PDA

View Full Version : Tak Ada Rotan Akarpun Jadi


knock
10-10-2015, 05:56 AM
Namaku Memed, awas jangan
salah menyebut namaku
menjadi memek, ketika itu
(tahun 1978) umurku baru 12
tahun, namun anehnya hasrat
seksualku telah begitu kuat,
sehingga kadang sulit untuk
diredam. Imajinasiku kadang
demikian melambung
mengkhayalkan hal-hal yang
tidak layak dipikirkan dan
dikhayalkan anak seusiaku.
Hasrat seksual itu sering
muncul begitu saja tanpa
sebab yang jelas.
Pernah, suatu malam ketika
keluargaku sedang menonton
TV. Kebetulan ruang nonton TV
dalam keadaan gelap, karena
lampunya dimatikan, hanya
diterangi oleh cahaya dari
layar TV. Menjelang tengah
malam semuanya tertidur,
kecuali aku. Aku melihat adikku
Tuti, dua tahun di bawahku,
tepat berada di sampingku.
Entah kenapa tiba-tiba hasrat
seksualku muncul tiba-tiba.
Tanganku merayap,
menyibakkan rok yang dipakai
adikku, tanganku perlahan-
lahan meraba-raba belahan
memek di balik celana
dalamnya, yang tentunya masih
bersih belum tumbuh bulu
sedikit pun. Keberanianku
semakin muncul, karena tidak
ada reaksi dari adikku,
kulepaskan tangan sambil
sedikit memiringkan tubuhku
dan kucium bibirnya, tak ada
reaksi.
Karena khawatir ketahuan
yang lain, apa lagi kalau adikku
bangun, kuhentikan aktivitasku.
Namun, debaran dada semakin
meledak-ledak, karena hasrat
yang sangat sulit dibendung,
tapi rasa takut mengalahkan
hasratku yang meledak-ledak.
Bayangan dan hasrat semalam
tenyata masih terbawa sampai
esok harinya. Kepala terasa
berat, menahan hasrat yang
demikian menekan. Sampai jam
empat sore bayangan-
bayangan kejadian malam
malah semakin menggila.
Akhirnya aku mencari akal
bagaimana melampiaskan
hasrat tersebut. Aku pergi ke
belakang rumah dengan
maksud untuk bermain sekedar
menepis bayangan semalam.
Sesampainya di belakang, aku
melihat dua ekor kambing
betina.
Tiba-tiba muncul pikiran yang
sebelumnya belum pernah
singgah, aku dekati kambing
itu dan menatapnya dengan
seksama, khususnya bagian
belakangnya, bagian yang
tertutup ekornya. Kupegang
dan kuusap-usap bagian
punggungnya dan terus ke
arah belakang, sementara itu
kontolku telah sedemikian
ngaceng di balik celana pendek
yang kupakai.
Anehnya kambing itu diam saja
ketika memeknya kuusap-usap,
seperti menikmatinya. Selama
tanganku meraba-raba memek
kambing itu, pandanganku
melihat-lihat jangan-jangan
ada orang di sekitar situ dan
memergoki apa yang
kulakukan. Lima belas menit
kemudian, setelah yakin tidak
ada orang, kubuka resleting
celanaku perlahan-lahan dan
mengeluarkan kontolku yang
telah sedemikian ngaceng.
Kontolku langsung keluar,
karena memang aku tidak
pernah memakai celana dalam.
Aku mulai memakai celana
dalam setelah aku kelas tiga
SMP, dua tahun kemudian.
Perlahan-lahan kudekatkan
kontolku dan kugosok-gosok
ke memek kambing itu.
Perasaan enak terasa di ujung
kontolku, entah mengapa,
mungkin karena imajinasiku
membayangkan bahwa memek
yang sedang kugesek-gesek
itu adalah memek adikku.
Setelah merasa puas
menggosok-gosok kontolku,
kumasukkan pelan-pelan
kontolku ke dalam memek
kambing betina itu, hingga
akhirnya masuk semua.
Ketika kontolku telah masuk
semua, kambing itu mengembik,
namun suaranya terasa agak
lain, lebih menyerupai erangan.
Kukocok pelan-pelan, takut
mbek itu berontak dan kabur,
karena tidak diikat. Namun
kambing itu tetap diam, malah
terasa kambing itu seperti
menggoyang-goyangkan
pantatnya dan menekan
badannya ke arah belakang,
sehingga kontolku semakin
dalam memasuki memek
kambing itu. Sambil mengocok
kontol, mulutku menyebut-
nyebut nama adikku, kadang
teman-teman perempuan
sekelasku, dan siapa saja
perempuan yang melintas
dalam ingatanku.
"Oohh.. Tuti, memekmu enak
sekaliO oh Mirna.. Henceutmu
gurih, oh Maryam sayangku.."
Aku semakin mempercepat
kocokan kontolku. Mungkin
karena baru pertama
melakukan itu dan imajinasiku
yang semakin menggila, tidak
lama terasa ada sesuatu
mendesak dari dalam perutku
yang mengarak ke arah
kontolku. Seluruh badanku
terasa merinding menahan
nikmat yang sulit untuk
dikatakan. Dan akhirnya, crot-
crot.. Entah berapa kali.
Kutekan tubuhku dengan
menarik tubuh kambing bagian
belakang karena takut jatuh,
badanku terasa lemas. Setelah
agak lama aku membiarkan
kontolku di dalam memek
kambing itu, kucabut perlahan,
terasa linu namun sangat-
sangat enak. Setelah kejadian
itu, bila hasratku kembali
muncul aku mendatangi
kambing itu. Dan kulakukan itu
hampir tiap hari.
Tiga bulan kemudian, sepulang
sekolah ketika hasratku
kembali muncul karena di
sekolah melihat temanku yang
pingsan dan dengan tidak
sengaja melihat celana
dalamnya, hasrat seksualku
muncul sedemikian kuat. Aku
pergi ke belakang rumah
tempat biasanya sang kambing
merumput, aku tidak
menemukannya di sana. Kucari
ke tempat lain di sekitar
rumahku juga tidak ada. Di
antara rasa penasaran, heran
dan hasrat seksual yang
demikian kuat, kutanyakan
kepada ibuku. Ia mengatakan
bahwa kambing itu setelah aku
pergi sekolah dibawa ayah
untuk dijual ke Pak Lurah.
Walaupun penasaran aku tidak
bisa bilang apa-apa, namun
demikian ternyata tidak juga
menyurutkan hasrat seksualku.
Aku kembali ke belakang
rumah, mencari akal untuk
melampiaskan hasratku yang
tidak kunjung terpuaskan.
Tak jauh di belakang rumahku
terdapat kebun yang ditumbuhi
tanaman jagung, luasnya
hampir lima hektar. Di situlah
biasanya aku bermain. Aku
biasanya bermain sendirian,
entah mengapa aku tidak
begitu suka main dengan
teman sebaya. Sesampainya di
tengah-tengah kebun jagung,
di antara pohon-pohon jagung
aku duduk sambil meluruskan
kaki. Tanpa sadar tanganku
mengusap-usap kontolku dari
luar celana. Karena asyiknya,
tanpa kuketahui tiba-tiba di
depanku ada seekor ayam
betina yang sedang mencari
makan. Entah pikiran dari
mana, tiba-tiba aku punya
pikiran untuk menyetubuhi
ayam itu.
Pelahan-lahan sambil
mengendap-endap kudekati
ayam itu, dan kutangkap.
Ternyata ayam itu milik orang
tuaku. Karena aku biasa
memberinya makan sehingga
ayam itu dengan mudahnya
kutangkap, walau pun tetap
saja mau melepaskan diri,
mungkin karena merasa
diganggu saat sedang enak-
enaknya makan.
Ayam itu kuusap-usap kepala
dan punggungnya supaya diam.
Setelah tenang, kubuka
resleting celanaku dan
kukeluarkan kontolku. Sambil
kupegang ayam itu dengan
kedua tanganku, pelan-pelan
kudekatkan pantat ayam itu
ke kepala kontolku, dan
kutekan pelan-pelan. Karena
kontolku sedemikian
ngacengnya dan keras, sedikit
demi sedikit kontolku masuk ke
dubur ayam itu, terasa sulit
dan pedih-pedih enak, namun
kutekan terus. Ayam itu
berontak dan berkotek-kotek
serta berusaha melepaskan
diri. Kupegang lebih kencang
karena takut lepas, sambil
ditekan lebih kuat. Akhirnya
seluruh kontolku masuk. Ayam
itu tetap berkotek dan
berusaha melepaskan diri.
Pelan-pelan ayam itu kuangkat
sedikit dan kutekan kembali
perlahan-lahan dan akhirnya
semakin kencang. Aku ingin
cepat-cepat menyelesaikan
EproyekE kecil yang
mengasyikkan namun
menegangkan itu. Tak lama
kemudian seluruh badanku
terasa merinding menahan
nikmat yang sulit untuk
dikatakan. Dan akhirnya, crot-
crot.. Kutekan ayam itu ke
belakang supaya kontolku
masuk lebih dalam. Setelah
agak lama aku membiarkan
kontolku di dalam dubur ayam
itu, kucabut perlahan, terasa
linu namun sangat-sangat
enak. Ternyata, betul kata
pepatah, tak ada perempuan,
kambing dan ayam pun jadilah..
*****
Suatu hari, entah iblis mana
yang mengantarkanku ke
pengalaman yang benar-benar
aneh. Aku bermaksud
mengembalikan buku yang
kupinjam dari salah seorang
teman sekolahku, seorang
perempuan, Yuli namanya. Ia
anak tetanggaku yang paling
dekat dengan rumahku, oleh
karena itu aku agak berani
meminjam buku. Ketika sampai
di rumahnya, yang kutemukan
hanya ibunya yang sedang
menjemur pakaian. Kutanyakan
padanya, ia bilang bahwa Yuli
sedang bermain di belakang
rumah atau paling di saung di
kebun singkong, sedang main
dengan anjingnya.
Aku pergi ke belakang rumah
Yuli, kucari-cari tidak ada. Lalu
aku masuk ke kebun singkong
tidak jauh dari situ. Kulihat tak
jauh ada sebuah saung.
Kudekati, tapi kudengar suara
keluhan atau tepatnya
erangan yang sangat halus,
namun kadang-kadang
terdengar agak memburu. Aku
heran dan penasaran. Kuintip
dari arah belakang saung
melalui lubang yang agak lebar.
Kulihat Yuli sedang duduk, tapi
rok bagian bawahnya
terangkat ke atas, dan
tampak di bawahnya seekor
anjing, kutahu nama anjing itu
Bleki, sedang menjilat-jilat
kemaluan si Yuli. Mata si Yuli
tampak terpejam, dan
mulutnya mengeluarkan suara
seperti mengerang keenakan.
Aku heran akan tetapi entah
bagaimana tiba-tiba nafsu
birahiku muncul dengan tiba-
tiba dan kontolku terasa
tegang. Pelan-pelan aku
melangkah ke depan saung dan
perlahan masuk ke saung itu.
Aku membungkuk dan melihat
apa yang dilakukan anjing itu.
Tampak memek si Yuli telah
memerah dan basah oleh air
liur anjing itu. Memeknya
tampak masih bersih tanpa
sehelai pun rambut. Pelan-
pelan anjing itu kuusap-usap
dan kusingkirkan, dan cepat-
cepat kugantikan tugas yang
sedang dilakukan anjing itu.
Aku meniru apa yang
dilakukannya terhadap memek
Yuli.
"Ehm.. Ohh.."
Terdengar Yuli mengerang
agak kencang. Pelan-pelan
kuraba memek Yuli, dan
kubuka belahannya. Tampak
warna merah muda yang
sangat membangkitkan nafsu
birahi itu terpampang di
depanku. Berbeda dengan
memek kambing apalagi dubur
ayam. Yang ini benar-benar
lain dan sungguh indah. Aku
semakin semangat menjilat-
jilatnya.
Semakin lama erangan Yuli
semakin sering. Tiba-tiba
rambutku terasa ada yang
memegang dan kepalaku
semakin ditekannya kuat-kuat.
"Oohh.. Enak.. Shht..!!" Aku
semakin bersemangat.
Tiba-tiba kepalaku dicengkeram
dan digoyang-goyang,
terdengar Yuli berkata seperti
terkejut..
"Siapa itu..?"
Aku menghentikan aktivitasku
dan menengadahkan kepalaku,
tampak Yuli terkejut..
"Apa yang kamu lakukan?"
Tanya Yuli, tapi anehnya
seperti tidak ada kesan yang
memperlihatkan rasa malu,
hanya keheranan. Melihat itu,
muncul keberanianku..
"Menikmati memekmu.."
"OohhO kamu suka?"
"Suka sekali.. Lalu?" jawabku.
"Bagaimana kalau kita
lanjutkan?" tanya Yuli.
"Boleh?" aku bertanya tak
percaya.
"Heem.. Tanggung, tapi jangan
bilang-bilang siapa ya?!"
"Ya.." jawabku sepat.
"Sini lihat kontolmu..!" kata Yuli
enteng.
Kubuka resleting celanaku dan
kubuka celanaku. Maka
keluarlah kontolku yang sejak
tadi sudah tegang dan keras.
Yuli memegangnya dan
menariknya. Aku meringis
kesakitan.
"Pelan-pelan dong..!" kataku.
"Aku sudah nggak tahan.. Ohh"
ia berkata setengah
mengerang.. Ditariknya
perlahan kontolku dan
diletakkannya ke memeknya
dan digosok-gosoknya.
"Tekan-pelan-pelan Med..".
Aku menekannya pelan-pelan,
tapi tiba-tiba tumitku yang
terlipat menindih batu yang
agak runcing, aku kaget
karena sakit. Gerakanku yang
tiba-tiba menekan kontolku,
sehingga.. BlessO Ahh.. Aku dan
Yuli melenguh berbarengan.
Anehnya kontolku bisa masuk
dengan lancar. Dan akhirnya
seluruh batang kontolku masuk
ke dalam memek Yuli. Terasa
kenikmatan yang sangat
berbeda jauh dengan memek
Kambing apalagi dubur ayam.
Hangat, basah dan terasa lebih
lembut. Setelah dibiarkan
beberapa lama, aku menarik
dan menekan secara perlahan,
akan tetapi Yuli tampak liar
menggoyang ke kiri dan ke
kanan secara bersamaan juga
mendorong dan menarik..
Luar biasa, gadis kecil ini
belajar dari mana? Karena
gerakan Yuli begitu atraktif,
aku tak tahan lagi, dan tak
lama kemudian.. Crot.. Crot..
Aku mengeluarkan spermaku di
dalam memek Yuli.. Dan tampak
Yuli pun mengerang dengan
kuat.. Orgasme. Akhirnya kami
berdua ambruk di saung itu.
Setelah agak lama, aku
berkataO
"Kamu hebat dan tampaknya
sudah berpengalaman".
"Ya, berkat kamu dan si Bleki"
"Maksudmu?" tanyaku heran.
"Aku melihat kamu sering
ngentot dombamu itu, aku
sering mengintipmu. Karena
penasaran aku coba dengan
anjingku, yakh karena aku
tidak punya kambing sepereti
kamu"
"Oohh.." aku bergumam..
Sejak saat itu, aku sering
bermain dengan Yuli, baik di
saung maupun di kebun jagung
belakang rumahku. Pengalaman
yang benar-benar aneh..