PDA

View Full Version : Karena Kesepian & Haus S3x


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Kehidupan kota metropolitan
sungguh sangat berlainan
dengan kehidupan di
kampung. Jalanan penuh
dengan lalu lalang kendaraan,
bergerak tak pernah
berhenti. Bis kota, angkutan
penumpang umum, mobil,
motor dan yang lain-lain
berseliweran tak karuan. Lalu
lintas benar-benar semrawut.
Sepertinya tak ada aturan.
Mereka berjalan semau gue,
ingin menang sendiri. Tak ada
sopan santun di jalanan.
Kemacetan sudah merupakan
keharusan di kota ini. Para
pengendara saling umpat
menuntut haknya masing-
masing. Pokoknya
membuat stress siapa saja
yang hidup di kota ini. Tak
heran karenanya para
penghuni kota selalu mencari
kesempatan untuk refreshing.
Melupakan kehidupan yang
begitu penuh dengan
persaingan, saling ganjal,
saling sikut demi kepentingan
pribadi. Mereka ada yang
pergi ke luar kota, ke daerah
pegunungan, ke pantai atau
ada juga yang datang ke
tempat-tempat hiburan
sekedar mendengarkan musik
sambil minum-minum bersama
teman-temannya.
Setelah hidup tiga bulan di
kota ini, aku sudah mulai bisa
menyesuaikan diri dengan
gaya kehidupan di sini. Aku
pernah juga menyempatkan
diri mampir ke sebuah cafAc
untuk mencari hiburan hanya
sekedar melepaskan
kepenatan keseibukanku
sehari-hari. Aku pun sudah
tak berhubungan dengan
suamiku lagi setelah kuminta
surat cerai darinya, meski
kutahu ia berada di kota
tempatku kini tinggal.
Terakhir kali kami bertemu di
suatu tempat dan ia
menyatakan maaf atas segala
perlakuannya selama ini. Aku
memaafkannya dan meminta
untuk tidak lagi berhubungan
demi kepentingan bersama.
Suamiku sebenarnya masih
mencintaiku namun keadaan
memang tidak memungkinkan
lagi. Ia akhirnya menyatakan
selamat tinggal dan
meninggalkan selembar cek
bernilai sangat besar.
Katanya untuk menunjang
kebutuhanku sehari-hari.
Sebelum aku datang ke kota
ini, aku sudah mempersiapkan
diri untuk mencari kesibukan.
Beruntunglah aku berkenalan
dengan seorang wanita
pengusaha. Usianya tak jauh
berbeda denganku. Orangnya
pandai bergaul, ramah dan
pintar. Namanya Nuraini. Aku
memanggilnya Mbak Rini,
karena ia memang meminta
dipanggil seperti itu. Cantik,
tinggi semampai, tubuhnya
montok dan suka berpakaian
seksi. Orang bilang tipe
aE~BangkokaE?. Penampilannya
memang sempurna. Wanita
berkelas. Katanya ia kenal
dengan orang-orang penting
dikota ini. Pejabat
pemerintah, konglomerat
sampai ke jenderal-jenderal
dikenalnya dengan baik. Aku
tak tahu bagaimana ia bisa
menjalin hubungan dengan
mereka. Tapi yang pasti,
kalau melihat penampilannya
yang serba aE~wahaE?, aku
percaya dengan
pengakuannya itu. Siapa yang
tak suka berhubungan
dengan Mbak Rini yang cantik
dan seksi itu.
Aku sering berhubungan
dengannya dan banyak
meminta nasihat, saran
berkaitan dengan bisnis di
kota ini yang penuh dengan
persaingan ketat. Aku pun
mau tak mau harus bisa
mengimbangi gaya hidupnya
yang serba aktif, termasuk
mengunjungi tempat-tempat
hiburan atau lebih dikenal
dengan istilah aE~DugemaE?.
Sore tadi aku ditelepon Mbak
Rini untuk bertemu di sebuah
cafAc yang kebetulan tak
begitu jauh dari tempat
tinggalku. Katanya aku akan
dikenalkan dengan seorang
pengusaha besar. Mbak Rini
berjanji akan
mengikutsertakan diriku
untuk sama-sama
mengerjakan proyek besar
dari pengusaha ini. Di telepon
dia wanti-wanti agar aku
berdandan secantik mungkin,
bahkan kalau bisa seseksi
mungkin. Aku tertawa saja
mendengar permintaannya itu
dan kukatakan ada-ada saja,
masa bertemu dengan
pengusaha saja harus
berpakaian seksi, kataku
polos. Tetapi ketika
berangkat aku berpakaian
seksi juga pada akhirnya.
Sebelum keluar pintu rumah,
aku masih menyempatkan diri
bercermin di depan kaca yang
ada di ruang tamu.
Kuperhatikan dandananku
agar tak membuat malu Mbak
Rini nantinya. Aku cukup puas
dengan penampilanku. Blouse
warna hitam itu sangat cocok
sekali dengan warna kulitku
yang putih bersih. Melekat
ketat mencetak bentuk
tubuhku sehingga
memperlihatkan lekukan-
lekukannya, terutama di
bagian dada. Payudaraku
nampak membusung penuh di
balik blouse ketat ini. Bahkan
kancing bagian atasnya
sampai susah dimasukan ke
dalam lubangnya saking
ketatnya. Aku agak jengah
melihat tonjolan dadaku
sendiri. Ke bawahnya kupadu
dengan rok sebatas lutut.
Aku sengaja memakai rok ini
supaya bentuk kakiku yang
ramping dan betisku yang
indah kelihatan cantik. Aku
puas dengan dandananku.
Setengah jam kemudian aku
sudah berada di cafAc itu. Aku
celingukan mencari Mbak Rini
di tengah keramaian orang-
orang yang berlalu lalang di
sana. Agak gugup juga aku
berada di sana, mungkin
belum terbiasa dengan
kehidupan malam seperti ini
meski telah beberapa kali
mencobanya. Selang beberapa
menit, aku menemukannya di
pojok ruangan cafAc itu
tengah duduk berdua dengan
seorang pria. Mbak Rini
segera melambaikan
tangannya padaku saat
kumelangkah ke sana.
aEsSini buruan,aEt panggilnya.
aEsNah, kenalin ini teman saya.
Cantik khan?aEt katanya
kemudian seraya
memperkenalkanku kepada
pria di sampingnya.
aEsAnna,aEt ucapku lirih malu-malu
sambil menyodorkan tanganku
menyambut uluran tangan
pria itu.
aEsAku Rudy,aEt balasnya segera
sambil tersenyum padaku.
Nampaknya pria ini sudah
berumur namun
penampilannya masih segar,
penuh vitalitas, dan juga
harum, dengan wewangian
yang terasa aroma
maskulinitasnya. Orangnya
masih gagah walau sudah
berumur. Tubuhnya pun
tinggi, tegap, dan kekar. Aku
dapat merasakannya dari
genggaman tangannya yang
kuat, dan pemandangan
samar bukit dadanya dari
balik kemeja yang dipakainya.
Telapak tangannya yang
besar menggenggam habis
tanganku yang mungil.
Orangnya ramah,
berkharisma, dan menarik.
Kuperhatikan wajahnya yang
cukup tampan itu.
Kekagumanku pun semakin
bertambah. Penampilannya
benar-benar aE~dandyaE?.
Pakaiannya kelihatan mahal.
Cukup meyakinkan menjadi
pengusaha besar.
aEsSilakan duduk,aEt ucapnya
sopan. Tempat duduk itu
berbentuk setengah lingkaran
merapat ke dinding dilengkapi
meja di depannya. Tadinya
aku mau duduk paling ujung
akan tetapi Mbak Rini
menyuruhku bergeser lebih
ke dalam agar ada tempat
duduk baginya. Sementara
dari ujung sana, Mas Rudy,
demikian aku memanggilnya
karena kulihat ia sudah
berumur, bergeser masuk
untuk duduk sehingga praktis
aku berada di antara mereka
berdua. Aku lirik Mbak Rini
sebagai tanda protes karena
posisiku yang terjepit tak
ada jalan keluar. Lucunya, ia
malah mengedipkan mata
entah apa maksudnya.
Sedangkan dari sisi lain, Mas
Rudy terus merapat padaku
sehingga kurasakan bahu
kami saling bersentuhan. Aku
jadi kebingungan oleh
keadaan ini. Lagi-lagi Mbak
Rini mengedipkan matanya,
kali ini sambil berbisik aEssantai
aja,aEt katanya.
Kami mulai mengobrol ngalor
ngidul. Tanya ini dan itu
diselingi canda gurau antara
Mas Rudy dengan Mbak Rini
yang agak berbau porno.
Kelihatannya mereka sudah
akrab betul. Bahkan sekali-
sekali Mbak Rini mencubit
lengan Mas Rudy sambil
tertawa manja, bahkan genit.
Sementara aku yang berada
di antara mereka hanya bisa
tersenyum serba salah
mengikuti canda mereka yang
semakin lama semakin seru.
Karena berada di tengah
mereka jadi sudah pasti aku
terkena sentuhan mereka
saat saling cubit. Bahkan
tangan Mas Rudy sempat
nyerempet buah dadaku yang
menonjol terlalu ke depan
saat ia mencubit tangan
Mbak Rini.
Dengan refleks, aku
memundurkan tubuhku.
Mereka nampaknya tidak
memperhatikan itu.
Sepertinya aku ini tidak ada.
Sebenarnya aku mulai tak
nyaman dengan keadaan ini,
kalau saja Mas Rudy
kemudian tidak mengajakku
turut dalam obrolan mereka.
Ia memang tipe pria yang
romantis melihat dari tutur
katanya. Tenang, kalem,
penuh canda diselingi pujian
yang terdengar tidak gombal.
Bahkan membuat wanita
merasa tersanjung. Obrolan
kami semakin seru saja,
apalagi setelah minuman
pesanan kami tiba.
Aku ikut-ikutan meneguk
minuman seperti mereka,
meski sebenarnya tak tahu
jenis apa minuman itu, yang
pasti terasa panas di
tenggorakan. Aku tak ingin
disebut kampungan. Aku tak
mau dibilang aE~norakaE?. Kemudian
kami mulai berbicara serius.
Membicarakan bisnis kami. Mas
Rudy semakin merapat,
bahkan wajahnya menjulur
persis di depanku saat bicara
pada Mbak Rini. Tercium
aroma after shave nya.
Aroma rempah-rempah. Aroma
khas laki-laki jantan! Ehm..,
aku mulai ngaco.
aEsAku setuju saja dengan
usulan Mbak Rini. Tapi engh..,
gimana dengan Mbak Anna
sendiri? Apa dia setuju
dengan usulan saya?aEt
demikian kata Mas Rudy
seraya mengerling genit
padaku.
Kurasakan duduknya semakin
mepet padaku. Aku tak
mengerti maksud perkataan
itu. Aku segera menoleh ke
arah Mbak Rini seakan minta
pertolongan apa yang harus
kukatakan. Mbak Rini
langsung berbisik padaku
bahwa ia setuju dengan
penawaran harga atas
proyek bernilai ratusan milyar
itu asal aku dan Mbak Rini
mau bersenang-senang
dengannya. aEsMaksud Mbak?aEt
bisikku semakin bingung. Ia
tak menjawab bahkan ia
langsung mengiyakan pada
Mas Rudy tanpa meminta
pendapatku dahulu. Kulihat
Mas Rudy langsung tersenyum
senang mendengar jawaban
itu.
aEsNah itu baru rekan bisnis
yang jempolan,aEt katanya
seraya menjawil daguku
dengan gemas. aEsAyo kita
rayakan kerjasama ini,aEt belum
sempat aku protes apa yang
mereka sepakati, tiba-tiba
Mbak Rini langsung meraih
gelas dan mengacungkannya
ke atas meja disambut oleh
acungan gelas Mas Rudy.
Mereka melirik padaku.
Menunggu reaksiku. Aku
sepertinya telah terjebak.
Tak ada lagi yang bisa
kupebuat kecuali mengikuti
ajakan mereka. Kami sama-
sama meneguk minuman dalam
gelas sampai habis. Minuman
itu langsung kutelan. Terasa
panas di tenggorokan. Bahkan
tubuhku mulai terasa hangat.
Kepalaku terasa agak
melayang. Apa aku ini sudah
mabok?
Mereka terlihat gembira
sekali sambil bernyanyi-nyanyi
mengikuti lagu yang dimainkan
oleh sebuah grup musik di
panggung cafAc. Minuman
dalam gelasku sudah terisi
penuh kembali. Baik Mas Rudy
maupun Mbak Rini memintaku
untuk menghabiskannya.
Kuturuti permintaan mereka.
Aku pun ingin bersenang-
senang seperti mereka
mengikuti suasana hingar
bingar musik. Kulihat penyanyi
wanita di panggung meliuk-
liukan tubuhnya dengan
gerakan erotis mengikuti
irama musik padang pasir
yang dimainkan grup musik.
Persis seperti penari ular.
Suasana semakin heboh.
Pengunjung lain, pria, wanita
mulai ikut-ikutan berjoget.
Ada yang berpelukan, bahkan
berciuman. Mereka tak malu
melakukan itu di depan umum.
Suasana ini melanda di meja
tempat kami. Mbak Rini tanpa
diduga menyodorkan
wajahnya persis didepan
mukaku dan disambut oleh
Mas Rudy dengan ciuman di
bibirnya. Aku terpana melihat
aksi mereka di depanku.
Mereka asyik berciuman.
Saling mengulum. Seolah aku
tak hadir di depannya.
Sungguh gila kehidupan di
kota ini. Aku tak menyangka
akan sejauh ini. Begitu bebas.
Ciuman mereka nampaknya
semakin memanas.
Pandanganku semakin kabur.
Mungkin minuman yang
kuteguk tadi mulai
mempengaruhiku. Tubuhku
terasa kelu. Dan entah
kenapa pemandangan di
depanku membuat diriku
bergairah. Kulihat mereka
asyik sekali berciuman.
Membuatku iri.
Entah bermimpi atau tidak,
kurasakan sesuatu bergerak
di bawah meja. Meraba-raba
lututku dan merayap
perlahan, menelusup ke balik
rokku, menggerayangi
pahaku. Kutahu itu tangan
Mas Rudy. Aku tercekat.
Kurang ajar lelaki ini! Rutukku
dalam hati. Pura-pura
berciuman dengan wanita lain
sementara tangannya
menggerayang nakal di atas
pahaku. Kutepiskan tangan
itu dari balik rokku. Mas Rudy
hanya mengerlingkan matanya
padaku sementara bibirnya
tak pernah lepas dari bibir
Mbak Rini. Gila semua! Pekikku
dalam hati mengutuk
perbuatan mereka.
Kelihatannya Mbak Rini tahu
apa yang dilakukan Mas Rudy
tehadapku. Ia tersenyum
padaku sambil menganggukan
kepala. Entah apa maksudnya.
Kemudian kurasakan kembali
gerayangan di atas pahaku,
namun kali ini bukan hanya
dari sisi kiriku tetapi juga
dari sisi kanan tempat Mbak
Rini. Oh.. dunia ini semakin
kacau! Masa Mbak Rini pun
berselera kepadaku sesama
perempuan? Aku sepertinya
terpesona oleh gerayangan
tangan Mbak Rini yang begitu
lembut dan mesra. Aku tak
berani menepis tangannya
yang semakin naik menuju
pangkal pahaku.
Mereka menghentikan
ciumannya dan melirik
bersama-sama kepadaku. Aku
balas memandang tatapan
mereka. Kulihat kilatan bola
mata mereka memancarkan
gairah. Tiba-tiba saja, mereka
mencium pipiku dari kanan-
kiri. Aku berteriak memprotes
perbuatan mereka.
Teriakanku nampaknya
tenggelam di tengah
kegaduhan musik di cafAc itu.
Tamu-tamu lain pun tak ada
yang memperhatikan
perbuatan kami. Mereka sibuk
dengan keasyikannya masing-
masing.
Kurasakan gerayangan
tangan mereka semakin
nakal, terutama tangan Mbak
Rini yang mulai menarik celana
dalamku. Aku tercekat dan
tubuhku terlonjak. Saat itulah
dengan mudahnya, Mbak Rini
memelorotkan celana dalamku
hingga turun sampai ke
lututku. Aku berteriak aEsMbak..
apa-apaan?!aEt
Mbak Rini tak berkomentar
malah terus menciumi pipiku
dan bergeser ke bibirku. Aku
benar-benar kelabakan
dikeroyok mereka. Mas Rudy
tak tinggal diam. Bibirnya
menciumi leherku dari samping
kiri sementara tangannya
yang lain meraba-raba
dadaku. Aku ingin menangis
rasanya diperlakukan seperti
ini di muka umum.
Tetapi harus kuakui, mereka
memang benar-benar lihai
memperlakukanku. Penuh
kelembutan. Tak ada
pemaksaan. Hanya aku saja
yang tidak berani berontak.
Tenagaku sepertinya hilang
entah kemana. Tubuhku
terasa lunglai. Pengaruh
minuman itu semakin terasa
menguasai pikiran jernihku.
Cumbuan hangat mereka
membuat tubuhku serasa
terbakar. Aku mulai terbuai,
terpesona oleh perasaanku
sendiri. Apalagi Mas Rudy tak
henti-hentinya membisikan
rayuan dan pujian di
telingaku.
aEsKamu cantik sekali sayang..,
tubuhmu benar-benar seksi..
sangat merangsang..aEt rayunya
seraya mencopot kancing
blouseku untuk kemudian
menelusupkan tangannya ke
dalam.
Menggerayangi buah dadaku
yang masih tertutup kutang.
Diremasnya dengan lembut.
Kurasakan jemari tangannya
mengelus-elus kulit bagian
atas dadaku yang terbuka
untuk kemudian menelusup ke
balik kutangku. Tanpa sadar
aku melenguh.
Aku mulaui terbawa arus
permainan mereka. Gairahku
kembali muncul setelah cukup
lama terpendam sejak
perselingkuhanku dengan
Kang Hendi beberapa bulan
yang lalu. Bergelora penuh
gairah. Tubuhku berdenyut-
denyut oleh nafsu birahiku
sendiri. Darahku berdesir
kencang, terlebih saat tangan
Mbak Rini mengelus-elus bibir
kemaluanku. Kurasakan
daerah itu mulai basah. Aku
merasakan sesuatu yang lain
dari sentuhan tangan Mbak
Rini. Sepertinya ia tahu persis
titik-titik kenikmatan di
daerah itu. Benar-benar
indah, sampai-sampai aku tak
sadar mengerang lirih sambil
memanggil namannya.
aEsYa sayang..aEt jawabnya
dengan lirih pula. Terdengar
nafasnya mulai tersengal-
sengal. Ia lalu berbisik padaku
untuk mencari tempat yang
lebih leluasa dan kemudian
disetujui oleh Mas Rudy.
Aku sudah tak perduli mau
dibawa kemana dan aku tak
ingat bagaimana ia
membawaku karena begitu
mataku terbuka aku sudah
berada di atas ranjang
empuk di dalam kamar yang
dipenuhi oleh berbagai
peralatan mewah. Lampu yang
bersinar temaram menolong
pandangan mataku untuk
melihat ke sekeliling. Kulihat
disamping ranjang Mas Rudy
tengah membantu Mbak Rini
melepaskan pakaiannya.
Dengan refleks, aku melihat
kepada diriku sendiri dan
menarik nafas lega ketika
kutahu pakaianku masih
lengkap menempel di tubuhku,
hanya saja kancing blouseku
sudah terlepas beberapa
buah sementara rokku
tersingkap memperlihatkan
kemulusan pahaku. Sedangkan
kedua kakiku menekuk
sebatas lutut sehingga dari
arah mereka dapat terlihat
bagian dalam ujung pangkal
pahaku yang masih tertutup
celana dalam.
Aku menonton adegan
mereka. Pakaian Mbak Rini
sudah terlepas semuanya.
Dalam hati aku mengagumi
keindahan tubuhnya yang
sudah telanjang bulat itu.
Buah dadanya tak sebear
milikku tapi memiliki bentuk
yang indah dan nampak lebih
membusung karena tubuhnya
lebih kecil dibandingkan diriku.
Pinggulnya membentuk
lekukan sempurna diimbangi
oleh buah pantatnya yang
bulat penuh. Perutnya rata.
Selangkangannya dipenuhi
oleh rambut hitam legam
yang begitu rimbun. Sangat
kontras dengan warna
kulitnya yang putih bersih.
Aku merasakan keanehan
dalam getaran tubuhku saat
memandang tubuh Mbak Rini.
Jantungku berdegub semakin
kencang melihat aksi Mbak
Rini mencium Mas Rudy
dengan penuh gairah. Kedua
tangannya bergerak cekatan
mempreteli baju dan celana
Mas Rudy. Tontonan ini
semakin mendebarkan.
Gairahku terpancing melihat
tubuh Mas Rudy yang masih
oke walau sudah tua.
Kemaluanku semakin
berdenyut-denyut melihat
tangan Mbak Rini menelusup
ke balik celana Mas Rudy
sambil memperlihatkan
ekspresi kaget di wajahnya.
Aku semakin penasaran oleh
apa yang telah ditemukannya.
Ia melirik padaku yang
tergolek di ranjang sambil
memperlihatkan ekspresi
wajah penuh kekaguman.
Tanpa sadar, aku bangkit
untuk melihatnya. Aku jadi
penasaran melihat Mbak Rini
seperti sengaja
menyembunyikannya dari
pandanganku. Aku baru
terpekik kaget begitu Mbak
Rini sambil menyeringai senang
mengeluarkan sesuatu dari
balik celana Mas Rudy dalam
genggaman kedua tangannya.
Dari balik celana Mas Rudy
keluar batang kemaluannya
yang sudah kencang dengan
ukuran yang luar biasa.
Panjang dan besar! Padahal
kedua tangan Mbak Rini
sudah menggengamnya penuh
tapi masih terlihat sisa
beberapa senti di atasnya.
Panjang sekali! Mbak Rini
tersenyum senang seperti
anak kecil mendapatkan
mainan. Mengocoknya naik
turun sambil melambai-
lambaikan batang itu ke
arahku. Seolah ingin
memperlihatkan kepadaku
betapa senangnya ia
mendapatkan batang kontol
sebesar itu.
Aku hanya bisa menelan ludah
sendiri menyaksikan semua
itu. Sementara kulihat Mas
Rudy mengerling padaku
sambil tersenyum bangga
dengan apa yang dimilikinya.
Aku balas tatapan itu dengan
menjilati bibir dengan lidahku.
Kuingin ia tahu betapa
besarnya keinginanku untuk
menjilatinya. Kulihat bola
matanya berbinar melihat aksi
genitku yang membuatnya
bergairah. Kelihatannya ia
ingin segera meloncat ke atas
ranjang tempatku berbaring
dengan posisi yang
menggairahkan. Tetapi Mbak
Rini menahannya di sana.
Wanita itu langsung
berjongkok di hadapan Mas
Rudy dan menjilati batang itu
dengan penuh nafsu. Kepala
Mas Rudy menoleh ke
belakang sambil mengerang
kenikmatan merasakan jilatan
lihai lidah Mbak Rini di sekujur
batangnya. Dari bawah naik
ke atas, mengulum-ngulum
kepalanya untuk kemudian
turun kembali ke bawah
menjilati buah pelernya.
Kepalaku terasa pening
melihat aksi Mbak Rini.
Nafsuku mulai terasa di ubun-
ubun. Aku diam di ranjang
melihat permainan mereka
sambil meremas-remas
dadaku sendiri. Aksiku
menarik perhatian Mas Rudy.
Tangannya mencoba
menggapai ke arahku namun
tak sampai. Aku sengaja
membusungkan dadaku
memndekati ujung tangannya
yang hanya tinggal beberapa
senti lagi. Jemarinya mencoba
meraih tetapi tetap tak
sampai. Aku tersenyum
menggoda. Aku ingin Mas
Rudy terangsang oleh
godaanku. Jemariku mencopot
kancing blouse satu per satu
sambil menatap penuh gairah
kepadanya.
aEsOoohh.. luar biasa.. ngghh..aEt
erangnya merasakan
kenikmatan dan rangsangan
yang diberikan oleh dua
orang perempuan cantik nan
seksi sekaligus.
Mbak Rini semakin semangat
dengan aksinya. Mulutnya
sudah penuh dengan batang
kontol Mas Rudy. Dihisap-
hisap. Dikulum-kulum dengan
penuh kenikmatan. Aku iri
melihatnya. Aku lalu bangkit
dari ranjang dan menghampiri
mereka. Kupeluk tubuh Mas
Rudy dari belakang. Menciumi
bahu dan punggungnya yang
kokoh, sementara kedua
tanganku menggapai ke atas
dadanya yang berotot. Aku
bisa merasakan dadanya yang
dipenuhi bulu-bulu halus.
Spontan saja aku langsung
mengelus-elusnya. Kemudian
tanganku bergerak
merambahi lengan Mas Rudi.
Lengan itu terasa begitu
kencang, dengan otot-
ototnya yang bersembulan.
Kuelus dan kumainkan
bisepnya yang tebal dan
padat itu. Wajah Mas Rudy
menoleh ke samping mencari-
cari bibirku untuk dikulum.
Aku sengaja menghindar.
Menggodanya. Ia semakin
terangsang. Kubiarkan saja
seperti itu. Tanganku pun
merayap ke arah perutnya.
Meski sudah berumur tetapi
perutnya tidak buncit, sama
dengan bagian tubuhnya yang
lain, tampak kokoh dengan
otot-ototnya yang keras dan
pejal. Ia nampaknya rajin
berolah raga sehingga masih
memiliki tubuh seperti model
pria di majalah kebugaran.
Kurasakan perutnya bergetar
hebat mengikuti rayapan
nakal jemariku. Kupermainkan
bulu-bulu lebat di seputar
selangkangannya. Aku sengaja
tidak meraba batang
kontolnya yang tengah
dikulum Mbak Rini meski
kutahu pasti ia sangat
menginginkan sentuhan
tanganku pada batangnya.
Kudengar ia melenguh
memanggil namaku. Ia rupanya
tersiksa oleh godaanku. Aku
tersenyum penuh
kemenangan. Entah kenapa
dalam lubuk hatiku, aku ingin
memberinya lebih dari apa
yang diberikan Mbak Rini
pada Mas Rudy saat itu. Inilah
mungkin persaingan di antara
wanita yang tak pernah
disadari oleh kaumku.
Aku lalu berpindah ke depan
mereka diiringi tatapan Mas
Rudy yang begitu penasaran
dengan apa yang akan
kulakukan. Aku ikut
berjongkok di belakang Mbak
Rini. Kupeluk wanita itu dari
belakang. Mbak Rini menoleh
sebentar untuk kemudian
meneruskan kulumannya.
Kudengar ia merintih saat
tanganku memeluk buah
dadanya. Kuremas dengan
lembut sambil memilin
putingnya yang sudah
mengacung keras. Aksiku tak
pernah luput dari pandangan
Mas Rudy. Kuciumi punggung
Mbak Rini. Sekali-sekali kugigit
perlahan. Ia mengaduh. Tapi
nampaknya tidak merasa
kesakitan malah sebaliknya. Ia
terangsang karena kurasakan
putingnya semakin mengeras.
Tanganku merayap lebih jauh.
Turun ke bawah menelusuri
permukaan perutnya. Lalu
mengelus-elus bulu
kemaluannya. Jemariku segera
menelusuri garis bibir
kemaluannya. Mbak Rini
melenguh merasakan
permainan jemariku. Ia sudah
basah. Jemariku merasakan
daerah itu sudah sangat licin
sehingga dengan mudah
telunjuk jariku melesak ke
dalam liangnya. Kutekan
perlahan. Jemariku bergerak
keluar masuk untuk kemudian
menusuk lebih dalam.
Pinggul Mbak Rini bergoyang
seperti gerakan bersenggama
mengimbangi tusukan jariku.
Kugeser-geser dadaku ke
atas punggungnya. Buah
dadaku terasa semakin
membusung oleh desakan
nafsu birahi. Meski masih
terhalang oleh pakaian,
namun terasa hingga ke
hatiku. Aku ikut-ikutan
melenguh menimpali erangan
Mbak Rini yang tengah
disetubuhi oleh jariku.
Kupermainkan kelentitnya.
Aku tahu persis
kelemahannya, tahu mana
titik-titik yang bisa
membuatnya memekik penuh
kenikmatan. Sama persis
seperti yang ada di tubuhku.
Karena kami sama-sama
wanita.
Mas Rudy terperangah
dengan aksi kami berdua di
bawah. Pemandangan
dihadapannya semakin
membuat Mas Rudy
terangsang hebat. Mungkin
baru kali ini ia bercinta
dengan dua wanita sekaligus
dan tak pernah
membayangkan akan demikian
dahsyat rangsangan yang
dirasakannya.
aEsOh.. kalian berdua sungguh
luar biasa..aEt katanya dengan
suara tersengal.
aEsAyolah kita pindah ke
ranjang. Aku sudah tak kuat
lagi.. ngghh..aEt pintanya
kemudian.
Kami lalu berpindah ke
ranjang. Mas Rudy mengambil
posisi telentang, sementara
aku berbaring di sampingnya
sambil berciuman dengannya.
Mbak Rini rupanya belum mau
melepaskan kuluman pada
kontolnya. Ia masih asyik
mengemot-emot batang itu.
Kedua tangannya tak pernah
berhenti mengocok. Luar
biasa pertahanan Mas Rudy.
Ia belum memperlihatkan
tanda-tanda akan mencapai
puncaknya. Padahal Mbak Rini
sudah mengeluarkan semua
kemampuannya menghisap
kontol itu. Ia penasaran
sekali.
Aku dan Mas Rudy kembali
berciuman. Kurasakan tangan
kekarnya bergerak lincah
mempreteli kancing blouseku
hingga terlepas. Ia lalu meraih
kaitan kutang di punggungku
dan melepaskannya. Mas Rudy
melenguh penuh kekaguman
begitu kedua buah dadaku
yang membusung penuh
tumpah dari kutangku. Kedua
tangannya segera menangkap
buah dadaku. Meremas-remas
seraya berkata betapa
kenyal dan montoknya buah
dadaku. Ia tak berhnti
memuji-muji kecantikan
tubuhku. Bibir langsung
berpindah ke atas
payudaraku. Menciumi
keduanya dan menjilat-jilat
putingku. Aku meringis
keenakan menghadapi
lumatan pada putingku.
Tangannya meraih tanganku
untuk dibimbing ke arah
kontolnya.
Mbak Rini lalu melepaskan
kulumannya dan membiarkan
aku menggenggam kontolnya.
Ia bangkit dan mengambil
posisi jongkok mengangkangi
Mas Rudy. Liang memeknya
persis di atas kontol yang
tengah kupegang. Kuacungkan
persis menempel di mulut
liangnya. Aku melirik ke arah
Mbak Rini dan memberi tanda
supaya menurunkan
tubuhnya. Mbak Rini melenguh
panjang saat ujung kepalanya
menerobos masuk bibir
kemaluannya.
aEsOohh.. gedee.. bangeett..
uugghh.. enaakkhh..!aEt rintih
Mbak Rini penuh kenikmatan.
Kulihat batang yang lebih
besar dari pergelangan
tanganku itu melesak ke
dalam liang Mbak Rini yang
sempit. Batang itu baru
masuk setengahnya. Mbak Rini
sudah kelihatan gelagapan.
Kelihatannya tak akan muat.
Mbak Rini menggoyang-
goyang pantatnya sambil
bergerak turun naik. Sedikit
demi sedikit gerakan itu
membantu batang Mas Rudy
masuk lebih dalam lagi. Mbak
Rini baru menjerit lega
setelah merasakan batang itu
masuk seluruhnya. Ia tampak
puas bisa membenamkan
seluruhnya. Setelah itu ia
beergerak naik turun. Telihat
lambat sekali. Ketika naik
rasanya tidak sampai-sampai
ke ujungnya. Begitu pula saat
turun. Terasa lama sekali
baru mentok hingga ke
dasarnya.
Aku terpesona melihatnya
sambil berpikir apakah liangku
mampu menerimanya. Aku tak
bisa berpikir lama karena
tangan Mas Rudy bergerak
semakin nakal. Rokku telah
dipelorotkannya sekaligus
dengan celana dalamku. Aku
kini sudah telanjang bulat
seperti mereka berdua.
Kurasakan jemari besar dan
lembut Mas Rudy menusuk-
nusuk liang memekku.
Mulutnya tak pernah berhenti
mengemoti puting susuku.
Kenikmatan di dua tempat ini
benar-benar luar biasa.
Rangsangan dahsyat
menyebar ke sekujur
tubuhku. Cairan pelumas dari
liang memekku semakin
membanjir sehingga
memperlancar laju keluar
masuk tusukan jari Mas Rudy.
Menyentuh seluruh relung
vaginaku. Kelentitku
dipermainkan sedemikian rupa.
Tubuhku terlonjak-lonjak
saking keenakan. Pinggulku
bergoyang, berputar dan
bergerak maju mundur
mengikuti irama tusukannya.
aEsGanti posisi Mbak..aEt kata Mas
Rudy tiba-tiba. Ia bangkit
sembari menurunkan tubuh
Mbak Rini yang tengah asyik
menungganginya.
Kulihat Mbak Rini sepertinya
tahu apa keinginan Mas Rudy.
Ia langsung mengambil posisi
merangkak di atas ranjang,
bertumpu pada kedua
lututnya yang ditekuk
sementara pantatnya
menungging ke atas. Mas
Rudy mengambil posisi di
belakangnya. Ia tekan
punggung Mbak Rini sehingga
wajahnya menyentuh ranjang.
Pantatnya yang bulat penuh
itu semakin menungging. Mas
Rudy bergumam tak jelas
sambil menatap penuh nafsu
liang memek Mbak Rini yang
sudah menganga lebar dari
bagian belakangnya. Mas Rudy
memegangi kontolnya dan
diarahkan ke liang itu.
Tubuhnya segera didorong ke
depan. Mbak Rini melenguh
seperti sapi yang sedang
diperah. Mulutnya menganga
sambil mengaduh karena
merasakan liangnya dijejali
benda keras, panjang dan
besar milik Mas Rudy.
Aku iri melihat kenikmatan
yang diperolehnya. Aku diam
tak bergerak menyaksikan
persetubuhan mereka.
Nafsuku semakin memuncak.
Kedua tanganku dengan
refleks meremas buah dadaku
sendiri. Mas Rudy melihat
perbuatanku. Ia menyuruhku
untuk bergabung. Mbak Rini
segera menarik tubuhku
hingga telentang persis di
bawahnya. Kedua kakiku
dibukanya lebar-lebar
kemudian wajah Mbak Rini
mendekati pangkal pahaku.
Aku berdebar menantikannya.
Kemudian kurasakan jilatan
lidahnya di bibir kemaluanku.
Tubuhku bergetar hebat.
Luar biasa! Baru kali ini aku
merasakan lidah perempuan
menjilati memekku. Tubuhku
meggeliat-geliat antara geli
dan nikmat. Mbak Rini
memang luar biasa. Ia lihai
sekali memberikan rangsangan
padaku. Lidahnya menjilat-jilat
kelentitku.
Pantatku terangkat tinggi-
tinggi begitu kurasakan
desakan hebat dari dalam
tubuhku. Begitu kencang dan
kuat hingga aku tak dapat
menahannya. Aku menjerit
lirih sambil menggigit bibirku
sendiri. Semburan demi
semburan memancar dari liang
memekku. Aku mencapai
puncak kenikmatan hanya
dalam beberapa kali jilatan
saja. Kulihat ke bawah wajah
Mbak Rini semakin terbenam
di antara selangkanganku.
Mulutnya mengecup-ngecup
cairan yang meleleh dari
liangku. Menghirupnya dalam-
dalam. Ia dengan penuh
gairah membersihkan ceceran
cairanku di sekitar
kemaluanku.
aEsOohh.. Mbak Rinii.. ngghh..
mmppffhh..aEt rintihku sambil
menjambak rambutnya dan
menekan kepalanya ke dalam
selangkanganku.
Sementara di belakang sana,
Mas Rudy dengan gagahnya
menghujamkan senjata terus
menerus. Pinggulnya meliuk-
liuk dan bergerak maju
mundur dengan kecepatan
penuh. Mbak Rini sampai
kelabakan mengimbangi
keperkasaan pria tua yang
jantan itu. Selang beberapa
detik kemudian Mbak Rini
melenguh panjang. Tubuhnya
berkelojotan. Nampaknya ia
pun sudah mencapai puncak
kenikmatannya sendiri.
Tubuhnya langsung lunglai dan
terjatuh di sampingku. Aku
segera menghujaninya dengan
ciuman. Bibirnya kukulum.
Buah dadanya kuremas-
remas. Lenguhannya
bertambah keras bahkan
setengah menjerit. Ia balas
memeluk tubuhku.
Mengerayangi buah dadaku.
Memilin-milin putingku. Aku
merasakan gairahku muncul
kembali. Kami bergumul
dengan panasnya. Aku melirik
ke arah Mas Rudy yang
terpana menyaksikan aksi
kami. Batang kontolnya
nampak masih keras,
mengacung dengan gagahnya.
Aku biarkan dia menonton
kami. Perhatianku tersita
semuanya oleh cumbuan Mbak
Rini. Tubuhku menyambut
hangat kecupan panasnya.
Aku sudah tidak lagi
memperhatikan Mas Rudy.
Aku tak pernah menyangka
bahwa Mbak Rini memiliki
kecenderungan untuk
bercinta dengan sesama
perempuan pula selain dengan
lelaki. Bi-sex, kata orang. Aku
pun sebenarnya tak pernah
berpikir akan bercinta dengan
sesama perempuan dan tak
pernah membayangkan akan
kenikmatannya. Ternyata
rasanya memang lain dari
pada yang lain. Aku tak kalah
hangatnya menyambut
cumbuan Mbak Rini. Dadaku
seakan mau meledak oleh
rangsangan hebat yang
bergolak dalam tubuhku. Bibir
Mbak Rini terus-terusan
menghisap puting susuku. Aku
menggeliat-geliat saking
enaknya.
Kenikmatanku semakin
betambah saat kurasakan
bibir kemaluanku digesek-
gesek oleh moncong kepala
kontol Mas Rudy yang mulai
ikut bergabung dengan kami.
Ya ampun! Aku berteriak
dalan hati saking keenakan.
Mana pernah kualami
kenikmatan luar biasa seperti
yang sedang kurasakan saat
ini.
aEsAuuww!aEt aku merintih saat
merasakan kontol Mas Rudy
menyeruak di antara bibir
kemaluanku yang masih rapat.
Rasanya membuatku tersedak
dijejali kontol sebesar itu.
Kubuka kedua kakiku lebar-
lebar untuk memberikan jalan
padanya. Pinggulku berkutat
agar kontol itu masuk
seluruhnya. Aku bisa menarik
nafas lega melihat Mas Rudy
mulai lancar menggoyang
pantatnya. Ruang vaginaku
terasa penuh. Gesekan urat-
urat batang Mas Rudy sampai
terasa ke ulu hati. Ujung
kepalanya menyodok-nyodok
bagian terdalam vaginaku.
Aku sampai kehabisan nafas
mengimbangi goyangan Mas
Rudy. Ia benar-benar
perkasa. Aku takluk padanya.
Tubuhku serasa dipanggang
oleh kontol panjangnya. Otot-
otot vaginaku kukedut-kedut.
Mas Rudy mengerang
merasakan kenikmatan
kedutanku menghisap-hisap
kontolnya. Baru tahu rasa
sekarang, ujarku dalam hati.
Akan kubikin KO dia, ancamku
dalam hati dengan gemas.
Kuingin ia segera
menyemprotkan air maninya
dalam vaginaku. Kuingin
merasakan kekuatan
semprotannya. Kuingin ia
tumbang dalam pelukannku.
Aku bergoyang sekuat
tenaga. Kupelintir batang
kontolnya dalam memekku.
Kulihat Mas Rudy megap-
megap. Aku semakin
bersemangat. Pinggulku
berputar seperti gasing.
Meliuk-liuk liar. Kurasakan
tubuhnya mulai berkelojotan.
Aku sudah tak
memperhatikan Mbak Rini
yang sibuk mencumbui
tubuhku. Aku lebih
berkonsentrasi untuk
membuat Mas Rudy mencapai
orgasme secepatnya.
Upayaku belum juga
memperlihatkan hasil. Mas
Rudy nampak masih perkasa
menggenjotku. Belum terlihat
tanda-tanda ia akan
orgasme. Aku semakin
frustrasi melihatnya, karena
lama kelamaan aku sendiri
yang kewalahan. Aku sudah
merasakan desiran kuat
dalam tubuhku. Aku panik
oleh gejolakku sendiri. Kucoba
bertahan sekuat mungkin,
tetapi batang kontol Mas
Rudy masih terus menusuk-
nusuk dengan cepatnya.
Gesekan kulit batangnya yang
keras dan gerinjal urat-
uratnya pada kelentitku,
membuat pertahananku jebol
paad akhirnya. Aku berteriak
sekuat tenaga saat aliran
deras menyembur dari dalam
diriku. Aku menyerah, pasrah
dan membiarkan otot-ototku
melemas, melepaskan
orgasmeku yang meledak-
ledak.
aEsMasukiinn.. semuaannyaa..!aEt
Jeritku seraya menarik
pantat Mas Rudy ke dalam
selangkanganku sehingga
kontolnya melesak masuk
seluruhnya. Kurasakan
semburan demi semburan
memancar dari dalam liangku.
Sementara Mbak Rini
mengelus-elus wajahku seolah
sedang menenangkan diriku
yang tengah menghadapi
amukan kobaran api birahi.
Aku baru bisa mengambil
nafas lega beberapa menit
kemudian. Tulang-tulangku
serasa pada copot. Aku
terkulai lemas. Tenagaku
terkuras habis dalam
pertempuran tadi.
Mas Rudy lalu mencabut
batangnya dari liangku. Ia
nampak masih perkasa,
mengacung gagah. Kepalanya
mengkilat karena cairan
milikku. Mbak Rini menoleh ke
arahnya, kemudian kepadaku
sepertinya meminta
bantuanku untuk
aE~mengeroyokaE? lelaki yang
telah membuat kami berdua
luluh lantak. Aku mengangguk
dan segera bangkit
menghampiri Mas Rudy.
Kutarik tubuh atletisnya yang
sudah licin karena
keringatnya, supaya
berbaring telentang di
ranjang. Bibirku langsung
menyerbu daerah
selangkangannya. Aku sudah
tak sabar ingin melumat
batang kontolnya. Kuselomoti
dengan rakus hingga
terdengar suara kecipakan
air liurku. Sementara Mbak
Rini memulai cumbuannya di
bagian dadanya. Menjilati
puting susunya yang besar.
Menyusur terus ke bawah
dan bergabung denganku
menggumuli batangnya.
aEsOuuhh.. sedaapp..aEt Pekik Mas
Rudy melihat dua perempuan
cantik saling berebut
menciumi kontolnya.
Mbak Rini kebagian ujung
kepalanya, sementara aku
menjilati batang dan buah
pelernya. Kami berdua saling
berlomba memberikan
kenikmatan kepada Mas Rudy.
Kami kemudian bergiliran. Aku
bagian atas, Mbak Rini bagian
bawah. Seterusnya
bergantian sampai beberapa
menit lamanya. Ketika kami
merasakan Mas Rudy
menggelinjang dan mengerang
seperti menahan sesuatu,
secara berbarengan mulut
kami menciumi moncong
kontolnya dari samping. Kedua
tangan kami mengocok
batangnya.
aEsOuuhh.. saa.. yaa.. ke.. ke..
kelu..aEt belum sempat
ucapannya berakhir, nampak
cairan kental dan hangat
menyemprot keras dari
moncongnya.
Tubuhnya menghentak-
hentak seiring dengan
semburan air maninya yang
tak henti-henti muncrat.
Wajah kami belepotan disirami
air maninya yang keluar
begitu banyak. Mbak Rini
menghisap terus dengan
rakusnya. Lidahnya menjilat-
jilat sampai bersih batang itu
dari ceceran air maninya.
Sedangkan aku mengocoknya
seakan mau memeras kontol
itu hingga habis cairannya.
Setelah membersihkan
cipratan air mani di wajah,
lalu kami menjatuhkan diri di
kiri dan kanan tubuh Mas
Rudy sambil memeluknya. Kami
benar-benar kecapaian. Mata
terasa berat karena kantuk.
Samar-samar kudengar Mas
Rudy berkata, aEsKalian
memang luar biasa. Saya
benar-benar puas bersama
kalian..aEt
Kami tak tahu apa lagi yang
dibicarakannya karena sudah
terbang melayang dalam
mimpi indah. Senyum kepuasan
tersungging dari bibirku dan
Mbak Rini. Pengalaman yang
sungguh tiada duanya.