PDA

View Full Version : Terbuai


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Aku seorang wanita walau
belum pernah menikah tapi
sempat berhubungan intim
dengan seorang pria kekasihku
beberapa tahun yang lalu.
Hubungan kami terpaksa
berhenti setahun yang lalu
ketika orang tuanya yang
kaya raya tidak menyetujui
hubungan kami tersebut.
Terakhir ku dengan mantan
kekasihku itu telah menikah
dan pindah kekota lain yang
tidak ingin kuketahui persisnya
dimana.
Saat ini umurku 28 tahun dan
bekerja sebagai salah satu
karyawan di perusahaan
swasta asing sebagai salah
satu staf public relation. Gaji
yang kuterima cukup lumayan
untuk tamatan sarjana
publikasi, kemampuanku untuk
berkomunikasi dengan baik dan
ramah terhadap siapa saja
membuat aku dipercaya untuk
menghadapi persoalan-
persoalan pelik, dan menerima
tamu-tamu penting.
Suatu hari aku dipanggil oleh
big bossku, dia mengeluh
karena ada inspektor dari
kantor pusat di Australia yang
datang dan nampaknya boss
kewalahan menghadapi
pertanyaan-pertanyaannya.
Aku ditugasi untuk menemani
tamu tersebut selama di
Jakarta.
Terus terang hatiku agak
bergetar ketika pertama kali
bertemu dengan Steve. Terus
terang dia mempunyai sex
appeal yang luar biasa,
matanya tajam, mukanya
bersih dan bicaranya jernih
ditambah pakaiannya yang
selalu rapih dan bermerk,
termasuk wewangian yang
digunakan. Mula-mula aku
nervous juga di buatnya,
tetapi setelah lama-lama
hubungan kami makin relaks.
Aku berusaha untuk
menyembunyikan
ketertarikanku padanya, tetapi
dia nampak malah sengaja
menggodaku. Mula-mula dia
ajak aku makan beberpa kali
sampai aku rileks. Terus satu
hari dia ajakain aku ke cafe,
nemenin dia minum, aku habis
dua gelas wine kali padahal
aku nggak pernah minum. Aku
rasanya nggak mabuk tapi
badan aku rada hangat dan
rileks. trs dia ngajakin nonton,
aku mau aja karena nggak
terlalu malam. Karena yang
nonton sepi, dia bebas
rangkul-rangkul aku. Anehnya
aku diem aja, rasanya nyaman
dipelukin dia. Ngeliat aku diem
aja dia makin berani, mukanya
mulai di deketin ke aku tapi
aku nolak kalo dia mau cium
bibir aku. Tapi tambah parah
karena yang dia cium kuping
dan leher aku lama-lama lagi.
Padahal itu termasuk daerah
sensitif. Kelihatannya dia tau
aku mulai serO ser anO
tangannya mulai turun ke dada
aku dari bahu. Tangannya lihai
banget meskipun dari luar
putaran-putaran jarinya
mampu membuat aku sesak
karena buah dadaku
mengeras.Tangannya terus aku
pegang, tapi yang satu
ketahan yang lain aktif, dia
berhasil buka kancing-kancing
bajuku bagian atas, tangannya
muter-muter diatas BHku yang
tipis, malu juga rasanya kalau
dia tahu pentilku keras banget.
Bibirnya yang bermain
dileherku, mulai turun ke bahu,
danO. wah gawat ternyata dia
sudah menurunkan tali beha
dan bajuku sampai ke
pinggang, bibirnya bermain dia
atas behaku, dan sekali rengut
buah dada kiriku terekspos
pada bibirnyaOO.
Begitu buah dada aku
terekspos dia nggak langsung
caplok tapi pentil aku yang
keras disengol-sengol dulu
sama hidungnya. Napasnya
yang hangat aja sudah berhasil
membuat putingku makin keras.
Terus dia ciumin pelan pelan
buah dadaku yang 34 C itu
mula-mula bagian bawah terus
melingkar sehingga hampir
semua bagian buah dadaku
dicium lembut olehnya. Belum
puas menggoda aku lidahnya
kemudian mulai menari-nari di
atas buah dadaku. Aku tak
tertahan mulai mendesah.
Akhirnya apa yang akau
khawatirkan terjadi lidahnya
mulai menyapu sekitar puting
dan akhirnyaO.. akhOO. putingku
tersapu lidahnyaO perlahan
mula mula, makin lama makin
sering dan akhirnya putingku
dikulumnya. Ketika akau
merasa nikmat dia
melepaskannyaO.. dan kemudian
mulai mengecup dari bagian
tepi lagiO perlahan mendaki ke
atas dan kembali ditangkapnya
putingku. Kali ini putingku
digigit perlahan sementara
lidahnya berputar putar
menyapu puting itu. Sensasi
yang ditimbulkan luar biasa,
semua keinginanku yang
kupendam selama ini serasa
terpancing keluar dan
berontak untuk segera dipuasi.
Melihat aku mendesah di
tambah berani. Selain
menggigit-gigit kecil putingku
sembari lidahnya menyapu-
nyapu, tangannya mulai
bermain di lututku. Terus
terang aja selama menjanda
aku belum pernah ML lagi.
Perasaan yang kupendam
selama ini kelihatannya mulai
bergolak. Itu membuatku
membiarkan tangannya
menggerayangi lutut dan
pahaku. Dia tahu tubuhku
merinding menahan nikmat,
karena kulitku mulai seperti
strawbery titik-titik. Dengan
lihai tangannya mulai mendaki
dan kini berada
diselangkanganku. Dengan
lembut dia mengusap-usap
pangkal pahaku dipinggiran
CDku. Hal ini menimbulkan
sensasi dan nikmat yang luar
biasa. Aku tak dapat duduk
tenang lagi, sebentar bentar
menggelinjang. Aku sudah tak
dapat lagi menyembunyikan
kenikmatan yang kualami. Hal
ini dia ketahui dengan
lembabnya CDku. Jarinya yang
besar itu akhirnya tak mampu
kutahan ketika dia memaksa
menyelinap dibalik CDku dan
langsung menemukan clitku.
dengan gemulai di amemainkan
jarinya sehingga aku terpaksa
menutup bibirku agar lenguhan
yang keluar tak terdengar
oleh penonton lain. Jarinya
lembut menyentuh clitku dan
gerakannya memutar membuat
tubuhkupun serasa berputar-
putar. Akhirnya pertahananku
jebol, cairan kental mulai
mengalir keluar di vaginaku.
dan dia tahu persis sehingga
dia mengintensifkan
serangannya. Akhirnya puncak
itu datang, kepeluk kepalanya
dengan erat dan kuhujamkan
bibirku ke bibirnya dan
tubuhku bergetar. Dia dengan
sabar tetap mengelus clitku
membuatku bergetar-getar
seolah tak berhenti. Lubang
vaginaku yang basah
dimanfaatkan denga baik
olehnya. Sementara jari
jempolnya tetap memainkan
clitku, jari tengahnya
mengorek-ngorek lubangku
mensimulasi apa yang dapat
dilakukan laki-laki terhadap
wanita. Aku menggap-menggap
dibuatnya.
Entah berapa lama dia
membuatku seperti itu dan
sudah beberapa kali aku
mengalami orgasme, tapi tidak
ada tanda-tanda bagaimana
dia akan mengakhiri permainan
ini. Akhirnya aku yang memulaiO
gilaO entah apa yang
mendorongku, tanganku tau
tahu meraba-raba
selangkangannyaO.. disana
jemariku menemukan gundukan
yang mulai mengeras. Begitu
tersapu oleh belaianku,
gundukan itu berubah menjadi
batang hangat yang mengeras.
Entah mengapa aku jadi
senang menggodanya, jariku
terus membelai turun naik
sepanjang batang tersebut
yang menurutku agar luar
biasa ukurannya. Secara
perlahan batang tersebut
bertambah panjang dan besar
menimbulkan getaran-getaran
yang membuatku kembali
mencapai orgasme. Ketika
orgasme tanganku secara tak
sengaja meremas-remas bola-
bolanya sehingga dia pun
terangsang. Sambil mengecup
daun telingaku Steve berbisikO
shall weO goO Aku tak tau
harus bagaimana dan
menurutinya saja ketika dia
menarik tanganku bangkit dari
tempat duduk dan berjalan
mengikutinya keluar bioskop
melewati mall dan akirnya
sampai di lobi sebuah hotel
yang menyatu dengan bioskop
dan mall tersebut. Langkahku
agak tersendat ketika
melewati lobi, tetapi jari
tanganku tergengam erat
padanya dan dia dengan
sangat pasti menggiringku
kerah lift yang mengantarkan
kami ke kamar yang ternyata
telah dipersiapkan sebelumnya
olehnya. Di dalam lift Steve
sempat mencium bibirku dengan
lembut seperti mencium
kekasihnya ini membuat
tubuhku bertambah lunglai. Aku
tertegun berdiri di depan
kamar yang telah dibuka
pintunya oleh Steve, dan dia
dengan sopan mempersilahkan
aku masuk. Beberapa saat aku
berdiam di depan pintu
bimbang. Melihat
kebimbanganku Steve tidak
memberi kesempatan
dianggkatnya tubuhku dengan
kedua tangannya yang kekar
dan dibopongnya kau masuk.
Dengan cekatan dia menutup
dan mengunci pintu. Aku
sempat berontak tetapi
kembali bibirnya melumat
bibirku cukup lama dan dalam
sehingga kenikmatan tak
tuntas di bioskop tadi kembali
muncul.
Sambil membopong aku Steve
terus melumat bibirku dan
perlahan namun pasti dia
berjalan ke rah tempat tidur
ukuran king size yang ada
dalam ruang suite tersebut.
Aku agak gelisah melihat situasi
ini. Steve menyadari hal itu
dan tanpa melepaskan
ciumannya dia menurunkan
tubuhku dengan perlahan
tepat dipinggir ranjang. Kami
berhadapan berpandangan
sejenak, dia tersenyum dan
kembali bibirnya mengecup
ngecup bibir bawah dan atasku
bergantian dan berusaha
membangkitkan gairahku
kembali. Aku berdesah kecil
ketika tangannya memeluk
pinggangku dan menarik
tubuhku merapat ketubuhnya.
Bibirnya perlahan mengecup
bibirku, lidahnya merambat
diantara dua bibirku yang
tanpa sadar merekah
menyambutnya. Lidah itu begitu
lihai bermain diantara kedua
bibirku mengorek-ngorek
lidahku untuk keluar. Sapuan
lidahnya menimbulkan sensasi-
sensasi nikmat yang belum
pernah kurasakan, sehingga
perlahan lidahku dengan malu-
malu mengikuti gerakan
lidahnya mencari dan mengikuti
kemana lidahnya pergi. Dan
ketika lidahku menjulur
memasuki mulutnya dengan
sigap dia mengulumnya dengan
lembut, dan menjepit lidahku
diantara lidah dan langit-langit.
Tubuhku menggeliat menahan
nikmat yang timbul. Aku
merasa melayang tak berpijak,
pengaruh minuman juga
menambah aku kehilangan
kontrol. Pada saat itulah aku
merasa Steve membuka
kancing-kancing gaun malamku
yang terletak dipunggung.
Tubuhku sedikit menggigil
ketika, angin dingin dari mesin
AC menerpa tubuhku yang
perlahan-lahan terbuka ketika
Steve berhasil melorotkan
gaun malamku kelantai. Aku
membuka mataku perlahan-
lahan dan kulihat Steve sedang
menatap tubuhku dengan
tajam. Dia nampak tertegun
melihat tubuh mulusku yang
hanya terbungkus pakaian
dalam yang ketat. Sorotoan
matanya yang tajam menyapu
bagian-bagian tubuhku secara
perlahan. Pandangannya agak
lama berhenti pada bagian
dadaku yang membusung. BH
ku yang berukuran 34 D
memang hampir tak sanggup
menampung bongkahan dadaku,
sehingga menampilkan
pemandangan yang
mengundang syahwat lelaki.
Tatapan matanya cukup
membuat tubuhku hangat, dan
dalam hati kecilku ada
perasaan senang dan bangga
dipandangi lelaki dengan
tatapan penuh kekaguman. Aku
terseret maju ketika lengan
Steve kembali merangkul
pinggangku yang ramping dan
menariknya merapat
ketubuhnya. Tanganku terkulai
lemas ketika sambil memelukku
Steve mengecup bagian-bagian
leherku sambil tak henti-
hentinya membisikan pujian-
pujian akan kecantikan bagian-
bagian tubuhku.
Akhirnya kecupannya sampai di
daerah telingaku dan lidahnya
secara lembut menyapu bagian
belakang telingaku. Aku
menggelinjang, tubuhku
bergetar sedikit dan rintihan
kecil lepas dari kedua bibirku.
Steve telah menyerang salah
satu daerah sensitifku, dan dia
tau itu sehingga hal itu
dilakukannya berkali-kali.
Dengan sangat mempesona
Steve berbisik bahwa dia ingin
menghabiskan malam ini dengan
bercinta denganku, dan di
amemohon agar aku tak
menolaknya, kemudia bibirnya
kembali menyapu bagian
belakang telingaku hingga
pangkal leherku. Aku tak
sanggup menjawab, tubuhku
terasa ringan, tanpa sadar
tanganku kulingkarkan di
lehernya. Rupanya bahasa
tubuhku telah cukup
dimengerti oleh Steve sehingga
dia menjadi lebih berani.
Tangannya kini telah membuka
kaitan BHku, dan dalam
sekejap BH itu sudah
tergeletak di lantai.
Tubuhku terasa melayang,
ternyata Steve telah
mengangkat tubuhku,
dibopongnya ke tempat tidur
dan dibaringkan secara
perlahan. Kemudian Steve
menjauhi ku dan dengan
perlahan mulai melepaskan
pakaiannya secara perlahan.
Anehnya aku menikmati
pemandangan buka pakaian ini.
Tubuh Steve yang kekar dan
sedikit berotot tanpa lemak ini
menimbulkan gairah tersendiri.
Dengan hanya mengenakan
celana dalam kemudian Steve
duduk di ujung ranjang. Aku
berusaha menduga-duga apa
yang akan dilakukannya.
Kemudian dia membungkuk dan
mulai menciumi ujunung-ujung
jari kakiku. Aku menjerit
kegelian dan berusaha
mencegah, namun Steve
memohon agar dia dapat
melakukannya dengan bebas.
Karena penasaran dengan
sensasi yang ditimbulkan.
akhirnya aku biarkan dia
menciumi, menjilat dan
mengulum jari-jari kakiku. Aku
merasa, geli, tersanjung dan
sekaligus terpancing untuk
terus melanjutkan kenikmatan
ini. Bibirnya kini tengah sibuk di
betisku yang menurutnya
sangat indah itu. Mataku
terbelalak ketika kurasakan
perlahan tapi pastibibirnya
makin bergerak keatas
menyusuri paha bagian dalam
ku. Rasa geli dannikmat yang
ditimbulkan membuat aku lupa
diri dan tanpa sadar secara
perlahan pahaku terbuka.
Steve dengan mudah
memposisikan tubuhnya
diantara kedua pahaku.
Pertahananku benar-benar
runtuh ketika Steve menyapu-
nyapukan lidahnya dipangkal-
pangkal pahaku. Aku berteriak
tertahan ketika Steve
mendaratkan bibirnya diatas
gundukan vaginaku yang masih
terbungkus celana dalam.
Tanpa memperdulikan adanya
celana dalam Steve terus
melumat gundungkan tersebut
dengan bibirnya seperti dia
sedang menciumkum. Aku
berkali-kali menjerit nikmat,
dan persaan yang telah lama
hilang kini muncul kembali
getaran-getaran orgasme
mulai bergulung-gulung,
tanganku meremas-remas apa
saja yang ditemuinya, sprei,
bantal dan bahkan rambut
Steve, tubuhku tak bisa diam
bergetar, menggeliat, dan
gelisah, mulutku mendesis tak
sengaja, pinggulku meliuk-liuk
erotis secara reflek dan
beberapa kali terangkat
mengikuti gerakan kepala
Steve. Untuk kesekian kalinya
pinggulku terangkat cukup
tinggi dan pada saat itu Steve
tidak menyianyiakan
kesempatan untuk menarik
celana dalamku lepas. Aku agak
tersentak, tetapi puncak
orgasme yang semakin dekat
membuat aku tak sempat
berpikir atau bertindak
apapun. Bukit vaginaku yang
sudah lama tak tersentuh
lelaki terpampang di depan
mata Steve. Dengan perlahan
lidah Steve menyentuh
belahannya, aku menjerit tak
tertahan dan ketika lidah itu
bergerak turun naik di belahan
vaginaku, puncak orgasme tak
tertahankan. Tanganku
memegang dan meremas
ramput Steve, tubuhku
bergerta-getar dan melonjak-
lonjak. Steve tetap bertahan
pada posisinya, sehingga
lidahnya tetap bisa menggelitik
klitorisku, ketika puncak itu
datang. Aku merasa-dinding-
dinding vaginaku mulai lembab,
dan kontraksi-kontraksi khas
pada lorong mulai terasa. Itulah
salah satu kelebihanku lorong
vaginaku secara refleks akan
membuat gerakan-gerakan
kontraksi, yang bisa membuat
lelaki tak bisa bertahan lama.
Steve nampaknya dapat
melihat kontraksi-kontraksi itu,
sehingga membuat bertambah
nafsu. Kini lidah nya semakin
ganas dan liar menyapu habis
daerah selangkanganku,
bibirnya ikut mengecup dan
bahkan bagian cairanku yang
mulai mengalir disedot habis
olehnya. Nafasnya mulai
memburu. Aku tak lagi bisa
menghitung berapa kali aku
mencapai puncak orgasme.
Steve kemudian bangkit,
dengan posisi setengah duduk
dia melepaskan celana
dalamnya, beberapa saat
kemudian aku merasa batang
hangat yang sangat besar
mulai menyentuh, nyentuh
selangkanganku yang basah.
Steve membuka kakiku lebih
lebar, dan mengarahkan kepala
kemaluannya ke bibir vaginaku.
Meskipun tidak terlihat olehku,
aku bisa merasakan betapa
keras dan besarnya milik Steve
itu. Dia mempermainkan kepala
penisnya di bibir kemaluanku di
gerakan keatas ke bawah
dengan lembut, untuk
membasahinya. Tubuhku seperti
tak sabar menanti tindakan
yang selanjutnya. Kemudian
gerakan itu berhenti. Dan akau
merasa sesuatu yang hangat
mulai mencoba menerobos
lubang kemaluanku yang
sempit. Tetapi karena liang itu
sudah cukup basah, kepala
penis itu perlahan tapi pasti
terbenam, makin lama-makin
dalam. Aku merintih panjang
ketika Steve membenamkan
seluruh batang kemaluannya.
Aku merasa sesak, tetapi
sekaligus nikmat luar biasa,
seakan seluruh daerah sensistif
dalam liang itu tersentuh.
Batang kemaluan yang keras
dan padat itu disambut oleh
kehangatan dinding vaginaku
yang telah lama tidak
tersentuh. Cairan-cairan
pelumas mengalir dari dinding-
dindingnya dan gerakan
kontraksi mulai berdenyut,
membuat Steve membiarkan
kemaluannya terbenam agak
lama merasakan kenikmatan
denyutan vaginaku. Kemudian
Steve mulai menariknya keluar
perlahan-lahan dan
mendorongnya lagi, makin lama
makin cepat. Sodokan-sodokan
yang demikian kuat dan buas
membuat gelombang orgasme
kembali membumbung, dinding
vaginaku kembali berdenyut,
kombinasi gerakan ini dengan
gerakan maju mundur membuat
batang kemaluan Steve
seolah-olah diurut, kenikmatan
tak bisa disembunyikan oleh
Steve, gerakannya semakin
liar, mukanya menegang, dan
keringat menetes dari dahinya.
Melihat hal ini, timbul
keinginanku untuk membuatnya
mencapai nikmat. Pinggulku
kuangkat sedikit dan kemudian
membuat gerakan memutar
manakala Steve melakukan
gerak menusuk. Steve
nampaknya belum terbiasa
dengan gerakan dangdut ini,
mimik mukanya bertambah lucu
menahan nikmat, batang
kemaluannya bertambah besar
dan keras, ayunan pinggulnya
bertambah cepat tetapi tetap
lembut.
Akhirnya pertahanannya bobol,
kemaluannya menghujam keras
dalam vaginaku, tubuhnya
ambruk menindihku, tubuhnya
bergetar dan mengejang
ketika spermanya mencemprot
keluar dalam vaginaku berkali-
kali. Akupun melenguh panjang
ketika untuk kesekian kalinya
puncak orgasmeku tercapai.
Sesaat dia membiarkan
batangnya di dalamku hingga
nafasnya kembali teratur.
Tubuhku sendiri lemas luar
biasa, namun harus kuakui
kenikmatan yang kuperoleh
sangat luar biasa dan belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Kami kemudian terlelap
kecapean setelah mereguk
nikmat.