PDA

View Full Version : Polisi Muda


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Aku tinggal di kompleks
perumahan elit di Yogyakarta.
Suamiku termasuk orang yang
selalu sibuk. Sebagai Pegawai
Negeri Sipil (PNS) di Kejaksaan
Yogyakarta tugasnya boleh
dibilang tidak kenal waktu.
Usiaku sudah 35 tahun selisih
tiga tahun lebih tua suamiku.
Tinggi 158 cm dan berat 50
kg, orang-orang bilang
tubuhku bagus, tapi
menuruntuku biasaAbiasa saja.
Aku punya dua putra, anak
pertama kelas tiga SMP dan
anak kedua kelas satu SMP.
Sebut saja namaku Ina (bukan
nama sebenarnya).
Aku melakukan kesalahan yang
sangat fatal dalam hidup ini
karena aku telah berselingkuh
dengan seseorang yang aku
belum begitu mengenalnya.
Singkat cerita, kejadian ini
pada tanggal enam Maret
2008, dimana waktu itu aku
berkunjung kekantor suamiku
setelah aku pulang dari
mengajar, oh ya, aku adalah
seorang guru di salah satu
SMP Negeri dan Swasta di
Yogyakarta.
Dari sekolahan aku langsung
melucur kekantor Kejaksaan
Yogyakarta, tapi diperempatan
sebelah timur tugu aku telah
melanggar lampu merah dan
akhirnya aku dikejar oleh salah
seorang polisi yang sedang
bertugas, sang Polisi berhenti
memotong laju kendaraanku
aku pun bergegas menginjak
rem.
ISelamat Siang Bu..!I
ISiang pakI, begitu sahutku.
IMaaf Bu, Anda telah
melanggar lampu merah, Tolong
tunjukan SIM dan STNK Anda.I
Aku pun mengeluarkan dompet
dan menyerahkan SIM beserta
STNK.
IMaaf Bu, Anda Ikut saya
kepos Polisi.I
Aku pun menurutinya karena
aku juga merasa bersalah.
Polisi muda tersebut masih
berusia sekitar 28 Tahun
berinisial IRI.
Kami pun samaAsama menuju
pos polisi.
Setelah sampai dipos polisi saya
diberi alternatif untuk
mengembalikan SIM saya. Yang
pertama aku harus sidang
pada tanggal 11 Maret dan
aku harus membayar denda
sebesar Rp. 20.000,00.
Tanpa ambil pusing akupun
langsung membayar denda
karena aku juga tergesaAgesa
menuju kantor suamiku, karena
suamiku telah menungguku
untuk pulang bareng,
kebetulan suamiku tidak bawa
mobil karena dipakai salah satu
temannya.
Ku akui kalau polisi tersebut
tampan, badan tinggi dan
tegap.
Setelah proses pembayaran
denda selesai, sang polisi
bertanya.
IMaaf Bu, kenapa Ibu
kelihatannya Tergesa-gesa?I
IIya ini pak, saya sudah
ditunggu suamiku dikantornya.I
IKalau boleh tahu kantornya
dimana Bu?I
IKantor Kejaksaan PakI, aku
jawab pertanyaannya.
IOya, Suami Ibu siapa namanya,
kalau boleh tauI?
IPak Andre (bukan Nama
Sebenarnya)I
IHaO Pak AndreI, Polisi merasa
terkejut.
IIya memang kenapaI, tanyaku
kepada polisi muda.
Isaya kenal baik bu dengan
dia.I
IOh yaO Bapak kenal dimana?I,
Kembali tanyaku.
Isaya sering kekantor
kejaksaan Bu, jadi ya kenal
dengan pak Andre.I
IOhO Iya sich polisi sama
kejaksaan masih saudara yaI,
begitu girauku dengan polisi
muda.
IAhO Ibu bisa saja. Pak Andre
beruntung ya punya istri
secantik ibu.I
ITerima kasih pak atas
pujiannya, tapi saya boleh
pergi pak. Kasihan suamiku
sudah menungguI, begitu
sahuntuku sama polis muda.
IOhO Silahkan bu, kalau ibu
butuh sesuatu yang
berhubungan dengan polisi
silahkan hubungi saya buI,
sambil kasih secarik kertas
berisikan nomor hp dia.
Akupun menerimanya dan
langsung pergi kekantor
suamiku.
Setiba dikantor suamiku,
suamiku sudah menunggu
diruang tamu, sedang bincangA
bincang dengan rekan
kerjanya.
IKok mama lama banget sich,
kemana aja?I, tanya suamiku
kepadaku.
IMaaf pa, tadi saya ketilangI,
jawabku singkat.
IKok mama tidak bilang, kan
nanti bisa tidak bayar dendaI,
jawab suamiku.
IGak masalah pa, lagi pula
mama yang salah.I
IEmang siapa yang tilang kamu
ma?I, tanya suamiku.
IDia namanya Randi (Bukan
nama sebenarnya)I, begitu
jawabku sama suamiku.
IHaO Randi, mama tidak bilang
kalau mama istriku?I
IBilang sich pa, tapi pas sudah
membayar denda, udahlah pa
tidak usah dibahas lagiI, begitu
aku meyakinkan suamiku biar
tidak berkepanjangan.
Iya sudah ayo pulangI, ajak
suamiku.
Setelah suamiku pamit kepada
rekanArekannya, langsung aku
dan suamiku berboncengan
menuju rumah.
Keesokan harinya hari kamis
tanggal tujuh Maret 2008,
kebetulan aku tidak mengajar,
karena hari kamis tidak ada
jam pelajaran yang saya
ajarkan. Akhirnya aku dirumah
sendiri karena anakAanak
sekolah dan suami kekantor
yang ad Cuma pembantu.
Sekitar pukul 10 siang telepon
rumah berdering. Aku pun
lansung angkat teleponnya.
IHaloO Selamat pagiI, jawabku.
IHalo ma ini papa, tadi polisi
yang menilang kamu kemarin
datang kekantor minta maaf
sama papa, dan mau ngembaliin
uang denda kemarinI, kata
suamiku ditelepon.
ITrus gimana pa?, ya udahlah
pa tidak usah diusut lagi.I
IAku tidak ngapainAngapain
kok, tadi dia sendiri yang
datang kekantor dan minta
maafI, begitu jawab suamiku.
IYa udahlah, terima aja uang
dendanya, selesai kan?I,
akupun menjawab
ISekarang dia menuju rumah
kita, karena aku bilang minta
maaf aja langsung ma istrikuI,
jawab suamiku.
IIhh, ngapain pa?, kayak
kurang kerjaan aja?I, aku
membalas perkataannya.
IYa udah tidak masalah, ntar
dia cuma minta maaf kok. Dah
ya ma, papa lagi kerja nichI,
begitu kata suamiku.
IYa udah pa, daOI, aku pun
tutup teleponnya.
Selang tiga puluh menit ada
kendaraan sepeda motor
Honda Tiger datang, aku
sedang menonton TV diruang
keluarga.
IPermisiO PermisiOI, panggil
seseorang dibalik pintu depan.
IBiO Tolong buka pintu, ada
tamuI, aku menyuruh
pembantuku.
IIya buI, jawab pembantuku.
IMaaf mbak bu Ida ada?I,
tanya seorang tamu tadi.
IAda pak, tapi bapak siapa
ya?I, tTanya kembali
pembantuku.
IOh ya, bilang saja saya Randi.
Ibu dah tahu kokI, jawabnya.
Aku yang didalam ruang
keluarga mendengar
percakapannya, aku terkejut
setelah yang datang adalah
Randi sang polisi muda yang
tampan, tegap dan tinggi.
ISilahkan masuk pakI,
pembantuku bersikap sopan
terhadapnya.
Gak lama kemudian
pembantuku datang.
IBu ada yang cari ibu?I, kata
pembantuku.
ISiapa bi?I, tanyaku puraA
pura tidak tau.
IRandi bu, katanya ibu sudah
tauI, jawab pembantuku yang
polos.
IYa udah sana masak lagiI,
begitu perintahku sama
pembantuku.
Akupun berdiri menuju ruang
tamu.
IEh.. Pak Randi, ada apa ya
pak? Apa masih perlu syarat
lagi untuk ditilang?I, kataku
sedikit menyindir.
IGak bu, jadi tidak enak nich.
Saya hanya minta maaf buI,
jawab Randi.
INgapain minta maaf, kan saya
yang salah dan kamu sudah
sesuai prosedur untuk menilang
sayaI, aku pun menjawab.
IIya sich bu, tapi saya tidak
enak sajaI, Kembali dia
berkata dengan nada
menyesal.
IYa sudah tidak usah dipikirkan
lagiI, sahutku.
IIya bu terimakasihI, jawabnya.
IKok bapak tidak bertugasI,
tanyaku.
ISaya mohon jangan panggil
pak dong, panggil nama sajaI,
jawabnya.
IOya maaf. Randi kok tidak
tugas?I, tanyaku kembali.
ISaya nanti malam piket bu.I,
jawabnya dengan polos.
IOhO Jadi kesini intinya hanya
minta maaf ya?I, tanyaku
kepada Randi.
IIya bu, maaf bu kok sepi
emang rumah sebesar ini dihuni
siapa saja bu?I, tanya Randi.
IOhO AnakAanak lagi sekolah,
bapak dikantor, jadi dirumah
cuma aku dan pembantuku,
tapi kalau aku kerja ya cuma
pembantukuI, jawabku jelas.
IRumah sebesar ini cuman
dihuni empat orang plus
pembantu bu?I, tanyanya
kembali.
IIya mang napa?I, tanyaku
kembali.
Ku akui rumah kami memang
besar bertingkat, kamar tidur
ada 6, diatas dua dibawah tiga
dan satu kamar pembantu.
Untuk kamar atas khusus
kamar aku dan suamiku dan
satu kamar atas untuk kamar
tamu. AnakAanakku punya
kamar sendiriAsendiri dibawah.
IGak apa - apa Cuma tanya
aja buI, begitu jawab Randi.
Pukul sudah menunjukan pukul
11.00 WIB kami asik ngobrol.
Diwaktu ngobrol asik
pembantuku membawa minuman
teh buat Randi dan aku.
ISilahkan diminum RanI,
perintahku sama Randi.
IIya bu, terimakasihI,
jawabnya.
Kami pun menikmati teh yang
dibuat oleh pembantuku. Dan
tibaAtibaO
IIbu cantik sekaliI, kata Randi.
IMaaf.. Apa ran?I, aku puraA
pura tidak dengar dan sedikit
kaget.
IIya ibu cantik sekali, pak
Andre beruntung punya istri
kayak ibu yang cantik dan
pinterI, katanya kembali
memujiku.
ITerimakasih atas pujiannya,
tapi aku sudah berusia 35
tahun jadi dibandingkan dengan
perempuan yang seusia kamu
pasti lebih cantik, apa lagi aku
bersuami dan punya anak lagiI,
jawabku sambil menyakinkan
kalau aku bersuami.
ITapi ibu tetep cantik kok,
walaupun punya anakI, dia
kembali memujiku.
ITerimakasih ya, tapi Randi
jangan memuji terus, karena
tidak enak aja kedengaranyaI,
jawabku halus.
IApakah saya salah bu, jika
kagum terhadap ibuI, dia mulai
merayu lagi.
IGak salah kok, Cuma tidak
enak aja. Apa lagi aku dah
bersuami dan anakAanakku
dah beranjak dewasaI,
jawabku kepada Randi.
Dia berdiri dan duduk disamping
kananku. Aku mulai merasa
takut, aneh pokoknya sudah
tak karuan perasaanku. Aku
sedikit menggeser kekiri, dia
mengikuti geser pula, akhirnya
aku berdiri karena aku merasa
terlecehkan.
IMaaf ran, jangan begitu tidak
enak sama pembantuku,
apalagi aku dah bersuamiI, aku
berkata tegas.
Tapi dia ikut berdiri dan kedua
tangannya memegang
pundakku dan ditekan
kebawah agar aku kembaliA
kembali duduk disofa.
IMaaf bu, tapi saya benarA
benar kagum terhadap ibu, ibu
cantik bahkan kecantikan ibu
mengalahkan semua wanita
yang masih berumur belasan
tahun. Benar bu ini semua
kejujuranku terhadap ibu, aku
bisa saja mendapatkan wanita
lain tapi menuruntuku mereka
tidak menarik bagiku tapi ibu
yang menarik hatikuI, katanya
lugu, apakah dia jujur apa
tidak tapi yang jelas sudah
lama suamiku tidak memujiku
bahkan hampir tidak pernah
memujiku.
IMaaf Ran aku dah tua, sudah
punya anak dan suami, aku
sudah berkeluarga dan aku
merasa sangat berbahagia
dengan keluargaku saat ini.
Jadi kumohon jangan lakukan
lagiI, pintaku terhadap Randi
walaupun tak pungkiri aku
merasa senang dipuji.
Randi mulai mengeluskan
tangannya dirambuntuku lurus
yang panjang sambil berkata:
IIbu, aku tidak bermaksud
merusak kebahagiaan ibu, tapi
aku hanya mengatakan kalau
aku suka sama ibu walau
umurku lebih muda tujuh tahun
dibawah ibu. Tapi menurutku
ibu tetap cantik dan menarik.I
Dia mulai berani mendekap aku.
Jantungku berdebar tak
karuan, aku berontak tapi dia
tetap tidak melepaskan
pelukannya.
Icukup Randi, kamu jangan
kurang ajar gini dongI,
gerutuku masih dalam
peluknya.
ICoba nikmati bu, jangan
berpikiran ibu berkhianat
terhadap suami ibu, tapi
berpikirlah bagaimana agar ini
terasa indahI, begitu katanya
menyakinkanku.
Dilepas pelukannya dan dia
memandangi wajahku. Dan
kuakui dia anak yang tampan.
Dan tanpa sadar dia telah
mencium pipiku, dia melihatku
dengan mata sayu lalu tiba-
tiba dia mulai mencium pipiku
kembali. Ku akui aku menikmati
ciuman mesranya dipipiku.
Dia kembali memelukku, tapi ini
apa yang kurasakan dia
menjilati kupingku, terus
menjilati leherku kembali lagi
kekuping terus menerus, aku
hanya diam terpaku, akhirnya
aku mendesis lirih.
Dan seperti kehilangan kontrol
akupun membalas menjilati
kuping. Randi membalas tidak
kalah jilatannya. Napasku
terengah engah tanda napsuku
mulai naik. Ternyata dia tahu
aku telah terangsang dengan
tingkahnya.
Tiba-tiba tangan kirinya dia
taruh ke pahaku. Tetapi saat
aku tidak menunjukkan reaksi,
tangan Randi mulai mengelusi
pahaku kemudian menaikkan
elusannya ke peruntuku
kemudian ke dadaku. Aku tepis
kuat-kuat. Aku bisikkan agar
jangan tidak sopan padaku. Dia
tunjukkan celana dalamnya
yang telah terdorong mencuat
karena kontolnya yang
ngaceng berat sambil
telunjuknya menunjuk bibirnya
agar aku diam. Kemudian dia
perosotkan celananya hingga
kontolnya yang cukup gede
dan ujung kepalanya yang
merah berkilatan itu nampak
tegak kaku mencuat dari
rimbunan bulunya yang masih
halus tipis. Aku kaget banget
dengan ulah Randi ini. Yang aku
takuntukan kalau-kalau
pembantuku mendengar, masuk
ke ruang tamu dan melihat
apa yang terjadi di ruang
tamu ini. Bisa-bisa aku
dianggap serong sementara
suamiku masih berada di
kantor. Aku berontak untuk
berdiri dan meninggalkan ruang
tamu. Tetapi Randi lebih sigap
dan kuat. Direnggutnya
rambutku dengan kasar hingga
aku nyaris terjatuh. Kemudian
dengan paksa mukaku
ditundukkan ke arah
selangkangannya. Dia arahkan
kontolnya ke mulutku. Dia
maksudkan agar aku
mengulumnya. Kurang ajar dan
kebangetan banget, nih anak.
Tahu bahwa ada pembantuku
di dapur dia berani mencoba
melakukan macam ini padaku.
Tapi aku tetap tidak mau.
Dengan lembut dia menidurkan
aku disofa dan dengan lembut
pula tanpa kata kata, dia
membuka kancing bajuku dan
dia menyentuh kedua bukit
kembarku, aku mendesis desis.
Dia lepas bukit kembarku dan
berdiri sambil menutup
celananya kembali yang sempat
dikeluarkan penisnya. Dia
berkata:
IBu, kita kekamar ibu, dan
suruh pembantu ibu pergi
kemana gitu biar kita senangA
senang tanpa ada yang
memgangguOI
Aku diam terpaku dan masih
bimbang apakah aku
menerimanya apa menolaknya,
apa aku sudah berselingkuh.
Aku masih terdiam sementara
Randi menunggu jawabanku.
Aku masih berpikir apa aku
harus menampar muka Randi
dan mengusirnya. Tapi jujur
kuakui kalau perilaku Randi
membuat aku terangsang. Dan
akhirnya..
IBi.. Bibi..I, Aku memanggil
pembantuku.
Pembantuku datang dengan
lariAlari kecil dan menyahut
panggilanku.
IAda apa bu?I
IBibi sekarang ke pasar beli
buah buat persediaan anakA
anakI, perintahku.
Kebetulan buahAbuahan yang
dikulkas telah habis.
ITapi bu, saya sedang masakI,
bantah pembantuku.
Iya sudah tinggalkan saja,
nanti sekalian mampir ke
Rumah makan padang beli
lauknya saja buat makan siang
anakAanakI, perintahku
kembali sama pembantuku.
IBaik buI, jawab pembantuku.
IOh ya sekalian jemput dwi ya,
habis dari beli buah jemput
DwiI, perintahku lagi sama
pembantuku. Dwi adalah
putraku ke dua kelas satu
SMP, biasanya pulang jam dua
siang. Anak pertamaku karena
kelas tiga jadi ada les
tambahan.
IBaik buI, jawab pembantuku.
Sambil ku beri uang belanja
dan kunci motor aku sempat
melirik Randi yang tersenyumA
senyum padaku. Akupun belum
begitu meresponnya.
Pembantu telah pergi dan
akhirnya tinggal aku dan Randi,
sempat melihat jam
menunjukan pukul 12. Dan
nanti kurang lebih jam 2.15
siang pembantuku akan kembali
bersama anakku, itu artinya
aku masih punya waktu 2jam
untuk bersama Randi.
Tapi jujur aku masih merasa
bingung apa harus aku lakukan
atau tidak, karena aku merasa
bahagia dengan keluargaku
saat ini juga, tetapi tak dapat
kupungkiri aku sudah merasa
terangsang dengan perilaku
Randi.
TibaAtiba Randi berkata.
IBu, ayo keruang keluarga
sambil nonton tvI, ajak Randi.
Akupun melangkah keruang
keluarga dengan Randi, dan
setelah sampai diruang
keluarga, kami duduk di karpet
depan tv yang masih hidup.
Tanpa basa basi, langsung saja
dia merangkulku dan
merobohkan aku dikarpet
posisiku ditelentangkan, aku
hanya protes,
IRannO apa-apaan siih..I,
katanya kita mau ngobrol saja
kok beginiOI
Dan sambil mencari kaitan BH di
belakang tubuhku, dia
menjawab saja,
ISebenarnyaO aku pengen
buOI
Setelah kaitan BH-ku terlepas,
langsung saja BH-ku dibuka
dan dijilat payudaraku serta
dia menyedot-sedot puting
susuku yang putih dan besar
dan tanpa sadar aku mencoba
memasukkan tangan kananku
ke dalam celana Randi mencari
cari penis yang sempat
diperlihatkan kepadaku, tetapi
karena celananya agak sempit
sehingga aku kesulitan
memasukkan tanganku dan
langsung saja aku berkata
entah sadar apa tidak:
IRan, bukain celanamu, aku
yoo.., kepinginO pegang
punyamuI, pintaku.
Dan tanpa melepas puting
susuku yang masih dia sedot,
dia mulai melepas celana dan
celana dalamnya sekaligus
sehingga dia sekarang sudah
telanjang bulat dan penisnya
yang setengah berdiri itu
langsung saja kupegang dan
segera saja aku berkomentar,
IRan, kok masih lembek.. Gak
kayak tadi?I
ICoba saja di isapO pasti
sebentar saja sudah tegang,
mau?I, tanya Randi.
sambil memandangi wajahku,
dan akupun mulai menjilatinya,
toh aku juga pernah sama
suamiku.
Dia melepas isapan mulutnya di
payudaraku dan bangun serta
duduk di dekat kepalaku sambil
sedikit dia memiringkan
badanku kearahnya dan
dengan tidak sabaran langsung
saja batang penisnya yang
masih setengah berdiri
kupegangi dan kepalanya ku
jilat-jilat sebentar dan
langsung dimasukkan ke dalam
mulutku. Dia memutar badanku
setengah tengkurap, aku
segera saja memaju-
mundurkan kepalaku sehingga
penisnya keluar masuk di
mulutku.
IAah.., ooh, BuuuO terussO
oohO enaaknyaa, Bu.. oohhI,
kata Randi sambil membelai
rambut di kepalaku dan
sesekali dia menjambak dan
baru sebentar saja aku
menghisap penis Randi, terasa
penisnya sudah tegang sekali.
Tiba-tiba saja penisnya
dikeluarkan dari muluntuku dan
langsung dia berkata.
IBuuuO, isap.., lagii.., doongI,
pintanya kepadaku.
Tetapi aku menjawab dengan
sedikit meminta.
IRannO tolong, punya saya
jugaOI
Ternyata dia langsung
mengerti apa yang aku mau
dan langsung saja dia merubah
posisi dan dia menjatuhkan
dirinya tiduran ke dekat kaki
ku dan dia menarik celana
dalamku turun serta melepas
dari badanku.
Dengan perilakunya aku
bergerak dan berganti posisi
tidur di atas badan Randi
sehingga vaginaku tepat
berada di mulut Randi, maka
tanpa bersusah payah dia
sibak bulu-bulu vaginaku yang
menutupi bibir vaginaku dan
setelah itu dia membuka bibir
vaginaku dengan kedua jari
tangannya dan dia menjulurkan
lidahnya menusuk ke dalam
vaginaku yang sudah basah
oleh cairan. Ketika ujung
lidahnya menyodok kelubang
vaginaku, langsung saja ku
menekan pantatku ke
wajahnya sehingga terasa dia
sulit bernafas dan langsung ku
kocok-kocok penis Randi
dengan jari tanganku.
Ketika lidahnya menjelajahi
seluruh bagian vaginaku dan
bibir vaginaku tetap dia
pegangi, aku lalu menaik-
turunkan pantatku dengan
cepat dan aku merasa
keenakan dijilati. Aku mendesah
yang agak keras karena
terlalu nikmat.
IoohO Ran, aahh teruus.. Ran,
aduuhO enak.. RanO RanO
oohOI, desahku.
Dan sesekali clitorisku yang
sedikit menonjol itu dan sudah
mulai terasa mengeras, dia
hisap-hisap dengan mulutnya
sehingga desahan demi
desahan keluar dari mulutku,
IoohO itu.., Rannn, enaak,
SayangI, desahku kenikmatan
dengan perilaku Randi.
Dan aku melepaskan pegangan
dipenisnya Randi dan Aku
menjatuhkan diri dari atas
tubuhnya dan tidur telentang
sambil memanggilnya.
IRann, sayang, sini, Saya sudah
nnggak tahaanO ayooO siniO
RaannI, memintaku sama Randi
sang polisi muda.
Dia segera saja bangun dan
membalik badannya serta dia
menaiki tubuhku dan aku
ketika tubuhnya sudah berada
di atasku, aku membuka kakiku
lebar-lebar dan dia tempatkan
kakinya di antara kedua
kakiku. Dengan nafas terengah
engah dan mencoba memegang
penisnya aku berkata,
IRaann.., cepat dong, masukin.
Saya sudah tidak tahan.I
ITunggu sayang, biar Aku saja
yang masukin sendiriI, kata
Randi sambil memindahkan ke
atas, tanganku yang tadi
mencoba memegang penisnya
tetapi rupanya aku akui sudah
tidak sabaran lalu kembali aku
berkata.
IRann, ayoh dong, cepetaan,
dimasukiin, punyamu itu!I, aku
memintanya kembali.
Dan tibaAtiba Randi memegang
penisnya dan menggesek-
gesekkan di belahan bibir
vaginaku beberapa kali dan
kemudian dia mulai menekan ke
dalam serta,
IBleesI, terasa dengan
mudahnya penisnya masuk ke
dalam lubang vaginaku dan aku
terkaget bersamaan penis
Randi masuk kedalam vaginaku.
IAduhO RaanI, aku sambil
mendekap Randi erat-erat.
ISakit, sayang?I, tanya Randi.
Dan aku hanya menggelengkan
kepalaku sedikit dan aku
menciumi disekitar telinga Randi
aku pun berbisik,
IEnaak, RannOI, aku mendesis.
Dia menciumi wajahku dan
sesekali dia hisap bibirku sambil
dia memulai menggerakkan
pantatnya naik turun pelan-
pelan, aku mencengkram
punggungnya Randi dengan
keras. Dan aku berkata sambil
menikmati goyangan pantat
Randi.
IRan, coba diamkan dulu
pantatmu ituOI, pintaku sama
Randi.
Ran pun menuruti saja
permintaanku. Aku langsung
mempermainkan otot-otot
vagina kenikmatanku, dan
Randi terasa penisnya seperti
di pijat-pijat serta tersedot-
sedot dan jepitan serta
sedotan vaginaku semakin lama
semakin kencang sehingga
penisnya terasa begitu nikmat
dan akupun menikmatinya. Dan
ternyaya Randi terlena
keenakan.
IoohhO sshhO BuO enaknyaO
oohO terus Bu, aduuh, enaak!I,
Randi merasa menikmati
sedotan vaginaku.
Dan Randi sudah tidak dapat
tinggal diam saja, langsung
pantatnya naik turun sehingga
penisnya keluar masuk lubang
vaginaku serta terdengar
bunyi, ICrreettO cretttOI,
secara beraturan sesuai
dengan gerakan penisnya
keluar masuk vaginaku yang
sudah sangat basah dan becek.
IRannn, cabut dulu punyamu,
biar aku lap dulu punyaku
sebentar", kataku sama Randi.
"Biar saja BuO nikmat begini
kok", sahutnya sambil
meneruskan gerakan penisnya
naik turun semakin cepat dan
aku tidak memperhatikan
jawabannya karena merasa
kenikmatan yang sangat enak.
"oohO sshhO aakk, aduuh,
Raan, teruskan Rann, ooh..",
sambil mempercepat goyangan
pinggulku serta kedua
tanganku yang dipunggungnya
selalu menekan-nekan disertai
sesekali aku menyempitkan
lubang vaginaku sehingga
terasa penisnya terjepit-jepit
dan aku menikmati hal seperti
ini.
"ooh.. BuO sshh.. oohh.. enaak..,
Buuu.. aku, aku sudah nggak
kuat, mauO keluarr, BuO",
desahanknya yang sudah tidak
kuat lagi menahan keluarnya
air maninya.
"Rann, ayooO Ran aduuh, oohO
Aku juga, ayoo sekaraang,
aakkrr.., Sayang", dan dia
melepas air maninya semuanya
ke dalam vaginaku sambil dia
menekan penisnya kuat-kuat
dan aku pun mendekapnya
dengan sekuat tenagaku.
Baru sekarang kuraih
kenikmatan yang luar biasa.
Sungguh aku merasa nikmat,
walau aku merasa bersalah
terhadap keluargaku.
Dia terkapar di atas badanku
dengan nafas ngos-ngosan
demikian juga dengan nafasku
yang sangat cepat. Setelah
nafas kami mulai mereda, lalu
dia berkata,
"Bu, aku cabut ya punyaku",
dan sebelum dia menghabiskan
perkataannya, aku cengkeram
punggungnya dengan kedua
tanganku dan aku berkata.
"Jangaan duluu, Rann, Aku
masih inginO punyamu tetap
ada di dalam."
Dia pun menuruti kataAkataku.
Setelah agak lama dalam
vaginaku, dikeluarkan penisnya
dari vaginaku. Kamipun
merapikan diri.
Setelah kulihat jam ternyata
menunjukkan pukul 13.15,
Randi pun berpamitan akan
pulang sambil melumat bibirku.
Aku pun membalas ciuman
mulutnya.
"Terimakasih bu, aku sangat
puas", kata Randi berbisik
dikupingku.
Aku hanya diam tak menjawab,
Randi pun langsung keluar
rumah dan pergi.
Aku merasa aneh dengan
diriku, aku menghianati suamiku
dan keluargaku tapi hati
kecilku meras senang dengan
kejadian ini.
Setelah kejadian ini aku
merasa bersalah dengan
keluargaku, aku mencoba
untuk memperbaiki sikapku.
Tapi setiap malam aku merasa
kangen dengan Randi. Bahkan
saat berhubungan dengan
suamiku aku membayangkan
dengan Randi yang sangat lihai
membuat aku mudah
terangsang.
Aku dan Randi pun
memanfaatkan hari kamis
dimana aku libur kerja dan dia
piket malam hari. Sampai saat
ini aku dan Randi masih
berhubungan, sesekali kami
sexs phone, atau sexs sms.
Aku memang ibu yang tak tahu
diuntung dan kurang
bersyukur dengan
kebahagiaanku saat ini.
Beginilah ceritaku, kutulis di
situs ini. Dan jujur aku tahu
situs ini dari Randi, aku pun
menulis kisah ku ini atas
permintaan Randi.