PDA

View Full Version : Nana Yang Haus S3x


knock
10-10-2015, 05:56 AM
Belum lama ini aku kembali
bertemu Nana (bukan nama
sebenarnya). Ia kini sudah
berkeluarga dan sejak menikah
tinggal di Palembang. Untuk
suatu urusan keluarga, ia
bersama anaknya yang masih
berusia 6 tahun pulang ke
Yogya tanpa disertai suaminya.
Nana masih seperti dulu,
kulitnya yang putih, bibirnya
yang merah merekah,
rambutnya yang lebat tumbuh
terjaga selalu di atas bahu.
Meski rambutnya agak
kemerahan namun karena
kulitnya yang putih bersih,
selalu saja menarikdipandang,
apalagi kalau berada dalam
pelukan dan dielus-elus.
Perjumpaan di Yogya ini
mengingatkan peristiwa sepuluh
tahun lalu ketika ia masih
kuliah di sebuah perguruan
tinggi ternama di Yogya.
Selama kuliah, ia tinggal di
rumah bude, kakak ibunya
yang juga kakak ibuku.
Rumahku dan rumah bude agak
jauh dan waktu itu kami
jarang ketemu Nana.
Aku mengenalnya sejak kanak-
kanak. Ia memang gadis yang
lincah, terbuka dan tergolong
berotak encer. Setahun
setelah aku menikah, isteriku
melahirkan anak kami yang
pertama. Hubungan kami rukun
dan saling mencintai. Kami
tinggal di rumah sendiri, agak
di luar kota. Sewaktu
melahirkan, isteriku mengalami
pendarahan hebat dan harus
dirawat di rumah sakit lebih
lama ketimbang anak kami.
Sungguh repot harus merawat
bayi di rumah. Karena itu, ibu
mertua, ibuku sendiri, tante
(ibunya Nana) serta Nana
dengan suka rela bergiliran
membantu kerepotan kami.
Semua berlalu selamat sampai
isteriku diperbolehkan pulang
dan langsung bisa merawat
dan menyusui anak kami.
Hari-hari berikutnya, Nana
masih sering datang menengok
anak kami yang katanya cantik
dan lucu. Bahkan, heran
kenapa, bayi kami sangat lekat
dengan Nana. Kalau sedang
rewel, menangis, meronta-
ronta kalau digendong Nana
menjadi diam dan tertidur
dalam pangkuan atau
gendongan Nana. Sepulang
kuliah, kalau ada waktu, Nana
selalu mampir dan membantu
isteriku merawat si kecil.
Lama-lama Nana sering tinggal
di rumah kami. Isteriku sangat
senang atas bantuan Nana.
Tampaknya Nana tulus dan
ikhlas membantu kami. Apalagi
aku harus kerja sepenuh hari
dan sering pulang malam.
Bertambah besar, bayi kami
berkurang nakalnya. Nana mulai
tidak banyak mampirke rumah.
Isteriku juga semakin sehat
dan bisa mengurus seluruh
keperluannya. Namun suatu
malam ketika aku masih asyik
menyelesaikan pekerjaan di
kantor, Nana tiba-tiba muncul.
"Ada apa Na, malam-malam
begini."
"Mas Danu, tinggal sendiri di
kantor?"
"Ya, Dari mana kamu?"
"Sengaja kemari."
Nana mendekat ke arahku.
Berdiri di samping kursi kerja.
Nana terlihat mengenakan rok
dan T-shirt warna
kesukaannya, pink. Tercium
olehku bau parfum khas
remaja.
"Ada apa, Nana?"
"Mas.. aku pengin seperti Mbak
Tari."
"Pengin? Pengin apanya?" Nana
tidak menjawab tetapi malah
melangkah kakinya yang putih
mulus hingga berdiri persis di
depanku. Dalam sekejap ia
sudah duduk di pangkuanku.
"Nana, apa-apaan kamu ini.."
Tanpa menungguku selesai
bicara, Nana sudah
menyambarkan bibirnya di
bibirku dan menyedotnya
kuat-kuat. Bibir yang selama
ini hanya dapat kupandangi
dan bayangkan, kini benar-
benar mendarat keras.
Kulumanya penuh nafsu dan
nafas halusnya menyeruak.
Lidahnya dipermainkan cepat
dan menari lincah dalam rongga
mulutku. Ia mencari lidahku dan
menyedotnya kuat-kuat. Aku
berusaha melepaskannya
namun sandaran kursi
menghalangi. Lebih dari itu,
terus terang ada rasa nikmat
setelah berbulan-bulan tidak
berhubungan intim dengan
isteriku. Nana merenggangkan
pagutannya dan katanya,
"Mas, aku selalu ketagihan
Mas. Aku suka berhubungan
dengan laki-laki, bahkan
beberapa dosen telah kuajak
beginian. Tidak bercumbu
beberapa hari saja rasanya
badan panas dingin. Aku belum
pernah menemukan laki-laki
yang pas."
Kuangkat tubuh Nana dan
kududukkan di atas kertas
yang masih berserakan di atas
meja kerja. Aku bangkit dari
duduk dan melangkah ke arah
pintu ruang kerjaku. Aku
mengunci dan menutup kelambu
ruangan.
"Na.. Kuakui, aku pun
kelaparan. Sudah empat bulan
tidak bercumbu dengan Tari."
"Jadikan aku Mbak Tari, Mas.
Ayo," kata Nana sambil turun
dari meja dan menyongsong
langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat
sehingga dadanya yang empuk
sepenuhnya menempel di
dadaku. Terasa pula penisku
yang telah mengeras
berbenturan dengan perut
bawah pusarnya yang lembut.
Nana merapatkan pula
perutnya ke arah kemaluanku
yang masih terbungkus celana
tebal. Nana kembali menyambar
leherku dengan kuluman
bibirnnya yang merekah bak
bibir artis terkenal. Aliran
listrik seakan menjalar ke
seluruh tubuh. Aku semula ragu
menyambut keliaran Nana.
Namun ketika kenikmatan tiba-
tiba menjalar ke seluruh tubuh,
menjadi mubazir belaka
melepas kesempatanini.
"Kamu amat bergairah, Nana.."
bisikku lirih di telinganya.
"Hmm.. iya.. Sayang.." balasnya
lirih sembari mendesah.
"Aku sebenarnya menginginkan
Mas sejak lama.. ukh.." serunya
sembari menelan ludahnya.
"Ayo, Mas.. teruskan.."
"Ya Sayang. Apa yang kamu
inginkan dari Mas?"
"Semuanya," kata Nana
sembari tangannya menjelajah
dan mengelus batang
kemaluanku. Bibirnya terus
menyapu permukaan kulitku di
leher, dada dan tengkuk.
Perlahan kusingkap T-Shirt
yang dikenakannya. Kutarik
perlahan ke arah atas dan
serta merta tangan Nana telah
diangkat tanda meminta T-
Shirt langsung dibuka saja.
Kaos itu kulempar ke atas
meja. Kedua jemariku langsung
memeluknya kuat-kuat hingga
badan Nana lekat ke dadaku.
Kedua bukitnya menempel
kembali, terasa hangat dan
lembut. Jemariku mencari
kancing BH yang terletak di
punggungnya. Kulepas perlahan,
talinya, kuturunkan melalui
tangannya. BH itu akhirnya
jatuh ke lantai dan kini ujung
payudaranya menempel lekat
ke arahku. Aku melorot
perlahan ke arah dadanya dan
kujilati penuh gairah.
Permukaan dan tepi putingnya
terasa sedikit asin oleh
keringat Nana, namun
menambah nikmat aroma gadis
muda.
Tangan Nana mengusap-usap
rambutku dan menggiring
kepalaku agar mulutku segera
menyedot putingnya. "Sedot
kuat-kuat Mas, sedoott.."
bisiknya. Aku memenuhi
permintaannya dan Nana tak
kuasa menahan kedua kakinya.
Ia seakan lemas dan
menjatuhkan badan ke lantai
berkarpet tebal. Ruang ber-AC
itu terasa makin hangat. "Mas
lepas.." katanya sambil
telentang di lantai. Nana
meminta aku melepas pakaian.
Nana sendiri pun melepas rok
dan celana dalamnya. Aku pun
berbuat demikian namun masih
kusisakan celana dalam. Nana
melihat dengan pandangan
mata sayu seperti tak sabar
menunggu. Segera aku
menyusulnya, tiduran di lantai.
Kudekap tubuhnya dari arah
samping sembari kugosokkan
telapak tanganku ke arah
putingnya. Nana melenguh
sedikit kemudian sedikit
memiringkan tubuhnya ke
arahku. Sengaja ia segera
mengarahkan putingnya ke
mulutku.
"Mas sedot Mas.. teruskan,
enak sekali Mas.. enak.."
Kupenuhi permintaannya
sembari kupijat-pijat
pantatnya. Tanganku mulai
nakal mencari selangkangan
Nana. Rambutnya tidak terlalu
tebal namun datarannya cukup
mantap untuk mendaratkan
pesawat "cocorde" milikku.
Kumainkan jemariku di sana
dan Nana tampak sedikit
tersentak. "Ukh.. khmem.. hss..
terus.. terus," lenguhnya tak
jelas. Sementara sedotan di
putingnya kugencarkan, jemari
tanganku bagaikan memetik
dawai gitar di pusat
kenikmatannya. Terasa jemari
kanan tengahku telah
mencapai gumpalan kecil daging
di dinding atas depan
vaginanya, ujungnya kuraba-
raba lembut berirama. Lidahku
memainkan puting sembari
sesekali menyedot dan
menghembusnya. Jemariku
memilin klitoris Nana dengan
teknik petik melodi.
Nana menggelinjang-gelinjang,
melenguh-lenguh penuh nikmat.
"Mas.. Mas.. ampun.. terus,
ampun.. terus ukhh.." Sebentar
kemudian Nana lemas. Namun
itu tidak berlangsung lama
karena Nana kembali bernafsu
dan berbalik mengambil inisitif.
Tangannya mencari-cari arah
kejantananku. Kudekatkan
agar gampang dijangkau,
dengan serta merta Nana
menarik celana dalamku.
Bersamaan dengan itu melesat
keluar pusaka kesayangan Tari.
Akibatnya, memukul ke arah
wajah Nana. "Uh.. Mas.. apaan
ini," kata Nana kaget. Tanpa
menunggu jawabanku, tangan
Nana langsung meraihnya.
Kedua telapak tangannya
menggenggam dan mengelus
penisku.
"Mas.. ini asli?"
"Asli, 100 persen," jawabku.
Nana geleng-geleng kepala.
Lalu lidahnya menyambar cepat
ke arah permukaan penisku
yang berdiameter 6 cm dan
panjang 19 cm itu, sedikit agak
bengkok ke kanan. Di bagian
samping kanan terlihat
menonjol aliran otot keras.
Bagian bawah kepalanya, masih
tersisa sedikit kulit yang
menggelambir. Otot dan
gelambiran kulit itulah yang
membuat perempuan
bertambah nikmat merasakan
tusukan senjata andalanku.
"Mas, belum pernah aku
melihat penis sebesar dan
sepanjang ini."
"Sekarang kamu melihatnya,
memegangnya dan
menikmatinya."
"Alangkah bahagianya MBak
Tari."
"Makanya kamu pengin seperti
dia, kan?"
Nana langsung menarik penisku.
"Mas, aku ingin cepat
menikmatinya. Masukkan, cepat
masukkan."
Nana menelentangkan
tubuhnya. Pahanya
direntangkannya. Terlihat
betapa mulus putih dan bersih.
Diantara bulu halus di
selangkangannya, terlihat
lubang vagina yang mungil. Aku
telah berada di antara
pahanya. Exocet-ku telah siap
meluncur. Nana memandangiku
penuh harap.
"Cepat Mas, cepat.."
"Sabar Nana. Kamu harus
benar-benar terangsang,
Sayang.."
Namun tampaknya Nana tak
sabar. Belum pernah kulihat
perempuan sekasar Nana. Dia
tak ingin dicumbui dulu sebelum
dirasuki penis pasangannya.
"Cepat Mas.." ajaknya lagi.
Kupenuhi permintaannya,
kutempelkan ujung penisku di
permukaan lubang vaginanya,
kutekan perlahan tapi sungguh
amat sulit masuk, kuangkat
kembali namun Nana justru
mendorongkan pantatku
dengan kedua belah
tangannya. Pantatnya sendiri
didorong ke arah atas. Tak
terhindarkan, batang penisku
bagai membentur dinding tebal.
Namun Nana tampaknya ingin
main kasar. Aku pun, meski
belum terangsang benar,
kumasukkan penisku sekuat
dan sekencangnya. Meski
perlahan dapat
memasukirongga vaginanya,
namun terasa sangat sesak,
seret, panas, perih dan sulit.
Nana tidak gentar, malah
menyongsongnya penuh gairah.
"Jangan paksakan, Sayang.."
pintaku.
"Terus. Paksa, siksa aku. Siksa..
tusuk aku. Keras.. keras jangan
takut Mas, terus.." Dan aku
tak bisa menghindar.
Kulesakkan keras hingga
separuh penisku telah masuk.
Nana menjerit, "Aouwww..
sedikit lagi.." Dan aku
menekannya kuat-kuat.
Bersamaan dengan itu terasa
ada yang mengalir dari dalam
vagina Nana, meleleh keluar.
Aku melirik, darah.. darah
segar. Nana diam. Nafasnya
terengah-engah. Matanya
memejam. Aku menahan penisku
tetap menancap. Tidak turun,
tidak juga naik. Untuk
mengurangi ketegangannya,
kucari ujung puting Nana
dengan mulutku. Meski agak
membungkuk, aku dapat
mencapainya. Nana sedikit
berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian ia
memintaku memulai aktivitas.
Kugerakkan penisku yang
hanya separuh jalan, turun
naik dan Nana mulai tampak
menikmatinya. Pergerakan
konstan itu kupertahankan
cukup lama. Makin lama
tusukanku makin dalam. Nana
pasrah dan tidak sebuas tadi.
Ia menikmati irama keluar
masuk di liang kemaluannya
yang mulai basah dan
mengalirkan cairan pelicin. Nana
mulai bangkit gairahnya
menggelinjang dan melenguh
dan pada akhirnya menjerit
lirih, "Uuuhh.. Mas.. uhh..
enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh..
ya ampun enaknya.." Nana
melemas dan terkulai. Kucabut
penisku yang masih keras,
kubersihkan dengan bajuku.
Aku duduk di samping Nana
yang terkulai.
"Nana, kenapa kamu?"
"Lemas, Mas. Kamu amat
perkasa."
"Kamu juga liar."
Nana memang sering
berhubungan dengan laki-laki.
Namun belum ada yang berhasil
menembus keperawanannya
karena selaput daranya amat
tebal. Namun perkiraanku, para
lelaki akan takluk oleh
garangnya Nana mengajak
senggama tanpa pemanasan
yang cukup. Gila memang anak
itu, cepat panas.
Sejak kejadian itu, Nana selalu
ingin mengulanginya. Namun aku
selalu menghindar. Hanya sekali
peristiwa itu kami ulangi di
sebuah hotel sepanjang hari.
Nana waktu itu kesetanan dan
kuladeni kemauannya dengan
segala gaya. Nana mengaku
puas.
Setelah lulus, Nana menikah
dan tinggal di Palembang. Sejak
itu tidak ada kabarnya. Dan,
ketika pulang ke Yogya
bersama anaknya, aku
berjumpa di rumah bude.
"Mas Danu, mau nyoba lagi?"
bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
"Masih gede juga?" tanyanya
menggoda.
"Ya, tambah gede dong."
Dan malamnya, aku
menyambangi di hotel
tempatnya menginap.
Pertarungan pun kembali
terjadi dalam posisi sama-sama
telah matang.
"Mas Danu, Mbak Tari sudah
bisa dipakai belum?" tanyanya.
"Belum, dokter melarangnya,"
kataku berbohong.
Dan, Nana pun malam itu
mencoba melayaniku hingga
kami sama-sama terpuaskan.