PDA

View Full Version : Teman Ibuku


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Namaku Bernas dan aku tinggal
di Jakarta. Di saat aku menulis
cerita ini, aku baru saja
menginjak umur 25 tahun. Aku
bekerja di sebuah perusahaan
marketing ternama di kawasan
daerah Kuningan (Jakarta
Selatan). Perusahaan kami ini
adalah anak dari perusahaan
marketing Inggris yang mana
Head Office untuk Asia Pasific
berada di negeri Singapore.
Aku bisa bekerja di perusahaan
ini atas bantuan ibu tiriku
yang memiliki banyak kolega
perusahaan-perusahaan
ternama di Jakarta.
Ibu tiriku tergolong orang yang
terpandang dan kaya. Bekas
suaminya adalah pengusaha
distributor minyak bumi dalam
negeri yang punya akses
mudah ke instansi-instansi
pemerintah. Ibu tiriku cerai
dengan bekas suaminya karena
bekas suaminya memiliki banyak
Eselir-selirE di beberapa kota di
pulau Jawa dan beberapa lagi
di luar pulau Jawa. Karena
tidak tahan dengan situasi
yang dia hadapi, dia
memutuskan untuk bercerai
dengan bekas suaminya.
Menurut cerita ibu tiriku,
urusan perceraiannya
sangatlah rumit, berbelit-belit,
dan memakan waktu berbulan-
bulan. Seperti biasa pembagian
harga gono-gini yang membuat
urusan cerai menjadi lebih
panjang. Sampai pada akhirnya
hasil dari penceraian tersebut,
ibu tiriku mendapat 30% dari
seluruh aset dan kekayaan
bekas suaminya. Namun setelah
itu, ibu tiriku tidak
diperbolehkan lagi untuk
meminta jatah lagi kekayaan
bekas suaminya setelah
penceraiannya final di
pengadilan. Bisa para pembaca
membayangkan seberapa besar
warisan kekayaan ibu tiriku.
Bagaimana dengan keluarga
asliku? Ayah bercerai dengan
ibu kandungku saat aku masih
berumur 7 atau 8 tahun.
Masalah dari penceraian
tersebut, aku masih kurang
tahu sampai sekarang ini. Ayah
lebih memilih untuk tidak
menceritakan masalah
tersebut, dan aku pun tidak
pernah lagi bertanya
kepadanya. Aku mengerti
perasaan ayah, karena saat
itu kehidupan ekonomi keluarga
masih sangat sulit dan ayah
pada saat itu hanya seorang
pegawai toko di daerah
Mangga Besar.
Meskipun hanya pegawai toko
biasa, ayah memiliki bakat dan
hobi mekanik yang
berhubungan dengan mesin
motor. Pendidikan ayah hanya
sampai pada tamatan SD, dan
dia mendapat ilmu montirnya
dari kakek yang dulu sempat
bekerja di bengkel reparasi
mobil. Ayah selalu memiliki cita-
cita untuk membuka bengkel
sendiri.
Setelah bercerai dengan ibu
kandungku, aku dan ayah
sering berpindah-pindah rumah
kontrak. Ekonomi ayah juga
tidak juga membaik. Sering
istilah kehidupan kami bak Egali
lubang tutup lubangE. Setiap
tahun gaji ayah naik hanya
sedikit saja, dan kebutuhan
ekonomi selalu meningkat.
Namun ayah tidak pernah
menyerah untuk berusaha lebih
demi menyekolahkan aku.
Untungnya aku tergolong anak
yang suka sekolah dan belajar,
oleh karenanya ayah tidak
pernah mengenal lelah mencari
uang tambahan agar aku
menjadi orang yang berilmu
dan mencapai karir indah di
masa depanku.
Cita-cita ayah membuka
bengkel reparasi mobil sendiri
bermula dari keisengannya
melamar kerja di bengkel mobil
dekat rumah kontrakan kami.
Ayah kerja di toko hanya
selama 6 hari seminggu
bergantian, tapi ayah
menetapkan untuk mengambil
hari Sabtu libur agar dia bisa
bekerja di bengkel mobil
tersebut. Karena bakat dan
cinta ayah terhadap mesin
mobil dan motor, ayah menjadi
tukang favorit di bengkel
tersebut. Perlahan-lahan ayah
mengurangi hari kerja ayah
sebagai pegawai toko menjadi
5 hari seminggu, kemudian 4
hari seminggu, dan terakhir 3
hari seminggu. Sampai pada
akhirnya bengkel menarik
banyak pelanggan tetap, dan
ayah diminta untuk bekerja
sebagai pegawai tetap di
bengkel itu. Gaji ayah naik 3
kali lipat dari gaji sebagai
pegawai toko plus bonus dan
tip-tip dari pelanggan. Lebih
bagusnya lagi ayah hanya
bekerja 5 hari saja dari hari
Senin sampai Jumat. Ayah
sengaja tidak memilih hari
Sabtu dan Minggu demi
menghabiskan waktu berdua
denganku. Setiap hari Sabtu
ayah suka menjemputku
sepulang sekolah, maklum
biasanya sekolahku hanya
masuk 1/2 hari di hari Sabtu
dan kami berdua suka jajan di
luar sebelum pulang ke rumah.
Sejak bekerja di bengkel itu,
aku menjadi dekat dengan
ayah. Dengan kondisi ekonomi
yang semakin membaik dari
hari ke hari, kini ayah mampu
untuk membeli rumah sendiri
meskipun tidak besar. Malaikat
keberuntungan sedang berada
disamping ayah. Ayah orang
yang baik, tekun dan jujur,
maka dari itu ayah diberi
banyak rejeki dari yang di
atas. Bengkel itu menjadi
tumbuh pesat pula berkat
kedatangan ayah. Demi
menjaga hubungan baik antara
ayah dengan bos bengkel itu,
ayah diberi komisi 15% dari
setiap pembayaran service/
reparasi mobil/motor yang dia
urus plus bonus tahunan dan
belum lagi tip-tip dari
pelanggan.
Nama bengkel menjadi terkenal
karena rekomendasi dari mulut
ke mulut, sampai pada suatu
hari ibu tiriku ini menjadi
pelanggan tetap bengkel itu.
Ibu tiriku mendengar nama
bengkel dan nama ayahku dari
teman dekatnya. Saat itu ibu
tiriku memiliki 3 buah mobil.
Seingatku waktu itu ada BMW,
Mercedes, dan mobil kijang. Ibu
tiriku sering mengunjungi
bengkel ayah dengan alasan
untuk check up antara mobil
BMW-nya atau Mercedes-nya.
Mobil kijangnya hanya datang
dengan supir.
Sebut saja nama ibu tiriku
adalah Tina (nama singkatan).
Saat itu aku memanggilnya
tante Tina. Umur tante Tina 4
tahun lebih muda dari ayah.
Kerutinan tante Tina ke
bengkel menjadi awal dari
romansa antara dia dan ayah.
Ayah sering kencan berdua
dengan tante Tina, dan
terkadang mereka mengajakku
pergi bersama-sama pula.
Terus terang sejak bersama
tante Tina, wajah ayah lebih
tampak berseri-seri dan lebih
segar. Mungkin saat itu dia
menemukan cinta keduanya
setelah bertahun-tahun
berpisah dengan ibu
kandungku. Melihat perubahaan
positif ayah, aku pun menjadi
ikut senang. Aku juga senang
bila tante Tina datang
berkunjung, karena dia sering
membawa oleh-oleh berupa
makanan atau minuman yang
belum pernah aku liat
sebelumnya. Belakangan aku
baru tau bahwa bingkisan itu
adalah pemberian dari kolega
bisnisnya. Salah satu rumah
Tante Tina berada di daerah
Jakarta Selatan, dan tentu
banyak orang tau bahwa
kawasan ini adalah kawasan
elit. Setelah bercerai, tante
Tina membuka beberapa bisnis
elit di sana seperti salon/spa
kecantikan, dan butik. Para
pelanggannya juga dari
kalangan kaliber atas seperti
pejabat dan artis. Dia menyewa
beberapa prajurit terpecaya
untuk menjalankan usaha-
usaha bisnisnya.
Dalam singkat cerita, ayah dan
tante Tina akhirnya
memutuskan untuk menikah.
Setelah menikah aku disuruh
memanggilnya EmamaE. Perlu
waktu beberapa minggu untuk
memanggilnya EmamaE, tapi
lama-lama aku menjadi biasa
untuk memanggilnya EmamaE.
- - - - - - - - -
Untuk lebih singkatnya dalam
cerita ini, aku akan menyebut
Eibu tirikuE sebagai EibuE.
- - - - - - - - -
Sejak setelah menikah, ibu
tinggal di rumah kecil kami
beberapa bulan sambil
menunggu bangunan rumah
baru mereka selesai. Lagi-lagi,
rumah baru mereka tidak jauh
dari bengkel ayah. Ayah
menolak tinggal di rumah tante
Tina karena alasan pribadi
ayah. Setelah banyak process
yang dilakukan antara ayah
dan ibu, akhirnya bengkel
tempat ayah bekerja, kini
menjadi milik ayah dan ibu
sepenuhnya. Ayah pernah
memohon kepada ibu agar dia
ingin tetap dapat bekerja di
bengkel, dan terang saja
bengkel itu langsung ibu
putuskan untuk dibeli saja.
Maklum ibu adalah Ebusiness-
minded personE. Aku semakin
sayang dengan ibu, karena
pada akhirnya cita-cita ayah
untuk memiliki bengkel sendiri
terkabulkan. Kini bengkel ayah
makin besar setelah ibu ikut
berperan besar di sana.
Banyak renovasi yang mereka
lakukan yang membuat bengkel
ayah tampak lebih menarik.
Pelanggan ayah makin
bertambah, dan kali ini banyak
dari kalangan orang-orang
kaya. Ayah tidak memecat
pegawai-pegawai lama di sana,
malah menaikkan gaji mereka
dan memperlakukan mereka
seperti saat dia diperlakukan
oleh pemilik bengkel yang lama.
Kehidupan dan gaya hidupku &
ayah benar-benar berubah
180 derajat. Kini ayah sering
melancong ke luar negeri
bersama ibu, dan aku sering
ditinggal di rumah sendiri
dengan pembantu. Alasan aku
ditinggal mereka karena aku
masih harus sekolah.
Ibu sering mengundang teman-
teman lamanya bermain di
rumah. Salah satu temannya
bernama tante Ani. Tante Ani
saat itu hanya 15 tahun lebih
tua dariku. Semestinya dia
pantas aku panggil kakak
daripada tante, karena
wajahnya yang masih terlihat
seperti orang berumur 20
tahunan. Tanti Ani adalah
pelanggan tetap salon
kecantikan ibu, dan kemudian
menjadi teman baik ibu. Wajah
tante Ani tergolong cantik
dengan kulitnya yang putih
bersih. Dadanya tidak begitu
besar, tapi pinggulnya indah
bukan main. Maklum anak
orang kaya yang suka tandang
ke salon kecantikan. Tante Ani
sering main ke rumah dan
kadang kala ngobrol atau
gossip dengan ibu berjam-jam.
Tidak jarang tante Ani keluar
bersama kami sekeluarga
untuk nonton bioskop, window
shopping atau ngafe di mall.
Aku pernah sempat bertanya
tentang kehidupan pribadi
tante Ani. Ibu bercerita bahwa
tante Ani itu bukanlah janda
cerai atau janda apalah. Tapi
tante Ani sempat ingin
menikah, tapi ternyata pihak
dari laki-laki memutuskan
untuk mengakhiri pernikahan
itu. Alasan-nya tidak dijelaskan
oleh ibu, karena mungkin aku
masih terlalu muda untuk
mengerti hal-hal seperti ini.
Pada suatu hari ayah dan ibu
lagi-lagi cabut dari rumah. Tapi
kali ini mereka tidak ke luar
negeri, tapi hanya melancong
ke kota Bandung saja selama
akhir pekan. Lagi-lagi hanya
aku dan pembantu saja yang
tinggal di rumah. Saat itu aku
ingin sekali kabur dari rumah,
dan menginap di rumah teman.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi
dan waktu itu masih jam 5:30
sore di hari Sabtu. Ayah dan
ibu baru 1/2 jam yang lalu
berangkat ke Bandung. Aku
pikir mereka kembali ke rumah
mengambil barang yang
ketinggalan.
Sewaktu pintu rumah dibuka
oleh pembantu, suara tante
Ani menyapanya. Aku hanya
duduk bermalas-malasan di
sofa ruang tamu sambil nonton
acara TV. Tiba-tiba aku
disapanya.
IBernas kok ngga ikut papa
mama ke Bandung?I tanya
tante Ani.
IKalo ke Bandung sih Bernas
malas, tante. Kalo ke Singapore
Bernas mau ikut.I jawabku
santai.
IYah kapan-kapan aja ikut
tante ke Singapore. Tante ada
apartment di sanaI tungkas
tante Ani.
Aku pun hanya menjawab apa
adanya IOk deh. Ntar kita pigi
rame-rame aja. Tante ada
perlu apa dengan mama?
Nyusul aja ke Bandung kalo
penting.I.
IKagak ada sih. Tante cuman
pengen ajak mamamu makan
aja. Yah sekarang tante
bakalan makan sendirian nih.
Bernas mau ngga temenin
tante?I.
IEmang tante mau makan di
mana?I
ITante sih mikir Pizza Hut.I
IMales ah ogut kalo Pizza
Hut.I
ITrus Bernas maunya pengen
makan apa?I
IMakan di Muara Karang aja
tante. Di sono kan banyak
pilihan, ntar kita pilih aja yang
kita mau.I
IOke deh. Mau cabut jam
berapa?I
IEntaran aja tante. Bernas
masih belon laper. Jam 7 aja
berangkat. Tante duduk aja
dulu.I
Kami berdua nonton
bersebelahan di sofa yang
empuk. Sore itu tante Ani
mengenakan baju yang
lumayan sexy. Dia memakai rok
ketat sampai 10 cm di atas
lutut, dan atasannya memakai
baju berwarna orange muda
tanpa lengan dengan bagian
dada atas terbuka (kira-kira
antara 12 sampai 15cm
kebawah dari pangkal
lehernya). Kaki tante Ani putih
mulus, tanpa ada bulu kaki 1
helai pun. Mungkin karena dia
rajin bersalon ria di salon ibu,
paling tidak seminggu 2 kali.
Bagian dada atasnya juga
putih mulus. Kami nonton TV
dengan acara/channel
seadanya saja sambil menunggu
sampai jam 7 malam. Kami juga
kadang-kadang ngobrol santai,
kebanyakan tante Ani suka
bertanya tentang kehidupan
sekolahku sampai menanyakan
tentang kehidupan cintaku di
sekolah. Aku mengatakan
kepada tante Ani bahwa aku
saat itu masih belum mau
terikat dengan masalah
percintaan jaman SMA. Kalo
naksir sih ada, cuma aku tidak
sampai mengganggap terlalu
serius.
Semakin lama kami berbincang-
bincang, tubuh tante Ani
semakin mendekat ke arahku.
Bau parfum Chanel yg dia
pakai mulai tercium jelas di
hidungku. Tapi aku tidak
mempunyai pikiran apa-apa
saat itu.
Tiba-tiba tante Ani berkata,
IBernas, kamu suka dikitik-
kitik ngga kupingnya?I.
IHuh? Mana enak?I tanyaku.
IMau tante kitik kuping
Bernas?I tante Ani
menawarkan/
IHmmmOboleh aja. Mau pake
cuttonbud?I tanyaku sekali
lagi.
IGa usah, pake bulu kemucing
itu ajaI tundas tante Ani.
IIdih jorok nih tante. Itu kan
kotor. Abis buat bersih-bersih
ama mbak.I jawabku spontan.
IAlahh sok bersihan kamu
Bernas. Kan cuman ambil 1
helai bulunya aja. Lagian kamu
masih belum mandi kan? Jorok
mana hayo!I tangkas tante Ani.
IPercaya tante deh, kamu
pasti demen. Sini baring
kepalanya di paha tante.I
lanjutnya.
Seperti sapi dicucuk hidungnya,
aku menurut saja dengan
tingkah polah tante Ani.
Ternyata memang benar
adanya, telinga Edikitik-kitikE
dengan bulu kemucing benar-
benar enak tiada tara. Baru
kali itu aku merasakan
enaknya, serasa nyaman dan
pengen tidur aja jadinya. Dan
memang benar, aku jadi
tertidur sampe sampai jam
sudah menunjukkan pukul 7
lewat. Suara lembut
membisikkan telingaku.
IBernas, bangun yuk. Tante
dah laper nih.I kata tante.
IErghhhmmm O jam berapa
sekarang tante.I tanyaku
dengan mata yang masih
setengah terbuka.
IUdah jam 7 lewat Bernas. Ayo
bangun, tante dah laper. Kamu
dari tadi asyik tidur tinggalin
tante. Kalo dah enak jadi lupa
orang kamu yah.I kata tante
sambil mengelus lembut
rambutku.
IMasih ngantuk nih tante O
makan di rumah aja yah?
Suruh mbak masak atau beli
mie ayam di dekat sini.I
IAhhh ogah, tante pengen
jalan-jalan juga kok. Bosen dari
tadi bengong di sini.I
IOke oke, kasih Bernas lima
menit lagi deh tante.I mintaku.
IKagak boleh. Tante dah laper
banget, mau pingsan dah.I
Sambil malas-malasan aku
bangun dari sofa. Kulihat tante
Ani sedang membenarkan posisi
roknya kembali. Alamak gaya
tidurku kok jelek sekali sih
sampe-sampe rok tante Ani
tersingkap tinggi banget.
Berarti dari tadi aku tertidur
di atas paha mulus tante Ani,
begitulah aku berpikir. Ada
rasa senang juga di dalam hati.
Setelah mencuci muka, ganti
pakaian, kita berdua
berpamitan kepada pembantu
rumah kalau kita akan makan
keluar. Aku berpesan kepada
pembantu agar jangan
menunggu aku pulang, karena
aku yakin kita pasti bakal
lama. Jadi aku membawa kunci
rumah, untuk berjaga-jaga
apabila pembantu rumah sudah
tertidur.
INih kamu yang setir mobil
tante dong.I
IOgah ah, Bernas cuman mau
setir Baby Benz tante. Kalo
yang ini males ah.I candaku.
Waktu itu tante Ani membawa
sedan Honda, bukan Mercedes-
nya.
IBelagu banget kamu. Kalo
ngga mau setir ini, bawa itu
Benz-nya mama.I balas tante
Ani.
INo way O bisa digantung ogut
ama papa mama.I jawabku.
IIya udah kalo gitu setir ini
dong.I jawab tante Ani sambil
tertawa kemenangan.
Mobil melaju menyusuri jalan-
jalan kota Jakarta. Tante Ani
seperti bebek saja, ngga
pernah stop ngomong and
gossipin teman-temannya. Aku
jenuh banget yang mendengar.
Dari yang cerita pacar teman-
temannya lah, sampe ke
mantan tunangannya. Sesampai
di daerah Muara Karang, aku
memutuskan untuk makan
bakmi bebeknya yang tersohor
di sana. Untung tante Ani tidak
protes dengan pilihan saya,
mungkin karena sudah terlalu
lapar dia.
Setelah makan, kita mampir ke
tempat main bowling. Abis main
bowling tante Ani mengajakku
mampir ke rumahnya. Tante Ani
tinggal sendiri di apartemen di
kawasan Taman Anggrek. Dia
memutuskan untuk tinggal
sendiri karena alasan pribadi
juga. Ayah dan ibu tante Ani
sendiri tinggal di Bogor. Saat
itu aku tidak tau apa
pekerjaan sehari-hari tante
Ani, yang tante Ani tidak
pernah merasa kekurangan
materi.
Apartemen tante Ani lumayan
bagus dengan tata interior
yang classic. Di sana tidak ada
siapa-siapa yang tinggal di
sana selain tante Ani. Jadi aku
bisa maklum apabila tante Ani
sering keluar rumah. Pasti
jenuh apabila tinggal sendiri di
apartemen.
IAnggap rumah sendiri Bernas.
Jangan malu-malu. Kalau mau
minum ambil aja sendiri yah.I
IKalo begitu, Bernas mau yang
ini.I sambil menunjuk botol
Hennessy V.S.O.P yang masih
disegel.
IKagak boleh, masih dibawah
umur kamu.I cegah tante Ani.
ITapi Bernas dah umur 17
tahun. Mestinya ngga masalahI
jawabku dengan bermaksud
membela diri.
IKalo kamu memaksa yah udah.
Tapi jangan buka yang baru,
tante punya yang sudah
dibuka botolnya.I.
Tiba-tiba suara tante Ani
menghilang dibalik master
bedroomnya. Aku menganalisa
ruangan sekitarnya. Banyak
lukisan-lukisan dari dalam dan
luar negeri terpampang di
dinding. Lukisan dalam
negerinya banyak yang
bergambarkan wajah-wajah
cantik gadis-gadis Bali. Lukisan
yang berbobot tinggi, dan aku
yakin pasti bukan barang yang
murahan.
IItu tante beli dari seniman
lokal waktu tante ke Bali
tahun laluI kata tante Ani
memecahkan suasana hening
sebelumnya.
IBagus tante. High taste
banget. Pasti mahal yah?!I
jawabku kagum.
INgga juga sih. Tapi tante
tidak pernah menawar harga
dengan seniman itu, karena
seni itu mahal. Kalo tante tidak
cocok dengan harga yang dia
tawarkan, tante pergi saja.I
Aku masih menyibukkan diri
mengamati lukisan-lukisan yang
ada, dan tante Ani tidak bosan
menjelaskan arti dari lukisan-
lukisan tersebut. Tante Ani
ternyata memiliki kecintaan
tinggi terhadap seni lukis.
IOk deh. Kalo begitu Bernas
mau pamit pulang dulu tante.
Dah hampir jam 11 malam.
Tante istirahat aja dulu yah.I
kataku.
IEhmmm O tinggal dulu aja di
sini. Tante juga masih belum
ngantuk. Temenin tante bentar
yah.I mintanya sedikit
memohon.
Aku juga merasa kasihan
dengan keadaan tante Ani
yang tinggal sendiri di
apartemen itu. Jadi aku
memutuskan untuk tinggal 1
atau 2 jam lagi, sampai nanti
tante Ani sudah ingin tidur.
IKita main UNO yuk?!I ajak
tante Ani.
IApa itu UNO?!I tanyaku
penasaran.
IWalah kamu ngga pernah main
UNO yah?I tanya tante Ani.
Aku hanya menggeleng-
gelengkan kepala.
IWah kamu kampung boy
banget sih.I canda tante Ani.
Aku hanya memasang tampak
cemburut canda.
Tante Ani masuk ke kamarnya
lagi untuk membawa kartu
UNO, dan kemudian masuk ke
dapur untuk mempersiapkan
hidangan bersama minuman.
Tante Ani membawa kacang
mente asin, segelas wine
merah, dan 1 gelas Hennessy
V.S.O.P on rock (pake es batu).
Setelah mengajari aku cara
bermain UNO, kamipun mulai
bermain-main santai sambil
makan kacang mente. Hennesy
yang aku teguk benar-benar
keras, dan baru 2 atau 3
teguk badanku terasa panas
sekali. Aku biasanya hanya
dikasih 1 sisip saja oleh ayah,
tapi ini skrg aku minum
sendirian.
Kepalaku terasa berat, dan
mukaku panas. Melihat kejadian
ini, tante Ani menjadi tertawa,
dan mengatakan bahwa aku
bukan bakat peminum. Terang
aja, ini baru pertama kalinya
aku minum 1 gelas Hennessy
sendirian.
ITante, anterin Bernas pulang
yah. Kepala ogut rada berat.I
IKalo gitu stop minum dulu,
biar ngga tambah pusing.I
jawab tante Ani.
Aku merasa tante Ani
berusaha mencegahku untuk
pulang ke rumah. Tapi lagi-lagi,
aku seperti sapi dicucuk
hidung-nya, apa yang tante
Ani minta, aku selalu
menyetujuinya. Melihat
tingkahku yang suka menurut,
tante Ani mulai terlihat lebih
berani lagi. Dia mengajakku
main kartu biasa saja, karena
bermain UNO kurang seru kalau
hanya berdua. Paling tepat
untuk bermain UNO itu
berempat.
Tapi permainan kartu ini
menjadi lebih seru lagi. Tante
mengajak bermain blackjack,
siapa yang kalah harus
menuruti permintaan
pemenang. Tapi kemudian tante
Ani ralat menjadi ETruth &
DareE game. Permainan kami
menjadi seru dan terus terang
aja tante Ani sangat menikmati
permainan ETruth & DareE, dan
dia sportif apabila dia kalah.
Pertama-tama bila aku menang
dia selalu meminta hukuman
dengan ETruthE punishment,
lama-lama aku menjadi semakin
berani menanyakan yang
bukan-bukan. Sebaliknya
dengan tante Ani, dia lebih
suka memaksa aku untuk
memilih EDareE agar dia bisa
lebih leluasa mengerjaiku. Dari
yang disuruh pushup 1 tangan,
menari balerina, menelan es
batu seukuran bakso, dan lain-
lain. Mungkin juga tidak ada
pointnya buat tante Ani
menanyakan the ETruthE
tentang diriku, karena
kehidupanku terlihat lurus-
lurus saja menurutnya.
Ini adalah juga kesempatan
untuk menggali the ETruthE
tentang kehidupan pribadinya.
Aku pun juga heran kenapa
aku menjadi tertarik untuk
mencari tahu kehidupannya
yang sangat pribadi. Mula-mula
aku bertanya tentang mantan
tunangannya, kenapa sampai
batal pernikahannya. Sampai
pertanyaan yang menjurus ke
seks seperti misalnya kapan
pertama kali dia kehilangan
keperawanan. Semuanya tanpa
ragu-ragu tante Ani jawab
semua pertanyaan-pertanyaan
pribadi yang aku lontarkan.
Kini permainan kami semakin
wild dan berani. Tante Ani
mengusulkan untuk
mengkombinasikan ETruth &
DareE dengan EStrip PokerE. Aku
pun semakin bergairah dan
menyetujui saja usul tante Ani.
"Yee, tante menang lagi. Ayo
lepas satu yang menempel di
badan kamu." kata tante Ani
dengan senyum kemenangan.
"Jangan gembira dulu tante,
nanti giliran tante yang kalah.
Jangan nangis loh yah kalo
kalah." jawabku sambil melepas
kaus kakiku.
Selang beberapa lama O
"Nahhh, kalah lagi O kalah lagi
O lepas lagi O lepas lagi.".
Tante Ani kelihatan gembira
sekali. Kemudian aku melepas
kalung emas pemberian ibu
yang aku kenakan.
"Ha ha ha O two pairs, punya
tante one pair. Yes yes O
tante kalah sekarang. Ayo
lepas lepas O" candaku sambil
tertawa gembira.
"Jangan gembira dulu. Tante
lepas anting tante." jawab
tante sambil melepas anting-
anting yang dikenakannya.
Aku makin bernapsu untuk
bermain. Mungkin bernapsu
untuk melihat tante Ani bugil
juga. Aku pengen sekali
menang terus.
"Full house O yeahhh O kalah
lagi tante. Ayo lepas O ayo
lepas O". Aku kini menari-nari
gembira.
Terlihat tante Ani melepas jepit
rambut merahnya, dan aku
segera saja protes "Loh,
curang kok lepas yang itu?".
"Loh, kan peraturannya lepas
semuanya yang menempel di
tubuh. Jepit tante kan nempel
di rambut dan rambut tante
melekat di kepala. Jadi masih
dianggap menempel dong."
jawabnya membela.
Aku rada gondok mendengar
pembelaan tante Ani. Tapi itu
menjadikan darahku bergejolak
lebih deras lagi.
"Straight O Bernas O One Pair
O Yes tante menang. Ayo lepas!
Jangan malu-malu!" seru tante
Ani girang. Aku pun segera
melepas jaket aku yang
kenakan. Untung aku selalu
memakai jaket tipis biar keluar
malam. Lihatlah pembalasanku,
kataku dalam hati.
"Bernas Three kind O tante O
one pair O ahhh O lagi-lagi
tante kalah" sindirku sambil
tersenyum. Dan tanpa diberi
aba-aba dan tanpa malu-malu,
tante melepas baju atasannya.
Aku serentak menelan ludah,
karena baju atasan tante
telah terlepas dan kini yang
terlihat hanya BH putih tante.
Belahan payudara-nya terlihat
jelas, putih bersih. Bernas
junior dengan serentak
langsung menegang, dan kedua
mataku terpaku di daerah
belahan dadanya.
"Hey, lihat kartu dong. Jangan
liat di sini." canda tante sambil
menunjuk belahan dadanya.
Aku kaget sambil tersenyum
malu.
"Yes Full House, kali ini tante
menang. Ayo buka O buka".
Tampak tante Ani girang
banget bisa dia menang. Kali ini
aku lepas atasanku, dan kini
aku terlanjang dada.
"Ck ck ck O pemain basket nih.
Badan kekar dan hebat. Coba
buktikan kalo hokinya juga
hebat." sindir tante Ani sambil
tersenyum.
Setelah menegak habis wine
yang ada di gelasnya, tante
Ani kemudian beranjak dari
tempat duduknya menuju ke
dapur dengan keadaan dada
setengah terlanjang. Tak lama
kemudian tante Ani membawa
sebotol wine merah yang masih
3/4 penuh dan sebotol V.S.O.P
yang masih 1/2 penuh.
"Mari kita bergembira malam
ini. Minum sepuas-puasnya."
ucap tante Ani.
Kami saling ber-tos ria dan
kemudian melanjutkan kembali
permainan strip poker kami.
"Yesss O " seruku dengan
girangnya pertanda aku
menang lagi.
Tanpa disuruh, tante Ani
melepas rok mininya dan
aduhaiii, kali ini tante Ani
hanya terliat mengenakan BH
dan celana dalam saja. Malam
itu dia mengenakan celana
dalam yang kecil imut
berwarna pink cerah. Tidak
tampak ada bulu-bulu pubis
disekitar selangkangannya. Aku
sempat berpikir apakah tante
Ani mencukur semua bulu-bulu
pubisnya.
Muka tante Ani sedikit
memerah. Kulihat tante Ani
sudah menegak abis gelas
winenya yang kedua. Apakah
dia berniat untuk mabuk malam
ini? Aku kurang sedikit perduli
dengan hal itu. Aku hanya
bernafsu untuk memenangkan
permainan strip poker ini, agar
aku bisa melihat tubuh
terlanjang tante Ani.
"Yes, yes, yes O" senyum
kemenangan terlukis indah di
wajahku.
Tante Ani kemudian
memandangkan wajahku selang
beberapa saat, dan berkata
dengan nada genitnya
"Sekarang Bernas tahan napas
yah. Jangan sampai seperti
kesetrum listrik loh". Kali ini
tante Ani melepaskan BH-nya
dan serentak jatungku ingin
copot. Benar apa kata tante
Ani, aku seperti terkena
setrum listrik bertegangan
tinggi. Dadaku sesak, sulit
bernapas, dan jantungku
berdegup kencang. Inilah
pertama kali aku melihat
payudara wanita dewasa
secara jelas di depan mata.
Payudara tante Ani sungguh
indah dengan putingnya yang
berwarna coklat muda
menantang.
"Aih Bernas, ngapain liat susu
tante terus. Tante masih belum
kalah total. Mau lanjut ngga?"
tanya tante Ani. Aku hanya
bisa menganggukkan kepala
pertanda EiyaE.
"Pertama kali liat susu cewek
yah? Ketahuan nih. Dasar genit
kamu." tambah tante Ani lagi.
Aku sekali lagi hanya bisa
mengangguk malu.
Aku menjadi tidak
berkonsentrasi bermain,
mataku sering kali melirik
kedua payudaranya dan
selangkangannya. Aku
penasaran sekali ada apa
dibalik celana dalam pinknya
itu. Tempat di mana menurut
teman-teman sekolah adalah
surga dunia para lelaki. Aku
ingin sekali melihat bentuknya
dan kalo bisa memegang atau
meraba-raba.
Akibat tidak berkonsentrasi
main, kali ini aku yang kalah,
dan tante Ani meminta aku
melepas celana yang aku
kenakan. Kini aku terlanjang
dada dengan hanya
mengenakan celana dalam saja.
Tante Ani hanya tersenyum-
senyum saja sambil menegak
wine-nya lagi. Aku sengaja
menolak tawaran tante Ani
untuk menegak V.S.O.P-nya,
dengan alasan takut pusing
lagi.
Karena kami berdua hanya
tinggal 1 helai saja di tubuh
kami, permainan kali ini ada
finalnya. Babak penentuan
apakah tante Ani akan melihat
aku terlanjang bulat atau
sebaliknya. Aku berharap
malam itu malaikat
keberuntungan berpihak
kepadaku.
Ternyata harapanku sirna,
karena ternyata malaikat
keberuntungan berpihak
kepada tante Ani. Aku kecewa
sekali, dan wajah
kekecewaanku terbaca jelas
oleh tante Ani. Sewaktu aku
akan melepas celana dalamku
dengan malu-malu, tiba-tiba
tante Ani mencegahnya.
"Tunggu Bernas. Tante ngga
mau celana dalam mu dulu.
Tante mau Dare Bernas dulu.
Ngga seru kalo game-nya
cepat habis kayak begini" kata
tante Ani.
Setelah meneguk wine-nya lagi,
tante Ani terdiam sejenak
kemudian tersenyum genit.
Senyum genitnya ini lebih
menantang daripada yang
sebelum-sebelumnya.
"Tante dare Bernas untuk O
hmmm O cium bibir tante
sekarang." tantang tante Ani.
"Ahh, yang bener tante?"
tanyaku.
"Iya bener, kenapa ngga mau?
Jijik ama tante?" tanya tante
Ani.
"Bukan karena itu. Tapi O
Bernas belum pernah soalnya."
jawabku malu-malu.
"Iya udah, kalo gitu cium tante
dong. Sekalian pelajaran
pertama buat Bernas." kata
tante Ani.
Tanpa berpikir ulang, aku mulai
mendekatkan wajahku ke
wajah tante Ani. Tante Ani
kemudian memejamkan
matanya. Pertamanya aku
hanya menempelkan bibirku ke
bibir tante Ani. Tante Ani diam
sebentar, tak lama kemudian
bibirnya mulai melumat-lumat
bibirku perlahan-lahan. Aku
mulai merasakan bibirku mulai
basah oleh air liur tante Ani.
Bau wine merah sempat
tercium di hidungku.
Aku pun tidak mau kalah, aku
berusaha menandinginya
dengan membalas lumatan bibir
tante Ani. Maklum ini baru
pertama, jadi aku terkesan
seperti anak kecil yang sedang
melumat-lumat ice cream.
Selang beberapa saat, aku
kaget dengan tingkah baru
tante Ani. Tante Ani dengan
serentak menjulurkan lidahnya
masuk ke dalam mulutku.
Anehnya aku tidak merasa jijik
sama sekali, malah senang
dibuatnya. Aku temukan lidahku
dengan lidah tante Ani, dan
kini lidah kami kemudian saling
berperang di dalam mulutku
dan terkadang pula di dalam
mulut tante Ani.
Kami saling berciuman bibir dan
lidah kurang lebih 5 menit
lamanya. Nafasku sudah tak
karuan, dah kupingku panas
dibuatnya. Tante Ani seakan-
akan menikmati betul ciuman
ini. Nafas tante Ani pun masih
teratur, tidak ada tanda
sedikitpun kalau dia
tersangsang.
"Sudah cukup dulu. Ayo kita
sambung lagi pokernya" ajak
tante Ani.
Aku pun mulai mengocok
kartunya, dan pikiranku masih
terbayang saat kita berciuman.
Aku ingin sekali lagi mencium
bibir lembutnya. Kali ini aku
menang, dan terang saja aku
meminta jatah sekali lagi
berciuman dengannya. Tante
Ani menurut saja dengan
permintaanku ini, dan kami pun
saling berciuman lagi. Tapi kali
ini hanya sekitar 2 atau 3
menit saja.
"Udah ah, jangan ciuman terus
dong. Ntar Bernas bosan ama
tante." candanya.
"Masih belon bosan tante.
Ternyata asyik juga yah
ciuman." jawabku.
"Kalo ciuman terus kurang
asyik, kalo mau sih O" seru
tante Ani kemudian terputus.
Kalimat tante Ani ini masih
menggantung bagiku, seakan-
akan dia ingin mengatakan
sesuatu yang menurutku
sangat penting. Aku
terbayang-bayang untuk
bermain EgilaE dengan tante Ani
malam itu.
Aku semakin berani dan
menjadi sedikit tidak tau diri.
Aku punya perasaan kalo
tante Ani sengaja untuk
mengalah dalam bermain poker
malam itu. Terang aja aku
menang lagi kali ini. Aku sudah
terburu oleh napsuku sendiri,
dan aku sangat memanfaatkan
situasi yang sedang
berlangsung.
"Bernas menang lagi tuh.
Jangan minta ciuman lagi yah.
Yang lain dong O" sambut
tante Ani sambil menggoda.
"Hmm O apa yah." pikirku
sejenak.
"Gini aja, Bernas pengen emut-
emut susu tante Ani." jawabku
tidak tau malu.
Ternyata wajah tante Ani
tidak tampak kaget atau
marah, malah balik tersenyum
kepadaku sambil berkata
"Sudah tante tebak apa yang
ada di dalam pikiran kamu,
Bernas.".
"Boleh kan tante?!" tanyaku
penasaran. Tante Ani hanya
mengangguk pertanda setuju.
Kemudian aku dekatkan
wajahku ke payudara sebelah
kanan tante Ani. Bau parfum
harum yang menempel di
tubuhnya tercium jelas di
hidungku. Tanpa ragu-ragu aku
mulai mengulum puting susu
tante Ani dengan lembut.
Kedua telapak tanganku
berpijak mantap di atas karpet
ruang tamu tante Ani,
memberikan fondasi kuat agar
wajahku tetap bebas
menelusuri payudara tante Ani.
AKu kulum bergantian puting
kanan dan puting kiri-nya.
Kuluman yang tante Ani
dapatkan dariku memberikan
sensasi terhadap tubuh tante
Ani. Dia tampak menikmati
setiap hisapan-hisapan dan
jilatan-jilatan di puting susu-
nya. Nafas tante Ani perlahan-
lahan semakin memburu, dan
terdengar desahan dari
mulutnya. Kini aku bisa
memastikan bahwa tante Ani
saat ini sedang terangsang
atau istilah modern-nya
EhornyE.
"Bernasss O kamu nakal
banget sih! O haahhh O Tante
kamu apain?" bisik tante Ani
dengan nada terputus-putus.
Aku tidak mengubris kata-kata
tante Ani, tapi malah semakin
bersemangat memainkan kedua
puting susunya. Tante Ani tidak
memberikan perlawanan
sedikitpun, malah seolah-olah
seperti memberikan lampu hijau
kepadaku untuk melakukan
hal-hal yang tidak senonoh
terhadap dirinya.
Aku mencoba mendorong tubuh
tante Ani perlahan-lahan agar
dia terbaring di atas karpet.
Ternyata tante Ani tidak
menahan/menolak, bahkan
tante Ani hanya pasrah saja.
Setelah tubuhnya terbaring di
atas karpet, aku menghentikan
serangan gerilyaku terhadap
payudara tante Ani. Aku
perlahan-lahan menciumi leher
tante Ani, dan oh my, wangi
betul leher tante Ani. Tante
Ani memejamkan kedua
matanya, dan tidak berhenti-
hentinya mendesah. Aku jilat
lembut kedua telinganya,
memberikan sensasi dan
getaran yang berbeda
terhadap tubuhnya. Aku tidak
mengerti mengapa malam itu
aku seakan-akan tau apa
yang harus aku lakukan,
padahal ini baru pertama kali
seumur hidupku menghadapi
suasana seperti ini.
Kemudian aku melandaskan
kembali bibirku di atas bibir
tante Ani, dan kami kembali
berciuman mesra sambil
berperang lidah di dalam
mulutku dan terkadang di
dalam mulut tante Ani.
Tanganku tidak tinggal diam.
Telapak tangan kiriku menjadi
bantal untuk kepala belakang
tante Ani, sedangkan tangan
kananku meremas-remas
payudara kiri tante Ani.
Tubuh tante Ani seperti cacing
kepanasan. Nafasnya
terengah-engah, dan dia tidak
berkonsentrasi lagi berciuman
denganku. Tanpa diberi
komando, tante Ani tiba-tiba
melepas celana dalamnya
sendiri. Mungkin saking EhornyE-
nya, otak tante Ani
memberikan instinct bawah
sadar kepadanya untuk segera
melepas celana dalamnya.
Aku ingin sekali melihat
kemaluan tante Ani saat itu,
namun tante Ani tiba-tiba
menarik tangan kananku untuk
mendarat di kemaluannya.
"Alamak O", pikirku kaget.
Ternyata kemaluan/memek
tante Ani mulus sekali.
Ternyata semua bulu jembut
tante Ani dicukur abis olehnya.
Dia menuntun jari tengahku
untuk memainkan daging mungil
yang menonjol di memeknya.
Para pembaca pasti tau nama
daging mungil ini yang aku
maksudkan itu. Secara umum
daging mungil itu dinamakan biji
etil atau biji etel atau itil saja.
Aku putar-putar itil tante Ani
berotasi searah jarum jam
atau berlawanan arah jarum
jam. Kini memek tante Ani mulai
basah dan licin.
"Bernasss O kamu yah O
aaahhhh O kok berani ama
tante?" tanya tante Ani
terengah-engah.
"Kan tante yang suruh tangan
Bernas ke sini?" jawabku.
"Masa sihhh O tante lupa O
aahhh Bernasss O Bernasss O
kamu kok nakal?" tanya tante
Ani lagi.
"Nakal tapi tante bakal suka
kan?" candaku gemas dengan
tingkah tante Ani.
"Iyaaa O nakalin tante pleasee
O" suara tante Ani mulai
serak-serak basah.
Aku tetap memainkan itil tante
Ani, dan ini membuatnya
semakin menggeliat hebat. Tak
lama kemudian tante Ani
menjerit kencang seakaan-
akan terjadi gempa bumi saja.
Tubuhnya mengejang dan
kuku-kuku jarinya sempat
mencakar bahuku. Untung saja
tante Ani bukan tipe wanita
yang suka merawat kuku
panjang, jadi cakaran tante Ani
tidak sakit buatku.
"Bernasss O tante datangggg
uhhh oohhh O" erang tante
Ani. Aku yang masih hijau
waktu itu kurang mengerti apa
arti kata EdatangE waktu itu.
Yang pasti setelah mengatakan
kalimat itu, tubuh tante Ani
lemas dan nafasnya terengah-
engah.
Dengan tanpa di beri aba-aba,
aku lepas celana dalamku yang
masih saja menempel. Aku
sudah lupa sejak kapan batang
penisku tegak. Aku siap
menikmati tubuh tante Ani,
tapi sedikit ragu, karena takut
akan ditolak oleh tante Ani.
Keragu-raguanku ini terbaca
oleh tante Ani. Dengan
lembutnya tante Ani berkata,
"Bernas, kalo pengen tidurin
tante, mendingan cepetan deh,
sebelon gairah tante habis. Tuh
liat kontol Bernas dah tegak
kayak besi. Sini tante pegang
apa dah panas.".
Aku berusaha mengambil posisi
diatas tubuh tante. Gaya
bercinta traditional. Perlahan-
lahan kuarahkan batang
penisku ke mulut vagina tante
Ani, dan kucoba dorong
penisku perlahan-lahan.
Ternyata tidak sulit menembus
pintu kenikmatan milik tante
Ani. Selain mungkin karena
basahnya dinding-dinding
memek tante Ani yang
memuluskan jalan masuk
penisku, juga karena mungkin
sudah beberapa batang penis
yang telah masuk di dalam
sana.
"Uhhh O ohhh O Bernasss O
ahhh O" desah tante Ani.
Aku coba mengocok-kocok
memek tante Ani dengan
penisku dengan memaju-
mundurkan pinggulku. Tante Ani
terlihat semakin EhornyE, dan
mendesah tak karuan.
"Bernasss O Bernasss O aduhhh
Bernasss O geliiii tante O uhhh
O ohhhh O" desah tante Ani.
Di saat aku sedang asyik
memacu tubuh tante Ani, tiba-
tiba aku disadarkan oleh
permintaan tante Ani, sehingga
aku berhenti sejenak.
"Bernasss O kamu dah mau
keluar belum O " tanya tante
Ani.
"Belon sih tante O mungkin
beberapa saat lagi O "
jawabku serius.
"Nanti dikeluarin di luar yah,
jangan di dalam. Tante mungkin
lagi subur sekarang, dan tante
lupa suruh kamu pake
pengaman. Lagian tante ngga
punya stock pengaman
sekarang. Jadi jangan
dikeluarin di dalam yah." pinta
tante Ani.
"Beres tante." jawabku.
"Ok deh O sekarang jangan
diam O goyangin lagi dong O"
canda tante Ani genit.
Tanpa menunda banyak waktu
lagi, aku lanjutkan kembali
permainan kami. Aku bisa
merasakan memek tante Ani
semakin basah saja, dan aku
pun bisa melihat bercak-bercak
lendir putih di sekitar bulu
jembutku.
Aku mulai berkeringat di
punggung belakangku. Muka
dan telingaku panas. Tante Ani
pun juga sama. Suara erangan
dan desahan-nya makin
terdengar panas saja di
telingaku. Aku tidak menyadari
bahwa aku sudah berpacu
dengan tante Ani 20 menit
lama-nya. Tanda-tanda akan
adanya sesuatu yang bakalan
keluar dari penisku semakin
mendekat saja.
"Bernasss O ampunnn Bernasss
O kontolnya kok kayak besi
aja O ngga ada lemasnya dari
tadi O tante geliii banget nihhh
O" kata tante Ani.
"Tante O Bernasss dah sampai
ujung nih O" kataku sambil
mempercepat goyangan
pinggulku.
Puting tante Ani semakin
terlihat mencuat menantang,
dan kedua payudara pun
terlihat mengeras. Aku
mendekatkan wajahku ke
wajah tante Ani, dan bibir kami
saling berciuman. Aku julur-
julurkan lidahku ke dalam
mulutnya, dan lidah kami saling
berperang di dalam. Posisi
bercinta kami tidak berubah
sejak tadi. Posisiku tetap di
atas tubuh tante Ani.
Aku percepat kocokan penisku
di dalam memek tante Ani.
Tante Ani sudah menjerit-jerit
dan meracau tak karuan saja.
"Bernasss O tante datangggg
O uhhh O ahhhhhh O" jerit
tante Ani sambil memeluk erat
tubuhku. Ini pertanda tante Ani
telah EorgasmeE.
Aku pun juga sama, lahar
panas dari dalam penisku
sudah siap akan menyembur
keluar. Aku masih ingat pesan
tante Ani agar spermaku
dilepas keluar dari memek
tante Ani.
"Tante O Bernassss datangggg
O" jeritku panik. Kutarik
penisku dari dalam memek
tante Ani, dan penisku
memuncratkan spermanya di
perut tante Ani. Saking
kencangnya, semburan
spermaku sampai di dada dan
leher tante Ani.
"Ahhh O ahhhh O ahhhh O"
suara jeritan kepuasanku.
"Idihhh O kamu kecil-kecil tapi
spermanya banyak bangettt
sih O" canda tante Ani. Aku
hanya tersenyum saja. Aku
tidak sempat mengomentari
candaan tante Ani.
Setelah semua sperma telah
tumpah keluar, aku
merebahkan tubuhku di
samping tubuh tante Ani.
Kepalaku masih teriang-iang
dan nafasku masih belum stabil.
Mataku melihat ke langit-langit
apartment tante Ani. Aku baru
saja menikmati yang namanya
surga dunia.
Tante Ani kemudian memelukku
manja dengan posisi kepalanya
di atas dadaku. Bau harum
rambutku tercium oleh
hidungku.
"Bernas puas ngga?" tanya
tante Ani.
"Bukan puas lagi tante O tapi
Bernas seperti baru saja
masuk ke surga" jawabku.
"Emang memek tante surga
yah?" canda tante Ani.
"Boleh dikata demikian."
jawabku percaya diri.
"Kalo tante puas ngga?"
tanyaku penasaran.
"Hmmm O coba kamu pikir
sendiri aja O yang pasti memek
tante sekarang ini masih
berdenyut-denyut rasanya.
Diapain emang ama Bernas?"
tanya tante Ani manja.
"Anuu O Bernas kasih si Bernas
Junior O tuh tante liat jembut
Bernas banyak bercak-bercak
lendir. Itu punya dari memek
tante tuh. Banjir keluar tadi."
kataku.
"Idihhh O mana mungkin O" bela
tante Ani sambil mencubit
penisku yang sudah mulai loyo.
"Bernas sering-sering datang
ke rumah tante aja. Nanti kita
main poker lagi. Mau kan?"
pinta tante Ani.
"Sippp tante." jawabku
serentak girang.
Malam itu aku nginap di rumah
tante Ani. Keesokan harinya
aku langsung pulang ke rumah.
Aku sempat minta jatah 1 kali
lagi dengan tante Ani, namum
ajakanku ditolak halus olehnya
karena alasan dia ada janji
dengan teman-temannya.
Sejak saat itu aku menjadi
teman seks gelap tante Ani
tanpa sepengetahuan orang
lain terutama ayah dan ibu.
Tante Ani senang bercinta
yang bervariasi dan dengan
lokasi yang bervariasi pula
selain apartementnya sendiri.
Kadang bermain di mobilnya, di
motel kilat yang hitungan
charge-nya per jam, di ruang
VIP spa kecantikan ibuku (ini
aku berusaha keras untuk
menyelinap agar tidak
diketahui oleh para pegawai di
sana). Tante Ani sangat
menyukai dan menikmati seks.
Menurut tante Ani seks dapat
membuatnya merasa enak
secara jasmani dan rohani,
belum lagi seks yang teratur
sangatlah baik untuk
kesehatan. Dia pernah
menceritakan kepadaku
tentang rahasia awet muda
bintang film Hollywood tersohor
bernama Elizabeth Taylor, yah
jawabannya hanya singkat saja
yaitu seks dan diet yang
teratur.
Tante Ani paling suka EbermainE
tanpa kondom. Tapi dia pun
juga tidak ingin memakai sistem
pil sebagai alat kontrasepsi
karena dia sempat alergi saat
pertama mencoba minum pil
kontrasepsi. Jadi di saat subur,
aku diharuskan memakai
kondom. Di saat setelah selesai
masa menstruasinya, ini adalah
saat di mana kondom boleh
dilupakan untuk sementara
dulu dan aku bisa sepuasnya
berejakulasi di dalam
memeknya. Apabila di saat
subur dan aku/tante Ani lupa
menyetok kondom, kita masih
saja nekat bermain tanpa
kondom dengan berejakulasi di
luar (meskipun ini rawan
kehamilannya tinggi juga).
Hubungan gelap ini sempat
berjalan hampir 4 tahun
lamanya. Aku sempat memiliki
perasaan cinta terhadap tante
Ani. Maklum aku masih
tergolong remaja/pemuda yang
gampang terbawa emosi.
Namun tante Ani menolaknya
dengan halus karena apabila
hubunganku dan tante Ani
bertambah serius, banyak
pihak luar yang akan mencaci-
maki atau mengutuk kami.
Tante Ani sempat menjauhkan
diri setelah aku mengatakan
cinta padanya sampai aku
benar-benar Emove onE dari-
nya. Aku lumayan patah hati
waktu itu (hampir 1.5 tahun),
tapi aku masih memiliki akal
sehat yang mengontrol
perasaan sakit hatiku. Saat itu
pula aku cuti EbermainE dengan
tante Ani.
Saat ini aku masih
berhubungan baik dengan
tante Ani. Kami kadang-kadang
menyempatkan diri untuk
EbermainE 2 minggu sekali atau
kadang-kadang 1 bulan sekali.
Tergantung dari mood kami
masing-masing. Tante Ani
sampai sekarang masih single.
Aku untuk sementara ini juga
masih single. Aku putus dengan
pacarku sekitar 6 bulan yang
lalu. Sejak putus dengan
pacarku, tante Ani sempat
menjadi pelarianku, terutama
pelarian seks. Sebenarnya ini
tidak benar dan kasihan tante
Ani, namun tante Ani seperti
mengerti tingkah laku lelaki
yang sedang patah hati pasti
akan mencari seorang pelarian.
Jadi tante Ani tidak pernah
merasa bahwa dia adalah
pelarianku, tapi sebagai
seorang teman yang ingin
membantu meringkankan beban
perasaan temannya.