PDA

View Full Version : Perawat Kekasih Gelapku


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Hari ini adalah hari pertamaku
tinggal di kota Bandung.
Karena tugas kantorku, aku
terpaksa tinggal di Bandung
selama 5 hari dan weekend di
Jakarta. Di kota kembang ini,
aku menyewa kamar di rumah
temanku. Menurutnya, rumah
itu hanya ditinggali oleh
Ayahnya yang sudah pikun,
seorang perawat, dan
seorang pembantu. aEsRumah
yang asriaEt gumamku dalam
hati. Halaman yang hijau,
penuh tanaman dan bunga
yang segar dikombinasikan
dengan kolam ikan berbentuk
oval. Aku mengetuk pintu
rumah tersebut beberapa kali
sampai pintu dibukakan.
Sesosok tubuh semampai
berbaju serba putih
menyambutku dengan senyum
manisnya.
aEsPak Rafi ya..aEt.
aEsYa.., saya temannya Mas
Anto yang akan menyewa
kamar di sini. Lho, kamu kan
pernah kerja di
tetanggaku?aEt, jawabku
surprise. Perawat ini memang
pernah bekerja pada
tetanggaku di Bintaro sebagai
baby sitter.
aEsIyaaE|, saya dulu pengasuhnya
Aurelia. Saya keluar dari sana
karena ada rencana untuk
kimpoi lagi. Saya kan dulu
janda pak.., tapi mungkin
belum jodo.., ee dianya pergi
sama orang lain.., ya sudah,
akhirnya saya kerja di sini..aEt,
Mataku memandangi sekujur
tubuhnya.
Tati (nama si perawat itu)
secara fisik memang tidak
pantas menjadi seorang
perawat. Kulitnya putih mulus,
wajahnya manis, rambutnya
hitam sebahu, buah dadanya
sedang menantang, dan
kakinya panjang semampai.
Kedua matanya yang bundar
memandang langsung mataku,
seakan ingin mengatakan
sesuatu.
Aku tergagap dan berkata,
aEsEe.., Mbak Tati, Bapak ada?aEt.
aEsBapak sedang tidur. Tapi
Mas Anto sudah nitip sama
saya. Mari saya antarkan ke
kamar..aEt.
Tati menunjukkan kamar yang
sudah disediakan untukku.
Kamar yang luas, ber-AC,
tempat tidur besar, kamar
mandi sendiri, dan sebuah
meja kerja. Aku meletakkan
koporku di lantai sambil
melihat berkeliling, sementara
Tati merunduk merapikan
sprei ranjangku. Tanpa
sengaja aku melirik Tati yang
sedang menunduk. Dari balik
baju putihnya yang kebetulan
berdada rendah, terlihat dua
buah dadanya yang ranum
bergayut di hadapanku. Ujung
buah dada yang berwarna
putih itu ditutup oleh BH
berwarna pink. Darahku
terkesiap. AhhaE|, perawat
cantik, janda, di rumah yang
relatif kosong.Sadar melihat
aku terkesima akan keelokan
buah dadanya, dengan
tersipu-sipu Tati menghalangi
pemandangan indah itu
dengan tangannya.
aEsSemuanya sudah beres PakaE|,
silakan beristirahat..aEt.
aEsEeaE|, ya.., terima kasihaEt,
jawabku seperti baru saja
terlepas dari lamunan
panjang.
Sore itu aku berkenalan
dengan ayah Anto yang
sudah pikun itu. Ia tinggal
sendiri di rumah itu setelah
ditinggalkan oleh istrinya 5
tahun yang lalu. Selama
beramah-tamah dengan sang
Bapak, mataku tak lepas
memandangi Tati. Sore itu ia
menggunakan daster tipis
yang dikombinasikan dengan
celana kulot yang juga tipis.
Buah dadanya nampak
semakin menyembul dengan
dandanan seperti itu. Di
rumah itu ada seorang
pembantu berumur sekitar 17
tahun. Mukanya manis,
walaupun tidak secantik Tati.
Badannya bongsor dan motok.
Ani namanya. Ia yang sehari-
hari menyediakan makan
untukku.
Hari demi hari berlalu. Karena
kepiawaianku dalam bergaul,
aku sudah sangat akrab
dengan orang-orang di rumah
itu. Bahkan Ani sudah biasa
mengurutku dan Tati sudah
berani untuk ngobrol di
kamarku. Bagi janda muda itu,
aku sudah merupakan tempat
mencurahkan isi hatinya.
Begitu mudah keakraban itu
terjadi hingga kadang-kadang
Tati merasa tidak perlu
mengetuk pintu sebelum
masuk ke kamarku. Sampai
suatu malam, ketika itu hujan
turun dengan lebatnya. Aku,
karena sedang suntuk
memasang VCD porno
kesukaanku di laptopku.
Tengah asyik-asyiknya aku
menonton tanpa sadar aku
menoleh ke arah pintu,
astagaaE|, Tati tengah berdiri
di sana sambil juga ikut
menonton. Rupanya aku lupa
menutup pintu, dan ia
tertarik akan suara-suara
erotis yang dikeluarkan oleh
film produksi Vivid interactive
itu.
Ketika sadar bahwa aku
mengetahui kehadirannya,
Tati tersipu dan berlari ke
luar kamar.
aEsMbak Tati..aEt, panggilku
seraya mengejarnya ke luar.
Kuraih tangannya dan kutarik
kembali ke kamarku.
aEsMbak TatiaE|, mau nonton
bareng? Ngga apa-apa kok..aEt.
aEsAh, ngga PakaE|, malu aku..aEt,
katanya sambil melengos.
aEsLho.., kok malu.., kayak sama
siapa saja.., kamu itu.., wong
kamu sudah cerita banyak
tentang diri kamu dan
keluarga.., dari yang jelek
sampai yang bagus.., masak
masih ngomong malu sama
aku?aEt, Kataku seraya
menariknya ke arah
ranjangku.
aEsYuk kita nonton bareng
yuk..aEt, Aku mendudukkan Tati
di ranjangku dan pintu
kamarku kukunci.
Dengan santai aku duduk di
samping Tati sambil
mengeraskan suara laptopku.
Adegan-adegan erotis yang
diperlihatkan ke 2 bintang
porno itu memang
menakjubkan. Mereka
bergumul dengan buas dan
saling menghisap. Aku melirik
Tati yang sedari tadi takjub
memandangi adegan-adegan
panas tersebut. Terlihat ia
berkali-kali menelan ludah.
Nafasnya mulai memburu, dan
buah dadanya terlihat naik
turun. Aku memberanikan diri
untuk memegang tangannya
yang putih mulus itu. Tati
tampak sedikit kaget, namun
ia membiarkan tanganku
membelai telapak tangannya.
Terasa benar bahwa telapak
tangan Tati basah oleh
keringat. Aku membelai-belai
tangannya seraya perlahan-
lahan mulai mengusap
pergelangan tangannya dan
terus merayap ke arah
ketiaknya. Tati nampak
pasrah saja ketika aku
memberanikan diri
melingkarkan tanganku ke
bahunya sambil membelai
mesra bahunya. Namun ia
belum berani untuk menatap
mataku. Sambil memeluk
bahunya, tangan kananku
kumasukkan ke dalam daster
melalui lubang lehernya.
Tanganku mulai merasakan
montoknya pangkal buah
dada Tati. Kubelai-belai
seraya sesekali kutekan
daging empuk yang
menggunung di dada bagian
kanannya.
Ketika kulihat tak ada reaksi
dari Tati, secepat kilat
kusisipkan tangganku ke
dalam BH-nyaaE|, kuangkat cup
BH-nya dan kugenggam buah
dada ranum si janda muda
itu.
aEsOhh.., PakaE|, jangan..aEt,
Bisiknya dengan serak seraya
menoleh ke arahku dan
mencoba menolak dengan
menahan pergelangan tangan
kananku dengan tangannya.
aEsSshhaE|, ngga apa-apa MbakaE|,
ngga apa-apa..aEt.
aEsNanti ketauanhh..aEt.
aEsNggaaaE|, jangan takut..aEt,
Kataku seraya dengan sigap
memegang ujung puting buah
dada Tati dengan ibu jari dan
telunjukku, lalu kupelintir-
pelintir ke kiri dan kanan.
aEsOoh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj..,
jjanganhh.., ouh..aEt, Tati mulai
merintih-rintih sambil
memejamkan matanya.
Pegangan tangannya mulai
mengendor di pergelangan
tanganku.
Saat itu juga, kusambar
bibirnya yang sedari tadi
sudah terbuka karena
merintih-rintih.
aEsOuhh.., mmff.., cuphh..,
mpffhh..aEt, Dengan nafas
tersengal-sengal Tati mulai
membalas ciumanku. Kucoba
mengulum lidahnya yang
mungil, ketika kurasakan ia
mulai membalas sedotanku.
Bahkan ia kini mencoba
menyedot lidahku ke dalam
mulutnya seakan ingin
menelannya bulat-bulat.
Tangannya kini sudah tidak
menahan pergelanganku lagi,
namun kedua-duanya sudah
melingkari leherku. Malahan
tangan kanannya
digunakannya untuk menekan
belakang kepalaku sehingga
ciuman kami berdua semakin
lengket dan bergairah.
Momentum ini tak kusia-
siakan. Sementara Tati
melingkarkan kedua
tangannya di leherku, akupun
melingkarkan kedua tanganku
di pinggangnya. Aku
melepaskan bibirku dari
kulumannya, dan aku mulai
menciumi leher putih Tati
dengan buas. aEsaahh..Ouhh..aEt
Tati menggelinjang kegelian
dan tanganku mulai
menyingkap daster di bagian
pinggangnya. Kedua tanganku
merayap cepat ke arah tali
BH-nya dan, aEstasss..aEt
terlepaslah BH-nya dan
dengan sigap kualihkan kedua
tanganku ke dadanya.
Saat itulah lurasakan betapa
kencang dan ketatnya kedua
buah dada Tati. Kenikmatan
meremas-remas dan
mempermainkan putingnya itu
terasa betul sampai ke ujung
sarafku. Penisku yang sedari
tadi sudah menegang terasa
semakin tegang dan keras.
Rintihan-rintihan Tati mulai
berubah menjadi jeritan-
jeritan kecil terutama saat
kuremas buah dadanya
dengan keras. Tati sekarang
lebih mengambil inisiatif.
Dengan nafasnya yang sudah
sangat terengah-engah, ia
mulai menciumi leher dan
mukaku. Ia bahkan mulai
berani menjilati dan menggigit
daun telingaku ketika tangan
kananku mulai merayap ke
arah selangkangannya.
Dengan cepat aku
menyelipkan jari-jariku ke
dalam kulotnya melalui perut,
langsung ke dalam celana
dalamnya. Walaupun kami
berdua masih dalam keadaan
duduk berpelukan di atas
ranjang, posisi paha Tati saat
itu sudah dalam keadaan
mengangkang seakan memberi
jalan bagi jari-jemariku untuk
secepatnya mempermainkan
kemaluannya.
Hujan semakin deras saja
mengguyur kota Bandung.
Sesekali terdengar suara
guntur bersahutan. Namun
cuaca dingin tersebut sama
sekali tidak mengurangi
gairah kami berdua di saat
itu. Gairah seorang lajang
yang memiliki libido yang
sangat tinggi dan seorang
janda muda yang sudah lama
sekali tidak menikmati
sentuhan lelaki. Tati
mengeratkan pelukannya di
leherku ketika jemariku
menyentuh bulu-bulu lebat di
ujung vaginanya. Ia
menghentikan ciumannya di
kupingku dan terdiam sambil
terus memejamkan matanya.
Tubuhnya terasa menegang
ketika jari tengahku mulai
menyentuh vaginanya yang
sudah terasa basah dan
berlendir itu. Aku mulai
mempermainkan vagina itu
dan membelainya ke atas dan
ke bawah. aEsOuuhh Pak..,
ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihhAc
a,-A|aEt.
Tati sudah tidak bisa
berkata-kata lagi selain
merintih penuh nafsu ketika
clitorisnya kutemukan dan
kupermainkan. Seluruh badan
Tati bergetar dan
bergelinjang. Ia nampak sudah
tak dapat mengendalikan
dirinya lagi. Jeritan-jeritannya
mulai terdengar keras.
Sempat juga aku kawatir
dibuatnya. Jangan-jangan
seisi rumah mendengar apa
yang tengah kami lakukan.
Namun kerasnya suara hujan
dan geledek di luar rumah
menenangkanku. Benda kecil
sebesar kacang itu terasa
nikmat di ujung jari tengahku
ketika aku memutar-
mutarnya. Sambil
mempermainkan clitorisnya,
aku mulai menundukkan
kepalaku dan menciumi buah
dadanya yang masih tertutupi
oleh daster.
Seolah mengerti, Tati
menyingkapkan dasternya ke
atas, sehingga dengan jelas
aku bisa melihat buah
dadanya yang ranum, kenyal
dan berwarna putih mulus itu
bergantung di hadapanku.
Karena nafsuku sudah
memuncak, dengan buas
kusedot dan kuhisap buah
dada yang berputing merah
jambu itu. Putingnya terasa
keras di dalam mulutku
menandakan nafsu janda
muda itupun sudah sampai di
puncak. Tati mulai menjerit-
jerit tidak karuan sambil
menjambak rambutku. Sejenak
kuhentikan hisapanku dan
bertanya, aEsEnak Mbak?aEt.
Sebagai jawabannya, Tati
membenamkan kembali
kepalaku ke dalam ranumnya
buah dadanya. Jari tengahku
yang masih mempermainkan
clitorisnya kini kuarahkan ke
lubang vagina Tati yang
sudah menganga karena
basah dan posisi pahanya
yang mengangkang. Dengan
pelan tapi pasti kubenamkan
jari tengahku itu ke dalamnya
dan, aEsAuuhh.., P.Paak.., hhaEt.
Tati menjerit dan menaikkan
kedua kakinya ke atas
ranjang. aEsTerrusshh.., auhh..aEt.
Kugerakkan jariku keluar
masuk di vaginanya dan Tati
menggoyangkan pingggulnya
mengikuti irama keluar
masuknya jemariku itu.
Aku menghentikan ciumanku
di buah dada Tati dan mulai
mengecup bibir ranum janda
itu. Matanya tak lagi
terpejam, tapi memandang
sayu ke mataku seakan
berharap kenikmatan yang ia
rasakan ini jangan pernah
berakhir. Tangan kiriku yang
masih bebas, membimbing
tangan kanan Tati ke balik
celana pendekku. Ketika
tangannya menyentuh
penisku yang sudah sangat
keras dan besar itu, terlihat
ia agak terbelalak karena
belum pernah melihat bentuk
yang panjang dan besar
seperti itu. Tati meremas
penisku dan mulai
mengocoknya naik turun naik
turun.., kocokan yang nikmat
yang membuatku tanpa sadar
melenguh, aEsAhh.., Mbaak..,
enaknya.., terusin..aEt.
Saat itu kami berdua berada
pada puncaknya nafsu. Aku
yakin bahwa Mbak Tati sudah
ingin secepatnya memasukkan
penisku ke dalam vaginanya.
Ia tidak mengatakannya
secara langsung, namun dari
tingkahnya menarik penisku
dan mendekatkannya ke
vaginanya sudah merupakan
pertanda. Namun, di detik-
detik yang paling
menggairahkan itu terdegar
suara si Bapak tua berteriak,
aEsTatiiiaE|, Tatiii..aEt. Kami berdua
tersentak. Kukeluarkan
jemariku dari vaginanya, Tati
melepaskan kocokannya dan
ia membenahi pakaian dan
rambutnya yang berantakan.
Sambil mengancingkan kembali
BH-nya ia keluar dari
kamarku menuju kamar Bapak
tua itu. Sialan!, kepalaku
terasa pening. Begitulah
penyakitku kalau libidoku tak
tersalurkan.
Beberapa saat lamanya aku
menanti siapa tahu janda
muda itu akan kembali ke
kamarku. Tapi nampaknya ia
sibuk mengurus orang tua
pikun itu, sampai aku
tertidur. Entah berapa lama
aku terlelap, tiba-tiba aku
merasa napasku sesak.
Dadaku serasa tertindih
suatu beban yang berat. Aku
terbangun dan membuka
mataku. Aku terbelalak,
karena tampak sesosok
tubuh putih mulus telanjang
bulat menindih tubuhku.
aEsMbak Tati?aEt, Tanyaku
tergagap karena masih
mengagumi keindahan tubuh
mulus yang berada di atas
tubuhku. Lekukan pinggulnya
terlihat landai, dan perutnya
terasa masih kencang. Buah
dadanya yang lancip dan
montok itu menindih dadaku
yang masih terbalut piyama
itu. Seketika, rasa kantukku
hilang. Mbak Tati tersenyum
simpul ketika tangannya
memegang celanaku dan
merasakan betapa penisku
sudah kembali menegang.
aEsKita tuntaskan ya Mbak?aEt,
Kataku sambil menyambut
kuluman lidahnya. Sambil
dalam posisi tertindih aku
menanggalkan seluruh baju
dan celanaku. Kegairahan
yang sempat terputus itu,
mendadak kembali lagi dan
terasa bahkan lebih menggila.
Kami berdua yang sudah
dalam keadaan bugil saling
meraba, meremas, mencium,
merintih dengan keganasan
yang luar biasa. Mbak Tati
sudah tidak malu-malu lagi
menggoyangkan pinggulnya di
atas penisku sehingga
bergesekan dengan
vaginanya.
Tidak lebih dari 5 menit, aku
merasakan bahwa nafsu
syahwat kami sudah kembali
berada dipuncak. Aku tak
ingin kehilangan momen lagi.
Kubalikkan tubuh Tati, dan
kutindih sehingga keempukan
buah dadanya terasa benar
menempel di dadaku. Perutku
menggesek nikmat perutnya
yang kencang, dan penisku
yang sudah sangat menegang
itu bergesekan dengan
vaginanya.
aEsMbak.., buka kakinya..,
sekarang kamu akan
merasakan sorganya dunia
Mbak..aEt, bisikku sambil
mengangkangkan kedua
pahanya. Sambil tersengal-
sengal Tati membuka pahanya
selebar-lebarnya. Ia
tersenyum manis dengan
mata sayunya yang penuh
harap itu.
aEsAyo Pak.., masukkan
sekarangAca,-A|aEt, Aku
menempelkan kepala penisku
yang besar itu di mulut
vagina Tati. Perlahan-lahan
aku memasukkannya ke
dalam, semakin dalam,
semakin dalam dan, aEsaa..,
Aooohh.., paakhAca,-A|.., aahh..aEt,
rintihnya sambil
membelalakkan matanya
ketika hampir seluruh penisku
kubenamkan ke dalam
vaginanya. Setelah itu,
aEsBlesssAca,-A|aEt, dengan sentakan
yang kuat kubenamkan habis
penisku diiringi jeritan
erotisnya, aEsAhh.., besarnyah..,
ennnakk ppaak..aEt.
Aku mulai memompakan
penisku keluar masuk, keluar
masuk. Gerakanku makin
cepat dan cepat. Semakin
cepat gerakanku, semakin
keras jeritan Tati terdengar
di kamarku. Pinggul janda
muda itu pun berputar-putar
dengan cepat mengikuti irama
pompaanku. Kadang-kadang
pinggulnya sampai terangkat-
angkat untuk mengimbangi
kecepatan naik turunnya
pinggulku. Buah dadanya yang
terlihat bulat dalam keadaan
berbaring itu bergetar dan
bergoyang ke sana ke mari.
Sungguh menggairahkan!
Tiba-tiba aku merasakan
pelukannya semakin
mengeras. Terasa kuku-
kukunya menancap di
punggungku. Otot-ototnya
mulai menegang. Nafas
perempuan itu juga semakin
cepat. Tiba-tiba tubuhnya
mengejang, mulutnya terbuka,
matanya terpejam,dan alisnya
merengut aEsaahh..aEt. Tati
menjerit panjang seraya
menjambak rambutku, dan
penisku yang masih bergerak
masuk keluar itu terasa
disiram oleh suatu cairan
hangat. Dari wajahnya yang
menyeringai, tampak janda
muda itu tengah menghayati
orgasmenya yang mungkin
sudah lama tidak pernah ia
alami itu. Aku tidak
mengendurkan goyangan
pinggulku, karena aku sedang
berada di puncak
kenikmatanku.
aEsMbak.., goyang terus Mbak..,
aku juga mau keluar..aEt. Tati
kembali menggoyang
pinggulnya dengan cepat dan
beberapa detik kemudian,
seluruh tubuhku menegang.
aEsKeluarkan di dalam saja
pakaEt, bisik Tati, aEsAku masih
pakai IUDaEt. Begitu Tati selesai
berbisik, aku melenguh.
aEsMbak.., aku keluar.., aku
keluarrAca,-A|., aahh..aEt, danaE|,
aEsCrat.., crat.., craataEt,
kubenamkan penisku dalam-
dalam di vagina perempuan
itu. Seakan mengerti, Tati
mengangkat pinggulnya
tinggi-tinggi sehingga puncak
kenikmatan ini terasa benar
hingga ke tulang sumsumku.
Kami berdua terkulai lemas
sambil memejamkan mata.
Pikiran kami melayang-layang
entah ke mana. Tubuhku
masih menindih tubuh montok
Tati. Kami berdua masih saling
berpelukan dan akupun
membayangkan hari-hari
penuh kenikmatan yang akan
kualami sesudah itu di
Bandung.
Sejak kejadian malam itu,
kesibukan di kantorku yang
luar biasa membuatku sering
pulang larut malam.
Kepenatanku selalu
membuatku langsung tertidur
lelap. Kesibukan ini bahkan
membuat aku jarang bisa
berkomunikasi dengan Tati.
Walaupun begitu, sering juga
aku mempergunakan waktu
makan siangku untuk mampir
ke rumah dengan maksud
untuk melakukan seks during
lunch. Sayang, di waktu
tersebut ternyata Ayah Anto
senantiasa dalam keadaan
bangun sehingga niatku tak
pernah kesampaian. Namun
suatu hari aku cukup
beruntung walaupun orang
tua itu tidak tidur. Aku
mendapat apa yang
kuinginkan.
Ceritanya sebagai berikut:
Tati diminta oleh Ayah Anto
untuk mengambil sesuatu di
kamarnya. Melihat peluang
itu, aku diam-diam
mengikutinya dari belakang.
Kamar ayah Anto memang
tidak terlihat dari tempat di
mana orang tua itu biasa
duduk. Sesampainya di kamar
kuraih pinggang semampai
perawat itu dari belakang.
Tati terkejut dan tertawa
kecil ketika sadar siapa yang
memeluknya dan tanpa basa-
basi langsung menyambut
ciumanku dengan bibirnya
yang mungil itu sambil dengan
buas mengulum lidahku. Ia
memang sudah tidak malu-
malu lagi seperti awal
pertemuan kami. Janda cantik
itu sudah menunjukkan
karakternya sebagai seorang
pecinta sejati yang tanpa
malu-malu lagi menunjukkan
kebuasan gairahnya. Kadang
aku tidak mengerti, kenapa
suaminya tega
meninggalkannya. Namun
analisaku mengatakan,
suaminya tak mampu
mengimbangi gejolak gairah
Tati di atas ranjang dan
untuk menutupi rasa malu
yang terus menerus terpaksa
ia meninggalkan perempuan
muda itu untuk hidup
bersama dengan perempuan
lain yang lebih aE~low profileaE?.
Aku memang belum sempat
menanyakan pada Tati
bagaimana ia menyalurkan
kebutuhan biologisnya di saat
menjanda. Aku berpikir, bawa
masturbasi adalah jalan satu-
satunya.
Kami berdua masih saling
berciuman dengan ganas
ketika dengan sigap aku
menyelipkan tanganku ke
balik baju perawatnya yang
putih itu. Sungguh terkejut
ketika aku sadar bahwa ia
sama sekali tidak memakai BH
sehingga dengan mudahnya
kuremas buah dada kanannya
yang ranum itu.
aEsKok ngga pakai BH Mbak..?aEt
Sambil menggelinjang dan
mendesah, ia menjawab sambil
tersenyum nakal.
aEsSupaya gampang diremas
sama kamu..aEt. Benar-benar
jawaban yang menggemaskan!
Kembali kukulum bibir dan
lidahnya yang menggairahkan
itu sambil dengan cepat
kubuka kancing bajunya yang
pertama, kedua, dan ketiga.
Lalu tanpa membuang waktu
kutundukkan kepalaku,
dengan tangan kananku
kukeluarkan buah dada
kanannya dan kuhisap
sedemikian rupa sehingga
hampir setengahnya masuk
ke dalam mulutku. Tati mulai
mengerang kegelian, aEsOuhh..,
geli Mas.., geliii.., ahh..aEt. Sejak
kejadian malam itu, ia
memang membiasakan dirinya
untuk memanggilku Mas.
Sambil menggelinjang dan
merintih, tangan kanan Tati
mulai mengelus-elus bagian
depan celana kantorku.
Penisku yang terletak tepat
di baliknya terasa semakin
menegang dan menegang.
Jari-jari lentik perempuan itu
berusaha untuk mencari letak
kepala penisku untuk
kemudian digosok-gosoknya
dari luar celana. Sensasi itu
membuat nafasku semakin
memburu seperti layaknya
nafas kuda yang tengah
berlari kencang. Seakan tak
mau kalah darinya, tangan
kiriku berusaha menyingkap
rok janda muda itu dan
dengan sigap kugosokkan
jari-jemariku di celana
dalamnya. Tepat diatas
vaginanya, celana dalam Tati
terasa sudah basah. Sungguh
hebat! Hanya dalam beberapa
menit saja, ia sudah
sedemikian terangsangnya
sehingga vaginanya sudah
siap untuk dimasuki oleh
penisku.
Tanpa membuang waktu
kuturunkan celana dalam tipis
yang kali ini berwarna hitam,
kudorong tubuh montok
perawat itu ke dinding, lalu
kuangkat paha kanannya
sehingga dengkulnya
menempel di pinggangku.
Dengan sigap pula kubuka
ritsluiting celanaku dan
kukeluarkan penisku yang
sudah sangat tegang dan
besar itu. Tati sudah nampak
pasrah. Ia hanya bersender di
dinding sambil memejamkan
matanya dan memeluk
bahuku.
aEsTatiii.., mana minyak
tawonnya.., kok lama betuulAc
a,-A|aEt. Suara orang tua itu
terdengar dengan keras.
Sungguh menjengkelkan. Tati
sempat terkejut dan nampak
panik ketika kemudian aku
berbisik, aEsTenang Mbak..,
jawab aja.., kita selesaikan
dulu ini.., kamu mau kan?aEt Ia
mengangguk seraya
tersenyum manis.
aEsSebentar Pak..aEt, teriaknya.
aEsMinyak tawonnya keselip
entah ke mana.., ini lagi dicari
kokAca,-A|aEt. Ia tertawa
cekikikan, geli mendengar
jawaban spontannya sendiri.
Namun tawanya itu langsung
berubah menjadi jerikan
erotis kecil ketika kupukul-
pukulkan kepala penisku ke
selangkangannya.
Perlahan-lahan kutempelkan
kepala penisku itu di pintu
vaginanya. Sambi kuputar-
putar kecil kudorong
pinggulku perlahan-lahan. Tati
ternganga sambil terengah-
engah, aEsaahh.., aahh.., ouhh..,
Mas.., besar sekali.., pelan-
pelan Mas..pelan-pelanhh..aEt,
dan, aEsaaAca,-A|aEt. Tati menjerit
kecil ketika kumasukkan
seluruh penisku ke dalam
vaginanya yang becek dan
terasa sangat sempit dalam
posisi berdiri ini. Aku
menyodokkan penisku maju
mundur dengan gerakan yang
percepatannya meningkat
dari waktu ke waktu. Tubuh
Tati terguncang-guncang,
buah dadanya bergayut ke
kiri dan kanan dan jeritannya
semakin menjadi-jadi.
Aku sudah tak peduli kalau
ayah Anton sampai
mendengarkan jeritan
perempuan itu. Nafsuku sudah
naik ke kepala. Janda muda
ini memang memiliki daya
pikat seks yang luar biasa.
Walaupun ia hanya seorang
perawat, namun kemulusan
dan kemontokan badannya
sungguh setara dengan
perempuan kota jaman
sekarang. Sangat terawat
dan nikmat sekali bila
digesek-gesekkankan di kulit
kita. Gerakan pinggulku
semakin cepat dan semakin
cepat. Mulutku tak puas-
puasnya menciumi dan
menghisap puting buah
dadanya yang meruncing
panjang dan keras itu. Buah
dadanya yang kenyal itu
hampir seluruhnya dibasahi
oleh air liurku. Aku memang
sedang nafsu berat. Aku
merasakan bahwa sebentar
lagi aku akan orgasme dan
bersamaan dengan itu juga
tubuh Tati menegang.
Kupercepat gerakan pinggulku
dan tiba-tiba, aEsaahh.., Mas..,
MasssAca,-A|, aku keluarrr..,
aahhaEt, Jeritnya. Saat itu juga
kusodokkan penisku ke dalam
vagina janda muda itu
sekeras-kerasnya dan,
aEsCraat.., craatt.., craataEt.
aEsAhhaE|, MbaakaEt, erangku
sambil meringis menikmati
puncak orgasme kami yang
waktunya jatuh bersamaan
itu. Kami berpelukan sesaat
dan Tati berbisik dengan
suara serak.
aEsMas.., aku ngga pernah
dipuasin laki-laki seperti kamu
muasin saya.., kamu hebat..aEt.
Aku tersenyum simpul.
aEsMbak., aku masih punya
1001 teknik yang bisa
membuat kamu melayang ke
surga ke-7.., ngga bosan kan
kalo lain waktu aku
praktekkan sama kamu?aEt.
Perlahan Tati menurunkan
paha kanannya dan mencabut
penisku dari vaginanya.
aEsBosan? Aku gila apa.., yang
beginian ngga akan
membuatku bosan.., kalau bisa
tiap hari aku mau Mas..aEt.
Benar-benar luar biasa libido
perempuan ini. Beruntung aku
mempunyai libido yang juga
luar biasa besarnya. Sebagai
partner seks, kami benar-
benar seimbang.
Setelah kejadian siang itu,
aku dan Tati seperti
pengantin baru saja. Tak ada
waktu luang yang tak
terlewatkan tanpa nafsu dan
birahi. Walaupun demikian, aku
tekankan pada Tati, bahwa
hubungan antara aku dan
dia, hanyalah sebatas
hubungan untuk memuaskan
nafsu birahi saja. Aku dan dia
punya hak untuk
berhubungan dengan orang
lain. Tati si janda muda yang
sudah merasakan kenikmatan
seks bebas itu tentu saja
menyetujuinya.
Suatu hari, Tati masuk ke
dalam kamarku dan ia
berkata, aEsMas, aku akan
mengambil cuti selama 1
bulan. Aku harus mengurusi
masalah tanah warisan di
kampungku..aEt.
aEsLha.., kalau Mbak pulang,
siapa yang akan mengurusi
Bapak?aEt, tanyaku sambil
membayangkan betapa
kosongnya hari-hariku selama
sebulan ke depan.
aEsMas Anto bilang, akan ada
adik Bapak yang akan
menggantikan aku selama 1
bulan.., namanya Mbak Ine..,
dia ngga kimpoi.., umurnya
sudah hampir 40 tahun..,
orangnya baik kok..,
cerewet.., tapi ramah..aEt. Yah
apa boleh buat, aku terpaksa
kehilangan seorang teman
berhubungan seks yang
sangat menggairahkan.
Hitung-hitung cuti 1 bulan..,
atau kalau berpikir positif..,
its time to look for a new
partner!!!
Hari ini adalah hari ke lima
setelah kepergian Tati. Mbak
Ine, pengganti sementara
Tati, ternyata adalah adik
ipar ayah Anto. Jadi, adik istri
si bapak tua itu. Mbak Ine
adalah seorang perempuan
Sunda yang ramah. Wajahnya
lumayan cantik, kulitnya
berwarna hitam manis,
badannya agak pendek dan
bertubuh montok. Ukuran
buah dadanya besar. Jauh
lebih besar dari Tati dan
senantiasa berdandan agak
menor. Wanita yang berumur
hampir 40 tahun itu mengaku
belum pernah menikah karena
merasa bahwa tak ada laki-
laki yang bisa cocok dengan
sifatnya yang avonturir. Saat
ini ia bekerja secara
freelance di sebuah stasiun
televisi sebagai penulis
naskah. Kemampuan bergaulku
dan keramahannya membuat
kami cepat sekali akrab.
Lagi-lagi, kamarku itu kini
menjadi markas curhatnya
Mbak Ine.
aEsPanggil saya teh Ine aja
deh..aEt, katanya suatu kali
dengan logat Bandungnya
yang kental.
aEsKalau gitu panggil saya Rafi
aja ya teh.., ngga usah pake
pak pak-an segala..aEt, balasku
sambil tertawa.
Baru 5 hari kami bergaul,
namun sepertinya kami sudah
lama saling mengenal. Kami
seperti dua orang yang
kasmaran, saling
memperhatikan dan saling
bersimpati. Persis seperti
cinta monyet ketika kita
remaja. Saat itu seperti
biasa, kami sedang ngobrol
santai dari hati ke hati sambil
duduk di atas ranjangku. Aku
memakai baju kaos dan
celana pendek yang ketat
sehingga tanpa kusadari
tekstur penis dan testisku
tercetak dengan jelas. Bila
kuperhatikan, beberapa kali
tampak teh Ine mencuri-curi
melirik selangkanganku yang
dengan mudah dilihatnya
karena aku duduk bersila.
Aku sengaja membiarkan
keadaan itu berlangsung.
Malah kadang-kadang dengan
sengaja aku meluruskan
kedua kakiku dengan posisi
agak mengangkang sehingga
cetakan penisku makin nyata
saja di celanaku.
Sesekali, ditengah obrolan
santai itu, tampak teh Ine
melirik selangkanganku yang
diikuti dengan nafasnya yang
tertahan. Kenapa aku
melakukan hal ini? Karena
libidoku yang luar biasa, aku
jadi tertantang untuk bisa
meniduri teh Ine yang aku
yakini sudah tak perawan lagi
karena sifatnya yang
avonturir itu. Dan lagi, dari
sifatnya yang ramah, ceria,
cerewet dan petualang itu,
aku yakin di balik tubuh
montok perempuan setengah
baya tersimpan potensi libido
yang tak kalah besar dengan
Tati. Juga, gayanya dalam
bergaul yang mudah
bersentuhan dan saling
memegang lengan sering
membuat darahku berdesir.
Apalagi kalau aku sedang
dalam keadaan libido tinggi.
Saat ini, teh Ine mengenakan
daster berwarna putih tipis
sehingga tampak kontras
dengan warna kulitnya yang
hitam manis itu. Belahan buah
dadanya yang besar itu
menyembul di balik lingkaran
leher yang berpotongan
rendah di bagian dada.
Dasternya sendiri berpola
terusan hingga sebatas lutut
sehingga ketika duduk,
pahanya yang montok itu
terlihat dengan jelas. Aku
selalu berusaha untuk bisa
mengintip sesuatu yang
terletak di antara kedua
paha teh Ine. Namun karena
posisi duduknya yang selalu
sopan, aku tak dapat melihat
apa-apa.
Bukan main! Ternyata
seorang wanita berusia 40-an
masih mempunyai daya tarik
sexual yang tinggi. Terus
terang, baru kali ini aku
berani berfantasi mengenai
hubungan seks dengan teh
Ine. Sementara ia bercerita
tentang masa mudanya,
pikiranku malah melayang dan
membayangkan tubuh teh Ine
sedang duduk di hadapanku
tanpa selembar benangpun.
Alangkah menggairahkannya.
Aku seperti bisa melihat
dengan jelas seluruh lekuk
tubuhnya yang mulus tanpa
cacat. Tanpa sadar, penisku
menegang dan cairan madzi di
ujungnya pun mulai keluar.
Celanaku tampak basah di
ujung penisku, dan cetakan
penis serta testisku semakin
jelas saja tercetak di
selangkangan celanaku.
Membesarnya penisku
ternyata tak lepas dari
perhatian teh Ine. Tampak
jelas terlihat matanya
terbelalak melihat ukuran
penisku yang membesar dan
tercetak jelas di celana
pendekku. Obrolan kami
mendadak terhenti karena
beberapa saat teh Ine masih
terpaku pada
selangkanganku.
aEsKunaon teh..?aEt, tanyaku
memancing.
aEsEh.., enteu.., kamu teh mikirin
apa sihAca,-A|?aEt, katanya sambil
tersenyum simpul.
aEsMikirin teh Ine teh.., entah
kenapa barusan saya
membayangkan teh Ine nggak
pakai apa-apa.., aduh
indahnya teh..aEt, tiba-tiba saja
jawaban itu meluncur dari
mulutku. Aku sendiri terkejut
dengan jawabanku yang
sangat terus terang itu dan
sempat membuatku terpaku
memandang wajah teh Ine.
Wajah teh Ine tampak
memerah mendengar
jawabanku itu. Napasnya
mendadak memburu.
Tiba-tiba teh Ine bangkit dari
duduknya dan berjalan
menuju pintu. Ia menutup
pintu kamarku dan
menguncinya. Leherku
tercekat, dan kurasakan
jantungku berdegup semakin
kencang. Dengan tersenyum
dan sorot mata nakal ia
menghampiriku dan duduk
tepat di hadapan
selangkanganku. Aku memang
sedang dalam posisi selonjor
dengan kedua kaki
mengangkang.
aEsFi, kamu pingin sama teteh..?
Hmm?aEt, Desahnya seraya
meraba penis tegangku dari
luar celana. Aku menelan
ludah sambil mengangguk
perlahan dan tersenyum.
Entah mengapa, aku jadi
gugup sekali melihat wajah
teh Ine yang semakin
mendekat ke wajahku. Tanpa
sadar aku menyandarkan
punggungku ke tembok di
ujung ranjang dan teh Ine
menggeser duduknya
mendekatiku sambil tetap
menekan dan membelai
selangkanganku. Nafas teh Ine
yang semakin cepat terasa
benar semakin menerpa
hidung dan bibirku. Rasa
nikmat dari belaian jemari teh
Ine di selangkanganku
semakin terasa keujung
syaraf-syarafku. Napasku
mulai memburu dan tanpa
sadar mulutku mulai
mengeluarkan suara erangan-
erangan.
Dengan lembut teh Ine
menempelkan bibirnya di atas
bibirku. Ia memulainya dengan
mengecup ringan, menggigit
bibir bawahku, dan tiba-tiba..,
lidahnya memasuki mulutku
dan berputar-putar di
dalamnya dengan cepat.
Langit-langit mulutku serasa
geli disapu oleh lidah panjang
milik perempuan setengah
baya yang sangat
menggairahkan itu. Aku mulai
membalas ciuman, gigitan, dan
kuluman teh Ine. Sambil
berciuman, tangan kananku
kuletakkan di buah dada kiri
teh Ine. Uh.., alangkah
besarnya.., walaupun masih
ditutupi oleh daster,
keempukan dan
kekenyalannya sudah sangat
terasa di telapak tanganku.
Dengan cepat kuremas-remas
buah dada teh Ine itu,
aEsEmph.., emph..aEt, rintihnya
sambil terus mengulum lidahku
dan menggosok-gosok
selangkanganku. Mendadak
teh Ine menghentikan
ciumannya. Ia menahan
tanganku yang tengah
meremas buah dadanya dan
berkata, aEsFi, sekarang kamu
diam dulu yah.., biar teteh
yang duluan..aEt.
Tiba-tiba dengan cepat teh
Ine menarik celana pendekku
sekalian dengan celana
dalamku. Saking cepatnya,
penisku yang menegang
melejit keluar. Sejenak teh
Ine tertegun menatap penisku
yang berdiri tegak laksana
tugu monas itu. aEsGusti Rafi..,
ageung pisan..aEt, bisiknya lirih.
Dengan cepat teh Ine
menundukkan kepalanya, dan
seketika tubuhku terasa
dialiri oleh aliran listrik yang
mengalir cepat ketika mulut
teh Ine hampir menelan
seluruh penisku. Terasa ujung
penisku itu menyentuh langit-
langit belakang mulut teh Ine.
Dengan sigap teh Ine
memegang penisku sementara
lidahnya memelintir bagian
bawahnya. Kepala teh Ine
naik turun dengan cepat
mengiringi pegangan
tangannya dan puntiran
lidahnya.
Aku benar-benar merasa
melayang di udara ketika teh
Ine memperkuat hisapannya.
Aku melirik ke arah kaca
riasku, dan di sana tampak
diriku terduduk mengangkang
sementara teh Ine dengan
dasternya yang masih saja
rapi merunduk di
selangkanganku dan
kepalanya bergerak naik
turun. Suara isapan, jilatan
dan kecupan bibir perempuan
montok itu terdengar dengan
jelas. Kenikmatan ini semakin
menjadi-jadi ketika kurasakan
teh Ine mulai meremas-remas
kedua bola testisku secara
bergantian. Perutku serasa
mulas dan urat-urat di
penisku serasa hendak putus
karena tegangnya. Teh Ine
tampak semakin buas
menghisapi penisku seperti
seseorang yang kehausan di
padang pasir menemukan air
yang segar. Jari-jemarinyapun
semakin liar mempermainkan
kedua testisku. aEsSlurrp..,
Cuph.., Mphh..aEt. Suara
kecupan-kecupan di penisku
semakin keras saja.
Nafsuku sudah naik ke kepala.
Aku berontak untuk berusaha
meremas kedua buah dada
montok dan besar milik
wanita lajang berusia
setengah baya itu, namun
tangan teh Ine dengan kuat
menghalangi tubuhku dan
iapun semakin gila menghisapi
dan menjilati penisku. Aku
mulai bergelinjang-gelinjang
tak karuan.
aEsTeh Ine.., teeehAca,-A|, gantian
dongg.., please.., saya udah
ngga kuaatAca,-A|, aahh.., sss..aEt,
erangku seakan memohon.
Namun permintaanku tak
digubrisnya. Kedua tangan
dan mulutnya semakin cepat
saja mengocok penisku.
Terasa seluruh syaraf-
syarafku semakin menegang
dan menegang, degup
jantungku berdetak semakin
kencang.. napaskupun makin
memburu.
aEsOohhaE|, Teh Ine.., Teh IneeeaE|,
aahhAca,-A|.aEt, Aku berteriak
sambil mengangkat pinggulku
tinggi-tinggi dan, aEsCrat..,
craat.., craataEt, aku
memuncratkan spermaku di
dalam mulut teh Ine. Dengan
sigap pula teh Ine menelan
dan menjilati spermaku
seperti seorang yang menjilati
es krim dengan nikmatnya.
Setiap jilatan teh Ine terasa
seperti setruman-setruman
kecil di penisku. Aku benar-
benar menikmati permainan
ini.., luar biasa teh Ine, aEsEnak
Fi..? Hmm?aEt, teh Ine
mengangkat kepalanya dari
selangkanganku dan
menatapku dengan senyum
manisnya, tampak di seputar
mulutnya banyak menempel
bekas-bekas spermaku.
aEsFuhh nikmatnya sperma
kamu Fi..aEt Bisiknya mesra
seraya menjilat sisa-sisa
spermaku di bibirnya.
aEsObat awet muda ya teh..aEt,
kataku bercanda.
aEsYaa gitulahaE|, antosan
sekedap nya? Biar teteh
ambilkan minum buat kamuaEt.
Oh my God.., benar-benar
seorang wanita yang penuh
pengabdian, dia belum
mengalami orgasme apa-apa
tapi perhatiannya pada
pasangan lelakinya luar biasa
besar, sungguh pasangan
seks yang ideal! Kenyataan
itu saja membuat rasa simpati
dan birahiku pada teh Ine
kembali bergejolak. Teh Ine
kembali dari luar membawa
segelas air.
aEsMinum deh.., biar kamu
segeran..aEt.
aEsNuhun teh.., tapi janji ya abis
ini giliran saya muasin teteh..aEt.
Aku meneguk habis air dingin
buatan teh Ine dan saat itu
pula aku merasakan
kejantananku kembali.
Birahiku kembali bergejolak
melihat tubuh montok teh Ine
yang ada di hadapanku.
Aku meraih tangan teh Ine
dan dengan sekali betot
kubaringkan tubuhnya yang
molek itu di atas ranjang.
aEsEeehh.., pelan-pelan Fi..aEt,
teriak teh Ine dengan geli.
aEsTeteh mau diapain sihAca,-A| aEs,
lanjutnya manja. Tanpa
menjawab, aku menindih
tubuh montok itu, dan
sekejap kurasakan nikmatnya
buah dada besar itu
tergencet oleh dadaku. Juga,
syaraf-syaraf sekitar
pinggulku merasakan
nikmatnya penisku yang
menempel dengan gundukan
vaginanya walaupun masih
ditutupi oleh daster dan
celana dalamnya.
Kupandangi wajah teh Ine
yang bundar dan manis itu.
Kalau diperhatikan, memang
sudah terdapat kerut-kerut
kecil di daerah mata dan
keningnya. Tapi peduli setan!
Teh Ine adalah seorang
wanita setengah baya yang
paling menggairahkan yang
pernah kulihat. Pancaran aura
sexualnya sungguh kuat
menerangi sanubari lelaki
yang memandangnya.
aEsTeteh mau tau apa yang
ingin saya lakukan terhadap
teteh?aEt, Kataku sambil
tersenyum.
aEsSaya akan memperkosa
teteh sampai teteh
ketagihanaEt.
Lalu dengan ganas, aku
memulai menciumi bibir dan
leher teh Ine. Teh Inepun
dengan tak kalah ganasnya
membalas ciuman-ciumanku.
Keganasan kami berdua
membuat suasana kamarku
menjadi riuh oleh suara-suara
kecupan dan rintihan-rintihan
erotis. Dengan tak sabar aku
menarik ritsluiting daster teh
Ine, kulucuti dasternya, BH-
nya, dan yang terakhir..,
celana dalamnya. Wow..,
sebuah gundukan daging
tanpa bulu sama sekali
terlihat sangat menantang
terletak di selangkangan teh
Ine. My God.., alangkah
indahnya vagina teh Ine itu..,
tak pernah kubayangkan
bahwa ia mencukur habis bulu
kemaluannya.
aEsKamu juga buka semua dong
FiaEt, rengeknya sambil menarik
baju kaosku ke atas. Dalam
sekejap, kami berdua berdua
berpelukan dan berciuman
dengan penuh nafsu dalam
keadaan bugil! Sambil menindih
tubuhnya yang montok itu,
bibirku menyelusuri lekuk
tubuh teh Ine mulai dari bibir,
kemudian turun ke leher,
kemudian turun lagi ke dada,
dan terus ke arah puting
susu kirinya yang berwarna
coklat kemerah-merahan itu.
Alangkah kerasnya puting
susunya, alangkah
lancipnnya.., dan mmhh..,
seketika itu juga kukulum,
kuhisap dan kujilat puting
kenyal itu.., karena gemasnya,
sesekali kugigit juga puting
itu.
aEsAuuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahhaEt,
rintihnya ketika gigitanku
agak kukeraskan. Badan
montoknya mulai
mengelinjang-gelinjang ke
sana k emari.., dan mukanya
menggeleng-geleng ke kiri
dan ke kanan. Sambil
menghisap, tangan kananku
merayap turun ke
selangkangannya. Dengan
mudah kudapati vaginanya
yang besar dan sudah sangat
becek sekali. Akupun dengan
sigap memain-mainkan jari
tenganku di pintu vaginanya.
aEsCrks.., crks.., crksaEt,
terdengar suara becek
vagina teh Ine yang
berwarna lebih putih dari
kulit sekitarnya. Ketika jariku
mengenai gundukan kecil
daging yang mirip dengan
sebutir kacang, ketika itu
pula wanita setengah baya
itu menjerit kecil.
aEsAhh.., geli Fi.., gelliaEt, Putaran
jariku di atas clitoris teh Ine
dan hisapanku pada kedua
puting buah dadanya makin
membuat lajang montok
berkulit hitam manis itu
semakin bergelinjang dengan
liar.
aEsFi.., masukin sekarang Fi..,
sekarang.., please.., teteh
udah nggak tahan..ahh..aEt.
Kulihat wajah teh Ine sudah
meringis seperti orang
kesakitan. Ringisan itu untuk
menahan gejolak orgasmenya
yang sudah hampir mencapai
puncaknya. Dengan sigap
kuarahkan penisku ke vagina
montok milik teh Ine..,
kutempelkan kepala penisku
yang besar tepat di bawah
clitorisnya, kuputar-putarkan
sejenak dan teh Ine
meresponnya dengan
mengangkangkan pahanya
selebar-lebarnya untuk
memberi kemudahan bagiku
untuk melakukan penetrasi..,
saat itu pula kusodokkan
pantatku sekuat-kuatnya
dan, aEsBlesssaEt, masuk
semuanya!
aEsAahhAca,-A|.aEt Teh Ine menjerit
panjang.., aEsBesar betul Fi..,
auhhAca,-A|., besar betuullaE|, duh
gusti enaknya.., aahh..aEt.
Dengan penuh keganasan
kupompa penisku keluar
masuk vagina teh Ine. Dan
iapun dengan liarnya
memutar-mutar pinggulnya di
bawah tindihanku. Astaga..,
benar-benar pengalaman
yang luar biasa! Bahkan
keliaran teh Ine melebihi
ganasnya Mbak Tati.., luar
biasa!
Kedua tubuh kami sudah
sangat basah oleh keringat
yang bercampur liur.
Kasurkupun sudah basah di
mana-mana oleh cairan mani
maupun lendir yang meleleh
dari vagina teh Ine, namun
entah kekuatan apa yang
ada pada diri kamiaE|, kami
masih saling memompa,
merintih, melenguh, dan
mengerang. Bunyi
ranjangkupun sudah tak
karuan.., aEsKriet.., kriet..,
krieeetaEt, sesuai irama
goyangan pinggul kami
berdua. Penisku yang besar
itu masih dengan buasnya
menggesek-gesek vagina teh
Ine yang terasa sempit
namun becek itu.
Setelah lebih dari 15 menit
kami saling memompa, tiba-
tiba kurasakan seluruh tubuh
teh Ine menegang.
aEsFi.., Fi.., Teteh mau keluar..aEt.
aEsIya teh, saya juga.., kita
keluar sama-sama tehAca,-A|aEt,
Goyanganku semakin
kupercepat dan pada saat
yang bersamaan kami berdua
saling berciuman sambil
berpelukan erat.., aku
menancapkan penisku dalam-
dalam dan teh Ine
mengangkat pinggulnya
tinggi-tinggiaE|, aEsCrat.., crat..,
crat.., crataEt, kami berdua
mengerang dengan keras
sambil menikmati tercapainya
orgasme pada saat yang
bersamaan. Kami sudah tak
peduli bila seisi rumah akan
mendengarkan jeritan-jeritan
kami, karena aku yakin teh
Inepun tak pernah merasakan
kenikmatan yang luar biasa
ini sepanjang hidupnnya.
aEsAhh.., Fi.., kamu hebaat..,
kamu hebaathh.., hh.., Teteh
ngga pernah ngerasain
kenikmatan seperti iniaEt.
aEsSaya juga teh.., terima kasih
untuk kenikmatan ini..aEt,
Kataku seraya mengecup
kening teh Ine dengan mesra.
aEsMau tau suatu rahasia Fi?aEt,
tanyanya sambil membelai
rambutku, aEsTeteh sudah lima
tahun tidak bersentuhan
dengan laki-laki.., tapi entah
kenapa, dalam 5 hari bergaul
dengan kamu.., teteh tidak
bisa menahan gejolak birahi
teteh.., ngga tau kenapa..,
kamu itu punya aura seks
yang luar biasa..aEt. Teh Ine
bangkit dari ranjangku dan
mengambil sesuatu dari
kantong dasternya. Sebutir
pil KB.
aEsSeperti punya fitasat, teteh
sudah minum pil ini sejak 3
hari yang lalu..aEt, katanya
tersenyum, aEsDan akan teteh
minum selama teteh ada di
sini..aEt, Teh Ine mengerdipkan
matanya padaku dengan
manja sambil memakai
dasternya.
aEsSelamat tidur sayangAca,-A|aEt,
Teh Ine melangkah keluar dari
kamarku.
Teh Ine memang luar biasa. Ia
bukan saja dapat
menggantikan kedudukan Tati
sebagai partner seks yang
baik, tetapi juga memberi
sentuhan-sentuhan kasih
sayang keibuan yang luar
biasa. Aku benar-benar
dimanja oleh wanita setengah
baya itu. Fantasi sexualnya
juga luar biasa. Mungkin itu
pengaruh dari pekerjaannya
sebagai penulis cerita drama.
Coba bayangkan, ia pernah
memijatku dalam keadaan
bugil, kemudian sambil terus
memijat ia bisa memasukkan
penisku ke dalam vaginanya,
dan aku disetubuhi sambil
terus menikmati pijatan-
pijatannya yang nikmat. Ia
juga pernah meminta aku
untuk menyetubuhinya di
saat ia mandi pancuran di
kamar mandi dan kami
melakukannya dengan tubuh
licin penuh sabun.
Dan yang paling sensasional
adalah.., Sore itu aku sudah
berada di rumah. Karena load
pekerjaan di kantorku tidak
begitu tinggi, aku sengaja
pulang cepat. Selesai mandi
aku duduk di meja makan
sambil menikmati pisang
goreng buatan teh Ine.
Perempuan binal itu memang
luar biasa. Ia melayaniku
seperti suaminya saja. Segala
keperluan dan kesenanganku
benar-benar diperhatikan
olehnya. Seperti biasa, aku
mengenakan baju kaos
buntung dan celana pendek
longgar kesukaanku dan
(seperti biasa juga) aku tidak
menggunakan celana dalam.
Kebiasaan ini kumulai sejak
adanya teh Ine di rumah ini,
karena bisa dipastikan hampir
tiap hari aku akan menikmati
tubuh sintal adik ipar ayah si
Anto itu.
Sore itu sambil menikmati
pisang goreng di meja makan,
aku bercakap-cakap dengan
ayah Anto. Orang tua itu
duduk di pojok ruangan
dekat pintu masuk untuk
menikmati semilirnya angin
sore kota Bandung. Jarak
antara aku dengannya
sekitar 6 meter. Sambil
bercakap-cakap mataku tak
lepas dari teh Ine yang
mondar mandir menyediakan
hidangan sore bagi kami.
Entah ke mana PRT kami saat
itu. Teh Ine mengenakan
celana pendek yang ditutupi
oleh kaos bergambar Mickey
Mouse berukuran ekstra
besar sehingga sering tampak
kaos itu menutupi celana
pendeknya yang memberi
kesan teh Ine tidak
mengenakan celana. Aku
berani bertaruh perempuan
itu tidak menggunakan BH
karena bila ia berjalan
melenggang, tampak buah
dadanya bergayut ke atas ke
bawah, dan di bagian
dadanya tercetak puting
buah dadanya yang besar itu.
Tanpa sadar batang penisku
mulai membesar.
Setelah selesai dengan
kesibukannya, teh Ine duduk
di sebelah kiriku dan ikut
menikmati pisang goreng
buatannya. Kulihat ia melirik
ke arahku sambil memasukkan
pisang goreng perlahan-lahan
ke dalam mulutnya. Sambil
mengerdipkan matanya, ia
memasukkan dan
mengeluarkan pisang goreng
itu dan sesekali menjilatnya.
Sambil terus berbasa basi
dengan orang tua Anto, aku
menelan ludah dan merasakan
bahwa urat-urat penisku
mulai mengeras dan kepala
penisku mulai membesar. Tiba-
tiba kurasakan jari-jemari
kanan teh Ine menyentuh
pahaku. Lalu perlahan-lahan
merayap naik sampai di
daerah penisku. Dengan
gemas teh Ine meremas penis
tegangku dari luar celanaku
sehingga membuat cairan
beningku membuat tanda
bercak di celanaku.
Setelah beberapa lama
meremas-remas, tangan itu
bergerak ke daerah perut
dan dengan cepat menyelip
ke dalam celana pendekku.
Aku sudah tidak tahu lagi apa
isi percakapan orang tua
Anto itu. Beberapa kali ia
mengulangi pertanyaannya
padaku karena jawabanku
yang asal-asalan. Degup
jantungku mulai meningkat.
Jemari lentik itu kini sudah
mencapai kedua bolaku.
Dengan jari telunjuk dan
tengah yang dirapatkan,
perempuan lajang itu
mengelus-elus dan menelusuri
kedua bolaku.., mula-mula
berputar bergantian kiri dan
kanan kemudian naik ke
bagian batang.., terus
bergerak menelusuri urat-
urat tegang yang membalut
batang kerasku itu, aEssssaE|,
teteh..aEt. Aku berdesis ketika
kedua jarinya itu berhenti di
urat yang terletak tepat di
bawah kepala penisku.., itu
memang daerah
kelemahanku.., dan perempuan
sintal ini mengetahuinya..,
kedua jemarinya menggesek-
gesekkan dengan cepat urat
penisku itu sambil sesekali
mencubitnya.
aEsaahhaE|aEt, erangku ketika
akhirnya penisku masuk ke
dalam genggamannya.
aEsKenapa Rafi?aEt, Orang tua
yang duduk agak jauh di
depanku itu mengira aku
mengucapkan sesuatu.
aEsE.., eeaE|, ndak apa-apa Pak..aEt,
Jawabku tergagap sambil
kembali meringis ketika teh
Ine mulai mengocok penisku
dengan cepat. Gila perempuan
ini! Dia melakukannya di depan
kakaknya sendiri walaupun
tidak kelihatan karena
terhalang meja.
aEsSaya cuma merasa segar
dengan udara Bandung yang
dingin ini..aEt, Jawabku
sekenanya.
aEsOoo begitu.., saya pikir kamu
sakit perut.., habis
tampangmu meringis-meringis
begitu..aEt, Orang tua itu
terkekeh sambil memalingkan
mukanya ke jalan raya.
Begitu kakaknya berpaling,
teh Ine dengan cepat
merebahkan kepalanya ke
pangkuanku sehingga dari
arah ayah Anto, teh Ine tak
tampak lagi. Dengan cepat
tangannya memelorotkan
celanaku sehingga penisku
yang masih digenggamnya
dengan erat itu terasa dingin
terterpa angin. Sejenak
perempuan itu memandang
penis besarku itu.., ia selalu
memberikan kesempatan pada
matanya untuk menikmati
ukuran dan kekokohannya.
Kemudian teh Ine menjulurkan
lidahnya dan mulai menjilat
mengelilingi lubang penisku..,
kemudian ia memasukkan
ujung lidahnya ke ujung
lubang penisku dan mengecap
cairan beningku.., lalu lidahnya
diturunkan lagi-lagi ke urat di
bawah penisku. Aku mulai
menggelinjang-gelinjang tak
karuan, walaupun dengan
hati-hati takut ketahuan oleh
kakak teh Ine yang duduk di
depanku. Tanganku mulai
meraba-raba buah dadanya
yang besar itu dan
meremasnya dengan gemas,
aEssss.., teeehh..aEt, desisku agak
keras ketika perempuan itu
dengan kedua bibirnya
menyedot urat di bawah
kepala penisku itu..,
sementara tangannya
meremas-remas kedua
bolakuaE|, aawwww
nikmatnyaaE|, aku begitu
terangsang sehingga seluruh
pori-pori kulitku meremang
dan mukaku berwarna merah.
Aku sudah dalam tahap ingin
menindih dan sesegera
mungkin memasukkan penisku
ke dalam vagina perempuan
ini tapi semua itu tak
mungkin kulakukan di depan
kakaknya yang masih duduk
di depanku menikmati lalu
lalang kendaraan di depan
rumahnya.
Tiba-tiba bibir teh Ine
bergerak dengan cepat ke
kepala penisku.., sambil terus
kupermainkan putingnya
kulihat ia membuka mulutnya
dengan lebar dan
tenggelamlah seluruh penisku
ke dalam mulutnya. Aku
kembali mendesis dan meringis
sambil tetap duduk di meja
makan mendengarkan ocehan
orang tua Anto yang kembali
mengajakku berbincang. Mulut
teh Ine dengan cepat
menghisap dan bergerak maju
mundur di penisku. Tanganku
menarik dasternya ke atas
dari arah punggung sehingga
terlihatlah pantatnya yang
mulus tidak ditutupi oleh
selembar benangpun. Aku
ingin menjamah vaginanya,
ingin rasanya kumasukkan
jari-jariku dengan kasar ke
dalamnya dan kukocok-kocok
dengan keras tapi aku sudah
tak kuat lagi. Jilatan lidah,
kecupan, dan sedotan teh Ine
di penisku membuat seluruh
syarafku menegang.
Tiba-tiba kujambak rambut
teh Ine dan kutekan sekuat-
kuatnya sehingga seluruh
penisku tenggelam ke dalam
mulutnya. Kurasakan ujung
penisku menyentuh langit-
langit tenggorokan teh Ine
dan, aEsCreeetaE|, creeettaE|,
creeetttaEt, menyemburlah
cairan maniku ke mulut teh
Ine.
aEsAhhaE|, aahh.., aahh..,
tetteeehhaE|aEt, Aku meringis
dan mendesis keras ketika
cairan maniku bersemburan
ke dalam mulut teh Ine.
Perempuan itu dengan lahap
menjilati dan menelan seluruh
cairanku sehingga penisku
yang hampir layu kembali
sedikit menegang karena
terus-terusan dijilat. Aku
memejamkan mataku.., gilaa..,
permainan ini benar-benar
menakjubkan. Ada rasa was-
was karena takut ketahuan,
tapi rasa was-was itu justru
meningkatkan nafsuku. Teh
Ine memandang penisku yang
sudah agak mengecil namun
tetap saja dalam posisi tegak.
aEsLuar biasaaE|aEt, Bisiknya, aEsSiap-
siap nanti malam yah?aEt
Katanya sambil bangkit dan
beranjak ke dapur.
Aku cukup kagum dengan
prestasi yang kucapai di
rumah ini. Baru 2 bulan di
Bandung, aku sudah bisa
meniduri 2 orang wanita yang
sudah lama tidak pernah
menikmati sentuhan lelaki. Dan
wanita-wanita itu, aku yakin
akan selalu termimpi-mimpi
akan besar dan nikmatnya
gesekan penisku di dalam
vagina mereka. Not bad!!
Tamat