PDA

View Full Version : Demi Hidup Aku Rela Jadi Pemuas Nafsu


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Rahma (nama samaran) gadis
yang malang penuh dengan
siksaan dan paksaan orang
tua, yang akhirnya terjun
kedunia hitam jadi bulan-
bulanan nafsu sex para lelaki
hidung belang. Rahmah tidak
tahu kemana lagi mengadukan
nasipnya, hanya di benaknya
bagaimana bisa makan dan
tidur. Ramah coba-coba ingin
merubah nasip menjual diri di
caf?-caf? dengan. Hal ini
Ramah menceritakan kisahnya
pada penulis.
Di suatu malam yang sangat
dingin, hujan grimis mengguyur
tubuh penulis yang saat itu
melintas di ruas Jalan Marelan
tiba-tiba tidak di sengaja
terlihat seorang gadis yang
menggunakan gaun tembus
pandang. Tubuhnya yang mungil
dan cantik di terpa angin yang
kencang. Sekali-sekali dirinya
menggigil menahan dinginnya
cuaca malam itu. Penulis yang
masih terus penasaran melihat
tindakan gadis tersebut.
Terlintas juga dalam benak
penulis "gadis cantik seperti itu
lagi ngapain di muka cafe ?
sementara di dalam caf?
pengunjung sepi " inilah yang
terlintas dalam benak penulis.
Akhirnya penulis mencoba
memberanikan diri menyapa
gadis yang memakai baju
warna putih tembus pandang.
"HaiO lagi ngapain mbak ? dia
mejawab dengan ramah " ngga
ada, cuman nongkorong
doang." Selanjutnya penulis
mengenalkan diri pada gadis
cantik tersebut mengaku
namanya "Ramah". Kurang lebih
limabelas menit dimuka caf?,
penulis mengajak gadis itu
kedalam caf?. Sesampainya
dalam caf? penulis menanyakan
"Ramah minum apa ? "
dijawabnya terserah apa aja
bang. Pelayan caf? juga tiba di
muka kami, yang tidak kalah
sexsi dan cantiknya dari Ramah
memakai rok mini di atas lutut.
Pelayan caf? sangat ramah
juga genit, sekali-sekali
tangannya suka menggoda dan
merabah-rabah paha
pengunjung.
Hujan grimis masih membasahi
jalan raya, cuacapun semakin
dingin, pengunjung caf? sudah
kosong, tinggal kami berdua
dan dua orang pelayan caf?,
saat itu jam 1.30 Wibb. Ramah
yang dari tadi hanya
tertunduk sepertinya butuh
perhatian, sekali-sekali Ramah
menebarkan senyum yang
menggoda.
Panjang lebar cerita hujanpun
tidak kunjung berhenti,
minuman Jus sudah habis,
pemilik caf? menyhiapkan
barang-barangnya untuk
tutup. Ramah mulai buka cerita
dengan sifat yang agak malu-
malu, sambil mengatakan "bang
cafenya sudah maututup kita
cek in yo? " mendengar ajakan
Ramah penulis terdiam sejenak.
Ramah sepertinya tidak habis
pikir, kenapa saya tidak mau
menjawabnya. Ramah bertanya
lagi " bang ayo donkO! aku
mau cerita lebih jauh lagi ama
abang. Akhirnya aku kabulkan
ajakan Ramah karena penuh
dengan harapan akan
mendapat cerita dari Ramah.
Akhirnya kami bergegas mau
pergi, pemilik caf? langsung
menegur "abang mau pulang ?
aku jawab ia tante. Nanti
sakit, inikan masih hujanO! Aku
jawab "kayaknya hujannya ini
lama tante". Kami pulang
tante ? di jawabnya iaO! Hati-
hati di jalan licin bang. Aku
jawab lagi ia tante.
Kami langsung menuju ke arah
Simalingkar salah satu caf? and
bar dekat Hotel Royal
Sumatera. Sewaktu dalam
perjalanan Ramah memeluk aku
sangat kencang sepertinya
takut kehilangan. Dalam
perjalan itu aku bertanya
"Ramah kamu cantik, kok
maunya kerjaan seperti ini ? "
Jawab Ramah "bang kalau
masih ada kerjaan yang lebih
hina dari sini akan kurjakan
walaupun itu pahit. Maksud
Ramah gimana ? Ramah juga
tidak mau kerja ini tapi orang
tua Ramah sendiri
menghancurkan masa depan
Ramah.
Ramah tidak diterima
dilingkungan keluarga lagi bang.
Kalau kuceritakan kehidupan
aku mungkin satu malam ini
belum selesai. Tapi itupun kalau
abang mendesakku nanti ada
waktunya bang, Ramah akan
ceritakan semuanya buat
abang. Kamipun sampai dalam
tujuan, aku kaget Ramah
rupanya sudah dikenal dicaf?
tersebut. Sesampainya dicafe
Ramah langsung didekati
seorang laki-laki separuh baya
yang notabenya om-om. Yang
pasti aku tidak tahu persis
apa cerita orang itu, hanya
melihat Ramah dipeluk silaki-laki
tadi dengan erat sambil
mencium bibir Ramah di
tengah-tengah lampu yang
samar-samar.
Lanjut cerita gadis malang itu
mulai bergegas mau pergi
bersama silaki-laki yang
kehausan nafsu dengan kondisi
setengah mabuk. Sebelum pergi
Ramah mendekatiku sambil
mengatakan "bang Ramah mau
pergi, pokonya besok aku
hubungi abang, ok bang ?" aku
mengiyakannya. Ramah
langsung pergi menaiki mobil
laki-laki itu untuk meninggalkan
caf?. Akupun tidak tinggal diam
untuk melacak mangsa
tulisanku luput sampai disitu.
Kupanggil pelayan caf? untuk
membayar minuman. Tapi lain
jawaban pelayan "bang
minumannya sudah dibayar om
tadi". sebelum pergi
meninggalkan caf? kuberikan
tip sama pelayan caf? yang
menemaniku untuk pamitan
pulang.
Sampai dimukan caf?
kuperhatikan mobil laki-laki itu
kemana arahnya. Kuikuti dari
belakang sampai mobil itu belok
kesalah satu tempat
penginapan yang berkelas di
Simalingkar. YaOkutinggalkan
setelah dapat kepastian
mereka menginap di hotel
tersebut.
Sesampainya di simpang
kampus Universitas Sumatera
Utara (USU) aku berhenti di
satu caf? kecil minum (TST)
Teh Susu Terlor. Selama satu
jam aku di caf? itu, tiba-tiba
ponselku bunyi dengan nada
panggilan. Kuangkat poselku
kulihat nomornya sepertinya
tidak aku kenal. Aku sempat
kaget tengah malam kegini
siapa lagi yang menghubungiku
terlintas dalam benak aku.
Ponsel berbunyi terus
kubiarkan sampai tiga kali
panggilan baru kuangkat.
Sangat kaget mendengar
sautan dalam posel itu
terdengar suara perempuan
baru kukenal. Menjawab
pertanyanku dengan manja
sambil mengajak aku untuk
menginap. Mendengar ajakan ini
aku tidak percaya bahwa
Ramah mau menginap
bersamaku, sementara dianya
masih bersama laki-laki
barusan 2 jam kutinganggalkan.
Ramah mengatakan kalau laki-
laki tadi tidak bisa menginap
sampai pagi, karena takut
ketahuan sama istri dan
anaknya. Aku tanya ini no HP
siapa ? Ramah jawab om tadi
kupinjam. Kutanya lagi berarti
dia masih ada di ruang
kamar ? Ramah menjawab ia,
tapi dia udah mau pulang bang,
abang datang ya ? aku tunggu
Ramah tidak ada kawan, cepat
donk bang. Desakan ini aku
tidak mudah terpengaruh,
karena takut ada kejadian
yang tidak di inginkan nanti.
Kurang lebih 30 menit hari
hampir pagi jam 4.23 Wibb aku
menghubungi Ramah melalui
ponselnya. Ramah mengangkat
dengan nada kesal "abang
dimana kok ngga datang ?.
cepat donk aku tidak ada
kawan nihO!. Akhirinya aku
beranikan diri balik lagi kehotel
tersebut. Kuperhatikan mobil
silaki-laki setengah baya yang
tadi kutinggalkan di tempat
parkir, memang tidak ada. Aku
tanya langsung pejaga hotel,
menjawabnya sudah pulang
bang, abang itu tiap menginap
di hotel ini sampai jam 3.00 Wib
saja bang.
Abang mau ngapain ? kujawab
dengan nada yang ramah dan
sopan "aku barusan di hubungi
cewek kawan bapak tadi.
belum habis aku ngomong
langsung penjaga itu potong
Ramah bang ? katanya, ia
bang. Ada di kamar 19, masuk
aja bang, ngga apa-apa itu
disini bisa kita jaga kemanan.
Ok bang terimakasih yang
bang, aku balik jawab.
Langsung menuju kekamar no
19 kuketuk pintu kamar
langsung di buka gadis seorang
diri dengan mengenakan gaun
tidur tembus pandang.
Sepertinya Ramah tidak
memakai BH als pembalut buah
dada, hanya segi tiga
transparan yang nampak. Mulai
dari ujung rambut
kuperhatikan sampai ujung
kuku serta seisi dalam kamar
itu sebulum masuk.
Diperselakan masuk sambil
menarik tanganku kedalam,
"kok takut-takut masuk donk
bang, ngga apa-apa kok".
Tanggan Ramah yang nakal
hampir membuat aku jadi tidak
terkontrol.
Ramah memang cantik, putih
dan seksi tidak di temui
satupun bekas luka ditubunya.
Tangannya yang mulus,
lembutnya belain penuh dengan
rasa sayang. aku tertunduk
sejenak di pinggir tempat tidur
sambil mengisap rokok
Sampoerna, sementara Ramah
tidur dipagkuan aku sambil
memeluk pinggangku. Rokok
sudah habis aku ambilkan tas
kecilku yang di dalamnya ada
alat perekam suara, langsung
kuhidupkan. Ramah memang
nakal, mau tahu aja apa isi
dalam tas aku. Dia
mengambilnya dan
mengeluarkan tipe
rekamannya, memutar balik isi
kaset. Baru Ramah tahu mulai
dari perteman tadi dianya
ngomong aku rekam. Saat itu
juga gadis yang seksi, manja
mencubitku dengan kesal.
"abang kok tega kali merekam
suara Ramah, untuk apa
bang ?, abang wartawan ya ?
jahat abang, aku ngga mau
lagi cerita ama abang. Rupanya
abang wartawan pantasan
abang mulai dari tadi
ngebutkali mendengar kisah
Ramah kenapa terjuan kedunia
malam".
Ramah yang dari tadi nakal,
kontan langsung terdiam dan
membelakangi aku. Sementara
radio rekamannya dia pegang,
aku minta dia ngga kasih.
Bahkan dia mengatakan "abang
puas ya menanyai Ramah
hanya untuk kesenangan
abang, malunya untuk ramah,
berarti abang ikut donk
menghancurkan Ramah dan
mempermalukan ramah di muka
umum".
Aku berusaha meyakininya
dengan rasa sayang, kukecup
pipinya yang menandakan aku
bukan untuk
mempermalukannya. Tapi aku
ingin mengangkat kisahnya
untuk membantu sakit hati
Ramah yang selama ini
dipendam seperti bara yang
sangat merah dan panas.
Ramah kupeluk, kusayang,
akhirnya Ramah mengalah
memberikan rekamannya.
Ramah yang marah akhirnya
bisaku redahkan
kemarahannya. Sampai
setengah jam Ramah tidak mau
cakap, Ramah diam dengan
posisi tengkurap di atas
tempat tidur yang empuk
tanpa menghiraukan aku. Aku
termenung sejenak memikirkan
cara apa lagi kubuat untuk
mengajak Ramah ceritakan
kisahnya. Dengan ide yang
cemermalang terlintas di
benakku untuk merayu dengan
posisi yang sama. Akhirnya
pertahaan Ramah kandas juga,
Ramah membalikkan tubuhnya
dengan posisi miring
menghadap aku. Dia senyum
sambil memelukku sambil
bertanya. Apasih gunanya
abang muat di koran kisah
Ramah ? abang jahat kali ya ?
apa memang wartawan seperti
itu ? sukanya memberitakan
kesusahan orang lain. Aku
jawab dengan nada yang
ramah serta menebar
senyuman yang memikat hati
Ramah agar ianya dapat yakin
dan percaya.
Ramah yang manja dan seksi
akhirnya luluh tersenyum
dengan iklas meceritakan kisah
hidupnya sampai terjun ke
dunia hitam untuk memuaskan
nafsu lelaki hidung belang.
Ramah bercerita pajang lebar
tentang kisah hidupnya pada
penulis pada pukul 4.30 Wib
sampai pukul 7.30 pagi. Berawal
dari ceritanya gadis cantik ini
sangat lugu takut dengan laki-
laki, bahkan banyak sekali
kawan-kawan Ramah yang
mengejeknya kampungan. Tapi
itu semua tidak pernah dia
masukkan dalam hati hanya
dianggapnya sebatas kuping
saja. Waktu itu Ramah masih
duduk di bangku SMA Swasta
kelas dua di Medan. Dengan
keluguan Ramah banyak sekali
para lelaki satu lokalnya
menaruh hati sama aku. lain
orang lain tingkah lakunya
beratus teori yang di buat
cowok-cowok keren yang
mendekatinya, yang namanya
cinta belum juga ada di
benaknya. Suatu waktu yang
tidak di sangka Ramah ketemu
dengan seorang pemuda yang
baik hati ianya Roni (nama
samarannya) berhasil memikat
hati Ramah.
Penuh dengan rayuan dan
kemesrahan yang berjalan
cukup lumayan sampai
kejenjang penikahan. Awal dari
kesukaan Ramah pada Roni
penuh dengan kejujuran dan
kebaikannya di mata Ramah
membuatnya tergila-gila
dengan Roni. Saat yang di
nanti-nantikan Roni mulai
berani bercanda mengajak
Ramah jalan-jalan ke salahsatu
tepat perbelanjaan. Ajak ini
tidak disangkah Roni kalau
ramah langsung menyetujuinya.
Perjalananpun dilanjutkan
kesebuah plaza dengan mesra
Roni memberanikan
dirimemegang jari tangan
Ramah yang lembut dan halus.
Sentuhan itu membuat hati
Ramah berdebar-debar seperti
baru terkena strum listrik.
Padahal menurutnya banyak
cowok yang jahil menyentuh
tangannya, satupun belum
pernah ia rasakan detak
jantung seperti ini. Ramah
membalas sentuhan tangan
Roni sampai pada gemgaman
yang gemas sama-sama
dilakukan. Roni menarik tangan
Ramah sambil mengecup kulit
tangan Ramah yang halus
penuh dengan arti dan kasih
sayang yang tidak bisa
dituturkan.
Sesampai plaza Ramah
mengajak Roni keliling-keling di
dalam plaza. Aku mulai sudah
lelah Roni juga kelelahan. Aku
kasihan melihat Roni aku ajak
dia pulang kerumahku,
sesampainya kami dirumah
ternyata kedua orang tuaku
bekum juga pulang kerja, yang
ada adik aku barung pulang
sekolah. Kami melanjutkan
ngobrolnya di ruang tamu
sambil nonton TV Flim Sinetron
yang di bintangi Rano Karno
sema menjalin cinta remaja di
bangku sekolah. Waktu sudah
menunjukkan pukul 16.00 Wibb
Roni dengan sopan berpamitan
sama aku. Dengan kesopanan
Roni juga membuat aku terus
bertambah sayang dan cinta
sama dia.
Tanpa kami sadari Tiga bulan
sudah berjalan hubungan aku
dengan Roni. Hubungan baik itu
melalui telepon atau ketemu
disekolah terus berlanjut. Roni
sudah mengenalkan aku pada
orang tuanya, dan aku sudah
mengenalkan Roni pada kedua
orang tuaku. Semula kedua
orang tuaku tidak pernah
mempersoalkan hubunganku
dengan Roni sampai kami naik
kelas tiga. Sewaktu hari libur
kawan-kawan aku mengajak
rekreasi dipantai kasan.
Roni menyetujuinya, aku
senang karena Roni mau ikut
bersama-sama. Kami berangkat
tiga pasangan yang semuanya
pacaran, ongkos kami kumpul-
kumpul bersama. Tiba
waktunya aku pun menunggu
angkot berjanji jumpa di sipang
Amplas. Pukul 9.30 wibb sudah
kumpul semuanya, langsung
menaiki mobil bersama-sama
kepemandian. Sesampainya di
sana masing-masing pasangan
berpencar menyewa gubuk
yang ada dipinggir pantai. Roni
masih malu-malu untuk
menyewa gubuk buat kami
berdua yang di luar. Dia
menatapku dengan penuh kasih
sayang aku mengkedipkan
mata agar Roni berani
menyewakan gubuk buat kami.
Akhirnya Roni mengajak aku
menyewa gubuk pas dipinggir
pantai. Cuaca mulai mendung
kami ganti baju untuk sama-
sama berenang. Satu jam
penuh berenang perut mulai
mulas dan terasa nyeri
menahankan lapar. Setenga
jam kemudian kami dengan
bersama-sama berhenti mandi
untuk makan di tepi pantai
Kasan.
Mandi sudah, makanpun sudah
tinggal istrihat dulu baru
nunggu sore baru mandi lagi
siap mandi baru pulang.
Kebetulan siap makan hujan
grimis pun tiba, kami sangat
khawatir kalau pantai ini akan
meluap nantinya. Tapi
kekawatiran ini hilang begitu
saja sesaat aku berdua
dengan Roni di dalam gubuk.
Hujan makin lebat, Roni
menutup pintu gubuk, suasana
makin dingin Roni menatapku
dengan lembut. Saat aku
menggeser posisi dudukku Roni
menarik tanganku, sambil
merangkul bahuku. Aku
terkejut dengan napas yang
agak kencang, jantungku
berdebar-debar ada rasa benci
dan suka. Roni tidak
menghintakan jemarinya di
bahuku, tangannya mulai
menjulur ke pinggangku
meletakkan tangannya di atas
pahaku yang di balut dengan
celana renangku yang basah
kuyup.
Roni mencium leherku dan
kupingku, aku meronta dengan
kecil sambil mengatakan jangan
bang, nanti kalau kita sudah
kawinkan abang bisa
melakukannya. Roni tidak
mendengar keluhanku bahkan
ia merayuku dengan kata-kata
dan gombalan sambil
mengatakan "aku mau
bertanggung jawab untuk
mengawinimu, aku sumpah demi
tuhan" kebetulan Roni
beragama Islam aku keristen.
Kutanya roni lagi apa orang
tua abang mau menerimaku "
dia jawab aku sudah bilang
sama orang tuaku mereka
setujuh, terserah pilihan aku "
akhirnya pertahananku
kandaslah sudah. Aku pasra
Roni menciumi aku mulai dari
ujung rambut sampai kakiku,
dengan penuh rasa sayang dan
menikmati keindahan tubuhku.
Aku tidak tahan perlakuan
Roni, membuat aku macam
cacing kepanasan sambil
membalas cubuan Roni. Melihat
perlawanku Roni semakin
semangat sambil berusaha
membuka baju dan celana
renangku, dengan sekejap baju
dan celanaku sudah lepas dari
tubuhku. Tubuhku yang putih
mulus hanya di balut segi tiga
dan BH. Melihat kemontokan
tubuhku Roni sempat
terpelongo sejenak melihat
pemandangan yang tidak
pernah dilihatnya secara
langsung selain dengan
menonton fliim biru.
Dengan secepat kilat Roni
melepaskan seluruh pakaiannya
yang melekat di tubuhnya. Aku
terkejut dan malu melihat Roni
telanjang bulat di hadapanku,
dadanya yang kekar ditumbuhi
bulu-bulu halus. Aku teringat
kata-kata kawan aku, kalau
ada bulu tubuh di dada pria
nafsunya tinggi, mengingat ini
akau gemetar. Tanpa di
komandoi tangan Roni yang
lincah membuat aku kehilangan
konstrasi. Aku gelagapan
menyeimbangi jamahan dan
ciuman yang di lakukan Roni
samaku.
Aku hampir lemas dengan
cumbuan Roni yang membuatku
tidak sadar diri sumua
pembalut tubuhku telepas
sudah seperti anak yang baru
dilahirkan tanpa sehelai
benangpun yang
menghalanginya. Roni mulai
meningkatkan serangannya
maaf pembaca "dengan menjilat
milikku yang paling berharga".
Aku tidak tahu apa lagi yang
dilakukan Roni yang jelas
membuat aku menggelinjang-
gelinjang.
Roni menindihku sambil
membuat ancang-ancang diatas
tubuhku sambil mengarahkan
basokanya sambil menciumi
leherku dan telingaku. Saat
tubuh Roni peling bawah
menekan milikku terasa nyeri
dan sakit. Mendengar jeritanku
Roni merasa kasihan dan
menghentikan aksinya
sebentar. Sambil
mempermainkan buah kembar
milikku, selang beberapa minit
Roni mengulangi aksinya sambil
menekan dengan pelan-pelan,
tapi sangat luar biasa sakitnya.
Aku baru kali itu di cium laki-
laki, apalagi untuk di gitui.
Roni mulai tidak sabar
menikmati milikku, akhirnya dia
menekannya dengan keras,
aku menjerit kesakitan. Roni
berhasil membongkar pintu
milikku yang kian lama kujaga,
Roni tidak bergerak dia
membiarkan miliknya didalam
miliku. Sekali-sekali Roni
mengangkat tubuhnya dengan
lembut, aku mulai merasakan
nikmat bercampur sakit kurang
lebih lima belas menit Roni
mengerang dan terkulai lemas
di sampingku.
Aku memaki diriku sambil
menangis, kenapa aku
segampang itu mengikuti
godaan setan yang
menimpahku. Aku mau duduk
terasa sakit di
selangkanganku, Roni kulihat
dengan senyum sambil memeluk
aku. dia meyakinkan aku
bahwa dirinya tidak akan
menyia-nyiakanku sampai
kapanpun dia tetap
bertanggungjawab katanya
padaku. Dengan kata-kata
bang Roni membuat aku tidak
ada apa-apanya dimuka dia
aku tertunduk dan patuh pada
perintahnya.