PDA

View Full Version : Casting Film


knock
10-10-2015, 05:57 AM
Pagi hari di kantor mewah
sebuah perusahaan film
nasional. Seorang gadis cantik
sedang diwawancara oleh
manajer casting perusahaan
tersebut. Pewawancara adalah
seorang pria bernama Toni
berumur 28 tahun keturunan
India.
"Namanya siapa?" kata Toni
lalu duduk dan mengambil
setumpuk kertas di mejanya.
"Santi, lengkapnya Beznifa
Santi Putridewi." jawab gadis
itu.
Toni lalu mencari file gadis itu
di tumpukan kertas yang
dipegangnya.
"Tinggi 170 cm, berat 50 kg,
umur 20 tahun," Toni
mengguman sendiri membaca
data di depannya.
"Pernah main Sinetron atau
pementasan sebelumnya?"
"Belum pernah."
"Kamu tahu bakat kamu apa?"
"Saya bisa menyanyi, tenis dan
bakat yang terbesar menurut
saya adalah akting."
"Kok tahu bakatnya akting?"
"Saya ahli mempermainkan
perasaan orang Pak," jawab
Santi sambil tersenyum malu
mengakui jika dia sering
mempermainkan orang.
"Bapak bisa buktikan sendiri,"
tambahnya.
"Mempermainkan bagaimana
maksudnya?"
"Saya bisa pura-pura
menangis, sampai keluar air
mata. Saya juga bisa marah
atau membentak-bentak orang
padahal dalam hati sih biasa
aja."
"Oke.. saya ingin lihat itu, tapi
nanti saja..!"
"Oh ya, Kamu panggil saja aku
Toni. Tidak usah terlalu formal
OK..!" tambah Toni.
"Iya Pak."
"Tu kan..!"
"Oh iya." tersipu Santi,
ternyata dia masih memanggil
Toni dengan Pak.
"Baik Ton.!" kata Santi terlihat
canggung waktu
mengucapkannya.
"Ha.. ha.. ha.. ha..!" berderai
tawa Toni melihat keimutan
gadis di depannya.
"Cantik juga gadis ini, seksi,
lugu, kulitnya putih. Wajahnya
sangat keibuan, mirip Nia
Daniati. Tubuhnya memang
langsing tapi susunya montok
juga. Andai saja dia istriku,
pasti aku sarungan terus. Ha..
ha.. ha.. ha.. ha.. Kira-kira dia
mau nggak ya?" Toni berkata
dalam hatinya sambil
tersenyum-senyum.
"Coba aja ah..!"
"Ya Ton?" Santi memajukan
kepalanya, disangka Toni
berkata padanya.
"Oh nggak..!"
"Kamu benar-benar ingin peran
ini?" tanya Toni.
"Sangat ingin Ton.."
"Kamu tahu peran utama di
film ini?"
"Tahu, yaitu seorang Gadis
yang mengandung karena
diperkosa, lalu memilih untuk
membesarkan anaknya sendiri,"
jawab Santi.
"Pada adegan perkosaan, kamu
mau memerankan sendiri tanpa
pemain pengganti?" Toni ingin
mengetahui keberanian gadis
itu.
"Mau Ton."
"Tidak pa-pa sama keluarga?"
"Nggak.." Santi memang dari
keluarga liberal. Dia
mengabiskan masa SMA-nya di
USA mengikuti ayahnya dinas.
"Ternyata kamu memang ingin
sekali peran ini ya?"
"Iya Ton, aku mau peran ini
sebagai awal dari karirku di
dunia film."
"Apakah kamu tahu pendatang
baru di dunia film mau
melakukan apa saja untuk
dapat peran?"
"Aku tahu Ton, Aku juga mau
melakukan apa saja agar
diterima."
"Aahhh..! Benar kamu mau?"
Santi mengangguk.
"Kamu bersedia jika diminta
berhubungan seks?"
"Bersedia Ton."
"Jika diminta mengulum penis,
sorry nih ya, apakah mau
juga?" tanya Toni sambil
tersenyum. Toni merasa
penisnya mulai berdenyut-
denyut.
"Mau Ton.."
"Kok mau?"
"Habis Toni ganteng sih, Ha..
ha.. ha.. ha.. ha.." tawa Santi
berderai mendengar
jawabannya sendiri. Toni pun
tertawa mendengarnya.
"Entar kamu lapor polisi."
"Kok lapor polisi, kan dua-
duanya senang," jawab Santi
sambil tersenyum.
"Apakah kamu pernah
melakukan sebelumnya?"
"Dua-duanya pernah Ton."
"Maksudnya?"
"Ya melakukan seks pernah,
mengulum penis juga pernah."
"Ooohh.. dengan siapa?"
"Dengan pacar," jawab Santi.
"Di mana?" Toni tertarik untuk
mengetahui lebih banyak
tentang kisah seks Santi.
"Di rumah, 2 tahun yang lalu
waktu semuanya lagi pergi."
"Awalnya gimana?" lanjut Toni
lebih semangat.
"Waktu itu kami ganti baju
untuk berenang, tapi karena
ganti bajunya bareng satu
kamar, kami jadi sama-sama
terangsang. Terus mulai deh
kami bercumbu dan akhirnya
kami berhubungan seks."
Toni merasakan penisnya
semakin keras. Ingin rasanya
menyelipkan penisnya dalam
vagina milik gadis cantik di
depannya.
"Kamu mau nggak
menceritakan secara lengkap?"
"Kok gitu Ton?"
"Kok gitu gimana?"
"KenapaO kenapa nggak kita
aja yang melakukannya?" kata
Santi. Santi merasa dengan
begitu maka peran itu pasti
jatuh ke tangannya.
"Ooohh, aku ingin dengar
cerita kamu dulu aja deh."
"Diringkas aja ya Ton?"
"Iya..!" jawab Toni tidak sabar.
"Kami waktu itu akan
berenang, rencananya mau
ganti baju renang di kamarku.
Setelah masuk kamar, kami
mulai membuka baju. Aku
membuka lemari pakaian, lalu
membuka kaos dan celana
pendekku. Sehingga aku tinggal
memakai baju dalam saja. Risih
juga berpakaian seperti itu di
depan orang lain. Tapi ini kan
pacarku, jadi ya kupikir tidak
apa-apalah. Aku melirik ke
samping, terlihat pacarku
sudah membuka seluruh
pakaiannya dan tinggal
mengenakan celana dalam saja.
Berdesir juga tubuhku. Aku
merasa bibir kemaluanku mulai
berdenyut, "Santi menggigit
bibirnya.
"Kalau tidak ingat aku ini
perempuan pasti langsung
kudatangi dia. Kuputuskan
untuk lanjut mencari baju
renang. Ketika sedang memilih
baju renang yang merah atau
yang biru, kudengar pacarku
melangkah mendekat. Makin
dekat dan makin dekat, lalu
terasa hembusan nafasnya di
leher ini. Waktu itu aku merasa
tegang sekali, menduga-duga
apa yang akan dia lakukan.
Jantungku berdetak kencang
dan vagina ini sepertinya
berdenyut-denyut," kata Santi
sambil memegang rok
bawahnya.
"Tiba-tiba dia menelusupkan
tangannya di antara pinggang,
memelukku dan merapatkan
badannya, sehingga
punggungku dan dadanya
bersentuhan. Dia mencium
telingaku, gelii banget.." Santi
berkata sambil mengangkat
pundaknya seakan dia sedang
kegelian di bagian telinga.
"Dia mempererat pelukannya
sehingga dadanya makin rapat
ke punggungku. Ciumannya lalu
turun ke leher, rongga
vaginaku rasanya makin
berdenyut dan rasanya agak
basah di bibirnya. Lalu
pantatnya mulai bergerak-
gerak digesekkan naik turun
ke pantatku. Terasa benjolan
penisnya di antara belahan
pantatku. Selama itu aku diam
saja karena tidak tahu harus
bagaimana. Setelah beberapa
menit dia membalikkan badanku
sehingga kami saling
berhadapan."
"Diciumnya bibir ini, kami saling
berpagutan. Lidah kami saling
bersentuhan, kadang bibirku
disedot, kadang digigit. Nikmat
sekali rasanya. Tidak pernah
saya merasa sesenang itu.
Tiba-tiba dia melepaskan
ciumannya dan membopong
tubuh ini. Digendong ke arah
tempat tidur. Aku direbahkan,
sebenarnya malu juga terlihat
dalam keadaan seperti ini dari
depan tapi karena aku juga
sudah terangsang aku mau
aja," Santi berhenti sebentar.
Tak lama dia melanjutkan lagi.
"Pacarku lalu membuka bra-ku
dilanjutkan dengan celana
dalam. Pada saat dibuka
gesekan antara tangannya dan
kulitku menimbulkan perasaan
yang nikmat sekujur tubuh.
Aku merapatkan pahaku
karena aku benar-benar malu.
Melihat itu pacarku lalu
memegang pahaku dan
membuka secara perlahan lalu
dia bilang jangan tutupi
keindahan tubuhmu, selain itu
aku kan pacarmu," Santi
berhenti sejenak lalu
melanjutkan lagi ceritanya.
"Pahaku membuka begitu juga
vaginaku, aku mencoba melihat
apa yang terjadi pada
kemaluanku saat terangsang.
Kulihat warnanya menjadi lebih
merah, bibir luarnya telah
membuka dan kurasa vaginaku
lebih tebal dari biasanya.
Terlihat ada lendir yang
menetes keluar," Santi lalu
menyilangkan kakinya.
"Setelah itu, dia pegang
bahuku. Dia pegang dan belai
rambutku yang terurai di bahu.
Perlahan-lahan dilepaskan
celana renang dan celana
dalamnya. Kulihat tubuh
pacarku yang telanjang di
depanku. Dia lingkarkan tangan
di pinggang dan mulai
mendekapku lembut. Kami
berpelukan dan bertautan bibir
sambil jari-jarinya meraba dan
menggosok seluruh badan."
"Kok lama amat sih
pemanasannya? Kapan
penisnya masuk ke vaginamu?"
Toni sudah tidak sabar.
"Ceritanya lebih cepet dong..!"
tambahnya lagi.
"Tuh kan, nggak sabar. Sudah
penis kamu aja yang diselipkan.
Setelah itu terima aku main di
film," kata Santi. Selain dia
ingin kepastian dapat peran,
dia juga merasa terangsang
mendengar ceritanya sendiri.
Terasa vaginanya sudah
lembab.
"Oooh nggak.. nggak..! Lanjutin
aja. Aku pengen tahu bagian
vaginamu meremas-remas penis
pacarmu."
"Kalau itu yang kamu mau!"
Santi membenarkan letak
duduknya dan melanjutkan
ceritanya.
"Setelah itu dia mengusap
kedua susuku. Diremas dan
dipermainkan putingnya sambil
menggesek-gesekan batang
penisnya ke perutku. Lalu dia
mencium payudaraku, perlahan
diturunkan ciumannya ke
bawah. Bibir kemaluanku dijilat,
dijulurkan lidah dan menusuk
ke dalam lubang vaginaku.
Dijilat, terus jilat dan dijilat
sambil tangannya meremas-
remas puting payudaraku. Aku
terus melihat ke bawah
mengamati perubahan yang
terjadi di kemaluan ini. Setiap
lidahnya dijulurkan ke dalam,
maka vaginaku makin terbuka.
Bibir vaginaku ditarik oleh
giginya, rasanya sakit tapi
nikmat maka vaginaku akan
monyong ikut tertarik.
Kelihatan vaginaku berdenyut
setiap lidahnya mengusap
permukaan klitorisku.."
"Setelah sekian menit dalam
posisi ini, ada rasa yang tidak
pernah aku alami sebelumnya.
Sangat nikmat. Otot vaginaku
seperti tersedot-sedot.
Rasanya aku ingin menjerit-
jerit dan berteriak untuk
melampiaskan nikmatnya. Aku
baru tahu kalau itu yang
namanya orgasme," lalu Santi
terdiam seperti mengenang
saat-saat itu.
"Jangan bilang kalau ceritanya
sudah selesai, mana cerita
kalian berhubungan seks dan
kamu mengulum penisnya?"
Toni curiga cerita Santi telah
selesai melihat Santi diam.
"Kok kamu diam sih..? Dia kan
belum orgasme. Mana mau dia
cuma muasin kamu aja. Dia
pasti ingin juga ngerasain
orgasme," lanjut Toni agar
Santi melanjutkan ceritanya.
"Itu kamu tahu. Kamu aja deh
yang ngelanjutin," sahut Santi
sambil tersenyum.
"Waduh..! Kamu ngerjain saya
ya? Ya nggak mau dong..!"
jawab Toni ikut tersenyum.
"Hi.. hi.. hi.. hi.. hi.." berderai
tawa Santi melihat reaksi Toni.
Lalu Santi menarik napas
sebentar dan melanjutkan
ceritanya.
"Lalu dia merebahkan badanku
ke kasur. Didekatkan
pinggulnya ke selangkanganku.
Pahanya berada di bawah
pahaku. Aku tahu dia akan
memasukkan penisnya.
Sesungguhnya aku tidak tahu
apakah aku juga menginginkan
hal itu. Terasa kepala penisnya
sudah menempel di bibir
vaginaku. Geli juga rasanya.
Tiba-tiba aku tersentak
karena rongga vaginaku
terasa penuh. Tidak jelas
rasanya, antara perih dan
nikmat.."
"Vagina kamu memijat-mijat
penisnya tidak?" tanya Toni
bersemangat. Dia
membayangkan nikmat yang
dirasakan pacar Santi.
"Ya nggak tahu dong. Kan dia
yang rasain," jawab Santi.
"Kalau yang saya rasain,
vagina saya berdenyut-denyut,
dan hangat sekali. Aku
mencoba mendongakkan kepala
melihat ke vaginaku,
kemaluanku lebih
menggelembung dan tebal.
Kulihat juga pacarku memaju-
mundurkan penisnya ke dalam
vaginaku. Vaginaku akan
monyong setiap dia menarik
penisnya dan akan ikut masuk
setiap dia menekan penisnya."
"Pacarku mendongakkan kepala
dan memejamkan matanya.
Peluh membasahi seluruh tubuh
dan wajahnya. Makin lama rasa
perih di kemaluanku makin
hilang, yang tersisa hanyalah
rasa nikmat yang luar biasa.
Aku pun ikut menaik-turunkan
pantatku berkebalikan arah
dengan gerakan pacarku.
Setiap permukaan vagina dan
klitorisku menyentuh pangkal
penisnya rasanya indah sekali.."
"Setelah itu yang kutahu aku
memejamkan mataku, lalu aku
merancau tak menentu. Hingga
kurasakan rasa yang tadi
kualami, vaginaku kembali
seperti disedot-sedot. Aku
berteriak dan menggigit
bibirku. Rasanya lebih nikmat
dari orgasme pertamaku. Tidak
lama pacarku juga berteriak.
Ouughh katanya," Santi
tersenyum ketika dia
menirukan ucapan pacarnya.
"Terasa hentakan di vaginaku.
Pacarku menekan penisnya
sedalam mungkin ke vaginaku,
sambil badannya terhentak-
hentak. Terasa tembakan
sperma di ujung dalam
kemaluanku sekitar 7 kali.
Hangat sekali"
"Untuk berapa lama, penisnya
tetap terselip di vaginaku.
Sepertinya kami berdua tidak
mau memisahkan kemaluan
kami, kalau kata pacarku sih.
Spermanya dan cairanku telah
jadi lem. Ha.. ha.. ha.. Pacarku
memang garing Ton," berderai
tawa Santi.
"Lalu cerita aku mengulum
penisnya terjadi setelah kami
selesai bereng.." belum selesai
Santi bicara Toni memotong
ucapannya.
"Cukup.. cukup.. Aku sudah
nggak kuat nih. Bagian kamu
mengulum penis dipraktekin aja.
Aku janji deh kamu bakal
dapat peran itu."
Mata Santi langsung berbinar.
Daripada mulut ini capek
dipakai untuk bicara lebih baik
dipakai untuk bekerja.
Ternyata mulut seorang wanita
bisa membantu kariernya.
"Ayo kita mulai," lanjut Toni.
"Bagaimana awal ceritanya?"
Toni berdiri mendekat ke arah
Santi. Celananya tidak bisa
menutupi penisnya yang ereksi,
sehingga terlihat tonjolan di
situ.
"Kami waktu itu berenang
tidak memakai baju. Jadi.."
Santi berkata sambil jarinya
memberi kode agar Toni
membuka bajunya.
"Oh ya.. tentu saja," jawab
Toni sambil membuka kancing
baju lalu reitsleting celananya.
Dilepas semuanya. Setelah itu
celana dalamnya. Penisnya
sudah penuh, keras dan tegak
menunjuk ke arah Santi. Santi
lalu membuka bajunya. Dilepas
satu-satu seluruh kain yang
melepas di badannya.
"Santi..! vaginamu tebal sekali."
Toni terkejut melihat
montoknya vagina Santi.
"Nggak pernah saya lihat yang
seperti kamu.."
"Santi..! Enggak usah dikulum
deh. Kita ngeseks aja yuk.."
"Kamu mau dong..! Aku nggak
tahan melihat itumu. Sudah
pengen nyelipin penis ke situ
nih," kata Toni sambil
mengusap-usap penisnya.
"Tentu aku setuju Ton. Dua-
duanya kan jadi ngerasain
nikmat."
"Sekarang kamu naik ke atas
sofa," perintah Toni sambil
membuang semua benda yang
ada di sofa ruang kantornya.
Santi melangkah ke arah sofa.
Direbahkan badannya perlahan,
posisinya kini terlentang
menghadap ke Toni. Pahanya
dibuka mempertunjukan seluruh
alat kemaluannya. Bibir
vaginanya telah membuka,
merekah sehingga bagian dalam
dari vaginanya terlihat jelas.
Merah, basah dan berdenyut.
Tentu nikmat sekali merasakan
pijitan otot-otot di vagina itu.
"UooghO" tanpa terasa mulut
Toni mendesah takjub
menyaksikan keindahan bukit
kemaluan yang tebal itu.
Belahan bibir kemaluannya
yang sedikit kecoklatan
terlihat sangat tebal
membentuk sebuah bukit kecil.
Bibir luarnya masih terbuka
seakan memanggil-manggil Toni
untuk menikmati.
Melihat hal itu, Penis Toni
semakin tegang. Dia ingin sekali
memasukkan kemaluannya ke
lubang vagina yang ada di
depannya, merasakan jepitan
dan pijitannya. Jelas sekali Toni
melihat vagina itu berdenyut-
denyut. "Terbayang betapa
nikmatnya jika penisku bisa
masuk ke situ," guman Toni
dalam hatinya.
Toni mendekat dan berlutut di
selangkangan Santi. Lalu
tangan kirinya merekahkan
bibir kemaluan Santi,
sedangkan tangan kanannya
mengarahkan penisnya agar
arahnya tepat. Dengan lembut
Toni menyelipkan penisnya ke
dalam kemaluan Santi yang
basah. Toni berhenti sejenak
ketika kepala penisnya masuk
1/4. Dia memejamkan matanya
menahan nikmatnya perasaan
saat itu.
"UughhO" ujar Toni.
Perasaan luar biasa ketika
kepala penisnya menggesek
bibir vagina Santi. Santi
mungkin mengira batang penis
itu akan dimasukkan
seluruhnya, karena begitu
kepala penis menyelip di antara
bibir kemaluannya terlihat ia
membuka kedua pahanya
lebar-lebar. Tapi ternyata Toni
menghentikan gerakannya.
"Lagi Ton, masukin lagi..!" Santi
merengek ketika mengetahui
Toni menahan gerakannya.
"Jangan berhenti Ton.. masukin
semuanya," Santi merengek
lagi karena Toni masih
memejamkan mata menikmati
1/4 penisnya yang sedang
diremas-remas oleh otot
vagina Santi.
Toni yang memang ingin
seluruh bagian penisnya
menikmati pijitan tentu saja
mengikuti permintaan itu, dia
lalu menekan penisnya lebih
dalam perlahan-lahan sampai
akhirnya semuanya masuk.
"Ouugghh..!" Toni melenguh
ketika pangkal penisnya
menyentuh lubang kewanitaan
Santi. Terasa seluruh penisnya
digenggam erat oleh vagina
Santi.
"Ahhkkk..! Tekan Ton, tekan
yang keras..!" rengek Santi
sambil menggigit bibirnya.
"Kayak gini bukan?" lalu Toni
menghentakkan pantatnya ke
depan, sehingga mulut vagina
Santi terdorong dengan keras.
"Oughh.." teriak Toni.
"Aaahhkkk..! Gila Ton..! Lagi
Ton..!" rintih Santi merasakan
nikmat.
Toni lalu menarik penisnya,
vagina Santi terlihat monyong.
Setelah tertarik setengah
didorongnya lagi pantatnya
seperti tadi.
"Aaahkkkk..!" bersamaan
mereka berteriak.
Toni lalu memaju-mundurkan
pantatnya. Dia menarik sampai
sekitar 50 persen panjangnya,
lalu menekan lagi hingga masuk
semuanya. Toni terus
melakukan itu. Sementara itu
Santi tetap merancau tidak
karuan. Sedangkan Toni lebih
banyak diam.
"Aahhkk.. Toni.. enaak.. hiks..
hiks.. hikss ooohh.."
"Yaahh.. tusuk yang keras..
hmm.. Oughh.. yaa.. terus Ton.."
"Sshhh.. ssshhh.. oughh.. enak
Ton, terus.. terus.. tarik
dorong yang keras Ton..!"
"Oougghh.. oh.. oh.. oh.. oh.."
Santi terus menjerit-jerit.
Vaginanya menjepit keras penis
Toni.
"Ough.. terus Ton..!" Santi
menggelepar-gelepar sambil
menggeleng-gelengkan
kepalanya. Lubang vagina Santi
semakin basah, dan meremas-
remas batang kemaluan Toni.
"Uhh.. hu.. hu.. huu.." terdengar
suara Santi seperti merintih,
menahan nikmatnya sodokan
penis Toni. Santi makin
membuka kakinya. Ditariknya
kakinya ke atas, sehingga
lututnya menyentuh dadanya.
Hal ini membuat Toni makin
leluasa memasukkan penisnya.
"Ton.. bentar lagi Ton.. aku
mau dapat.!" teriak Santi
ketika merasakan orgasmenya
akan datang, rongga
kewanitaannya menjadi lebih
berdenyut, seperti menggigit
lembut penis Toni. Santi
menaikkan pantatnya agar
penis Toni makin dalam mengisi
vaginanya.
"OuughhhO Ton.. hiks.. hiks.. hu..
hu.." Santi kembali merintih
kenikmatan. Kedua tangannya
meremas-remas pundak Toni.
Sesaat sebelum Santi mencapai
orgasme. Toni tiba-tiba
merenggut pantat Santi,
mencengkeramnya. Dihentak-
hentakkan pantatnya ke
bawah lebih cepat. Hal ini
membuat gesekan antara penis
dan rongga vagina makin
cepat. Toni terus
melakukannya hingga pada
hentakan terakhir ditekannya
pantat lama sekali ke bawah.
Santi merasakan senjata Toni
semakin besar, vagina Santi
terasa semakin penuh, Toni
mencapai orgasmenya.
"Ooouughh.." lenguh Toni.
Santi merasakan ada tembakan
hangat di dalam ujung
vaginanya. Lembut dan mesra.
Semprotannya kencang sekali
dan berkali-kali. Kira-kira tujuh
atau delapan tembakan, badan
Toni mengejang, dan lalu lemas,
lunglai, jatuh ke depan,
menindih Santi.
Toni lalu mencium bibir Santi.
"Terima kasih San.."
Santi mencium balik. Mereka
berpagutan beberapa saat.
Tubuh mereka berkeringat,
basah sekali.
Setelah agak lama Toni
menjauhkan bibirnya dan
mencabut penisnya. Terdengar
bunyi, "Plop..!" ketika kedua
alat kenikmatan itu dipisahkan.
"Kamu aktris berbakat San..!
kamu akan dapat peran di film
itu, tapi bukan sebagai peran
utama. Kamu jadi teman SMA si
pemeran utama," kata Toni
sambil memakai celananya.
"Lhoo..! Ton.. katamu.." belum
selesai Santi bicara Toni sudah
bicara.
"Aku memang bilang kamu akan
dapat peran. Tapi aku tidak
bilang kalau itu peran utama.
Kalau tidak mau ya udah. Kalau
mau peran utama, nanti
tunggu film yang baru lagi,
kamu casting lagi sama saya.
Kita lihat kamu serius tidak
menjalani kariermu."
"Sekarang kamu mau nggak
peran tadi?" lanjut Toni
bertanya.
"Mau dong, tapi kiraiinn.!"
"Mau nggak?" tanya Toni lagi.
"Iya.. iya.. mau..!" jawab Santi
sambil memakai bajunya.
Wawancara pun selesai, Santi
pergi meninggalkan ruangan
dan kehidupan di kantor sang
manajer berlangsung lagi
seperti biasa.