PDA

View Full Version : Lintas Generasi


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Mulai masuk di kota dingin B.
ini, ketika saya mulai sekolah di
SMA. Di masa itu saya
mempunyai teman karib
namanya Ova, dari Sumatera
Barat, dia menumpang di
rumah tantenya. Kebetulan
antara saya dan Ova
mempunyai hoby yang sama,
naik gunung, lintas alam,
atletik, lempar lembing. Saya
sering bertandang ke
rumahnya, makin lama makin
sering. Karena saya juga naksir
sama Ike, adik sepupu Ova
atau anak tantenya. Walau
saya sudah menjadi akrab
dengan keluarganya, tapi Ike
tak kunjung kupacari, masih
tahap pedekate.
Setelah selesai SMA Ova
melanjutkan studi di Singapura,
sementara saya tetap di kota
B., sekolah teknik. Tapi aku
mencoba untuk bertandang ke
rumah Ike, tapi jarang ketemu.
Namun perjalanan waktu
menentukan lain bagi Ike,
ayahnya yang wakil rakyat itu
meninggal. Sekarang ini ibunya
mencari nafkah sendiri dengan
memegang beberapa
perusahaannya yang memang
sudah dirintis cukup lama,
sebelum terpilih menjadi wakil
rakyat. Harapanku memacari
Ike tetap ada di dada,
walaupun saat aku berkunjung,
justru bu Ida (ibunya Ike/
tantenya Ova) yang sering
menemuiku. karena Ike ada
kesibukan di Jakarta,
sehubungan dengan
keikutsertaannya dalam
sekolah presenter di sebuah
stasion teve swasta di sana.
Tapi sebenarnya kalau mau
jujur Ike masih kalah dengan
ibunya. Bu Ida lebih
cantik.,kulitnya lebih putih
bersih, dewasa dan tenang
pembawaannya. Sementara Ike
agak sawo matang, nurun
ayahnya kali? Seandainya Ike
seperti ibunya: tenang
pembawaannya, keibuan dan
penuh perhatian, baik juga.
Sekarang, di rumah yang
cukup mewah itu hanya ada bu
Ida dan seorang pembantu. Ova
sudah tidak di situ, sementara
Ike sekolah di ibukota, paling-
paling seminggu pulang.
Akhirnya saya di suruh bu Ida
untuk membantu sebagai
karyawan tidak tetap
mengelola perusahaannya.
Untungnya saya memiliki
kemampuan di bidang komputer
dan manajemennya, yang saya
tekuni sejak SMA. Setelah
mengetahui manajemen
perusahaan bu Ida lalu saya
menawari program akuntansi
dan keuangan dengan
komputer, dan bu Ida setuju
bahkan senang. Merencanakan
kalkulasi biaya proyek yang
ditangani perusahaannya, dsb.
Saya menyukai pekerjaan ini.
Yang jelas bisa menambah uang
saku saya, bisa untuk
membantu kuliah, yang saat itu
baru semester dua. Bu Ida
memberi honor lebih dari cukup
menurut ukuran saya. Pegawai
bu Ida ada tiga cewek di
kantor, tambah saya, belum
termasuk di lapangan. Saya
sering bekerja setelah kuliah,
sore hingga malam hari, datang
menjelang pegawai yang lain
pulang. Itupun kalau ada
proyek yang harus dikerjakan.
Part time begitu. Bagi saya ini
hanya kerja sambilan tapi bisa
menambah pengalaman.
Karena hubungan kerja antara
majikan dan pegawai, hubungan
saya dengan bu Ida semakin
akrab. Semula sih biasa saja,
lambat-laun seperti sahabat,
curhat, dan sebagainya. Aku
sering dinasehati, bahkan
saking akrabnya, bercanda,
saya sering pegang tangannya,
mencium tangan, tentu saja
tanpa diketahui rekan kerja
yang lain. Dan rupanya dia
senang. Tapi aku tetap
menjaga kesopanan.
Pengalaman ini yang
mendebarkan jantungku,
betapapun dan siapapun bu
Ida, dia mampu menggetarkan
dadaku. Walaupun sudah cukup
umur wanita ini tetap jelita.
Saya kira siapapun orangnya
pasti mengatakan orang ini
cantik bahkan cantik sekali.
Dasar pandai merawat tubuh,
karena ada dana untuk itu,
rajin fitnees, di rumah
disediakan peralatannya. Kalau
sedang fitnees memakai
pakaian fitnees ketat sangat
sedap dipandang. Ini sudah
saya ketahui sejak saya SMA
dulu, tapi karena saya kepingin
mendekati Ike, hal itu saya
kesampingkan. Data-data
pribadi bu Ida saya tahu betul
karena sering mengerjakan
biodata berkaitan dengan
proyek-proyeknya. Tingginya
161 cm, usianya saat kisah ini
terjadi 37 tahun, lima bulan
dan berat badannya 52 kg.
Cukup ideal.
Pada suatu hari saya lembur,
karena ada pekerjaan proyek
dan paginya harus didaftarkan
untuk diikutkan tender. Pukul
22.00 pekerjaan belum selesai,
tapi aku agak terhibur bu Ida
mau menemaniku, sambil
mengecek pekerjaanku. Dia
cukup teliti. Kalau kerja lembur
begini ia malah sering
bercanda. Bahkan kalau
minumanku habis dia tidak
segan-segan yang menuang
kembali, aku malah menjadi
kikuk. Dia tak enggan pegang
tanganku, mencubit, namun
aku tak berani membalas.
Apalagi bila sedang mencubit
dadaku aku sama sekali tidak
akan membalas. Dan yang
cukup surprise tanpa ragu
memijit-pijit bahuku dari
belakang.
ICapek ya..? Saya pijit, nihI,
katanya.
Aku hanya tersenyum, dalam
hati senang juga, dipijit janda
cantik. Apalagi yang kurasakan
dadanya, pasti teteknya
menyenggol kepalaku bagian
belakang, saya rasakan
nyaman juga. Lama-lama pipiku
sengaja saya pepetkan dengan
tangannya yang mulus, dia
diam saja. Dia membalas
membelai-belai daguku, yang
tanpa rambut itu. Aku menjadi
cukup senang. Hampir pukul
23.00 baru selesai semua
pekerjaan, saya membersihkan
kantor dan masih dibantu bu
Ida. Wah wanita ini betul-betul
seorang pekerja keras,
gumanku dalam hati.
Saya bersiap-siap untuk
pulang, tapi dibuatkan kopi,
jadi kembali minum.
IKamu sudah punya pacar Na?I
IBelum BuI, jawabku
IMasa.., pasti kamu sudah
punya. Cewek mana yang tak
mau dengan cowok gantengI,
katanya
IBelum Bu, sungguh kokI,
kataku lagi. Kami duduk
bersebelahan di sofa ruang
tengah, dengan penerangan
yang agak redup. Entah siapa
yang mendahului, kami berdua
saling berpegangan tangan
saling meremas lembut. Yang
jelas semula saya sengaja
menyenggol tangannyaO
Mungkin karena terbawa
suasana malam yang dingin dan
suasana ruangan yang syahdu,
dan terdengar suara mobil
melintas di jalan raya serta
sayup-sayup suara binatang
malam, saya dan bu Ida hanyut
terbawa oleh suasana
romantis. Bu Ida yang malam
itu memakai gaun warna hitam
dan sedikit motif bunga ungu.
Sangat kontras dengan warna
kulitnya yang putih bersih.
Wanita pengusaha ini makin
mendekatkan tubuhnya ke
arahku. Dalam kondisi yang
baru aku alami ini aku menjadi
sangat kikuk dan canggung,
tapi anehnya nafasku makin
memburu, kejar-kejaran dan
bergelora seperti gemuruh
ombak di Pelabuhan Ratu. Saya
menjadi bergemetaran, dan tak
mampu berbuat banyak, walau
tanganku tetap memegang
tangannya.
IDingin ya Na..?!I, katanya
sendu.
Sementara tangan kiriku
ditarik dan mendekap lengan
kirinya yang memang tanpa
lengan baju itu.
IYa, Bu dingin sekaliI, jawabku.
Terasa dingin, sementara
tangannya juga merangkul
pinggangku. Bau wewanginan
semerbak di sekitar, aku
duduk, menambah suasana
romantis
IKalau ketahuan Darti
(pembantunya), gimana Bu?I,
kataku gemetar.
IDarti tidak akan masuk ke
sini, pintunya terkunciI,
katanya.
Saya menjadi aman. Lalu aku
mencoba mengecup kening
wanita lincah ini, dia tersenyum
lalu dia menengadahkan
wajahnya. Tanpa diajari atau
diperintah oleh siapapun,
kukecup bibir indahnya. Dia
menyambut dengan senyuman,
kami saling berciuman bibir
saling melumat bibir, lidah kami
bertemu berburu mencari
kenikmatan di setiap sudut-
sudut bibir dan rongga mulut
masing-masing. Tangankupun
mulai meraba-raba tubuh sintal
bu Ida, diapun tidak kalah
meraba-raba punggungku dan
bahkan menyusup dibalik
kaosku. Aku menjadi semakin
terangsang dalam permainan
yang indah ini.
Sejenak jeda, kami saling
berpandangan dia tersenyum
manis bahkan amat manis,
dibanding waktu-waktu
sebelumnya. Kami berangkulan
kembali, seolah-olah dua sejoli
yang sedang mabuk asmara
sedang bermesraan, padahal
antara majikan dan
pegawainya. Dia mulai mencumi
leherku dan menggigit lembut
semantara tanganku mulai
meraba-raba tubuhnya,
pertama pantatnya, kemudian
menjalar ke pinggulnya.
ISejak kamu kesini dengan Ova
dulu, saya sudah berpikir:
IGanteng banget ini anak!I",
katanya setengah berbisik.
IAh ibu ada-ada sajaI, kataku
mengelak walaupun saya
senang mendapat sanjungan.
ISaya tidak merayu, sungguhI,
katanya lagi.
Kami makin merangsek
bercumbu, birahiku makin
menanjak naik, dadaku semakin
bergetar, demikian juga dada
bu Ida. Diapun nampak
bergetaran dan suaranya agak
parau.
Kemudian saya beranjak,
berdiri dan menarik tangan bu
Ida yang supaya ikut berdiri.
Dalam posisi ini dia saya dekap
dengan hangatnya. Hasrat
kelakianku menjadi bertambah
bangkit dan terasa seakan
membelah celana yang saya
pakai. Lalu saya bimbing dia ke
kamarnya, bagai kerbau
dicocok hidungnya bu Ida
menurut saja. Kami berbaring
bersama di spring bed, kembali
kami bergumul saling berciuman
dan becumbu.
IGimana kalau saya tidur di sini
saja, BuI, pintaku lirih.
Ia berpikir sejenak lalu
mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian dia beranjak menuju
lemari dan mengambil pakaian
sambil menyodorkan kepada
saya.
IIni pakai punyakuI, dia
menyodorkan pakaian tidur.
Lalu aku melorot celana
panjangku dan kaos kemudian
memakai kimononya.
Aku menjadi terlena. Dalam
dekapannya aku tertidur. Baru
sekitar setengah jam saya
terbangun lagi. Dalam kondisi
begini, jelas aku susah tidur.
Udara terasa dingin, saya
mendekapnya makin kencang.
Dia menyusupkan kaki
kanannya di selakangan saya.
Penisku makin bergerak-gerak,
sementara cumbuan
berlangsung, penisku semakin
menjadi-jadi kencangnya, yang
sesungguhnya sejak tadi di
sofa.
Aku berpikir kalau sudah begini
bagaimana? Apakah saya
lanjutkan atau diam saja?
Lama aku berfikir untuk
mengatakan tidak! Tapi tidak
bisa ditutupi bahwa hasrat,
nafsu birahiku kuat sekali yang
mendorong melonjak-lonjak
dalam dadaku bercampur aduk
sampai kepada ubun-ubunku.
Walaupun aku diamkan
beberapa saat, tetap saja
kejaran libido yang terasa lebih
kuat. Memang saya sadar,
wanita yang ada didekapanku
adalah majikanku, tantenya
Ova, mamanya Ike, tapi sebagai
pria normal dan dewasa aku
juga merasakan kenikmatan
bibir dan rasa perasaan bu Ida
sebagai wanita yang sintal,
cantik dan mengagumkan.
Sedikitnya aku sudah
merasakan kehangatannya
tubuhnya dan perasaannya,
meski pengalaman ini baru
pertama kali kualami.
Aku tak kuasa berkeputusan,
dalam kondisi seperti ini aku
semakin bergemetaran, antara
mengelak dan hasrat yang
menggebu-gebu. Aku
perhatikan wajahnya di bawah
sorot lampu bed, sengaja saya
lihat lama dari dekat, wajahnya
memancarkan penyerahan
sebagai wanita, di depan lelaki
dewasa. Pelan-pelan tanganku
menyusup di balik gaunnya,
meraba pahanya dia mengeliat
pelan, saya tidak tahu apakah
dia tidur atau pura-pura tidur.
Aku cium lembut bibirnya, dan
dia menyambutnya. Berarti dia
tidak tidur. Ku singkap gaun
tidurnya kemudian kulepas, dia
memakai beha warna putih dan
cedenya juga putih. Aku
menjadi tambah takjub melihat
kemolekan tubuh bu Ida, putih
dan indah banget. Ku raba-
raba tubuhnya, dia mengeliat
geli dan membuka matanya
yang sayu. Jari-jari lentiknya
menyusup ke balik baju tidur
yang kupakai dan menarik
talinya pada bagian perutku,
lalu pakaianku terlepas. Kini
akupun hanya pakai cede saja.
IKamu ganteng banget, Na,
tinggi badanmu berapa, ya?I,
bisiknya. Saya tersenyum
senang.
IMakasih. Ada 171. Bu Ida juga
cantik sekaliI, mendengar
jawabanku, dia hanya
tersenyum.
Aku berusaha membuka
behanya dengan membuka
kaitannya di punggungnya,
kemudian keplorotkan cedenya
sehingga aku semakin takjub
melihat keindahan alam yang
tiada tara ini. Hal ini
menjadikan dadaku semakin
bergetar. Betapa tidak?! Aku
berhadapan langsung dengan
wanita tanpa busana yang
bertubuh indah, yang selama
ini hanya kulihat lewat
gambar-gambar orang asing
saja. Kini langsung mengamati
dari dekat sekali bahkan bisa
meraba-raba. Wanita yang
selama ini saya lihat berkulit
putih bersih hanya pada bagian
wajah, bagian kaki dan bagian
lengan ini, sekarang tampak
seluruhnya tiada yang tersisa.
Menakjubkan! Darahku semakin
mendidih, melihat pemandangan
nan indah itu. Di saat saya
masih bengong, pelan-pelan
aku melorot cedeku, saya dan
bu Ida sama-sama tak
berpakaian. Penisku benar-
benar maksimal kencangnya.
Kami berdua berdekapan, saling
meraba dan membelai. Kaki
kami berdua saling menyilang
yang berpangkal di selakangan,
saling mengesek. Penisku yang
kencang ikut membelai paha
indah bu Ida. Sementara itu ia
membelai-belai lembut penisku
dengan tangan halusnya, yang
membawa efek nikmat luar
biasa.
Tanganku membela-belai
pahanya kemudian kucium mulai
dari lutut merambat pelan ke
pangkal pahanya. Ia mendesah
lembut. Dadaku makin
bergetaran karena kami saling
mencumbu, aku meraba
selakangannya, ada
rerumputan di sana, tidak
terlalu lebat jadi enak
dipandang. Dia mengerang
lembut, ketika jemariku
menyentuh bibir vaginanya.
Mulutku menciumi payudaranya
dengan lembut dan mengedot
puntingnya yang berwarna
coklat kemerah-merahan, lalu
membenamkan wajahku di
antara kedua susunya.
Sementara tangan kiriku
meremas lembut teteknya.
Desisan dan erangan lembut
muncul dari mulut indahnya.
Aku semakin bernafsu walau
tetap gemetaran. Tanganku
mulai aktif memainkan
selakangannya, yang ternyata
basah itu. Saya penasaran, lalu
kubuka kedua pahanya,
kemudian kusingkap
rerumputan di sekitar
kewanitaannya. Bagian-bagian
warna pink itu aku belai-belai
dengan jemariku. Klitorisnya, ku
mainkan, menyenangkan sekali.
Bu Ida mengerang lembut
sambil menggerakkan pelan
kaki-kakinya. Lalu jariku
kumasukkan keterowongan
pink tersebut dan menari-nari
di dalamnya. Dia semakin
bergelincangan. Kelanjutannya
ia menarikku.
IAyo NaIaku tak tahanI,
katanya berbisik
Dan merangkulku ketat sekali,
sehingga bagian yang menonjol
di dadanya tertekan oleh
dadaku.
Aku mulai menindih tubuh sintal
itu, sambil bertumpu pada
kedua siku-siku tanganku,
supaya ia tidak berat
menompang tubuhku.
Sementara itu senjataku
terjepit dengan kedua
pahanya. Dalam posisi begini
saja enaknya sudah bukan
main, getaran jantungku makin
tidak teratur. Sambil menciumi
bibirnya, dan lehernya,
tanganku meremas-remas
lembut susunya. Penisku
menggesek-gesek
sekalangannya, ke arah atas
(perut), kemudian turun
berulang-ulang Tak lama
kemudian kakinya
direnggangkan, lalu pinggul
kami berdua beringsut, untuk
mengambil posisi tepat antara
senjataku dengan lubang
kewanitaannya. Beberapa kali
kami beringsut, tapi belum juga
sampai kepada sasarannya.
Penisku belum juga masuk ke
vaginanya
IAlot jugaI, bisikku. Bu Ida
yang masih di bawahku
tersenyum.
ISabar-sabarI, katanya. Lalu
tangannya memegang penisku
dan menuntun memasukkan ke
arah kewanitaannya.
ISudah ditekanO pelan-pelan
sajaI, katanya. Akupun
menuruti saja, menekan
pinggulkuO
IBlesssI, masuklah penisku,
agak seret, tapi tanpa
hambatan. Ternyata mudah!
Pada saat masuk itulah, rasa
nikmatnya amat sangat. Seolah
aku baru memasuki dunia lain,
dunia yang sama sekali baru
bagiku. Aku memang pernah
melihat film orang beginian,
tetapi untuk melakukan sendiri
baru kali ini. Ternyata rasanya
enak, nyaman, mengasyikkan.
Wonderful! Betapa tidak, dalam
usiaku yang ke 23, baru
merasakan kehangatan dan
kenikmatan tubuh wanita.
Gerakanku mengikuti naluri
lelakiku, mulai naik-turun, naik-
turun, kadang cepat kadang
lambat, sambil memandang
ekspresi wajah bu Ida yang
merem-melek, mulutnya sedikit
terbuka, sambil keluar suara
tak disengaja desah-mendesah.
Merasakan kenikmatannya
sendiri.
IAhO uhO ehO hemI"
Ketika aku menekankan
pinggulku, dia menyambut
dengan menekan pula ke atas,
supaya penisku masuk
menekan sampai ke dasar
vaginanya. Getaran-getaran
perasaan menyatu dengan
leguhan dan rasa kenikmatan
berjalan merangkak sampai
berlari-lari kecil berkejar-
kejaran. Di tengah peristiwa itu
bu Ida berbisik
IKamu jangan terlalu keburu
nafsu, nanti kamu cepat capek,
santai saja, pelan-pelan, ikuti
iramanyaI, ketika saya mulai
menggenjot dengan
semangatnya.
IYa Bu, maafI, akupun
menuruti perintahnya.
Lalu aku hanya menggerakkan
pinggulku ala kadarnya
mengikuti gerakan pinggulnya
yang hanya sesekali dilakukan.
Ternyata model ini lebih
nyaman dan mudah dinikmati.
Sesekali kedua kakinya
diangkat dan sampai ditaruh di
atas bahuku, atau kemudian
dibuka lebar-lebar, bahkan
kadang dirapatkan, sehingga
terasa penisku terjepit ketat
dan semakin seret. Gerak
apapun yang kami lakukan
berdua membawa efek
kenikmatan tersendiri. Setelah
lebih dari sepuluh menit , aku
menikmati tubuhnya dari atas,
dia membuat suatu gerakan
dan aku tahu maksudnya, dia
minta di atas.
Aku tidur terlentang, kemudian
bu Ida mengambil posisi
tengkurap di atasku sambil
menyatukan alat vital kami
berdua. Bersetubuhlah kami
kembali.Ia memasukkan penisku
rasanya ketat sekali
menghujam sampai dalam.
Sampai beberapa saat bu Ida
menggerakkan pinggulnya,
payudaranya bergelantungan
nampak indah sekali, kadang
menyapu wajahku. Aku
meremas kuat-kuat bongkahan
pantatnya yang bergoyang-
goyang. Payudaranya
disodorkan kemulutku, langsung
kudot. Gerakan wanita
berambut sebahu ini makin
mempesona di atas tubuhku.
Kadang seperti orang
berenang, atau menari yang
berpusat pada gerakan
pinggulnya yang aduhai.
Bayang-bayang gerakan itu
nampak indah di cermin sebelah
ranjang. Tubuh putih nan indah
perempuan setengah baya
menaiki tubuh pemuda agak
coklat kekuning-kuningan.
Benar-benar lintas generasi!
Adegan ini berlangsung lebih
dari lima belas menit, kian lama
kian kencang dan cepat,
gerakannya. Nafasnya kian
tidak teratur, sedikit liar.
Kayak mengejar setoran saja.
Tanganku mempererat
rangulanku pada pantat dan
pinggulnya, sementara mulutku
sesekali mengulum punting
susunya. Rasanya enak sekali.
Setelah kerja keras majikanku
itu mendesah sejadi-jadinyaI
IAhO uh, ehO aku, ke..
luaar..Na..I, rupanya ia orgasme.
Puncak kenikmatannya
diraihnya di atas tubuhku,
nafasnya berkejar-kejaran,
terengah-engah merasakan
keenakan yang mencapai
klimaknya. Nafasnya berkejar-
kejaran, gerakannya lambat
laun berangsur melemah,
akhirnya diam. Ia menjadi lemas
di atasku, sambil mengatur
nafasnya kembali. Aku
mengusap-usap punggung
mulusnya. Sesekali ia
menggerak-gerakkan
pinggulnya pelan, pelan sekali,
merasakan sisa-sisa puncak
kenikmatannya. Beberapa menit
dia masih menindih saya.
Setelah pulih tenaganya, dia
tidur terlentang kembali, siap
untuk saya tembak lagi. Kini
giliran saya menindihnya, dan
mulai mengerjakan kegiatan
seperti tadi. Gerakan ku pelan
juga, dia merangkul aku. Naik
turun, keluar masuk. Saat
masuk itulah rasa nikmat luar
biasa, apalagi dia bisa
menjepit-jepit, sampai
beberapa kali. Sungguh aku
menikmati seluruhnya tubuh bu
Ida. Ruaar biasa! Tiba-tiba
suatu dorongan tenaga yang
kuat sampai diujung senjataku,
aliran darah, energi dan
perasaan terpusat di sana,
yang menimbulkan kekuatan
dahsyat tiada tara. Energi itu
menekan-nekan dan memenuhi
lorong-lorong rasa dan
perasaan, saling memburu dan
kejar-kejaran. Didorong oleh
gairah luar biasa, menimbulkan
efek gerakan makin keras dan
kuat menghimpit tubuh indah,
yang mengimbangi dengan
gerakan gemulai mempesona.
Akhirnya tenaga yang
menghentak-hentak itu keluar
membawa kenikmatan luar
biasaI, suara tak disengaja
keluar dari mulut dua insan
yang sedang dilanda
kenikmatan. Air maniku terasa
keluar tanpa kendali,
menyemprot memenuhi lubang
kenikmatan milik bu Ida.
IAhhO eghO eghO uhhI, suara
kami bersaut-sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat
makin seru, diapun makin
merapatkan tubuhnya
terutama pada bagian bawah
perutnya, kuat sekali. Menyatu
semuanya,
IAkuI keluar BuI, kataku
terengah-engah.
IAku juga NaI, suaranya agak
lemah.
ILho keluar lagi, tadi kan
sudah?! Kok bisa keluar lagi?!I,
tanyaku agak heran.
IYa, bisa dua kaliI, jawabnya
sambil tersenyum puas.
Kami berdua berkeringat,
walau udara di luar dingin.
Rasanya cukup menguras
tenaga, bagai habis naik
gunung saja, lempar lembing
atau habis dari perjalanan
jauh, tapi saya masih bisa
merasakan sisa-sisa
kenikmatan bersama. Selang
beberapa menit, setelah
kenikmatan berangsur
berkurang, dan terasa lembek,
saya mencabut senjataku dan
berbaring terlentang di sisinya
sambil menghela nafas panjang.
Puas rasanya menikmati
seluruh kenikmatan tubuhnya.
Perempuan punya bentuk
tubuh indah itupun terlihat
puas, seakan terlepas dari
dahaganya, yang terlihat dari
guratan senyumnya. Saya lihat
selakangannya, ada ceceran air
maniku putih kental meleleh di
bibir vaginanya bahkan ada
yang di pahanya. Pengalaman
malam itu sangat menakjubkan,
hingga sampai berapa kali aku
menaiki bu Ida, aku lupa. Yang
jelas kami beradu nafsu hampir
sepanjang malam dan kurang
tidur.
Keesokan harinya
Busa-busa sabun memenuhi
bathtub, aku dan bu Ida mandi
bersama, kami saling menyabun
dan menggosok, seluruh sisi-sisi
tubuhnya kami telusuri,
termasuk bagian yang paling
pribadi. Yang mengasyikkan
juga ketika dia menyabun
penisku dan mengocok-kocok
lembut. Saya senang sekali dan
sudah barang tentu membawa
efek nikmat.
"Saya heran barang ini
semalaman kok tegak terus,
kayak tugu Monas, besar lagi.
Ukuran jumbo lagi?!", katanya
sambil menimang-nimang tititku.
"Kan Ibu yang bikin begini?!",
jawabku. Kami tersenyum
bersama.
Sehabis mandi, kuintip lewat
jendela kamar, Darti sedang
nyapu halaman depan, kalau
aku keluar rumah tidak
mungkin, bisa ketahuan. Waktu
baru pukul setengah enam.
Tetapi senjata ini belum juga
turun, tiba-tiba hasrat lelakiku
kembali bangkit kencang sekali.
Kembali meletup-letup, jantung
berdetak makin kencang. Lagi-
lagi aku mendekati janda yang
sudah berpakaian itu, dan
kupeluk, kuciumi. Saya agak
membungkuk, karena aku lebih
tinggi. Bau wewangian
semerbak disekujur tubuhnya,
rasanya lebih fresh, sehabis
mandi. Lalu ku lepas gaunnya,
ku tanggalkan behanya dan
kuplorotkan cedenya. Kami
berdua kembali berbugil ria dan
menuju tempat tidur. Kedua
insan lelaki perempuan ini saling
bercumbu, mengulangi
kenikmatan semalam.
Ia terbaring dengan manisnya,
pemandangan yang indah
paduan antara pinggul depan,
pangkal paha, dan rerumputan
sedikit di tengah menutup
samara-samar huruf "V",
tanpa ada gumpalan lemaknya.
Aku buka dengan pelan kedua
pahanya. Aku ciumi, mulai dari
lutut, kemudian merambat ke
paha mulusnya. Sementara
tangannya mengurut-urut
lembut penisku. Tubuhku mulai
bergetaran, lalu aku membuka
selakangannya, menyibakkan
rerumputan di sana. Aku ingin
melihat secara jelas barang
miliknya. Jariku menyentuh
benda yang berwarna pink itu,
mulai bagian atas membelai-
belainya dengan lembut,
sesekali mencubit dan membelai
kembali. Bu Ida bergelincangan,
tangannya makin erat
memegang tititku. Kemudian
jariku mulai masuk ke lorong,
kemudian menari-nari di sana,
seperti malam tadi. Tapi bibir,
dan terowongan yang
didominasi warna pink ini lebih
jelas, bagai bunga mawar yang
merekah. Beberapa saat aku
melakukan permainan ini, dan
menjadi paham dan jelas betul
struktur kewanitaan bu Ida,
yang menghebohkan semalam.
Gelora nafsu makin menggema
dan menjalar seantero tubuh
kami, saling mencium dan
mencumbu, kian memanas dan
berlari kejar-kejaran. Seperti
ombak laut mendesir-desir
menerpa pantai. Tiada kendali
yang dapat mengekang dari
kami berdua. Apalagi ketika
puncak kenikmatan mulai
nampak dan mendekat ketat.
Sebuah kejutan, tanpa aku
duga sebelumnya penisku yang
sejak tadi di urut-urut
kemudian dikulum dengan
lembutnya. Pertama dijilati
kepalanya, lalu dimasukkan ke
rongga mulutnya. Rasanya saya
diajak melayang ke angkasa
tinggi sekali menuju bulan. Aku
menjadi kelelahan. Sesi
berikutnya dia mengambil posisi
tidur terlentang, sementara
aku pasang kuda-kuda,
tengkurap yang bertumpu
pada kedua tangan saya. Saya
mulai memasukkan penisku ke
arah lubang kewanitaan bu Ida
yang tadi sudah saya "pelajari"
bagian-bagiannya secara
seksama itu. Benda ini memang
rasanya tiada tara, ketika
kumasukkan, tidak hanya saya
yang merasakan enaknya
penetrasi, tetapi juga bu Ida
merasakan kenikmatan yang
luar biasa, terlihat dari ekpresi
wajahnya, dan desahan lembut
dari mulutnya.
"Ah", desahnya setiap aku
menekan senjataku ke arah
selakangannya, sambil
menekankan pula pinggulnya ke
arah tititku. Kami berdua
mengulangi mengarungi
samodra birahi yang
menakjubkan, pagi itu.
Semuanya sudah selesai, aku
keluar rumah sekitar pukul
setengah delapan, saat Darti
mencuci di belakang. Dalam
perjalanan pulang aku
termenung, Betapa kejadian
semalam dapat berlangsung
begitu cepat, tanpa liku-liku,
tanpa terpikirkan sebelumnya.
Sebuah wisata seks yang tak
terduga sebelumnya.
Kenikmatan yang kuraih,
prosesnya mulus, semulus paha
bu Ida. Singkat, cepat dan
mengalir begitu saja, namun
membawa kenikmatan yang
menghebohkan. Betapa aku
bisa merasakan kehangatan
tubuh bu Ida secara utuh,
orang yang selama ini menjadi
majikanku. Menyaksikan rona
wajah bu Ida yang memerah
jambu, kepasrahannya dalam
ketelanjangannya, menunjukkan
kedagaan seorang wanita yang
mebutuhkan belaian dan
kehangatan seorang pria.
Hari berganti minggu, minggu
berganti bulan, si kumbang
muda makin sering mendatangi
bunga untuk mengisap madu.
Dan bunga itu masih segar
saja, bahkan rasanya makin
segar menggairahkan. Memang
bunga itu masih mekar dan
belum juga layu, atau memang
tidak mau layu.
Pernah pada suatu
kesempatan bu Ida bertandang
ke kos-kosanku. Waktu itu
pagi sekitar pukul 09.00, saya
sedang kerjakan tugas. Kepada
induk semang saya akui dia
sebagai tanteku. Karena kira-
kira sudah ada dua mingguan
tidak begituan, saya sangat
ngebet, kepingin sekali. Kuciumi
dia dan kulumat bibir indahnya.
Lalu saya plorotkan celana
panjangnya sekalian dengan
cedenya, saya tembak di
kamarku. Belum sampai selesai
terdengar ada sepeda motor
masuk pintu gerbang. Itu
teman kos saya. Kami cepat-
cepat mengakhirinya. Kulihat bu
Ida pucat pasi wajahnya.
Seperti biasanya temanku
nyelonong masuk ke kamar,
tapi karena kami berdua sudah
kelihatan beres, tidak ada
yang mencurigakan, jadi tidak
ada masalah. Itulah permainan
kami yang paling singkat.