PDA

View Full Version : Anak Perawan SMP


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Tiba- tiba Kring.. Kring.. HP-ku
berbunyi. Siang itu aku
berada di kantor sedang
membaca surat-surat dan
dokumen yang barusan
dibawa sekretarisku LIA,
untuk aku tanda tangani.
Kulihat di layar handphone ku
tampak sebuah nomor
telepon yang sudah kukenal.
aEsHello..
Dita.. Apa kabaraEt
sapaku.
aEsHi..
Pak Robert.. Kok udah
lama nih nggak kontak DitaaEt
aEsIya
habis sibuk sihaEt jawabku
sambil terus menandatangani
surat-surat di mejaku.
aEsIni
Pak Robert.. Ada barang
bagus nih..aEt terdengar suara
Dita di seberang sana.
Dita
ini memang kadang-
kadang aku hubungi untuk
menyediakan wanita untuk
aku suguhkan pada tamu
atau klienku. Memang
terkadang untuk menggolkan
proposal, perlu adanya servis
semacam itu. Terkadang lebih
ampuh daripada memberikan
uang di bawah meja.
aEsBagusnya
gimana Dit?aEt
tanyaku penasaran.
aEsMasih
anak-anak Pak.. Baru
15 tahun. Kelas 3 SMP. Masih
perawan, bener-bener gadis
virginaEt
Mendengar
hal itu langsung
senjataku berontak di
sarangnya. Memang sering
aku kencan dengan wanita
cantik, ABG atupun istri
orang. Tetapi jarang-jarang
aku mendapatkan yang masih
perawan seperti ini.
aEsCantik nggak?aEt tanyaku
aEsCantik
dong Pak..
Tampangnya innocent banget.
Bapak pasti suka deh..aEt rayu
Mami Dita ini.
Setelah
itu aku tanya lebih
lanjut latar belakang gadis
itu. Namanya Tari, anak
keluarga ekonomi lemah yang
perlu biaya untuk
melanjutkan sekolahnya.
Orang tuanya tidak mampu
menyekolahkannya lagi
sehabis SMP nanti, sehingga
setelah dibujuk Dita, dia mau
melakukan hal ini.
aEsMinta berapa Dit? aEt tanyaku
aEsMurah
kok Pak.. cuma lima
jutaaEt
Wah..
Pikirku. Murah sekali..
Aku pernah dengar ada
orang yang beli keperawanan
sampai puluhan juta. Singkat
kata, akupun setuju dengan
tawaran Dita. Aku berjanji
untuk menelponnya lagi
setelah aku sampai di lokasi
nanti.
aEsLia..
Ke sini sebentaraEt
kutelpon sekretarisku yang
sexy itu. Tak lama Lia pun
masuk ke ruanganku. Sambil
tersenyum manis dia pun
duduk di kursi di hadapanku.
aEsAda
apa Pak Robert?aEt
tanyanya sambil menyilangkan
kakinya memamerkan
pahanya yang putih.
Belahan
buah dadanya
tampak ranum terlihat dari
balik blousenya yang agak
tipis. Ingin rasanya aku
nikmati dia saat itu juga,
tetapi aku lebih ingin
menikmati perawan yang
ditawarkan Dita. Toh masih
ada hari esok untuk Lia,
pikirku.
aEsSaya
perlu uang lima juta
untuk entertain klien. Tolong
minta ke bagian keuangan
yaaEt kataku.
aEsBaik PakaEt jawabnya.
aEsAda
lagi yang bisa saya
bantu Pak Robert..?aEt Lia
berkata genit sambil
menatapku menggoda.
aEsNggak..
Mungkin lain kali Lia..
Saya sibuk banget nihaEt
kataku pura-pura.
Aku tak
ingin staminaku habis
sebelum bertempur dengan
Tari, anak SMP itu. Liapun
beranjak pergi dengan raut
muka kecewa, dan tak lama
dia kembali membawa uang
yang aku minta beserta slip
tanda terima untuk aku
tandatangani.
aEsNanti kalau perlu lagi, panggil
Lia
ya PakaEt katanya masih
mengharap.
aEsBaik
Lia.. Saya pergi dulu
sekarang. Jangan telepon
saya kecuali ada emergency
yaaEt jawabku sambil
mengemasi laptopku.
Tak
lama akupun sudah
meluncur dengan Mercy
kesayanganku menuju hotel di
kawasan
Semanggi. Akupun
cek in di hotel yang
berdekatan dengan plaza
yang baru dibangun di daerah
itu.
Setelah mendapatkan
kunci akupun bergegas
menuju kamar suite di hotel
itu.
Setiba
di kamar, kutelpon
Dita untuk memberitahukan
lokasiku. Dia berjanji untuk
datang sekitar satu jam lagi.
Sambil menunggu kunyalakan
TV dan menonton siaran CNN
di ruang tamu kamarku.
Sedang asyik-asyiknya
melihat berita perang di Irak
tiba-tiba HP-ku berbunyi.
aEsSialan
Lia. Aku khan sudah
bilang jangan telepon.aEt pikirku
sambil mengangkat telepon
tanpa melihat caller ID-nya.
aEsHalo.
Pak Robert.. Ini SantiaEt
kata suara di seberang sana.
Santi ini adalah istri dari Pak
Arief, manajer keuangan di
kantorku.
aEsOh
Santi.. Aku pikir
sekretarisku. Ada apa San?aEt
aEsNggak
Pak Robert.. Cuma
kangen aja. Pengin ketemu
lagi nih Pak.. Aku pengin
ulangi kejadian yang di pesta
dulu itu. Bisa ketemuan nggak
Pak hari ini?aEt
aEsWah..
Kalau hari ini nggak
bisa San.. Aku sedang di
tempat klien nihaEt jawabku
mengelak.
aEsKhan
minggu depan suamimu
sudah pergi.. Jadi kita bisa
puas deh nanti seharianaEt
lanjutku.
aEsHabis
Santi udah kangen
banget Pak..aEt rengeknya.
aEsSabar
ya sayang.. Tinggal
beberapa hari lagi kokaEt
hiburku.
aEsOK
deh.. Sorry kalau
mengganggu ya PakaEt katanya
menyudahi pembicaraan.
Wah,
ternyata dia sudah tak
sabar kepengin aku kencani,
pikirku. Mungkin baru
pertama dia bertemu dengan
laki-laki jantan sepertiku di
pesta perkawinan dulu.
Kemudian aku telepon Lia
untuk menanyakan kepastian
kepergian Pak Arief ke
Singapore, yang dijawab
bahwa semuanya sudah
confirm dan Pak Arief akan
berangkat tiga hari lagi.
Setelah
satu jam setengah
aku menunggu, terdengar
bunyi bel kamarku. Kubuka
pintu kamarku dan tampak
Dita bersama seorang gadis
belia, Tari.
aEsMaaf
Pak Robert. Tadi Tari
baru pulang dari latihan
pramuka di sekolahnyaaEt
alasan Dita. Mungkin tampak
di wajahku kalau aku kesal
menunggu mereka.
aEsOK
nggak apa.. Ayo masukaEt
kataku sambil memperhatikan
Tari.
Hari
itu dia mengenakan
tanktop yang memperlihatkan
bahunya yang putih mulus.
Juga rok mini jeans yang
dikenakan menambah cantik
penampilannya. Tubuhnya
termasuk bongsor untuk
anak seusia dirinya. Dari balik
tanktopnya tersembul buah
dadanya yang baru tumbuh.
Yang membuat aku kagum
adalah wajahnya yang cantik
dan terkesan innocent.
aEsTari..
Ini Oom RobertaEt kata
Dita memperkenalkanku
padanya.
Kuulurkan
tanganku dan
disambutnya sambil berkata
lirih, aEsTari..aEt
Kemudian
kami bertiga duduk
di sofa, dengan Tari duduk
disamping sedangkan Dita
berhadapan denganku.
Kurengkuh pundak Tari
dengan tangan kiriku, sambil
kuelus-elus sayang.
aEsGimana
Pak.. OK khanaEt Dita
bertanya
aEsOK..
Kamu jemput lagi aja
nantiaEt jawabku sambil
mengelus dan meremas lengan
Tari
yang mulus itu gemas.
Setelah itu Dita pamitan,
tentu saja setelah menerima
pembayarannya.
aEsKamu
lapar nggak Tari? Kita
pesan makanan dulu yukaEt
saranku.
Dia
hanya menganggukkan
kepalanya. Sekarang memang
sudah waktunya makan
malam, dan aku tak mau
staminaku tidak prima hanya
karena perutku yang lapar.
Apalagi ternyata gadis yang
dibawa Dita ini cantik sekali.
aEsPesan
apa?aEt tanyaku sambil
memberikan room service
menu padanya.
aEsNasi goreng aja OomaEt
aEsMinumnya?aEt
aEsMinta
susu boleh Oom?aEt
jawabnya.
Langsung
aja aku pesan
beefsteak dan bir untukku,
dan nasi goreng serta susu
untuk Tari. Sambil menunggu
pesanan datang, kamipun
menonton TV.
aEsChannelnya
Tari ganti ya
OomaEt katanya sambil
mengambil remote.
aEsOh
ya.. Oom juga bosen lihat
perang terusaEt jawabku sambil
mengagumi keindahan Tari.
Setelah
dia duduk, kuelus-
elus rambutnya yang berpita
dan panjangnya sebahu itu.
Tari kemudian mengubah
channel TV ke channel Disney.
Rupanya dia suka menonton
film kartun. Maklum masih
anak-anak, pikirku.
aEsKamu
sudah punya pacar?aEt
tanyaku setelah kami terdiam
beberapa saat.
aEsBelum Oom..aEt
aEsKenapa?aEt tanyaku lagi
aEsTari
khan masih kecil..aEt
katanya sambil terus
menatap adegan kartun di
TV.
Aku
pun makin bernafsu
mendengar jawabannya. Yah..
Akulah nantinya yang akan
menikmatimu untuk pertama
kalinya he.. He.. Kuciumi
pipinya sambil kuelus-elus
pahanya. Tari nampak tak
terbiasa dan bergerak agak
menghindar. Pahanya yang
putih mulus makin tersibak
menampakkan pemandangan
yang indah. Tanganku
kemudian meraba dadanya
yang baru tumbuh itu.
Kemudian kupegang wajahnya
dan kucium bibirnya. Tampak
sekali bahwa dia belum
berpengalaman dalam hal
seperti ini. Tanganku sudah
ingin melucuti tanktopnya
ketika tiba-tiba bel kamarku
berbunyi.
aEsRoom
ServiceaEt terdengar
suara di depan kamarku.
Akupun
berdiri meninggalkan
Tari untuk membuka pintu.
Tampak ada perasaan lega di
raut wajah Tari ketika aku
beranjak pergi.
aEsAda
pesanan lagi Pak?aEt
tanya petugas room service
setelah meletakkan makanan
di meja.
aEsNggakaEt jawabku
aEsMungkin
buat anaknya?aEt
tanyanya lagi
aEsMungkin
nanti menyusulaEt
kataku sambil
menandatangani bill yang
diserahkannya.
Aku
geli juga mendengar si
petugas menyangka Tari
adalah anakku. Memang
pantas sih dilihat dari
perbedaan umur kami.
Kamipun
lalu menyantap
makanan kami. Tari menikmati
nasi goreng dan segelas
susunya sambil terus
menonton kartun
kesayangannya.
aEsMau
buah Tari?aEt kataku
sambil mengambil buah-
buahan dari minibar.
aEsNggak
Oom.. Udah kenyang.
Dibungkus aja boleh ya Oom..
Untuk adik di rumahaEt
katanya.
Hm..
Benar-benar manis ini
anak, pikirku. Dalam hati aku
kasihan juga pada dia, tapi
aku tak dapat menahan
nafsu birahiku untuk
menikmati tubuhnya yang
muda itu.
Aku
makan satu buah apel
dan kuberikan sisanya
padanya. Diterimanya buah-
buahan itu dan kemudian
dimasukkan dalam tasnya.
Akupun kembali duduk
disampingnya dan kemudian
kuambil remote dan
kumatikan TVnya.
aEsAyo
sayang kita mulai ya..aEt
kataku sambil menciumi
pundaknya yang terbuka.
Aku
kemudian beralih
menciumi bibirnya sambil
tanganku meremas-remas
dadanya. Tak ada response
darinya. Ketika tangannya
yang mungil aku letakkan di
atas kemaluanku, dia diam
saja.
aEsKok
diam saja sih!!aEt
Bentakku.
aEsOom..
Tari nggak pernah
Oom.. Belum ngertiaEt jawabnya
lirih ketakutan.
aEsYa sudah
sini kamu..aEt kataku
sambil beranjak ke meja
dimana laptopku berada. Tari
mengikutiku dari belakang.
Langsung kusetel film BF yang
aku simpan di dalam
harddiskku.
aEsAyo
sini duduk Oom pangkuaEt
kataku.
Taripun
duduk di atas
pangkuanku sambil melihat
adegan persetubuhan dimana
seorang wanita bule cantik
sedang dengan rakusnya
mengulum kemaluan orang
berkulit hitam.
Mata
Tari tampak takjub
melihat adegan yang pasti
baru pertama kalinya dia lihat
itu.
Sementara aku menciumi
dan menjilati pundak dan
lehernya yang jenjang dari
belakang. Tangankupun telah
masuk ke dalam tanktopnya
dan meremas-remas buah
dadanya yang masih tertutup
BH itu. Kutarik ke atas cup
BHnya sehingga tangankupun
leluasa menjelajahi dan
meremas buah dadanya yang
mulai tumbuh itu. Kupilin
perlahan puting dadanya
yang mulai mengeras.
aEsOom.. Jangan Oom.. Tari maluaEt
katanya
sambil menatap
adegan di laptopku dimana si
wanita bule sedang
mengerang-erang nikmat
disetubuhi dari belakang.
aEsNggak
usah malu sayangaEt
jawabku sambil agak memutar
tubuhnya sehingga aku
leluasa menikmati dadanya.
Kulumat buah dada yang baru
tumbuh
itu dan kujilat lalu
kuisap putingnya yang kecil
berwarna merah muda itu.
Sementara tanganku yang
satu telah merambah paha
sampai mengenai celana
dalamnya.
aEsPelan-pelan
Oom.. SakitaEt
desahnya ketika tanganku
mengusap-usap kemaluannya
setelah celana dalamnya aku
sibak. Mulutku masih sibuk
mencari kepuasan dari buah
dada anak belia ini.
aEsKamu
cantik sekali Tari.. Ohh
yeah..aEt kataku meracau sambil
mengulum
dan menjilati buah
dadanya.
Tanganku
mengelus-elus
pundaknya yang jernih,
sedangkan yang satunya
sedang merambah kemaluan
anak perawan ini. Kemaluanku
tampak memberontak di
dalam celanaku, bahkan sudah
mengeluarkan
cairannya
karena sudah sangat
terangsang.
Kuturunkan
Tari dari
pangkuanku, dan akupun
berdiri didepannya. Kuciumi
bibirnya dengan ganas sambil
tanganku meremas-remas
rambutnya.
aEsEmmhh..
Emmhh..aEt hanya itu
yang terdengar dari mulut
Tari.
Kumasukkan
lidahku dan
kujelajahi rongga mulutnya.
Sementara kuraih tangan Tari
dan
kuletakkan ke
kemaluanku yang sudah
sangat membengkak. Tetapi
lagi-lagi dia hanya diam saja.
Memang dasar anak-anak,
belum tahu cara memuaskan
lelaki, pikirku. Dengan agak
kesal kutekan pundaknya
sehingga dia berlutut di
depanku. Dia agak berontak
akan bangun lagi.
aEsAyo..
Berlutut!!aEt kataku
sambil menarik rambutnya.
Tampak
air mata Tari
berlinang di sudut matanya.
Dengan cepat aku lepas
celana dan celana dalamku,
sehingga kemaluanku berdiri
dengan gagah di depannya.
aEsAyo
isap!!aEt perintahku pada
Tari yang tampak ketakutan
melihat kemaluanku yang
sebesar lengannya itu.
Kugenggamkan tangannya
pada kemaluanku itu.
aEsAmpun
oomm.. Jangan Oom..
Besar sekali.. Nggak muat
OomaEt katanya mengiba-iba.
Terasa tangannya bergetar
memegang kemaluanku.
aEsAyo!!aEt
bentakku sambil
menarik rambutnya sehingga
kemaluankupun menyentuh
wajahnya yang imut dan
innocent itu.
Tampak
Tari sambil menahan
tangisnya membuka mulutnya
dan akupun sambil berkacak
pinggang menyorongkan
kemaluanku padanya.
aEsAahh..
Yes.. Make Daddy
happy..aEt desahku ketika
kemaluanku mulai memasuki
mulutnya yang mungil. Akupun
mengelus-elus rambutnya
yang berpita itu dengan
penuh kasih sayang ketika
Tari mulai menghisapi
kemaluanku.
aEsAyo
jilati batangnya..
SayangaEt kataku sambil
mengeluarkan kemaluanku
dari mulutnya. Taripun mulai
menjilati batang kemaluanku
dengan perlahan.
aEsAyo isap lagiaEt instruksiku
lagi
sambil tanganku mengangkat
dagunya dan menyorongkan
kemaluanku padanya.
Taripun
mulai lagi mengulum
kemaluanku, walaupun hanya
ujungnya saja yang masuk ke
dalam mulutnya. Kutekan
kemaluanku ke dalam
mulutnya sehingga hampir
separuhnya masuk kedalam
mulutnya. Tampak dia
tersedak ketika kemaluanku
mengenai kerongkongannya.
Dikeluarkannya kemaluanku
untuk mengambil nafas,
sementara aku tertawa geli
melihatnya.
aEsSudah.
Oom.. Jangan lagi
OomaEt Tari memohon. Air
matanya tampak menetes di
pipinya
aEsOom
belum puas. Ayo lagi!!aEt
bentakku sambil menjambak
rambutnya, sehingga
wajahnya terdongak ke atas
menatapku.
Taripun
terisak menangis,
tetapi kemudian dia kembali
menjilati dan mengulum
kemaluanku. Pemandangan di
kamar hotel itu sangatlah
indah menurutku. Seorang
laki-laki dewasa dengan
tubuh tinggi besar sedang
berkacak pinggang,
sementara seorang anak di
bawah umur dengan wajah
tanpa dosa sedang mengulum
kemaluannya.
Mungkin sekitar
15 sampai 20
menit aku ajari anak perawan
itu
cara untuk memberikan
kepuasan oral pada lelaki.
Setelah itu aku merasakan
kemaluanku akan meledakkan
cairan ejakulasinya.
aEsBuka
mulutmu!!aEt perintahku
pada Tari sambil
mengeluarkan kemaluanku
dari kulumannya.
Kemudian
kukocok-kocok
kemaluanku sebentar, dan
kemudian muncratlah cairan
spermaku ke dalam mulutnya
dan sebagian mengenai
wajahnya.
aEsOh..
Yeahh.. Nikmat.. Kamu
hebat Tari..aEt erangku saat
orgasme.
aEsAyo
telan!!aEt perintahku lagi
ketika melihat dia akan
memuntahkan spermaku
keluar.
Tampak dia berusaha
menelan
spermaku, walaupun karena
jumlahnya yang banyak,
sebagian meleleh keluar dari
mulutnya. Diambilnya tisu dan
dibersihkannya wajahnya
sambil membetulkan
pakaiannya sehingga rapi
kembali. Dia pun kemudian
mengambil dan meminum habis
sisa susunya. Sementara aku
pergi ke toilet untuk buang
air kecil.
Sekembalinya
aku dari toilet,
tampak Tari sedang duduk
gelisah di sofa. Pandangan
matanya tampak kosong dan
berubah menjadi takut ketika
melihat aku menghampirinya.
Aku tersenyum dan duduk
disampingnya. Kembali kuelus-
elus pundak dan tangannya.
aEsOmm..
Tari pengin pulang
Oom.. Tari capek..aEt katanya.
aEsYach kamu
istirahat dulu aja
sayangaEt jawabku sambil
mencium pipinya.
Kamipun
duduk terdiam.
Kusetel kembali TV yang
masih menayangkan acara
kartun kesukaannya itu.
Kuusap-usap tubuhnya yang
duduk di sampingku sambil
sesekali kuciumi. Aku
menunggu hingga
kejantananku bangkit kembali.
Aku beranjak
ke meja dimana
laptopku masih menayangkan
adegan syur semenjak tadi. Di
layar sekarang seorang pria
bule sedang dihisap
kemaluannya oleh dua wanita
cantik. Yang satu bule juga,
sedangkan yang lain wanita
Asia, kalau tidak salah Asia
Carrera namanya. Memang
film produksi Vivid ini bagus
sehingga aku menyimpannya
di harddiskku. Melihat adegan
demi adegan di layar,
kejantananku pun perlahan
bangkit kembali. Kudatangi
sofa dimana Tari berada. Tari
tampak gelisah ketika aku
berlutut di depannya.
aEsAku
ingin menikmati
memekmu sayangaEt kataku
sambil menyibakkan rok
mininya. Kuciumi pahanya dan
kujilati sampai mengenai
celana dalamnya. Kemudian
kulepas celana dalamnya itu
sehingga vaginanya yang
bersih tak berbulu itu tampak
mempesonaku.
aEsJangan
Oom.. Tolong OomaEt
kata Tari ketika tanganku
mulai meraba kemaluannya.
Karena gemas, langsung aku
jilati dan isap vaginanya.
Lidahku menari-nari dan
kumasukkan ke dalam
liangnya yang perawan itu.
aEsUhh..
Ampun Oom..aEt erangnya
ketika aku menemukan
klitorisnya dan langsung
kuhisap. Sementara tanganku
naik ke atas meremas buah
dadanya. Kupilin-pilin
putingnya sehingga mulai
mengeras. Sementara
vaginanya pun sudah
mengeluarkan lendir tanda dia
telah siap untuk disetubuhi.
aEsAyo
kita lanjutkan di
ranjang, manis..aEt kataku
sambil merengkuh tubuhnya
dan menggendongnya. Aku
ciumi bibirnya sambil badannya
tetap
aku gendong menuju
kamar tempat tidur.
Kurebahkan
tubuhnya di
ranjang, dan akupun mulai
melucuti pakaianku. Tampak
kemaluanku sudah kembali
membengkak ingin diberi
kenikmatan oleh anak kecil ini.
Tari
tampak memandangku
dengan tatapan mengiba.
Matanya menampakkan
ketakutan melihat ukuran
kemaluanku.
Langsung
kuterkam tubuhnya
di ranjang dan kuciumi
wajahnya yang manis. Kubuka
tanktopnya juga BHnya dan
kulempar ke lantai. Langsung
kusantap buah dadanya yang
masih dalam masa
pertumbuhan itu, dan kujilati
dan kuisapi putingnya hingga
mengeras.
Lalu
kubuka rok mininya,
sehingga Taripun sudah
telanjang bulat pasrah di
atas ranjang. Jariku kemudian
menari merambah vaginanya
dan mengusap-usap
klitorisnya.
aEsTolong
jangan Oom.. Aduh..
Oom.. Jangan Oom.. Tari masih
perawan Oom.aEt rengeknya.
Aku menghentikan kegiatanku
dan menatapnya
aEsMemangnya
Bu Dita bilang
apa?aEt tanyaku
aEsKatanya
Tari nggak akan
diperawani. Cuma dipegang
dan diciumi ajaaEt jawabnya
terisak. Mendengar itu timbul
perasaan iba karena
ternyata dia telah dibohongi
oleh Dita.
aEsYa sudah..
aEsKataku.
aEsKamu
hisap lagi aja kontol
Oom seperti tadiaEt perintahku.
Akupun
lalu tidur telentang
dan Taripun kutarik hingga
wajahnya berada di depan
kemaluanku yang sudah
berdiri tegak. Kutekan
kepalanya perlahan, hingga
Taripun kembali memberikan
kenikmatan mulutnya pada
kemaluanku. Tampak dari
tatapanku, kepalanya naik
turun menghisapi kemaluanku.
Tangankupun mengelus-elus
rambutnya penuh rasa
sayang seperti rasa sayang
bapak kepada anaknya.
aEsYa
terus.. SayangaEt erangku
menahan nikmat yang tiada
tara.
Setelah
beberapa menit,
kutarik tubuhnya sehingga
wajahnya tepat berada
diatas wajahku. Kuciumi
bibirnya sambil tanganku
meremas-remas pantatnya.
Kemudian kubalikkan
badannya, sehingga badanku
yang tinggi besar menindih
tubuh belianya. Kusedot
puting buah dadanya dan
kugigit-gigit sehingga
menimbulkan bekas memerah.
Lalu
kurenggangkan pahanya,
dan kuarahkan kemaluanku
ke vaginanya.
aEsJangan
Oom.. Ampun Oom..
Jangan.. Ampun..aEt rengek Tari
ketika kemaluanku mulai
menyentuh bibir vaginanya.
Aku
tambah bernafsu saja
mendengar rengekannya, dan
kutekan kemaluanku sehingga
mulai menerobos liang vagina
perawannya. Terasa sesuatu
menghalangi kemaluanku,
yang pasti adalah selaput
daranya
aEsAhh..
Sakiitt..aEt jeritnya
menahan tangis ketika
kutekan kemaluanku merobek
selaput daranya.
Kutahan
sebentar menikmati
saat aku mengambil
keperawanan anak ini,
kemudian kugerakkan
pantatku maju mundur
menyetubuhinya.
aEsAh..
Nikmat.. Ahh.. God..
Memekmu enak Tari.aEt racauku
aEsOh.. Ampun.. Sakit.. Udah Oom..
Ampun..aEt
Tari merintih
kesakitan sambil menangis.
aEsYes.. You naughty girl.. Daddy
must
punish you.. Yeah..aEt aku
kembali meracau kenikmatan.
Kugenjot
terus kemaluanku,
dan aku merasakan
nikmatnya jepitan vagina Tari
yang sangat sempit itu.
Tampak air mata Tari meleleh
membasahi pipinya, dan ketika
kugenjot
kemaluanku tampak
wajahnya menyeringai
menahan sakit.
Kemudian
kutarik pahanya
sehingga melingkari
pinggangku, dan sambil duduk
di ranjang kugenjot lagi
vaginanya. Tanganku sibuk
menjelajahi buah dadanya.
Bosan
dengan posisi itu,
kubalikkan badannya dan
kusetubuhi dia dengan gaya
aEsdoggy styleaEt. Sudah tak
terdengar lagi rengekan Tari,
hanya suara erangannya dan
isak tangisnya yang memenuhi
ruangan itu.
aEsAhh..
Sakit Oom ampun..aEt
rengeknya kembali ketika
rambutnya kutarik sehingga
wajahnya terdongak ke atas.
Sambil
kusetubuhi tubuhnya,
kadang kuciumi dan kugigiti
pundak dan lehernya dari
belakang, sambil tanganku
memerah buah dadanya.
Setelah kurang lebih satu
jam
aku setubuhi dia dengan
berbagai macam posisi,
akupun tak tahan untuk
mengeluarkan cairan
ejakulasiku. Kubalikkan
badannya dan kugesek-
gesekkan kemaluanku di
dadanya. Kadang kugesek-
gesekkan juga ke seluruh
wajahnya.
aEsAhh..
Memang enak perawan
kamu Tari..aEt erangku sambil
menumpahkan spermaku di
dadanya.
Akupun
kemudian bergegas
menuju toilet untuk
membersihkan diri.
Kemaluanku pun kubersihkan
dari sisa sperma bercampur
darah perawan Tari.
Sekembalinya aku dari toilet,
kulihat Tari masih terbaring di
ranjang
sambil menangis
terisak-isak. Kubiarkan saja
dia di sana, karena aku
sudah merasa puas dan
merasa menjadi lebih muda
setelah mereguk kenikmatan
dari anak itu.
Kuminum
sisa birku, dan
kutelepon Dita untuk
menjemput Tari. Tak lama,
Dita pun datang.
aEsGimana
Pak Robert?aEt
tanyanya tersenyum.
aEsWah..
Puas.. Tuh anak enak
bangetaEt kataku tertawa kecil.
aEsSyukurlah
Pak Robert puas.
Sengaja saya pilihin yang
bagus kok PakaEt katanya lagi.
aEsPercaya
deh sama Dita. Tuh
anaknya masih di kamaraEt
Dita
pun masuk ke kamar
tidur sedangkan aku nonton
TV di sofa. Lagi-lagi masih
berita perang di CNN.
Sementara itu, terdengar
Tari menangis di kamar
sedangkan Dita berusaha
menghiburnya. Setelah kurang
lebih setengah jam,
merekapun muncul dari dalam
kamar tidur.
aEsSaya
permisi dulu Pak
RobertaEt pamit Dita.
aEsOh
ya Dit.., kalau ada yang
bagus lagi telepon ya. Untuk
obat awet muda.aEt jawabku
sambil mengedipkan mataku.
aEsBeres
PakaEt jawabnya sambil
menggandeng Tari keluar.
aEsIni
tasnya ketinggalanaEt
kataku sambil menyerahkan
tas Tari yang berisi buah-
buahan untuk adiknya itu.
Kuperhatikan mata Tari masih
sembab, dan jalannya pun
agak pincang ketika
meninggalkan kamar hotelku.
Tak lama akupun cek out dari
hotel. Dalam perjalanan pulang
ke
apartemenku, aku mampir
di panti pijat langgananku.
Tubuhku agak pegal sehabis
menyetubuhi Tari tadi.
Setelah dipijat, dan mandi air
hangat, tubuhku terasa
sangat segar. Akupun
bergegas pulang dengan
mengendarai Mercy silver
metalik kesayanganku. Tak
lupa kusetel lagu Al Jarreau
kesayanganku.