PDA

View Full Version : Teman Dari Sepupuku


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Aku mempunyai saudara
sepupu bernama Monica yang
umurnya kurang lebih 45
tahun. Dia sudah menjanda
selama tiga tahun. Sekarang
dia tinggal di salah satu
perumahan yang tidak terlalu
besar maupun kecil. Kebetulan
anak dari sepupuku ini sudah
ditempat kost, karena
mereka lebih dekat dari
tempat kuliahnya. Aku
kadang-kadang mampir
ketempatnya, untuk
mengobrol maupun mendengar
keluh kesah dia, karena dari
kecil kami sangat akrab.
Suatu saat aku mampir,
terlihat beberapa teman
sepupuku yang sedang
bertamu. Biasanya aku
langsung ke ruang tamu
dibelakang, membaca koran,
majalah atau menonton
televisi. Karena aku pikir
mereka sedang mengobrol
seputar cowok atau mengenai
salon. Lalu aku dipanggil oleh
sepupuku untuk
diperkenalkan kepada teman-
temannya.
Kenalin nich Mbak Rika dan
Mbak Nita kata sepupuku.
Aku menjabat tangan satu
persatu teman sepupuku ini.
Karena mereka sepertinya
sangat santai sekali cara
mengobrolnya, aku agak
sungkan lalu aku ke belakang
kembali. Kudengar cara
mereka bicara seperti anak-
anak seumur tujuh belas
tahun, mungkin bila di depan
anak-anak mereka, tidak
begitu cara mereka berbicara.
Mereka tinggal di perumahan
Bintaro, bila dengar cerita
sepupuku Mbak Rika baru
enam bulan ini ditinggal oleh
suaminya karena kecelakaan
pesawat terbang, sedangkan
Mbak Nita adalah seorang
istri pejabat yang sering
ditinggal suaminya keluar
negeri. Mbak Rika mempunyai
tubuh padat, kulit putih,
tinggi kurang lebih 165 cm.
Sedangkan Mbak Nita agak
langsing dengan payudara
yang agak lumayan menonjol
serta mempunyai warna kulit
yang sama dengan Mbak Rika.
Mon aku pulang dulu yach,
tuch sudah dijemput anakku,
masalahnya aku mau ke
Bogor ada acara arisan kata
Mbak Nita.
Lho aku pulang dengan siapa
nich sela Mbak Rika.
Gampang nanti diantar oleh
adik gue jawab Monica
seraya menepuk bahuku.
Wach enggak ngerepotin nich
Mas kata Mbak Rika kembali.
Enggak koq Mbak jawabku.
Lalu aku disuruh menemani
Mbak Rika mengobrol, karena
sepupuku Monica hendak
mandi. Kulihat Mbak Rika
memakai rok hitam serta
blazer berwarna pink, duduk
santai dikarpet membaca
majalah sambil meluruskan
kakinya. Kulihat begitu bening
kulit dipahanya. Lalu kami
mengobrol panjang lebar, tapi
kulihat dari pandangan Mbak
Rika agak sedikit genit,
sehingga membuatku pusing
juga. Setelah Monica selesai
mandi, Mbak Rika mohon
pamit.
Mas tolongin dong, maklum
nich sudah tua sambil minta
tolong kepadaku supaya
meraih kedua tangannya
untuk berdiri.
Ha ha ha Rika.. Rika..
Makanya minum jamu dong
ledek Monica terhadapnya.
Aduch.. Koq begini yach
pinggangku jawab Mbak Rika
sambil menunduk memegang
pinggangnya.
Nach lho.. Kenapa nich
tanya Monica.
Enggak tahu nich jawab
Mbak Rika.
Lalu aku tuntun Mbak Rika ke
dalam mobil.
Ok. Mon.. Sampai lusa yach
bye.. bye.. aEt
Dalam perjalanan Mbak Rika
duduk di depan, menemaniku
membawa mobil, dia juga
minta izin kalau dia mau
rebahan sambil menurunkan
sandaran jok kebelakang.
Kadang kucuri pandang paha
Mbak Rika yang agak
tersingkap dari roknya.
Mas sepertinya pinggangku
agak salah urat nich saat
duduk di karpet tadi
Wach itu harus cepat-cepat
diurut lho.. Mbak kataku.
Tapi mau cari tukang urut
dimana, malam-malam beginiaEt
kata Mbak Rika.
Memang anak-anak Mbak
enggak ada yang bisa
mengurut Mbak? tanyaku
memancing.
Mereka semua di Jogya Mas,
kuliah disana jawabnya.
Yach kalau enggak
keberatan, aku bisa sich
mengurut pinggang Mbak
Rika pancingku lagi.
Yach udach.. jawabnya
mengangguk.
Singkat cerita aku menunggu
Mbak Rika diruang tamu,
karena dia sedang ganti baju
sambil membuatkan aku teh
manis. Mbak Rika keluar dari
ruang tengah sambil
membawa cangkir minuman
untukku, dengan hanya
mengenakan daster yang
amat tipis, sehingga secara
samar-samar terlihat BH
serta celana dalamnya. Wach
tambah pusing aku dibuatnya.
Minum dulu dech Mas sapa
dia.
Lalu aku diajak ke dalam
kamar Mbak Rika, untuk
diurut.
Mas bagian sini nich sambil
Mbak Rika mengangkat
dasternya hingga kebahunya
dalam keadaan terlungkup
ditempat tidur.
Memang Mbak Rika ini
mempunyai tubuh yang padat,
hingga kedua belah bagian
pantatnya tampak tersembul
ke atas, dan yang lebih
gilanya dia memakai celana
dalam yang model
belakangnya hanya seutas
tali yang menyelip diantara
kedua belah pantatnya. Tak
disangka hari ini aku
menikmati pemandangan yang
luar biasa indahnya. Lalu aku
mengambil minyak dari
keranjang yang telah dia
sediakan, didalam keranjang
itu juga ada beberapa botol
alat-alat untuk mandi. Aku
mulai menggosok bagian
pinggangnya dan kadang-
kadang tanganku kusentuh
pada bongkahan daging pada
kedua belah pantatnya. Dia
rupanya sangat menikmati
urutan tanganku
dipinggangnya, hingga dia
terlelap tidur.
Mbak gimana sudah agak
enakan enggak? tanyaku.
Dia kaget terbangun lalu, dia
berkata Mas bisa tolong
sekalian betis kakiku enggak,
masalahnya agak pegal-pegal
juga nich
Yups.. jawabku singkat.
Tampak Mbak Rika agak
merenggangkan kedua belah
kakinya dan tetap dalam
posisi terlungkup, tampak
sekilas kulihat pinggiran
lubang vagina Mbak Rika
tersembul diantara celana
dalamnya yang memang
hanya berbentuk segitiga
pada bagian depannya. Aku
lalu menukar minyak gosok
dengan body oil dalam
keranjang diatas meja dekat
tempat tidur Mbak Rika. Aku
mulai menggosok dari betis ke
arah paha dengan
melumurkan body oil agak
banyak. Terus kuurut kedua
belah betis Mbak Rika hingga
sampai kedua belah pahanya.
Mas urutnya agak ditekan
sedikit dibagian sini Mas,
soalnya pegel amat sich kata
Mbak Rika sambil menunjuk
antara paha dan pantatnya
dibagian belakang, lalu dia
juga membuka tali dari celana
dalamnya dan menariknya lalu
ditaruhnya dekat bantal
dikepalanya. Makin jelas sudah
kulihat vagina Mbak Rika dari
bagian belakang dan
tampaknya bulu-bulu
jembutnya dicukur bersih
olehnya. Aku mulai menekan
pantatnya dengan kedua
jempolku, dan kadang-kadang
aku sentuh lubang anus Mbak
Rika dengan sentuhan halus.
Och.. tampak Mbak Rika
mulai mendesah.
Aku tuang body oil banyak-
banyak dikedua bongkahan
daging dipantatnya, lalu aku
mulai menggosoknya turun
naik dari kedua pahanya. Lalu
Mbak Rika menyuruhku
menaruh body oil ditelapak
tanganku, lalu dipegangnya
tanganku dan ditaruh disela-
sela lubang kemaluannya.
Mas tolong gosok dibagian ini
yach Mas pintanya.
Lalu aku mulai menggosok
bibir kemaluannya mulai dari
lubang anus Mbak Rika.
Och.. Mas teruskan Mas.. Och..
Kulihat Mbak Rika mulai
terangsang oleh sentuhan-
sentuhan kelima jariku. Tanpa
buang waktu sambil
menggosok body oil
kumasukan jari tengahku ke
dalam lubang kemaluannya,
terus kulalukan beberapa kali,
dan kulihat kedua tangan
Mbak Rika meramas keras
sprei ditempat tidurnya. Tiba-
tiba Mbak Rika bangun dari
tempat tidurnya lalu
menyerangku dengan ciuman
dibibirku sambil
mempermainkan lidahnya. Dan
dia berbisik.
Mas aku buka bajunya yach
Aku hanya mengangguk tanda
setuju. Dilepaskannya baju
dan celanaku, hingga tak
selembarpun benang
menempel ditubuhku.
Daster Mbak aku buka juga
yach
Diapun mengangguk setuju.
Aku disuruhnya duduk
disamping tempat tidurnya,
lalu disodorkan kedua belah
buah dadanya kemulutku, dan
aku sambut dengan melumat
kedua belah bongkahan
daging kenyal didadanya.
Tangan kananku juga sudah
bermain disekitar vagina
Mbak Rika, tampaknya bekas
body oil yang tadi sudah
bercampur dengan cairan
bening dilubang kemaluan
Mbak Rika. Dia makin
mendekap kepalaku
kedadanya, dan kadang-
kadang pinggulnya
menghentak-hentak ke
arahku, saat jari-jariku
keluar masuk ke dalam lubang
kemaluannya.
Lalu dia jongkok dihadapanku
dan mulai memasukan penisku
ke dalam mulutnya, tampak
penisku hilang ditelan oleh
gumulan mulutnya hingga
masuk menyentuh
tenggorokannya. Rasa nikmat
mulai menjalar keubun-ubun
kepalaku. Lalu dia permainkan
lidahnya pada ujung bagian
bawah penisku. Wach sangat
pintar sekali pikirku Mbak
Rika ini cara merangsang laki-
laki.
Mas mau khan gantian
pintanya.
Aku mengerti bahwa Mbak
Rika minta dijilati vaginanya.
Lalu dia mengambil handuk
kecil, disemprotnya handuk
tersebut dengan minyak
wangi, yang kutahu bukan
minyak wangi lokal, lalu
dibersihkan selangkangannya
dengan handuk tersebut. Lalu
diapun tidur terlentang
dengan mengganjal pantatnya
dengan dua buah bantal
tidurnya. Maka tampak jelas
lubang kemaluan Mbak Rika
yang telah mempunyai bibir
disisi kanan kirinya dengan
warna merah kecoklat-
coklatan. Dan tampak pula
lubang anus Mbak Rika yang
sudah berwarna coklat tua,
pasti dia pernah bermain anal
sex juga nich pikirku. Dan
memang tidak terlihat sehelai
rambutpun disekitar kemaluan
dan anusnya.
Lalu aku mulai jilat bibir
kemaluan Mbak Rika, dan
memang tidak tercium bau
yang aneh-aneh, berarti
memang Mbak Rika sangat
rajin merawat tubuhnya. Dia
mulai menggelinjang diatas
tempat tidurnya, saat kusapu
kemaluannya dengan lidahku.
Lalu aku oleskan telunjukku
dengan body oil, dan
kumasukan pelan-pelan ke
dalam lubang anusnya,
berbarengan dengan lidahku
mempermainkan kelentitnya.
Och.. Och.. Och..!!
Tampak teriakan Mbak Rika
sepertinya tidak
menghiraukan akan ada
orang lain yang
mendengarkannya.
Teruskan Mas.. Jangan
berhenti.. Och.
Terus kupermainkan kedua
lubang Mbak Rika, akhirnya
dia memintaku untuk
memasukkan penisku ke
dalam lubang kemaluannya.
Mas.. Pakai kondom yach..,
itu ambil didalam laci
Ternyata didalam laci kulihat
bukan hanya kondom, tetapi
ada beberapa penis yang
terbuat dari karet elastis
juga terdapat didalamnya.
Setelah kupakai kondom,
kumasukan penisku ke dalam
kemaluannya, langsung aku
hentak keras beberapa kali
lubang kemaluannya. Iapun
mengimbangi dengan
mengangkat pantatnya
tinggi-tinggi, terus kulakukan
permainan keras tersebut
selama tiga puluh menit,
hingga kulihat Mbak Rika
tidak lagi melakukan
perlawanan. Sedangkan
penisku belum ada tanda-
tanda mau mengeluarkan
pejunya, lalu aku cabut
penisku dari lubang kemaluan
Mbak Rika. Perlahan-lahan
aku masukan ke dalam lubang
anus Mbak Rika sambil
meneteskan body oil dibagian
atas penisku.
Pelan-pelan Mas..
Terus aku tekan penisku
hingga terpendam habis
dilubang anus Mbak Rika, dan
pelan-pelan juga aku tarik,
lalu aku masukan kembali,
sampai Mbak Rika tidak
membuat reaksi tanda sakit
dilubang anusnya. Aku mulai
menggenjot tanpa henti
penisku ke dalam lubang
anusnya, dan karena tidak
selonggar lubang kemaluan
Mbak Rika, pejuku mulai
berlomba-lomba ingin keluar.
Dan saat pejuku hendak
muncrat kutekan penisku
dalam-dalam sambil mencium
bibir dan merangkul tubuh
Mbak Rika kuat-kuat. Setelah
itu aku terkulai disisi tubuh
Mbak Rika. Dan kulihat Mbak
Rika mencabut kondomku lalu
membersihkan penisku dengan
handuk kecilnya. Lalu iapun
merangkul diriku, sambil
berbisik.
Jaga rahasia kita berdua ini
yach Mas..
Akupun mengangguk lalu
kukecup keningnya, sambil
merangkulnya erat-erat.
E N D