PDA

View Full Version : Roti Bakar


knock
10-10-2015, 05:58 AM
Minggu kemarin aku
ditugaskan oleh kantorku ke
kantor cabang di Bandung.
Memang aku sudah ada
rumah yang sudah disiapkan
oleh kantor pusat, jadi tidak
perlu lagi untuk menginap di
hotel, yang tentu akan lebih
besar pengeluarannya.
Sudah tujuh hari ini aku
selalu makan malam keluar
rumah, karena rumah tempat
tinggalku hanya ada
pembantu pria yang hanya
membersihkan rumah serta
mencuci pakaian dan pulang
pada sore hari setelah aku
pulang dari kantor cabang di
Bandung.
Memang sudah dua hari ini
aku bila tidak ingin makan
malam yang harus naik
angkot, aku suka makan roti
bakar dan bubur kacang ijo
yang berada di depan kantor
cabangku. Itupun tidak boleh
lebih dari jam sembilan malam,
karena lebih dari jam
tersebut warung tersebut
sudah tutup. Aku kaget juga
saat makan diwarung
tersebut yang biasa melayani
Pak tua, kok tiba-tiba yang
melayani seorang ibu yang
berwajah lumayan manis,
dengan tubuh sintal, umur
kira-kira 45 tahun, dan
berkulit kuning langsat
seperti ciri-ciri khas orang
Jawa Barat.
Bu, bapak yang biasa
melayani disini, kemana bu?
sapaku.
Och Mang Didin, sedang sakit
Mas. jawabnya.
Lalu ibu siapa? tanyaku
penasaran.
Dia hanya tersenyum manis
saja.
Wach ini ibu bikin penasaran
aja nich pikirku dalam hati.
Memang sich dia balik
bertanya, aku ini siapa, dan
setelah aku jelaskan, dia
memang memperkenalkan diri
bahwa dia ibu Lastri. Dia
jelaskan bahwa dia tinggal
persis dibelakang kantorku
saat ini, tetapi masuk gang
kecil. Aku duduk sambil makan
roti tidak biasanya hingga
sampai warung tersebut
tutup. Cukup jelas bahwa Bu
Lastri hanya tinggal bersama
seorang anaknya laki-laki
yang sudah berkeluarga. Lalu
dari informasi pembantu di
kantor cabangku, bahwa Bu
Lastri tersebut ditinggal cerai
oleh suaminya setahun yang
lalu, dan dikatakan bahwa Bu
Lastri sebelum cerai termasuk
orang yang berada, meskipun
tidak terlalu kaya sekali.
Pastas pikirku, dari
dandanannya, Bu Lastri tidak
terlalu seperti ibu-ibu yang
lain, dalam arti tidak memakai
kebaya, melainkan memakai
baju terusan hingga
dengkulnya.
Bapak kapan ngobrol dengan
Bu Lastri? tanya pembatuku.
Tadi malam. jawabku
singkat.
Wach bapak pulang kantor
suka malam sich, Bu Lastri
kalau siang atau sore kira-
kira jam lima suka ngobrol
disini dengan saya lho. jawab
pembantuku lagi.
Och ternyata Bu Lastri suka
ambil air ledeng dari
kantorku, untuk air termos
diwarungnya. Hm.. Kesempatan
pikirku.
Singkat cerita, aku sengaja
pulang agak sore, dan
memang benar Bu Lastri
sedang ngobrol dengan si
Dadang pembantuku. Lalu aku
ditegurnya sambil berkata.
Maaf nich Mas, ketahuan
dech, sering minta air nich.
Nach yach.. Ketahuan, kalau
begitu harus bayar nich,
dengan roti bakar. candaku.
Tapi tiba-tiba si Dadang mau
izin pulang cepat karena
adiknya mau kedokter,
kebetulan pikirku he he he.
Iya dech nanti aku bilang
sama Mang Didin menyiapkan
roti bakar untuk Mas
Lalu aku coba untuk
menggodanya Ech enggak
bisa, yang ambil air khan ibu,
yang membuatkan roti bakar
juga harus Bu Lastri dong.
Dia menatapku tajam sambil
menggigit bibirnya yang
sangat indah dilihat, aku
sudah dapat membaca
pikirannya, bahwa dia sudah
mengerti maksudku. Lalu aku
balas tersenyum kepadanya,
diapun tersenyum kembali
sambil permisi untuk ke
warungnya.
Akhirnya aku paling sering
pulang sore-sore hingga
suatu waktu saat si Dadang
hendak izin tidak bisa masuk,
akupun izin ke kantor untuk
istirahat dirumah, padahal
ada niat untuk mengencani
Bu Lastri, karena memang
aku sudah ada sinyal dari
pandangan matanya beberapa
hari yang lalu.
Siang hari seperti biasa Bu
Lastri datang untuk minta
air, lalu aku pura-pura
menjawab meringis sambil
memegang pinggangku. Dan
memang benar Bu Lastri
datang menyambut.
Kenapa Mas pinggangnya
Enggak tahu nich, tadi pagi
bangun tidur langsung
pinggang saya terasa mau
patah.
Mau ibu pijitin tantangnya.
Wach kebetulan nich pikirku.
Singkat cerita aku sudah
tiduran dibangku panjang
diruang tamuku tanpa baju,
lalu Bu Lastri memijit
pinggangku. Setelah lima
menit aku bangkit berdiri, lalu
aku tawarkan ide gilaku
untuk memijitnya.
Ach memang Mas bisa mijit,
kalau bisa kebetulan nich
betis ibu suka pegal-pegal
Aku tidak banyak bicara aku
suruh Bu Lastri tiduran untuk
memijit betis bagian belakang.
Memang seperti kebiasaan Bu
Lastri hanya memakai baju
daster bercorak kembang
hingga batas dengkulnya. Lalu
aku mengambil body oil dari
kamarku. Aku urut betis Bu
Lastri lalu pelan-pelan
pijitanku aku naikkan hingga
pahanya. Dia ternyata hanya
diam saja. Karena sudah ada
sinyal pikirku, aku singkapkan
dasternya hingga kedua belah
pantatnya yang sangat
menantang terlihat jelas di
depan mataku. Aku pijat
pahanya sambil kedua
jempolku aku masukan ke
dalam celana dalamnya. Dia
hanya mendesah.
Och..
Hm.. Kesempatan nich, aku
tidak buang-buang waktu
lagi, aku turunkan celana
dalam Bu Lastri hingga batas
dengkulnya, lalu aku masukan
tangan kananku ke dalam
celah kedua belah pahanya,
sambil memasukan jari
tengahku ke dalam lubang
kemaluan Bu Lastri.
Och.. Och.. desah Bu Lastri
sambil mengangkat pantatnya
agak ke atas, hingga makin
jelas terlihat kemaluan Bu
Lastri yang sudah berwarna
coklat tua. Lalu aku lumurkan
body oil persis dilubang anus
Bu Lastri, hingga meleleh
hingga ke lubang
kemaluannya. Aku gosok-
gosok lubang kemaluan Bu
Lastri bagian luarnya,
sedangkan jempolku aku
gesek-gesek secara perlahan
dilubang anusnya. Rupanya Bu
Lastri tidak kuat lagi
menahan gejolak napsu
birahinya. Langsung dia berdiri
sambil menarik celana
dalamnya ke atas kembali,
dan mencium bibirku lalu
berkata pelan.
Mas masih siang enggak
enak nanti ada yang datang
lagi, nanti sore pasti saya
akan ambil air lagi dech Bu
Lastri seakan mengisyaratkan
aku bahwa nanti sore saja
setelah hari agak gelap.
Benar saja masih seperti tadi
Bu Lastri berpakaian, dia
datang berpura-pura untuk
minta air, kulihat mang Didin
sedang sibuk melayani tamu
yang memesan roti bakar
diwarung Bu Lastri. Aku
menyuruh Bu Lastri masuk
kembali, tapi sekarang aku
ajak dia kekamar tengah
tempat aku nonton TV, aku
langsung mendekapnya, dia
menyambut dengan ciuman
sambil melumat lidahku. Lalu
aku suruh Bu Lastri membuka
dasternya. Hingga dia
telanjang bulat, lalu aku
suruh dia nungging diatas
bangku, secara pelan-pelan
aku selusuri pahanya dengan
lidahku, hingga sampai ke
lubang kemaluannya. Tampak
memang Bu Lastri rajin
merawat tubuhnya.
Tanpa buang waktu aku buka
celanaku lalu aku masukan
penisku ke dalam lubang
kemaluannya dari belakang,
aku genjot Bu Lastri dari
belakang hingga cairan putih
menetes dari lubang
kemaluannya. Sedangkan dia
hanya menunduk sambil
mendekap senderan bangku
tamuku, sambil memejamkan
matanya menahan rasa
nikmat.
Aku balikkan tubuh Bu Lastri
lalu aku jilat teteknya yang
sudah mulai mengendor, aku
buat beberapa sedotan keras
dari bibirku dibagian pinggir
teteknya hingga membekas
berwarna merah kehitam-
hitaman. Dia hanya mendesah
terus menerus. Aku bisikan
perlahan.
Ibu isep saya punya yach
Tanpa disuruh lagi Bu Lastri
langsung duduk di bangku
sambil mengulum penisku, dan
tampaknya beliau tahu persis
cara mengulum yang benar.
Diputar-putarnya penisku
dengan lidah serta air liurnya,
hingga penisku makin tegang
dan keras. Lalu aku pegang
kepalanya dengan kedua
tanganku dan langsung
kugoyangkan penisku keluar
masuk ke dalam mulutnya.
Lalu dijilatnya pinggiran
penisku hingga bagian paling
bawah mendekati lubang
anusku. Wow memang ibu
yang satu ini sangat lihai
cara memberikan kenikmatan
pada pria.
Lalu aku tarik bangku
tamuku, aku sandarkan tubuh
Bu Lastri di sandaran bangku
hingga kepalanya menyentuh
tempat duduk, sedangkan
pinggangnya terganjal
disandaran bangku, lalu aku
renggangkan kedua belah
paha Bu Lastri dan
kumasukan penisku ke lubang
kemaluannya mulai dari
perlahan hingga kugenjot
kencang.
Tampak Bu Lastri hendak
berteriak, tapi karena takut
terdengar tetangga, ia hanya
mendesah.
Och.. Och.. Och.. Teruskan
Mas, teruskan..
Kami berdua hingga
berkeringat, karena memang
sengaja aku menahan pejuku
untuk tidak muncrat dahulu.
Karena aku memang benar-
benar terangsang dengan
putihnya body Bu Lastri, buah
dadanya yang masih bulat
menantang, meskipun agak
turun sedikit, serta
pinggulnya sangat menantang
bila dia memakai rok maupun
celana ketat.
Aku cabut penisku sambil
membersihkan lubang
kemaluan Bu Lastri dengan
tissue, karena tampaknya Bu
Lastri telah mencapai puncak
kenikmatannya, sehingga
tampak cairan pejunya
meleleh. Akhirnya aku angkat
Bu Lastri ke dalam kamar
tidurku, aku rebahkan dia,
aku kecup bibirnya sambil
tanganku memelintir puting
susunya, kadang-kadang aku
ramas buah dadanya. Lalu
ciumanku dibibirnya aku
pindahkan kekedua buah
dadanya, aku jilat secara
bergantian puting susu Bu
Lastri. Dia tampak gelisah
karena mulai terangsang
kembali sambil kadang-kadang
mengangkat pinggulnya
supaya vaginanya bergesekan
dengan penisku, mulai dari
buah dadanya jilatanku turun
ke arah pusar serta perut
bagian sisi kanan dan kirinya.
Och..!! tampak Bu Lastri tak
kuat lagi menahan
rangsangan yang aku berikan
lewat jilatan lidahku. Ia pun
langsung membalikkan
badanku hingga terlentang
lalu diapun mulai membalas
dengan menjilat kedua puting
tetekku, lalu mengangkat
kedua pahaku hingga ke
atas, hingga pinggangku agak
terangkat, lalu ia mulai
menjilat kedua bijiku lalu lebih
turun kembali disekitar
pinggiran lubang anusku,
kadang-kadang ujung lidah Bu
Lastri menyentuh pas
ditengah lubang anusku, dan
memang kenikmatan yang
luar biasa yang saya
dapatkan pada sore hari ini.
Karena memang service dari
Bu Lastri secara bertubi-tubi
tanpa henti, langsung
membuat aku tidak dapat lagi
menahan pejuku untuk keluar.
Lalu aku angkat Bu Lastri
untuk posisi menduduki
penisku, secara perlahan dia
masukan penisku ke dalam
lubang kemaluannya. Langsung
tanpa diberi komando Bu
Lastri memacu diriku seperti
kuda liar, terus dia
menggoyangkan pinggulnya
maju mundur. Kejadian ini
berlangsung selama duapuluh
menit dan tampak keringat
mulai menetes dari tubuh Bu
Lastri, langsung dia mendekap
diriku, sambil berbisik.
Keluarkan yach Mas.. aku
sudah tak kuat lagi..
Sambil mengangguk aku cium
bibirnya yang mungil. Lalu Bu
Lastri kembali pada posisi
menduduki aku sambil memacu
goyangan pinggulnya lebih
kencang lagi, terus.. Dia
memacu, akupun tak dapat
menahan kenikmatan yang
sudah memuncak diubun-ubun
kepalaku. Lalu aku lepaskan
pejuku didalam lubang
kemaluan Bu Lastri, dan
tampaknya ini juga diimbangi
dengan goyangan Bu Lastri
yang makin lama makin
melemah sambil kadang-
kadang dia menghentakkan
pinggulnya, yang rupanya dia
mengeluarkan pejunya untuk
yang kedua kalinya. Lalu dia
tersungkur merebahkan
badannya diatas tubuhku,
sambil memeluk erat tubuhku.
Setelah sepuluh menit, aku
bisikan ditelinga Bu Lastri.
Bu yuck pake baju, nanti
mang Didin nyariin lho..
Lalu Bu Lastri bangun dan
membersihkan dirinya didalam
kamar mandiku, demikian juga
aku. Setelah rapih Bu Lastri
berkata.
Mas aku kedepan yach Lalu
aku menjawab.
Terima kasih, roti bakarnya
yach bu
Lalu dia berbalik
memandangku tajam sambil
tersenyum dan berkata,
Awas kamu yach..
E N D