PDA

View Full Version : Selimut


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Awal berdirinya perusahaanku
aku termasuk karyawan
pertamanya. Pada waktu itu
aku seorang karyawan sebuah
pabrik pembuatan saos di kota
Pekalongan, posisiku adalah
sebagai supervisor bagian
marketing sesuai dengan
ijasahku di bidang ekonomi-
akuntansi, kini pengalaman ini
aku tulis aku menduduki salah
satu jabatan direktur di
perusahaanku. Sebagai seorang
supervisor tentunya aku
mempunyai beberapa staff
yang sebagian besar
perempuan. Dalam merekrut
karyawan tentu aku yang
banyak menentukan kriteria
seorang calon karyawan.
Yang pertama adalah menarik,
diutamakan bila cantik.
Pendidikan terendah SMA,
tinggi badan terendah 155 cm
dan tentunya tidak terikat
oleh perusahaan manapun. Mau
bekerja full time bila
perusahaan membutuhkan dan
bersedia bertugas ke kota lain
bila order berlimpah.
Kriteria itu aku kirimkan ke
sebuah surat kabar terkenal
dan hasilnya banyak sekali
pelamar yang berminat bahkan
melebihi dari kriteria yang aku
butuhkan, mereka sarjana
semua seperti aku. Di awal
berdirinya perusahaan hanya
membutuhkan sepuluh
karyawan, satu diantaranya
seorang laki-laki. Karyawan
laki-laki aku kirim ke luar kota
untuk merintis bagi masuknya
order baru. Ternyata pilihanku
tidak salah, karyawanku itu
ternyata pandai menarik order
sehingga perusahaan
kebanjiran order.
Satu dari sembilan staffku
bernama Shariffa dipanggil
dengan Iffa. Selain cantik,
kulitnyapun mulus dengan
sorot mata yang menawan
sehingga membuat jantungku
berdegub-degub bila dekat
dengannya. Dia sudah bersuami,
suaminya kini tergolek lemah
dirumah akibat kecelakaan
yang dialaminya sehingga
membuatnya lumpuh. Santunan
yang diberikan dari perusahaan
suaminya berkerja habis untuk
berobat suaminya. Kejadian itu
sudah hampir setahun yang
lalu, lambat laun kondisi
keuangan mereka menipis
itulah yang membuatnya harus
mencari kerja untuk
menghidupi keluarganya,
merawat suaminya diserahkan
kepada ibu mertuanya. Untung
mereka belum dikaruniai anak,
sehingga Iffa leluasa untuk
mencari kerja, meninggalkan
sang suami tercinta dalam
perawatan ibundanya.
Pengalaman hidupnya
diceritakan kepadaku ketika
kami berhenti untuk makan di
rumah makan dalam perjalanan
menuju ke Jogja. Hanya kami
berdua, sopir yang kami pakai
minta ijin karena
keponakannya akan disunat. Di
Jogja kami langsung menemui
beberapa klien kami untuk
melakukan transaksi, kalau
dihitung ada puluhan toko
yang berhasil kami tambah
ordernya hal yang sangat
luarbiasa bagi karierku.
Kami menginap disebuah losmen
di sekitar daerah Maerokoco di
jalan Jogja-Magelang. Mobil
kijang yang kami pakai aku
belokkan masuk ke halaman
parkir losmen, untuk itu
perusahaan mempercayakan
aku membawa salah satu dari
beberapa mobil terbaiknya.
"Mas satu kamar saja," kata
Iffah kepadaku ketika kami
hendak keluar dari mobil.
"Kenapa?" Seraya aku melirik
kearahnya, tampak dia
tersenyum sambil menyibak
rambutnya yang tergerai.
"Biar ngirit, uang kamarnya
bisa aku belikan obat untuk
suamiku."
"Oke, baiklah kalau begitu istri
yang baik."
"Ah, jangan begitu dong,"
sambil mencubit pahaku.
"Eit, jangan ketengah-tengah
lho," aku menggoda.
"Ih mas nakal ah."
Gurauanku yang hanya sesaat
ternyata ditanggapi lain oleh
Iffah, tanpa sepengetahuanku
rona wajahnya berubah
memerah. Wajar, hampir
setahun tubuh mulus itu sudah
tidak terjamah oleh suaminya.
Lalu kami keluar dari mobil
menuju ke resepsionis dan
mendapat kamar dengan satu
ranjang. Seorang belboy atau
pelayan mengantar kami dan
membukakan pintu.
"Masih ada yang bisa saya
bantu pak?"
"Tidak," seraya aku
mengulurkan satu lembar uang
sepuluh ribu, "terimakasih mas"
kataku.
"Saya juga terimakasih pak,"
kata pelayan itu seraya
menerima uang yang aku
sodorkan.
"Aku mandi dulu ya?"
"He-eh," gumamku sambil
mengeluarkan beberapa
pakaian untuk diletakkan
kedalam lemari.
Rencananya kami di Jogja
selama dua hari. Ketika aku
menoleh kearah kamar mandi,
ternyata pintunya tidak
ditutup selang beberapa saat
kemudian terdengar dia
memanggilku,
"Mas"
Berlahan aku beranjak kearah
suara dari dalam kamar mandi,
EDEG..!E jantungku serasa mau
meloncat ketika aku sampai di
pintu tampak Iffah hannya
mengenakan beha dan celana
dalam berwarna merah saja.
Mataku melotot memandang
lekat-lekat kepayudaranya
yang masih tertutup beha
ukuran 34, menggantung indah.
Sementara pelan mataku
menyapu kebagian bawah
tampak selangkangannya
menonjol berbalut celana
dalamnya. Dibaliknya tersebunyi
rambut-rambut tebal dan
dengan malu-malu Iffah
menggeser salah satu kakinya
sehingga tampak belahan
tempeknya samar-samar.
"Mandi bareng mas"
"Y-Ya," kataku gugup.
"Koq diem saja, lepas dong."
Seperti kerbau dungu, aku
melepas pakaian yang aku
pakai.
"Ah-h!"
Iffah terpekik ketika aku
melepas celana dalamku,
tampak kontolku tegak
menjulang. Suatu anugerah
yang tidak aku bayangkan,
aku memiliki kontol berukuran
long size. Mendekati angka
19.5 cm dari pangkal atasnya
ditambah bundar bagian bulat
kepala kontolku yang aduhai.
Rambut didadaku yang
merambat turun menghiasai
seputar pangkal kontolku.
Kepalanya yang bundar besar
tidak dapat menutupi bahwa
memang aku memiliki kontol
seukuran pisang ambon besar,
sungguh duakali ukuran
standar yang tinggi badanku
170 cm dan berat 62.5 kg.
"Ahhh..!" Iffah bergumam lirih
didalam kamar mandi
berukuran 2?2 meter ketika
aku masuk mendekat.
"Segede ini mas punyamu,"
mukanya memerah menahan
nafsu birahi, napasnya mulai
memburu memperlihatkan
sepasang payudaranya yang
berukuran 34B bergetar-getar.
Terasa kelembutan telapak
tangannya ketika dia
menggenggam batang kontolku,
"tidak sebanding dengan
suamiku, hhmm.." kedua
tangannya meremas lembut
hingga bagian kepala kontolku.
"Bagaimana?"
Sambil aku mengusap
rambutnya, sementara
pandangan Iffah tidak lepas
dari kontolku yang dirmasnya
dengan lembut.
"Gedhee sekalee gito loh!"
Aku mengangkat wajahnya, dia
menatap tajam kearahku. Api
birahi terlihat dari sorot
matanya yang nanar tajam
menusuk kedalam kornea
mataku. Aku tidak perduli,
aroma parfum dan dan bau
keringat sudah bercampur jadi
satu. Untung saja mobil yang
kami pakai ber-AC dan
berparfum sehingga kami tidak
bermandi keringat ketika kami
putar-putar Jogja untuk
menemui klien kami.
Sekian lama semenjak suaminya
menderita lumpuh, Iffah
menghabiskan hari-harinya
untuk mengurus suaminya.
Kelumpuhan yang menimpanya
membuat suaminya tidak
mempu menjalankan tugasnya
sebagai seorang suami dan
laki-laki. Kini, kerinduan akan
sentuhan seorang laki-laki
menohok jantungnya. Iffah
kuatir dan takut keluguan dan
kealimanku dimatanya akan
menolak ajakannya. Wow justru
sebaliknya, dengan semangat
juang tinggi dan birahi yang
meledak-ledak aku tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hhmm.. ssstttt.." aku
menjatuhkan bibirku dan
mendapat sambutan hangat
dari Iffah. Sebentar dia
melepaskan genggaman
kontolku dan melingkarkan naik
kedaua tangannya kearah
leherku. Kedua tanganku
merayap diseputar
punggungnya sementara bibir
kami saling berpagutan, lidah
kami saling meliuk-liuk.
Sementara kontolku yang
besar menekan lembut
selangkangannya.
"Hm-mmhO!!!"
Iffah melenguh, napasnya
terasa hangat menerpa ujung
hidungku ketika aku menekan
pinggulku ke selangkangannya
sehingga batang kontolku
menekan permukaan
tempeknya. Pandangannya
gelap, besar, sangat besar
kontol ini pikirnya penuh birahi.
Kontolku meliuk-liuk dalam
jepitan pinggulku dan
selangkangannya membuat
keluar cairan bening dari
kepala kontolku.
Kami terus berpagutan, lidah
kami meliuk-liuk penuh nafsu,
sementara air liurku dan air
liurnya sudah bersatu
membasahi kedua mulut kami.
Tak ketinggalan kontolku
melesat kesana-kemari di
permukaan celana dalamnya.
Aku berusaha melepas tali
beha yang dipakainya, tersibak
sepasang payudaranya dan
aku meremasnya dengan
lembut. Ciumanku merayap
turun kepermukaan puting
susunya yang aku jepit
menggunakan sepasang bibirku.
"Sssttt..tt..mmaaO sss.." dia
mencengkeram kedua
pundakku.
Sementara bibir dan hidungku
asyik di sepasang
payudaranya, telapak
tangannku berlahan menarik
turun celana dalamnya. Iffa
hanya bersandar pada bak air
kamar mandi dengan muka dan
mulutnya mendesah.
"Terruss.. sssO masss..!!"
Ciumanku merayap turun,
cairan keluar dan meyayap
turun dari liang vaginanya
ketika lidahku mulai bermain di
klentitnya.
"Ah..hh..nikk..kk..mm..aat..!!!"
Iffah terdongak seraya sedikit
membungkuk manakala
klentitnya dengan
menggunakan bibirku aku tarik
dengan lembut keluar lalu
ujung lidahku menjilat sambil
memutar-mutarnya.
"Pppp.. fffO fffO.!!!"
Crot..crot..crotO!! Iffah terkulai
sambil memelukku dia sudah
orgasme. Tangannya
menuntunku keatas ranjang,
menyuruhku duduk ditepian
dengan dia berlutut dan
tangannya menggenggam
kontolku sesaat lidahnya mulai
berputar-putar di kepala
kontolku yang telah
mengeluarkan cairan. Berlahan
genggamannya bergerak naik
turun mengocok-ngocok
kontolku yang berkilat-kilat
akibat cairan birahinya.
"Ahh-h"
Melihat aku terengah-engah
Iffah menghentikan
kocokannya, kontolku sampai
memerah dan berdenyut-
denyut.
"Dimasukkan mas," Iffah
bergegas naik keranjang dan
terlentang, membuka kedua
kakinya lebar-lebar sehingga
tempeknya membuka bagaikan
buah durian yang disibak.
"Ahh-h," dengan bimbingannya
kontolku mengarah kedinding
vaginanya. Kepala kontolku
menyeruak masuk menembus
hingga pangkal vaginanya.
Hangat, licin dan berdenyut-
denyut mencengkeram batang
dan menjebak dalam-dalam
kepala kontolku. Dengan
memeluknya erat aku
mempermainkan pinggulku naik
turun.
"Sssttt.. tttO nnni.. kk..mmaattO
sssstt.." Iffah turut memutar-
mutar pinggulnya, sementara
kontolku yang berukuran
jumbo tercengkeram erat oleh
vaginanya yang biasanya
dimasuki oleh kontol suaminya
yang berukuran standar.
Iffah menekan kuat pinggulku
dengan kedua tangannya tapi
karena panjangnya 19.5 cm
maka 3/4 saja yang masuk,
itupun Iffah sudah sangat-
sangat merem-melek. Luar
biasa kontol yang aku miliki,
kesombongan melintas dalam
benakku. Tapi yang namanya
pengalaman merupakan modal
yang utama selain besarnya
kontolku.
Tidak sampai lima belas kali
sodokan tiba-tiba crot-crot-
crot aku menembakkan
spermaku, melihat itu Iffah
tidak tinggal diam. Kedua
kakinya menelikung dipinggulku,
mendekap sangat erat dan
crot-crot-crot diapun orgasme
untuk yang kedua kalinya.
"Ennaaakk..gila!"
"Mau telpon siapa?" Kataku
disuatu pagi ketika kami
merencanakan untuk kembali
ke Pekalongan.
"Telpon rumah," katanya
dengan manja sembari tiduran
di ranjang losmen. Mataku
memandang payudaranya dalam
balutan kaos berwarna biru
ketat. Dibagian pusarnya
terlihat dan resletting celana
jeans-nya tidak dikancingkan
sehingga celana dalamnya yang
berwarna biru terlihat sangat
kontras dengan warna kulit
tubuhnya yang putih mulus.
"Kangen?" Selidikku dengan
nadah cemburu, aneh padahal
toh dia akan menelepon
suaminya. Suaminya yang sah
dan aku cemburu justru akulah
yang aneh, tapi itu tidak aku
sadari. Aku menelan ludah
manakala tanpa sengaja Iffah
menggeser badanya sehingga
resletting celananya semakin
melorot sampai kedasar, hanya
tinggal menunggu ditarik turun
maka terbukalah semuanya.
"Mau bilang kalau aku pulang
tiga hari lagi," dia melirik manja
kearahku dan mungkin dengan
sengaja sedikit menurunkan
belahan celananya dan telapak
tangan kirinya merayap
kepermukaan celana dalamnya
yang berwarna biru, lalu
terdengar dia berbicara
dengan seseorang di telepon
genggamnya. Aku hanya
melongo, pintu lemari yang
hendak aku buka aku tutup
kembali.
"Pa, masih ada orderan yang
harus aku selesaikan nih. Aku
balik tiga atau empat hari lagi,
gimana kabarnya?"
Iffah diam sedang mendengar
suara balasan dari HP-nya.
"Aku hati-hati deh pa, da."
Lalu dia memandang kearahku,
aku hanya melongo didepan
lemari.
"Tiga hari lagi kita pulang,
oke?"
Iffah melepas kaos yang
dipakainya beserta behanya,
membuat payudaranya yang
bulat kenyal terbuka,
sementara celana jeansnya
sudah hampir 1/3 melorot
kebawah.
"Ayo, kita mulai lagi"
Aku merayap di dadanya
dengan tidak mengenakan
pakaian selembar pun, kami
berdua kembali berbugil ria di
pagi itu.
"Uggh..hh..!"
"Auww..!"
"Massuu.. kk.." Seraya aku
menyodokkan pinggulku.
"Ssstt.. ttt..
nnii..kkk..mm..m..aaat.."
Sodokan dari pinggulku ke liang
vaginanya alhasil membuatnya
kelojotan, cairan yang keluar
dari vaginanya sebagai pelicin
karena sekali lagi hanya 3/4
kontolku yang tertancap di
dalam vaginanya. Bukan
erangan kesakitan melainkan
erangan kenikmatan yang
keluar dan akan berulang-
ulang terdengar sampai
beberapa hari kedepan. Satu
lagi kelebihanku adalah
ternyata aku mampu
melakukan orgasme sampai tiga
kali, ini yang jarang dimiliki oleh
laki-laki lain. Kelebihanku inilah
yang dimanfaatkan oleh Iffah
sehingga membuatnya mana
tahaann.
Masih ada Iffah-Iffah lain yang
ikut merasakan kontolku,
dimana dalam pekerjaanku aku
termasuk sukses nyatanya
order perusahaan sangat
banyak sehingga pegawai
marketing pun aku tambah.
Tidak jarang selama aku bawa
mereka keluar kota mereka
aku perlakukan sebagai selimut
biologisku tentunya dengan
iming-iming bonus yang besar.
Inilah yang membuat mereka
tergiur, semua berkat uang.
Bagiku itu semua gampang,
dengan bonus sangat besar
dari perusahaan aku dapat
memenuhi kebutuhan staffku
yang bersedia dan harus mau
menjadi selimut biologisku.
Beberapa diantaranya menolak
dan mereka menanggung
akibatnya yaitu aku keluarkan
dengan dalih banyak hal.