PDA

View Full Version : Nikmatnya Vagina SiBetina


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Sekitar 20 tahun silam, aku
"Anis" sudah mengenal yang
namanya nafsu sex, meskipun
aku belum banyak kenalan
dengan wanita. Aku termasuk
pria yang tidak suka, bahkan
tak pernah melakukan onani
seperti kebanyakan pria.
Namun aku sangat mudah
terangsang ketika melihat
kemaluan lawan jenis, apalagi
jika menyaksikan melakukan
hubungan intim, sekalipun itu
adalah hewan atau binatang.
Ceritanya bermula ketika aku
masih duduk kelas 2 di bangku
SMTP di kecamatanku. Saat itu
usiaku sekitar 15 tahun.
Maklum sebagai orang yang
tinggal dan dibesarkan di suatu
desa yang agak terpencil dari
keramaian kota, aku sehari-
hari bekerja sebagai
penggembala kerbau
sebagaimana umumnya laki-laki
seusiaku di desaku itu. Sebelum
dan sepulang dari sekolah, aku
mempunyai tanggung jawab
untuk mengurus hewan-hewan
piaraan keluargaku, sebab
biaya pendidikan dan keperluan
pokok sehari-hari kami,
umumnya diperoleh dari harga
kerbau. Kurang lebih 15 ekor
kerbau yang harus saya urus
setiap harinya yakni
mengembalakan di padang
rumput, memandikan di sungai,
memasukkan ke kandang dan
sebagainya.
Walaupun sejak kecilku aku
sudah seringkali menyaksikan
bagaimana hewan-hewan itu
melakukan hubungan sex
(kuda, ayam, sapi, kambing,
anjing, burung misalnya),
namun entah saat itu
pengaruh setan dari mana
sehingga aku tiba-tiba mulai
terangsang memperhatikan
sepasang kerbauku melakukan
hubungan sex. Mungkin karena
keduanya merupakan
tungganganku sehari-hari yang
paling jinak, bersih dan sedikit
gemuk, apalagi masih mudah
(belum pernah melahirkan),
atau memang karena aku
sudah terkena puber pertama,
atau karena aku kesepian dari
teman-teman penggembala
lainnya. Yang jelas aku sangat
terangsang melihat dengan
asyiknya penis kerbau
jantanku menyentuk dan
menembus vagina kerbau
betinaku dari belakang. Aku
semakin mendekatkan wajahku
ke dekat vagina yang tertusuk
dengan penis yang panjang itu
dan melihat bagaimana
keduanya melakukan aksinya.
Si jantan dengan keras dan
cepat sekali menggocok-gocok
vagina si betina, sehingga
terdengar bunyi yang agak
khas.
Ketika keduanya mencapai
klimaks yang ditandai dengan
amblasnya seluruh penis si
jantan ke dalam vagina si
betina dan sedikit terdiam lalu
meneteskan cairan putih dari
dalam kemaluannya, aku
mencoba mencium dan meraba
kedua bibir vagina si betina
yang sedikit basah dan montok
itu. Bahkan aku dengan mudah
membuka kedua bibir
vaginanya dan melihat dengan
jelas dinding-dinding vaginanya
yang agak keputihan setelah
penis si jantang keluar, lalu
memasukkan dua jari tanganku
ke dalamnya, sehingga terasa
agak panas dan halus.
Keduanya masih terdiam di
tempatnya, karena aku
mengelus-elus kepalanya agar
tidak bergerak dulu.
Kebetulan saat peristiwa itu,
aku berada di atas kerbau
jantanku dan menungganginya,
sehingga punggungku
bergerak-gerak mengikuti
irama gerakan pinggul si jantan
ketika ia menggocok vagina si
betina. Hal itulah barangkali
yang membuatku sangat
terangsang.
Konsentrasiku saat peristiwa
itu mulai terganggu. Aku
semakin penasaran ingin juga
menikmati vagina si betina itu,
tapi aku masih takut jika ada
orang lain yang melihatku
karena aku berada di padang
rumput yang luas dan terbuka.
Belum aku turun dari atas
kerbau jantanku itu, tiba-tiba
datang lagi kerbau jantanku
yang lainnya menaiki tubuh
kerbau betinaku tadi dan
langsung memasukkan penisnya
hingg amblas seluruhnya. Aku
cepat-cepat lompat dan
memisahkannya agar tidak
sembarang yang menggaulinya,
apalagi si jantan yang satu itu
sedikit kurus dan kotor. Akal
kotorku mulai jalan. Menjelang
tengah hari nanti, aku dapat
salurkan nafsu bejatku lewat
kerbau betinaku di sungai,
sebab kebetulan setiap tengah
hari aku bawa mereka
berendam dan mandi di sungai
bersama dengan teman-teman
gembala lainnya. Hal itu sudah
rutin kami lakukan, selain
membersihkan tubuhnya juga
untuk mengistirahatkannya
sambil minum-minum.
Berbeda dengan hari-hari
sebelumnya, di mana kami
berangkat sama-sama dengan
teman gembala lainnya ke
sungai, tapi hari itu aku
sengaja cepat-cepat membawa
kerbauku ke sungai karena
didorong oleh maksud lain
sehingga menjelang tengah hari
aku sudah ada di sungai itu
berendam bersama dengan
kerbauku. Suasana di sungai
itu masih sangat sepi. Sejak
dari padang rumput hingga
tiba di sungai yang jaraknya
kurang lebih 1 km dari rumah
penduduk, aku memang sudah
menunggangi kerbau betinaku
yang cantik dan mudah itu.
Mungkin karena ia dalam
keadaan suburnya (musim
kawinnya) sehingga ia tenang
sekali jika disentuh, apalagi
ditunggangi. Aku banyak main-
main di atasnya, kadang
mengelus, meraba-raba kepala,
dada dan pantatnya, bahkan
berbaring di atasnya.
Sesampainya di sungai, aku
langsung buka baju dan
celanaku sekalian mumpun
belum ada orang lain di sungai
itu, apalagi hal itu sudah
menjadi kebiasaan kami jika
mandi di sungai. Aku sudah
tidak peduli lagi kerbau lainnya.
Aku hanya konsentrasi dan
mengurusi kerbau betinaku
yang sedang mengalami masa
subur itu. Mula-mula
kubersihkan seluruh tubuhnya
dari ujung kepala hingga ujung
kaki dan terakhir aku
bersihkan bagian belakangnya,
terutama di bawah ekornya
itu. Aku coba mainkan
tanganku dengan mengelus
vaginanya, menusuk-nusuknya
dengan telunjuk, membuka
kedua bibir vaginanya dengan
kedua tanganku. Terasa panas
dan halus. Si betina itu hanya
sedikit bergerak merendam
tubuhnya sambil menikmati
kehangatan air sungai yang
masih jernih itu.
Pantatku dan pantat si betina
itu tidak kelihatan karena
terendam air. Hanya kepala
kami yang nampak di
permukaan air, sehingga
sekalipun ada orang lain yang
melihatku, tidak mungkin
langsung curiga, karena ia
tidak akan bisa melihat penisku
bersentuhan dengan vagina
kerbauku. Aku terus
menggosok-gosok tubuh si
betina dengan kedua
tanganku, namun penisku mulai
menyentuh bibir vagina si
betina dan mulai terasa agak
hangat. Entah apa si betina itu
juga terangsang atau tidak,
tapi yang jelas ia hanya diam
dan kemaluannya terasa
hangat. Aku semakin sulit
menahan nafsuku ketika
pantat si betina itu sedikit
bergerak ke kiri dan ke kanan
sebagaimana layaknya manusia
yang sedang terangsang.
Penisku yang berdiri sejak pagi
hari akibat rangsang oleh
persetubuhan antara kerbau
jantan dengan kerbau
betinaku, nampaknya sulit lagi
kukendalikan. Akhirnya
kuputuskan untuk mencoba
saja menyalurkannya melalui
vagina si betina mumpun belum
ada orang lain yang melihatku.
Karena memang bukan fitrah
untuk berpasangan dengan
manusia, maka wajar saja jika
aku tidak kesulitan menembus
vagina si betina. Penisku
amblas seluruhnya tanpa
hambatan sedikitpun. Nikmat
sekali kurasakan saat itu,
sebab baru kali itu penisku
merasakan yang namanya
vagina, meskipun vagina
hewan, tapi kurasa tidak jauh
beda rasanya dengan vagina
manusia apalagi bagi orang
yang dirundung nafsu birahi.
Cukup lama juga aku keluar
masukkan penisku di kemaluan
si betina itu, meskipun dalam
air. Si betina nampaknya juga
menikmatinya. Ia tidak banyak
bergerak dan seolah memberi
kesempatan padaku untuk
memperlakukannya hingga aku
bisa mencapai kepuasan.
Bahkan sedikit aneh, sebab
punggungnya sesekali
bergoyang ke kiri dan ke
kanan namun agak lambat.
Getaran dinding vaginanyapun
terasa sekali menambah
gairahku sehingga terasa lebih
nikmat. Meskipun saat itu aku
belum bisa bandingkan dengan
vagina manusia karena aku
sama sekali belum pernah
merasakan sebelumnya, tapi
belakangan kuketahui ternyata
bagi orang yang bernafsu
tinggi seperti diriku sulit
membedakan kenikmatan dan
kehangatan dari keduanya.
Dalam tempo hampir satu jam,
aku sempat memuncratkan
spermaku ke dalam vagina si
betina sebanyak 3x hingga
teman-teman gembalaku
berdatangan. Mereka hanya
bertanya padaku tentang
sebabnya aku tidak menunggu
mereka namun dengan alasan
kerbaku haus dan kepanasan,
akhirnya mereka bisa mengerti
juga tanpa sedikitpun rasa
curiga pada diriku. Kami tetap
kembali ke padang rumput
secara bersama-sama dan
pulang ke rumah bersama pula,
tapi telah mengalami sesuatu
peristiwa luar biasa selama
hidupku, sementara mereka
tidak. Itulah kegembiraan dan
kebanggaan yang dapat kami
raih saat itu, bahkan menjadi
kenangan hidupku sepanjang
masa. Hampir setiap hari aku
peraktekkan pengalamanku itu
lewat kerbau betinaku. Kadang
aku lakukan di padang rumput
dikala sepi dari temanku,
kadang di kandangnya dan
kebanyakan kulakukan di
sungai. Sesekali pula aku
mencobanya pada kerbau
betinaku yang lain, namun
kebanyakan pada kerbau
betinaku yang pertama kali
memuaskan nafsuku itu. Pernah
sekali kuperaktekkan lewat
anak kerbauku yang berusia 5
bulan dengan harapan
vaginanya lebih sempit, namun
malah aku ditendang lalu ia lari.
*****
Teman-teman penggemar
cerita porn, mungkin tidak
menarik dan merangsang bagi
anda jika membaca ceritaku ini,
namun bagi orang tertentu,
terutama yang bernafsu tinggi
seperti aku, tidak bisa
membedakan mana vagina
kerbau dan mana vagina
manusia jika sudah sama-sama
bersentuhan. Aku tidak mampu
menghitung lagi berapa kali
kuperaktekkan pada kerbau
dan mungkin di atas ratusan
kali sebab sejak kurasakan
kenikmatan itu, aku hampir
tiap hari melakukannya hingga
aku berhenti menggembala
karena melanjutkan pendidikan
di kota Kabupatenku. Sungguh
banyak sekali spermaku yang
bakal jadi janin manusia
terbuang sia-sia di kemaluan
kerbau, namun belum sempat
kusesali karena hingga usiaku
di atas 30 tahun, nafsu
syahwatku belum juga reda,
bahkan semakin meningkat
rasanya. Anehnya lagi, hampir
tidak ada wanita yang
kuanggap jelek dan
membosankan selama mereka
masih normal dan menyukai
hubungan sex. Inilah
kelebihannya bagi pria yang
memulai petualangan sexnya
lewat binatang atau hewan,
apalagi bila nyata-nyata
manusia. Sebab selalu dianggap
lebih baik yang dirasakan
belakangan dari yang pertama.
Entah diriku ini tergolong pria
normal atau tidak, tapi yang
jelas aku tidak memilih-milih
wanita asal ia punya vagina
yang bisa disetubuhi. Tua atau
muda, berbulu atau tidak,
harum atau tidak, basah atau
tidak, montok atau tidak,
sempit atau tidak, rasanya
semuanya nikmat dan dapat
merangsangku untuk mencapai
tujuan pokok yang sebenarnya.
Sejak peristiwaku bersama
kerbau betinaku, aku senang
sekali terhadap vagina wanita,
sehingga muka, payudara,
kelentit, rambut, bau, dan
penampilan tubuhnya seolah
hanya soal yang kedua bagiku.
Aku belum mau dikatakan
menyerah dan menolak jika
ditawarkan vagina wanita. Aku
belum pernah menolak tawaran
sex dari wanita hanya karena
kurang menarik.
Sebelum aku melanjutkan
pendidikan ke Kota, aku
memang sempat merasakan
nikmatnya vagina wanita
selama dua kali. Pertama kali di
sawah sewaktu menjelang
musim panen dan yang kedua
sewaktu menjelang
pendaftaran/penerimaan siswa
baru. Kedua perstiwa itu
sama-sama sulit terlupakan
karena mempunyai kesan
tersendiri yang luar biasa.
Keduanya pun sama-sama
masih perawan desa dan masih
tergolong di bawah usia. Namun
kisahnya belum sempat
kuutarakan melalui ceritaku ini,
sebab terlalu panjang sehingga
bisa membosankan pembaca.