PDA

View Full Version : Pelajaran Sex Dari Bu Sony


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Sebenarnya saya malu untuk
menuliskan cerita sex ini,
tetapi karena sudah banyak
yang menggunakan media ini
untuk menuliskan cerita-
cerita tentang seks
walaupun saya sendiri tidak
yakin apakah cerita sex
itu semuanya fakta atau fiksi
belaka. Tapi saya beranikan
juga menulis cerita sex
ini disini, memang cerita
yang saya tulis ini cukup
memalukan tetapi di samping
itu ada kejadian yang lucu
dan memang sama sekali
belum pernah saya alami.
Awal mula dari cerita sex
ini adalah ketika saya baru
saja tinggal di sebuah daerah
perumahan yang relatif baru
di daerah pinggiran kota-
maaf, nama daerah tersebut
tidak saya sebutkan
mengingat untuk menjaga
nama baik dan harga diri
keluarga terutama suami dan
kedua anak saya. Saya
tinggal di situ baru sekitar 6
bulanan.
Karena daerah perumahan
tersebut masih baru maka
jumlah keluarga yang
menempati rumah di situ
masih relatif sedikit tetapi
khusus untuk blok daerah
rumah saya sudah lumayan
banyak dan ramai. Rata-rata
keluarga kecil seperti
keluarga saya juga yaitu
yang sudah masuk generasi
Keluarga Berencana, rata-
rata hanya mempunyai dua
anak tetapi ada juga yang
hanya satu anak saja.
Sudah seperti biasanya bila
kita menempati daerah
perumahan baru, saya
dengan sengaja berusaha
untuk banyak bergaul dengan
para tetangga bahkan juga
dengan tetangga-tetangga di
blok yang lain. Dari hasil
bergaul tersebut timbul
kesepakatan di antara ibu-
ibu di blok daerah rumahku
untuk mengadakan arisan
sekali dalam sebulan dan
diadakan bergiliran di setiap
rumah pesertanya.
Suatu ketika sedang
berlangsung acara arisan
tersebut di sebuah rumah
yang berada di deretan
depan rumahku, pemilik rumah
tersebut
biasa dipanggil Bu
Soni (bukan nama
sebenarnya) dan sudah lebih
dulu satu tahun tinggal di
daerah perumahan ini
daripada saya. Bu Soni bisa
dibilang ramah, banyak
ngomongnya dan senang
bercanda dan sampai saat
tulisan ini aku buat dia baru
mempunyai satu anak,
perempuan, berusia 8 tahun
walaupun usia rumah
tangganya sudah 10 tahun
sedangkan aku sudah 30
tahun. Aku menikah ketika
masih berusia 22 tahun.
Suaminya bekerja di sebuah
perusahaan swasta dan
kehidupannya juga bisa
dibilang kecukupan.
Setelah acara arisan selesai
saya masih tetap asyik
ngobrol dengan Bu Soni
karena tertarik dengan
keramahan dan banyak
omongnya itu sekalipun ibu-
ibu yang lain sudah pulang
semua. Dia kemudian bertanya
tentang
keluargaku, aEsJeng
Mar. Putra-putranya itu
sudah umur berapa, sih, kok
sudah dewasa-dewasa,
ya?aEt (Jeng Mar adalah nama
panggilanku tetapi bukan
sebenarnya) tanya Bu Soni
kepadaku.
aEsKalau
yang pertama 18
tahun dan yang paling ragil
itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu,
nakalnya wah, wah, waa.. Aah
benar-benar, deh. Saya, tuh,
suka capek marahinnya.aEt
aEsLho,
ya, namanya juga anak
laki-laki. Ya, biasalah, Jeng.aEt
aEsLebih
nikmat situ, ya. Anak
cuma satu dan perempuan
lagi. Nggak bengal.aEt
aEsAh,
siapa bilang Jeng Mar.
Sama kok. Cuma yaitu, saya
dari dulu, ya, cuma satu saja.
Sebetulnya saya ingin punya
satu lagi, deh. Ya, seperti
situ.aEt
aEsLho,
mbok ya bilang saja
sama suaminya. ee.. siapa
tahu ada rejeki, si putri
tunggalnya itu bisa punya
adik. Situ juga sama suaminya
kan masih sama-sama muda.aEt
aEsYa,
itulah Jeng. Papanya itu
lho, suka susah. Dulu, ya,
waktu kami mau mulai
berumah tangga sepakat
untuk punya dua saja. Ya,
itung-itung mengikuti
program pemerintah, toh,
Jeng. Tapi nggak tahu lah
papanya tuh. Kayaknya
sekarang malah tambah asik
saja sama kerjaannya. Terlalu
sering capek.aEt
aEsO,
itu toh. Ya, mbok diberi
tahu saja kalau sewaktu-
waktu punya perhatian sama
keluarga. aE~Kan yang namanya
kerja itu juga butuh istirahat.
Mbok dirayu lah gitu.aEt
aEsWah,
sudah dari dulu Jeng.
Tapi, ya, tetap susah saja,
tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng
Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kaloaE?
saya omongin. Tapi Jeng Mar
tentunya juga tau dong
masalah suami-istri aE~kan.aEt
aEsYa,
memang. Ya, orang-
orang yang sudah seperti
kita ini masalahnya sudah
macem-macem, toh, Bu.
Sebenarnya Bu Soni ini ada
masalah apa, toh?aEt
aEsYa,
begini Jeng, suami saya
itu kaloaE? bergaul sama saya
suka cepet-cepet mau
rampung saja, lho. Padahal
yang namanya istri seperti
kita-kita ini aE~kan juga ingin
membutuhkan kenikmatan
yang lebih lama, toh, Jeng.aEt
aEsO,
itu, toh. Mungkin situ
kurang lama merayunya.
Mungkin suaminya butuh
variasi atau model yang agak
macem-macem, gitu.aEt
aEsYa, seperti apa
ya, Jeng. Dia
itu kaloaE? lagi mau, yang
langsung saja. Saya seringnya
nggak dirangsang apa-apa.
KaloaE? Jeng Mar, gimana, toh?
Eh, maaf lho, Jeng.aEt
aEsKaloaE?
saya dan suami saya
itu saling rayu-merayu dulu.
KaloaE? suami saya yang mulai
duluan, ya, dia biasanya
ngajak bercanda dulu dan
akhirnya menjurus yang ke
porno-porno gitulah. Sama
seperti saya juga kalau
misalnya saya yang mau
duluan.aEtaEtTerus apa cuma gitu
saja, Jeng.aEt
aEsO,
ya tidak. KaloaE? saya yang
merayu, biasanya punya
suami saya itu saya pegang-
pegang. Ukurannya besar dan
panjang, lho. Terus untuk
lebih menggairahkannya, ya,
punyanya itu saya enyot
dengan mulut saya. Saya
isep-isep.aEt
aEsii..
Iih. Jeng Mar, ih. Apa
nggak jijik, tuh? Saya saja
membayangkannya juga sudah
geli. Hii..aEt
aEsYa, dulu
waktu pertama kali,
ya, jijik juga, sih. Tetapi suami
saya itu selalu rajin, kok,
membersihkan gituannya, jadi
ya lama-lama buat saya
nikmat juga. Soalnya
ukurannya itu, sih, yang
lumayan besar. Saya sendiri
suka gampang terangsang
kaloaE? lagi ngeliat. Mungkin situ
juga kaloaE? ngeliat, wah pasti
kepengen, deh.aEt
aEsIh,
saya belon pernah, tuh,
Jeng. Lalu kaloaE? suaminya
duluan yang mulai begimana?aEt
aEsSaya
ditelanjangi sampai
polos sama sekali. Dia paling
suka merema-remas
payudara saya dan juga
menjilati putingnya dan
kadang lagaknya seperti bayi
yang sedang mengenyot
susu.aEt, kataku sambil ketawa
dan tampak Bu Soni juga
tertawa.
aEsHabis
itu badan saya dijilati
dan dia juga paling suka
menjilati kepunyaan saya.
Rasanya buat saya, ya,
nikmat juga dan biasanya
saya semakin terangsang
untuk begituan. Dia juga
pernah bilang sama saya kaloaE?
punya
saya itu semakin
nikmat dan saya disuruh
meliara baik-baik.aEt
aEsAh,
tapi untuk yang
begituan itu saya dan suami
saya sama sekali belum
pernah, lho, Jeng. Tapi
mungkin ada baiknya untuk
dicoba juga, ya, Jeng. Tapi
tadi itu masalah yang situ
dijilatin punyanya. Rasa
enaknya seperti apa, sih,
Jeng.aEt
aEsWah, Bu Soni ini, kok, seperti
kurang pergaulan saja, toh.aEt
aEsLho,
terus terang Jeng.
Memang saya belon pernah,
kok.aEt
aEsYa,
geli-geli begitulah. Susah
juga untuk dijelasin kaloaE?
belum pernah merasakan
sendiri.aEt Lalu kami berdua
tertawa.
Setelah
berhenti tertawa,
aku bertanya, aEsBu Soni mau
tau rasanya kalau gituannya
dijilati?aEt
aEsYah,
nanti saya rayu, deh,
suami saya. Mungkin nikmat
juga ya.aEt Ucapnya sambil
tersenyum.
aEsApa
perlu saya dulu yang
coba?aEt, tanyaku sambil
bercanda dan tersenyum.
aEsHush!!
Jeng Mar ini ada-ada
saja, ahaEt, sambil tertawa.
aEsYa,
biar tidak kaget ketika
dengan suaminya nanti. Kita
aE~kan juga sama-sama wanita.aEt
aEsWah,
kayak lesbian saja.
Nanti saya jadi ketagihan, lho.
Malah takutnya lebih senang
sama situ daripada sama
suami saya sendiri. Ih! MaluaE?
akh.aEt, sambil tertawa.
aEsAtau
kaloaE? nggak mau gitu,
nanti saya kasih tau gimana
membuat penampilan bulu
gituannya biar suaminya situ
tertarik. Kadang-kadang
bentuk dan penataannya juga
mempengaruhi
rangsangan
suami, lho, Bu Soni.aEt
aEsAh, Jeng ini.aEt
aEsEe!
Betul, lho. Mungkin
bentuk bulu-bulu gituannya
Bu Soni penampilannya kurang
merangsang.
KaloaE? boleh saya
lihat sebentar gimana?aEt
aEsWah, ya, gimana ya. Tapii.. ya
boleh, deh.
Eh, tapi saya juga
boleh liat donk punyanya situ.
Sama-sama donk, aE~kan kata
Jeng tadi kita ini sama-sama
wanita.aEtaEtYa, aE~kan saya cuma
mau bantu situ supaya bisa
usaha untuk punya anak
lagi.aEtaEtKaloaE? gitu kita ke kamar
saja, deh. Suami saya juga
biasanya pulang malam. Yuk,
Jeng.aEt
Langsung
kita berdua ke
kamar Bu Soni. Kamarnya
cukup tertata rapi, tempat
tidurnya cukup besar dan
dengan kasur busa. Di
dindingnya ada tergantung
beberapa foto Bu Soni dan
suaminya dan ada juga foto
sekeluarga dengan anaknya
yang masih semata wayang.
Saya kemudian ke luar
sebentar untuk telepon ke
rumah kalau pulangnya agak
telat karena ada urusan
dengan perkumpulan ibu-ibu
dan kebetulan yang menerima
suamiku sendiri dan ternyata
dia setuju saja.
Setelah kita berdua di
kamar,
Bu Soni bertanya kepadaku,
aEsBagaimana Jeng? Kira-kira
siap?aEt
aEsAyolah.
Apa sebaiknya kita
langsung telanjang bulat
saja?aEt
aEsOK,
deh.aEt, jawab Bu Soni
dengan agak tersenyum malu.
Akhirnya kita berdua mulai
melepas pakaian satu-persatu
dan akhirnya polos lah
semua.
Bulu kemaluan Bu Soni cukup
lebat juga hanya bentuknya
keriting dan menyebar, tidak
seperti miliku yang lurus dan
tertata dengan bentuk
segitiga ke arah bawah. Lalu
aku menyentuh payudaranya
yang agak bulat tetapi tidak
terlalu besar, aEsLumayan juga,
lho, Bu.aEt Lalu Bu Soni pun
langsung memegang
payudaraku juga sambil
berkata, aEsSama juga seperti
punya Jeng.aEt Aku pun minta
ijin untuk mengulum kedua
payudaranya dan dia
langsung menyanggupi.
Kujilati kedua putingnya yang
berwarna agak kecoklat-
coklatan tetapi lumayan
nikmat juga. Lalu kujilati
secara keseluruhan
payudaranya. Bu Soni nampak
terangsang dan napasnya
mulai memburu. aEsEnak juga,
ya, Jeng. Boleh punya Jeng
saya coba juga?aEtaEtSilakan
saja.aEt, ijinku. Lalu Bu Soni pun
melakukannya dan tampak
sekali kalau dia masih sangat
kaku dalam soal seks, jilatan
dan kulumannya masih terasa
kaku dan kurang begitu
merangsang. Tetapi
lumayanlah, dengan cara
seperti ini aku secara tidak
langsung sudah menolong dia
untuk bisa mendapatkan anak
lagi.
Setelah
selesai saling menjilati
payudara, kami berdua
duduk-duduk di atas tempat
tidur berkasur busa yang
cukup empuk. Aku kemudian
memohon Bu Soni untuk
melihat liang kewanitaannya
lebih jelas, aEsBu Soni. Boleh
nggak saya liat gituannya?
Kok bulu-bulunya agak
keriting. Tidak seperti milik
saya, lurus-lurus dan lembut.aEt
Dengan agak malu Bu Soni
membolehkan, aEsYaa.. silakan
saja, deh, Jeng.aEt Aku
menyuruh dia, aEsRebahin saja
badannya terus tolong
kangkangin kakinya yang
lebar.aEt Begitu dia lakukan
semuanya terlihatlah daging
kemaluannya yang memerah
segar dengan bibirnya yang
sudah agak keluar dikelilingi
oleh bulu yang cukup lebat
dan keriting. mm.. Cukup
merangsang juga
penampilannya.
Kudekatkan wajahku ke liang
kewanitaannya lalu kukatakan
kepada
Bu Soni bahwa
bentuk kemaluannya sudah
cukup merangsang hanya saja
akan
lebih indah
pemandangannya bila bulunya
sering disisir agar semakin
lurus dan rapi seperti milikku.
Lalu kusentuh-sentuh daging
kemaluannya dengan
tanganku, empuk dan tampak
cukup terpelihara baik, bersih
dan tidak ada bau apa-apa.
Nampak dia agak kegelian
ketika sentuhan tanganku
mendarat di permukaan alat
kelaminnya dan dia mengeluh
lirih, aEsAduh, geli, lho, Jeng.aEt
aEsApa lagi
kaloaE? dijilat, Bu Soni.
Nikmat, deh. Boleh saya
coba?aEt
aEsAduh, gimana, ya, Jeng.
Saya
masih jijik, sih.aEt
aEsMakanya
dicoba.aEt, kataku
sambil kuelus salah satu
pahanya.
aEsmm..
Ya, silakan, deh, Jeng.
Tapi saya tutup mata saja,
ah.aEt
Lalu kucium
bibir kemaluannya
sekali, chuph!! aEsaa.. Aah.aEt, Bu
Soni mengerang dan agak
mengangkat badannya. Lalu
kutanya, aEsKenapa? Sakit,
ya?aEt Dia menjawab, aEsGeli
sekali.aEt aEsSaya teruskan, ya?aEt
Bu Soni pun hanya
mengangguk sambil
tersenyum. Kuciumi lagi bibir
kemaluannya berkali-kali dan
rasa geli yang dia rasakan
membuat kedua kakinya
bergerak-gerak tetapi
kupegangi kedua pangkal
pahanya erat-erat. Badannya
bergerinjal-gerinjal,
pantatnya
naik turun. Uh!
Pemandangan yang lucu
sekali, aku pun sempat
ketawa melihatnya. Saya
keluarkan lidah dan saya
sentuhkan ujungnya ke bibir
kemaluannya berkali-kali. Oh!
Aku semakin terbawa napsu.
Kujilati keseluruhan
permukaan memeknya,
gerakanku semakin cepat dan
ganas. Oh, Bu Soni, memekmu
nikmaa..aat sekali.
Aku sudah tak ingat apa-apa
lagi. Semua terkonsentrasi
pada pekerjaan menjilati liang
kewanitaan Bu Soni. Emm..,
Enak sekali. Terus kujilati
dengan penuh napsu. Pinggir
ke tengah dan gerakan
melingkar. Kumasukan lidahku
ke dalam celah bibir
kemaluannya yang sudah
mulai membuka. Ouw! Hangat
sekali dan cairannya mulai
keluar dan terasa agak asin
dan baunya yang khas mulai
menyengat ke dalam lubang
hidungku. Tapi aku tak peduli,
yang penting rasa kemaluan
Bu Soni semakin lezat apalagi
dibumbui dengan cairan yang
keluar semakin banyak.
Kuoleskan ke seluruh
permukaan kemaluannya
dengan lidahku. Jilatanku
semakin licin dan seolah-olah
semua makanan yang ku
makan pada saat acara
arisan tadi rasanya tidak ada
apa-apanya. Badan Bu Soni
bergerinjal semakin hebat
begitu juga pantatnya naik-
turun dengan drastis. Dia
mengerang lirih, aEsaa.. Ah, ee..
Eekh, ee.. Eekh, Jee.. Eeng,
auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh. Hah,
hah,
hah,.. Hah.aEt Dan saat
mencapai klimaks dia merintih,
aEsaa.., aa.., aa.., aa.., aahaEt,
Cairan kewanitaannya keluar
agak banyak dan deras. OK,
nampaknya Bu Soni sudah
mencapai titik puncaknya.
Tampak
Bu Soni telentang
lemas dan aku tanya,
aEsBagaimana? Enak? Ada rasa
puas?aEt aEsLumayan nikmat,
Jeng. Situ nggak jijik, ya.aEt
aEsKan
sudah biasa juga sama
suami.aEt Kemudian aku
bertanya sembari bercanda,
aEsSitu mau coba punya saya
juga?aEt
aEsAh,
Jeng ini. Jijik aE~kan.aEt,
sembari ketawa.
aEsYaa..
Mungkin belon dicoba.
Punya saya selalu bersih, kok.
aE~Kan suami saya selalu
mengingatkan saya untuk
memeliharanya.aEt Kemudian Bu
Soni agak berpikir, mungkin
ragu-ragu antara mau atau
tidak. Lalu, aEsBoleh, deh, Jeng.
Tapi saya pelan-pelan saja,
ah. Nggak berani lama-lama.aEt
aEsYa,
ndak apa-apa. aE~Kan
katanya situ belum biasa.
Betul? Mau coba?aEt tantangku
sembari senyum. Lalu dia
cuma mengangguk. Kemudian
aku menelentangkan badanku
dan langsung kukangkangkan
kedua kakiku agar terlihat
liang kewanitaanku yang
masih indah bentuknya.
Tampak Bu Soni mulai
mendekatkan wajahnya ke
liang kewanitaanku lalu
berkata, aEsWah, Jeng bulu-
bulunya lurus, lemas dan
teratur. Pantes suaminya
selalu bergairah.aEt Aku hanya
tertawa.
Tak
lama kemudian aku
rasakan sesuatu yang agak
basah menyentuh kemaluanku.
Kepalaku
aku angkat dan
terlihat Bu Soni mulai berani
menyentuh-nyentuhkan ujung
lidahnya ke liang
kewanitaanku. Kuberi dia
semangat, aEsTerus, terus, Bu.
Saya merasa nikmat, kokaEt.
Dia hanya memandangku dan
tersenyum. Kurebahkan lagi
seluruh tubuhku dan
kurasakan semakin luas
penampang lidah Bu Soni
menjilati liang kewanitaan
saya. Oh! Aku mulai
terangsang. Emm.. Mmh. Bu
Soni sudah mulai berani. oo..
Ooh nikmat sekali. Sedaa.. Aap.
Terasa
semakin lincah
gerakan lidahnya, aku angkat
kepalaku dan kulihat Bu Soni
sudah mulai tenggelam dalam
kenikmatan, rupanya rasa jijik
sudah
mulai sirna. Gerakan
lidahnya masih terasa kaku,
tetapi ini sudah merupakan
perkembangan. Syukurlah.
Mudah-mudahan dia bisa
bercumbu lebih hebat dengan
suaminya nanti.
Lama-kelamaan semakin
nikmat. Aku merintih nikmat,
aEsEmm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa..
Aah.
uu.. uuh. te.. te.. Rus
teruu..uus.aEt Bibir kemaluanku
terasa dikulum oleh bibir
mulut Bu Soni. Terasa dia
menciumi kemaluanku dengan
bernafsu. Emm.. Mmh,
enaknya. Untuk lebih nikmat
Bu Soni kusuruh, aEsPegang dan
elus-elus
paha saya. Enak
sekali Bu.aEt Dengan spontan
kedua tangannya langsung
mengayunkan elusannya di
pahaku. Dia mainkan sampai
pangkal paha. Bukan main!
Sudah sama layaknya aku
main dengan suamiku sendiri.
Terlihat Bu Soni sudah betul-
betul asyik dan sibuk menjilati
liang kewanitaanku. Gerakan
ke atas ke bawah melingkar
ke seluruh liang
kewanitaanku. Seolah-olah dia
sudah mulai terlatih.
Kemudian aku suruh dia
untuk menyisipkan lidahnya
ke dalam liang kewanitaanku.
Dahinya agak berkerut tetapi
dicobanya juga dengan
menekan lidahnya ke lubang
di antara bibir kemaluan saya.
aEsAaa.. Aakh! Nikmat sekali.
Aku
mulai naik untuk mencapai
klimaks. Kedua tangannya
terus mengelus kedua pahaku
tanpa henti. Aku mulai naik
dan terasa lubang
kemaluanku semakin hangat,
mungkin lendir kemaluanku
sudah banyak yang keluar.
Akhirnya aku pun mencapai
klimaks dan aku merintih,
aEsaa.. Aah, uuhaEt. Sialan Bu Soni
tampaknya masih asyik
menjilati sedangkan badanku
sudah mulai lemas dan lelah.
Bu Soni pun bertanya karena
gerak kaki dan badanku
berhenti, aEsGimana, Jeng?aEt Aku
berkata
lirih sambil senyum
kepadanya, aEsJempolan.
Sekarang Bu Soni sudah mulai
pinter.aEt Dia hanya tersenyum.
Aku
tanya kembali,
aEsBagaimana? Situ masih jijik
nggak?aEt
aEsSedikit,
kok.aEt, jawabnya
sembari tertawa, dan akupun
ikut tertawa geli.
aEsBegitulah
Bu Soni. Mudah-
mudahan bisa dilanjutkan lebih
mesra
lagi dengan suaminya,
tetapi jangan bilang, lho, dari
saya.aEt
aEsoo..,
ya, ndak, toh, Jeng.
Saya aE~kan juga malu. Nanti
semua orang tahu
bagaimana?aEtaEtSekarang yang
penting berusaha agar
putrinya bisa punya adik.
Kasihan, lho, mungkin sejak
dulu dia mengharapkan
seorang adik.aEt
aEsYa,
mudah-mudahan lah,
Jeng. Rejeki akan segera
datang. Eh! Ngomong-
ngomong, Jeng mau nggak
kaloaE? kapan-kapan kita
bersama kayak tadi lagi?aEt
aEsNaa..,
ya, sudah mulai
ketagihan, deh. Yaa, itu
terserah situ saja. Tapi saya
nggak tanggung jawab, lho,
kaloaE? situ lantas bisa jadi
lesbian juga. Saya aE~kan cuma
kasih contoh saja.aEt, jawabku
sembari mengangkat bahu
dan Bu Soni hanya
tersenyum.
Kemudian aku cepat-cepat
berpakaian karena ingin
segera sampai di rumah,
khawatir suamiku curiga dan
berprasangka yang tidak-
tidak. Waktu aku pamit, Bu
Soni masih dalam keadaan
telanjang bulat berdiri di
depan kaca menyisir rambut.
Untung kejadian ini tak
pernah sampai terbuka
sampai aku tulis cerita yang
aneh dan lucu ini. Soal
bagaimana kemesraan Bu Soni
dan suaminya selanjutnya, itu
bukan urusan saya tetapi
yang penting kelezatan liang
kewanitaan Bu Soni sudah
pernah aku rasakan.