PDA

View Full Version : Klien Langganan


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Cerita ini aku karang karena
aku menginginkan diperkosa
oleh laki-laki, yang tentu saja
berkontol gedhe. Tapi kalau
nama dan daerah yang aku
ambil sebagai aktor cerita ini
memang orangnya mendukung
banget dengan keseharian
mereka.
Pembaca, sering aku berjalan
di Tunjungan Plaza Surabaya
sambil mencoba menggoda libido
laki-laki yang aku anggap
sesuai dengan seleraku tetapi
tetap dengan penampilan yang
santun dan enggak norak lho!
tapi mereka cuma balik
menggodaku itu saja huuh!
Diperkosa..??? pengiiinO!!!
Tapi kalau yang diperkosa
orang lain yang masih perawan
apalagi masih anak kecil, aku
paling tidak setuju!!
Kembali ke ceritakuOO..
Tadi sore kira-kira pk.15.15
Wib saat aku sedang berada di
dalam tempat kerjaku (aku
bekerja di salah satu BPR di
Surabaya) aku memiliki ruangan
tersendiri karena tugasku
yang tidak memungkinkan jika
bergabung dengan rekan kerja
lainnya.
Yayuk sekretaris ku
memanggilku lewat Intercome
mengatakan bahwa seseorang
yang ada janji dengan ku mau
menghadap, sejenak aku
teringat pada seorang laki-laki
yang telp dan mengaku
membutuhkan dana untuk
mengikuti tender sebuah
proyek di daerah Sidoarjo, dia
mengatakan akan menjaminkan
apa saja agar mendapat
persetujuanku.
"Orangnya cakep Bu" kata
Yayuk (sekertarisku) sambil
tertawa.
"Hus ! Nanti aja! Ya sudah
suruh masuk" kataku sambil
membayangkan seperti apa
laki-laki yang akan segera
menemuiku. terdengar ketokan
pintu dan akhirnya pintu
dibuka oleh Yayuk sambil
mempersilahkan laki-laki itu
masuk.
"Mbak Dewi?" katanya sambil
menyapa.
"Saya Ardi yang kemarin
menelpon mbak" katanya
bersambung.
"O.. ya silahkan duduk" kataku
sambil mempersilahkan duduk di
sofa yang memang
diperuntukkan bagi calon
pemohon dana dalam jumlah
besar dan harus ada
pembicaraan yang sangat
mendalam termasuk seluk beluk
data pribadinya, cukup ngotot
dan tetap menatangku apa
saja agunannya asal aku minta
pasti akan dia penuhi, culup
lama aku bertanya soal
pekerjaan dan data
perusahaan.
Lumayan cakep dan tubuhnya
"waow" cukup atletis tinggi
besar dan yang penting
perangkat di bawah perutnya
itu cukup menonjol.
"Tunggu sebentar Mas, aku
mau kebelakang" kataku
menahan sesuatu, entah
kenapa aku tiba-tiba kebelet
pipis setelah melirik dan
membayangkan isi didalam
celananya.
"Silahkan mbak, dari pada pipis
disini saya yang bingung nanti"
katanya sambil tersenyum
nakal.
"Maunya mas tuh!" kataku
sambil melesat kedalam kamar
kecil yang memang di ruang
kerjaku tersedia di dalamnya.
Aku langsung jongkok dan cheO
ezz !! (mungkin pembaca
bertanya kenapa kok langsung
ceeess kan pakai rok sedikit
diatas lutut dan karena
memang aku jarang sekali
memakai CD, itupun karena aku
merasa kurang nyaman dan
merasa pengap pada
tempikku).
Saat membersihkan tempik,
itilku tersentuh tangan
kurasakan ada rangsangan
yang menggelitik sesaat aku
permainkan dengan telunjuk
(pembaca, aku sering
melakukan "ini" saat tidak ada
kerjaan yang mendesak untuk
kukerjakan sampai terengah-
engah sampai mendapatkan
orgasme).
Oh ya namaku Dewi S, umurku
sendiri baru 32th dan
kehidupan sex ku biasa (bisa
dibilang jarang) saja kadang
malah membosankan, mungkin
karena suamiku umurnya 15th
di atasku. Kadang-kadang aku
membayangkan tubuh seorang
laki-laki atau anak buahku
(office boy) umurnya baru
20th yang berbadan tegap
sering pula dia kusuruh
mengepel lantai dan ketika dia
mengepel dibawahku
kurenggangkan pahaku agar
dia melihat, setelah dia melihat
aku memperhatikan gerak-
geriknya namun meskipun aku
terangsang aku masih
berusaha seolah apa yang
kulakukan tak ku sengaja,
setelah dia keluar akupun
langsung mengunci pintu dan
masturbasi sepuas mungkin.
Tiba-tiba pintu kamar kecil di
belakangku terbuka lebar dan
kulihat Ardi sudah berdiri
sambil tersenyum melihat apa
yang kulakukan.
"Lagi sibuk mbak? mau
dibantu?" entah sudah berapa
lama dia berdiri disitu tapi
yang pasti dia sudah
menurunkan celana kainnya itu.
"Mas jangan kurang ajar ya!"
kata ku setengah menghadik
dan mencoba mengembalikan
wibawaku yang sempat anjlok
gara-gara apa yang kulakukan
diketahuinya.
"Sudahlah mbak Dewi cuma aku
yang tahu kok!" katanya
sambil matanya melihat apa di
balik rok yang masih belum
kuangkat, saat aku akan
membetulkan rok ku Ardi
sudah mendekapku dari
belakang.
"Lepaskan!" teriakku.
"Lepas mas, aku sudah punya
suamiO" aku kembali berteriak
memohon agar dilepaskan, tapi
tangannya terlalu kuat
mendekapku dan kurasakan
tonjolan di bawah perutnya
digesek-gesekkan ke pantatku.
"Tenang mbak Dewi aku tahu
apa yang kamu inginkanO!
Nikmati saja yang akan kamu
alami" bibirnya dekat sekali
dengan telingaku dan
kurasakan pula dengusan
nafasnya pada leherku.
"TolongO. janganO!" dengan sisa
kekuatanku aku kembali
berteriak, namun apa guna
ruangan kerjaku memang ber-
AC dan berkeliling sekat kaca
sementara suasana di luar
sangat ramai oleh lalu lalang
kendaraan besar dan Ardi pun
mengetahui secara pasti
kondisi ini.
Kini yang kurasakan tangan
nya sudah meraba susuku
dengan gemas dan akupun
menggelinjang geli sementara
rok dan CD yang kukenakan
masih berada di bawah lututku,
tanpa kusadari aku
membiarkan apa yang
dilakukannya pada tubuhku
dalam hati aku berteriak dan
teringat pada suamiku,
sementara tubuhku berkata
lain. Dan Ardi sangat
mengetahui perubahan
perlawananku akhirnya dengan
sedikit paksaan tubuhku
dibimbingnya keluar dari kamar
kecil itu dan bergerak ke arah
sofa ruang tamu.
"Tuh kanO dari pada bermain
sendiri lebih naik sama Ardi,
mbak" katanya dengan tenang
seolah memintaku agar
memperbolehkanya bertindak
lebih jauh.
"EehhO" itulah kata yang
akhirnya keluar dari mulutku
saat jarinya mempermainkan
tonjolan diatas tempikku, aku
sudah membayangkan apa
yang akan segera aku dapat.
aku sudah tak memperdulikan
bahwa aku akan diperkosa tapi
aku sedang menunggu sebuah
kenikmatan yang datang tanpa
aku cari.
"Mbak butuh ini kan" katanya
sambil menuntun tangan kiriku
kearah selakangnya.
"Ya ampun" kontol laki-laki ini
sudah mulai menegang dan
cukup besar, aku
membayangkan kontol milik
suamiku sementara yang aku
pegang ini terasa lebih besar
dan panjang, tanpa pikir
panjang aku urut kontol dalam
genggamanku ini dan terasa
semakin membesar.
"Gimana mbak ?O uuhh.." tanya
Ardi sambil melenguh menikmati
urutan tangan ku pada
kontolnya.
Tak kujawab pertanyaannya
karena aku sedang merasakan
menikmati tangan kanan Ardi
pada sela-sela tempikku yang
sudah mulai membasah tanda
aku telah terangsang.
Sebetulnya kali ini aku sudah
bebas dari cengkramannya
namun aku tak mencoba untuk
melepaskan diri darinya namun
aku malah menunggu apa lagi
yang akan diperbuat Ardi pada
tubuhku.
Dengan lembut pemerkosa ini
merebahkan tubuhku diatas
sofa, Saat ini Ardi sudah mulai
mengetahui bahwa aku sudah
terangsang.
"Kulit mbak mulus dan
menggairahkan bikin kontolku
tambah ngaceng" katanya
sambil memasukkan telunjuknya
pada pada lobang tempikku.
"AaO achO kamuO auhO" aku
merasa sensasi yang berbeda
walaupun aku sendiri sering
memasukkan jari tangan pada
tempikku.
Ardi mulai melucuti seluruh
pakaianku mulai dari CD sampai
blouse dan rok yang aku
kenakan walau sedikit kasar
tapi malah membuat aku
semakin terangsang dan
mengocok kontolnya lebih
cepat.
"MasO aku sudah.. ohhh.. punya
suami.. aaahO" kataku tak jelas
apa yang aku maksud.
"TanganO mu.. ooh.. teerus..
mbak Dew.. ahhO" katanya
sambil tangan kirinya mencoba
melucuti BH doreng yang ku
pakai.
"WaowO" katanya sambil
mencucup puting susuku danO
"OchO eeehhO yaO aaO aah"
kata-kataku mulai kacau dan
menikmati jilatan Ardi pada
susuku.
Tiba-tiba Ardi merubah posisi
tubuhnya diatas tubuhku dan
mulutnya mulai turun kearah
bawah perutku.
"Tempik mbak kenyal dan
enak.." mulutnya sudah sibuk
menjilati tempik serta itilku.
"Uuu.. hhaaO.. masO aaO
aayooooO!" kataku memohon
agar kontolnya segera
menyusul mengkorek-korek
lobang tempikku, dan memang
Ardi langsung mengangkat
kedua kakiku kekedua
pundaknya dan menyodorkan
kontolnya kedepan tempikku
yang sudah menganga meminta
diisi, sadar kontol gede ini
akan memberiku kenikmatan
segera kutarik pantat Ardi
dengan kedua tanganku agar
kontol gede ini memperlihatkan
kebolehannya, dengan sekali
sentak.
"UuO uh.. kontol kamuO. ge..
due.. masO aahh.." aku histeris
karena baru kali ini aku
merasakan kontol segede milik
Ardi, sementara Ardi mulai
memaju mundurkan kontol
besarnya itu aku merasakan
sesuatu yang besar sedang
bergerak keluar masuk di
dalam tempikku, terasa penuh
seluruh rongga tempikku, yah
sesuatu yang selama ini hanya
aku bayangkan dan aku lihat
saja di Film Blue.
Alam pikirku sudah tak
mempedulikan suasana dan
kondisi ruangan kerjaku,
paling-paling Yayuk saat ini
sedang menikmati suara
kenikmatan yang keluar dari
mulutku melalui intercom yang
sengaja aku angkat handlenya
(Yayuk memang sekretaris
yang paling suka
mendengarkan dan menonton
film BF serta sering
mendengarkan suara desahan
ku saat aku sedang mengoral
suamiku di kantor).
Seolah mendapatkan kontol
idaman aku pun menjerit
nikmat.
"Tempik.. m.. bak.. enaa.. aak"
katanya sedikit bergetar.
Memang meskipun sudah
bersuami aku yakin kalau
tempikku masih keset mungkin
karena kontol suamiku yang
kurang besar atau kontol Ardi
yang memang gedhe.
"OoO aackO sentakO masO"
kataku agar dia lebih keras
menyentakkan sodokannya,
saat Ardi mulai mempercepat
gerakannya dan kali ini aku
pun mencoba mengimbangi
goyangannya dengan
menyambut gerakan maju-
mundur sodokannya yang
memang dahsyat.
Entah berapa lama dan berapa
posisi kami merasakan
kenikmatan kontol dan tempik
ini, tapi aku tidak merasa
bersalah sama sekali, tak ingat
lagi kontol kecil milik suamiku,
ataupun istri laki-laki ini atau
mungkin karena pemerkosaku
memiliki kontol super enak bagi
tempikku.
Akhirnya, dengan posisi
berhadapan dan kaki sebelah
kiri diangkatnya, sesuatu yang
kutunggu keluar juga yah aku
orgasme!
"AarchOO.! KonO. tolmuO. hebO.
aaatO.!" seluruh organ tubuhku
mencengkeram tubuh Ardi
termasuk tempikku
mencengkram kontolnya lebih
kuat, sementara Ardi
mengetahui bahwa aku
orgasme diapun tersenyum
puas dan semakin giat
menggenjot tubuhku lebih
cepat.
"AauhO" setiap Ardi
menghunjamkan kontolnya
pada tempikku.
"AhhO akuO. keluO.ar mbak"
suara Ardi sambil sedikit
menggeram.
"Jangan didalam mas!" kataku
sedikit berteriak karena Ardi
mau keluar segera ku tarik
pantatku, ku dorong dia dan
kukeluarkan kontol gedhe ini
dari dalam tempikku. Segera
aku jongkok dihadapannya
sambil kukocok kontolnya, tak
berapa lama Ardi menegang
dan dari kontolnya keluar
cairan dengan kenceng.
"CrootO crotO crootO"
kuarahkan tembakan pejunya
kearah susuku. Akhirnya laki-
laki di hadapanku ini melemas
dan terduduk di samping
tubuhku, kontol gedhe ini
masih mengacung meski sudah
tak nampak keras lagi.
Setelah berpakaian kami pun
terdiam meskipun aku yakin
diapun tersenyum puas
merasakan tempikku,
menyadari posisinya yang
membutuhkan persetujuanku.
"Baik mas ini saya setujui
tetapiOO" kataku terhenti
sambil melirik ke arah
kontolnya.
"Oh ini mbak beres selama
saya membayar cicilan
perbulannya saya sempatkan
untuk melunasi tempik mbak"
katanya sambil mengeluskan
tangannya pada tempikku.
Saat ku antar Ardi keluar dari
ruanganku kulirik Yayuk, dia
tersenyum namun mukanya
memerah penuh nafsu dan aku
tahu dia baru saja masturbasi
sambil mendengar suara di
intercome. kudekati dia dan
kubisiki, "suatu saat kita
kerjain dia berdua ya" kataku
sambil kembali ke ruanganku.
Yah, setiap tanggal 12 Ardi
datang membayar cicilannya di
kasir dia pun melunasi
hutangnya pada tempikku yang
masih membutuhkan kontol
super enak milik Ardi.