PDA

View Full Version : Akhirnya Dinikmati Juga


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Pada suatu hari di bulan
Nopember 2003, suamiku
pulang dari kantor memberi
tahu bahwa di minggu akhir
bulan Nopember, minggu
depan, dia akan menghadiri
penataran wajib dari
kantornya. Karena waktunya
yang 4 hari itu cukup
panjang, dia menyarankan
aku untuk ambil cuti dari
kantorku dan dia ngajak aku
ikut serta sambil menikmati
suasana kota Yogyakarta
dimana penataran itu akan
berlangsung. Di sela-sela
waktunya nanti dia akan ajak
aku untuk melihat sana-sini di
seputar Yogyakarta, antara
lain Keraton Yogya yang
selama ini belum pernah aku
melihatnya. Ah.. tumben
suamiku punya idea yang
brilyan, senyumku. Aku akan
urus cutiku itu.
Begitulah, pada hari Minggu,
25 Nopember malam aku
bersama suami telah berada
di restoran Novotel
Yogyakarta yang terkenal itu.
Aku perhatikan semua kursi
dipenuhi pengunjung. Secara
ala kadarnya aku
diperkenalkan dengan teman-
teman suamiku yang juga
datang bersama istri mereka.
Dalam kerumunan meja besar
untuk rombongan suamiku ini
kami nampaknya merupakan
pasangan yang paling muda
dalam usia. Dan tentu saja
aku menjadi perempuan yang
termuda dan nampaknya juga
paling cantik. Sementara ibu-
ibu yang lain rata-rata sudah
nampak ber-cucu atau buyut
barangkali. Dan akhirnya aku
tidak bisa begitu akrab
dengan para istri-istri yang
rata-rata nenek-nenek itu.
Mungkin duniaku bukan lagi
dunia mereka. Cara pandang
dan sikap kehidupanku sudah
jauh beda dari masa mereka.
Karena paling muda suamiku
kebagian kamar yang paling
tinggi di lantai 5, sementara
teman-temannya kebanyakan
berada di lantai 2 atau 3.
Bagiku tak ada masalah,
bahkan dari kamarku ini aku
bisa lebih leluasa melihat
Yogyakarta di waktu malam
yang gebyar-gebyar penuh
lampu warna-warni.
Malam itu kami serasa
berbulan madu yang kedua.
Kami bercumbu hingga
separoh malam sebelum tidur
nyenyak hingga saat subuh
datang. Pagi harinya kami
sempat sedikit jalan-jalan di
taman hotel yang cukup luas
itu untuk menghirup udara
pagi sebelum kami sarapan
bersama. Jadwal penataran
suamiku sangat ketat,
maklum disamping setiap
session selalu diisi oleh
pembicara tamu atau ahli dari
Jakarta, juga dihadiri oleh
pejabat penting dari berbagai
tingkatan dan wilayah
setanah air. Setiap pagi
suamiku harus sudah berada
di tempat seminar di lantai 2
pada jam 7 pagi. Apalagi
sebagai anggota rombongan
yang termuda dia seperti
kena pelonco, segala hal yang
timbul selalu larinya ke dia.
Untung suamiku bertype
"positive thinking" dan selalu
penuh semangat dalam
melaksanakan semua
tugasnya.
Sesaat setelah suamiku
memasuki ruang penataran
aku sempatkan jalan-jalan di
seputar hotel kemudian
mencari book store untuk
membeli koran pagi. Sesudah
duduk sebentar di lobby aku
balik ke kamar untuk
mencoba telpon ke rumah
sekedar 'check rechek'
kegiatan pelayanku di rumah.
Kemudian duduk santai
membaca koran di balkon
kamarku yang berpanorama
atap-atap kampung
Yogyakarta sambil minum
coklat instant yang tersedia
di setiap kamar Novotel ini.
Bosan membaca koran aku
buka channel TV sana-sini
yang juga membosankan. Aku
berpikir mau apa lagi, nih.
Akhirnya sekitar jam 9 pagi
aku berpikir sebaiknya aku
turun ke lobby sambil mencuci
mata melihat etalase toko di
seputarnya. Aku keluar kamar
melangkah di koridor yang
panjang untuk menuju lift.
Bersamaan dengan itu kulihat
kamar di depan kamarku
pintunya terbuka dan nampak
sepintas di dalamnya ada
seseorang setengah umur
sedang sibuk menulis.
Dia sempat menengok ke
arahku sebelum aku bergerak
menuju lift. Hal yang lumrah di
dalam hotel yang tamunya
dari segala macam orang dan
asal. Tak terbersit pikiran
apapun pada apa yang
barusan tampak oleh mataku.
Aku adalah type perempuan
yang berpribadi dan paling
teguh menjaga diri sendiri
baik karena kesadaran sosial
budayaku maupun kesadaran
akan etika moral yang
berkaitan dengan nilai-nilai
kesetiaan seorang istri pada
suaminya.
Kembali aku jalan-jalan di
seputar lobby, di shopping
arcade yang menampilkan
berbagai rupa barang
dagangan pernik-pernik
menarik, ada parfum, ada
accessories, ada boutique. Ah..
aku nggak begitu tertarik
dengan semua itu. Aku punya
pandangan sendiri bagaimana
membuat hidup lebih nyaman
dan punya nilai. Aku memang
tidak tertarik dengan pola
hidup khalayak. Aku
menyenangi keindahan yang
serba alami. Kalau toh ada
poles di sana, itu adalah
'touch' yang lahir dari sikap
budaya sebagaimana manusia
yang memang memiliki rasa
dan pikir.
Demikian pula yang berkaitan
dengan kecantikan. Aku
sangat menyadari bahwa
basis tampilanku adalah
perempuan yang cantik. Dan
hal itu terbukti dari banyak
orang yang sering secara
langsung ataupun tidak
langsung memberikan
komentar dan penghargaan
atas kecantikanku serta
sikapku pada kecantikanku
itu. Aku ingin kecantikkan
yang juga memancar dari
sikap budayaku. Dengan
demikian aku akan selalu
cantik dalam keadaan apapun.
Oleh karenanya aku sangat
menyukai 'touch' yang sangat
mencerminkan kemuliaan
pribadi. Buatku hidup ini
sangat tinggi maknanya dan
perlu disikapi secara mulia,
khas dan penuh kepribadian.
Sesudah 1 jam jalan dan lihat
sana-sini kembali aku dilanda
rasa bosan yang menuntunku
untuk balik ke kamar saja.
Aku memasuki kembali lift
menuju kamarku di lantai 5.
Aku masih melihat kamar
depanku yang tetap pintunya
terbuka. Aku membuka
pintuku dan masuk. Aku
sedang hendak mengunci
kembali kamarku ketika
terdengar dari luar sapaan
halus.
"Selamat pagi"
Yang spontan aku jawab
selamat pagi pula sambil
membuka sedikit pintuku.
Kulihat lelaki dari kamar
depanku itu dan begitu cepat
menyisipkan tangannya ke
celah pintu dan meraih
daunnya, kemudian dengan
sangat sigap pula masuk
menelusup ke kamar sebelum
aku menyadari dan
mempersilahkannya.
Hal yang sungguh sangat
tidak mengenakkan aku. Aku
tidak terbiasa berada dalam
sebuah ruangan tertutup
dengan lelaki lain yang bukan
suamiku. Tetapi peristiwa itu
rasanya berlangsung demikian
cepat. Bahkan kemudian lelaki
itu merapatkan dan langsung
mengunci pintuku hingga kini
benar-benar aku bersamanya
dalam kamar tertutup dan
terkunci ini. Ini adalah sebuah
kekeliruan yang besar. Aku
langsung marah dan berusaha
menolaknya keluar dengan
meraih kunci di pintu. Tetapi
kembali dia lebih sigap dari
aku.
"Tenang, zus, jangan takut.
Aku nggak akan menyakiti
zus, kok. Aku cuma sangat
kagum dengan kecantikan
yang zus miliki. Benar-benar
macam kecantikan yang
lahiriah maupun kecantikkan
dari dalam batin. Inner
beauty. Khayalanku menjadi
melambung jauh setiap
melihat zus. Sejak semalam di
meja makan saat makan
malam, kebetulan aku berada
di samping meja makan
rombongan suami zus, aku
lihat tangan-tangan lentik
zus. Aku pastikan zus sangat
cantik. Dan pagi tadi saat zus
jalan-jalan di taman bersama
suami dan kemudian juga
jalan-jalan di sekitar lobby
kembali aku sangat
mengagumi penampilan zus.
Aku sangat terpesona dan
tak mampu menahan diriku.
Aku kepingin sekali tidur
bersama zus, pagi ini".
Orang itu memandangkan
matanya tajam ke mataku.
Omongan orang itu benar-
benar biadab, tak punya
malu. Apalagi rasa hormat. Dia
seakan begitu yakin pasti
menang atasku. Edan! Kok
ada orang edan macam ini.
Omongan panjangnya
kurasakan sangat
merendahkan diriku, kurang
ajar, mengerikan dan
menakutkan. Limbung dan
ketakutan yang amat sangat
langsung melanda sanubariku.
Bulu kudukku merinding. Aku
sepertinya jatuh dari
ketinggian tanpa tahu
akhirnya. Rasa sesak nafasku
demikian menekan emosiku.
Aku merasa begitu sangat
lemah, terbatas dan tak
punya pilihan.
Jangan harap kebaikan dari
lelaki biadab ini. Dia jelas tidak
menyadari dan paham betapa
aku mengagungkan nilai-nilai
hidup ini. Dia tidak tahu
betapa aku selalu takut pada
pengkhianatan dan
pengingkaran terhadap
kesetiaanku pada suami. Aku
sama sekali tak pernah siap
akan hal-hal yang
sebagaimana kuhadapi saat
ini. Sungguh edan!!
Kemudian dengan kalemnya
dia raih tangan dan
pinggangku untuk memelukku.
Harga diri dan martabatku
langsung bangkit marah. Aku
berontak dan melawannya
habis-habisan. Tanganku
meraih apapun untuk aku
pukulkan pada lelaki itu.
Kutendangkan kakiku ke
tubuhnya sekenanya,
kucakarkan kukuku pada
tubuhnya sekenanya pula.
Tetapi.. Ya ampuunn.. Dia
sangat tangguh dan kuat
bagiku.
Lelaki itu berpostur tinggi
pula dan mengimbangi
tinggiku, dan usianya yang
aku rasa tidak jauh beda
dengan usia suamiku disertai
dengan otot-otot lengannya
yang nampak gempal saat
menahan pegangan tanganku
yang terus berontak dan
mencakarinya.
Dia seret dan paksa aku
menuju ke ranjang. Aku
setengah dibantingkannya ke
atasnya. Dan aku benar-
benar terbanting. Kacamataku
terlempar entah ke mana.
Teriakanku sia-sia. Aku rasa
kamar Novotel ini kedap
suara sehingga suaraku yang
sekeras apapun tidak akan
terdengar dari luar. Karena
perlawananku yang tak kenal
menyerah dia dengan cepat
meringkus tangan-tanganku
dan mengikatnya dengan dasi
suamiku yang dia temukan
dan sambar dari tumpukan
baju dekat ranjang hotel.
Dia ikat tanganku ke
backdrop ranjang itu. Aku
meraung, menangis dan
berteriak sejadi-jadinya
hingga akhirnya dia juga
sumpel mulutku, entah pakai
apa, sehingga aku tak mampu
lagi bergerak banyak maupun
berteriak. Sesudah itu dia
tarik tungkai kakiku
mengarah ke dirinya. Dia
nampak berusaha
menenangkan aku, dengan
cara menekan mentalku,
seakan meniupi telingaku. Dia
berbisik dalam desahnya,
"Ayolah, zus, jangan lagi
memberontak. Nanti lelah saja.
Percuma khan, Waktu kita
nggak banyak. Sebentar lagi
suami zus istirahat makan
siang. Dan bukankah dia selalu
menyempatkan untuk
menjemput zus untuk makan
bersama?!".
Aku berpikir cepat menyadari
kata-katanya itu dan menjadi
sangat khawatir. Ini orang
memang betul-betul lihay.
Mungkin memang tukang
perkosa profesional. Dia
seakan tahu dan menghitung
semuanya. Dia bisa
melemparkan isue yang
langsung menekan. Dia tahu
bahwa aku tidak mau
kehilangan suamiku. Dan dia
juga tahu, kalau toh
kepergokpun, dia tak akan
merugi. Hampir tak pernah
dengar ada suami yang
melapor istrinya diperkosa
orang. Yang ada hanyalah
seorang suami yang
menceraikan istrinya tanpa
alasan yang jelas. Disinilah
bentuk tekanan lelaki biadab
ini padaku. Sementara itu
tindakan brutalnya terus
dilakukannya.
Dia robek blusku dengan
kekerasannya untuk
menelanjangi dadaku. Dia
hentakkan kutangku hingga
lepas dan dilemparkannya ke
lantai. Kemudian dengan
seringainya dia menelusurkan
mukanya. Dia benamkan
wajahnya ke ketiakku. Dia
menciumi, mengecup dan
menjilati lembah-lembah
ketiakku. Dari sebelah kanan
kemudian pindah ke kiri. Yang
kurasakan hanyalah perasaan
risih yang tak terhingga.
Suatu perasaan yang terjadi
karena tiba-tiba ada sesuatu,
entah setan, binatang atau
orang telah merangseki
tubuhku ini.