PDA

View Full Version : Demi Sebuah Absensi


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Kisahku yang satu ini terjadi
sudah agak lama, tepatnya
pada akhir semester 3, 2
tahun yang lalu. Waktu itu
adalah saat-saat menjelang
UAS. Seperti biasa, seminggu
sebelum UAS nama-nama
mahasiswa yang tidak
diperbolehkan ikut ujian
karena berbagai sebab
seperti over absen, telat
pembayaran, dsb tertera di
papan pengumuman di depan
TU fakultas. Hari itu aku
dibuat shock dengan
tercantumnya namaku di
daftar cekal salah satu mata
kuliah penting, 3 SKS pula.
Aku sangat bingung disana
tertulis absenku sudah empat
kali, melebihi batas maksimum
tiga kali, apakah aku salah
menghitung, padahal di
agendaku setiap absenku
kucatat dengan jelas aku
hanya tiga kali absen di mata
kuliah itu. Akupun complain
masalah ini dengan dosen
yang bersangkutan yaitu Pak
Qadar, seorang dosen yang
cukup senior di kampusku,
beliau berumur pertengahan
40-an, berkacamata dan
sedikit beruban, tubuhnya
pendek kalau dibanding
denganku hanya sampai
sedagu. Diajar olehnya
memang enak dan mengerti
namun beliau agak cunihin,
karena suka cari-cari
kesempatan untuk mencolek
atau bercanda dengan
mahasiswi yang cantik pada
jam kuliahnya termasuk juga
aku pernah menjadi korban
kecunihinannya.
Karena sudah senior dan
menjabat kepala jurusan,
beliau diberi ruangan seluas
5A-5 meter bersama dengan
Bu Hany yang juga dosen
senior merangkap wakil
kepala jurusan. Kuketuk
pintunya yang terbuka
setelah seorang mahasiswa
yang sedang bicara padanya
pamitan.
aEsSiang Pak !aEt sapaku dengan
senyum dipaksa
aEsSiang, ada perlu apa ?aEt
aEsIni Pak, saya mau tanya
tentang absen saya, kok bisa
lebih padahal dicatatan saya
cuma tigaaE|aEt demikian
kujelaskan panjang lebar dan
beliau mengangguk-
anggukkan kepala
mendengarnya.
Beberapa menit beliau
meninggalkanku untuk ke TU
melihat daftar absen lalu
kembali lagi dengan map
absen di tangannya. Ternyata
setelah usut punya usut, aku
tertinggal satu jadwal kuliah
tambahan dan cerobohnya
aku juga lupa mencatatnya di
agendaku.
Dengan memohon belas kasih
aku memelas padanya supaya
ada keringanan atau
keringanan.
aEsAduhhaE|tolong dong pak,
soalnya gak ada yang
memberitahu saya tentang
yang tambahan itu, jadi saya
juga gak tau pak, bukan
salah saya semua dong pakaEt
aEsTapi kan dik, anda sendiri
harusnya tahu kalau absen
yang tiga sebelumnya anda
bolos bukan karena sakit
atau apa kan, seharusnya
untuk berjaga-jaga anda
tidak absen sebanyak itu
dong duluaEt
Beberapa saat aku tawar
menawar dengannya namun
ujung-ujungnya tetap harga
mati, yaitu aku tetap tidak
boleh ujian dengan kata lain
aku tidak lulus di mata kuliah
tersebut. Kata-kata
terakhirnya sebelum aku
pamit hanyalah
aEsYa sudah lah dik, sebaiknya
anda ambil hikmahnya
kejadian ini supaya memacu
anda lebih rajin di kemudian
hariaEt dengan meletakkan
tangannya di bahuku.
Dengan lemas dan pucat aku
melangkah keluar dari situ
dan hampir bertabrakan
dengan Bu Hany yang menuju
ke ruangan itu. Dalam
perjalanan pulang dimobil pun
pikiranku masih kalut sampai
mobil di belakangku
mengklaksonku karena tidak
memperhatikan lampu sudah
hijau.
Hari itu aku habis 5 batang
rokok, padahal sebelumnya
jarang sekali aku
mengisapnya. Aku sudah
susah-susah belajar dan
mengerjakan tugas untuk
mata kuliah ini, juga nilai UTS
ku 8,8, tapi semuanya sia-sia
hanya karena ceroboh
sedikit, yang ada sekarang
hanyalah jengkel dan sesal.
Sambil tiduran aku memindah-
mindahkan chanel parabola
dengan remote, hingga
sampailah aku pada chanel TV
dari Taiwan yang kebetulan
sedang menayangkan film
semi. Terlintas di pikiranku
sebuah cara gila, mengapa
aku tidak memanfaatkan sifat
cunihinnya itu untuk
menggodanya, aku sendiri kan
penggemar seks bebas. Cuma
cara ini cukup besar
taruhannya kalau tidak kena
malah aku yang malu, tapi
biarlah tidak ada salahnya
mencoba, gagal ya gagal,
begitu pikirku. Aku memikirkan
rencana untuk menggodanya
dam menetapkan waktunya,
yaitu sore jam 5 lebih,
biasanya jam itu kampus mulai
sepi dan dosen-dosen lain
sudah pulang. Aku cuma
berharap saat itu Bu Hany
sudah pulang, kalau tidak
rencana ini bisa tertunda
atau mungkin gagal.
Keesokan harinya aku mulai
menjalankan rencanaku
dengan berdebar-debar.
Kupakai pakaianku yang seksi
berupa sebuah baju tanpa
lengan berwarna biru dipadu
dengan rok putih
menggantung beberapa senti
diatas lutut, gilanya adalah
dibalik semua itu aku tidak
memakai bra maupun celana
dalam. Tegang juga rasanya
baru pertama kalinya aku
keluar rumah tanpa pakaian
dalam sama sekali, seperti
ada perasaan aneh mengalir
dalam diriku. Birahiku naik
membayangkan yang tidak-
tidak, terlebih hembusan AC
di mobil semakin membuatku
bergairah, udara dingin
berhembus menggelikitik
kemaluanku yang tidak
tertutup apa-apa. Karena
agak macet aku baru tiba di
kampus jam setengah enam,
kuharap Pak Qadar masih di
kantornya. Kampus sudah sepi
saat itu karena saat
menjelang ujian banyak kelas
sudah libur, kalaupun masuk
paling cuma untuk
pemantapan atau kuis saja.
Aku naik lift ke tingkat tiga.
Seorang karyawan dan dua
mahasiswa yang selift
denganku mencuri-curi
pandang ke arahku, suatu hal
yang biasa kualami karena
aku sering berpakaian seksi
cuma kali ini bedanya aku
tidak pakai apa-apa di
baliknya. Entah bagaimana
reaksi mereka kalau tahu ada
seorang gadis di tengah
mereka tidak berpakaian
dalam, untungnya pakaianku
tidak terlalu ketat sehingga
lekukan tubuhku tidak
terjiplak. Akupun sampai ke
ruang beliau di sebelah lab.
bahasa dan kulihat lampunya
masih nyala. Kuharap Bu Hany
sudah pulang kalau tidak sia-
sialah semuanya. Jantungku
berdetak lebih kencang saat
kuketuk pintunya.
aEsMasuk !aEt sahut suara dari
dalam
aEsSelamat sore Pak !aEt
aEsOh, kamu Citra yang
kemarin, ada apa lagi nih ?aEt
katanya sambil memutar
kursinya yang menghadap
komputer ke arahku.
aEsItuaE|Pak mau membicarakan
masalah yang kemarin lagi,
apa masih ada keringanan
buat sayaaEt
aEsWaduhaE|kan bapak udah
bilang dari kemarin bahwa
tanpa surat opname atau ijin
khusus, kamu tetap dihitung
absen, disini aturannya
memang begitu, harap anda
maklumaEt
aEsJadi sudah tidak ada tawar-
menawar lagi Pak ?aEt
aEsMaaf dik, bapak tidak bisa
membantumu dalam hal iniaEt
aEsBegini saja Pak, saya punya
penawaran terakhir untuk
bapak, saya harap bisa
menebus absen saya yang
satu itu, bagaimana Pak ?aEt
aEsPenawaranaE|penawaran,
memangnya pasar pakai
tawar-menawar segalaaEt
katanya dengan agak jengkel
karena aku terus ngotot.
Tanpa pikir panjang lagi aku
langsung menutup pintu dan
menguncinya, lalu berjalan ke
arahnya dan langsung duduk
diatas meja tepat
disampingnya dengan
menyilangkan kaki. Tingkahku
yang nekad ini membuatnya
salah tingkah. Selagi dia masih
terbengong-bengong kuraih
tangannya dan kuletakkan di
betisku.
aEsAyolah Pak, saya percaya
bapak pasti bisa nolongin
saya, ini penawaran terakhir
saya, masa bapak gak
tertarik dengan yang satu
iniaEt godaku sambil
merundukkan badan ke
arahnya sehingga dia dapat
melihat belahan payudaraku
melalui leher bajuku yang
agak rendah.
aEsDikaE|kamu-kamu iniaE|.edan
jugaaE|aEt katanya terpatah-
patah karena gugup
Wajahku mendekati wajahnya
dan berbisik pelan setengah
mendesah :
aEsSudahlah Pak, tidak usah
pura-pura lagi, nikmati saja
selagi bisaaEt
Beliau makin terperangah
tanpa mengedipkan matanya
ketika aku mulai melepaskan
kancing bajuku satu-persatu
sampai kedua payudaraku
dengan puting pink-nya dan
perutku yang rata terlihat
olehnya. Tanpa melepas
pandangannya padaku,
tangannya yang tadinya cuma
memegang betisku mulai
merambat naik ke paha
mulusku disertai sedikit
remasan. Kuturunkan kakiku
yang tersilang dan
kurenggangkan pahaku agar
beliau lebih leluasa mengelus
pahaku.
Dengan setengah berdiri
beliau meraih payudaraku
dengan tangan yang satunya,
setelah tangannya memenuhi
payudaraku dia meremasnya
pelan diiringi desahan pendek
dari mulutku.
aEsDadamu bagus juga yah dik,
kencang dan montokaEt pujinya
Beliau lalu mendekatkan
mulutnya ke arah
payudaraku, sebuah jilatan
menyapu telak putingku
disusul dengan gigitan ringan
menyebabkan benda itu
mengeras dan tubuhku
bergetar. Sementara
tangannya yang lain
merambah lebih jauh ke dalam
rokku hingga akhirnya
menyentuh pangkal pahaku.
Beliau berhenti sejenak ketika
jari-jarinya menyentuh
kemaluanku yang tidak
tertutup apa-apa
aEsYa ampun dik, kamu tidak
pakai dalaman apa-apa ke
sini !?aEt tanyanya terheran-
heran dengan keberanianku
aEsIyah pak, khusus untuk
bapakaE|makanya bapak harus
tolong saya jugaaEt
Tiba-tiba dengan bernafsu dia
bentangkan lebar-lebar
kedua pahaku dan
menjatuhkan dirinya ke kursi
kerjanya. Matanya seperti
mau copot memandangi
kemaluanku yang merah
merekah diantara bulu-bulu
hitam yang lebat. Sungguh
tak pernah terbayang olehku
aku duduk diatas meja
mekakangkan kaki di hadapan
dosen yang kuhormati.
Sebentar kemudian lidah Pak
Qadar mulai menjilati bibir
kemaluanku dengan rakusnya.
Lidahnya ditekan masuk ke
dalam kemaluanku dengan
satu jarinya mempermainkan
klitorisku, tangannya yang
lain dijulurkan ke atas
meremasi payudaraku.
aEsUhhhaE|!aEt aku benar-benar
menikmatinya, mataku
terpejam sambil menggigit
bibir bawah, tubuhku juga
menggelinjang oleh sensasi
permainan lidah beliau. Aku
mengerang pelan meremas
rambutnya yang tipis, kedua
paha mulusku mengapit erat
kepalanya seolah tidak
menginginkannya lepas. Lidah
itu bergerak semakin liar
menyapu dinding-dinding
kemaluanku, yang paling enak
adalah ketika ujung lidahnya
beradu dengan klitorisku,
duhhaE|rasanya geli seperti
mau ngompol. Butir-butir
keringat mulai keluar seperti
embun pada sekujur tubuhku.
Setelah membuat vaginaku
basah kuyup, beliau berdiri
dan melepaskan diri. Dia
membuka celana panjang
beserta celana dalamnya
sehingga aE~burungaE? yang
daritadi sudah sesak dalam
sangkarnya itu kini dapat
berdiri dengan dengan tegak.
Digenggamnya benda itu dan
dibawa mendekati vaginaku
aEsBapak masukin sekarang aja
yah Dik, udah ga sabar nihaEt
aEsEiitaE|bentar Pak, bapak kan
belum ngerasain mulut saya
nih, dijamin ketagihan dehaEt
kataku sambil meraih
penisnya dan turun dari meja
Kuturunkan badanku
perlahan-lahan dengan
gerakan menggoda hingga
berlutut di hadapannya. Penis
dalam genggamanku itu
kucium dan kujilat perlahan
disertai sedikit kocokan.
Benda itu bergetar hebat
diiringi desahan pemiliknya
setiap kali lidahku
menyapunya. Sekarang
kubuka mulutku untuk
memasukkan penis itu.
HhmmaE|.hampir sedikit lagi
masuk seluruhnya tapi
nampaknya sudah mentok di
tenggorokanku. Boleh juga
penisnya untuk seusia beliau,
walaupun tidak seperkasa
orang-orang kasar yang
pernah ML denganku, miliknya
cukup kokoh dan dihiasi
sedikit urat, bagian kepalanya
nampak seperti cendawan
berdenyut-denyut.
Dalam mulutku penis itu
kukulum dan kuhisap,
kugerakkan lidahku memutar
mengitari kepala penisnya.
Sesekali aku melirik ke atas
melihat ekspresi wajah beliau
menikmati seponganku.
Berdasarkan pengalaman,
sudah banyak cowok
kelabakan dengan oral sex-
ku, mereka biasa mengerang-
ngerang tak karuan bila
lidahku sudah beraksi pada
penis mereka, Pak Qadar pun
termasuk diantaranya. Beliau
mengelus-elus rambutku dan
mengelap dahinya yang sudah
bercucuran keringat dengan
sapu tangan. Namun ada
sedikit gangguan di tengah
kenikmatan. Terdengar suara
pintu diketuk sehingga kami
agak panik. Pak Qadar buru-
buru menaikkan kembali
celananya dan meneguk air
dari gelasnya. Aku disuruhnya
sembunyi di bawah meja
kerjanya.
aEsYaaE|yaaE|sebentar tanggung ini
hampir selesaiaEt sahutnya
membalas suara ketukan
Dari bawah meja aku
mendengar beliau sudah
membuka pintu dan berbicara
dengan seseorang yang aku
tidak tahu. Kira-kira tiga
menitan mereka berbicara,
Pak Qadar mengucapkan
terima kasih pada orang itu
dan berpesan agar jangan
diganggu dengan alasan
sedang lembur dan banyak
pekerjaan, lalu pintu ditutup.
aEsSiapa tadi itu Pak, sudah
aman belum ?aEt tanyaku
setelah keluar dari kolong
meja
aEsTenang cuma karyawan
mengantar surat ini kok, yuk
terusin lagi DikaEt
Lalu dengan cueknya aku
melepaskan baju dan rokku
yang sudah terbuka hingga
telanjang bulat di
hadapannya. Aku berjalan ke
arahnya yang sedang
melongo menatapi
ketelanjanganku, kulingkarkan
lenganku di lehernya dan
memeluknya. Dari tubuhnya
tercium aroma khas parfum
om-om. Beliau yang
memangnya pendek terlihat
lebih pendek lagi karena saat
itu aku mengenakan sepatu
yang solnya tinggi. Kudorong
kepalanya diantara kedua
gunungku, beliau pasti
keenakan kuperlakukan
seperti itu. Tiba-tiba aku
meringis dan mendesis karena
aku merasakan gigitan pada
puting kananku, beliau
dengan gemasnya menggigit
dan mencupangi putingku itu,
giginya digetarkan pada
bulatan mungil itu dan
meninggalkan jejak
disekitarnya. Tangannya
mengelusi punggungku
menurun hingga mencengkram
pantatku yang bulat dan
padat.
aEsHhmmaE|sempurna sekali
tubuhmu ini dik, pasti rajin
dirawat yaaEt pujinya sambil
meremas pantatku.
Aku hanya tersenyum kecil
menanggapi pujiannya lalu
kubenamkan kembali
wajahnya ke payudaraku
yang sebelah, beliaupun
melanjutkan menyusu dari
situ. Kali ini dia menjilati
seluruh permukaannya hingga
basah oleh liurnya lalu diemut
dan dihisap kuat-kuat.
Tangannya dibawah sana juga
tidak bisa diam, yang kiri
meremas-remas pantat dan
pahaku, yang kanan
menggerayangi vaginaku dan
menusuk-nusukkan jarinya di
sana. Sebagai respon aku
hanya bisa mendesah dan
memeluknya erat-erat, darah
dalam tubuhku semakin
bergolak sehingga walaupun
ruangan ini ber-AC,
keringatku tetap menetes-
netes. Mulutnya kini
merambat naik menjilati leher
jenjangku, beliau juga
mengulum leherku dan
mencupanginya seperti
Dracula memangsa korbannya.
Cupangannya cukup keras
sampai meninggalkan bercak
merah selama beberapa hari.
Akhirnya mulutnya bertemu
dengan mulutku dimana lidah
kami saling beradu dengan
liar. Lucunya karena dia lebih
pendek, aku harus sedikit
menunduk untuk bercumbuan
dengannya. Sambil berciuman
tanganku meraba-raba
selangkangannya yang sudah
mengeras itu.
Setelah tiga menitan karena
merasa pegal lidah dan susah
bernafas kami melepaskan diri
dari ciuman.
aEsMasukin aja sekarang yah
PakaE|saya udah gak tahan
nihaEt pintaku sambil terus
menurunkan resleting
celananya.
Namun belum sempat aku
mengeluarkan penisnya, dia
sudah terlebih dulu
mengangkat tubuhku. Wow,
pendek-pendek gini kuat juga
ternyata, dia masih sanggup
menggendongku dengan
kedua tangan lalu diturunkan
diatas meja kerjanya. Dia
berdiri diantara kedua belah
pahaku dan membuka
celananya, tangannya
memegang penis itu dan
mengarahkannya ke vaginaku.
Tangan kananku meraih
benda itu dan membantu
menancapkannya. Perlahan-
lahan batang itu melesak
masuk membelah bibir
vaginaku hingga tertanam
seluruhnya.
aEsOoohhhaE|.!aEt desahku dengan
tubuh menegang dan
mencengkram bahu Pak
Qadar.
aEsSakit dik ?aEt tanyanya
Aku hanya menggeleng
walaupun rasanya memang
agak nyeri, tapi itu cuma
sebentar karena selanjutnya
yang terasa hanyalah nikmat,
ya nikmat yang semakin
memuncak. Aku tidak bisa
tidak mendesah setiap kali
beliau menggenjotku, tapi aku
juga harus menjaga volume
suaraku agar tidak terdengar
sampai luar, untuk itu kadang
aku harus menggigit bibir
atau jari. Beliau semakin
cepat memaju-mundurkan
penisnya, hal ini menimbulkan
sensasi nikmat yang terus
menjalari tubuhku. Tubuhku
terlonjak-lonjak dan tertekuk
sehingga payudaraku semakin
membusung ke arahnya.
Kesempatan ini tidak disia-
siakan beliau yang langsung
melumat yang kiri dengan
mulutnya dan meremas-remas
yang kanan serta memilin-
milin putingnya. Tak lama
kemudian aku merasa dunia
makin berputar dan tubuhku
menggelinjang dengan
dahsyat, aku mendesah
panjang dan melingkarkan
kakiku lebih erat pada
pinggangnya. Cairan bening
mengucur deras dari vaginaku
sehingga menimbulkan bunyi
kecipak setiap kali beliau
menghujamkan penisnya.
Beberapa detik kemudian
tubuhku melemas kembali dan
tergeletak di mejanya
diantara tumpukan arsip-
arsip dan alat tulis.
Aku hanya bisa mengambil
nafas sebentar karena beliau
yang masih bertenaga
melanjutkan ronde
berikutnya. Tubuhku
dibalikkan telungkup diatas
meja dan kakiku ditarik
hingga terjuntai menyentuh
lantai, otomatis kini pantatku
pun menungging ke arahnya.
Sambil meremas pantatku dia
mendorongkan penisnya itu
ke vaginaku.
aEsUuhhaE|nggghhhaE|!aEt desisku
saat penis yang keras itu
membelah bibir kemaluanku.
Dalam posisi seperti ini
sodokannya terasa semakin
keras dan dalam, badanku
pun ikut tergoncang hebat,
payudaraku serasa tertekan
dan bergesekan di meja
kerjanya. Pak Qadar
menggenjotku semakin cepat,
dengusan nafasnya
bercampur dengan desahanku
memenuhi ruangan ini. Sebisa
mungkin aku menjaga suaraku
agar tidak terlalu keras, tapi
tetap saja sesekali aku
menjerit kalau sodokannya
keras. Mulutku mengap-
mengap dan mataku menatap
dengan pandangan kosong
pada foto beliau dengan
istrinya yang dipajang di
sana. Beberapa menit
kemudian dia menarik tubuh
kami mundur beberapa
langkah sehingga payudaraku
yang tadinya menempel
dimeja kini menggantung
bebas. Dengan begitu
tangannya bisa
menggerayangi payudaraku.
Pak Qadar kemudian
mengajak ganti posisi,
digandengnya tanganku
menuju sofa. Dia menjatuhkan
pantatnya disana, namun dia
mencegahku ketika aku mau
duduk, disuruhnya aku berdiri
di hadapannya, sehingga
kemaluanku tepat di depan
wajahnya.
aEsBentar yah Dik, bapak
bersihin dulu punyamu iniaEt
katanya seraya menempelkan
mulutnya pada kerimbunan
bulu-bulu kemaluanku.
aEsSslluurrppaE|.sshhrrpaEt
dijilatinya kemaluanku yang
basah itu, cairan orgasmeku
diseruputnya dengan
bernafsu. Aku mendesis dan
meremas rambutnya sebagai
respon atas tindakannya.
Vaginaku dihisapinya selama
sepuluh menitan , setelah
puas aku disuruhnya naik ke
pangkuannya dengan posisi
berhadapan. Kugenggam
penisnya dan kuarahkan ke
lubangku, setelah rasanya
pas kutekan badanku ke
bawah sehingga penis beliau
tertancap pada vaginaku.
Sedikit demi sedikit aku
merasakan ruang vaginaku
terisi dan dengan beberapa
hentakan masuklah batang
itu seluruhnya ke dalamku.
20 menit lamanya kami
berpacu dalam gaya demikian
berlomba-lomba mencapai
puncak. Mulutnya tak henti-
henti mencupangi payudaraku
yang mencuat di depan
wajahnya, sesekali mulutnya
juga mampir di pundak dan
leherku. Akupun akhirnya
tidak tahan lagi dengan
memuncaknya rasa nikmat di
selangkanganku, gerak naik
turunku semakin cepat
sampai vaginaku kembali
mengeluarkan cukup banyak
cairan orgasme yang
membasahi penisnya dan
daerah selangkangan kami.
Semakin lama goyanganku
semakin lemah, sehingga
tinggal beliau saja yang masih
menghentak-hentakkan
tubuhku yang sudah lemas di
pangkuannya. Belakangan
beliau melepaskanku juga dan
menyuruh menyelesaikannya
dengan mulut saja. Aku masih
lemas dan duduk bersimpuh di
lantai di antara kedua
kakinya, kugerakkan tangan
kananku meraih penisnya
yang belum ejakulasi. Benda
itu, juga bulu-bulunya basah
sekali oleh cairanku yang
masih hangat. Aku membuka
mulut dan mengulumnya.
Seiring dengan tenagaku
yang terkumpul kembali
kocokanku pun lebih cepat.
Hingga akhirnya batang itu
semakin berdenyut diiringi
suara erangan parau dari
mulutnya. Sperma itu
menyemprot langit-langit
mulutku, disusul semprotan
berikutnya yang semakin
mengisi mulutku, rasanya
hangat dan kental dengan
aromanya yang familiar
denganku. Inilah saatnya
menjajal teknik menyepongku,
aku berkonsentrasi menelan
dan mengisapnya berusaha
agar cairan itu tidak
terbuang setetespun. Setelah
perjuangan yang cukup berat
akhirnya sempotannya makin
mengecil dan akhirnya
berhenti sama sekali. Belum
cukup puas, akupun
menjilatinya sampai bersih
mengkilat, perlahan-lahan
benda itu melunak kembali.
Pak Qadar bersandar pada
sofa dengan nafas terengah-
engah dan mengibas-
ngibaskan leher kemejanya.
Setelah merasa segar kami
kembali memakai pakaian
masing-masing. Dia memuji
permainanku dan berjanji
berusaha membantuku
mencari pemecahan masalah
ini. Disuruhnya aku besok
datang lagi pada jam yang
sama untuk mendengar
keputusannya.
Ternyata ketika besoknya
aku datang lagi keputusannya
masih belum kuterima,
malahan aku kembali
digarapnya. Rupanya dia
masih belum puas dengan
pelayananku. Dan besok
lusanya yang kebetulan
tanggal merah aku diajaknya
ke sebuah hotel melati di
daerah Tangerang. Disana aku
digarapnya setengah hari dari
pagi sampai sore, bahkan
sempat aku dibuat pingsan
sekali. Luar biasa memang
daya tahannya untuk
seusianya walaupun dibantu
oleh suplemen pria. Namun
perjuanganku tidaklah sia-sia,
ketika sedang berendam
bersama di bathtub dia
memberitahukan bahwa aku
sudah diperbolehkan ikut
dalam ujian.
aEsKesananya berusaha sendiri
yah Dik, jangan minta yang
lebih lagi, bapak sudah
perjuangkan hal ini dalam
rapat kemarinaEt katanya
sambil memencet putingku
aEsTenang aja Pak, saya juga
tahu diri kok, yang penting
saya ga mau perjuangan saya
selama ini sia-siaaEt jawabku
dengan tersenyum kecil
Akhirnya akupun lulus dalam
mata kuliah itu walaupun
dengan nilai B karena UAS-
nya lumayan sulit, lumayanlah
daripada tidak lulus. Dan dari
sini pula aku belajar bahwa
terkadang perjuangan itu
perlu pengorbanan apa saja.