PDA

View Full Version : Aku Di Gangbang DiSekolah


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Namaku Eliza. Cerita ini terjadi
saat usiaku masih 17 tahun.
Waktu itu, aku duduk di kelas
2 SMA swasta yang amat
terkenal di Surabaya. Aku
seorang Chinese, tinggi 157
cm, berat 45 kg, rambutku
hitam panjang sepunggung.
Kata orang orang, wajahku
cantik dan tubuhku sangat
ideal. Namun karena inilah aku
mengalami malapetaka di hari
Sabtu, tanggal 18 Desember.
Seminggu setelah perayaan
ultahku yang ke 17 ini,
dimana aku akhirnya
mendapatkan SIM karena
sudah cukup umur, maka aku
ke sekolah dengan
mengendarai mobilku sendiri,
mobil hadiah ultahku. Sepulang
sekolah, jam menunjukkan
waktu 18:30 (aku sekolah
siang, jadi pulangnya begitu
malam), aku merasa perutku
sakit, jadi aku ke WC dulu.
Karena aku bawa mobil
sendiri, jadi dengan santai
aku buang air di WC, tanpa
harus kuatir merasa sungkan
dengan sopir yang
menungguku. Tapi yang
mengherankan dan sekaligus
menjengkelkan, aku harus
bolak balik ke wc sampai 5
kali, mungkin setelah tak ada
lagi yang bisa dikeluarkan,
baru akhirnya aku berhenti
buang air. Namun perutku
masih terasa mulas. Maka aku
memutuskan untuk mampir ke
UKS sebentar dan mencari
minyak putih. Sebuah
keputusan fatal yang harus
kubayar dengan kesucianku.
Aku masuk ke ruang UKS,
menyalakan lampunya dan
menaruh tas sekolahku di
meja yang ada di sana, lalu
mencari cari minyak putih di
kotak obat. Setelah ketemu,
aku membuka kancing baju
seragamku di bagian perut ke
bawah, dan mulai
mengoleskan minyak putih itu
untuk meredakan rasa sakit
perutku. Aku amat terkejut
ketika tiba tiba tukang sapu
di sekolahku yang bernama
Hadi membuka pintu ruang
UKS ini. Aku yang sedang
mengolesi perutku dengan
minyak putih, terkesiap
melihat dia menyeringai,
tanpa menyadari 3 kancing
baju seragamku dari bawah
yang terbuka dan
memperlihatkan perutku yang
rata dan putih mulus ini. dan
belum sempat aku sadar apa
yang harus aku lakukan, ia
sudah mendekatiku,
menyergapku, menelikung
tangan kananku ke belakang
dengan tangan kanannya,
dan membekap mulutku erat
erat dengan tangan kirinya.
Aku meronta ronta, dan
berusaha menjerit, tapi yang
terdengar cuma aEseeemphaE|
eeemphaE|aEt. Dengan panik aku
berusaha melepaskan
bekapan pada mulutku
dengan tangan kiriku yang
masih bebas. Namun apa arti
tenaga seorang gadis yang
mungil sepertiku menghadapi
seorang lelaki yang tinggi
besar seperti Hadi ini? Aku
sungguh merasa tak berdaya.
aEsHalo non ElizaaE| kok masih
ada di sekolah malam malam
begini?aEt tanya Hadi dengan
menjemukan. Mataku
terbelalak ketika masuk lagi
tukang sapu yang lain yang
bernama bernama Yoyok.
aEsGirnoooaEt, ia melongok keluar
pintu dan berteriak
memanggil satpam di
sekolahku. Aku sempat
merasa lega, kukira aku akan
selamat dari cengkeraman
Hadi, tapi ternyata Yoyok
yang mendekati kami
bukannya menolongku, malah
memegang pergelangan
tangan kiriku dengan tangan
kanannya, sementara tangan
kirinya mulai meremasi
payudaraku. aEsWah baru kali
ini ada kesempatan pegang
susu amoy.. ini non Eliza yang
sering kamu bilang itu kan
Had?aEt tanya Yoyok pada
Hadi, yang menjawab aEsiya
Yok, amoy tercantik di
sekolah ini. Betul gak?aEt tanya
Hadi. Sambil tertawa Yoyok
meremas payudaraku makin
keras. Aku menggeliat
kesakitan dan terus meronta
berusaha melepaskan diri
sambil berharap semoga Girno
yang sering kuberi tips untuk
mengantrikan aku bakso
kesukaanku tiap istirahat
sekolah, tidak setega mereka
berdua yang sudah seperti
kerasukan iblis ini. Tapi aku
langsung sadar aku dalam
bahaya besar. Yang
memanggil Girno tadi itu kan
Yoyok. Jadi sungguh bodoh
bila aku berharap banyak
pada Girno yang kalau tidak
salah memang pernah aku
temukan sedang mencuri
pandang padaku. AtaukahaE| ?
Beberapa saat kemudian
Girno datang, dan melihatku
diperlakukan seperti itu, Girno
menyeringai dan berkata,
aEsDengar! Kalian jangan
gegabah.. non Eliza ini kita
ikat dulu di ranjang UKS ini.
Setelah jam 8 malam, gedung
sekolah ini pasti sudah
kosong, dan itu saatnya kita
berpesta kawan kawan!aEt.
Maka lemaslah tubuhku
setelah dugaanku terbukti,
dan dengan mudah mereka
membaringkan tubuhku di
atas ranjang UKS. Kedua
tangan dan kakiku diikat erat
pada sudut sudut ranjang itu,
dan dua kancing bajuku yang
belum lepas dilepaskan oleh
Hadi, hingga terlihat kulit
tubuhku yang putih mulus,
serta bra warna pink yang
menutupi payudaraku. Aku
mulai putus asa dan memohon
aEsPak Girno.. tolong jangan
begini pak..aEt. Ratapanku ini
dibalas ciuman Girno pada
bibirku. Ia melumat bibirku
dengan penuh nafsu, sampai
aku megap megap kehabisan
nafas, lalu ia menyumpal
mulutku supaya aku tak bisa
berteriak minta tolong. aEsNon
Eliza, tenang saja. Nanti juga
non bakalan merasakan surga
dunia kokaEt, kata Girno sambil
tersenyum memuakkan.
Kemudian Girno
memerintahkan mereka semua
untuk kembali melanjutkan
pekerjaannya, dan mereka
meninggalkanku sendirian di
ruang UKS sialan ini. Girno
kembali ke posnya, Hadi dan
Yoyok meneruskan
pekerjaannya menyapu
beberapa ruangan kelas yang
belum disapu. Dan aku kini
hanya bisa pasrah menunggu
nasib.
Aku bergidik membayangkan
apa yang akan mereka
lakukan terhadapku. Dari
berbagai macam cerita
kejahatan yang aku dengar,
aku mengerti mereka pasti
akan memperkosaku ramai
ramai. Sakit perutku sudah
hilang berkat khasiat minyak
putih tadi. Detik demi detik
berlalu begitu cepat, tak
terasa setengah jam sudah
berlalu. Jam di ruang UKS
sudah menunjukkan pukul
20:00. tibalah saatnya aku
dibantai oleh mereka. Hadi
masuk, diikuti Yoyok, Girno,
dan celakanya ternyata
mereka mengajak 2 satpam
yang lain, Urip dan Soleh. aEsHai
amoy cantik.. sudah nggak
sabar menunggu kami ya?aEt,
kata Hadi. Dengan mulut yang
tersumpal sementara tangan
dan kakiku terikat, aku
hanya bisa menggeleng
nggelengkan kepala, dengan
air mata yang mengalir deras
aku memandang mereka
memohon belas kasihan,
walaupun aku tahu pasti hal
ini tak ada gunanya. Mereka
hanya tertawa dan dengan
santai melepaskan baju
seragam sekolahku, hingga
aku tinggal mengenakan bra
dan celana dalam yang
warnanya pink. Mereka
bersorak gembira,
mengerubutiku dan mulai
menggerayangi tubuhku,
tanpa aku bisa melawan sama
sekali. Aku masih sempat
memperhatikan, betapa kulit
mereka itu hitam legam dan
kasar dibandingkan kulitku
yang putih mulus, membuatku
sedikit banyak merasa jijik
juga ketika memikirkan
tubuhku dikerubuti mereka,
untuk kemudian digangbang
tanpa ampun..
Aku terus meronta, tapi tiba
tiba perasaanku tersengat
ketika jari-jari Girno
menyentuh selangkanganku,
menekan nekan klitorisku
yang masih terbungkus celana
dalam. Aku tak tau sejak
kapan, tapi bra yang aku
pakai sudah lenyap entah
kemana, dan payudaraku
diremas remas dengan brutal
oleh Hadi dan Yoyok,
membuat tubuhku panas
dingin tak karuan. Selagi aku
masih kebingungan merasakan
sensasi aneh yang melanda
tubuhku, Urip mendekatiku,
melepas sumpalan pada
mulutku, dan melumat bibirku
habis habisan. Ya ampun.. aku
semakin gelagapan, apalagi
kemudian Soleh meraba dan
membelai kedua pahaku.
Dikerubuti dan dirangsang
sedemikan rupa oleh 5 orang
sekaligus, aku merasakan
gejolak luar biasa melanda
tubuhku yang tanpa bisa
kukendalikan, berkelojotan
dan mengejang hebat,
berulang kali aku terlonjak
lonjak, ada beberapa saat
lamanya tubuhku tersentak
sentak, kakiku melejang
lejang, rasanya seluruh
tubuhku bergetar. aEsoh.. ohaE|
augh.. ngggg.. aaaaaaaghaE|aEt
aku mengerang dan menjerit
keenakan dan keringatku
membanjir deras. Lalu aku
merasa kelelahan dan lemas
sekali, dan mereka
menertawakanku yang
sedang dilanda orgasme
hebat. aEsEnak ya non?
HahahaaE| nanti Non pasti
minta tambahaEt. Aku tak
melihat siapa yang bicara,
tapi aku tahu itu suara
Yoyok, dan aku malas
menanggapi ucapan yang
amat kurang ajar dan
merendahkanku itu.
Kemudian Girno berkata
padaku, aEsNon Eliza, kami akan
melepaskan ikatanmu. Jika
nona tidak macam macam,
kami akan melepaskan nona
setelah kami puas. Tapi jika
nona macam macam, nona
akan kami bawa ke rumah
kosong di sebelah mess kami.
Dan nona tahu kan apa
akibatnya? Di situ nona tidak
hanya harus melayani kami
berlima, tapi seluruh penghuni
mess kami. Mengerti ya
non?aEt. Mendengar hal itu, aku
hanya bisa mengangguk
pasrah, dan berharap aku
cukup kuat untuk melalui ini
semu. aEsIya pak. Jangan bawa
saya ke sana pak. Saya akan
menuruti kemauan bapak
bapak. Tapi tolong, jangan
lukai saya dan jangan hamili
saya. Dan lagi, saya masih
perawan pak. Tolong jangan
kasar. Tolong jangan
keluarkan di dalam ya?aEt
pintaku sungguh sungguh,
dan merasa ngeri jika aku
harus dibawa ke mess
mereka. Aku tahu penghuni
mess itu ada sekitar 60
orang, yang merupakan
gabungan satpam, tukang
sapu dan tukang kebun dari
SMA tempat aku sekolah ini,
ditambah dari SMP dan SD
yang memang masih
sekomplek, maklum satu
yayasan. Daripada aku lebih
menderita digangbang oleh 60
orang, lebih baik aku
menuruti apa mau mereka
yang aE~cumaaE? berlima ini. Dan
aku benar benar berharap
agar tak ada yang melukaiku,
berharap mereka tidak segila
itu untuk menindik tubuhku,
trend yang kudengar sering
dilakukan oleh pemerkosanyaaE|
menindik puting susu
korbannya. Aku benar benar
takut.
aEsHahaha, non Eliza, sudah
kami duga non memang masih
perawan. Nona masih polos,
dan tidak mengerti kalo kami
suka memandangi tubuh nona
yang sexy, dan selalu
memimpikan memperawani non
Eliza yang cantik ini sejak non
masih kelas 1 SMA. Minggu
lalu, ketika non ulang tahun
ke 17 dan merayakannya di
kelas, bahkan memberi kami
makanan, kami sepakat untuk
menghadiahi non kenikmatan
surga dunia. Tenang saja non.
Kami memang menginginkan
tubuh non, tapi kami tak
sekejam itu untuk melukai
tubuh non yang indah ini. Dan
kalo tentang itu tenang non,
kami sudah mempersiapkan
semua itu. Seminggu terakhir
ini, aqua botol yang non titip
ke saya, saya campurin obat
anti hamil. Sedangkan yang
tadi, saya campurin obat anti
hamil sekaligus obat cuci
perut. Non Eliza tadi sakit
perut kan? HahahaaE|aEt jelas
Girno sambil tertawa, tertawa
yang memuakkan. Jadi ini
semua sudah
direncanakannya! Kurang ajar
betul mereka ini. Aku memberi
mereka makanan hanya
karena ingin berbagi, tanpa
memandang status mereka.
Tapi kini balasannya aku
harus melayani mereka
berlima. Aku akan digangbang
mereka, dan mereka akan
mengeluarkan sperma mereka
di dalam rahimku sepuasnya
tanpa kuatir menghamiliku.
Lebih tepatnya, tanpa aku
kuatir harus hamil oleh
mereka. Membayangkan hal
ini, entah kenapa tiba tiba
aku terangsang hebat, dan
birahiku naik tak terkendali.
Mereka semua mulai melepas
semua pakaian mereka, dan
ternyata penis penis mereka
sudah ereksi dengan
gagahnya, membuat
jantungku berdegup semakin
kencang melihat penis penis
itu begitu besar. Girno
mengambil posisi di tengah
selangkanganku, sementara
yang lain melepaskan ikatan
pada kedua pergelangan
tangan dan kakiku. Girno
menarik lepas celana dalamku,
kini aku sudah telanjang
bulat. Tubuhku yang putih
mulus terpampang di depan
mereka yang terlihat semakin
bernafsu. aEsIndah sekali non
Eliza, mem*knya non.
Rambutnya jarang, halus, tapi
indah sekaliaEt, puji Girno.
Memang rambut yang tumbuh
di atas vaginaku amat jarang
dan halus. Semakin jelas aku
melihat penis Girno, yang
ternyata paling besar di
antara mereka semua,
dengan diameter sekitar 6 cm
dan panjang yang sekitar 25
cm. Aku menatap sayu pada
Girno. aEsPak, pelan pelan pak
ya..aEt aku mencoba
mengingatkan Girno, yang
hanya menganguk sambil
tersenyum. Kini kepala penis
Girno sudah dalam posisi siap
tempur, dan Girno menggesek
gesekkannya ke mulut
vaginaku. Aku semakin
terangsang, dan mereka
tanpa memegangi pergelangan
tangan dan kakiku yang
sudah tidak terikat, mungkin
karena sudah yakin aku yang
telah mereka taklukkan ini
tak akan melawan atau
mencoba melarikan diri, mulai
mengerubutiku kembali.
Kedua payudaraku kembali
diremas remas oleh Hadi dan
Yoyok, sementara Urip dan
Soleh bergantian melumat
bibirku. Rangsangan demi
rangsangan yang kuterima ini,
membuat aku orgasme yang
ke dua kalinya. Kembali
tubuhku berkelojotan dan
kakiku melejang lejang,
bahkan kali ini cairan cintaku
muncrat menyembur
membasahi penis Girno yang
memang sedang berada persis
di depan mulut vaginaku. aEsEh..
non Eliza ini.. belum apa apa
sudah keluar 2 kali, pake
muncrat lagi. Sabar non,
kenikmatan yang
sesungguhnya akan segera
non rasakan. Tapi ada
bagusnya juga lho, mem*k
non pasti jadi lebih licin, nanti
pasti lebih gampang ditembus
yaaEt, ejeknya sambil mulai
melesakkan penisnya ke
vaginaku. aEsAduh.. sakit pakaEt
erangku, dan Girno berkata
aEsTenang non, nanti juga
enakaEt. Kemudian ia menarik
penisnya sedikit, dan
melesakkannya sedikit lebih
dalam dari yang tadi. Rasa
pedih yang amat sangat
melanda vaginaku yang sudah
begitu licin, tapi tetap saja
karena penis itu terlalu
besar, Girno kesulitan untuk
menancapkan penisnya ke
vaginaku, namun dengan
penuh kesabaran, Girno terus
memompa dengan lembut
hingga tak terlalu
menyakitiku.
Lambat laun, ternyata
memang rasa sakit di
vaginaku mulai bercampur
rasa nikmat yang luar biasa.
Dan Girno terus
melakukannya, menarik
sedikit, dan menusukkan lebih
dalam lagi, sementara yang
lain terus melanjutkan
aktivitasnya sambil menikmati
tontonan proses penetrasi
penis Girno ke dalam
vaginaku. Hadi dan Yoyok
mulai menyusu pada kedua
puting payudaraku yang
sudah mengeras karena terus
menerus dirangsang sejak
tadi. Tak lama kemudian, aku
merasakan selangkanganku
sakit sekali, rupanya akhirnya
selaput daraku robek.
aEsOooooohaE| aaaauuuuggghaE|
hngggkk aaaaaaaghaE| aEsAku
menjerit kesakitan, seluruh
tubuhku mengejang, dan air
mataku mengalir, dan kembali
aku merasakan keringatku
mengucur deras. Aku ingin
meronta, tapi rasa sesak di
vaginaku membatalkan niatku.
Aku hanya bisa mengerang,
dan gairahku pun padam
dihempas rasa sakit yang
nyaris tak tertahankan ini.
aEsAduh.. sakit pak Girno..
ampunaEt, erangku, namun
Girno hanya tertawa tawa
puas karena berhasil
memperawaniku, dan yang
lain malah bersorak, aEsterus..
terus..aEt. Aku menggeleng
gelengkan kepalaku ke kanan
dan ke kiri menahan sakit,
sementara bagian bawah
tubuhku mengejang hebat,
tapi aku tak berani terlalu
banyak bergerak, dan
berusaha menahan lejangan
tubuhku supaya vaginaku
penuh sesak itu tak semakin
terasa sakit. Namun lumatan
penuh nafsu pada bibirku oleh
Urip ditambah belaian pada
rambutku serta dua orang
tukang sapu yang menyusu
seperti anak kecil di
payudaraku ini membuat
gairahku yang sempat padam
kembali menyala.
Tanpa sadar, dalam
kepasrahan aku mulai
membalas lumatan itu. Girno
terus memperdalam
tusukannya penisnya yang
sudah menancap setengahnya
pada vaginaku. Dan Girno
memang pandai memainkan
vaginaku, kini rasa sakit itu
sudah tak begitu kurasakan
lagi, yang lebih kurasakan
adalah nikmat yang melanda
selangkanganku. Penis itu
begitu sesaknya walaupun
baru menancap setengahnya,
dan urat urat yang
berdenyut di penis itu
menambah sensasi yang luar
biasa. Sementara itu Girno
mulai meracau, aEsOh sempitnya
non. Enaknya.. ah.. aEs sambil
terus memompa penisnya
sampai akhirnya amblas
sepenuhnya, terasa
menyodok bagian terdalam
dari vaginaku, mungkin itu
rahimku. Aku hanya bisa
mengerang tanpa berani
menggeliat, walaupun aku
merasakan sakit yang
bercampur nikmat. Mulutku
ternganga, kedua tanganku
mencengkeram sprei berusaha
mencari sesuatu yang bisa
kupegang, sementara kakiku
terasa mengejang tapi
kutahan. Aku benar benar
tak berani banyak bergerak
dengan penis raksasa yang
sedang menancap begitu
dalam di vaginaku.
Dan setelah diam untuk
memberiku kesempatan
beradaptasi, akhirnya Girno
memulai pompaanya. Aku
mengerang dan mengerang,
mengikuti irama pompaan si
Girno. Dan erangangku
kembali tertahan ketika kali
ini dengan gemas Urip
memasukkan penisnya ke
dalam mulutku yang sedang
ternganga ini. Aku gelagapan,
dan Urip berkata aEsIsep non.
Awas, jangan digigit ya!aEt Aku
hanya pasrah, dan mulai
mengulum penis yang baunya
tidak enak ini, tapi lama
kelamaan aku jadi terbiasa
juga dengan bau itu. Penis itu
panjang juga, tapi
diameternya tak terlalu besar
disbanding dengan penisnya
Girno. Tapi mulutku terasa
penuh, dan ketika aku
mengulum ngulum penis itu,
Urip memompa penisnya dalam
mulutku, sampai berulang kali
melesak ke dalam
tenggorokanku. Aku berusaha
supaya tidak muntah,
meskupun berulang kali aku
tersedak. Selagi aku bejruang
beradaptasi terhadap
sodokan penis si Urip ini,
Soleh meraih tangan kananku,
menggengamkan tanganku ke
penisnya. aEsNon, ayo dikocok!aEt,
perintahnya. Penis itu tak
hampir tak muat di
genggaman telapak tanganku
yang mungil, dan aku tak
sempat memperhatikan
seberapa panjang penis itu,
walaupun dari kocokan
tanganku, aku sadar penis itu
panjang. Aku menuruti
semuanya dengan pasrah,
ketika tiba tiba pintu
terbuka, dan pak Edy, guru
wali kelasku masuk, dan
semua yang mengerubutiku
menghentikan aktivitasnya,
tentu saja penis Girno masih
tetap bersemayam dalam
vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy
membentak, aEsApa apaan ini?
Apa yang kalian lakukan pada
Eliza?aEt. Aku merasa ada
harapan, segera melepaskan
kulumanku pada penis Urip,
dan sedikit berteriak aEsPak
Edy, tolong saya pak.
Lepaskan saya dari merekaaEt.
Pak Edy seolah tak
mendengarku, dan berkata
pada Girno, aEsKalian ini.. ada
pesta kok tidak ngajak saya?
Untung saya mau mencari bon
pembelian kotak P3K tadi.
Kalo begini sih, itu bon gak
ketemu juga tidak apa apaaE|
hahahaaE|aEt. Aku yang sempat
kembali merasa ada harapan
untuk keluar dari acara
gangbang ini, dengan kesal
melanjutkan kocokan
tanganku pada penis Soleh
juga kulumanku pada penis
Urip. Memang aku harus
mengakui, aku menikmati
perlakuan mereka, tapi kalau
bisa aku juga ingin semua ini
berakhir. Setelah sadar
bahwa pak Edy juga sebejat
mereka, semuanya tertawa
lega, dan sambil mulai
melanjutkan pompaan
penisnya pada vaginaku, Girno
berkata, aEsPak Edy tenang
saja, masih kebagian kok. Itu
tangan kiri non Eliza masih
nganggur, kan bisa buat
ngocok punya pak Edy dulu.
Tapi kalo soal mem*knya,
ngantri yo pak. Abisnya,
salome sihaEt. Pak Edy tertawa.
aEsYah gak masalah lah. Ini kan
malam minggu, pulang malam
juga wajar kan?aEt katanya
mengiyakan sambil melepas
pakaiannya dan ternyata
(untungnya) penisnya tidak
terlalu besar, bahkan
ternyata paling pendek di
antara mereka.
Tapi aku sudah tak perduli
lagi. Vaginaku yang serasa
diaduk aduk mengantarku
orgasme yang ke tiga kalinya.
aEsaaaaagh.. paaakaE| sayaaaaE|
keluaaaaraE|.aEt, erangku yang
tanpa sadar mulai
menggenggam penis pak Edy
yang disodorkan di dekat
tangan kiriku yang memang
menganggur. Pinggangku
terangkat sedikit ke atas,
kembali tubuhku terlonjak
lonjak, entah ada berapa
lamanya tersentak sentak,
namun kini cairanku tak
keluar karena vaginaku yang
masih sangat sempit ini seolah
dibuntu oleh penis Girno yang
berukuran raksasa. Dalam
kelelahan ini, aku harus
melayani 6 orang sekaligus.
Sodokan sodokan yang
dilakukan Girno membuat
gairahku cepat naik walaupun
aku baru saja orgasme hebat.
Tapi aku tak tahu, kapan
Girno akan orgasme, ia begitu
perkasa. Sudah 15 menit
berlalu, dan ia masih
memompaku dengan
garangnya. Desahan kami
bersahut sahutan memenuhi
ruangan yang kecil ini. Kedua
tanganku mengocok penis
dari Soleh dan pak Edy, wali
kelasku yang ternyata bejat,
membuatku bingung
memikirkan apa yang harus
kulakukan jika bertemu
dengannya mulai senin besok
dan seterusnya saat dia
mengajar.
Urip mengingatkanku untuk
kembali mengulum penisnya
yang kembali disodokkannya
ke kerongkonganku, membuat
aku tak sempat terlalu lama
memikirkan hal itu.. Kini aku
sudah mulai terbiasa, bahkan
sejujurnya mulai menikmati
saat saat tenggorokanku
diterjang penis si Urip ini.
Kepasrahanku ini membuat
mereka semua semakin
bernafsu. Tiba tiba Girno
menarikku hingga aku
terduduk, lalu dia tiduran di
ranjang, hingga sekarang aku
berada dalam posisi woman
on top, dan penis itu terasa
semakin dalam menancap
dalam vaginaku. Aku masih
tak tahu apa yang ia
inginkan, tiba tiba aku
ditariknya lagi hingga rebah
dan payudaraku menindih
tubuhnya. Urat penisnya
terasa mengorek ngorek
dinding vaginaku. aEsEh,
daripada satu lubang rame
rame, kan lebih nikmat kalo
dua, eh, tiga sekalian, tiga
lubang rame rame?aEt tanya
Girno pada yang lain, yang
segera menyetujui sambil
tertawa. aEsAkuuuraE| aEs, seru
mereka, dan Urip segera ke
belakangku, kemudian
meludahi anusku. aEsOh TuhanaE|
aku akan disandwich..
bagaimana ini..aEt, kataku dalam
hati. aEsJangaaaanaE|. Jangan di
situuuaE|!!aEt teriakku ketakutan.
Namun seperti yang aku
duga, Urip sama sekali tidak
perduli. Aku memejamkan
mata ketika Urip
menempelkan kepala penisnya
ke anusku, dan yang lain
bersorak kegirangan, memuji
ide Girno. aEsaaaaaaghaE|aEt
erangku ketika penis Urip
mulai melesak ke liang anusku.
Mataku terbeliak, tanganku
menggenggam erat sprei
kasur tempat aku aku
dibantai ramai ramai, tubuhku
terutama pahaku bergetar
hebat menahan sakit yang
luar biasa.
Ludah Urip yang bercampur
dengan air liurku di penis Urip
yang baru kukulum tadi, tak
membantu sama sekali. Rasa
pedih yang menjadi jadi
mendera anusku, dan aku
kembali mengerang panjang.
aEsaaaaaaaaaaaaaghaE|. sakiiiiiitaE|.
JangaaaaanaE|..aEt, erangku
tanpa daya ketika akhirnya
penis itu amblas seluruhnya
dalam anusku. Selagi aku
mengerang dan mulutku
ternganga, Soleh mengambil
kesempatan itu untuk
membenamkan penisnya dalam
mulutku, hingga eranganku
teredam. Sial, ternyata penis
Soleh ini agak mirip punya
Urip yang sedang
menyodomiku. Begitu panjang,
walaupun diameternya tidak
terlalu besar, tapi penis itu
cukup panjang untuk
menyodok nyodok
tenggorokanku. Kini tubuhku
benar benar bukan milikku
lagi. Rasa sakit yang hampir
tak tertahankan melandaku
saat Urip mulai memompa
anusku. Setiap ia
mendorongkan penisnya, penis
Soleh menancap semakin
dalam ke tenggorokanku,
sementara penis Girno sedikit
tertarik keluar, tapi
sebaliknya, saat Urip
memundurkan penisnya, penis
Soleh juga sedikit tertarik
keluar dari kerongkonganku,
tapi akibatnya tubuhku yang
turun membuat penis Girno
kembali menancap dalam
dalam di vaginaku, ditambah
lagi Girno sedikit menambah
tenaga tusukannnya, hingga
rasanya penisnya seperti
menggedor rahimku. Sedikit
sakit memang, tapi perlahan
rasa sakit pada anusku sudah
berkurang banyak, dan
ketika rasa sakit itu reda,
aku sudah melayang dalam
kenikmatan. Hanya 2 menit
dalam posisi ini, aku sudah
orgasme hebat, namun aku
hanya bisa pasrah. Tubuhku
hanya bisa bergetar, aku tak
bisa bergerak banyak karena
semuanya seolah olah
terkunci. Dalam keadaan
orgasme, mereka tanpa
ampun terus bergantian
memompaku, membuat
orgasmeku tak kunjung reda
bahkan akhirnya aku
mengalami multi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku
mengejang hebat susul
menyusul, dan cairan cintaku
keluar berulang ulang, sangat
banyak mengiringi multi
orgasmeku yang sampai lebih
dari 3 menit. namun semua
cairan cintaku yang aku yakin
sudah bercampur darah
perawanku tak bisa mengalir
keluar, terhambat oleh penis
Girno. Tanganku yang
menumpu pada genggaman
tangan Girno bergetar getar.
Sementara Soleh membelai
rambutku dan Urip meremas
remas payudaraku dari
belakang. Sungguh, aku tak
kuasa menyangkal.
Kenikmatan yang aku alami
sekarang ini benar benar
dahsyat, belum pernah
sebelumnya aku merasakan
yang seperti ini. Aku memang
pernah bermasturbasi, namun
yang ini benar benar
membuatku melayang. Mereka
terus menggenjot tubuhku.
Desahan yang terdengar
hanya desahan mereka,
karena aku tak mampu
mengeluarkan suara selama
penis Soleh mengorek ngorek
tenggorokanku. Entah sudah
berapa kali aku mengalami
orgasme, sampai akhirnya,
aEshegh.. huaE| huoooooooh..aEt,
Girno melenguh, penisnya
berkedut, kemudian
spermanya yang hangat
menyemprot berulang ulang
dalam liang vaginaku, diiringi
dengan keluarnya cairan
cintaku untuk yang ke sekian
kalinya. Akhirnya Girno
orgasme juga bersamaan
denganku, dan penisnya
sedikit melembek, dan terus
melembek sampai akhirnya
cukup untuk membuat cairan
merah muda meluber keluar
dengan deras dari sela sela
mulut vaginaku, yang
merupakan campuran darah
perawanku, cairan cintaku
dan sperma Girno.
aEsOh.. enake rek, mem*k amoy
seng sek perawanaE|aEt kata
Girno, yang tampak amat
puas. Nafasku sudah
tersengal sengal. Untungnya,
Urip dan Soleh cukup
pengertian. Urip mencabut
penisnya dari anusku, dan
Soleh tak memaksaku
mengulum penisnya yang
terlepas ketika aku yang
sudah begitu lemas karena
kelelahan, ambruk menindih
Girno yang masih belum juga
melepaskan penisnya yang
masih terasa begitu besar
untukku. Kini aku mulai sadar
dari gairah nafsu birahi yang
menghantamku selama hampir
satu jam ini. Namun aku tidak
menangis. Tak ada keinginan
untuk itu, karena sejujurnya
aku tadi amat menikmati
perlakuan mereka, bahkan
gilanya, aku menginginkan
diriku digangbang lagi seperti
tadi. Apalagi mereka cukup
lembut dan pengertian, tidak
sekasar yang aku bayangkan.
Mereka benar benar
menepati janji untuk tidak
melukaiku dan menyakitiku
seperti menampar ataupun
menjambak rambutku. Bahkan
Girno memelukku dan
membelai rambutku dengan
mesra dan penuh kasih
saying, setidaknya menurut
perasaanku, sehingga
membuatku semakin pasrah
dan hanyut dalam pelukannya.
Apalagi yang lain kembali
mengerubutiku, membelai
sekujur tubuhku seolah ingin
menikmati tiap senti kulit
tubuhku yang putih mulis ini.
Entah kenapa aku merasa
aku rela melayani mereka
berenam ini untuk
seterusnya, membuatku
terkejut dalam hati. aEsHah?
Apa yang baru saja aku
pikirkan? Aku ini kan
diperkosa, kok aku malah
berpikir seperti itu?aEt pikirku
dalam hati. Tapi tak bisa
kupungkiri, tadi itu benar
benar nikmat, belum pernah
aku merasakan yang seperti
itu ketika aku bermasturbasi.
Lagian, apakah ini masih bisa
disebut perkosaan? Selain
aku pasrah melayani apa mau
mereka, aku juga
menikmatinya, bahkan sampai
orgasme berkali kali.
Lamunanku terputus saat
Girno mengangkat tubuhku
hingga penisnya yang sudah
mengecil terlepas dari
vaginaku. aEsNon, kita lanjutin
yaaEt, kata Soleh yang sudah
tiduran di bawahku yang
sedikit mengkangkang. Aku
hanya menurut saja dan
mengarahkan vaginaku ke
penisnya yang tegak
mengacung. Aku memegang
dan membimbing penis itu
untuk menembus vaginaku
yang sudah tidak perawan
lagi ini. aEsOohaE| aaahaE|.aEt, erang
Soleh ketika penisnya mulai
melesak ke dalam vaginaku.
Lebih mudah dari punya Girno
tadi, karena diameter penis si
Soleh memang lebih kecil.
Namun tetap saja,
panjangnya membuat aku
sedikit banyak kelabakan.
aEsOoh.. aduuuuhaE| aEs, erangku
panjang seiring makin
menancapnya penis Soleh
hingga amblas sepenuhnya
dalam vaginaku. Penisnya
terasa hangat, lebih hangat
dari punya si Girno yang kini
duduk di kursi tengah ruang
ini sambil merokok. Mereka
memberiku kesempatan untuk
bernafas sejenak, kemudian
Urip mendorongku hingga aku
kembali telungkup, kali ini
menindih Soleh yang langsung
mengambil kesempatan itu
untuk melumat bibirku. Baru
aku sadar, Soleh ini pasti
tinggi sekali. Dan rupanya si
Urip belum puas dan ingin
melanjutkan anal seks
denganku. Kembali aku
disandwich seperti tadi.
Namun kali ini aku lebih siap.
Aku melebarkan kakiku hingga
semakin mengkangkang
seperti kodok, danaE| perlahan
tapi pasti, anusku kembali
ditembus penis Urip yang
amat keras ini, membuat
bagian bawah tubuhku
kembali terasa sesak.
Walaupun memang tidak
sesesak tadi, namun cukup
untuk membuatku merintih
mengerang antara pedih dan
nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut
mengepungku. Mereka masing
masing memegang tangan kiri
dan kananku, mengarahkanku
untuk menggenggam penis
mereka dan mengocoknya.
Selagi aku mulai mengocok
dua buah penis itu, wali
kelasku yang ternyata bejat
ini mengambil posisi di
depanku, memintaku mengoral
penisnya. aEsDioral sekalian El,
daripada nganggur nihaEt,
katanya dengan senyum yang
memuakkan. Tapi aku
terpaksa menurutinya
daripada nanti ia berbuat
atau mengancam yang macam
macam. Kubuka mulutku
walaupun dengan setengah
hati, membiarkan penis pak
Edy yang berukuran kecil ini
masuk dalam kulumanku. Jadi
kini aku digempur 5 orang
sekaligus, yang mana justru
membuat gairahku naik tak
karuan. Apalagi Soleh dan Urip
makin bersemangat
menggenjot selangkanganku,
benar benar dengan cepat
membawaku orgasme lagi.
aEseeeeeemmmmphaE|.aEt, erangku
keenakan. Tubuhku
mengejang, dan kurasakan
cairan cintaku keluar,
melumasi vaginaku yang terus
dipompa Soleh yang juga
merem melek keenakan. Tiba
tiba penis pak Edy berkedut
dalam mulutku, dan tanpa
ampun spermanya muncrat
membasahi kerongkonganku.
Baru kali ini aku merasakan
sperma dalam mulutku,
rasanya aneh, asin dan asam.
Mungkin karena sudah
beberapa kali melihat film
bokep, tanpa disuruh aku
sudah tahu tugasku.
Kubersihkan penis pak Edy
dengan kukulum, kujilati, dan
kusedot sedot sampai tidak
ada sperma yang tertinggal
di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, aEsLho
pak, kok sudah keluar? Masa
kalah sama sepongannya non
Eliza? Bagaimana nanti sama
mem*knya? Seret banget lho
pakaEt, kata Soleh, yang
disambung tawa yang lain.
Pak Edy terlihat tersenyum
malu, dan tak berkata apa
apa, hanya duduk di sebelah
si Girno. Aku tertawa dalam
hati, namun ada bagusnya
juga, kini tugasku menjadi
sedikit lebih ringan. Hadi yang
juga ingin merasakan
penisnya kuoral, pindah posisi
ke depanku, dan
mengarahkan penisnya ke
mulutku. Aku mengulum penis
itu tanpa penolakan, dan
kocokan tangan kananku
pada penis Yoyok kupercepat,
mengimbangi cepatnya
sodokan demi sodokan penis
Soleh dan Urip yang semakin
gencar menghajar vagina dan
anusku. Urip tiba tiba
mendengus dengus dan
melolong panjang
aEsoooooooouuuuggghhaE|. aEs,
seiring berkedutnya penisnya
dalam anusku, dan
menyemprotkan maninya
berulang ulang. Terasa
hangat sekali anusku di
bagian terdalam. Kini aku
tinggal melayani 3 orang saja,
namun entah aku sudah
orgasme berapa kali. Aku
amat lelah untuk
menghitungnya. Dan Yoyok
menggantikan Urip membobol
anusku. Baru aku sadar, dari
genggaman tanganku tadi
pada penis Yoyok, aku tahu
penis Yoyok tidak panjang,
tapiaE| diameternya itu..
rasanya seimbang dengan
punya si Girno. Oh celakaaE|
penis itu akan segera
menghajar anusku. aEsoooohaE|
ooooooghaE| sakiiiitaE|aEt, erangku
ketika Yoyok memaksakan
penisnya sampai akhirnya
masuk. Namun seperti yang
tadi tadi, rasa sakit yang
menderaku hanya
berlangsung sebentar, dan
berganti rasa nikmat luar
biasa yang tak bisa dilukiskan
dengan kata kata. Aku
semakin tersengat birahi
ketika Soleh yang ada di
bawahku meremas remas
payudaraku yang tergantung
di depan matanya, sementara
Hadi menekan nekankan
kepalaku untuk lebih
melesakkan penisnya ke
kerongkonganku. Di sini aku
juga sadar, ternyata penis si
Hadi ini setipe dengan punya
Urip atau Soleh.
Dengan pasrah aku terus
melayani mereka satu per
satu sampai akhirnya mereka
orgasme bersamaan. Dimulai
dari kedutan penis Soleh
dalam vaginaku, tapi tiba tiba
penis Hadi berkedut lebih
keras dan langsung
menyemburkan spermanya
yang amat banyak dalam
rongga mulutku. Aku
gelagapan dan nyaris
tersedak, namun aku
usahakan semuanya tertelan
masuk dalam kerongkonganku.
Selagi aku berusaha menelan
semuanya, tiba tiba dari
belakang Yoyok menggeram,
penisnya juga berkedut,
kemudian menyemprotkan
sperma berulang ulang dalam
anusku, diikuti Soleh yang
menghunjamkan penisnya
dalam dalam sambil berteriak
penuh kenikmatan.
aEsOooooooohhaE| aaaaaaarghaEt,
seolah tak mau kalah, aku
juga mengerang panjang.
Bersamaan dengan berulang
kali menyemprotnya sperma
Soleh di dalam vaginaku, aku
juga mengalami orgasme
hebat. Hadi jatuh terduduk
lemas setelah penisnya
kubersihkan tuntas seperti
punya pak Edy tadi. Lalu
Soleh yang penisnya masih
menancap di dalam vaginaku
memeluk dan lembali melumat
bibirku dengan ganas, sampai
aku tersengal sengal
kehabisan nafas. Yoyok yang
penisnya tak terlalu panjang
hingga sudah terlepas dari
anusku, juga duduk
bersandar di dinding. Kini
tinggal aku dan Soleh yang
ada di atas ranjang, dan kami
bergumul dengan panas. Soleh
membalik posisi kami hingga
aku telentang di ranjang
ditindihnya, dan penisnya
tetap masih menancap dalam
vaginaku meskipun mulai
lembek, mungkin dikarenakan
penis Soleh yang panjang.
Tanpa sadar, kakiku
melingkari pinggangnya Soleh,
seakan tak ingin penisnya
terlepas, dan aku balas
melumat bibir si Soleh ini.
Pergumulan kami yang panas,
menyebabkan Girno terbakar
birahi. Tenaganya yang sudah
pulih seolah ditandai dengan
mengacungnya penisnya, yang
tadi sudah berejakulasi.
Namun ia dengan sabar
membiarkan aku dan Soleh
yang bergumul dengan penuh
nafsu. Namun penis Soleh
yang semakin mengecil itu
akhirnya tidak lagi tertahan
erat dalam vaginaku, dan
Soleh pun tampaknya tahu
diri untuk memberikanku
kepada yang lain yang sudah
siap kembali untuk
menggenjotku. Girno segera
menyergap dan menindihku,
tanpa memberiku kesempatan
bernafas, dengan penuh
nafsu Girno segera
menjejalkan penisnya yang
amat besar itu ke dalam
vaginaku. Aku terbeliak,
merasakan kembali sesaknya
vaginaku. Girno yang sudah
terbakar nafsu ini mulai
memompa vaginaku dengan
ganas, membuat tubuhku
kembali bergetar getar
sementara aku mendesah dan
merintih merasakan nikmat
berkepanjangan ini. Gilanya,
aku mulai berani mencoba
lebih merangsang Girno
dengan pura pura ingin
menahan sodokan penisnya
dengan cara menahan bagian
bawah tubuhnya. Benar saja,
dengan tatapan garang ia
mencengkram kedua
pergelangan tanganku dan
menelentangkannya,
membuatku tak berdaya. Dan
sodokan dem sodokan yang
menghajar vaginaku terasa
semakin keras. Aku menatap
Girno dengan pandangan sayu
memelas untuk lebih
merangsangnya lagi, dan
berhasil. Dengan nafas
memburu, Girno melumat
bibirku sambil terus memompa
vaginaku. Kini aku yang
gelagapan. Orgasme yang
menderaku membuat tubuhku
bergetar hebat, tapi aku tak
berdaya melepaskannya
karena seluruh gerakan
tubuhku terkunci, hingga
akhirnya Girno menggeram
nggeram, semprotan sperma
yang cukup banyak kembali
membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan
cengkramannya pada kedua
pergelangan tanganku, namun
aku sudah terlalu lelah dan
lemas untuk
menggerakkannya. Ia turun
dari ranjang, setelah melumat
bibirku dengan ganas, lalu
memberi kesempatan pada
pak Edy yang sudah ereksi
kembali. Kali ini, ia terlihat
lebih gembira, karena
mendapatkan jatah liang
vaginaku, yang kelihatannya
sudah ditunggunya sejak tadi.
Dengan tersenyum senang,
yang bagiku memuakkan, ia
mulai menggesekkan kepala
penisnya ke vaginaku yang
sudah banjir cairan sperma
bercampur cairan cintaku.
Tanpa kesulitan yang berarti,
ia sudah melesakkan penisnya
seluruhnya. Aku sedikit
mendesah ketika ia mulai
memompa vaginaku. Namun
lagi lagi seperti tadi, belum
ada 3 menit, pak Edy sudah
mulai menggeram, kemudian
tanpa mampu menahan lagi ia
menyemprotkan spermanya
ke dalam liang vaginaku. Yang
lain kembali tertawa,
sedangkan aku yang belum
terpuaskan dalam aE~sesiaE? ini,
memandang yang lain,
terutama Hadi yang belum
sempat merasakan
selangkanganku. Hadi yang
seolah mengerti, segera
mendekatiku. Terlebih dulu ia
mencium bibirku dengan
dimesra mesrakan,
membuatku sedikit geli namun
cukup terangsang juga. Tak
lama kemudian, Hadi sudah
siap dengan kepala penis
yang menempel di vaginaku,
lalu mulai melesakkan
penisnya dalam dalam. Ia
terlihat menikmati hal ini,
sementara aku sedikit
mengejang menahan sakit
karena Hadi cukup terburu
buru dalam proses penetrasi
ini. Selagi kami dalam proses
menyatu, yang lain sedang
mengejek pak Edy yang
terlalu cepat keluar. Ingin aku
menambahkan, penisnya agak
sedikit lembek. Tapi aku
menahan diri dan diam saja,
karena aku tak ingin terlihat
murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku.
Rasa nikmat kembali menjalari
tubuhku. Pinggangku
bergerak gerak dan pantatku
sedikit terangkat, seolah
menggambarkan aku yang
sedang mencari kenikmatan.
Selagi aku dan Hadi sudah
mulai menemukan ritme yang
pas, aku melihat yang lain
yaitu Yoyok dan Urip akan
pergi ke wc, katanya untuk
mencuci penis mereka yang
tadi sempat terbenam dalam
anusku. Sambil keluar Urip
berkata, aEsnanti kasihan non
Eliza, kalo mem*knya yang
bersih jadi kotor kalo
kont*lku tidak aku cuciaEt. aEsiya,
juga, kan kasihan, amoy
cakep cakep gini harus
ngemut ****** yang kotor
seperti iniaEt, sambung Yoyok.
Oh.. ternyata mereka begitu
pengertian padaku. Aku jadi
semakin senang, dan
menyerahkan tubuhku ini
seutuhnya pada mereka.
Kulayani Hadi dengan sepenuh
hati, setiap tusukan penisnya
kusambut dengan menaikkan
pantatku hingga penis itu
bersarang semakin dalam.
Tanpa ampun lagi, tak 5
menit kemudian aku orgasme
disusul Hadi yang
menembakkan spermanya
dalam liang vaginaku,
bersamaan dengan kembalinya
Yoyok dan Urip. Namun
mereka berdua ini tak
langsung menggarapku.
Setelah Hadi kembali terduduk
lemas di bawah, mereka
berdua mengerubutiku, tapi
hanya membelai sekujur
tubuhku, memberiku
kesempatan untuk
beristirahat setelah orgasme
barusan. Mereka berdua
menyusu pada payudaraku,
sambil meremas kecil,
membuatku mendesah tak
karuan. Kini jam sudah
menunjukkan pukul 21:00
malam. Tak terasa sudah satu
jam aku melayani mereka
semua.
Dalam keadaan lelah, aku
minta waktu sebentar pada
Urip dan Yoyok untuk minum.
Keringat yang mengucur
deras sejak tadi membuatku
haus. aEsSebentar bapak bapak,
saya mau minum dulu yaaEt,
kataku. Kebetulan di tasku
ada sekitar setengah botol
air Aqua, sisa minuman yang
tadi sore, tapi aku langsung
teringat, minuman itu
dicampur obat cuci perut
yang mengantarku ke horor
di ruang UKS ini. aEsPak Girno.
Itu air sudah bapak campurin
obat cuci perut kan? Tolong
pak, belikan saya minuman
dulu. Tapi jangan dicampurin
apa apa lagi ya pakaEt, kataku
sambil akan turun dari
ranjang untuk mencari uang
dalam dompet yang ada di
dalam tas sekolahku. Tapi
Girno berkata, aEsGak usah non.
Saya belikan sajaaEt. Girno
pergi ke wc sebentar untuk
mencuci penisnya, kemudian
kembali dan mengenakan
celana dalam dan celana
panjangnya saja. Lalu ia
keluar untuk membeli air
minum untukku. Sambil
menunggu, yang lain
menggodaku, merayuku
betapa cantiknya aku, betapa
putih mulusnya kulit tiubuhku
yang indah dan sebagainya.
Aku hanya tersenyum kecil
menanggapi itu semua. Tak
lama kemudian, Girno kembali
sambil membawa sebotol
Aqua, yang segelnya sudah
terbuka. Aku menatapnya
curiga, dan bertanya dengan
ketus. aEsPak, masa bapak tega
mencampuri air minum ini lagi?
Nanti kan saya mulas mulas
lagi?aEt. Girno dengan
tersenyum menjawab, aEsnggak
non. Masa lagi enak enak gini
saya pingin non bolak balik ke
WC lagi. Ini cuma supaya non
Eliza gak terlalu capek. Buat
tambah tenaga nonaEt. Yah..
pokoknya bukan obat cuci
perut, aku akhirnya
meminumnya sampai
setengahnya, karena aku
sudah semakin kehausan. Tak
lupa aku mengambil botol sisa
air minum yang tadi di dalam
tasku, dan membuangnya ke
tong sampah.
Kemudian aku kembali ke
ranjang, menuntaskan
tugasku melayani Urip dan
Yoyok. Tiba tiba aku merasa
aneh, tubuhku terasa panas
terutama wajahku, keringat
kembali bercucuran di sekujur
tubuhku. Padahal mereka
belum menyentuhku. Aku
langsung mengerti, ini pasti
ada obat perangsang yang
dicampurkan dalam minuman
tadi. Sialan deh, aku kini
semakin terperangkap dalam
cengkeraman mereka. Urip
dan Yoyok bergantian
memompa vagina dan mulutku.
Awalnya Urip melesakkan
penisnya dalam vaginaku,
sementara Yoyok memintaku
mengoral penisnya. Karena
obat perangsang itu,
sebentar sebentar aku
mengalami orgasme, dan tiap
aku orgasme mereka
bertukar posisi. Rasa sperma
dari banyak orang,
bercampur cairan cintaku
kurasakan ketika mengoral
penis mereka, dan
membuatku semakin
bergairah. Mereka akhirnya
berorgasme bersamaan,
Yoyok di vaginaku dan Urip di
tenggorokanku. Sedangkan
aku sendiri sampai pada titik
dimana aku kembali mengalami
multi orgasme. Ada 3 sampai
4 menit lamanya, tubuhku
terlonjak lonjak hingga
pantatku terangkat angkat,
kakiku melejang lejang
sementara tanganku
menggengam sprei yang
sudah semakin basah dan
awut awutan. Aku melenguh
panjang, kemudian roboh
telentang pasrah, dalam
keadaan masih terbakar
nafsu birahi, tapi kelelahan
dan nafasku yang tersengal
sengal membuatku hanya bisa
memejamkan mata menikmati
sisa getaran pada sekujur
tubuhku. Kemudian bergantian
mereka terus menikmati
tubuhku. Aku sudah setengah
tak sadar kerena terbakar
nafsu birahi yang amat
hebat, melayani dan melayani
mereka semua tanpa bisa
mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah
selesai menikmati tubuhku
ketika jam menunjukan pukul
21:45. Mereka membiarkanku
istirahat hingga staminaku
sedikit pulih. Aku bangkit
berdiri lalu melap tubuhku
yang basah kuyup oleh
keringat dengan handuk dan
membersihkan selangkangan
dan pahaku yang belepotan
sperma. Dan dengan nakal
Girno melesakkan roti hot
dog ke dalam vaginaku. Aku
mendesah dan memandangnya
penuh tanda tanya, tapi
Girno hanya cengengesan
sambil memakaikan celana
dalamku, hingga roti itu
semakin tertekan oleh celana
dalamku yang cukup ketat.
Aku melenguh nikmat, dan
mereka berebut memakaikan
braku. Tanganku
direntangkan, dan mereka
menutup kedua payudaraku
dengan cup bra-ku,
memasang kaitannya di
belakang punggungku. Lalu
setelah memakaikan seragam
sekolah dan rokku, mereka
melingkariku yang duduk di
atas ranjang dan sedang
mengenakan kaus kaki dan
sepatu sekolahku. Kemudian
aku menatap mereka semua,
siap mendengarkan ancaman
kalo tidak boleh bilang siapa
siapa lah.. ah, kalo itu sih
nggak usah mereka
mengancam, memangnya aku
sampai tak punya malu
sehingga menceritakan
bagaimana aku yang asalnya
diperkosa kemudian melayani
mereka sepenuh hati seperti
yang tadi aku lakukan?? Dan
tentang kalo mereka ingin
memperkosaku lagi di lain
waktu, aku juga sudah
pasrah.
aEsNon Eliza, kami puas dengan
pelayanan non barusan. Tapi
tentu saja kami masih
menginginkan non melayani
kami untuk berikut
berikutnyaaEt, kata Girno. Aku
tak terlalu terkejut
mendengar hal ini, tapi aku
berpura pura tidak mengerti
dan bertanya, aEsmaksud
bapak?aEt. aEsNon tentu sudah
mengerti, kami masih inginkan
servis non di lain hari.
Kebetulan, minggu depan hari
kamis tu kan hari terima
rapor semester 3. Dua hari
sebelum hari Natal. Tanggal
24 kan libur, kami ingin non
Eliza datang ke sini jam 7
malam untuk melayani kami
lagi. Seperti hari ini, non
cukup melayani kami 2 jam
saja. Soal pertemuan
berikutnya, kita bisa atur lagi
nanti tanggal 24 itu. Non
harus datang, karena kalo
tidak wali kelas non bisa
memberikan sanksi tegas. Iya
kan pak Edy?aEt jelas Girno
panjang lebar. Pak Edy
mengiyakan dan berkata,
aEsbenar Eliza. Saya bisa
membuatmu tidak naik kelas,
dengan alasan yang bisa saya
cari cari. Jadi sebaiknya kamu
jangan macam macam, apalagi
sampai melaporkan hal ini ke
orang lain. Lagipula, saya
yakin kamu cukup cerdas
untuk tidak melakukan hal
bodoh seperti ituaEt.
Mendengar semuanya ini, aku
hanya bisa mengangguk
pasrah. Oh Tuhan.. di malam
Natal minggu depan, aku
harus bermain sex dengan
enam laki laki yang ada di
sekitarku iniaE| Dan aku tak
bisa menolak sama sekali..
Setelah semua beres, aku
diijinkan pulang. Dalam
keadaan loyo, aku berjalan
tertatih tatih ke mobilku,
selain sakit yang mendera
selangkanganku akibat baru
saja diperawani dan
disetubuhi ramai ramai, roti
yang menancap pada
vaginaku sekarang ini
membuat aku tak bisa
berjalan dengan normal dan
lancar. Untungnya tak ada
yang melihatku dan
menghadangku, akhirnya aku
sampai ke dalam mobil, dan
menyetir sampai ke rumah
dengan selamat.
Sampai di rumah, sekitar
pukul 22:30, aku memencet
remote pintu pagar untuk
membuka, lalu aku
memasukkan mobilku halaman
rumah. Setelah memencet
remote untuk menutup pintu
pagar, aku masuk ke dalam
rumah, langsung menuju
kamarku. Roti ini benar benar
mengganggu sejak aku
menyetir tadi. Rasa nikmat
terus mendera vaginaku tak
henti hentinya, karena setiap
kaki kiriku menginjak kopling,
roti ini rasanya tertanam
makin dalam. Kini hal yang
sama juga terjadi setiap aku
melangkahkan kakiku agak
lebar. Rasanya kamarku
begitu jauh, apalagi aku
harus naik tangga, kamarku
memang ada di lantai 2.
Akhirnya aku sampai ke
kamarku. Di sana aku buka
semua bajuku, lalu pergi ke
kamar mandi yang ada di
dalam kamarku, mencabut
roti yang sudah sedikit
hancur terkena campuran
sperma dan cairan cintaku.
Aku menyemprotkan air
shower ke vaginaku untuk
membersihkan sisa roti yang
tertinggal di dalamnya, sambil
sedikit mengorek ngorek
vaginaku untuk lebih cepat
membersihkan semuanya. Rasa
nikmat kembali menjalari
tubuhku, namun aku tahu
aku harus segera
beristirahat. Maka aku segera
mandi keramas sebersih
bersihnya, kemudian setelah
mengeringkan tubuhku aku
memakai daster tidur satin
yang nyaman, dan
merebahkan tubuhku yang
sudah amat kelelahan ini di
ranjangku yang empuk. Tak
lama kemudian aku sudah
tertidur pulas, setelah
berhasil mengusir bayangan
wajah puas orang orang yang
tadi menggangbang aku.