PDA

View Full Version : Simpanan Mama


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Mamaku itu memang hebat. Di
usianya yang sudah kepala
lima dia masih tetap cantik
dan sexy. Di pekerjaanpun ia
tetap paten. Karirnya melesat
terus. Jabatannya kini sudah
wakil direktur di perusahaan
tempatnya bekerja. Karena
hidup dengan Mama
sejahtera, maka aku memilih
untuk tinggal bersamanya
sejak ia bercerai dengan
Papaku setahun yang lalu.
Papaku yang cuma bekerja
sebagai pegawai rendahan,
mana bisa memenuhi
kebutuhanku yang doyan
hura-hura. Jangankan
membelikanku mobil, sepeda
motor aja Papa enggak bisa.
Dua orang adikku juga memilih
tinggal bersama Mama. Sama
sepertiku, mereka juga doyan
hura-hura. Ngabisin duit
Mama yang aku enggak tahu
gimana caranya, selalu saja
ada. Apa yang kami minta
selalu bisa dipenuhinya.
Namaku Tomi. Semester enam
fakultas ekonomi di sebuah
perguruan tinggi swasta yang
beken di Jakarta. Adikku Mimi.
Juga kuliah di fakultas
ekonomi satu kampus
denganku. Tapi dia masih
duduk di semester dua.
Adikku yang paling kecil, Toni.
Dia masih kelas tiga SMU.
Dari kecil selalu hidup
bergelimang harta, dari
penghasilan Mamaku,
membuat kehidupan glamour
sangat melekat pada diri
kami. Masing-masing kami
dibelikan Mama mobil sebagai
alat transportasi. Uang jajan
tak pernah kurang. Karena
itu aku dan adik-adikku tak
pernah protes dengan
apapun yang dikerjakan oleh
Mamaku. Aku dan adik-adikku
selalu kompak membela Mama.
Termasuk saat bercerai
dengan Papa. Padahal sebab
perceraian kedua orangtuaku
itu adalah jelas-jelas karena
kesalahan Mama. Papa
menangkap basah Mama
sedang pesta sex dengan
tiga orang gigolo muda di
hotel!
Meski begitu, aku dan adik-
adikku tetap aja kompak
membela Mama. Soalnya belain
Papa juga enggak ada
untungnya. Lagian kelakuanku
dan adik-adikku juga enggak
beda-beda amat sama Mama.
Aku dan Toni pernah bawa
perek ke rumah. Si Mimi tahu
tentang hal itu dan dia sih
santai-santai aja. Soalnya dia
juga sering bawa cowok
ganteng ke kamarnya.
Setelah bercerai, rumah kami
yang megah jadi seperti
rumah bordil aja deh. Mama,
aku, Mimi, dan Toni, rutin
bawa partner sex kemari.
Karena kami sama gilanya,
jadi asyik. Kalau waktu ada
Papa enggak asyik. Papa suka
rese. Meski tak bisa memarahi
kelakukan binal anak-
anaknya, tapi Papa suka
ngomel atau ngasih nasehat.
Huh, menyebalkan aja Papaku
itu.
Dari banyak cowok, si Willy
yang paling sering dibawa
Mama ke rumah. Dia tuh,
kayak suami baru Mama aja
jadinya. Hampir tiap hari dia
ada di rumah. Paling kalau
Mama lagi bosen dan ingin
cari variasi pasangan lain,
barulah dia ngibrit dari
rumahku, balik ke kostnya.
Karena seringnya si Willy di
rumah, aku dan adik-adikku
jadi akrab dengan dia. Apalagi
usianya enggak jauh dariku.
Dia juga masih kuliah.
Umurnya hanya lebih tua dua
tahun dariku. Obrolan kami
nyambung. Tentang apa saja.
Otomotif, sport, musik, dan
pasti ngesex. Hehe. Bisa
dibilang, si Willy ini piaraan
Mama. Segala biaya hidupnya,
Mamaku yang nanggung.
Si Mimi paling senang dengan
keberadaan Willy di rumah.
Piaraan Mama itu
dimanfaatinnya juga buat
muasin nafsunya yang binal.
aEsHabisnya si Willy itu ganteng
banget sih. Macho. Mana
bodinya oke banget lagi.
Belum lagi kontolnya. Gede
banget Tom. Ngesexnya gila-
gilaan. Pantes aja Mama
paling demen ama dia
dibandingin ama gigolonya
yang lain,aEt kata Mimi padaku
suatu hari. Dasar nakal. Dasar
maniak tuh si Mimi.
Mendengar cerita si Mimi
tentang kontolnya si Willy
membuatku penasaran juga.
Eits. Jangan salah sangka dulu
men. Aku bukan gay. Jelas-
jelas aku cowok straight.
Cuman, dengar ukuran kontol
orang sampai 28 sentimeter
kan jelas bikin penasaran.
Jangankan aku, cowok lain
pasti juga penasaran. Gila aja
kontol bisa segede itu!
Selama ini kupikir kontolku
sudah paling gede.
Panjangnya sekitar delapan
belas senti. Susah-susah lho,
cari kontol sepanjang
punyaku ini di Indonesia.
Ternyata punya si Willy malah
lebih gila. sampai 28 senti
men, selisih sepuluh senti dari
punyaku. Ambil penggarisan
deh, liat dari titik 0 senti
sampai 28 senti, panjang
banget kan ukuran segitu.
Meski penasaran, enggak
mungkin kan aku permisi ke
dia buat liat kontolnya. Gila
aja. enggak usah ya. Pernah
kepikiran buatku untuk
ngintip dia saat ngentot
dengan Mamaku atau si Mimi.
Tapi males ah. Ngapain juga
ngeliat saudara kandung
sendiri ngentot. enggak ada
seru-serunya. Entar aku jadi
incest lagi. Bikin berabe aja.
Namun, yang namanya rezeki
memang enggak kemana.
Waktu itu malem hari. Hampir
dini hari malah. Aku baru
pulang. Biasalah, ngabis-
ngabisin duit Mama. Semua
orang sudah tidur kayaknya.
Kerongkonganku rasanya
kering banget. Haus. Aku
langsung ke dapur, ingin
ngambil minuman dari lemari
es.
Pas aku nyampe di dapur aku
terkesima. Kulihat Mama
sedang berbaring telentang di
atas meja makan kami.
Pakaian atasannya terbuka
memamerkan buah dadanya
yang masih kencang dan
besar. Sementara bagian
bawah tubuhnya tak
menggenakan penutup apa-
apa. Sekitar memeknya yang
penuh jembut lebat kulihat
belepotan cairan putih kental
sampai ke perutnya. Banyak
banget. Mama tak sadar
dengan kehadiranku, karena
saat itu ia sedang
memejamkan matanya sambil
mendesah-desah.
aEsNgg.. Enak banget Will,aEt
katanya dengan suara
mendesis. Rupanya dia baru
aja dientot sama si Willy di
atas meja makan itu.
Aku segera mengalihkan
tatapanku dari tubuh
Mamaku yang mengangkang
itu. Entah kenapa, kok aku
rasakan aku kayaknya
terangsang. Bisa berabe nih.
Pandanganku kualihkan ke
lemari es. Saat menatap ke
arah sana aku kembali kaget.
Disana berdiri si Willy. Dia tak
menggenakan pakaian apapun
menutupi tubuhnya. Badannya
yang tinggi dan kekar
berotot itu polos. Dia sedang
menenggak coca cola dari
botol.
Mataku langsung menatap ke
arah kontolnya. Gila men. Si
Mimi enggak bohong. Di
selangkangannya kulihat
sebatang kontol dengan
ukuran luar biasa. Sedang
mengacung tegak ke atas
mengkilap karena belepotan
spermanya sendiri kayaknya.
Batangnya gemuk, segemuk
botol coca cola yang sedang
dipegangnya. Panjang banget.
Kepala kontolnya yang
kemerahan seperti jamur
melewati pusarnya. Batang
gemuk itu penuh urat-urat.
Aku sampai melotot
melihatnya. Kupandangi kontol
itu dengan teliti. Ck.. Ck.. Ck..
Sadis.
aEsBaru pulang Tom?aEt kata Willy
menegurku.
Ia sudah menyadari
kehadiranku rupanya. Aku
segera menolehkan
pandanganku dari kontolnya.
Gawat kalau ia tahu aku
sedang serius mengamati detil
kontolnya itu.
aEsHe eh. Iya,aEt sahutku sambil
mengangguk.
Untung saja lampu di dapur
itu bernyala redup. kalau
terang benderang, pasti Willy
bisa mengetahui kalau
wajahku sedang bersemu
merah saat itu. Malu.
Mamaku yang sedang
berbaring lemas diatas meja
makan tiba-tiba melompat
bangun. Ia sibuk mencari-cari
roknya untuk menutupi
bagian bawah tubuhnya yang
terbuka.
aEsEh, Tomi. sudah lama kau
datang?aEt kata Mama dengan
ekspresi malu.
aEsBaru aja ma,aEt sahutku.
Aku beraksi seperti tidak
terjadi apa-apa disitu. Segera
kuambil minuman dingin dari
lemari es. Tubuh Willy yang
berkeringat tepat
disampingku. Saat mataku
melirik ke arah dalam lemari
es, mencari minuman,
kusempatkan untuk melirik
sekali lagi ke arah batang
kontol Willy. Kali ini aku bisa
melihatnya lebih jelas. Karena
ada bantuan penerangan dari
lampu lemari es. Gila! Bagus
banget bentuk kontolnya,
pikirku.
Setelah mendpatkan minuman
dingin, aku segera
meninggalkan dapur.
Tinggallah Mamaku dan Willy
disana. Aku tak tahu apakah
mereka masih melanjutkan
lagi permainan cabul mereka
atau tidak. Yang pasti
sepanjang jalan menuju
kamarku, pikiranku dipenuhi
dengan kontol si Willy yang
luar biasa itu.
aEsGila! Gila!aEt rutukku dalam
hati.
Kok aku bisa mikirin kontol
punya cowok lain sih? Ada
apa denganku ini? Rasanya
malam itu aku susah untuk
tidur. Setelah membalik-
balikkan badan beratus kali di
atas ranjangku yang empuk,
barulah aku bisa tertidur.
Itupun setelah jarum jam
menunjukkan pukul empat
pagi. Sebentar lagi pagi
menjelang.
Berjumpa dengan Willy
keesokan harinya aku jadi
rada-rada grogi. Entah
kenapa. Mataku jadi suka
mencuri pandang ke arah
selangkangannya. Aku jadi
menyadari, kalau ternyata
saat selangkangannya
ditutupi celana seperti itu,
ukuran tonjolan
diselangkangan itu, memang
beda dengan punyaku. Jauh
lebih menonjol kayaknya. Gila!
Gila! Rutukku lagi dalam hati.
Kok aku jadi mikirin itu aja
sih?!
Si Willy sih enggak ada
perubahan. Ia tetap cuek aja
seperti biasanya. Ia tak
merasa ada yang aneh
dengan kejadian semalam.
Sepertinya ia tak perduli
kalao aku memergokinya
telanjang bulat bersama
Mamaku. Kayaknya, buatnya
itu hal yang lumrah saja.
Dasar gigolo profesional dia.
Sebulan berlalu. Dan selama
rentang waktu itu, aku jadi
pengamat selangkangan Willy
jadinya. Entah kenapa, aku
selalu berharap akan punya
kesempatan lagi untuk
ngelihat perkakas gigolo itu.
Tapi tak juga pernah
kesampaian. Sampai suatu
hari.
Aku ingin berenang pagi-pagi
di kolam renang yang ada di
halaman belakang rumahku.
Ketika aku sampai di kolam
renang mataku langsung
menangkap sebuah tontonan
cabul. Si Mimi sedang ngentot
dengan Willy. Dasar nekat si
Mimi. Padahal Mama kan masih
ada di kamarnya pagi-pagi
begini.
Adikku yang cantik dan sexy
itu sedang nungging di tepi
kolam renang. Dibelakangnya
Willy asyik menggenjot
kontolnya dalam lobang
vagina adikku itu.
Genjotannya liar dan keras.
Menghentak-hentak. Tubuh si
Mimi sampai terdorong-
dorong ke depan karena
hentakan itu. Kelihatannya si
Mimi keenakan banget. Bibir
bawahnya digigit-gigitnya
dengan giginya. Ia
menggelinjang-gelinjang sambil
merem melek menikmati
hajaran kontol Willy yang luar
biasa itu di memeknya.
Aku terangsang hebat. Celana
renang segitiga yang
kukenakan, tak lagi bisa
menampung kontolku yang
membengkak. Aku tak tahu.
Aku terangsang karena apa?
Apakah karena melihat
persetubuhan mereka, atau
karena serius mengamati
kontol besar Willy yang keluar
masuk vagina si Mimi itu.
Entahlah.
Tanganku langsung mengocok
batang kontolku yang sudah
kukeluarkan dari celana
renangku. Kukocok sekuat
tenaga. Cepat. Aku ingin
segera menumpahkan
spermaku.
aEsEh, Tom. Ngapain luh?aEt tiba-
tiba kudengar suara Mimi
menegurku.
Mataku yang sedang merem
melek langsung menatapnya.
Kulihat ia menolehkan
wajahnya yang cantik
memandangku yang sedang
berdiri mengangang sambil
ngocok. Willy tersenyum
memandangku. Mereka tak
menghentikan permainan
mereka.
aEsmemang lo enggak bisa liat,
gue lagi ngapain,aEt jawabku
cuek. Willy tertawa kecil
mendengar jawabanku.
aEsGila lo,aEt kata Mimi. Setelah
itu ia kembali asyik menikmati
genjotan Willy.
Akhirnya akupun orgasme
sambil memandangi Mimi dan
Willy yang terus bercinta. Tak
lama setelah itu si Willy yang
orgasme di mulut Mimi.
Sebelum spermanya sempat
mencelat dari lobang
kencingnya, Willy
menyempatkan menyabut
kontolnya yang gemuk dan
panjang itu dari vagina Mimi.
Lalu disuruhnya Mimi membuka
mulutnya lebar-lebar
menyambut tumpahan sperma
Willy yang deras. Aku benar-
benar terbius birahi melihat
detik-detik Willy
menumpahkan spermanya di
mulut adikku itu. Entah
kenapa nafsuku terasa
menggelegak melihat kontol
itu menyemburkan spermanya
yang deras berulang-ulang.
Kupelototi setiap detik
orgasme Willy itu tanpa
berkedip sama sekali. Aku tak
ingin kehilangan momen yang
indah itu sedetikpun.
aEsGila lo. Adik sendiri ngentot
ditonton,aEt kata Mimi padaku.
Saat itu kami bertiga
berbaring di tepi kolam
renang kelelahan. Kalau orang
melihat kami saat itu, mereka
tidak mengetahui kalau kami
baru saja orgasme tadi. Yang
melihat pasti hanya mengira
kami sedang berjemur
menikmati cahaya matahari di
tepi kolam renang.
aEsHabisnya elo berdua sama
gilanya sih. Masak pagi-pagi
ngentot disini. Ketahuan
Mama gimana?aEt sahutku.
aEsCuek. Mama enggak bakalan
bangun. Sebelum ngentotin
gua, Mama habis dihajar sama
si Willy. Jadi Mama pasti
sedang ngorok kecapaian,aEt
jawab Mimi yakin.
aEsBenar Wil?aEt tanyaku.
aEsYap,aEt sahut Willy singkat.
Dasar si Willy. Habis ngentot
dengan Mama, masih sanggup
ngentoti si Mimi sebinal tadi.
Benar-benar profesional nih
cowok, pikirku. Itu
pengalaman keduaku melihat
kontol si Willy. Seru? Belum!
Ada pengalaman berikutnya
yang lebih seru dari itu.
Dua minggu kemudian. Aku
baru bangun tidur siang.
Sekitar jam tiga sore. Waktu
itu hari Rabu, aku enggak
ada kelas. Karena itu
biasanya habis tidur siang,
sorenya aku latihan tenis.
Kuubek-ubek kamarku, tapi
tak kutemukan dimana raket
tenisku berada. Jangan-
jangan dipinjam si Toni,
pikirku. Adik bungsuku itu
memang doyan banget minjem
barang-barangku tanpa
permisi.
Aku segera menuju kamarnya
yang terletak di pavilyun
samping bangunan utama
rumah kami. Toni memang
sengaja diberikan kamar
disitu. Maklum ABG. Dia doyan
nge-Band bareng temannya.
Daripada ribut dengar suara
alat musik yang dimainkannya
bareng-bareng temannya
maka lebih aman
meletakkannya disitu. Jadi
suaranya tidak terlalu keras
terdengar di dalam rumah.
Mending suara musik yang
dimainkan asyik di dengar
kuping. Ini malah musik yang
enggak jelas juntrungannya.
Metal yang enggak mutu. Ups,
jangan salah sangka lagi. Aku
bukan anti metal. Aku doyan
metal. Tapi metal yang
enggak dimaenin sama Toni
dan teman-temannya. He.. he..
Pintu kamar Toni tertutup
rapat. Juga gorden
jendelanya. Tumben. Pikirku.
Jarang-jarang gorden
kamarnya ditutup. Paling juga
kalau sudah malem kalau dia
tidur. Dari kamarnya
terdengar hingar bingar
musik metal dari tape. Si Toni
berarti ada di kamar, pikirku.
Kugenggam gerendel pintu,
kuputar. Tak terkunci. Kubuka
pintu dan langsung
melongokkan wajahku ke
kamarnya. Aku sudah
bersiap-siap untuk ngomel ke
dia.
aEsToni! sudah berapa kali gue
bilang, jangan ambil barang-
barang gue seenaknya..
Hahh?!!,aEt kata-kataku
terhenti segera.
Mulutku menganga,
tenggorokanku rasanya
tercekat. Mataku melotot
melihat peristiwa yang terjadi
dalam kamar Toni.
Adikku itu sedang bermain
cinta di kamarnya. Tubuhnya
telentang di atas ranjang.
Pakaian sekolahnya belum
terlepas seluruhnya. Hanya
resleting celananya saja yang
terbuka lebar. Kontolnya
yang nongol dari celah
resleting itu, ngaceng total
sedang dikulum oleh
seseorang yang sedang
menungging dalam posisi
berlawanan arah dengan Toni
di atas tubuhnya.
Aku sih sudah tahu kalau
kelakuan adikku yang masih
ABG ini sama bejatnya seperti
aku. Aku sudah sangat tahu
kalau dia doyan ngesex
dengan orang lain. Harusnya
aku tak perlu kaget
melihatnya sedang in action
seperti ini. Tapi gimana aku
enggak kaget kali ini, yang
kulihat saat ini sangat tidak
biasa. Toni maen kulum-
kuluman kontol bukan dengan
cewek. Tapi dengan cowok
men. Dan cowok yang sedang
mengulum kontolnya itu
adalah si Willy! Shit!
Si Tonipun edan. Masak
mulutnya juga ngulum kontol
si Willy? Ngawur! Yang benar
aja, kontol gede si Willy itu
dikuluminya dengan penuh
nafsu seperti ngulum permen
lolipop saja. Toni kulihat salah
tingkah setelah menyadari
kehadiranku. Buru-buru
dilepaskannya kontol si Willy
dari mulutnya. Ia segera
bangkit dan membereskan
celananya. Sementara si Willy
kulihat tenang-tenang saja.
aEsNgapain Tom? Masuk kamar
gue kok enggak ngetuk pintu
dulu,aEt kata Toni terlihat
kurang suka padaku.
aEsMemang elo pernah ngetuk
pintu kalau masuk kamar
gua?aEt sahutku. Kupandangi
keduanya dengan tatapan
tajam. Willy kulihat tersenyum
padaku.
aEsHai Tom,aEt katanya
melambaikan tangan seperti
tak ada apa-apa.
aEsNgapain elo berdua?aEt kataku
dingin.
aEsEnggak ngapa-ngapain. Mau
ngapain elo?aEt sahut Toni
masih salah tingkah.
aEsEnggak ngapa-ngapain?!
Jelas-jelas mata gua ngelihat
elo berdua sedang emut-
emutan kontol kok elo bisa
ngomong enggak ngapa-
ngapain. Elo homo?!aEt kataku.
aEsSiapa yang homo? Enak aja!aEt
kata Toni protes.
aEsKalau bukan homo, apa
namanya cowok sama cowok
emut-emutan kontol begitu?
Nah elo, kok elo bisa..,aEt
kataku pada Willy.
Kalimatku tak kusambung. Aku
menatap bingung padanya.
aEsSante aja men. Ini hal yang
biasa kok,aEt sahut Willy tanpa
beban.
aEsBiasa??!aEt tanyaku bingung.
Dahiku mengernyit.
aEsIya. Gue sama Toni kebetulan
lagi sama-sama horny. enggak
ada pelampiasan, ya sudah,
kenapa kita enggak maen
berdua aja. Toh tujuannya
cuman untuk melampiaskan
birahi doang. Maen sama
cewek juga emut-emutan
kan. Gua punya mulut, Toni
punya mulut, kan bisa dipake
untuk ngemut. Hasilnya tetap
sama kok,aEt sahut Willy
tenang.
Gigolo ganteng itu benar-
benar tenang luar biasa.
Sepertinya apa yang
dilakukannya bersama Toni itu
bukan hal yang aneh. Aku jadi
terkesima mendengar
jawabannya. Toni kulihat
mengangguk-angguk
mendengar kata-kata Willy.
Duduk dengan seragam
SMUnya diatas ranjang, adik
bungsuku itu tak berkata
apa-apa.
aEsGua enggak ngerti deh. Gua
yang gila atau elo berdua
yang gila,aEt kataku.
aEsEnggak ada yang gila Tom.
Apa gue pernah ngatain elo
gila karena elo suka
mandangin kontol gua?
enggak pernah kan?aEt
aEsMaksud elo?aEt
aEsJangan pura-pura bego. Gue
tahu kok elo suka curi-curi
pandang lihat tonjolan di
selangkangan gue. Apalagi
kalau pas gue telanjang bulat.
Mata elo kan sampai melotot
ngelihat adik gue ini kan,aEt
kata Willy.
Ia menggoyang-goyangkan
kontolnya yang sudah lemas.
Memamerkannya padaku. Aku
tak tahu mau bilang apa lagi.
Tak kusangka Willy
mengetahui kalau aku selalu
memperhatikan perkakasnya
selama ini.
aEsSudahlah. Sekarang elo mau
berdiri terus disitu sambil
ngelihatin kita sekaligus
melototin kontol gue, atau
mau ikutan bareng kita
menikmati anugerah yang kita
miliki. Tom kita harus
bersyukur lo, kita bertiga
kan dianugerahi kontol yang
punya ukuran diatas rata-
rata. enggak banyak lo orang
yang dianugerahi hal
beginian,aEt kata Willy.
Benar yang dikatakan Willy.
Kami bertiga memang punya
ukuran kontol yang diatas
rata-rata. Adikku si Tony
kulihat juga punya kontol
yang gede. Ukurannya enggak
jauh-jauh dengan ukuranku.
Akal sehatku sirna. Aku yang
memang sudah cukup lama
tergoda dengan kontol si Willy
akhirnya pasrah saja saat
Willy dan Toni membimbingku
ke arah ranjang. Kubiarkan
saja mereka mempreteli
seluruh pakaianku. Kami
bertiga telanjang bulat di
dalam kamar Toni.
Willy memberikan
penghormatan khusus padaku.
Rasa penasaranku pada
kontolnya yang gede itu
dipuaskan olehnya. Willy
mengangkangi leherku saat
aku berbaring telentang di
atas ranjang. Kontolnya yang
besar ditampar-
tamparkannya ke pipiku.
Birahiku menggelegak.
Pertama kali seumur hidupku
aku diperlakukan seperti ini.
Saking menggelegaknya
birahiku akhirnya apa yang
tak pernah terpikirkan
selama ini dibenakku
kulakukan. Kukulum kontol
Willy sepuas-puasnya. Aku
menggila. Seperti anjing
ketemu tulang, kulahap
kontol Willy. Aku tak ubahnya
Mamaku dan Mimi yang
tergila-gila pada kontol gigolo
ganteng ini.
Rupanya Tonipun sama
tergila-gilanya seperti aku. Ia
berebutan denganku
mengerjai kontol besar si
Willy. Seringkali kudorong
wajah ganteng adikku yang
masih abg itu menjauhi kontol
Willy, karena aku sudah tak
sabar ingin memasukkan
batang gede itu dalam
mulutku. kalau sudah gitu,
Toni cuman bisa bersungut-
sungut padaku. Aku cuek aja.
Sementara Willy tertawa
melihat kami berebutan
kontolnya seperti itu.
aEsKalian sekeluarga sama
binalnya deh,aEt komentarnya.
Ia pasti teringat pada Mama
dan Mimi saat mengoral
kontolnya. Pasti sama
maniaknya seperti aku dan
Toni.
Aku jadi terlupa, bahwa aku
laki-laki straight. Aku jadi
menikmati permainan laki-laki
seperti ini. Willy rupanya tak
mau melewatkan kontolku
dan Toni. Dia segera membalik
tubuhnya berlawanan arah
denganku. Aku dan Toni
sama-sama berbaring
telentang bersisian. Mulut
kami bergantian mengulum
kontol Willy. Sementara Willy
yang menungging diatas kami
menggilir kontolku dan Toni.
Mulutnya ganti berganti
mengulum kontolku dan
kontol adikku itu. Saat
mulutnya di kontolku,
tangannya mengocok kontol
Toni. Begitu juga sebaliknya.
Sore itu aku tak jadi latihan
tenis. Kebetulan Mama belum
pulang dari kantor, dan Mimi
tak ada di rumah, kami puas-
puaskan bermain sex bertiga.
Segala apa yang
memungkinkan, kami lakukan
bertiga. Termasuk juga saling
menyodomi satu sama lain.
Baby oil yang biasanya
digunakan Toni untuk coli,
kami gunakan sebagai
pelumas agar kontol tak
terlalu sulit memasuki lobang
pantat. Meski dianal adalah
kali pertama buatku, tapi aku
ternyata bisa menikmatinya.
Diantara rasa sakit dimasuki
kontol dalam lobang pantat,
aku merasakan juga nikmat
yang luar biasa.
Saat sore menjelang, kami
segera cabut menuju kost
Willy. Kami tak mau terganggu
dengan kepulangan Mama dari
tempat kerjanya. Pada Mama,
Willy menelpon bahwa dia tak
menginap di rumah kami
malam itu. Ada kerjaan,
alasannya pada Mama.
Sementara aku dan Toni tak
perlu menelpon Mama. Sudah
biasa kami tak tidur di rumah.
Jadi Mama tak akan merasa
aneh. Malam itu kami puas-
puaskan bermain cinta
bertiga. Tak peduli, bahwa
aku dan Toni adalah saudara
kandung, kami juga saling
menyodomi.
Setelah beberapa kali
bersetubuh, akhirnya kami
bisa memahami posisi masing-
masing. Meskipun kami sama-
sama fleksibel saat bercinta,
namun Toni lebih suka pada
posisi dianal, baik olehku
maupun Willy. Sedangkan aku
dan Willy suka keduanya, baik
dianal dan menganal. Hanya
saja aku lebih menikmati
dianal oleh Willy daripada oleh
Toni. Kontol Willy yang sangat
besar sungguh membuatku
keenakan. Aku sampai
menggelepar-gelepar saat
dianalnya.
kalau menganal, aku lebih
suka melakukannya pada Toni.
Aku sangat suka melihat
ekspresi adikku yang
sepertinya kesakitan namun
terus memaksaku untuk
mengentotnya dengan buas.
Sedangkan kalau menganal
Willy, aku tak menemukan
ekspresi itu. Willy sudah
sangat profesional dalam hal
ini. Ternyata dia adalah gigolo
bagi wanita dan laki-laki
sekaligus. Saat dientot,
ekspresinya hanya penuh
kenikmatan saja. Lagipula,
lobang pantat Willy tak
sesempit lobang pantat si
Toni. Lobang pantat Willy
sudah mengendor. Dia sudah
sering dientot oleh laki-laki
lain.
Kami bercinta tiada henti.
Willy memberikan kami
minuman rahasia miliknya.
Minuman yang membuat
tenaga kami tak kunjung
sirna. Pantas saja tenaga
gigolo ini bak kuda liar. Ia
punya ramuan rahasia
rupanya. Saat kutanyakan
pada Willy, apa cairan itu dan
darimana ia memperolehnya,
gigolo itu tak mau
mengatakannya padaku.
aEsIni rahasia perusahaan,aEt
jawabnya. Aku dan Toni
tertawa mendengar
jawabannya.
Hari kamis esoknya, harusnya
Toni sekolah. Tapi adik
bungsuku itu bolos. Aku juga
bolos kuliah, pun Willy. Kami
seperti mesin sex. Toni tak
bosan-bosannya memintaku
dan Willy bergantian
menghajar lobang pantatnya.
Dia benar-benar ketagihan.
aEsPantes aja cewek-cewek
suka dientot. Enak banget
men,aEt komentarnya.
Pantat Toni yang putih dan
montok penuh semangat
bergerak saat Willy atau aku
menyodominya. kalau kupikir-
pikir, goyang ngebor Inul,
kalah jauh deh dibandingin
ngebornya si Toni. Membuatku
dan Willy tak kuasa untuk
menahan orgasme. Sperma
kami tumpah memenuhi lobang
pantat adikku itu. Kamar kos
Willy semerbak dengan bau
sperma dan keringat kami.
Bau ini malah semakin
membuat kami bernafsu
untuk mengentot lagi dan
lagi.
Setelah sore, akhirnya kami
kembali ke rumah. Dan sejak
itu kami menjadi rutin ngesex
bertiga. Mencuri-curi
kesempatan tanpa
sepengetahuan Mama dan
Mimi. Apa yang kami lakukan
adalah rahasia kami bertiga.
Tak perlu orang lain tahu.
Termasuk juga cewek-cewek
kami. Apalagi Mama dan si
Mimi.