman temannya, setelah ber
bincang bincang sebentar
teman teman istriku pamit
pulang. Istrikupun masuk
menuju kamar hendak menaruh
anak kami yang sudah lelap
tertidur ke pembaringan.
"Mas aku taruh Piko di kamar
dulu ya..", kulirik Ibu mertuaku
dan kuhampiri beliau sambil
berbisik.
"Bu.., Indri adalah istri
pertamaku, dan Ibu istri
keduaku", ujarku.
Ibu mertuaku pun tersenyum
dengan manisnya, sambil
mencubit pinggangku. Hari itu
benar benar dahsyat. Dua
lubang, lubang memek dan
lubang anus Ibu mertuaku
sudah aku rasakan.
*****
Pada hari keenam liburan kami
di desa Gl, aku dan istriku
terpaksa harus pulang ke
Jakarta, karena dikantor
istriku ada keperluan
mendadak dan membutuhkan
kehadiran Istriku. Mau tidak
mau aku dan Istriku
membatalkan semua acara
liburan kami di kota S.
Kulihat Ibu mertuaku tampak
sedih dan murung, beliau bilang
sama Bapak mertuaku kalau
beliau masih kangen sama kami,
dan kalau menunggu hari raya
nanti, rasanya terlalu lama
buat beliau. Padahal itu adalah
alasan Ibu mertuaku, Ibu
mertuaku masih belum mau
berpisah denganku, kurayu
istriku agar membujuk Bapak
mertuaku, berkat bujukan
istriku akhirnya Bapak
mertuaku membolehkan ibu
mertuaku ikut kami ke
Jakarta. Ibu mertuaku sangat
gembira sekali dan kulihat
sekilas matanya melirik
kearahku.
Besoknya Aku memesan tiket
kereta Argo Dwipangga,
karena hari itu hari kerja,
maka Akupun dengan mudah
memperoleh tiket, Aku membeli
empat tiket dan sedikit oleh-
oleh untuk teman teman kami.
Sesampainya aku dirumah, kami
pun langsung berkemas kemas
merapikan barang bawaan
kami., Jam sudah menunjukan
pukul 6:30 sore. Saat aku
hendak menuju kekamar mandi
aku berpapasan dengan Ibu
mertuaku yang hari itu tampak
cantik sekali, kubisikan
kepadanya, agar Ibu mertuaku
tidak usah memakai celana
dalam, ibu mertuakupun
tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan
Bapak mertuaku Jam 8:30
malam kami tiba di stasiun
Balapan, setelah menunggu
sekitar kurang lebih setengah
jam keretapun berangkat.
Kuputar bangku tempat duduk
kami, biar kami bisA saling
berhadapan. Istriku duduk
bersama anakku yang sudah
teridur dipangkuan istriku
sementara aku duduk bersama
ibumertuaku. Setelah lewat
stasiun yogyakarta, kulihat
bangku disamping tempat
duduk lami kosong. Berarti
sudah tidak ada penumpang..,
akupun pindah tempat duduk
di sebelah kami, ternyata
penumpang kereta hari ini
tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta
membuat banyak penumpang
yang menarik selimut dan
tertidur dengan lelapnya.
Kulihat istri dan ibu mertuaku
pun sudah tertidur. Jam 2 pagi
aku terbangun kulihat istri dan
anakku masih tertidur, aku
bangkit dengan perlahan lahan
kucolek Ibu mertuaku, beliau
membuka matanya, sstt,
akupun memberi kode kepada
Ibu mertuaku. perlahan lahan
Ibu mertuaku bangkit, kulihat
istri dan anakku masih
tertidur.
"Bu.. aku kepengen.. bisikku..",
Ibu mertuakupun tersenyum,
kami berjalan ke arah belakang
melewati penumpang lain yang
masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong
belakang, tepat dibelakang
gerbong kami, ternyata hanya
ada beberapa penumpang yang
sedang terlelap dan masih
banyak kursi yang kosong.
Setelah mendapat tempat
duduk yang kurasa aman
kuputar bangku didepan biar
aman dan lega bagian
tengahnya.
Langsung kupeluk Ibu
mertuaku, kamipun saling
berpagutan, kuremas tetek Ibu
mertuaku, dengan perasaan
yang sangat berdebar, kubuka
celanaku sampai sebatas lutut,
kontolku sudah tegak dengan
sempurna, kuangkat rok
panjang Ibu mertuaku.. woww
ternyata Ibu mertuaku sudah
tidak memakai celana dalam
lagi.
"Kamu yang suruh.. katanya",
sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta,
badanku bersandarkan tempat
duduk, Ibu mertuakupun
bangkit mengangkangiku,
perlahan-lahan di arahkan
memeknya ke burungku yang
sudah tidak sabar menerima
sarangnya. Diturunkan perlahan
lahan dan bless.. amblas semua
kontolku masuk kedalam
tertelan lobang nikmat Ibu
mertuaku yag sudah sangat
basah sekali.
"Ahh rintih kami bersamaan.."
Goncangan kereta api dan
goyangan naik turun pantat
Ibu mertuaku menambah
nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku
menaik turunkan pantatnya,
kami berdua bersetubuh
dengan rintihan perlahan.
takut kalau-kalau ada
penumpang yang terbangun
dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja..,
"Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau
keluarr..".
"Cret.. cret.. crett.."
Kuangkat badanku dan kupeluk
dengan erat tubuh Ibu
mertuaku, tanpa sadar Ibu
mertuakupun mengigit
pundakku saat ejakulasi dan
orgasme bersamaan hadir
melanda dua insan manusia
yang sedang lupa diri dan
dilanda asmara.
"Deg-deg-deg-deg", suara
jantungku, untungnya tidak
ada seorangpun yang lewat..
modar mandir.
Buru buru Aku dan Ibu
mertuaku merapikan pakaian
kami dan bergegas kembali
kegerbong kami, kulihat anak
dan istriku masih lelap tertidur,
Aku dan Ibu mertuaku kembali
keposisi kami masing-masing
dan tertidur dengan senyum
penuh kepuasan.