PDA

View Full Version : V1rgin Liar


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Sebut saja namaku Lila,
umurku 16 tahun, kelas 2
SMA. Sebagai anak SMA,
tinggiku relatif sedang, 165
cm, dengan berat 48 kg, dan
cup bra 36B. Untuk yang
terakhir itu, aku memang
cukup pede. Walau
sebenarnya wajahku cukup
manis (bukannya sombong, itu
kata teman-temankuaE|) aku
sudah lumayan lama
menjomblo, 1 tahun. Itu
karena aku amat selektif
memilih pacaraE| enggak mau
salah pilih kayak yang
terakhir kali.
Di sekolah aku punya teman
akrab namanya Stella. Dia
juga lumayan cantik, walau
lebih pendek dariku, tapi dia
sering banget gonta-ganti
pacar. Stella memang sangat
menarik, apalagi ia sering
menggunakan seragam atau
pakaian yang minimaE| peduli
amat kata guru, pesona jalan
terus!
Saat darmawisata sekolah ke
Cibubur, aku dan dia
sekamar, dan empat orang
lain. Satu kamar memang
dihuni enam orang, tapi
sebenarnya kamarnya kecil
bangeeetaE| aku dan Stella
sampai berantem sama guru
yang mengurusi pembagian
kamar, dan alhasil, kami pun
bisa memperoleh villa lain
yang agak lebih jauh dari villa
induk. Disana, kami berenam
tinggal dengan satu kelompok
cewek lainnya, dan di
belakang villa kami, hanya
terpisah pagar tanaman,
adalah villa cowok.
aEsLil, lo udah beres-beres,
belum?aEt tanya Stella saat
dilihatnya aku masih asyik
tidur-tiduran sambil menikmati
dinginnya udara Cibubur, lain
dengan Jakarta.
aEsBelum, ini baru mau.aEt
Jawabku sekenanya, karena
masih malas bergerak.
aEsNanti aja, deh. Kita jalan-
jalan, yuk,aEt ajak Stella santai.
aEsBoljugaE|aEt gumamku sambil
bangun dan menemaninya
jalan-jalan. Kami berkeliling
melihat-lihat pasar lokal, villa
induk, dan tempat-tempat
lain yang menarik. Di jalan,
kami bertemu dengan Rio, Adi,
dan Yudi yang kayaknya lagi
sibuk bawa banyak barang.
aEsMau kemana, Yud?aEt sapa
Stella.
aEsEh, Stel. Gue ama yang lain
mau pindahan nih ke villa
cowok yang satunya, villa
induk udah penuh sih.aEt Rio
yang menjawab. aEsLo berdua
mau bantu, nggak? Gila, gue
udah nggak kuat bawa se-
muanya, nih.aEt Pintanya
memelas.
aEsOke, tapi yang enteng
ajaaaaE|aEt jawabku sambil
mengambil alih beberapa
barang ringan. Stella ikut
meringankan beban Adi dan
Yudi.
Sampai di villa cowok, aku
bengong. Yang bener aja,
masa iya aku dan Stella
harus masuk ke sana?
Akhirnya aku dan Stella
hanya mengantar sampai
pintu. Yudi dan Adi bergegas
masuk, sementara Rio malah
santai-santai di ruang tamu.
aEsMasuk aja kali, Stel, Lil.aEt
Ajaknya cuek.
aEsNgngaE| nggak usah, Yud.aEt
Tolakku. Stella diam aja.
aEsStella! Sini dong!aEt terdengar
teriakan dari dalam. Aku
mengenalinya sebagai suara
Feri.
aEsGue boleh masuk, ya?aEt
tanya Stella sambil melangkah
masuk sedikit.
aEsBoleh doooong!!aEt terdengar
koor kompak anak cowok
dari dalam. Stella langsung
masuk, aku tak punya pilihan
lain selain mengikutinya.
Di dalam, anak-anak cowok,
sekitar delapan orang, kalo
Rio yang diluar nggak
dihitung, lagi asyik nongkrong
sambil main gitar. Begitu
melihat kami, mereka
langsung berteriak girang,
aEsEh, ada cewek!! Serbuuuuu!!aEt
Serentak, delapan orang itu
maju seolah mau mengejar
kami, aku dan Stella langsung
mundur sambil tertawa-tawa.
Aku langsung mengenali
delapan orang itu, Yudi, Adi,
Feri, Kiki, Dana, Ben, Agam,
dan Roni. Semua dari kelas
yang berbeda-beda.
Tak lama, aku dan Stella
sudah berada di antara
mereka, bercanda dan
ngobrol-ngobrol. Stella malah
dengan santai tiduran
telungkup di kasur mereka,
aku risih banget melihatnya,
tapi diam aja. Entah siapa
yang mulai, banyak yang
menyindir Stella.
aEsStellaE| nggak takut digrepe-
grepe lu di atas sana?aEt
tanya Adi bercanda.
aEsSiapa berani, ha?aEt tantang
Stella bercanda juga. Tapi Kiki
malah menanggapi serius,
tangannya naik menyentuh
bahu Stella. Cewek itu
langsung mem*kik
menghindar, sementara
cowok-cowok lain malah ribut
menyoraki. Aku makin gugup.
aEsStell, bener ya kata gosip lo
udah nggak virgin?aEt kejar
Roni.
aEsKata siapa, ahaE|aEt balas Stella
pura-pura marah. Tapi
gayanya yang kenes malah
dianggap seb-agai anggukan
iya oleh para cowok. aEsBoleh
dong, gue juga nyicip, Stell?aEt
tanya Dio.
Stella diam aja, aku juga
tambah risih. Apalagi pundak
Feri mulai ditempelkan ke
pundakku, dan entah sengaja
atau tidak, tangan Agam
menyilang di balik
punggungku, seolah hendak
merangkul. Bingung karena
diimpit mereka, aku
memutuskan untuk tidak
bergerak.
aEsGue masih virgin, Lila jugaaE|
kata siapa itu tadi?aEt omel
Stella sambil bergerak untuk
turun dari kasur. Tapi ditahan
Roni. aEsGitu aja marah, udah,
kita ngobrol lagi, jangan
tersinggung.aEt Bujuknya sambil
mengelus-elus rambut Stella.
Aku tahu Stella dulu pernah
suka sama Roni, jadi dia
membi-arkan Roni mengelus
rambut dan pundaknya,
bahkan tidak marah saat
dirangkul pinggangnya.
aEsLil, lo mau dirangkul juga
sama gue?aEt bisik Agam di
telingaku. Rupanya ia
menyadari kalau aku
memperhatikan tangan Roni
yang mengalungi pinggang
Stella. Tanpa menunggu
jawaban, Agam memeluk
pinggangku, aku kaget,
namun sebelum protes,
tangan Feri sudah menempel
di pahaku yang terbungkus
celana selutut, sementara
pelukan Agam membuatku
mau tak mau berbaring di
dadanya yang bidang.
Teriakan protes dan
penolakanku tenggelam di
tengah-tengah sorakan yang
lain. Rio bahkan sampai masuk
ke kamar karena mendengar
ribut-ribut tadi.
aEsGue juga mau, dong!aEt Yudi
dan Kiki menghampiri Stella
yang juga lagi dipeluk Roni,
sementara Adi, Ben, dan Rio
menghampiriku. Berbeda
denganku yang menjerit
ketakutan, Stella malah
kelihatan keenakan dipeluk-
peluki dari berbagai arah oleh
cowok-cowok yang mulai
kegirangan itu.
aEsJangan!aEt teriakku saat Rio
mencium pipi, dan mulai
merambah bibirku. Sementara
Ben menjilati leherku dan
tangannya mampir di dada
kiriku, meremas-remasnya
dengan gemas sampai aku
kegelian. Kurasakan
genggaman kuat Feri di dada
kananku, sementara Adi
menjilati pusarku. Ternyata
mereka telah mengangkat
kaosku sampai sebatas dada.
Aku menjerit-jerit memohon
supaya mereka berhenti, tapi
sia-sia. Kulirik Stella yang
sedang mendapat perlakuan
sama dari Roni, Yudi, dan Kiki,
bahkan Dana telah melucuti
celana jins Stella dan
melemparnya ke bawah kasur.
Lama-kelamaan, rasa geli
yang nikmat membungkus
tubuhku. Percuma aku
menjerit-jerit, akhir-nya aku
pasrah. Melihatnya, Agam
langsung melucuti kaosku, dan
mencupang punggungku. Feri
dan Rio bahkan sudah
membuka seluruh pakaian
mereka kecuali celana dalam.
Aku kagum juga melihat dada
Feri yang bidang dan
harumnya khas cowok. Aku
hanya bisa terdiam dan
meringis nikmat saat dada
bidang itu mendekapku dan
menciumi bibirku dengan
ganas. Aku membalas ciuman
Feri sambil menikmati bibir Adi
yang tengah mengulum
payudaraku yang ternyata
sudah terlepas dari
pelindungnya. Vaginaku terasa
basah, dan gatal. Seolah
mengetahuinya, Rio membuka
celanaku sekaligus CDku
sehingga aku langsung bugil.
Agak risih juga dipandangi
dengan begitu liar dan
berhasrat oleh cowok-cowok
itu, tapi aku sudah mulai
keenakan.
aEsSsshhaE|. aaakhhaE|aEt aku
mendesis saat Adi dan Ben
melumat payudaraku dengan
liar. aEsMmmh, toket lo montok
banget, LiiiilaE|aEt gumam Ben.
Aku tersenyum bangga,
namun tidak lama, karena
aku langsung menjerit kecil
saat kurasakan sapuan lidah
di bibir vaginaku. aEsCihuyaE| Lila
emang masih perawanaE|aEt Agam
yang entah sejak kapan
sudah berada di daerah
rahasiaku menyeringai.
aEsAkkkhhaE| jangan GamaE|aEt
desahku saat kurasakan
kenikmatan yang tiada tara.
aEsGue udah kebelet, niihaE| gue
perawanin ya, LilaE|aEt Tak
terasa, sesuatu yang bundar
dan keras menyusup ke
dalam vaginaku, ternyata
penis Agam sudah siap untuk
bersarang disana. Aku men-
desah-desah diiringi jeritan
kesakitan saat ia
menyodokku dan darah segar
mengalir. aEsSakiiitaE|aEt erangku.
Agam menyodok lagi, kali ini
penisnya sudah sepenuhnya
masuk, aku mulai terbiasa,
dan ia pun langsung
menggenjot dan menyodok-
nyodok. Aku mengerang
nikmat.
aEsSsshhaE| terusssaE| yaaa, akh!
Akh! Nikmat, Gam! TeruussaE|
sayang, puasin gueaE|
AkkkhhaE|aEt
Sementara pantat Agam
masih bergoyang, cowok-
cowok lain yang sudah
telanjang bulat juga mulai
berebutan menyodorkan penis
mereka yang sudah tegang
ke bibirku.
aEsGue dulu ya, LilaE| nih, lu
karaoke,aEt ujar Rio sambil
menyodokkan penisnya ke
dalam mulutku. Aku agak
canggung dan kaget
menerimanya, tapi kemudian
aku mulai mengulumnya dan
mempermainkan lidahku
menjelajahi barang Rio. Ia
mendesah-desah keenakan
sambil merem-melek.
Sementara Ben masih
menikmati buah dadaku, Adi
nampaknya sudah mulai
beranjak ke arah Stella yang
dikerubuti dan digenjot juga
sama sepertiku. Bedanya,
kulihat Stella sudah nungging,
ala doggy style, penis Dana
tengah menggenjot vaginanya
dan toketnya yang
menggantung sedang dilahap
oleh Kiki, sementara mulutnya
mengoral penis Yudi. Stella
nampak amat menikm-atinya,
dan cowok-cowok yang
mengerumuninya pun
demikian. Beberapa saat
kemudian, kulihat Dana
orgasme, dan kemudian Rio
yang keenakan barangnya
kuoral juga orgasme dalam
mulutku, aku kewalahan dan
hampir saja memuntahkan
cairannya.
Mendadak, kurasakan
vaginaku banjir, ternyata
Agam sudah orgasme dan
menembakkan sper-manya di
dalam vaginaku, cowok itu
terbaring lemas di sampingku,
untuk beberapa menit, kukira
ia tidur, tapi kemudian ia
bangun dan menciumi pusarku
dengan penuh nafsu. Kini,
vaginaku suda-h diisi lagi
dengan penis Beni. Penisnya
lebih besar dan
menggairahkan, sehingga
membuat mata-ku terbelalak
terpesona. Beni menyodokkan
penisnya dengan pelan-pelan
sebelum mulai mengg-enjotku,
rasanya nikmat sekali seperti
melayang. Kedua kakiku
menjepit pinggangnya dan
bongka-han pantatku turut
bergoyang penuh gairah.
Kubiarkan tubuhku jadi milik
mereka.
aEsAkkkhhaE|. ssshhaE| terus,
teruuusss sayaaangaE| akh,
nikmat, aaahhhaE|aEt erangku
keenakan. Tok-etku yang
bergoyang-goyang langsung
ditangkap oleh mulut dan
tangan Rio. Ia memainkan
puting susuku dan mencubit-
cubitnya dengan gemas, aku
semakin berkelojotan
keenakan, dan meracau tidak
jelas, aEsAkkkhhaE| teruuussaE|
entot gue, entooott gue
teruuss! Gue milik luuaE|
aakhhaE|!!aEt
aEsIya sayyyaanggaE| gue entot
lu sampe puasssaE|aEt sahut Ben
sambil mencengkeram
pantatku dan mempercepat
goyangan penisnya. Rio juga
semakin lahap menikmati
gunung kembarku, menjilat,
menggigit, mencium, seolah
ingin menelannya bulat-bulat,
dan sebelum aku sempat
meracau lagi, Agam telah
mendaratkan bibirnya di
bibirku, kami saling
berpagutan penuh gairah,
melilitkan lidah dengan sangat
liar, dan klimaksnya saat
gelombang kenikmatan
melandaku sampai ke
puncaknya.
aEsAaakkhhaE|. gue mauaE|!aEt Belum
selesai ucapanku, aku
langsung orgasme. Ben
menyusul beber-apa saat
kemudian, dan vaginaku
benar-benar banjir. Tubuh
Ben langsung jatuh dengan
posisi penisnya masih dalam
jepitan vaginaku, ia memeluk
pinggangku dan menciumi
pusarku dengan lemas.
Sementara aku masih saja
digerayangi oleh Agam yang
tak peduli dengan keadaanku
dan meminta untuk dioral,
dan Rio yang menggosok-
gosokkan penisnya di toketku
dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian,
Agam pun orgasme lagi. Agam
jatuh dengan posisi wajah
tepat di sampingku,
sementara Rio tanpa belas
kasihan memasukkan penisnya
ke vaginaku, dan mengge-
njotku lagi sementara aku
berciuman penuh gairah
dengan Agam. Selang
beberapa saat Rio org-asme
dan jatuh menindihku dengan
penis masih menancap, ia
memelukku mesra sebelum
kemud-ian tertidur. Aku
sempat mendengar erangan
nikmat dari arah Stella,
sebelum akhirnya benar-
benar tertidur kecapekan,
membiarkan Beni dan Agam
yang masih menciumi sekujur
tubuhku.
Selama tiga hari kami disana,
kami selalu melakukannya
setiap ada kesempatan.
Sudah tak ter-hitung lagi
berapa kali penis mereka
mencumbu vaginaku, namun
aku menikmati itu semua.
Bahk-an, bila tak ada yang
melihat, aku dan Stella masih
sering bermesraan dengan
salah satu dari mereka,
seperti saat aku berpapasan
dengan Agam di tempat sepi,
aku duduk di pangkuannya
sementara tangannya
menggerayangi dadaku, dan
bibirnya berciuman dengan
bibirku, dan penis-nya
menusuk-nusukku dari bawah.
Sungguh pengalaman yang
mendebarkan dan penuh
nikmataE"tubuhku ini telah
digauli dan dimiliki beramai-
ramai, namun aku malah
ketagihan.